Anda di halaman 1dari 16

PERLAKUAN HUKUM BAGI PNS YANG TERBUKTI MELANGGAR HUKUM DI

BUMI ANJUK LADANG

01.34 8 comments

Ketika hendak mendirikan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), para


founding fathers secara bulat telah menjatuhkan pilihan bahwa Indonesia adalah
negara yang berdasarkan hukum (rechtstaat), bukan negara kekuasaan
(machtstaat). Mereka tidak serta merta, -- atas nama pelestarian adat atau yang
lain -- mengembalikan praktek kenegaraan seperti yang pernah dilakukan nenek
moyangnya selama berabad-abad yakni negara monarchi (kerajaan) yang
memiliki kekuasaan absolute. Padahal bentuk negara monarchi sesungguhnya
lebih memberikan keuntungan bagi para founding fathers itu, karena mereka
para elite politik tentu memiliki hak previlige yang tidak dimiliki warga biasa.
Entah apakah ini akibat dari pendidikan Barat yang telah mereka telan di bangku
kuliah ataukah mereka memang para negarawan sejati. Yang jelas kita para
generasi penerus wajib bangga dan memberikan apresiasi yang luar biasa
karena pilihan bentuk negara hukum merupakan wujud nyata dari kecerdasan
sekaligus keberadaban mereka.

Sebagai perwujudan idealisme para pendulum, konstitusi (hukum dasar) negeri


ini secara eksplisit, tegas juga mencantumkan norma itu. Sehingga dalam
praktek kenegaraan semua harus berpedoman pada hukum. Tidak terkecuali
yang terkait dengan kepegawaian. Lebih-lebih PNS sebagai unsur aparatur
negara. Sebab itu segala hal yang berkaitan dengan kepegawaian menjadi
sangat strategis karena sebagai unsur aparatur negara, PNS menjadi garda
terdepan dalam praktek pemerintahan. Dalam posisi inilah, sesungguhnya PNS
memiliki beban dan tanggung-jawab yang tidak ringan. Namun sebaliknya
dengan kedudukan dan kewenangan yang diberikan oleh negara juga rawan
terhadap terjadinya penyalahgunaan. Pada kondisi inilah negara hadir melalui
regulasi, diharapkan bisa menjadi penyeimbang (balancing) yang rasional dalam
konteks negara hukum modern. Pada akhirnya bisa diminimalisir kemungkinan
munculnya tiga penyakit laten yang sering melekat pada sosok penguasa yakni
penyalahgunaan wewenang, tindakan melampaui kewenangan maupun
perbuatan sewenang-wenang.

Undang-Undang no. 8 tahun 1974 tentang Pokok Pokok Kepegawaian


sebagaimana telah diubah dengan UU no. 43 tahun 1999 maupun UU no. 5 tahun
2015 tentang Aparatur Sipil Negara (selanjutnya disebut UU ASN) berikut
peraturan pelaksana yang lain sesungguhnya sudah mengatur secara lengkap
terkait persoalan diatas. Kata lengkap tidak identik dengan sempurna,
karena setiap peraturan perundang-undangan di seluruh jagad ini tentu
mengandung kelemahan. Sehingga tidak ada yang berhak menyandang predikat
sempurna. Dalam ajaran agama apapun, kesempurnaan menjadi hak mutlak dari
Tuhan. Setidaknya UU mampu mengakomodasi sebagian besar permasalahan
secara sektoral yang terjadi di masyarakat. UU ASN merupakan pengganti UU no.
8 tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UU no. 43 tahun 1999. Namun
karena kajian yang ingin ditampilkan tempus-nya sebagian juga terjadi di
masa lalu (sebelum berlakunya UU ASN) maka mengikutsertakan UU no. 8 tahun
1974 sebagaimana telah diubah dengan UU no. 43 tahun 1999, masih sangat
relevan.

Pertanyaan yang sering diperbincangkan berbagai kalangan masyarakat di


warung kopi, kantor instansi pemerintah, emperan masjid, pematang sawah,
gardu pos kamling, sampai gedung dewan adalah bagaimana seharusnya (das
sollen) hukum memperlakukan para PNS yang terkena masalah (hukum) ?
Benarkah PNS termasuk kelompok masyarakat yang kebal (immun) terhadap
hukum, tidak bisa tersentuh sanksi (administrasi hingga yang terberat
pemberhentian) meskipun telah terbukti secara sah melanggar hukum dan
dijatuhi pidana penjara oleh lembaga peradilan ? Berbagai pertanyaan ini setiap
saat menjadi bahan obrolan para PNS pada level staf, tukang ojek, sopir angdes,
para politisi dan pegiat LSM di negeri Anjuk Ladang, alias sudah menjadi
santapan sehari-hari. Terakhir orang pada terkaget-kaget ketika Kadinas Dikpora
(2014) Dr. Bambang Eko Wahyudi (BEW) ketika sudah berstatus terdakwa di
Pengadilan Tipikor Surabaya, masih bebas menjalankan tugas sehari-hari di
instansinya bahkan dilantik menjadi kepala Bapeda (Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah). Perlu diketahui, Dr. BEW beserta beberapa stafnya dan
seorang kontraktor rekanan terjerat kasus pengadaan meubelair untuk sekolah-
sekolah se-kabupaten Nganjuk. Mereka secara berjamaah didakwa ikut bancakan
anggaran pengadaan mebelair.

