Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hasil belajar dan proses belajar tidak hanya dinilai oleh tes, baik
melalui bentuk tes uraian maupun objektif, tetapi juga dapat dinilai oleh
alat-alat nontes atau bukan tes. Alat-alat bukan tes yang sering
digunakan antara lain ialah kuesioner dan wawancara, skala (skala
penilaian, skala sikap, skala minat), observasi atau pengamatan, studi
kasus dan sosiometri. Kuesioner dan wawancara pada umumnya
digunakan untuk menilai aspek kognitif seperti pendapat atau
pandangan seseorang serta harapan dan aspirasinya di samping aspek
afektif dan perilaku individu. Sakala bisa digunakan untuk menilai
aspek afektif seperti skala sikap dan skala minat serta aspek kognititf
seperti skala penilaian. Observasi pada umunya digunakan untuk
memperoleh data mengenai perilaku individu atau proses kegiatan
tertentu. Studi kasus digunakan untuk memperoleh datayan
kompeherensif mengenai kasus-kasus tertentu dari individu. Sosiometri
pada umumnya digunakan untuk menilai aspek perilaku individu,
terutama hubungan sosialnya.
Kelebihan non tes dari tes adalah sifatnya lebih kompeherensif,
artinya dapat digunakan untuk menilai berbagai aspek dari individu
sehingga tidak hanya untuk menilai aspek kognitif, tetapi juga aspek
afektif dan psikomotoris.
Penggunaan nontes untuk menilai hasil dan proses belajar masih
sangat terbatas jika dibandingkan dengan penggunaan tes dalam menilai
hasil dan proses belajar. Para guru di sekolah pada umunya lebih banyak
menggunakan tes daripada bukan tes mengingat alatnya mudah dibuat,
penggunaannya lebih praktis, dan yang dinilai terbatas pada aspek
kognitif berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh siswa setelah
menyelesaikan pengalaman belajarnya.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian wawancara ?
2. Apa saja jenis-jenis wawancara ?
3. Bagaimana langkah-langkah wawancara ?
4. Apa kelebihan dan kekurangan wawancara ?
5. Apa pengertian kuesioner ?
6. Apa saja jenis-jenis kuesioner ?
7. Bagaimana langkah-langkah membuat kuesioner ?
8. Apa kelebihan dan kekurangan kuesioner ?
9. Apa pengertian skala ?
10. Apa pengertian skala penilaian ?
11. Bagaimana langkah-langkah membuat skala penilaian ?
12. Apa pengertian skala sikap ?
13. Bagaimana langkah-langkah membuat skala sikap ?
14. Apa pengertian observasi ?
15. Apa saja jenis-jenis observasi ?
16. Bagaimana langkah-langkah dalam observasi ?
17. Apa saja kelebihan dan kekurangan observasi ?
18. Apa pengertian studi kasus ?
19. Bagimana langkah-langkah studi kasus ?
20. Apa kelebihan dan kekurangan studi kasus ?
21. Apa pengertian sosiometri ?
22. Bagaimana langkah-langkah dalam sosiometri ?
23. Apa kelebihan dan kekurangan sosiometri ?
1.3 Tujuan
1. Mengeetahui pengertian wawancara
2. Mengetahui jenis-jenis wawancara
3. Mengetahui langkah-langkah wawancara
4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan wawancara
5. Mengetahui pengertian kuesioner
6. Mengetahui jenis-jenis kuesioner
7. Mengetahui langkah-langkah membuat kuesioner
8. Mengetahui kelebihan dan kekurangan kuesioner
9. Mengetahui pengertian skala
10. Mengetahui pengertian skala penilaian
11. Mengetahui langkah-langkah membuat skala penilaian
12. Mengetahui pengertian skala sikap
13. Mengetahui langkah-langkah membuat skala sikap
14. Mengetahui a pengertian observasi
15. Mengetahui jenis-jenis observasi
16. Mengetahui a langkah-langkah dalam observasi
17. Mengetahui kelebihan dan kekurangan observasi
18. Mengetahui pengertian studi kasus
19. Mengetahui langkah-langkah studi kasus
20. Mengetahui kelebihan dan kekurangan studi kasus

2
21. Mengetahui pengertian sosiometri
22. Mengetahui langkah-langkah dalam sosiometri
23. Mengetahui kelebihan dan kekurangan sosiometri

3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Wawancara dan Kuesioner
Wawancara dan kuesioner sebagai alat peilaian yang digunakan
utuk mengetahui pendapat, aspirasi, harapan, prestasi, keinginan,
keyakinan dan lain-lain sebagai hasil belajar siswa.Cara yang dilakukan
ialah dengan berapa cara.Apabila pertanyaan yang diajukan dijawab
oleh siswa secara lisan,maka cara ini disebut wawancara.Bila
pertanyaan yang diajukan oleh siswa secara tertulis,disebut
kuesioner.Bentuk pertanyaan bisa objektif bisa pula esai. (Sudjana,
Nana. 2016. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :
Remaja Rosdakarya)
2.1.1 Wawancara
1. Pengertian
Sebagai alat penilaina,wawancara dapat digunakan untuk
menilai hasil dan proses belajar. Kelebihan wawancara ialah bisa
kontak langsung dengan siswa sehingga dapat mengungkapkan
jawaban secara lebih bebas dan mendalam.Lebih dari itu
hubungan dapat dibina lebi baik sehingga siswa bebas
mengemukakan pendapatnya.Wawancara bisa direkam sehingga
jawaban siswa bisa di catat secaa lengkap. Melalui wawacara
data bisa diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif.
Pertanyaan yang tidak jelas dapa diulang dan dijelaskan
lagi.sebaiknya jawaban yang belum jelas bis di minta lagi
dengan lebih terarah dan lebih bermakna asal tidak
mempengaruhi atau mengarahkan jawaban siswa. (Sudjana,
Nana. 2016. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung
: Remaja Rosdakarya)
2. Jenis-jenis wawancara
a. Interview bebas (tidak berstruktur atau tidak
terpimpin),di mana responden mempunyai kebebasan
untuk mengutarakan pendapatnya tanpa dibatasi oleh
berbagai patokan yang telah di buat oleh subjek evaluasi

4
(tanpa terikat oleh berbagai ketentuan yang telah dibuat
oleh pewawancara).
b. Interview terpimpin (terstruktur),yaitu interview yang
dilakukan oleh subjek evaluasi dengan cara mengajukan
berbagai pertanyaan yang sudah disusun terlebih
dahulu.Jadi,pada waktu menjawab pertanyaan,responden
tinggal memilih jawaban yang sudah
dipersiapkan.Terkadang pertanyaan itu bersifat sebagai
yang memimpin,mengarahkan dan penjawab sudah di
pimpin oleh sebuah daftar cocok,sehingga dalam
menuliskan jawaban,ia tinggal membubuhkan tanda
cocok di tempat yang sesuai dengan keadaan responden. .
(Putra, Sitiavata Rizema. 2013. Desain Evaluasi Belajar
Berbasis Kinerja. Yogyakarta : Diva Press)
3. Langkah-langkah
Sebagai alat penilaian,wawancara dapat digunakan untuk
menilai hasil dan proses belajar.Berikut tiga aspek yang
harus diperhatikan dalam melaksanakan wawancara:
a. Tahap awal pelaksana wawancara bertujuan untuk
mengkondisikan situasi wawancara.Buatlah situasi yang
mengungkapkan suasana keakraban,sehingga siswa tidak
merasa takut,dan ia terdorong untuk mengemukakan
pendapatnya secara bebas atau benar dan jujur.
b. Pengguaan pertanyaan.Setelah kondisi awal cukup
baik,barulah diajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai
dengan tujuan wawancara.Pertanyaan diajukan secara
bertahap dan sistematis berdasarkan rambu-rambu atau
kisi-kisi yang telah dibuat sebelumnya.Apabila
pertanyaan dibuat secara berstruktur,pewawancara
membacakan pertanyaan dan, kalau perlu alternatif
jawabannya.Siswa diminta mengemukakan
pendapatnya,lalu pendapat siswa diklasifikasikan ke

5
dalam alternatif jawaban yang telah ada.Bila wawancara
tak berstruktur,baca atau ajukan pertanyaan lalu siswa
diminta menjawabnya secara bebas.
c. Pencatatan hasil wawancara.Hasil wawancara sebaiknya
dicatat saat itu juga supaya tidak lupa.Mencatat hasil
wawancara berstruktur cukup mudah sebab tinggal
memberikan tanda pada alternatif jawaban,misalnya
melingkari salah satu jawaban yang ada. Sedangkan pada
wawancara terbuka kita perlu mencatat pokok-pokok isi
jawaban siswa pada lembaran tersendiri.Yang dicatat
adalah jawaban apa adanya dari siswa,jangan tafsirkan
pewawancara atau ditambah dan dikurangi.
Sebelum melaksanakan wawancara,perlu dirancang
pedoman wawancara.Pedoman ini disusun dengan
menempuh berbagai langkah sebagai berikut:
a. Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara.
Misalnya untuk mengetahui pemahaman bahan
pengajaran (hasil belajar) atau mengetahui pendapat
siswa mengenai kemampuan mengajar yang dilakukan
guru (proses belajar-mengajar)
b. Berdasarka tujuan yang ada,tentukan aspek-aspek yang
akan diungkapkan dala wawancara tersebut.Aspek-aspek
tersebut dijadikan dasar dalam menyusun materi
pertanyaan wawancara.Aspek yang diungkap diurutkan
secara sistematis mulai dari yang sederhana menuju yang
kompleks dari yang khusus menuju yang umum,atau dari
yang mudah menuju yang sulit.
c. Tentukan bentuk pertanyaan yang akan
digunakan,bentuk berstruktur ataukah terbuka.Bisa saja
kombinasi dari kedua bentuk tersebut.Misalnya untuk
beberapa aspek digunakan pertanyaan yang

6
berstruktur,dan untuk beberapa aspek lagi di buat secara
bebas.
d. Buatlah pertanyaan wawancara sesuai denga analisis
butir (c) di atas,yakni membuat pertanyaan yang
berstruktur dan atau yang bebas.
e. Ada baiknya apabila,dibuat pula pedoman mengolah dan
menafsirkan hasil wawancara,baik pedoman untuk
wawancara terpimpin/berstruktur ataupun untuk
wawancara bebas.
Berikut ini adalah cotoh pedoman wawancara bebas

Tujuan :Memperoleh informasi mengenai cara belajar yang


dilakukan oleh siswa di rumahnya

Bentuk :Wawancara bebas

Responden :Siswa yang memperoleh hasil belajar cukup tinggi.

