Anda di halaman 1dari 21

TEHNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI NASAL DENGAN

INDIKASI FRAKTUR NASAL

DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD JOMBANG

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Teknik Radiografi Dasar III

Nama : MURNI MARDIATUS S.

NIM : 1211041029

PROGRAM STUDI DIII RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN WIDYA CIPTA HUSADA
MALANG
2013

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus ini telah diterima , diperiksa dan disetujui untuk memenuhi tugas mata
kuliah Teknik Radiografi Dasar III atas mahasiswa radiodiagnostik dan radioterapi yang bernama
:
Nama : Murni Mardiatus S.
NIM : 1211041029

Dengan judul laporan TEHNIK RADIOGRAFI NASAL DENGAN INDIKASI


FRAKTUR NASAL di Instalasi Radiologi RSUD JOMBANG

Jombang , desember 2013

Mengetahui,

Pembimbing Instansi Pembimbing Lapangan


( STIKes WIDYA CIPTA HUSADA ) ( CI RSUD JOMBANG )

Farida Wahyuni M,Si Firman Hananto, SST

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT , karena atas segala
berkah dan rahmat-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan kasus
berjudul Tehnik Radiografi Nasal Dengan Indikasi Fraktur Nasal di Instalasi Radiologi
RSUD JOMBANG guna memenuhi tugas mata kuliah Teknik Radiografi Dasar III Program
Studi Diploma III Jurusan Radiodignostik dan Radioterapi STIKes Widya Cipta Husada .
Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Direktur Rumah Sakit RSUD Jombang yang telah bersedia memberikan lahan praktek
2. Pak Rony Prisyanto, SST selaku Ka Prodi Radiologi STIKes Widya Cipta Husada
3. Dr. Dendy Muhono, Sp.Rad selaku kepala instalasi radiologi di RSUD Jombang
4. Pak Firman Hananto, SST selaku CI di Instalasi radiologi RSUD jombang
5. Pak Agus Sulis, SST selaku pembimbing institusi
6. Seluruh Staf dan pegawai di instalasi radiologi RSUD Jombang
7. Seluruh staf dan dosen di STIKes Widya Cipta Husada
8. Ayah , mama dan adikku tercinta dirumah atas doa dan dukungannya selama ini

2
9. Teman teman angkatan IV jurusan radiodiagnostik dan radioterapi STIKes Widya Cipta
Husada
10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan kasus ini

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan kasus
ini , untuk itu penulis mohon saran demi kesempurnaan laporan kasus ini . Semoga laporan
kasus ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis sendiri pada khususnya .

Jombang , Desember 2013

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................................i

HALAMAN PENGESAHAN......................................................................................2

KATA PENGANTAR ..................................................................................................3

DAFTAR ISI.................................................................................................................4

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................5

Latar Belakang Masalah...............................................................................................5

Rumusan masalah.........................................................................................................5

Tujuan Penulisan..........................................................................................................5

Manfaat Penulisan .......................................................................................................6

BAB II DASAR TEORI...............................................................................................7

Anatomi dan fisiologi Nasal.........................................................................................7

Pengertian Fraktur Nasal..............................................................................................11

Patofisiologi Dan Etiologi Fraktur Nasal.....................................................................13

Tehnik Pemeriksaan Radiografi Nasal.........................................................................14

BAB III PAPARAN KASUS DAN PEMBAHASAN..................................................18

BAB IV PENUTUP......................................................................................................20

Kesimpulan...................................................................................................................20

Saran.............................................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................21

LAMPIRAN.................................................................................................................22

4
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Memang di negara ini , kasus kecelakaan lalu-lintas sangat tinggi. Kecelakaan lalu - lintas
merupakan pembunuh nomor tiga di Indonesia, setelah penyakit jantung dan stroke. Trauma yang
terjadi kecelakaan lalu-lintas memiliki banyak bentuk, tergantung dari organ apa yang
dikenai. Trauma semacam ini, secara lazim, disebut sebagai trauma benda tumpul. Ada tiga
trauma yang paling sering terjadi dalam peristiwa ini, yaitu trauma kepala, fraktur (patah
tulang), dan trauma dada.
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang
umumnya disebabkan oleh tekanan dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi
jika tulang dikenai stress yang lebih besar daripada yang diabsorpsinya. Fraktur nasal
adalah jenis trauma wajah yang paling sering terjadi. Posisinya yang berada di tengah dan
proyeksi anterior pada wajah menjadi faktor predisposisi terjadinya trauma. Fraktur nasal
disebabkan oleh trauma dengan kecepatan rendah. Fraktur nasal yang disebabkan oleh
kecepatan yang tinggi bisa menyebabkan fraktur wajah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis mengangkat rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana Prosedur pemeriksaan radiologi os nasal di instalasi radiologi
RSUD Jombang ?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan Pembuatan Laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah praktek kerja lapangan I di instalasi radiologi
RSUD Jombang
2. Penulis ingin menjelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan radiologi nasal dengan
indikasi fraktur nasal yang dilakukan di RSUD Jombang .