Meskipun sesungguhnya pelantikan Dr. BEW bukan promosi, hanya tour of duty
biasa, tetapi peristiwa itu dinilai banyak kalangan sebagai hal yang aneh.
Siapapun tidak bisa memungkiri, kepala Bapeda merupakan jabatan prestisius
yang tidak bisa diduduki oleh sembarang pejabat eselon II di Pemkab. Secara
teoritis, jabatan kepala Bapeda hanya layak diberikan kepada pejabat eselon II
yang memiliki pengalaman, kemampuan intelektual dan moral yang lebih baik
dibanding pejabat eselon II yang lain. Karena Bapeda sering diberi predikat
koordinator SKPD lain dan sekaligus think-thanknya Pemkab.

Pada konstruksi seperti itu, bagaimana mungkin hal itu justru diberikan kepada
pejabat yang masih sedang menyandang predikat terdakwa ? Ada motif apa
Baperjakat dan PPK membuat keputusan yang kontroversial sekaligus
kontraproduktif tersebut ? Padahal presiden SBY juga sudah memberikan teladan
yang bagus, jika seorang menteri menyandang status tersangka sudah
diwajibkan mundur dari jabatannya. Ini misalnya terjadi pada Dr. Andi
Mallarangeng (Menpora) dan Drs. Suryadarma Ali (Menteri Agama). Dalam
konteks ini, tentu kita tidak bisa menyalahkan Dr. BEW karena yang
bersangkutan hanya prajurit yang tidak memiliki kewenangan menentukan/
memilih jabatan bagi dirinya sendiri. Dalam situasi demikian kita kadang
bertanya-tanya, dimanakah posisi para anggota dewan (DPRD) yang notabene
memiliki hak control terhadap eksekutif ?

Bukan sesuatu yang berlebihan jika muncul banyak pertanyaan di masyarakat.


Selain kasus Dr. BEW mereka melihat realitas di lapangan begitu banyaknya
pejabat pemerintah (PNS) di kabupaten Nganjuk yang terkena masalah hukum,
seperti misalnya Gatot Suwardi (Dikpora), Ali Supandi (Kasatpol PP), Nyoto (Dinas
PU Pengairan), dr. Eko Sidharta (RSUD), Ririn (RSUD), dll. Belum teridentifikasi
juga para PNS level staf yang terkena kasus serupa. Para pejabat struktural ini
melakukan perbuatan pidana kategori kejahatan jabatan (tipikor). Belum lagi PNS
yang terjerat kasus tindak pidana umum (pidum). Konon untuk tingkat propinsi
Jawa Timur, beberapa tahun terakhir ini kabupaten Nganjuk mengukir prestasi
menduduki ranking teratas untuk pejabat pemerintah yang terjerat kasus tipikor.
Mereka rata-rata mendapat hadiah vonis bersalah oleh pengadilan, mulai tingkat
pertama hingga Mahkamah Agung (MA). Ironisnya pertanyaan demi pertanyaan
selalu muncul bagai jalan tak berujung. By design, seperti tidak pernah dan tidak
perlu dijawab. Semua dibiarkan berlalu begitu saja, yang pada akhirnya akan
hilang ditelan waktu.

Sesungguhnya jika ditelaah, beberapa pertanyaan diatas tidak perlu terjadi.


Secara substantive, hukum kepegawaian yang diformulasikan dalam UU no. 8
tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UU no. 43 tahun 1999, UU ASN
dan beberapa peraturan pelaksananya sudah memberikan jawaban yang cukup
komprehensif. Perlakuan hukum positif terhadap PNS yang terbukti melanggar
hukum dan telah memperoleh vonis pengadilan yang mempunyai kekuatan
hukum tetap, sudah diuraikan secara gamblang. Persoalannya masyarakat pada
umumnya tidak memahami aturan hukum yang demikian ini. Asas fiksi hukum
yang menyatakan setiap individu dianggap tahu hukum, tanpa kecuali hanya
isapan jempol. Hukum kadang bertengger di ruang hampa, hanya segelintir
orang yang mampu memahami. Sehingga keadilan sebagai salah satu tujuan
utama bagi hukum, sering dipertanyakan. Persoalannya apakah substansi hukum
kepegawaian ini di wilayah kabupaten Nganjuk benar-benar sudah dilaksanakan
secara konsisten ? Atau apakah norma hukum kepegawaian bisa bekerja secara
efektif ?