Nama Siswa :

Kelas/semester :

Jenis kelamin :

Pertanyaan Guru Jawaban Siswa Komentar dan


Kesimpualan Hasil
Wawancara
1. Kapan dan berapa lama
Anda belajar di rumah?
2. Bagaimana cara Anda
mempersiapkan diri
untuk belajar secara
efektif?
3. Kegiatan apa yang Anda
lakukan pada waktu
mempelajari bahan

7
pelajaran (bidang studi
tertentu)?
4. Seandainya Anda
mengalami kesulitan
dalam
mempelajarinya,usaha
apa yang Anda lakukan
untuk mengatasi kesulitan
tersebut?
5. Dst.

4. Kelebihan
a. Wawancara dapat memberikan keterangan keadaan
pribadi.Hal ini tergantung pada hubungan baik antara
pewawancara dengan objek.
b. Wawancara dapat dilaksanankan untuk setiap umur dan
mudah dalam pelaksanaannya.
c. Wawancara dapat dilaksanakan serempak dengan
observasi.
d. Data tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh
dan lebih tepat dibandingkan dengan obresvasi dan
angket.
e. Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik
antara pewawancara dengan objek.
5. Kekurangan
a. Keberhasilan wawancara dapat dipengaruhi oleh
kesediaan,kemampuan individu yang di wawancarai.
b. Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh keadaan
sekitar pelaksaan wawancara.
c. Wawancara menuntut penguasaan bahasa yang baik dan
sempurna dari pewawancara.
d. Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara dapat
mempengaruhi hasil wawancara.
2.1.2 Kuesioner
1. Pengertian

8
Kuesioner (questionmaire) juga sering dikenal sebagai
angket.Pada dasarnya,angket adalah sebuah daftar
pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang diukur
(responden).Dengan kuesioner ini,dapat diketahui keadaan
atau data diri, pengalaman, pengetahuan, sikap, atau
pendapat seseorang.Pada umumnya,tujuan penggunaan
angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran
adalah,terutama untuk memperoleh data mengenai latar
belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam
menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka.
2. Jenis-Jenis Kuesioner
Kuesioner dapat ditinjau dari beberapa segi.Pertama di tinjau
dari segi orang yang menjawab.Berikut ini pembagiannya:
a. Kuesioner langsung,yaitu jika kuisioner tersebut
dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan
dimintai jawaban tentang dirinya.
b. Kuesioner tidak langsung,kuesioner yang dikirimkan dan
diisi oleh bukan orang diminta keterangannya.Biasanya
kuesioner tidak langsung digunakan untuk mencari
informasi tentang bawahan anak,sudara,tetangga dan lain
sebagainya.
Kedua,ditinjau dari segi cara menjawab.Berikut ini
pembagiannya:
a. Kuesioner tertutup,yakni kuesioner yang disusun dengan
menyediakan pilihan jawaban lengkap,sehingga pengisi
hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.
b. Kuesioner terbuka,yaitu kuisioner yang disusun
sedemikian rupa,sehingga para pengisi mengemukakan
pendapatnya.Kuesioner terbuka disusun apabila macam
jawaban pengisi belum terperinci dengan jelas,sehingga
jawabannya akan beraneka ragam.Keterangan tentang
alamat pengisian tidak mungkin diberikan dengan cara

9
memilih pilihan jawaban yang disediakan.Kuisioner
terbuka juga digunakan untuk meminta pendapat
seseorang.
Ketiga,daftar cocok (check list),yaitu deretan pernyataan
(yang biasanya singkat-singkat),di mana responden yang
dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok di tempat
yang sudah di sediakan.Ada pendapat yang mengatakan
bahwa sebenarnya skala bertingkat dapat digolongkan ke
dalam daftar cocok.Karena,dalam skala
bertingkat,responden juga diminta untuk memberikan tanda
cocok pada pilihan yang tepat.
3. Langkah-langkah
Petunjuk yang lebih teknis dalam membuat kuesioner adalah
sebagai berikut:
a. Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan
mengisi kuesioner sambil di jelaskan maksud dan
tujuannya.
b. Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak
salah.Kalau perlu,diberikan contoh.
c. Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan
identitas responden.Dalam identitas ini sebaiknya tidak
diminta mengisi nama.Identitas cukup mengungkapkan
jenis kelamin,usia,pendidikan,pekerjaan,pengalaman,dan
lain-lain yang ada kaitannya dengan tujuan kuesioner.
d. Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau
bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan
sehingga mudah mengolahnya.
e. Rumusan pertanyaan di buat singkat,tetapi jelas sehingga
tidak membingungkan dan salah mengakibatkan
penafsirannya.
f. Hubungan antara pertanyaan satu dengan pertanyaan
yang lainharus dijaga sehingga tampak logikanya dalam

10
satu rangkaian yang sistematis.Hindari penggolongan
pertanyaan terhadap indikator atau persoalan yang sama.
g. Usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat,atau
rumusannya tidak lebih panjang dari pada pertanyaan
h. Kuesioner yang terlalu banyak atau relatif panjang akan
melelahkan dan membosankan responden sehingga
mengisinya tidak objektif lagi.
i. Ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan si
pengisi.

Contoh angket:

Mata Pelajaran :.....................................................................

Kelas/Semester :.....................................................................

Hari/Tanggal :.....................................................................

Desain Evaluasi Belajar Berbasisi Kinerja

Petunjuk

1. Pada angket ini terdapat 34 pertanyaan.Pertimbangkan baik-baik setiap


pertanyaan dalam kaitan dengan materi pembelajaran yang baru selesai
kamu pelajari,dan tentukan kebenarannya.
2. Berilah jawaban yang benar sesuai dengan pilihanmu.
3. Pertimbangkan setiap pernyataan secara terpisah dan tentukan
kebenarannya.Jawabanmu jangan dipengaruhi oleh jawaban pernyataan
lain.
4. Catat responsmu pada lembar jawaban yang tersedia,dan ikut petunjuk-
petunjuk lain yang mungkin diberikan dengan lembar jawaban.Terima
kasih.

Keterangan pilihan jawaban

1. =sangat tidak setuju


2. =tidak setuju

11
3. =ragu-ragu
4. =setuju
5. =sangat setuju

12
PERNYATAAN

No. Pertanyaan Pilihan Jawaban


1 2 3 4 5
1. Guru benar-benar mengetahui bagaimana membuat
kami menjadi antusias terhadap materi pelajaran
2. Hal-hal yang saya pelajari dalam pembelajaran ini
akan bermanfaat bagi saya
3. Saya yakin bahwa saya akan berhasil

4. Pembelajaran ini kurang menarik bagi saya

5. Guru membuat materi pelajaran ini menjadi penting


6. Saya perlu beruntung agar mendapat nilai yang baik
dalam pelajaran ini
7. Saya harus bekerja sangat keras agar berhasil dalam
pembelajara ini
8. Saya tidak melihat bagaimana hubungan antara isi
pelajaran ini dengan sesuatu yang telah saya ketahui
9. Guru membuat sesuatu menjadi tegang apabila
membangun suatu pengertian
10. Materi pembelajaran ini terlalu sulit bagi saya

11. Apakah saya akan berhasil atau tidak berhasil


dalam pembelajaran ini,hal itu tergantung kepada
saya
12. Saya merasa bahwa pembelajara ini memberi
banyak kepuasan kepada saya
13. Dalam pembelajaran ini,saya mencoba
menentukan standar keberhasila yang sempurna
14. Saya berpendapat bahwa nilai dan penghargaan
lain yang saya terima adil jika dibandingkan dengan
yang diterima oleh siswa lain
15. Siswa di dalam pembelajaran ini tampak rasa ingin
tahunya terhadap materi pelajaran

13
16. Saya senang bekerja dalam pembelajaran ini

17. Sulit untuk memperediksi berapa nilai yang akan


diberikan oleh guru untuk tugas-tugas yang
diberikan kepada saya
18. Saya puas dengan evaluasi yang dilakukan oleh
guru dibandingkan dengan penilaian saya sendiri
terhadap kinerja saya
19. Saya merasa puas dengan apa yang saya peroleh
dalam pembelajaran ini
20. Isi pembelajaran ini sesuai denga harapan dan
tujuan saya
21. Guru melakukan hal-hal yang tidak lazim dan
menakjubkan yang menarik
22. Para siswa berperan aktif didalam pembelajaran

23. Untuk mencapai tujuan,saya harus berhasil dalam


pembelajaran
24. Guru menggunakan bermacam-macam teknik
mengajar yang menarik
25. Saya tidak berpendapat bahwa saya akan
memperoleh banyak keuntungan dari pembelajara
ini
26. Saya sering melamun di dalam kelas
27. Pada saat saya mengikuti pembelajaran ini,saya
percaya bahwa saya dapat berhasil jika saya
berupaya cukup keras
28. Manfaaat pribadi dari pembelajaran ini jelas bagi
saya
29. Rasa ingin tahu saya sering kali tergerak oleh
pertanyaan yang dikemukakan dan masalah yang
diberikan guru pada materi pembelajaran ini
30. Saya berpendapat bahwa tingkat tantangan dalam
pembelajaran ini tepat,tidak terlalu gampang,dan
tidak terlalu sulit.