D. Manfaat Penulisan
Untuk menambah pengetahuan penulis dan pembaca tetang tehnik pemeriksaan nasal
khususnya dengan penyakit fraktur nasal

E. Sistematika Penulisan

5
BAB I PENDAHULUAN
Berisi latar belakang , rumusan masalah , tujuan penulisan , manfaat penulisan
dan sistematika penulisan .
BAB II DASAR TEORI

Berisi landasan teori

BAB III PAPARAN KASUS DAN PEMBAHASAN

Berisi tentang profil kasus dan data data pasien serta berisi pembahasan
pemeriksaan pada thorax

BAB IV PENUTUP

Berisi kesimpulan dan saran

DAFTAR PUSTAKA

6
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Anatomi Dan Fisiologi Nasal


Hidung merupakan organ penting yang seharusnya mendapat perhatian lebih
dari biasanya dan hidung merupakan salah satu organ pelindung tubuh terhadap
lingkungan yang tidak menguntungkan. Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung
dalam. Hidung luar menonjol pada garis tengah diantara pipi dengan bibir atas,
struktur hidung luar dapat dibedakan atas tiga bagian yaitu: paling atas kubah tulang
yang tak dapat digerakkan, dibawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat
digerakkan dan yang paling bawah adalah lobolus hidung yang mudah digerakkan
(Ballenger,1994; Hilger, 1997; Mangunkusomo,2001; Levine,2005) Bagian puncak
hidung biasanya disebut apeks. Agak keatas dan belakang dari apeks disebut batang
hidung (dorsum nasi), yang berlanjut sampai kepangkal hidung dan menyatu dengan
dahi. Yang disebut kolumela membranosa mulai dari apeks, yaitu diposterior bagian
tengah pinggir dan terletak sebelah distal dari kartilago septum. Titik pertemuan
kolumela dengan bibir atas dikenal sebagai dasar hidung. Bagian bibir atas
membentuk cekungan dangkal memanjang dari atas kebawah yang disebut filtrum.
Sebelah menyebelah kolumela adalah nares anterior atau nostril (Lubang
hidung)kanan dan kiri, sebelah latero-superior dibatasi oleh ala nasi dan sebelah
inferior oleh dasar hidung(Ballenger, 1994 ; Hilger, 1997) .
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi
oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung. Bahagian hidung dalam terdiri atas struktur yang
membentang dari os internum disebelah anterior hingga koana di posterior, yang
memisahkan rongga hidung dari nasofaring. Rongga hidung atau kavum nasi
berbentuk terowongan dari depan kebelakang, dipisahkan oleh septum nasi dibagian
tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi
bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior
(koana)yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring (Maran,1990; Ballenger,
1994 ; Hilger, 1997) Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai ala nasi, tepat
dibelakang nares anterior, disebut dengan vestibulum.Vestibulum ini dilapisi oleh
7
kulit yang banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut dengan
vibrise (Maran,1990; Ballenger,1994;Mangunkusumo,2001)
Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding yaitu dinding medial, lateral,
inferior dan superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum nasi ini
dibentuk oleh tulang dan tulang rawan, dinding lateral terdapat konkha superior,
konkha media dan konkha inferior. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah
konkha inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, yang lebih kecil lagi
konka superior, sedangkan yang terkecil ialah konka suprema dan konka suprema
biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada
os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema
merupakan bagian dari labirin etmoid. Celah antara konka inferior dengan dasar
hidung dinamakan meatus inferior, berikutnya celah antara konkha media dan inferior
disebut meatus media dan sebelah atas konkha media disebut meatus superior
( Ballenger, 1994 ; Hilger, 1997)
Meatus medius merupakan salah satu celah yang penting dan merupakan celah
yang lebih luas dibandingkan dengan meatus superior. Disini terdapat muara dari
sinus maksilla, sinus frontal dan bahagian anterior sinus etmoid. Dibalik bagian
anterior konka media yang letaknya menggantung, pada dinding lateral terdapat celah
yang berbentuk bulat sabit yang dikenal sebagai infundibulum. Ada suatu muara atau
fisura yang berbentuk bulan sabit menghubungkan meatus medius dengan
infundibulum yang dinamakan hiatus semilunaris. Dinding inferior dan medial
infundibulum membentuk tonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai
prosesus unsinatus (Ballenger, 1994).
Di bagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas
sinus maksilla, etmoid, frontalis dan sphenoid. Dan sinus maksilla merupakan sinus
paranasal terbesar diantara lainnya, yang berbentuk pyramid iregular dengan dasarnya
menghadap ke fossa nasalis dan puncaknya kearah apek prosesus zigomatikus os
maksilla ( Ballenger, 1994 ; Hilger, 1997).

