Anda di halaman 1dari 17

A.

Pengertian
Miastenia Gravis yang berarti kelemahan otot yang serius adalah satu-satunya
penyakit neuromuskuler yang menggabungkan kelelahan cepat otot voluntar dan waktu
penyembuhan yang lama (penyembuhan dapat butuh waktu 10 hingga 20 kali lebih lama
daripada normal). (Sylvia A. Price, : 1148)
Miastenia Gravis merupakan gangguan yang mempengaruhi transmisi neuromuskular
pada otot tubuh yang kerjanya dibawah kesadaran seseorang (volunter).
(Brunner & Suddarth : 2196)
Miastenia gravis adalah suatu keadaan yang ditandai oleh kelemahan atau kelumpuhan
otot-otot lurik setelah melakukan aktivitas, dan akan pulih kekuatannya setelah beberapa
saat yaitu dari beerapa menit sampai beberapa jam. (Harsono, 2005 : 327)
Jadi, miastenia gravis adalah keadaan dimana terjadi kelemahan otot akibat gangguan
transmisi neuromuscular dan waktu penyembuhan yang lama.
B. Etiologi
Miastenia merupakan suatu penyakit autoimun yang berhubungan dengan penyakit-
penyakit lain, seperti:
1. Tirotoksikosis
2. Miksedema
3. Arthritis rematoid
4. Lupus ertitematosus sistemik

Miastenia gravis juga disebabkan oleh kerusakan reseptor asetilkolin neuromuscular


junction akibat penyakit autoimun.

C. Klasifikasi

Menurut Price dan Wilson miastenia gravis diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Kelompok miastenia ocular : hanya menyerang otot-otot okulat disertai ptosis dan
diplopia. Sangat ringan dan tidak ada kasus kematian.
2. Kelompok miastenia umum :

1) Miastenia umum ringan: awitan lambat, biasanya pada mata, lambat laun
menyebar ke otot-otot rangka, respon terhadap obat baik, angka kematian rendah.

2) Miastenia umum sedang: awitan bertahap sering terjadi gejala-gejala ocular lalu
berlanjut semakin berat dengan terserangnya seluruh otot-otot rangka disertai
dispagia, susah mengunyah, respon terhadap obat kurang, aktivitas klien terbatas.

3) Miastenia umum berat: pada akut yaitu awitan cepat, kelemahan otot-otot rangka,
biasanya penyakit ini berkembang 6 bulan, respon terhadap obat buruk, angka
kematian tinggi.pada kronis, miastenia gravis timbul paling sedikit 2 tahun setelah
awitan geala-gejala kelompok 1 dan 2 dapat berkembang secara perlahan, atau
tiba-tiba, respon terhadap obat buruk, dan prognosis buruk.

Biasanya gejala-gejala miastenia gravis sepeti ptosis dan strabismus tidak akan tampak
pada waktu pagi hari. Di waktu sore hari atau dalam cuaca panas, gejala-gejala itu akan
tampak lebih jelas. Pada pemeriksaan, tonus otot tampaknya agak menurun. Miastenia
gravis juga dapat dikelompokkan secara lebih sederhana seperti dibawah ini:

1) Miastenia gravis dengan ptosis atau diplopia ringan.

2) Miastenia gravis dengan ptosis, diplopi, dan kelemahan otot-otot untuk untuk
mengunyah, menelan, dan berbicara. Otot-otot anggota tubuhpun dapat ikut menjadi
lemah. Pernapasan tidak terganggu.

3) Miastenia Gravis yang berlangsung secara cepat dengan kelemahan otot-otot


okulobulbar. Pernapasan tidak terganggu. Penderita dapat meninggal dunia.