14
31. Saya merasa agak kecawa dengan pembelajaran ini

32. Saya merasamemperoleh cukup penghargaan


terhadap hasil kerja saya dalam pembelajaran
ini,baik dalam bentuk nilai,komentar,ataupun
masukan lain
33. Jumlah tugas yang harus saya lakukan adalah
memadai untuk pembelajaran semacam ini
34. Saya memperoleh masukan yang cukup untuk
mengetahui tingkat keberhasilan kinerja saya

4. Kelebihan Kuesioner
a. Dengan angket,kita dapat memperoleh data dari sejumlah
anak dengan hanya membutuhkan waktu yang singkat.
b. Setiap anak dapat memperoleh sejumlah pertanyaan yang
sama.
c. Dengan angket pengaruh subjektif dari guru dapat
dihindarkan.
5. Kekurangan Kuesioner
a. Pertanyaan yang diberikan melalui angket terbatas,
sehingga apabila ada hal-hal yang kurang jelas,maka sulit
diterangkan kembali.
b. Terkadang, pertanyaan yang diberikan tidak dijawab oleh
semua anak,atau mungkin dijawab,tetapi tidak sesuai
dengan kenyataan. Sebab anak merasa bebas menjawab
dan tidak diawasi secara mendetail.
c. Ada kemungkinan angket yang diberikan tidak dapat
dikumpulkan semua karena banyak anak yang merasa
kurang perlu hasil dari angket yang diterima.
2.2 Skala
2.2.1 Pengertian
Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat dan
perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk diniai
oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai

15
dengan kriteria yang ditentukan. (Sudjana, Nana. 2016.
Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja
Rosdakarya)
2.2.2 Skala penilaian
1. Pengertian
Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku
orang lain oleh seseorang melalui penyataan perilaku
individu pada suatu titik continuum atau suatu kategori yang
bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan
mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan
ini bisa dalam bentuk huruf (A, B, C, D), angka (4, 3, 2, 1),
atau 10, 9, 8, 7, 6, 5. Sedangkan rentangan kategori bisa
tinggi, sedang, rendah, atau baik, sedang, kurang. (Sudjana,
Nana. 2016. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.
Bandung : Remaja Rosdakarya)

Hal yang penting diperhatikan dalam skala penilaian


adalah kriteria skala nilai, yakni penjelasan operasional untuk
setiap alternatif jawaban. Adanya kriteria yang jelas untuk setiap
alternative jawaban akan mempermudah pemberian penilaian
dan terhindar dari subjektivitas penialai. Tugas penilai hanya
memberi tanda cek (V) dalam kolom rentangan nilai.(Sudjana,
Nana. 2016. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung
: Remaja Rosdakarya)
Skala penilaian lebih tepat digunakan untuk mengukur
suatu proses, misalnya proses belajar siswa atau hasil belajar
dalam bentuk perilaku seperti keterampilan, hubungan social
siswa, dan cara memecahkan masalah.(Sudjana, Nana. 2016.
Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja
Rosdakarya)
2. Langkah-langkah
Penulisan skala penilaian hendaknya memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :

16
a. Tentukan tujuan yang akan dicapai dari skala penilaian
ini sehingga jelas apa yang seharusnya dinilai.
b. Berdasarkan tujuan tersebut, tentukan aspek atau variable
yang akan diungkap melalui instrument ini.
c. Tetapkan`
d. bentuk rentangan nilai yang akan digunakan, `misalnya
nilai angka atau kategori.
e. Buatlah item-item pernyataan yang akan dinilai dalam
kalimat yang singkat tetapi bermakna secara logis dan
sistematis.
f. Ada baiknya menetapkan pedoman mengolah dan
menafsirkan hasil yang diperoleh dari penilaian ini.
2.2.3 Skala sikap
1. Pengertian
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap
seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori
sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan
netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan
berperilaku pada seseorang. Sikap juga dapat diartikan reaksi
seseorang terhadap suatu stimulus yang datang kepada
dirinya.(Sudjana, Nana. 2016. Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya)
Ada tiga komponen sikap yakni kognisi, afeksi, dan
konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang
tentang objek atau stimulus yang dihadapinya, sedangkan
afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek
tersebut, sedangkan konasi berkanaan dengan kecenderungan
berbuat terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu sikap selalu
bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu, misalnya
sikap siswa terhadap mata pelajaran.(Sudjana, Nana. 2016.
Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :
Remaja Rosdakarya)

17
Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk
dinilai oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau
ditolaknya, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh sebab itu,
pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori,
yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif.(Sudjana,
Nana. 2016. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.
Bandung : Remaja Rosdakarya)
Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah
skala Likert. Dalam skala Likert, pernyataan-pernyataan
yang diajukan, baik pernyataan positif maupun negative,
dinilai oleh subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya
pendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju. Skor yang
diberikan pada pilhan tersebut bergantung pada penilai asal
penggunaannya konsisten. Untuk pernyataan positif dan
pernyataan negatif adalah kebalikannya seperti tampak
dalam contoh :

Pernyataan Sangat Setuju Tidak Tidak Sanga


Sikap setuju punya setuju t tidak
pilihan setuju
Pernyataan 5 4 3 2 1
positif
Pernyataan 1 2 3 4 5
negatif
2. Langkah-langkah
Beberapa petunjuk untuk menyusun skala Likert
a. Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variable
yang akan diukur dengan skala tersebut.
b. Lakukan analisis variable tersebut menjadi beberapa
subvariabel atau dimensi variable, lalu kembangkan
indicator setiap dimensi tersebut.

18
c. Dari setiap indicator di atas, tentukan ruang lingkup
pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognisi,
afeksi, dan konasi terhadap objek sikap.
d. Susunan pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut
dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan
pernyataan negatif, secara seimbang banyaknya.

19
Berikut ini contoh dari skala sikap

No Pernyataan Pilihan Sikap


SS S N TS STS
1 Saya mengikuti sebaik-
baiknya materi pelajaran
tentang ekosistem karena
sangat penting dalam mata
pelajaran IPA
2 Saya meyakini bahwa materi
tentang ekosistem sangat
mudah untuk dipahami
3 Saya menata buku catatan
saya tentang ekosistem
sehingga lengkap dan
memuat penjelasan-
penjelasan guru dan
pemahaman saya terhadap
materi ini
4 Saya dapat mengelola usaha-
usaha yang harus saya
lakukan untuk mempelajari
materi ekosistem sebaik-
baiknya
5 Saya menyenangi tugas-tugas
yang diberikan guru, karena
itu saya mengerjakan tugas-
tugas dengan sebaik-baiknya.
Keterangan :
SS = Sangat setuju
S = Setuju
N = Netral
TS = Tidak setuju
STS = Sangat tidak setuju
2.3 Observasi

20
2.3.1 Pengertian
Observasi atau pengamatan sebagai alat penilaian banyak
di gunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun
proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat di amati. Dimana
observasi adalah metode pengumpulan data melalui pengamatan
langsung atau peninjauan secara cermat dan langsung di
lapangan atau lokasi penelitian. Dalam hal ini, peneliti dengan
berpedoman kepada desain penelitiannya perlu mengunjungi
lokasi penelitian untuk mengamati langsung berbagai hal atau
kondisi yang ada di lapangan. Penemuan ilmu pengetahuan
selalu dimulai dengan observasi dan kembali kepada observasi
untuk membuktikan kebenaran ilmu pengetahuan tersebut.
Dengan observasi kita dapat memperoleh gambaran
tentang kehidupan sosial yang sukar untuk diketahui dengan
metode lainnya. Observasi dilakukan untuk menjajaki sehingga
berfungsi eksploitasi. Dari hasil observasi kita akan memperoleh
gambaran yang jelas tentang masalahnya dan mungkin petunjuk-
petunjuk tentang cara pemecahannya. Jadi, jelas bahwa tujuan
observasi adalah untuk memperoleh berbagai data konkret secara
langsung di lapangan atau tempat penelitian.
2.3.2 Jenis-jenis
1. Observasi Langsung (Direct Observation)
Pada kegiatan observasi langsung, peneliti langsung terjun
ke lapangan sebagai sasaran penelitian untuk melihat
keadaan atau fenomena yang terjadi di sana. Dengan begitu,
peneliti dapat lebih mengenal karakteristik lokasi, fenomena,
dan juga subjek penelitian, dalam hal ini adalah masyarakat
yang hendak diteliti. Observasi langsung ini dapat kita
bedakan atas observasi berperan serta dan observasi tidak
berperan serta.
a. Observasi Berperan Serta (Participant Observation)

21
Dalam observasi ini, pengamat atau peneliti berbaur
dengan anggota masyarakat, dan seolah-olah dia adalah
anggota masyarakat tersebut. Pengamat tidak memberi
batasan bahwa ia adalah seorang peneliti yang hendak
menggali data di lokasi tersebut. Ini merupakan
keuntungan dari jenis observasi berperan serta karena
proses wawancara atau pengamatan terhadap hal-hal
yang sifatnya penting sangat mudah untuk dilakukan,
karena telah terjadi pembauran dengan masyarakat
setempat.
b. Observasi Tidak Berperan Serta (Nonparticipant
Observation)
Observasi ini berarti bahwa seorang pengamat
melakukan observasi langsung, tetapi tetap member
batasan bahwa dia adalah seorang peneliti atau pengamat
yang berdiri di luar sistem. Pengamat tetap berada
sebagai pengamat untuk melakukan observasi terhadap
fenomena yang hendak diteliti. Dalam melakukan
observasi pengamat tidak berbaur dengan masyarakat
yang ada dalam sasaran penelitian.
2. Observasi Tidak Langsung (Indirect Observation)
Observasi tidak langsung merupakan kegiatan pengamatan
yang tidak dilakukan pada tempat atau lokasi yang telah
ditentukan oleh peneliti. Peneliti dapat menggunakan media,
seperti internet, media cetak, rekaman audio visual, dan
hasil-hasil penelitian sebelumnya yang memiliki latar
permasalahan yang sama dengan yang akan diteliti.
2.3.3 Langkah-langkah
Langkah-langkah dalam melakukan observasi adalah sebagai
berikut.