8
Perdarahan hidung
Secara garis besar perdarahan hidung berasal dari 3 sumber utama yaitu:
1. Arteri Etmoidalis anterior
2. Arteri Etmoidalis posterior cabang dari arteri oftalmika
3. Arteri Sfenopalatina, cabang terminal arteri maksilaris interna yang berasal dari
arteri karotis eksterna.

Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang arteri


maksilaris interna, diantaranya ialah ujung arteri palatina mayor dan arteri
sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama nervus sfenopalatina
dan memasuki rongga hidung dibelakang ujung posterior konka media. Bagian depan
hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri fasialis(Ballenger, 1994;
Hilger, 1997). Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang
arteri sfenopalatina, arteri etmoid anterior, arteri labialis superior dan arteri palatina
mayor, yang disebut pleksus kieesselbach . Pleksus Kiesselbach letaknya superfisialis
dan mudah cedera oleh truma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis
(Ballenger,1994; Hilger,1997).

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan


dengan arterinya. Vena divestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke vena
oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernesus (Maran,1990; Ballenger, 1994;
Mangunkusumo,2001).

9
Persyarafan hidung

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari
nervus etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris , yang
berasal dari nervus oftalmikus. Saraf sensoris untuk hidung terutama berasal dari
cabang oftalmikus dan cabang maksilaris nervus trigeminus . Cabang pertama nervus
trigeminus yaitu nervus oftalmikus memberikan cabang nervus nasosiliaris yang
kemudian bercabang lagi menjadi nervus etmoidalis anterior dan etmoidalis posterior
dan nervus infratroklearis. Nervus etmoidalis anterior berjalan melewati lamina
kribrosa bagian anterior dan memasuki hidung bersama arteri etmoidalis anterior
melalui foramen etmoidalis anterior, dan disini terbagi lagi menjadi cabang nasalis
internus medial dan lateral. Rongga hidung lainnya , sebagian besar mendapat
persarafan sensoris dari nervus maksila melalui ganglion
sfenopalatinum(Maran,1990; Ballenger, 1994; Hilger, 1997).

Ganglion sfenopalatina selain memberi persarafan sensoris, juga memberikan


persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima
serabut serabut sensoris dari nervus maksila.Serabut parasimpatis dari nervus petrosus
profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak dibelakang dan sedikit diatas ujung
posterior konkha media (Maran,1990;Ballenger, 1994; Mangunkusumo,2001) .

Nervus Olfaktorius turun melalui lamina kribosa dari permukaan bawah


bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor pada mukosa
olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung (Maran,1990; Ballenger,1994; Hilger,
1997, Mangunkusumo, 2001).

Fisiologi Hidung
Hidung berfungsi sebagai indra penciuman , menyiapkan udara inhalasi agar
dapat digunakan paru serta fungsi filtrasi. Sebagai fungsi penciuman , hidung
memiliki epitel olfaktorius berlapis semu yang berwarna kecoklatan yang mempunyai
tiga macam sel-sel syaraf yaitu sel penunjang, sel basal dan sel olfaktorius. Fungsi
filtrasi, menghangatkan dan melembabkan udara inspirasi akan melindungi saluran
napas dibawahnya dari kerusakan.
10
Menurut Mangunkusumo (2001) fungsi hidung terbagi atas beberapa fungsi utama
yaitu Sebagai jalan nafas, Alat pengatur kondisi udara, Penyaring udara, Sebagai indra
penciuman, Untuk resonansi suara , Turut membantu proses bicara, Reflek nasal
(Ballenger,1994; Mangunkusomo,2001).

2.2 Pengertian Fraktur Nasal


Ada beberapa definisi tentang fraktur dan fraktur nasal yaitu sebagai berikut :
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya.
Fraktur nasal disebabkan oleh trauma dengan kecepatan rendah. Sedangkan jika
disebabkan oleh trauma kecepatan tinggi biasanya berhubungan dengan fraktur
wajah . Selain itu, injury nasal juga berhubungan dengan cedera leher atau kepala.
Fraktur nasal adalah terjadinya diskontinuitas jaringan tulang (patah tulang) yang
biasanya disebabkan benturan keras.
Fraktur tulang hidung dapat mengakibatkan terhalangnya jalan pernafasan dan
deformitas pada hidung. Jenis dan kerusakan yang timbul tergantung pada kekuatan,
arah dan mekanismenya.