Menurut Myasthenia Gravis Foundation of America (MGFA), miastenia gravis dapat


diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Klas I, adanya kelemahan otot-otot okular, kelemahan pada saat menutup
mata, dan kekuatan otot-otot lain normal.
2. Klas II, terdapat kelemahan otot okular yang semakin parah, serta adanya kelemahan
ringan pada otot-otot lain selain otot okular.
3. Klas Iia, mempengaruhi otot-otot aksial, anggota tubuh, atau keduanya. Juga terdapat
kelemahan otot-otot orofaringeal yang ringan.
4. Klas Iib, mempengaruhi otot-otot orofaringeal, otot pernapasan atau keduanya.
Kelemahan pada otot-otot anggota tubuh dan otot-otot aksial lebih ringan
dibandingkan klas IIa.
5. Klas III, terdapat kelemahan yang berat pada otot-otot okular. Sedangkan otot-otot lain
selain otot-otot ocular mengalami kelemahan tingkat sedang.
6. Klas IIIa, mempengaruhi otot-otot anggota tubuh, otot-otot aksial, atau keduanya
secara predominan. Terdapat kelemahan otot orofaringeal yang ringan.
7. Klas IIIb, mempengaruhi otot orofaringeal, otot-otot pernapasan, atau keduanya secara
predominan. Terdapat kelemahan otot-otot anggota tubuh, otot-otot aksial, atau
keduanya dalam derajat ringan.
8. Klas IV, otot-otot lain selain otot-otot okular mengalami kelemahan dalam derajat
yang berat, sedangkan otot-otot okular mengalami kelemahan dalam berbagai derajat.
9. Klas Iva, secara predominan mempengaruhi otot-otot anggota tubuh dan atau otot-otot
aksial. Otot orofaringeal mengalami kelemahan dalam derajat ringan.
10. Klas Ivb, mempengaruhi otot orofaringeal, otot-otot pernapasan atau keduanya secara
predominan. Selain itu juga terdapat kelemahan pada otot-otot anggota tubuh, otot-
otot aksial, atau keduanya dengan derajat ringan. Penderita menggunakan feeding tube
tanpa dilakukan intubasi.
11. Klas V, penderita terintubasi, dengan atau tanpa ventilasi mekanik. Biasanya gejala-
gejala miastenia gravis sepeti ptosis dan strabismus tidak akan tampak pada waktu
pagi hari. Di waktu sore hari atau dalam cuaca panas, gejala-gejala itu akan tampak
lebih jelas. Pada pemeriksaan, tonus otot tampaknya agak menurun.
D. Patofisiologi

Pada miestenia gravis, terjadi gangguan transmisi impuls antara saraf dan serabut otot
dibagain neuromuscular junction. Normalnya,impuls saraf berjalan menuruni neuron ke
terminal saraf motoric dengan merangsang pelepasan neurotransmiter asetilkolin (ACh). ACh
berdifusi menyebrangi sinaps ke tempat reseptor asetilkolin (AChR) didalam membrane
serabut otot, memicu depolarisasi serabut otot. Kalsium selanjutnya dilepaskan dan otot
terangsang untuk berkontraksi. Siklus ini berakhir ketika enzim asetilkolinesterase (AChE)
menguraikan ACh sehingga menghentikan kerjanya.

Pada miestenia gravis, terjadi pelemahan, penyekatan, dan lokasi penghancuran lokasi
reseptor ACh pada membran pascasinaptik sel otot oleh antibody (anti AChR). Berkurangnya
jumlah tempat AChR membatasi hantaran dan kecepatan inpuls saraf normal untuk
menyebrangi celah sinaps sehingga kontraksi otot tidak dapat dimulai. Keadaan ini
mengakibatkan kelemahan progresif ringan hingga berat dan keletihan abnormal pada otot
skeletal volunteer, yang diperparah oleh aktivitas dan gerakan otot yang berulang, dan mereda
setelah beristirahat. Otot yang paling sering terkena adalah otot wajah, bibir, lidah, leher, dan
kerongkongan, tetapi setiap kelompok otot dapat terkena miestenia gravis. Derajat kelemahan
otot berkaitan dengan jumlah tempat reseptor yang terserang. Pada akhirnya, terjadi
degenerasi serabut otot dan kelemahan menjadi irreversible.

Miestenia gravis dapat terjadi pada semua usia, dengan insiden tertinggi terjadi pada
wanita berusia di antara 18-25 tahun dan pria berusia di antara 50-60 tahun. Penyakit ini lebih
sering menyerang wanita daripada laki-laki dengan rasio 3:1 hingga usia 40 tahun karena
sesudah usia tersebut, insiden menjadi sama. Demikian pula, 20% anak-anak yang lahir dari
wanita mengidap miestenia gravis akan memperlihatkan tanda penyakit tersebut namun, bagi
kebanyakn pasien, perjalanan penyakit ini bersifat sementara.