Untuk menjawab polemik di masyarakat, kita telaah beberapa norma hukum


kepegawaian yang terkait dengan perlakukan terhadap PNS yang disangka atau
didakwa melakukan perbuatan pidana dan yang telah nyata-nyata terbukti
secara sah melakukan pelanggaran hukum, baik pidana khusus maupun pidana
umum. Dua kategori pelanggaran hokum ini, di kabupaten Nganjuk beberapa
tahun terakhir memang marak terjadi, Mereka yang terlibat mulai unsur staf
hingga pejabat struktural sampai eselon II. Realitas ini sungguh memprihatinkan,
karena sebagai pamong para abdi Negara ini seharusnya bisa menjadi teladan
bagi warga masyarakat yang lain. Jika kemudian mereka justru berbuat yang
tidak baik, maka fungsi dan peran sebagai pamong yang pada kehidupan
sehari-hari menjadi figure yang ditokohkan bagi masyarakat sekitarnya, malah
dipertanyakan.

Sehingga tidak berlebihan pembentuk UU memberi perhatian khusus kepada


PNS manakala yang bersangkutan terlibat dalam perkara pidana. Pada para PNS
berlaku lex specialis (hukum yang khusus/ spesifik), menunjukkan betapa
penting dan strategisnya mereka dalam ikut menjalankan roda pemerintahan di
negeri ini. Beberapa norma yang relevan untuk ditelaah, diantaranya :
A. PNS YANG DISANGKA ATAU DIDAKWA MELAKUKAN TINDAK PIDANA
KEJAHATAN

Pasal 24 UU no. 8 tahun 1974 menyatakan : PNS yang dikenakan tahanan


sementara oleh pejabat yang berwajib karena disangka telah melakukan sesuatu
tindak pidana kejahatan, dikenakan pemberhentian sementara.

Ada beberapa catatan penting dari rumusan pasal 24 UU no. 8 tahun 1974
diatas, antara lain :

1. Ketentuan ini berlaku bagi PNS yang terkena tahanan sementara, tidak
melihat jenis tahanan dan lamanya penahanan.

2. Tidak ada syarat jenis tindak pidana kejahatan yang dilakukan, apakah tindak
pidana umum atau tindak pidana khusus.

3. Tidak ada syarat ancaman hukumannya.

Dengan mengabaikan beberapa syarat diatas, PNS yang sedang menjalani


tahanan sementara maka yang bersangkutan harus diberhentikan
sementara dari statusnya sebagai PNS. Hal ini berarti dia tidak boleh
menjalankan segala aktivitas sebagaimana dilakukan sebelumnya, misalnya
masuk kerja, menandatangani surat dinas, melakukan perjalanan dinas, dll.

Pertanyaan kritis yang perlu disampaikan :

1. Apakah yang dimaksudkan dengan tahanan sementara pada ketentuan


tersebut. Dalam penjelasan disebutkan, cukup jelas. Pada tataran
implementasi hal ini sering menimbulkan multitafsir, apakah yang dimaksudkan
adalah tahanan badan, ataukah juga termasuk jenis tahanan yang lain, misalnya
tahanan kota, dll.

2. Bagaimana jika PPK tidak menjalankan perintah UU atau tetap tidak


memberhentikan sementara PNS tersebut ?

3. Apa sanksi bagi PPK yang melakukan pembiaran atau tidak melaksanakan
kewajiban hukumnya ?

4. Pemberhentian sementara mengandung dampak terhadap terhentinya segala


penerimaan tunjangan jabatan (tunjangan structural) yang diterima selama
masa menjalani pemberhentian yang bersifat permanen. Jika PNS tersebut
memangku jabatan structural, sementara mereka masih menerima tunjangan
jabatan setiap bulan, padahal seharusnya menurut UU harus diberhentikan
sementara, siapa yang bertanggung-jawab ? PNS yang bersangkutan ataukah
PPK yang telah mengabaikan perintah UU tersebut ?

5. Apakah penerimaan tunjangan jabatan seperti tersebut diatas bukan kategori


tindak pidana korupsi ?

B. PNS YANG NYATA-NYATA TERBUKTI SECARA SAH MELAKUKAN TINDAK


PIDANA KEJAHATAN

Pasal 23 ayat (3) UU no. 8 tahun 1974 menyatakan : Pegawai Negeri Sipil dapat
diberhentikan tidak dengan hormat, karena :

a. Melanggar sumpah/ janji PNS, sumpah/ janji Jabatan Negeri atau Peraturan
Disiplin PNS.

b. Dihukum penjara, berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah mempunyai


kekuatan hukum yang tetap karena dengan sengaja melakukan sesuatu tindak
pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara setinggi-tingginya 4
(empat) tahun atau diancam dengan hukuman yang lebih berat.

Pasal 23 ayat (4) UU no. 8 tahun 1974 menyatakan : PNS diberhentikan


tidak dengan hormat, karena :

a. Dihukum penjara atau kurungan, berdasarkan keputusan pengadilan yang


sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukan sesuatu tindak
pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya
dengan jabatan.

b. Ternyata melakukan penyelewengan terhadap ideologi Negara Pancasila,


UUD 1945, atau terlibat dalam kegiatan yang menentang Negara dan/ atau
Pemerintah.