Trauma nasal yang disebabkan oleh kecepatan yang tinggi menyebabkan fraktur
wajah. Terdapat beberapa jenis fraktur nasal antara lain (Robinstein,2000) :
1. Fraktur lateral adalah kasus yang paling sering terjadi, dimana hanya terjadi pada
salah satu sisi saja, kerusakan yang ditimbulkan tidak begitu parah.

2. Fraktur bilateral merupakan salah satu jenis fraktur yang juga paling sering terjadi
selain fraktur lateral, biasanya disertai dislokasi septum nasal atau terputusnya
tulang nasal dengan tulang maksilaris.

11
3. Fraktur direct frontal yaitu fraktur os nasal dan os frontal sehingga menyebabkan
desakan dan pelebaran pada dorsum nasalis. Pada fraktur jenis ini pasien akan
terganggu suaranya.

4. Fraktur comminuted adalah fraktur kompleks yang terdiri dari beberapa fragmen.
Fraktur ini akan menimbulkan deformitas dari hidung yang tampak jelas.

12
2.3 Etiologi Fraktur Nasal
Penyebab trauma nasal ada 4 yaitu:
Mendapat serangan misal dipukuli
injury karena olah raga
kecelakaan (personal accident)
kecelakaan lalu lintas.
2.4 Patofisiologi Fraktur Nasal
Tulang hidung dan kartilago rentan untuk mengalami fraktur karena hidung letaknya
menonjol dan merupakan bagian sentral dari wajah, sehingga kurang kuat menghadapi
tekanan dari luar. Pola fraktur yang diketahui beragam tergantung pada kuatnya objek yang
menghantam dan kerasnya tulang. Daerah terlemah dari hidung adalah kerangka kartilago
dan pertemuan antara kartilago lateral bagian atas dengan tulang dan kartilago septum pada
krista maksilaris. Daerah terlemah merupakan tempat yang tersering mengalami fraktur atau
dislokasi pada fraktur nasal. Kekuatan yang besar dari berbagai arah akan menyebabkan
tulang hidung remuk yang ditandai dengan deformitas bentuk C pada septum nasal.
Deformitas bentuk C biasanya dimulai di bagian bawah dorsum nasal dan meluas ke posterior
dan inferior sekitar lamina perpendikularis os ethmoid dan berakhir di lengkung anterior pada
kartilago septum kira-kira 1 cm di atas Krista maksilaris.Trauma lain yang sering
dihubungkan dengan fraktur nasal adalah fraktur frontalis, ethmoid dan tulang lakrimalis,
fraktur nasoorbital ethmoid; fraktur dinding orbita; fraktur lamina kribriformis ; fraktur sinus
frontalis dan fraktur maksila Le Fort I, II, dan III.

2.5 Teknik Radiografi pada Os Nasal

13
1. Lateral Position

o Dapat Dibuat foto perbandingan dengan sisi yang diperiksa berada dekat dengan
kaset.

o Posisi Pasien : prone atau erect

o Posisi Obyek :

o atur sisi lateral bagian yang akan diperiksa dekat dengan kaset

o atur nasal agar berada ditengah-tengah kaset

o atur kepala agar true lateral dan posisi tubuh pasien agak oblique agar pasien
merasa nyaman.

o atur MSP pararel terhadap permukaan meja/bucky.

o IOML tegak lurus terhadap IR.

o Central ray : tegak lurus IR

o Central Point : inchi inferior nasion

o FFD : 40 inci (100 cm)

o Catatan :

o Tahan nafas saat eksposi

o Untuk memperoleh hasil yang tajam, khususnya untuk detail tulang nasal
yang lebih baik, gunakan fokus kecil, detail screen, dan batasi lapangan
penyinaran (focus daerah nasal).

14
o Struktur yang ditampakkan : Tulang nasal dengan soft tissue nasal, frontonasal
suture, dan anterior nasal spine.