Miestenia gravis dapat diklasifikasikan menurut manifestasi klinis atau derajat


ketunadayaan. Pada bentuk ocular, terjadi kelmahan pada mata dan kelopak mata. Bentuk
kedua, jenis bulbar, kelemahan terjadi pada otot pernapasan, menelan, dan berbicara karena
saraf kranial motoric 11 dan 12 terserang. Jenis ketiga diklasifikasikan sebagai jenis
menyeluruh, dengan rentang antara ringan hingga berat, yang menyerang proksimal leher dan
ekstermitas, dan biasanya meliputi gejala jenis ocular atau bulbar.

E. Manifestasi Klinis
1. Karena otot-otot okular terkena maka gejala awal yang muncul adalah diplopia
(pengelihatan ganda) dan ptosis (jatuhnya kelopak mata). Ptosis dan strabismus tidak
akan tampak pada waktu pagi hari. Di waktu sore hari atau dalam cuaca panas,
gejala-gejala itu akan tampak lebih jelas.
2. Kelemahan pada otot bulbar menyebabkan masalah mengunyah dan menelan dan
adanya bahaya tersedak dan aspirasi.
3. Terhadap laring menyebabkan disfonia (gangguan suara) dalam membentuk bunyi
suara hidung atau kesukaran dalam pengucapan kata-kata
4. Ekspresi wajah pasien yang sedang tidur terlihat seperti patung
5. Kelelahan hanya karena penggunaan tenaga yang sedikit seperti menyisir rambut,
mengunyah dan berbicara, dan harus menghentikan segalanya untuk istirahat
6. Kelemahan otot ekstremitas dan mudah mengalami kelelahan, yang umumnya
memburuk setelah aktivitas dan berkurang setelah istirahat.
7. Lemah pada tangan dan otot-otot lengan.
8. Pada otot kaki mengalami kelemahan, yang membuat pasien jatuh.
9. Kelemahan diafragma dan otot-otot interkostal progresif mengebabkan gawat napas,
yang merupakan keadaan darurat akut.
F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada miestania gravis, yaitu krisis miatenik dan krisis
kolinergik. Krisis miastenik terjadi akibat perburukan penyakit, ditandai dengan gejala
memberat dan sering disertai distress dan kegagalan napas.

Krisis kolinergik terjadi akibat dosis penghambat kolinesterase berlebihan seperti


neostigmine, piridostigmin, dan physostigmine. Gejala berupa kolinergik, seperti diare, kram
abdominal, hipersalivasi, lakrimasi, inkontinensia urin, hipermotilitas saluran gastrointestinal,
emesis, miosis. Krisis kolinergik dapat menyebabkan bronkopasme, seperti wheezing
bronchorrhea, kegagalan napas, diaphoresis, dan sianosis .

G. Test Diagnostik
1. Uji Tensilon (edrophonium chloride)

Untuk uji tensilon, disuntikkan 2 mg tensilon secara intravena, bila tidak terdapat reaksi
maka disuntikkan lagi sebanyak 8 mg tensilon secara intravena. Segera setelah tensilon
disuntikkankita harus memperhatikan otot-otot yang lemah seperti misalnya kelopak mata
yang memperlihatkan adanya ptosis. Bila kelemahan itu benar disebabkan oleh miastenia
gravis, maka ptosis itu akan segera lenyap. Pada uji ini kelopak mata yang lemah harus
diperhatikan dengan sangat seksama, karena efektivitas tensilon sangat singkat.

2. Uji Prostigmin (neostigmin)

Pada tes ini disuntikkan 3 cc atau 1,5 mg prostigmin methylsulfat secara intramuskular
(bila perlu, diberikan pula atropin atau mg). Bila kelemahan itu benar disebabkan oleh
miastenia gravis maka gejala-gejala seperti misalnya ptosis, strabismus atau kelemahan lain
tidak lama kemudian akan lenyap.

3. Uji Kinin

Diberikan 3 tablet kinina masing-masing 200 mg. 3 jam kemudian diberikan 3 tablet lagi
(masing-masing 200 mg per tablet). Untuk uji ini, sebaiknya disiapkan juga injeksi
prostigmin, agar gejala-gejala miastenik tidak bertambah berat.Bila kelemahan itu benar
disebabkan oleh miastenia gravis, maka gejala seperti ptosis, strabismus, dan lain-lain akan
bertambah berat.