1. Harus diketahui di mana observasi itu dapat dilakukan.

22
2. Harus ditentukan dengan pasti siapa saja yang akan
diobservasi.

3. Harus diketahui dengan jelas data-data apa saja yang


diperlukan.

4. Harus diketahui bagaimana cara mengumpulkan data agar


berjalan mudah dan lancar.

5. Harus diketahui tentang cara mencatat hasi! observasi,


seperti telah menyediakan buku catatan, kamera, tape
recorder, dan alat-alat tulis lainnya.

Lembar observasi tentang aktivitas belajar siswa ini dibuat


dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menentukan tujuan pembuatan lembar observasi, yaitu


untuk merekam data berapa banyak siswa di suatu kelas
aktif belajar, dan bagaimana kualitas aktivitas belajar siswa-
siswa tersebut.

2. Mengumpulkan referensi tentang karakteristik atau ciri-ciri


siswa yang sedang aktif belajar (jika anda telah menulis
proposal penelitian, maka tentunya dengan mudah dapat
dicuplik dari kajian teori atau kajian pustaka proposal
penelitian anda).
3. Menyusun poin-poin kunci tentang karakteristik atau ciri-
ciri siswa yang sedang aktif belajar. Misalnya, setelah
diekstraksi, kajian pustaka atau kajian teori tentang aktivitas
belajar siswa didapatkanlah karakteristik atau ciri-ciri siswa
yang aktif belajar.

23
4. Menentukan desain atau layout lembar observasi penelitian
yang diinginkan, seperti daftar ceklis, skala rating (skala
penilaian), daftar pertanyaan terbuka, laporan observasi
(observation report).
5. Merumuskan elemen-elemen lembar observasi penelitian,
dalam hal ini judul, identitas, tujuan, petunjuk penggunaan
(petunjuk pengisian), butir-butir pernyataan atau pertanyaan
terkait karakteristik atau ciri-ciri siswa yang aktif belajar (ini
merupakan bagian utama dari lembar observasi dan harus
mengacu pada tujuan pembuatan lembar observasi yang
identik dengan tujuan penelitian yang sedang dilakukan).
6. Menulis draft lembar observasi penelitian.
7. Meminta bantuan rekan seprofesi atau ahli misalnya
widyaiswara atau dosen untuk mengecek validitas instrumen
(lembar observasi).
8. Merevisi lembar observasi bila diperlukan

24
Contoh lembar observasi aktivitas belajar siswa

Maka setelah melewati langkah-langkah tersebut di atas, maka kita telah


menyusun sebuah lembar observasi penelitian, yang bentuk akhirnya berupa
skala rating seperti berikut ini:

LEMBAR OBSERVASI
KEAKTIFAN SISWA DALAM BELAJAR

Sekolah / Kelas : _________________


Hari / Tanggal : _________________
Nama Guru : _________________
Nama Observer : _________________

Tujuan : Merekam data berapa banyak siswa di suatu kelas aktif belajar
Merekam data kualitas aktivitas belajar siswa
Petunjuk :
1. Observer harus berada pada posisi yang tidak mengganggu
pembelajaran tetapi tetap dapat memantau setiap kegiatan yang dilakukan
siswa.
2. Observer memberikan skor sesuai dengan petunjuk berikut:
Banyak siswa : 0 sampai > 20% ; 2 bila 20% sampai > 40% ; 3 bila 40%
sampai > 60% skor 4 bila 60% sampai 80% ; skor 5 bila 80% sampai
100% aktif.
Kualitas : 1 = sangat kurang; 2 = kurang; 3 = cukup; 4 = baik; 5 = baik
sekali
2.3.4 Kelebihan
1. Pengamat mempunyai kemungkinan untuk langsung
mencatat hal-hal, perilaku pertumbuhan, dan sebagainya,
sewaktu kejadian tersebut masih berlaku, atau sewaktu

25
perilaku sedang terjadi sehingga pengamat tidak
menggantungkan data-data dari ingatan seseorang.
2. Pengamat dapat memperoleh data dan subjek, baik dengan
berkomunikasi verbal ataupun tidak, misalnya dalam
melakukan penelitian. Sering subjek tidak mau
berkomunikasi secara verbal dengan peneliti karena takut,
tidak punya waktu atau enggan. Namun, hal ini dapat diatasi
dengan adanya pengamatan (observasi) langsung.
2.3.5 Kekurangan
1. Memerlukan waktu yang relatif lama untuk memperoleh
pengamatan langsung terhadap satu kejadian, misalnya adat
penguburan suku Toraja dalam peristiwa ritual kematian,
maka seorang peneliti harus menunggu adanya upacara adat
tersebut.
2. Pengamat biasanya tidak dapat melakukan terhadap suatu
fenomena yang berlangsung lama, contohnya kita ingin
mengamati fenomena perubahan suatu masyarakat
tradisional menjadi masyarakat modern akan sulit atau tidak
mungkin dilakukan.
3. Adanya kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin diamati,
misalnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal
yang sifatnya pribadi, seperti kita ingin mengetahui perilaku
anak saat orang tua sedang bertengkar, kita tidak mungkin
melakukan pengamatan langsung terhadap konflik keluarga
tersebut karena kurang jelas.
2.4 Studi Kasus
2.4.1 Pengertian
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif
seorang individu yang di pandang mengalami suatu kasus
tertentu. Misalnya mempelajari secara khusus anak nakal , anak
yang tidak biasa bergaul dengan orang lain, anak yang selalu
gagal belajar, atau anak pandai, anak yang paling disyukai
teman-tamannya.kasus-kasus tersebut (pilih salah satu yang

26
paling diperlukan) dipelajarinya secara mendalam dan dalam
kurun waktu yang cukup lama. Mendalam artinya
mengungkapkan semua variabel yang menyebabkan terjadinya
kasus tersebut dari berbagai aspek yang mempengaruhi dirinya.
Tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu
melakukan apa yang dilakukannya dan bagai tingkah lakunya
dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap lingkungan.
Untuk memngungkapkan persoalan tersebut, perlu dicari
data yang berkenaan dengan pengalaman individu tersebut pada
masa lalu, sekarang, lingkungan yang membentuknya, dan
kaitan variabel-variabel yang berkenaan dengan kasusnya. Data
di peroleh dari berbagai sumber seperti orang tuanya, teman
dekatnya, guru, bahkan dari dirinya. Tehnik memperoleh data
sangat konprehensif, misalnya dengan observasi
perilakunya,wawacara, analisis dokumenter, atau tes, bergantung
pada kasus yang dipelajari. Setiap data dicatat secara cermat,
kemudian di kaji, dihubungkan satu sama lain, kalau perlu
dibahas dengan yang lain sebelum menarik kesimpulan -
kesimpulan penyebab terjadinya kasus satu persoalan yang
ditunjukkan oleh individu tersebut. Studi kasus mengisyaratkan
pada penilaian kualitatif. .(Sudjana, Nana. 2016. Penilaian Hasil
Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya)
Studi kasus adalah suatu metode untuk memahami
individu yang dilakukan secara integrative dan komprehensif
agar diperoleh pemahaman yang mendalam tentang individu
tersebut beserta masalah yang dihadapinya dengan tujuan
masalahnya dapat terselesaikan dan memperoleh perkembangan
diri yang baik. (Susilo Rahardjo & Gudnanto 2011. Pemahaman
Individu Teknik Non Tes. Kudus: Nora Media Enterprise . hal
250)

27
Studi kasus merupakan suatu metode untuk menyelidiki
atau mempelajari suatu kejadian mengenai perseorangan
(riwayat hidup). Pada metode studi kasus ini diperlukan banyak
informasi guna mendapatkan bahan-bahan yang agak
luas.Metode ini merupakan integrasi dari data yang diperoleh
dengan metode lain. ( Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan
Konseling Studi & Karir. Yogjakarta: Andi hal : 92 )
Menyatakan bahwa studi kasus dalam rangka pelayanan
bimbingan merupakan metode untuk mempelajari keadaan dan
perkembangan siswa secara lengkap dan mendalam, dengan
tujuan memahami individualitas siswa dengan baik dan
membantunya dalam perkembangan selanjutnya. Dari pengertian
di atas dapat disimpulkan bahwa studi kasus merupakan metode
pengumpulan data secara komprehensif yang meliputi aspek
fisik dan psikologis individu, dengan tujuan memperoleh
pemahaman secara mendalam dan komprehensif. ( Winkel, WS
& Hastuti, Sri. 2004. Bimbingan dan Konseling Di Institusi
Pendidikan. Yogjakarta : Media Abadi )
2.4.2 Langkah-kangkah
Beberapa langkah untuk melaksanakan studi kasus dalam bidang
pendidikan, khususnya di sekolah :
1. Mengenali siswa sebagai kasus, artinya menetapkan siapa-
siapa di antara siswa yang mempunyai masalah khusus
untuk dijadikan status
2. Menetapkan jenis masalah yang dihadapi siswa dan perlu
mendapatkan bantuan pemecahan oleh guru dalam langkah
ini guru sebaiknya mewawancarai siswa untuk menetukan
jenis masalah yang dihadapi siswa tersebut
3. Mencari bukti-bukti lain untuk meyakinkan kebenaran
masalah yang dihadapi siswa tersebut melalui analisis hasil
belajar yang dicapainya, mengamati perilakunya, bertanya