2. SUFEROINFERIOR TANGENTIAL (AXIAL)

Posisi pasien : duduk tegak diatas meja atau prone diatas meja pemeriksaan.

o Posisi Obyek :

o atur dan letakkan dagu menempel IR. Letakkan penyangga yang berbentuk sudut
dibawah IR

o atur IR tegak lurus terhadap GAL (glabelloalveolar line)

o atur MSP tegak lurus terhadap Central Ray dan pertengahan IR

o Central Ray : atur pertengahan berkas sinar menuju nasion dengan penyudutan
yang disesuaikan, dan pastikan tegak lurus terhadap GAL (CR hanya melalui
glabella dan anterior bagian gigi atas)

o FFD : 40 inchi (100 cm)

o Tahan nafas saat eksposi


15
o Struktur yang ditampakkan : Tulang nasal bagian pertengahan dan distal dengan
proyeksi tangential (dengan sedikit superimposisi dengan glabella atau alveolar
ridge) dan soft tissue nasal.

3. Proyeksi Parietoacanthial (Metode Waters)


Posisi pasien prone diatas meja pemeriksaan dengan kepala dan kaki diatur dalam
posisi yang nyaman. Ekstensikan kepala, posisikan dagu dan hidung menempel
pada meja pemeriksaan. Bahu bertumpu sejajar pada bidang transversal dan lengan
diletakan pada posisi senyaman mungkin .
Posisi objek posisikan MSP kepala sehingga tegak lurus dengan bidang film . orbito
meatal line diatur membentuk 37 derajat terhadap bidang film . Lakukan fiksasi
dengan menggunakan spon dan sandbag untuk mencegah pergerakan dari objek
kepala pasien .
Central ray : Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang
akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi
yang sudah ditentukan untuk pemotretan Os nasal proyeksi waters
Kriteria Gambar : Tampak cartilago septum nasi dipertengahan film tanpa
perputaran objek , Tampak sinus maxillaris , Tampak kedua rongga orbita , Tampak
Kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai ukuran objek yang diperiksa

16
17
BAB III
PAPARAN KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1 Identitas pasien


Adapun identitas pasien yang menjalani pemeriksaan radiologi os nasal
dengan kasus fraktur nasal di RSUD Jombang adalah sebagai berikut :
Nama : Tn. B
Umur : 28 tahun
Jenis kelamin : Laki laki
Alamat : Jombang
Pemeriksaan : foto nasal proyeksi lateral
Poli / Ruangan : IRD
3.2 Prosedur Pemeriksaan Radiologi di RSUD Jombang
Persiapan alat dan bahan
Pesawat sinar x yang digunakan pada pemeriksaan nasal pada pasien Tn. B :
Merk pesawat : hitachi
Type : zu-l3tf
No. seri tabung : Kc17060005
Tegangan maksimum : 150 KV
Arus maksimum : 250 mAs
Kaset dan film ukuran : 18 x 24 cm
Marker R atau L
Plester
3.3 Persiapan pasien dan obyek
Dalam pemeriksaan radiografi tulang hidung tidak memerlukan persiapan
khusus, hanya pasien diminta membebaskan semua logam, plastik dan semua objek
lain dari kepala
Posisi pasien : prone atau erect
Posisi Obyek :
- atur sisi lateral bagian yang akan diperiksa dekat dengan kaset
- atur nasal agar berada ditengah-tengah kaset
- atur kepala agar true lateral dan posisi tubuh pasien agak oblique agar
pasien merasa nyaman.
- atur MSP pararel terhadap permukaan meja.
- IOML tegak lurus terhadap IR.
Central ray : tegak lurus IR
Central Point : inchi inferior nasion
FFD : 40 inci (100 cm)
Factor Eksposi : KV = 45 , mAs = 3
Struktur yang ditampakkan : Tulang nasal dengan soft tissue nasal,
frontonasal suture, dan anterior nasal spine.

18
Prosesing Film

Pengolahan film dilakukan di kamar gelap, karena sudah menggunakan


prosesing automatic sehingga daerah kerjanya hanya ada daerah kerja kering.

a. Model : Centuria LD-101


b. Ser. No : 0009076
c. Made in : Malaysia

19
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam pemeriksaan radiologi nasal dengan indikasi fraktur nasal di RSUD Jombang
menggunakan proyeksi rutin yaitu posisi lateral dan tidak mengggunakan proyeksi
tambahan lainnya .

Saran

Saran dari penulis untuk pemeriksaan radiologi di RSUD Jombang agar proteksi
radiasi kepada pasien dan radiographer lebih diperhatikan agar dapat meminimalisir dosis
radiasi yang diterima pasien maupun radiografernya .

20
DAFTAR PUSTAKA

http://praharapete.wordpress.com/2011/11/25/fraktur-hidung/

http://satriadwipriangga.blogspot.com/2011/11/fraktur-nasal.html

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/136/jtptunimus-gdl-muhamadher-6761-2-babii.pdf

http://catatanradiograf.blogspot.com/2011/08/fraktur-tulang-hidung.html

21