4. Laboratorium
a. Antistriated muscle (anti-SM) antibody
Tes ini menunjukkan hasil positif pada sekitar 84% pasien yang menderita timoma dalam
usia kurang dari 40 tahun.Sehingga merupakan salah satu tes yang pentingpada penderita
miastenia gravis. Pada pasien tanpa timomaanti-SM Antibodi dapat menunjukkan hasil positif
pada pasien dengan usia lebih dari 40 tahun,.

b. Anti-muscle-specific kinase (MuSK) antibodies.

Hampir 50% penderita miastenia gravis yang menunjukkan hasil anti-AChR Ab negatif
(miastenia gravis seronegarif), menunjukkan hasil yang positif untuk anti-MuSK Ab

c. Antistriational antibodies

Antibodi ini bereaksi dengan epitop pada reseptor protein titin dan ryanodine (RyR).
Antibodi ini selalu dikaitkan dengan pasien timomadengan miastenia gravis pada usia muda.
Terdeteksinya titin/RyR antibody merupakan suatu kecurigaaan yang kuat akan adanya
timoma pada pasien muda dengan miastenia gravis.Hal ini disebabkan dalam serum beberapa
pasien dengan miastenia gravis menunjukkan adanya antibodi yang berikatan dalam pola
cross-striational pada otot rangka dan otot jantung penderita.

d. Anti-asetilkolin reseptor antibodi

Hasil dari pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mendiagnosis suatu miastenia gravis,
dimana terdapat hasil yang postitif pada 74% pasien.80% dari penderita miastenia gravis
generalisata dan 50% dari penderita dengan miastenia okular murni menunjukkan hasil tes
anti-asetilkolin reseptor antibodi yang positif. Pada pasien timomatanpa miastenia gravis
sering kali terjadi false positive anti-AChR antibody.

H. Penatalaksanaan Medis

Mastenia gravis dapat diobati dengan pemberian obat:

1. Antikolinesterase

(Asetilkolinesterase inhibitor) biasanya digunakan pada miastenia gravis yang ringan

2. Terapi imunomudulasi

Merupakan penatalaksanaan utama pada miastenia gravis generalisata, perlu


adilakukan terapi imunomudulasi yang rutin.
3. Terapi Antibiotik

Pemberian antibiotic yang dikombainasikan dengan imunosupresif dan


imunomodulasi yang ditunjang dengan penunjang ventilasi, mampu menghambat
terjadinya mortalitas dan menurunkan morbiditas. Pengobatan ini dapat digolongkan
menjadi terapi yang dapat memulihkan kekuatan otot secara cepat dan tepat yang
memiliki onset lebih lambat tetapi memiliki efek yang lebih lama sehingga dapat
mencegah terjadinya kekambuhan.

4. Plasma Exchange (PE)

PE paling efektif digunakan pada situasi dimana terapi jangka pendek yang
menguntungkan menjadi prioritas.Dasar terapi dengan PE adalah pemindahan anti-
asetilkolin secara efektif.Respon dari terapi ini adalah menurunnya titer antibodi.
Dimana pasien yang mendapat tindakan berupa hospitalisasi dan intubasi dalam
waktu yang lama serta trakeostomi, dapat diminimalisasikan karena efek dramatis
dari PE. Terapi ini digunakan pada pasien yang akan memasuki atau sedang
mengalami masa krisis.

PE dapat memaksimalkan tenaga pasien yang akan menjalani timektomi atau


pasien yang kesulitan menjalani periode pasca operasi. Belum ada regimen standar
untuk terapi ini, tetapi banyak pusat kesehatan yang mengganti sekitar satu volume
plasma tiap kali terapi untuk 5 atau 6 kali terapi setiap hari.Albumin (5%) dengan
larutan salin yang disuplementasikan dengan kalsium dan natrium dapat digunakan
untuk replacement. Efek PE akan muncul pada 24 jam pertama dan dapat bertahan
hingga lebih dari 10 minggu. Efek samping utama dari terapi PE adalah terjadi retensi
kalsium, magnesium, dan natrium yang dapat menimbulkan terjadinya hipotensi.Ini
diakibatkan terjadinya pergeseran cairan selama pertukaran berlangsung.

Trombositopenia dan perubahan pada berbagai faktor pembekuan darah dapat


terjadi pada terapi PE berulang.Tetapi hal itu bukan merupakan suatu keadaan yang
dapat dihubungkan dengan terjadinya perdarahan, dan pemberian freshfrozen plasma
tidak diperlukan.