Mencermati ketentuan pasal 23 ayat (3), sanksi kepegawaian yang diberlakukan


bersifat fakultatif (bukan keharusan). Hal ini tercermin dari frasa dapat
diberhentikan, artinya seorang PNS meskipun telah terbukti secara hukum
melanggar ketentuan pasal 23 ayat (3) huruf b, dia tidak harus dipecat dari
statusnya sebagai PNS. Pejabat yang berwenang dengan pertimbangan-
pertimbangan tertentu bisa memberikan sanksi maksimal berupa
pemberhentian/ pemecatan atau sebaliknya cukup menjatuhkan sanksi
administrasi saja. Sanksi administrasi bisa berupa penurunan pangkat,
pencopotan jabatan, penundaan kenaikan pangkat, dll. Pejabat yang berwenang
dalam hal ini adalah Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) atau bupati (untuk
wilayah kabupaten) -- oleh UU diberikan pilihan (alternative) dalam mengambil
keputusan. Tentu saja pertimbangan yang disampaikan harus obyektif dan
transparan. Kriteria pertimbangan yang obyektif inilah yag sering
dipersoalkan dalam praktek. Karena pertimbangan obyektif ini sering
dimaknai juga subyektifitas seorang PPK.

Hal ini berbeda dengan ketentuan pasal 23 ayat (4), ada beberapa catatan
penting dari ketentuan ini, diantaranya : pertama, normanya bersifat imperative
(keharusan). Maknanya seorang PNS yang secara hukum telah melanggar
ketentuan pasal 23 ayat (4) huruf a, maka demi hukum dia harus
diberhentikan/ dipecat status kepegawaiaannya sebagai PNS. Ketentuan pasal
23 ayat (4) oleh pembentuk UU sengaja tidak dipersamakan dengan ayat (3)
meskipun substansi permasalahan pokoknya tidak berbeda yakni terkait sanksi
berupa pemberhentian statusnya sebagai PNS. Yang membedakan kedua ayat ini
adalah bobot perkaranya. Pada ayat (3) mengatur adanya pelanggaran tindak
pidana umum, sementara pada ayat (4) untuk kategori tidak pidana kejahatan
jabatan atau tindak pidana yang ada hubungannya dengan jabatan. Tindak
pidana ini memang bersifat khusus, hanya diterapkan terhadap suatu perbuatan
melanggar hukum dengan cara memanfaatkan kedudukan/ kewenangannya
sebagai PNS. Dengan kedudukan/ kewenangan yang melekat pada jabatan yang
diemban pelaku dengan sengaja menyalahgunakannya. Perbuatan mana bisa
menimbulkan kerugian negara seperti tindak pidana korupsi (tipikor). Pembentuk
UU memberikan perhatian khusus karena tipikor merupakan kejahatan luar biasa
(extra ordinary crime), yang akan berdampak serius tidak hanya merugikan
perseorangan, tetapi masyarakat atau negara. Sebab itu untuk kejahatan luar
biasa sudah sewajarnya diberikan sanksi yang lebih berat dari kejahatan pada
tindak pidana umum.

Kedua, untuk kejahatan jabatan atau tindak pidana yang berhubungan dengan
jabatan, UU Pokok Kepegawaian tidak mensyaratkan adanya batas minimal
ancaman atau batas minimal hukuman penjara atau kurungan (penjatuhan
sanksi pidana). Berapapun ancaman hukuman ataupun hukumannya (penjatuhan
sanksi pidana penjara), jika dinyatakan bersalah dengan putusan pengadilan
yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap maka ketentuan pasal 23 ayat (4)
sudah harus/ wajib diterapkan. Penerapan sanksi yang cukup berat (maksimal)
ini menunjukkan betapa concern-nya para pembentuk UU untuk membentengi
PNS agar tidak melakukan tindakan a-moral dengan menyalahgunakan jabatan
yang dipercayakan oleh negara kepada dirinya. PNS sebagai abdi Negara dan
abdi masyarakat idealnya hanya layak diduduki oleh orang yang memiliki
moralitas dan integritas tinggi, tidak tercela dan bisa menjadi teladan bagi
masyarakat.

Ketiga, pemberian sanksi pemberhentian tidak dengan hormat secara moral


dan ekonomis diformulasikan akan mampu memberikan efek jera dan sangat
menakutkan bagi PNS. Karena konskuensinya mereka akan mengalami cacat di
mata masyarakat dan hak pensiun menjadi hilang. Sesuatu yang sangat diimpi-
impikan oleh semua PNS. Namun dalam realitasnya, apakah adanya ancaman
yang keras bisa menjadi pengendali para PNS tidak berani atau takut melakukan
tindak pidana korupsi ? Tentu ini memerlukan kajian yang lebih mendalam lagi.
Pada UU ASN juga mengatur secara jelas dan tegas perihal sanksi kepegawaian
bagi PNS yang telah terbukti melakukan kejahatan jenis tindak pidana umum.
Pasal 87 ayat (2) UU ASN menyatakan : PNS dapat diberhentikan dengan
hormat atau tidak diberhentikan karena dihukum penjara berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak
pidana dengan hukuman pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan pidana
yang dilakukan tidak berencana.