28
klepada teman sekelasnya kalau perlu meminta penjelasan
dari orang tuanya
4. Mencari sebab-sebab timbulnya masalah dari berbagai
aspek yang berkenaan dengan kehidupan siswa itu sendiri
5. Menganalisis sebab-sebab tersebut dan menghubungkan
dengan tingkah laku siswa agar diperoleh informasi yang
lebih lengkap mengenai latar belakang siswa
6. Dengan informasi yang lebih lengkap tentang faktor
penyebab tersebut, guru dapat menentukan sejumlah
alternatif pemecahannya. Setiap informasi dikaji lebih lanjut
untuk menetapkan alternatif mana yang paling baik untuk
mengatasi masalah siswa
7. Alternatif yang telah diuji sebagai upaya pemecahan maslah
dibicara kan dengan siswa untuk secara bertahap diterapkan,
baik oleh siswa itu sendiri maupun oleh guru
8. Terus mengadakan pengamatan dan pemantauan terhadap
tinngkah laku siswa tersebut untuk melihat perubahan-
perubahannya . jika belum menunjukkan perubahan ,
perlakuan guru harus lebih ditingkatkan lagi dengan
menggunakan dengan alternatif lain yang telah ditemukan
sebelumnya.
Langkah diatas adalah sebagai gambaran umum dalam
pelaksanaan studi kasus akan tetapi dapat disesuaikan dengan
jenis kasus yang dihadapi dan kondisi lingkungan tempat
terjadinya kasus tersebut. ( Sudjana, Nana. 2016. Penilaian
Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya
hal.95-96 )
Contoh kasus dan tindakan guru
Biologi merupakan pelajaran yang sangat sulit tetapi sangat
mernarik dan saya menyukai pelajaran biologi ketika saya duduk
dikelas satu SMA biologi merupakan favorit saya dan saya pun
berharap untuk memperdalamnya dengan kuliah di jurusan
biologi . ketika di kelas dua SMA saya diajar biologi oleh guru

29
yang lain guru yang baru dan semenjak itu saya tidak lagi
menyukai pelajaran biologi. Semua pembelajaran yang di
berikan olehnya semuanya sama, guru itu menulis beberapa soal
yang diselsaikan di papan tulis. Kami harus menyalin dan
menjawab soal-soal tersebut sang guru hanya duduk di depan
sambil membaca koran guru itu tidak pernah memeriksa
pekerjaan kami. Hal itu berulang setiap hari pada tengah tahun
ajaran, saya menyadari bahwa saya tidak harus bekerja keras
untuk pelajaran ini hanya menyalin soal dari papan tulis dan
menghabiskan waktu sepanjang pelajaran dengan membaca
majalah dan menunggu hingga akhir mata pelajaran untuk
menyalin jawaban yang benar dari papan tulis.( Majid, Abdul.
2014. Strategi Pembelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya)
2.4.3 Kelebihan
Kelebihan studi kasus dari studi lain adalah bahwa subjek dapat
dipelajari secara mendalam dan menyeluruh. ( Sudjana, Nana.
2016. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :
Remaja Rosdakarya)
2.4.4 Kekurangan
Namun kelemahannya sesuai dengan studi bahawa informasi
yang diperoleh sifatnya subjektif , artinya hanya untuk individu
yang bersangkutan, dan belum tentu dapat digunakan untuk
kasus yang sama pada individu yang lain. Dengan kata lain,
generalisasi informasi terbatas penggunaannya. Hasil studi kasus
dapat menghasilkan hasil hipotesis yang dapat diuji lebih lanjut.
2.5 Sosiometri
2.5.1 Pengertian
Sosiometri adalah suatu penialain untuk menentukan
pola pertalian dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok.
Sosiometri merupakan alat yang tepat untuk menilai hubungan
sosial dan tingkah laku sosial dari murid-murid dalam suatu
kelas, yang meliputi struktur hubungan individu, susunan

30
antarindividu dana rah hubungan sosial.(Putra, Sitiavata Rizema.
2013. Desain Evaluasi Belajar Berbasis Kinerja. Yogyakarta :
Diva Press)
Tekik sosiometri dapat diketahui posisi seorang siswa
dalam hubungan sosialnya dengan siswa lain. Misalnya
diketahui siswa yang terisolasi dari teman-temannya, siswa yang
paling disenangi teman-temannya, siswa yang akrab dengan
beberapa siswa tertentu seperti tiga serangkai. Posisi siwa
tersebut sangat diperlukan dalam menentukan pengelompokan
siswa, organisasi kelas, pemberian tugas belajar secara
kelompok, perlakuan guru terhadap siswa, dan motivasi belajar.
(Sudjana, Nana. 2016. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.
Bandung : Remaja Rosdakarya)
2.5.2 Langkah-Langkah
Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menugaskan
kepada semua siswa di kelas untuk memilih satu atau dua
temannya yang paling dekat atau paling akrab. Usahakan dalam
kesempatan memilih tersebut agar tidak ada siswa yang berusaha
melakukan kompromi untuk saling memilih supaya pilihan
tersebut bersifat netral, tidak diatur seblumnya. Tuliskan nama
pilihan tersebut pada kertas kecil kemudian digulung dan
dikumpulkan oleh guru. Setelah seluruhnya terkumpul, guru
mengolahnya dengan du acara cara pertama melukiskan alur-alur
pilihan dari setiap siswa dalam bentuk diagram sehingga terlihat
hubungan antar siswa berdasarkan pilihannya. Diagram hasil
pilihan tersebut dinamakan sosiogram.(Sudjana, Nana. 2016.
Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja
Rosdakarya)
Berikut ini adalah sebuah contoh sosiogram. Nama-nama
siswa diberi simbol huruf. Kepada 20 orang siswa dalam satu
kelas diminta untuk memilih tiga orang teman yang paling

31
disenangi atau paling akrab hubungannya secara berurutan.
Carannya ialah dengan menuliskan tiga orang teman pada kertas
kecil, lalu digulung dan diserahkan kepada guru. Contohnya
sebagai berikut :

1. Mashuri
2. Suhar
3. Rivai
Keterangan : Nana
Nana adalah pemilih, ditulis pada bagian bawah
Mashuti adalah pilihan pertama
Suhar adalah pilihan kedua
Rivai adalah pilihan ketiga
Setelah dianalisis, alur hubungan dari 20 orang siswa tampak
dalam diagram berikut

Pertama, kita dapat melihat bagaimana hubungan antar


siswa di kelas secara keseluruhan sehingga dapat diketahui kadar
hubungan social diantara mereka. Kedua dapat diketahui

32
kedudukan setiap siswa dalam hubungan sosialnya sehingga
dapat ditentukan siapa siapa yang paling disenangi dan siapa
yang kurang disenangi dengan melihat anak panah yang
ditujukan kepada siswa tersebut.. makin banyak anak panag
yang tertuju kepadanya, berarti semakin banyak orang yang
senang kepadanya.(Sudjana, Nana. 2016. Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya)
Ada beberapa kategori siswa yang dapat diperoleh dari
sosiogram, yakni :
1. Siswa yang termasuk popular, yakn siswa yang banyak
dipilih oleh teman-temannya. Dalam contoh di atas adalah
siswa N yang dipilih oleh 12 orang. Berikutnya adalah siswa
M dan J yang dipilih oleh 4 orang.
2. Siswa yang terisolasi, yakni siswa yang tidak dipilih oleh
siapapun. Dalam contoh adalah siswa L.
3. Siswa yang membentuk sati klik. Dalam contoh adalah
siswa A, B, C dan D. apabila klik ini terdiri dari tiga orang,
disebut triangle atau tiga serangkai, dan bila hanya dua
orang disebut pair atau pasangan.
4. Siswa yang membentuk hubungan mata rantai atau chain.
Dalam contoh adalah siswa E, F, G, H, I, J, N, M.
Diagram alur hubungan seperti di atas sulit dibuat apabila
dihadapkan kepada siswa yang banyak. Untuk itu bisa
disederhanakan dengan membatasi pilihan, misalnya cukup
memilih satu orang teman yang terdekat.
Cara kedua adalah memberi skor kepada pilihan siswa.
Misalnya, jika siswa diminta memilih dua orang teman yang
paling dekat secara berurutan, siswa pilihan pertama diberi skor
tiga dan siswa pilihan kedua diberi skor satu. Setiap siswa
dihitung berapa skornya. Siswa yang mendapat skor terbanyak
menunjukkan paling disenangi. Siswa yang tidak mendapat skor
disebut terisolasi. Berikut ini adalah contoh pilihan siswa dan

33
skor yang dicapainya. Kolom horizontal menunjukkan siswa
yang dipilih, dan kolom vertical menunjukkan siswa sebagai
pemilih.

Dari perolehan skor semua siswa dapat diketahui sebagai berikut :


1. Siswa N paling disenangi teman-temannya sebab memperoleh
skor paling banyak, yakni 17.
2. Siswa A, B, dan C menduduki urutan kedua karena sama-sama
mendapat skor 6 dan ketiganya saling memilih sebagai mata
rantai.
3. Siswa V, L dan O sama-sama mendapat skor 4 sekalipun tidak
terjadi saling memilih.
4. Siswa E, F, K, dan M sama-sama mendapat skor 3 dan tidak
ada unsur mata rantai atau saling memilih.
5. Siswa D hanya mendapat skor satu, yakni pilihan kedua dari
seorang siswa lainnya.
6. Siswa G, H, dan I terisolasi karena tidak memperoleh skor,
artinya tidak seorang pun siswa yang memilihnya.
Jumlah seluruh skor dari 15 siswa adalah 60. Dengan
demikian, rata-rata skor untuk setiap siswa adalah 60/15 = 4. Skor-
skor di atas 4 termasuk ke dalam yang hubungan sosialnya cukup
memadai, dan di bawah 4 termasuk ke dalam kategori kurang
dalam hubungan sosialnya. Oleh ssebab itu ada 8 orang yang