5. Intravena Immunoglobulin (IVIG)

Mekanisme kerja dari IVIG belum diketahui secara pasti, tetapi IVIG
diperkirakan mampu memodulasi respon imun.Reduksi dari titer antibodi tidak dapat
dibuktikan secara klinis, karena pada sebagian besar pasien tidak terdapat penurunan
dari titer antibodi.Produk tertentu dimana 99% merupakan IgG adalah complement-
activating aggregates yang relative aman untuk diberikan secara intravena.

Efek dari terapi dengan IVIG dapat muncul sekitar 3-4 hari setelah memulai
terapi. Tetapi berdasarkan pengalaman dan beberapa data, tidak terdapat respon yang
sama antara terapi PE dengan IVIG, sehingga banyak pusat kesehatan yang tidak
menggunakan IVIG sebagai terapi awal untuk pasien dalam kondisi krisis.Sehingga
IVIG diindikasikan pada pasien yang juga menggunakan terapi PE, karena kedua
terapi ini memiliki onset yang cepat dengan durasi yang hanya beberapa minggu.
Dosis standar IVIG adalah 400 mg/kgbb/hari pada 5 hari pertama, dilanjutkan 1
gram/kgbb/hari selama 2 hari. IVIG dilaporkan memiliki keuntungan klinis berupa
penurunan level anti-asetilkolin reseptor yang dimulai sejak 10 hingga 15 hari sejak
dilakukan pemasangan infus.

Efek samping dari terapi dengan menggunakan IVIG adalah flulike symdrome
seperti: demam, menggigil, mual, muntah, sakit kepala, dan malaise dapat terjadi
pada 24 jam pertama.Nyeri kepala yang hebat, serta rasa mual selama pemasangan
infus.

6. Kortikosteroid

Kortikosteroid adalah terapi yang paling lama digunakan dan paling murah
untuk pengobatan miastenia gravis. Kortikosteroid memiliki efek yang kompleks
terhadap sistem imun dan efek terapi yang pasti terhadap miastenia gravis masih
belum diketahui.Durasi kerja kortikosteroid dapat berlangsung hingga 18 bulan,
dengan rata-rata selama 3bulan.Dimana respon terhadap pengobatan kortikosteroid
akanmulai tampak dalam waktu 2-3 minggu setelah inisiasi terapi. Pasien yang
berespon terhadap kortikosteroid akan mengalami penurunan dari titer
antibodinya.Karena kortikosteroid diperkirakan memiliki efek pada aktivasi sel T
helper dan pada fase proliferasi dari sel B.

Sel T serta antigen-presenting cell yang teraktivasi diperkirakan memiliki


peran yang menguntungkan dalam memposisikan kortikosteroid di tempat kelainan
imun pada miastenia gravis. Kortikosteroid diindikasikan pada penderita dengan
gejala klinis yang sangat menggangu, yang tidak dapat di kontrol dengan
antikolinesterase.Dosis maksimal penggunaan kortikosteroid adalah 60 mg/hari
kemudian dilakukan tapering pada pemberiannya.Pada penggunaan dengan dosis
diatas 30 mg setiap harinya, aka timbul efek samping berupa osteoporosis, diabetes,
dan komplikasi obesitas serta hipertensi.

7. Azathioprine

Azathioprine dapat dikonversi menjadi merkaptopurin, suatu analog dari purin


yang memiliki efek terhadap penghambatan sintesis nukleotida pada DNA dan
RNA.Azathioprine merupakan obat yang secara relatif dapat ditoleransi dengan baik
oleh tubuh dan secara umum memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan
dengan obat imunosupresif lainnya.Azathioprine biasanya digunakan pada pasien
miastenia gravis yang secara relatif terkontrol tetapi menggunakan kortikosteroid
dengan dosis tinggi.

Azathioprine diberikan secara oral dengan dosis pemeliharaan 2-3


mg/kgbb/hari.Pasien diberikan dosis awal sebesar 25-50 mg/hari hingga dosis optimal
tercapai. Respon Azathioprine sangat lambat, dengan respon maksimal didapatkan
dalam 12-36 bulan. Kekambuhan dilaporkan terjadi pada sekitar 50% kasus, kecuali
penggunaannya juga dikombinasikan dengan obat imunomodulasi yang lain.

8. Cyclosporine

Respon terhadap Cyclosporine lebih cepat dibandingkan azathioprine.Dosis


awal pemberian Cyclosporine sekitar 5 mg/kgbb/hari terbagi dalam dua atau tiga
dosis.Cyclosporine berpengaruh pada produksi dan pelepasan interleukin-2 dari sel
Thelper. Supresi terhadap aktivasi sel T-helper, menimbulkan efek pada produksi
antibodi.Cyclosporine dapat menimbulkan efek samping berupa nefrotoksisitas dan
hipertensi.