Substansi ketentuan pasal 87 ayat (2) UU ASN tidak jauh berbeda dengan pasal
23 ayat (3) UU no. 8 tahun 1974, bersifat fakultatif. Ada 2 (dua) catatan penting
jika kita menyimak bunyi teks pasal 87 ayat (2) UU ASN, yaitu :

Pertama, meskipun seorang PNS yang divonis bersalah oleh pengadilan dan
mempunyai kekuatan hukum tetap dengan hukuman pidana penjara lebih dari 2
(dua) tahun, mereka tidak serta merta/ secara otomatis harus memperoleh
sanksi pemberhentian dengan hormat. Karena pemberian sanksi
kepegawaiannya tergantung pertimbangan PPK. Mencermati frasa : dapat
diberhentikan dengan hormat atau tidak diberhentikan, berarti ada
alternative (pilihan) bagi PPK untuk mengambil keputusan. Berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan yang obyektif PPK bisa memberhentikan dengan
hormat atau sebaliknya tidak memberhentikannya. Sementara norma pada UU
no. 8 tahun 1974 lebih halus, hanya menyebut kata dapat. Sesungguhnya
maknanya tidak berbeda dengan frasa didalam pasal 87 ayat (2) UU ASN.
Sehingga meskipun seorang PNS telah dijatuhi pidana penjara lebih dari 2 (dua)
tahun dan sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap maka dia bisa jadi
karena pertimbangan tertentu dari PPK tidak menerima sanksi kepegawaian
berupa pemberhentian dirinya dari status sebagai PNS.

Kedua, ketentuan dua UU ini, hanya berlaku untuk pelanggaran tindak pidana
umum. Pembuat UU tampaknya sengaja membuat garis pemisah dalam konteks
sanksi kepegawaian terhadap pelanggaran tindak pidana umum dengan tindak
pidana khusus (penyalahgunaan jabatan).

Pasal 87 ayat (4) UU ASN menyatakan : PNS diberhentikan dengan tidak hormat,
karena :

a. Melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUD RI 1945.

b. Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah


memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan
jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan
dan/ atau tindak pidana umum.

c. Menjadi anggota dan/ atau pengurus partai politik.

d. Dihukum penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki


kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dengan pidana penjara
paling singkat 2 (dua) tahun dan pidana yang dilakukan dengan berencana.
Menurut ketentuan pasal 87 ayat (4) UU ASN yang terkait dengan sanksi
kepegawaian bagi PNS yang terkena perkara pidana, ada 2 (dua) norma yakni
pada huruf b dan d. Pada huruf b, sama dengan ketentuan pasal 23 ayat (4)
huruf a, tafsir normanya sudah diuraikan pada alinea diatas. Sementara pada
huruf d, berlaku untuk kejahatan tindak pidana umum dengan prasyarat
pidananya minimal 2 (dua) tahun dan kategori tindak pidana yang direncanakan.
Soal ancaman hukuman tidak menjadi persoalan. Misalkan, PNS yang di divonis
pengadilan 1 (satu) tahun penjara karena terbukti melakukan penganiayaan
ringan, maka PNS ybs tidak bisa diberhentikan karena melanggar pasal 87 ayat
(4) huruf d. Ini dikarenakan vonisnya kurang dari 2 (dua) tahun dan perbuatan
tersebut tidak direncanakan terlebih dahulu. Meskipun pasal 351 ayat (1)
KUHPidana memberikan ancaman hukuman 3 (tiga) tahun penjara.

Pada tataran implementasi, apakah semua ketentuan normative tersebut diatas


benar-benar dilaksanakan di bumi Anjuk Ladang ? Menjawab pertanyaan ini,
tentu sangat memerlukan pencermatan yang mendalam. Meskipun
sesungguhnya secara kasat mata sudah bisa kita nilai, apa dan bagaimana yang
tengah terjadi.

Memang bicara yang seharusnya (das sollen) seringkali tidak seindah dengan
yang senyatanya (das sein). Bisa jadi ada terbentang jarak yang sangat jauh.
Bahkan ada ditemukan, das sollen bertentangan dengan das sein. Jika ini yang
terjadi, kekuasaan menjadi lebih dominan dari hukum. Inilah barangkali
gambaran yang bisa kita lihat, kita amati dan kita rasakan selama ini. Meskipun
hanya sedikit yang peduli membicarakan dan ikut mencarikan solusi. Tentu tugas
semua pihak untuk lebih mendekatkan antara das sollen dengan das sein, lebih-
lebih di wilayah yang kita cintai, negeri Anjuk Ladang.

PNS YANG TERBUKTI DAN SUDAH MEMPUNYAI KEKUATAN HUKUM TETAP TAPI PNS
INI HANYA KORBAN BELAKA, APA TIDAK TOLERANSI DARI PENGABDIANNYA.....??,
BALAS

Balas

Balasan

1.

ras yied7 Maret 2016 22.54

Pengabdian apa yg menjadi tolak ukur kalo masih melakukan tindakan yg


bersifat korup....

Balas
2.