34
kurang hubungan sosialnya yang perlu ditangani oleh guru sebagai
kasus.
Dengan demikian, hasil dari sosiometri dapat dijadikan
bahan bagi guru dalam mempelajari para siswanya, terutama
dalam menganalisis sebab-sebab seorang siswa termasuk ke dalam
siswa yang disenangi, atau sebaliknya menjadi terisolasi. Dengan
perkataan lain sosimetri dapat digunakan sebagai salah satu alat
dalam menemukan kasus-kasus siswa di sekolah dilihat dari
hubungan sosialnya, dan dijadikan alat untuk melengkapi data
mengenai perkembangan siswa. (Sudjana, Nana. 2016. Penilaian
Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya)
2.5.3 Kelebihan
Penggunaan sosiometri memiliki beberapa kelebihan bila
dibandingkan metode asesmen lain yaitu menggunakan
sosiometri konselor memiliki peluang untuk memahami bentuk
hubungan sosial yang terjadi diantara peserta didik yang
dibimbingnya dengan melihat bagaimana frekuensi hubungan
yang terjadi, bagaimana itensitas atau kedalamaan hubungan
yang terjadi , bagaimana posisi popularitas peserta didik dalam
kelompoknya , mau pun peserta didik yang terisolasi.
2.5.4 Kekurangan
a. Hanya diterapkan pada kelompok peserta didik yang sudah
saling mengenal dalam waktu yang cukup lama,
b. Akurasi data penggunaan sosiometri yang sesuai tujan sangat
ditentukan oleh kemampuan guru pebimbing dalam
menyusun angket sosiometri.
c. Peserta didik tidak mudah untuk menetapkan pilihan teman ,
menetapkan intensitas hubungan yang selama ini terjadi ,
maupun saat menetapkan kriteria pribadi/ sifat-sifat angguta
kelompok dikelasnya. Melihat peserta didik umumnya
cenderung memilih anggota kelompok bukan atas dasar
pertimbangan dengan siapa mereka berhasil dalam

35
melakukan kegiatan dalam kelompok , melainkan lebih
didasarkan pada pertimbangan rasa simpati dan rasa antipati.

36
BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Waktu dan Tempat Penulisan
Waktu : 18 sd 20 April 2017
Tempat : Jl. Pangeran Samudra Gang II
3.2 Sumber Data
Data-data yang dipergunakan dalam penyusunan makalah ini berasal
dari berbagai literatur kepustakaan yang berkaitan dengan
permasalahan yang dibahas. Beberapa jenis referensi utama yang
digunakan adalah buku Penilaian Hasil dan Proses Belajar Mengajar
dan Desain Evaluasi Belajar Berbasis Kinerja.
3.3 Pengumpulan Data
Metode penulisan bersifat studi pustaka. Informasi didapatkan dari
berbagai literatur dan disusun berdasarkan hasil studi dari informasi
yang diperoleh.

37
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Wawancara dan Kuesioner
4.1.1 Wawancara
1. Pengertian
Sebagai alat penilaian,wawancara dapat digunakan untuk
menilai hasil dan proses belajar.Kelebihan wawancara ialah
bisa kontak langsung dengan siswa sehingga dapat
mengungkapkan jawaban secara lebih bebas dan
mendalam.Lebih dari itu hubungan dapat dibina lebih baik
sehingga siswa bebas mengemukakan
pendapatnya.Wawancara bisa direkam sehingga jawaban
siswa bisa di catat secaa lengkap.
Melalui wawacara data bisa diperoleh dalam bentuk
kualitatif dan kuantitatif. Pertanyaan yang tidak jelas dapat
diulang dan dijelaskan lagi.sebaiknya jawaban yang belum
jelas bisa di minta lagi dengan lebih terarah dan lebih
bermakna asal tidak mempengaruhi atau mengarahkan
jawaban siswa.
2. Jenis-jenis wawancara
a. Interview bebas (tidak berstruktur atau tidak
terpimpin),di mana responden mempunyai kebebasan
untuk mengutarakan pendapatnya tanpa dibatasi oleh
berbagai patokan yang telah di buat oleh subjek
evaluasi (tanpa terikat oleh berbagai ketentuan yang
telah dibuat oleh pewawancara).
b. Interview terpimpin (terstruktur),yaitu interview yang
dilakukan oleh subjek evaluasi dengan cara mengajukan
berbagai pertanyaan yang sudah disusun terlebih
dahulu.Jadi,pada waktu menjawab
pertanyaan,responden tinggal memilih jawaban yang
sudah dipersiapkan.Terkadang pertanyaan itu bersifat
sebagai yang memimpin,mengarahkan dan penjawab

38
sudah di pimpin oleh sebuah daftar cocok,sehingga
dalam menuliskan jawaban,ia tinggal membubuhkan
tanda cocok di tempat yang sesuai dengan keadaan
responden.

3. Langkah-langkah
a. Tahap awal pelaksana wawancara bertujuan untuk
mengkondisikan situasi wawancara.Buatlah situasi yang
mengungkapkan suasana keakraban,sehingga siswa
tidak merasa takut,dan ia terdorong untuk
mengemukakan pendapatnya secara bebas atau benar
dan jujur.
b. Pengguaan pertanyaan.Setelah kondisi awal cukup
baik,barulah diajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai
dengan tujuan wawancara.Pertanyaan diajukan secara
bertahap dan sistematis berdasarkan rambu-rambu atau
kisi-kisi yang telah dibuat sebelumnya.Apabila
pertanyaan dibuat secara berstruktur,pewawancara
membacakan pertanyaan dan, kalau perlu alternatif
jawabannya.Siswa diminta mengemukakan
pendapatnya,lalu pendapat siswa diklasifikasikan ke
dalam alternatif jawaban yang telah ada.Bila wawancara
tak berstruktur,baca atau ajukan pertanyaan lalu siswa
diminta menjawabnya secara bebas.
c. Pencatatan hasil wawancara.Hasil wawancara sebaiknya
dicatat saat itu juga supaya tidak lupa.Mencatat hasil
wawancara berstruktur cukup mudah sebab tinggal
memberikan tanda pada alternatif jawaban,misalnya
melingkari salah satu jawaban yang ada. Sedangkan
pada wawancara terbuka kita perlu mencatat pokok-
pokok isi jawaban siswa pada lembaran tersendiri.Yang

39
dicatat adalah jawaban apa adanya dari siswa, jangan
tafsirkan pewawancara atau ditambah dan dikurangi.
4. Kelebihan
a. Wawancara dapat memberikan keterangan keadaan
pribadi.Hal ini tergantung pada hubungan baik antara
pewawancara dengan objek.
b. Wawancara dapat dilaksanankan untuk setiap umur dan
mudah dalam pelaksanaannya.
c. Wawancara dapat dilaksanakan serempak dengan
observasi.
d. Data tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh
dan lebih tepat dibandingkan dengan obresvasi dan
angket.
e. Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik
antara pewawancara dengan objek.
5. Kekurangan
a. Keberhasilan wawancara dapat dipengaruhi oleh
kesediaan,kemampuan individu yang di wawancarai.
b. Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh keadaan
sekitar pelaksaan wawancara.
c. Wawancara menuntut penguasaan bahasa yang baik dan
sempurna dari pewawancara.
d. Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara dapat
mempengaruhi hasil wawancara.
4.1.2 Kuesioner
1. Pengertian
Kuesioner (questionmaire) juga sering dikenal sebagai
angket.Pada dasarnya,angket adalah sebuah daftar
pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang diukur
(responden).Dengan kuesioner ini,dapat diketahui keadaan
atau data diri, pengalaman, pengetahuan, sikap, atau
pendapat seseorang.
2. Jenis-jenis

40
Kuesioner dapat ditinjau dari beberapa segi. Pertama di
tinjau dari segi orang yang menjawab. Berikut ini
pembagiannya:
a. Kuesioner langsung,yaitu jika kuisioner tersebut
dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan
dimintai jawaban tentang dirinya.
b. Kuesioner tidak langsung,kuesioner yang dikirimkan
dan diisi oleh bukan orang diminta
keterangannya.Biasanya kuesioner tidak langsung
digunakan untuk mencari informasi tentang bawahan
anak,sudara,tetangga dan lain sebagainya.
Kedua,ditinjau dari segi cara menjawab. Berikut ini
pembagiannya:
a. Kuesioner tertutup,yakni kuesioner yang disusun
dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap,sehingga
pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban
yang dipilih.
b. Kuesioner terbuka,yaitu kuisioner yang disusun
sedemikian rupa,sehingga para pengisi mengemukakan
pendapatnya.Kuesioner terbuka disusun apabila macam
jawaban pengisi belum terperinci dengan jelas,sehingga
jawabannya akan beraneka ragam.Keterangan tentang
alamat pengisian tidak mungkin diberikan dengan cara
memilih pilihan jawaban yang disediakan.Kuisioner
terbuka juga digunakan untuk meminta pendapat
seseorang.
Ketiga, daftar cocok (check list),yaitu deretan pernyataan
(yang biasanya singkat-singkat),di mana responden yang
dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok di tempat
yang sudah di sediakan. Ada pendapat yang mengatakan
bahwa sebenarnya skala bertingkat dapat digolongkan ke
dalam daftar cocok. Karena, dalam skala bertingkat,

41
responden juga diminta untuk memberikan tanda cocok
pada pilihan yang tepat.
3. Langkah-langkah
Petunjuk yang lebih teknis dalam membuat kuesioner
adalah sebagai berikut:
a. Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan
mengisi kuesioner sambil di jelaskan maksud dan
tujuannya.
b. Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak
salah.Kalau perlu,diberikan contoh.
c. Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan
identitas responden.Dalam identitas ini sebaiknya tidak
diminta mengisi nama.Identitas cukup mengungkapkan
jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan,
pengalaman,dan lain-lain yang ada kaitannya dengan
tujuan kuesioner.
d. Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau
bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan
sehingga mudah mengolahnya.
e. Rumusan pertanyaan di buat singkat,tetapi jelas
sehingga tidak membingungkan dan salah
mengakibatkan penafsirannya.
f. Hubungan antara pertanyaan satu dengan pertanyaan
yang lainharus dijaga sehingga tampak logikanya dalam
satu rangkaian yang sistematis.Hindari penggolongan
pertanyaan terhadap indikator atau persoalan yang
sama.
g. Usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat,atau
rumusannya tidak lebih panjang dari pada pertanyaan
Kuesioner yang terlalu banyak atau relatif panjang akan
melelahkan dan membosankan responden sehingga
mengisinya tidak objektif lagi. Ada baiknya kuesioner
diakhiri dengan tanda tangan si pengisi.