9. Cyclophosphamide (CPM)

Secara teori CPM memiliki efek langsung terhadap produksi antibodi


dibandingkan obat lainnya.CPM adalah suatu alkilating agent yang berefek pada
proliferasi sel B, dan secara tidak langsung dapat menekan sintesis imunoglobulin.

10. Timektomi (Surgical Care)

Telah banyak dilakukan penelitian tentang hubungan antara kelenjar timus


dengan kejadian miastenia gravis.Germinal center hiperplasia timus dianggap sebagai
penyebab yang mungkin bertanggungjawab terhadap kejadian miastenia
gravis.Banyak ahli sarafmemilikipengalaman meyakinkan bahwa timektomi memiliki
peranan yang penting untuk terapi miastenia gravis, walaupun kentungannya
bervariasi, sulit untuk dijelaskan dan masih tidak dapat dibuktikan oleh standar yang
seksama.

Tujuan utama dari timektomi ini adalah tercapainya perbaikan signifikan dari
kelemahan pasien, mengurangi dosis obat yang harus dikonsumsi pasien,dimana
beberapa ahli percaya besarnya angka remisi setelah pembedahan adalah antara 20-
40% tergantung dari jenis timektomi yang dilakukan. Ahli lainnya percaya bahwa
remisi yang tergantung dari semakin banyaknya prosedur ekstensif adalah antara 40-
60%pada lima hingga sepuluh tahun setelah pembedahanadalah kesembuhan yang
permanen dari pasien8,9,10 Secara umum, kebanyakan pasien mulai mengalami
perbaikan dalam waktu satu tahun setelah timektomi dan tidak sedikit yang
menunjukkan remisi yang permanen (tidak ada lagi kelemahan serta obat-obatan).

ASUHAN KEPERAWATAN MIASTENIA GRAVIS

I. Pengkajian
1) Identitas Klien
Meliputi nama, usia, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, agama, pekerjaan, tanggal
masuk RS, diagnosa medik, dan alamat.
2) Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi riwayat kesehatan saat ini dan yang telah lalu.
Perawat juga mengkaji keadaan klien dan keluarganya. Kajian tersebut berfokus
kepada manifestasi klinis keluhan utama, kejadian yang membuat kondisi sekarang
ini, riwayat kesehatan masa lalu, terdiri dari :
a) Keluhan utama
Keluhan utama yang sering menyebabkan klien miastenia gravis meminta
pertolongan kesehatan sesuai dengan kondisi dari adanya penurunan atau
kelemahan otot-otot dengan manifestasi diplopia( penglihatan ganda), ptosis
(atuhnya kelopak mata) merupakan keluhan utama dari 90% klien miastenia
gravis, disfogia (gangguan suara), masalah menelan, dan mengunyah makanan.
Pada kondisi berat keluhan utama biasanya ketidakmampuan menutup rahang,
ketidakmampuan batuk efektif, dan dyspnea.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Miastenia gravis menyerang otot-otot wajah, laring, dan faring. Keadaan ini dapat
menyebabkan regurgitasi melalui hidung jika klien mencoba menelan,
menimbulkan suara yang abnormal atau suara nasal. Dan klien tidak mampu
menutup mulut yang dinamakan tanda rahang menggantung. Otot pernafasan
terlihat adanya batuk lemah dan akhirnya dapat berupa serangan dipsnea,
kelemahan semua otot-otot rangka. Kaji faktor-faktor yang memperberat penyakit.
c) Riwayat kesehatan dahulu
Tanyakan riwayat penyakit klien yang memungkinkan berhubungan dengan
penyakit yang dialami seperti hipertensi dan diabetes melitus.