PURNAWAN -1 Agustus 2016 17.13

Jika terbukti bersalah dengan vonis 1 ahun dan sudah memiliki kekuatan hukum
tetap untuk seorang guru yang melakukan tindak kekerasan terhadap anak,
kira2 gimana posisi PNS nya?

Balas

3.

cons djara10 September 2016 14.04

Menurut saya Undang-Undang ASN baru ditetapkan pada tahun 2014 sehingga
kasus yang lama tidak dapat diakomidir dgn UU ini, dia boleh dijerat dgn UU
nomor 8 Tahun 1974 dan UU nomor 43 Tahun 1999 tentang Kepegawaian jika
hukuman empat tahun maka dia diberhentikan namun jika dibawah 2 Tahun
dapat dikatakan kurang tepat kalau dia diberhentikan

Balas

4.

cons djara11 September 2016 08.55

Bagaimana perlakuan terhadap PNS terhadap PNS yang hanya dua tahun saja
hukumannya dan dia sudah menjalani hukuman itu, apakah dia tidak
berhentikan atau diberhentikan dari PNS, eksesnya sebelum UU SN

Balas

5.

nesa30 September 2016 23.15

pacar saya seorang PNS di Sumbar dan sedang proses mutasi ke Jateng. saat di
perjalanan menuju ke Jateng, dia terkena musibah karena sopir yang
mengantarnya membawa narkoba. sehingga pacar saya ikut terseret ke penjara
dan mendapat hukuman 1 th, padahal pacar saya tidak tahu menahu tentang
sopir itu karena baru kenal, dan pacar saya dinyatakan negatif narkoba.
Bagaimana posisinya nanti setelah dinyatakan bebas? dan bagaimana proses
selanjutnya agar bisa dapat kembali bekerja? mohon penjelasannya

Balas

6.
nesa30 September 2016 23.15

pacar saya seorang PNS di Sumbar dan sedang proses mutasi ke Jateng. saat di
perjalanan menuju ke Jateng, dia terkena musibah karena sopir yang
mengantarnya membawa narkoba. sehingga pacar saya ikut terseret ke penjara
dan mendapat hukuman 1 th, padahal pacar saya tidak tahu menahu tentang
sopir itu karena baru kenal, dan pacar saya dinyatakan negatif narkoba.
Bagaimana posisinya nanti setelah dinyatakan bebas? dan bagaimana proses
selanjutnya agar bisa dapat kembali bekerja? mohon penjelasannya

Balas

7.

Ang Lamusu30 Oktober 2016 06.27

Pembahasan diatas sangat menarik,,menurut saya pemberhentian seorang PNS


itu harus dilakukan dengan cara memahami apa bentuk latar belakang sampai
PNS itu membuat suatu tindak kejahatan,,,kalau memang dalam kenyataan PNS
terbukti melakukan tindak pidana yang hukumanya 2 tahun atau lebih sesuai
dengn amanat dari UU No.5 ASN thn 2014, harus di berhentikan, saya
berpendapat bahwa proses pemberhentian bisa saja tapi harus sesuai dengan
koridor administrasi kepegawaian yaitu proses pemeriksaan kembali (BAP) lagi,,
dan salinan putusan pengadilan sebagai administrasi pendukung sehingga
pertimbangan PPK untuk mengambil kebijakan akan terarah.. Tks

Setelah Dipenjara, Mestikah Dipecat?


Selasa, 21 Februari 2012

Hukum tidak memandang bulu, siapa yang berbulu lebat maupun yang tak
berbulu sekalipun dipandang sama di mata hukum. Tapi tentunya bukan itu
makna sejatinya. Siapa pun yang bersalah akan dikenai hukuman. Tak terkecuali
PNS. Meskipun ia sebagai aparatur pemerintah atau abdi negara, jika ia
melanggar hukum bisa dikenai pidana. Maka jangan heran jika di penjara-penjara
bercokol para PNS menjalani masa hukuman. Kasusnya pun bermacam-macam,
mulai dari kekerasan rumah tangga, pencurian, perjudian, narkoba, hingga
korupsi.

Bagaimana status PNS yang menjalani hukuman pidana? Mestikah ia menjalani


hukuman lagi di tingkat internal pemerintahan? Iya. Memang ada aturannya.

Pasal 23 ayat 5 UU 43/1999 menjelaskan bahwa PNS yang dihukum penjara atau
kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau
tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan, maka ia
diberhentikan tidak dengan hormat alias dipecat.

Pasal 9 PP 32/1979 menjelaskan pula bahwa PNS diberhentikan tidak dengan


hormat apabila dipidana penjara atau kurungan berdasarkan keputusan
Pengadilan yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap, karena:
a. melakukan suatu tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana
kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan; atau
b. melakukan suatu tindak pidana kejahatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
104 sampai dengan Pasal 161 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Ketentuan di atas bersifat mutlak, artinya jika PNS yang bersangkutan terbukti
bersalah maka harus diberhentikan tidak dengan hormat. Konsekuensi dari
diberhentikan tidak dengan hormat ini di antaranya adalah tidak berhak
menerima pensiun. Kejahatan dalam jabatan contohnya adalah perbuatan
korupsi.