42
4. Kelebihan
a. Dengan angket,kita dapat memperoleh data dari
sejumlah anak dengan hanya membutuhkan waktu yang
singkat.
b. Setiap anak dapat memperoleh sejumlah pertanyaan
yang sama.
c. Dengan angket pengaruh subjektif dari guru dapat
dihindarkan.
5. Kekurangan
a. Pertanyaan yang diberikan melalui angket terbatas,
sehingga apabila ada hal-hal yang kurang jelas,maka
sulit diterangkan kembali.
b. Terkadang, pertanyaan yang diberikan tidak dijawab
oleh semua anak,atau mungkin dijawab,tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan. Sebab anak merasa bebas
menjawab dan tidak diawasi secara mendetail.Ada
kemungkinan angket yang diberikan tidak dapat
dikumpulkan semua karena banyak anak yang merasa
kurang perlu hasil dari angket yang diterima.

4.2 Skala
4.2.1 Skala Penilaian
1. Pengertian
Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang
lain oleh seseorang melalui penyataan perilaku individu
pada suatu titik continuum atau suatu kategori yang
bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan
mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan
ini bisa dalam bentuk huruf (A, B, C, D), angka (4, 3, 2, 1),
atau 10, 9, 8, 7, 6, 5. Sedangkan rentangan kategori bisa
tinggi, sedang, rendah, atau baik, sedang, kurang.
2. Langkah-langkah
a. Tentukan tujuan yang akan dicapai dari skala penilaian
ini sehingga jelas apa yang seharusnya dinilai.

43
b. Berdasarkan tujuan tersebut, tentukan aspek atau
variable yang akan diungkap melalui instrument ini.
c. Tetapkan bentuk rentangan nilai yang akan digunakan,
misalnya nilai angka atau kategori.
d. Buatlah item-item pernyataan yang akan dinilai dalam
kalimat yang singkat tetapi bermakna secara logis dan
sistematis.
e. Ada baiknya menetapkan pedoman mengolah dan
menafsirkan hasil yang diperoleh dari penilaian ini.
Berikut ini contoh dari instrument skala penilaian :

44
4.2.2 Skala Sikap
1. Pengertian
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang
terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap,
yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral.
Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku
pada seseorang. Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang
terhadap suatu stimulus yang datang kepada dirinya
Ada tiga komponen sikap yakni kognisi, afeksi, dan konasi.
Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang
objek atau stimulus yang dihadapinya, sedangkan afeksi
berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek

45
tersebut, sedangkan konasi berkanaan dengan
kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. Oleh sebab
itu sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek
tertentu, misalnya sikap siswa terhadap mata pelajaran
2. Langkah-langkah
a. Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variable
yang akan diukur dengan skala tersebut.
b. Lakukan analisis variable tersebut menjadi beberapa
subvariabel atau dimensi variable, lalu kembangkan
indicator setiap dimensi tersebut.
c. Dari setiap indicator di atas, tentukan ruang lingkup
pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognisi,
afeksi, dan konasi terhadap objek sikap.
d. Susunan pernyataan untuk masing-masing aspek
tersebut dalam dua kategori, yakni pernyataan positif
dan pernyataan negatif, secara seimbang banyaknya.
Berikut ini contoh dari skala sikap

No Pernyataan Pilihan Sikap


SS S N TS STS
1 Saya mengikuti sebaik-
baiknya materi pelajaran
tentang ekosistem karena
sangat penting dalam mata
pelajaran IPA
2 Saya meyakini bahwa materi
tentang ekosistem sangat
mudah untuk dipahami
3 Saya menata buku catatan
saya tentang ekosistem
sehingga lengkap dan
memuat penjelasan-
penjelasan guru dan
pemahaman saya terhadap

46
materi ini
4 Saya dapat mengelola usaha-
usaha yang harus saya
lakukan untuk mempelajari
materi ekosistem sebaik-
baiknya
5 Saya menyenangi tugas-tugas
yang diberikan guru, karena
itu saya mengerjakan tugas-
tugas dengan sebaik-baiknya.

4.3 Observasi
1. Pengertian
Observasi adalah metode pengumpulan data melalui pengamatan
langsung atau peninjauan secara cermat dan langsung di lapangan.
Dengan observasi kita dapat memperoleh gambaran tentang
kehidupan sosial yang sukar untuk diketahui dengan metode
lainnya. Jadi, jelas bahwa tujuan observasi adalah untuk
memperoleh berbagai data konkret secara langsung di lapangan.
2. Jenis-jenis
a. Observasi Langsung
Peneliti langsung terjun ke lapangan sebagai sasaran penelitian
untuk melihat keadaan atau fenomena yang terjadi di sana.
Dengan begitu, peneliti dapat lebih mengenal karakteristik
lokasi, fenomena, dan juga subjek penelitian, dalam hal ini
adalah masyarakat yang hendak diteliti. Observasi langsung ini
dapat kita bedakan atas observasi berperan serta dan observasi
tidak berperan serta.
1) Observasi Berperan Serta (Participant Observation)
Pengamat atau peneliti berbaur dengan anggota
masyarakat, dan seolah-olah dia adalah anggota
masyarakat tersebut. Pengamat tidak memberi batasan
bahwa ia adalah seorang peneliti yang hendak menggali

47
data di lokasi tersebut. Ini merupakan keuntungan dari
jenis observasi berperan serta karena proses wawancara
atau pengamatan terhadap hal-hal yang sifatnya penting
sangat mudah untuk dilakukan, karena telah terjadi
pembauran dengan masyarakat setempat
2) Observasi Tidak Berperan Serta (Nonparticipant
Observation)
Observasi ini berarti bahwa seorang pengamat melakukan
observasi langsung, tetapi tetap member batasan bahwa dia
adalah seorang peneliti atau pengamat yang berdiri di luar
sistem. Pengamat tetap berada sebagai pengamat untuk
melakukan observasi terhadap fenomena yang hendak
diteliti. Dalam melakukan observasi pengamat tidak
berbaur dengan masyarakat yang ada dalam sasaran
penelitian.
b. Observasi Tidak Langsung
Observasi tidak langsung merupakan kegiatan pengamatan
yang tidak dilakukan pada tempat atau lokasi yang telah
ditentukan oleh peneliti. Peneliti dapat menggunakan media,
seperti internet, media cetak, rekaman audio visual, dan hasil-
hasil penelitian sebelumnya yang memiliki latar permasalahan
yang sama dengan yang akan diteliti.
3. Langkah-langkah
Lembar observasi aktivitas belajar siswa ini dibuat dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menentukan tujuan pembuatan lembar observasi, yaitu untuk
merekam data berapa banyak siswa di suatu kelas aktif belajar,
dan bagaimana kualitas aktivitas belajar siswa-siswa tersebut.
b. Mengumpulkan referensi tentang karakteristik atau ciri-ciri
siswa yang sedang aktif belajar (jika anda telah menulis
proposal penelitian, maka tentunya dengan mudah dapat
dicuplik dari kajian teori atau kajian pustaka proposal
penelitian anda).

48
c. Menyusun poin-poin kunci tentang karakteristik atau ciri-ciri
siswa yang sedang aktif belajar. Misalnya, setelah diekstraksi,
kajian pustaka atau kajian teori tentang aktivitas belajar siswa
didapatkanlah karakteristik atau ciri-ciri siswa yang aktif
belajar.
d. Menentukan desain atau layout lembar observasi penelitian
yang diinginkan, seperti daftar ceklis, skala rating (skala
penilaian), daftar pertanyaan terbuka, laporan observasi
(observation report).
e. Merumuskan elemen-elemen lembar observasi penelitian,
dalam hal ini judul, identitas, tujuan, petunjuk penggunaan
(petunjuk pengisian), butir-butir pernyataan atau pertanyaan
terkait karakteristik atau ciri-ciri siswa yang aktif belajar (ini
merupakan bagian utama dari lembar observasi dan harus
mengacu pada tujuan pembuatan lembar observasi yang identik
dengan tujuan penelitian yang sedang dilakukan).
f. Menulis draft lembar observasi penelitian.
g. Meminta bantuan rekan seprofesi atau ahli misalnya
widyaiswara atau dosen untuk mengecek validitas instrumen
(lembar observasi).
h. Merevisi lembar observasi bila diperlukan
Contoh lembar observasi aktivitas belajar siswa

Maka setelah melewati langkah-langkah tersebut di atas, maka kita telah


menyusun sebuah lembar observasi penelitian, yang bentuk akhirnya berupa
skala rating seperti berikut ini:

LEMBAR OBSERVASI
KEAKTIFAN SISWA DALAM BELAJAR

Sekolah / Kelas : _________________


Hari / Tanggal : _________________
Nama Guru : _________________

49
Nama Observer : _________________

Tujuan : Merekam data berapa banyak siswa di suatu kelas aktif belajar
Merekam data kualitas aktivitas belajar siswa
Petunjuk :
1. Observer harus berada pada posisi yang tidak mengganggu
pembelajaran tetapi tetap dapat memantau setiap kegiatan yang
dilakukan siswa.
2. Observer memberikan skor sesuai dengan petunjuk berikut:
a. Banyak siswa : 0 sampai > 20% ; 2 bila 20% sampai > 40% ; 3
bila 40% sampai > 60% skor 4 bila 60% sampai 80% ; skor 5
bila 80% sampai 100% aktif.
b. Kualitas : 1 = sangat kurang; 2 = kurang; 3 = cukup; 4 = baik; 5
= baik sekali
3. Kelebihan
a. Pengamat mempunyai kemungkinan untuk langsung mencatat hal-
hal, perilaku pertumbuhan, dan sebagainya, sewaktu kejadian
tersebut masih berlaku, atau sewaktu perilaku sedang terjadi
sehingga pengamat tidak menggantungkan data-data dari ingatan
seseorang.
b. Pengamat dapat memperoleh data dan subjek, baik dengan
berkomunikasi verbal ataupun tidak, misalnya dalam melakukan
penelitian. Sering subjek tidak mau berkomunikasi secara verbal
dengan peneliti karena takut, tidak punya waktu atau enggan.
Namun, hal ini dapat diatasi dengan adanya pengamatan (observasi)
langsung.
4. Kekurangan
a. Memerlukan waktu yang relatif lama untuk memperoleh
pengamatan langsung terhadap satu kejadian, misalnya adat
penguburan suku Toraja dalam peristiwa ritual kematian, maka
seorang peneliti harus menunggu adanya upacara adat tersebut.
b. Pengamat biasanya tidak dapat melakukan terhadap suatu fenomena
yang berlangsung lama, contohnya kita ingin mengamati fenomena

50
perubahan suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat
modern akan sulit atau tidak mungkin dilakukan.
c. Adanya kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin diamati, misalnya
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya
pribadi, seperti kita ingin mengetahui perilaku anak saat orang tua
sedang bertengkar, kita tidak mungkin melakukan pengamatan
langsung terhadap konflik keluarga tersebut karena kurang jelas.
4.4 Studi Kasus
1. Pengertian
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif
seorang individu yang di pandang mengalami suatu kasus tertentu.
Misalnya mempelajari secara khusus anak nakal , anak yang tidak
biasa bergaul dengan orang lain, anak yang selalu gagal belajar,
atau anak pandai, anak yang paling disyukai teman-
tamannya.kasus-kasus tersebut (pilih salah satu yang paling
diperlukan) dipelajarinya secara mendalam dan dalam kurun waktu
yang cukup lama. Mendalam artinya mengungkapkan semua
variabel yang menyebabkan terjadinya kasus tersebut dari berbagai
aspek yang mempengaruhi dirinya. Tekanan utama dalam studi
kasus adalah mengapa individu melakukan apa yang dilakukannya
dan bagai tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya
terhadap lingkungan.
Untuk mengungkapkan persoalan tersebut, perlu dicari data
yang berkenaan dengan pengalaman individu tersebut pada masa
lalu, sekarang, lingkungan yang membentuknya, dan kaitan
variabel-variabel yang berkenaan dengan kasusnya. Data di peroleh
dari berbagai sumber seperti orang tuanya, teman dekatnya, guru,
bahkan dari dirinya. Tehnik memperoleh data sangat konprehensif,
misalnya dengan observasi perilakunya,wawacara, analisis
dokumenter, atau tes, bergantung pada kasus yang dipelajari.
Setiap data dicatat secara cermat, kemudian di kaji, dihubungkan
satu sama lain, kalau perlu dibahas dengan yang lain sebelum

51
menarik kesimpulan - kesimpulan penyebab terjadinya kasus satu
persoalan yang ditunjukkan oleh individu tersebut. Studi kasus
mengisyaratkan pada penilaian kualitatif.
2. Langkah-langkah
Beberapa langkah untuk melaksanakan studi kasus dalam bidang
pendidikan, khususnya di sekolah :
a. Mengenali siswa sebagai kasus, artinya menetapkan siapa-siapa
di antara siswa yang mempunyai masalah khusus untuk
dijadikan status
b. Menetapkan jenis masalah yang dihadapi siswa dan perlu
mendapatkan bantuan pemecahan oleh guru dalam langkah ini
guru sebaiknya mewawancarai siswa untuk menetukan jenis
masalah yang dihadapi siswa tersebut
c. Mencari bukti-bukti lain untuk meyakinkan kebenaran masalah
yang dihadapi siswa tersebut melalui analisis hasil belajar yang
dicapainya, mengamati perilakunya, bertanya klepada teman
sekelasnya kalau perlu meminta penjelasan dari orang tuanya
d. Mencari sebab-sebab timbulnya masalah dari berbagai aspek
yang berkenaan dengan kehidupan siswa itu sendiri
e. Menganalisis sebab-sebab tersebut dan menghubungkan
dengan tingkah laku siswa agar diperoleh informasi yang lebih
lengkap mengenai latar belakang siswa
f. Dengan informasi yang lebih lengkap tentang faktor penyebab
tersebut, guru dapat menentukan sejumlah alternatif
pemecahannya. Setiap informasi dikaji lebih lanjut untuk
menetapkan alternatif mana yang paling baik untuk mengatasi
masalah siswa
g. Alternatif yang telah diuji sebagai upaya pemecahan maslah
dibicara kan dengan siswa untuk secara bertahap diterapkan,
baik oleh siswa itu sendiri maupun oleh guru
3. Kelebihan
Kelebihan studi kasus dari studi lain adalah bahwa subjek dapat
dipelajari secara mendalam dan menyeluruh.
4. Kekurangan

52
Kelemahannya sesuai dengan studi bahawa informasi yang
diperoleh sifatnya subjektif , artinya hanya untuk individu yang
bersangkutan, dan belum tentu dapat digunakan untuk kasus yang
sama pada individu yang lain. Dengan kata lain, generalisasi
informasi terbatas penggunaannya. Hasil studi kasus dapat
menghasilkan hasil hipotesis yang dapat diuji lebih lanjut.
4.5 Sosiometri
1. Pengertian
Sosiometri adalah suatu penialain untuk menentukan pola pertalian
dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. Sosiometri
merupakan alat yang tepat untuk menilai hubungan sosial dan
tingkah laku sosial dari murid-murid dalam suatu kelas.
Tekik sosiometri dapat diketahui posisi seorang siswa dalam
hubungan sosialnya dengan siswa lain. Misalnya diketahui siswa
yang terisolasi dari teman-temannya, siswa yang paling disenangi
teman-temannya, siswa yang akrab dengan beberapa siswa tertentu
2. Langkah-langkah
Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menugaskan kepada
semua siswa di kelas untuk memilih satu atau dua temannya yang
paling dekat atau paling akrab. Usahakan dalam kesempatan
memilih tersebut agar tidak ada siswa yang berusaha melakukan
kompromi untuk saling memilih supaya pilihan tersebut bersifat
netral, tidak diatur seblumnya. Tuliskan nama pilihan tersebut pada
kertas kecil kemudian digulung dan dikumpulkan oleh guru.
Setelah seluruhnya terkumpul, guru mengolahnya dengan du acara
cara pertama melukiskan alur-alur pilihan dari setiap siswa dalam
bentuk diagram sehingga terlihat hubungan antar siswa
berdasarkan pilihannya. Diagram hasil pilihan tersebut dinamakan
sosiogram.
Berikut ini adalah sebuah contoh sosiogram. Nama-nama
siswa diberi simbol huruf. Kepada 20 orang siswa dalam satu
kelas diminta untuk memilih tiga orang teman yang paling

53
disenangi atau paling akrab hubungannya secara berurutan.
Carannya ialah dengan menuliskan tiga orang teman pada kertas
kecil, lalu digulung dan diserahkan kepada guru. Contohnya
sebagai berikut :

4. Mashuri
5. Suhar
6. Rivai
Keterangan : Nana
Nana adalah pemilih, ditulis pada bagian bawah
Mashuti adalah pilihan pertama
Suhar adalah pilihan kedua
Rivai adalah pilihan ketiga
Setelah dianalisis, alur hubungan dari 20 orang siswa tampak
dalam diagram berikut

Cara kedua adalah memberi skor kepada pilihan siswa

54
3. Kelebihan
Penggunaan sosiometri memiliki beberapa kelebihan bila
dibandingkan metode asesmen lain yaitu menggunakan sosiometri
konselor memiliki peluang untuk memahami bentuk hubungan
sosial yang terjadi diantara peserta didik yang dibimbingnya
dengan melihat bagaimana frekuensi hubungan yang terjadi,
bagaimana itensitas atau kedalamaan hubungan yang terjadi ,
bagaimana posisi popularitas peserta didik dalam kelompoknya ,
mau pun peserta didik yang terisolasi.
4. Kekurangan
a. Hanya diterapkan pada kelompok peserta didik yang sudah
saling mengenal dalam waktu yang cukup lama,
b. Akurasi data penggunaan sosiometri yang sesuai tujan sangat
ditentukan oleh kemampuan guru pebimbing dalam menyusun
angket sosiometri.
c. Peserta didik tidak mudah untuk menetapkan pilihan teman ,
menetapkan intensitas hubungan yang selama ini terjadi ,
maupun saat menetapkan kriteria pribadi/ sifat-sifat angguta
kelompok dikelasnya. Melihat peserta didik umumnya
cenderung memilih anggota kelompok bukan atas dasar
pertimbangan dengan siapa mereka berhasil dalam melakukan

55
kegiatan dalam kelompok , melainkan lebih didasarkan pada
pertimbangan rasa simpati dan rasa antipati.

56
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Wawancara dan kuesioner sebagai alat peilaian yang digunakan
utuk mengetahui pendapat, aspirasi, harapan, prestasi, keinginan,
keyakinan dan lain-lain sebagai hasil belajar siswa
2. Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh
seseorang melalui penyataan perilaku individu pada suatu titik
continuum atau suatu kategori yang bermakna nilai
3. Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap
objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung
(positif), menolak (negatif), dan netral.
4. Observasi adalah metode pengumpulan data melalui pengamatan
langsung atau peninjauan secara cermat dan langsung di lapangan.
5. Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang
individu yang di pandang mengalami suatu kasus tertentu.
Misalnya mempelajari secara khusus anak nakal , anak yang tidak
biasa bergaul dengan orang lain, anak yang selalu gagal belajar,
atau anak pandai, anak yang paling disyukai teman-tamannya.
6. Sosiometri adalah suatu penialain untuk menentukan pola pertalian
dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. Sosiometri
merupakan alat yang tepat untuk menilai hubungan sosial dan
tingkah laku sosial dari murid-murid dalam suatu kelas.
5.2 Saran
Makalah yang kami buat masih banyak kekurangan, untuk perbaikan
makalah selanjutnya kami menerima kritik dan saran dari pembaca.

57