d) Riwayat kesehatan keluarga


Kaji riwayat penyakit yang pernah diderita anggota keluarga yang mungkin ada
hubungan dengan penyakit klien sekarang, seperti riwayat keluarga dengan
miastenia gravis.
3. Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Pernafasan
Inspeksi : klien memiliki kemampuan atau penurunan batuk efektif, produksi
sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas dan penigkatan frekuensi
pernafasan sering didapatkan pada klien yang disertai adanya kelemahan otot
pernafasan.
Auskultasi : terdengar bunyi napas tambahan seperti ronkhi atau stidor pada
klien menandakan adanya akumulasi secret pada jalan napas dan penurunan
kemampuan otot tambahan
2. Sistem Kardiovaskular
Palpasi : denyut nadi secara progresif akan berubah sesuai dengan kondisi tidak
membaiknya status pernapasan.
Auskultasi : tekanan darah secara progresif akan berubah sesuai dengan kondisi
tidak membaiknya status pernapasan.
3. Sistem Neurologi
Merupakan pengkaian yang paling utama pada klien miastenia gravis.
Tingkat kesadaran: biasanya pada kondisi awal kesadaran klien masih baik.
Fungsi serebral:
- Status mental: observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara dan
ekspresi wajah, aktivitas motoric yang mengalami perubahan seperti adanya
gangguan perilaku, alam perasaan, dan persepsi.
Pemeriksaan saraf kranial
1) Olfactorius (Nervus I) : biasanya pada klien epilepsy tidak ada kelainan
penciuman dan fungsi penciuman.
2) Optikus (Nervus II) : penurunan pada tes ketajaman penglihatan, klien sering
mengeluh adanya penglihatan ganda.
3) Okulomotoris, Troklearis, abducen (Nervus III, IV, V): sering didapatkan adanya
ptosis. Adanya oftalmoplegia.
4) Trigeminus (Nervus VI) : didapat adanya paralisis pada otot wajah akibat
kelumpuhan pada otot-otot wajah.
5) Facialis (Nervus VII) : persepsi pengecapan terganggu akibat adanya gangguan
motoric, lidah/ triple / furroud.
6) Vestibulotoclearis (Nervus VIII) : tidak ditemukan adanya ketulian konduktif dan
tuli persepsi.
7) Glosofaringeus, Vagus (Nervus IX, X) : ketidakmampuan dalam menelan
8) Nervus XI : Tidak ada atropi otot sternokleidomasteideus dan travezius.
9) Hipoglasus (Nervus XII) : lidah tidak simetris, adanya defiasi pada satu sisi
akibat kelemahan otot motoric pada lidah.
- Sistem Motorik : karakteristik utama miastenia gravis adalah kelemahan pada sistem
motoric. Adanya kelemahan umum pada otot-otot rangka memberikan manifestasi
pada hambatan mobilitas dan intoleransi aktivitas klien.
- Pemeriksaan Refleks : pemeriksaan reflex dalam, pengetukan pada tendon,
ligamentum, atau periosteum derajat reflek pada respon normal.
- Sistem Sensorik : pemeriksaan sensorik pada epilepsy biasanya didapatkan perasaan
raba normal, perasaan suhu normal, tidak ada perasaan abnormal dipermukaan
tubuh.
4. Sistem Perkemihan
Pemeriksaan pada sistem perkemihan biasanya didapatkan berkurangnya
volume output urin, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan
curah antung ke ginjal
5. Sistem Pencernaan
Mual, muntah dihubungkan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan
nutria pada klien miastenia gravis menurun karena ketidakmampuan menelan
makanan sekunder dari kelemahan otot menelan.
6. Sistem Muskuloskeletal
Adanya kelemahan otot-otot volunteer memberikan hambatan pada mobilitas
dan mengganggu aktivitas perawatan diri.
II. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan
2. ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan produksi
mucus dan penurunan batuk efektif.
3. Resiko tinggi aspirasi berhubungan dengan penurunan kontrol tersedak dan batuk
efektif.
4. Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan.
5. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kelemahan otot-otot volunteer.
6. Gangguan aktivitas hidup sehari-hari yang berhubungan dengan kelemahan fisik
umum, keletihan.
7. Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan disfonia, gangguan
pengucapan kata, gangguan neuromuscular, kehilangan kontrol tonus otot fasial atau
oral.
8. Gangguan citra diri yang berhubungan dengan adanya prosis, ketidakmampuan
komunikasi verbal.