Bagaimana dengan tindak pidana selain kejahatan dalam jabatan? Bagaimana


status PNS yang melakukannya dan itu telah dibuktikan dengan putusan
pengadilan? UU 43/1999 maupun PP 32/1979 pun memberikan jawabannya,
namun sifatnya relatif. Yakni dapat diberhentikan atau tidak diberhentikan.
Kalaupun diberhentikan pun juga ada pilihan, yaitu dengan hormat tidak atas
permintaan sendiri atau tidak dengan hormat.

Kalau tidak diberhentikan berarti ia masih menikmati status sebagai PNS. Kalau
diberhentikan dengan hormat (walau tidak atas permintaan sendiri) ia masih
mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pensiun sepanjang memenuhi
persyaratan usia dan masa kerja. Penentuan diberhentikan atau tidak dan
diberhentian dengan hormat atau tidak dengan hormat ini menjadi kewenangan
Pejabat Pembina Kepegawaian, yang kalau di daerah dipegang oleh Gubernur,
Bupati, atau Walikota.

Adakah proses lain bagi PNS yang terbukti melakukan tindak pidana selain
kejahatan dalam jabatan? Ada, yakni dengan proses hukuman disiplin. Dasarnya
adalah PP 53/2010. Dengan mendasar peraturan ini PNS yang bersangkutan
dianggap indisipliner misalnya karena menyalahgunakan wewenang, bertindak
sewenang-wenang, atau tidak menaati peraturan perundang-undangan. PP
53/2010 memang tidak secara spesifik mengatur PNS yang terlibat tindak
pidana, namun dengan alasan indisipliner ia pun bisa kena sanksi. Bentuk
sanksinya bertingkat mulai dari tingkat ringan, sedang, hingga berat.
Yang memberikan sanksi pun tidak dibatasi hanya Pejabat Pembina
Kepegawaian, namun bisa atasan langsung atau pejabat lain yang berwenang.

Ditayangkan oleh wurianto saksomo di 21.46.00


Reaks
i:

Label: kepegawaian

17 komentar:

Anonim mengatakan...

Bos, mo nanya nich... hampir seluruh PNS beranggapan kl PNS telah dihukum
penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang sdh memiliki kekuatan hukum
tetap krn .... diancam dgn pidana 4 th atau lebih.. (Pasal 8 PP32/1979)pasti
dipecat...., jd mengabaikan lama hukuman, spt 3 bln aja dipecat... Gmn mnrt
pendapat BOS dlm hal ini, yg dilihat ancamannya atau hukumannya? Bila
ancaman hukumannya 10 tahun tapi dipenjara hanya 3 bulan mestikah dipecat?

14 Mei 2012 12.15

Anonim mengatakan...

halo BOS...

14 Mei 2012 13.34

Anonim mengatakan...

Bro, kalau dipenjara selama 3 bulan krn melakukan tindak pidana dgn ancaman
hukuman 10 tahun apa mesti harus dipecat?

14 Mei 2012 13.42

Anonim mengatakan...

Bos, kalo dipenjara selama 3(tiga) bulan karena dgn sengaja melakukan tindak
pidana dengan ancaman hukuman 10 (sepuluh) tahun, apakah mesti harus
dipecat?

14 Mei 2012 13.50


wurianto saksomo mengatakan...

kl melakukan tindak pidana kejahatan jabatan maka sifatnya mutlak yakni


dipecat (tdk dg hormat). tp kl bukan tindak kejahatan jabatan sifatnya relatif. yg
dilihat ancamannya (minimal 4th), bukan vonis/putusannya. krn relatif, maka ia
dpt diberhntikan atau tdk. kalaupun diberhentikan pun bs dg hormat atau tdk dg
hormat. tergantung hasil pemeriksaan, misalnya latar belakang ia melakukan
tindak pidana, dll.

14 Mei 2012 17.30

Anonim mengatakan...

Bro, kalo melihat UU 43/1999 kan dinyatakan kalo ancaman tindak pidana yg
dilakukan > 4 th maka pasti diberhentikan, sedangkan aspek lainnya hanya
untuk pertimbangan diberhentikan dgn hornat atau tdk dengan hormat...
Sedangkan dlm penjelasan Pasal 8 PP 32/1979, masih ada kemungkinan tdk
diberhentikan dgn mempertimbangkan latar belakang dan juga vonis
hukumannya... Jadi kayaknya kurang fair krn kl pejabat bisa tdk diberhentikan
bila dihukum percobaan saja yg tentunya lewat lobi2 ke lembaga peradilan...
mohon komentarnya Bro...

29 Mei 2012 12.11

wurianto saksomo mengatakan...

1. bs jd tdk diberhentikan namun msh terbuka peluang hukuman lain yakni dg pp


53/2010
2. utk lobi2 ke (oknum) lembaga peradilan, itu sdh di luar ranah eksekutif

menarik jg, ok deh kapan2 akan kutulis artikel lagi.

29 Mei 2012 14.54

Anonim mengatakan...