III. Intervensi
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1 Ketidakefektifan pola Dalam Kaji kemampuan Untuk klien dengan
napas berhubungan waktu.x24 ventilasi penurunan ventilasi
dengan kelemahan otot jam setelah perawat mengkaji
pernafasan diberika frekuensi, kedalaman ,
intervensi pola bunyi napas, pantau tes
pernapasan fungsi paru-paru (vol.
klien kembali tidal, kapasitas vital,
efektif. Dengan kekuatan inspirasi).
kriteria hasil: Dengan interval yang
irama, sering dalam
frekuensi, dan mendeteksi masalah
kedalaman paru.
Dengan mengkaji
pernapasan
dalam batas Kaji kualitas, kualitas, frekuensi dan

normal, bunyi kedalaman pernapasan


frekuensi dan
napas terdengar kita dapat mengetahui
kedalaman
jelas, respiratori seauh mana perubahan
pernapasan,
terpasang kondisi klien.
laporkan setiap
Penurunan diafragma
dengan optimal. perubahan yang
memperluas daerah
terjadi
dada sehingga ekspansi
Baringkan klien pada paru menjadi maksimal.
Peningkatan rr dan
posisi nyaman
dalam posisi duduk takikardi, merupakan
indikasi penurunan
fungsi paru
Auskultasi dapat
Observasi tanda-
menentukan kelainan
tanda vital (nadi,
suara nafas pada paru
RR). Menekan daerah yang
nyeri ketika batuk dan
Lakukan nafas dalam . penekanan
auskultasi suara otot dada membuat
napas tiap 2-4 batuk lebih efektif.
jam
Batuk dan ajarkan
Respirator mengambil
klien untuk batuk
alih fungsi ventilasi
efektif.
yang terganggu akibat
kelemahan otot
pernapasan
Kolaborasi untuk
pemasangan
respiratori.
2 ketidakefektifan bersihan Dalam waktu Kai warna Karakteristi sputum
jalan napas berhubungan x24 jam kekentalan dan menunjukkan berat
dengan peningkatan setelah umlah sputum. ringannya obstruksi
produksi mucus dan diberikan
Meningkatkan
penurunan batuk efektif. intervensi jalan
ekspansi dada
napas kembali Atur posisi Hidrasi yang
efektif, semifowler adekuat membantu
menghilangkan Pertahanan
mengencerkan secret
kuantitas dari asupan cairan
dan mengefektifkan
viskositas sedikitnya 2500
bersihan jalan napas.
sputum untuk ml//hari, kecuali Bila ada kelemahan

memperbaiki tidak di otot abdominal,


ventilasi paru indikasikan. intercostal dan
dan pertukaran faring yang hebat
gas. klien tidak mampu
Lakukan batuk dan napas
fisioterapi dada dalam atau
dengan tehnik membersihkan
drainase postural, secret.
perkusi, vibrasi
dada serta
lakukan suction.
3 Gangguan aktivitas hidup Kaji Menjadi data dasar
sehari-hari yang kemampuan dalam melakukann
berhubungan dengan klien dalam intervensi
kelemahan fisik umum, melakukan selanjutnya.
keletihan. aktivitas
Sasaran klien adalah
Atur cara
memperbaiki
beraktivitas
kekuatan dan daya
klien sesuai
tahan.
kemampuan
Evaluasi
kemampuan Menilai tingkat
motoric keberhasilan terapi.

4 Gangguan komunikasi Klien dapat Kaji kemampuan Kelemahan otot otot


verbal yang berhubungan menunjukkan komunikasi klien pada klien krisi miastenia
dengan disfonia, pengertian gravis dapat berakibat
gangguan pengucapan terhadap pada komunikasi
kata, gangguan masalah
neuromuscular, komunikasi Lakukan metode
kehilangan kontrol tonus maupun komunkasi yang Teknik untuk
otot fasial atau oral. mengekspresika ideal sesuai meningkatkan
n perasaannya kondisi klien. komunikasi meliputi
maupun mendengarkan klien, dan
menggunakan mengulangi apa yang
Bahasa Beri peringatan klien kaakan dengan jelas
insyarat. Untuk kenyamanan yang
bahwa klien
berhubungan dengan
diruangan ini
ketidakmampuan
mengalami
berkomunikasi.
gangguan
berbicara
sediakan bel.
Antisipasi dan Membantu menurunkan
bantu keebutuhan prustasi oleh
klien. ketergantungan atau
ketidakmampuan
Sarankan klien berkomunnikasi.
Mengurangi kecemasan
berbicara pelan
terhadap banyaknya
dan tenang,
informasi.
gunakan
prtanyaan dengan
jawaban ya, atau
tidak
Kolaborasi
konsultasi ke ahli
terapi bicara.

Fungsi kognitif untuk


mengidentifikasi deficit
dan kebutuhan terapi.