Iya Bro.. Kita tunggu artikel lain seputar pemberhentian PNS karena menarik...
Sepengetahuanku kalo PNS sudah divonis pengadilan yang sudah berkekuatan
hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang ancamannya >4th maka
harus diproses dgn PP 32/1079 jo. UU 43/1999 bukan PP 53/2010... Dalam pasal
8 ayat (1) PP 32/1979 itu juga PNS dpt diberhentikan karena melanggar
sumpah/janji PNS atau jabatan dan peraturan disiplin PNS... Apakah yg dimaksud
peraturan disiplin PNS itu PP 53/2010?

30 Mei 2012 10.58

nomor 81 mengatakan...

informasi yang menarik..:) terima kasih

22 Juni 2012 13.26

Anonim mengatakan...

Menarik juga artikel ini....


Saya juga menambahkan sedikit. PP32/79 hanya mengatur pemberhentian PNS
sedangkan PP53/2010 Disiplin PNS.
Pemberhentian PNS karena tindakan penyelewengan/indisipliner yang sudah
memenuhi kriteria dalam ketentuan PP32/79 maka Keputusan Pemberhentiannya
tidak dapat diajukan banding administratif.

Jika pemberhentian tersebut hanya bisa diproses melalui PP53/2010 maka masih
memungkinkan adanya proses banding/keberatan.

Yang menarik dari PP53/2010 adalah jika seorang pejabat tidak memberikan
sanksi hukuman disiplin kepada PNS yang melakukan tindakan indisipliner, maka
pejabat tersebut dijatuhi hukuman disiplin yang sama dengan PNS yang
melakukan tindakan indisipliner tsb.
Ini kontrol yang bagus, dan semoga bagus juga pelaksanaannya.

CMIIW...

9 Januari 2013 09.26

Anonim mengatakan...

Pak, mau tanya..apabila seorang PNS dipidana karena melakukan pelanggaran


terhadap salah satu pasal (pasal 156 KUHP) dan hukuman pidana yang harus
dijalani adalah 1 tahun 4 bulan, apakah PNS itu dapat dipecat? Jika dilihat dari
segi keahlian, bahwa keahliannya sangat dibutuhkan oleh insansi, maka apakah
itu bisa dijadikan bahan pertimbangan agar dia tidak dipecat?

30 Januari 2013 07.22


wurianto saksomo mengatakan...

berdsr ps 8 pp32/1979 pidana tsb DAPAT diberhentikan. namun dalam


penjelasan pasal, perlu dipertimbangkan pula faktor2 yg mendorong PNS ybs
melakukan tindak pidana dan berat ringannya putusan pengadilan, sehingga
pemberhentiannya bisa dg hormat atau tidak dg hormat, atau malah tidak
diberhentikan.

9 Februari 2013 10.11

ayik jegeg mengatakan...

pak mau tanya, jika ada PNS yang melanggar pasal dan di pidana selama kurang
dari 6 bulan, misalnya 4 bulan, apakah akan di pecat dari status PNSnya? terima
kasih

18 Agustus 2013 18.51

Anonim mengatakan...

Pak Kalau seorang PNS tingkat pertama sampai tingkat Banding sudah divonis 3
tahun dan saat ini sedang tingkat Kasasi, karenan belum mempunyai kekuatan
hukum yang tetap maka PNS tersebut bisa mengajukan pensiun dini? atau
diberhentikan dengan hormat sepanjang putusan Kasasi belum terbit.

26 Agustus 2013 06.50

Anonim mengatakan...

Saat ini banyak PNS yg menjadi korban uu korupsi dgn pasal MEMPERKAYA
ORANG LAIN, alias PNS tsb terbukti tidak melakukan tindakan koruptif , alias
tidak terima suap1 sen pun, tp krn akibat perbuatan pihak ketiga( misal proyek
tidak selesai krn kontraktornya yg korup), PNS tsb di bui 1 thn 8 bln, apakah adil
pns tsb dipecat karena perbuatan orang lain?

26 Juni 2015 18.22

Anonim mengatakan...
Kalau PNS nya sudah terbukti bersalah dan mendapat hukuman 4 tahun penjara.
Apakah akan dipecat ?

3 Oktober 2015 20.19

Anonim mengatakan...

PNS yang kena sanksi dihentikan tidak dengan hormat karena ancaman dalam
KUHP 20 tahun padahal PNS tersebut sewaktu diperiksa Bawasda tidak terbukti
dan dalam putusan Pengadilan Tinggi PNS tersebut dinyatakan tidak melakukan
tindakan pidana tapi perdata tapi ditingkat Kasasi dinyatakan terbukti sehingga
putusan MA tidak sesuai dengan fakta yang relefan sehingga PNS tetap
menjalani sanksi dari MA dan dihentikan pula dari PNS, apa PNS tersebut masih
bisa mengajukan / permohonan untuk bisa aktif lagi kembali sebagai PNS karena
sampai saat ini PNS tersebut merasa putusan MA dan Bapek tidak, kerena PNS
tersebut hanya merupakan korban orang yang tidak bertanggung jawab.... !!

30 Januari 2016 23.57

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentarnya