Anda di halaman 1dari 12

P2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Minyak merupakan campuran ester asam lemak dengan gliserol. Kelapa merupakan bahan
yang sering diambil minyaknya. Minyak kelapa adalah minyak yang dihasilkan dari buah kelapa.
Minyak kelapa dapat diekstrak dari daging buah kelapa segar atau diekstrak dari daging kelapa
yang sudah dikeringkan. Minyak kelapa memiliki banyak manfaat bagi manusia. Minyak kelapa
biasa digunakan untuk berbagai bahan baku industri atau sebagai minyak goreng. Selain itu,
minyak kelapa dapat dipakai untuk menjaga kesehatan dan menyembuhkan berbagai penyakit
seperti diabetes, jantung, kolesterol, kangker, dan lain-lain. Hal ini salah satunya dikarenakan
minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat yang tinggi.
Sekarang ini telah ditemukan metode pembuatan minyak kelapa dengan menggunakan
ragi tempe / Sacharomyces cereviceae. Penggunaan ragi tempe bertujuan untuk memisahkan
minyak, karbohidrat, dan protein pada sel-sel endosperm biji kelapa. Keuntungan dari metode ini
adalah minyak murni yang dihasilkan memiliki warna yang jernih, beraroma khas minyak kelapa,
penggunaan energi yang minimal, pengolahannya yang sederhana dan tidak terlalu rumit, tingkat
ketengikan rendah dan daya simpan lebih lama. Metode ini dikenal dengan sebutan pembuatan
minyak kelapa secara fermentasi (Adi Rahmat, 1995).

1.2. Perumusan Masalah


Dalam pembuatan minyak kelapa, masyarakat Indonesia masih menggunakan cara
tradisional yaitu dengan ekstraksi kering yang diawali dengan pembuatan kelapa kering (kopra)
dan masih menggunakan panas tinggi untuk memperoleh minyak. Minyak kelapa yang dihasilkan
dengan metode tersebut memiliki kadar air, asam lemak bebas, bilangan peroksida yang tinggi
dan warna agak kekuningan, sedangkan untuk menghasilkan VCO dengan kadar air, asam lemak
bebas, bilangan peroksida yang rendah serta warna yang jernih dibutuhkan teknologi modern dan
waktu yang cukup lama. Penggunaan teknologi modern dalam proses ekstraksi minyak kelapa
membutuhkan biaya produksi yang tinggi sehingga cara tersebut tidak dapat digunakan di industri
rumah tangga. Oleh karena itu dibutukan metode ekstraksi dengan biaya produksi rendah dan
lebih efisien.
Ragi tempe (Saccharomyces cerevisiae) memiliki enzim proteolitik yang berfungsi untuk
menghidrolisis protein yang menyelubungi globula lemak sehingga dapat memisahkan minyak
dari santan. Dengan metode ekstraksi menggunakan ragi roti, minyak kelapa yang dihasilkan
akan memiliki kadar air, asam lemak bebas, bilangan peroksida yang rendah serta warna yang
jernih. Minyak kelapa yang dihasilkan dapat disebut virgin coconut oil karena proses
pembuatannya menggunakan panas rendah.

1
P2

1.3. Tujuan Praktikum


1. Memproduksi minyak kelapa dari santan dengan metode fermentasi
2. Mengetahui hubungan pH terhadap waktu.
3. Mengetahui hubungan densitas terhadap waktu.
4. Mengalisis hasil minyak kelapa yang didapat secara fisika dan kimia.

1.4. Manfaat Praktikum


1. Mahasiswa mampu memproduksi minyak kelapa dari santan dengan metode fermentasi
2. Mahasiswa dapat mengetahui hubungan pH terhadap waktu
3. Mahasiswa dapat mengetahui hubungan densitas terhadap waktu
4. Mahasiswa dapat menganalisis hasil minyak kelapa yang didapat secara fisika dan kimia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kelapa
Buah kelapa (cocus nucifera ) terdiri dari kulit (sabut), batok, daging kelapa, dan air
kelapa. Kulit buah (sabut kelapa) sering dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan keset,
Batok kelapa bisa dijadikan arang, daging kelapa untuk dikonsumsi atau diolah untk dijadikan
minyak, terakhir air kelapa sebagai penghilang dahaga dan juga bermanfaat sebagai tanaman
obat untuk meningkatkan kesehatan tubuh.
Asam lemak yang terkandung dalam daging buah kelapa mengandung 90% asam
lemak jenuh dan 10% asam lemak tak jenuh. Meskipun tergolong minyak jenuh, minyak
kelapa dikategorikan sebagai minyak berantai karbon sedang (medium chain fatty acids,
MCFA). Keunggulan asam lemak rantai sedang dibandingkan dengan asam lemak rantai
panjang yaitu asam lemak rantai sedang lebih mudah dicerna dan diserap. Asam lemak rantai
sedang saat dikonsumsi dapat langsung dicerna di dalam usus tanpa proses hidrolisis dan
enzimatis, langsung dipasok ke aliran darah dan diangkut ke hati untuk dimetabolisir menjadi
energi. Asam lemak rantai sedang, khususnya asam laurat, mempunyai kemampuan yang
spesifik sebagai antivirus, antifungi, antiprotozoa, dan antibakteri. Asam laurat dalam tubuh
manusia dan hewan akan diubah menjadi monolaurin. Monolaurin mempunyai efek kesehatan
yang hampir sama dengan air susu ibu (ASI), yaitu dapat meningkatkan sistem kekebalan pada
bayi dari infeksi virus, bakteri, dan protozoa. Karena itu, monolaurin berpeluang untuk
dikembangkan sebagai obat penyakit sindrom pernafasan akut atau severe acute respiratory
syndrom (SARS) (R.Hayati, 2009).
Kandungan nutrisi pada air kelapa tua terdiri atas protein, karbohidrat, lemak dan air.

2
P2

Selain itu, air kelapa tua juga mengandung vitamin C dan vitamin B kompleks. Pada air
kelapa muda terkandung berbagai unsur vitamin dan mineral seperti kalium, natrium,
kalsium, magnesium, besi, tembaga, fosfor, sulfur, dan klorin. Selain itu mineral yang
terkandung pada air kelapa lainnya seperti nitrogen, kalium, klorin dan besi.

2.2. Minyak Kelapa

Virgin Coconut Oil atau minyak kelapa murni terbuat dari daging kelapa segar.
Prosesnya semua dilakukan dalam suhu relatif rendah. Daging buah diperas santannya.
Santan ini diproses lebih lanjut melalui pengendapan, santan ini menjadi minyak sebelum
fermentasi.

Penambahan zat kimiawi anorganis dan pelarut kimia tidak dipakai serta pemakaian
suhu tinggi berlebihan juga tidak diterapkan. Hasilnya berupa minyak kelapa murni yang
rasanya lembut dan bau khas kelapa yang unik. Apabila beku warnanya putih murni dan
dalam keadaan cair tidak berwarna atau bening.

2.2.3. Pembuatan Minyak Kelapa


a. Pressing
Menghasilkan minyak dengan kadar yang tinggi sekitar 30-70%, sehingga memiliki
efisiensi rendah (Estrada,2007).

b. Ekstraksi
Ekstraksi atau leaching merupakan cara menghasilkan minyak dengan prinsip kerja
kontak antara fase padat dan fase cair di mana solute berdifusi dari fase padat ke fase
cair, sehingga komponen-komponen solute dalam padatan dapat dipisahkan
(Estrada,2007).

c. Rendering
Rendering yaitu menghancurkan jaringan tubuh seperti lemak, tulang serta jaringan
internal lainnya melalui proses pemanasan yang dapat dilakukan terhadap semua
bahan dasar dan biasa dilakukan bersama pressing dan ekstraksi. Tujuannya yaitu
untuk menghilangkan kandungan airnya (Estrada,2007).

d. Pengasaman
Perusakan protein atau denaturasi protein untuk dapat mendapatkan minyak kelapa
dapat dilakukan dengan cara pengasaman. Pada prinsipnya teknik pengasaman ini
adalah metode denaturasi protein dikarenakan terbentuknya ion zwitter pada kondisi
iso elektronik. Zwiter ion terbentuk karena molekul memiliki adanya muatan yang

3
P2

berlawanan dimasing-masing ujungnya. Di dalam protein sendiri sebenarnya


mengandung gugus NH2 yang lebih memiliki muatan posotif dan gugus karboksilat
yang bermuatan negatif. Untuk dapat mencapai kondisi iso elektronik ini, maka
santan dibuat dalam kondisi asam. Biasanya pengaturan pH untuk mendapat kondisi
iso elektrik yaitu pada pH 4,5 yang dilakukan dengan penambahan asam asetat
(CH3COOH) atau yang sering dikenal dengan cuka makanan.
Dengan cara pengasaman ini akan terbentuk tiga lapisan juga, dimana lapisan minyak
berada paling atas, kemudian lapisan tengah protein dan lapisan bawah adalah air.
Adapun minyak yang diperoleh dari cara pengasaman warna akan jernih
(Estrada,2007).

e. Sentrifugasi
Sentrifugasi merupakan teknik pemisahan (separation) yang memanfaatkan gaya
sentrifugal dengan menggunakan suatu alat bernama centrifuge. Suatu koloid atau
suspense sangat sulit jika dipisahkan dengan cara filtrasi, dalam medan sentrifugal
yang memiliki gaya ribuan kali lebih besar dari pada gaya gravitasi memungkinkan
untuk merusak kestabilan suatu koloid (Richardson and Coulson, 2002). Fungsi dari
sentrifugasi adalah mempercepat proses pengendapan suspensi dengan memberikan
gaya sentrifugasi pada partikel-partikelnya.
Proses pemisahan minyak dengan air dalam santan. Kecepatan sentrifugasi diatur
pada 3200 rpm selama 15 menit, maka terjadi pemisahan dan terdapat dua bagian
yaitu fraksi kaya minyak (krim) dan fraksi miskin minyak (skim). Selanjutnya krim
diasamkan, kemudian diberi perlakuan sentrifugasi sekali lagi untuk memisahkan
minyak dari bagian bukan minyak.
Prinsip pemisahan karena perbedaan gaya sentrifugasi dan gaya gravitasi :
Pemisahan sentrifugal menggunakan prinsip dimana objek diputar secara horizontal
pada jarak tertentu dengan alat tertentu. Apabila objek berotasi di dalam tabung atau
silinder yang berisi campuran cairan dan partikel, maka campuran tersebut dapat
bergerak menuju pusat rotasi, namun hal tersebut tidak terjadi karena adanya gaya
yang berlawanan yang menuju kearah dinding luar silinder atau tabung, gaya tersebut
adalah gaya sentrifugal. Gaya inilah yang menyebabkan partikel-partikel menuju
dinding tabung dan terakumulasi membentuk endapan. Selanjutnya, cairan dapat
dipisahkan dengan dekantasi (dituang atau dipipet hati-hati) (cristianti, 2009).

f. Enzimatis
Sumber Enzim Bromelin pada Buah Nanas
Enzim bromelin adalah enzim proteolitik yang ditemukan pada batang dan
buah nanas (Ananas comosus). Enzim proteolitik atau sering disebut juga protease
merupakan kelompok enzim yang menguraikan protein menjadi molekul yang lebih

4
P2

kecil. Setiap tipe enzim proteolitik mempunyai kemampuan yang berbeda dalam
menghidrolisis ikatan peptide.
1 Peran enzim proteolitik
Enzim proteolitik berperan penting dalam pencernaan karena memecah
protein dalam makanan menjadi asam amino yang diperlukan tubuh. Enzim
proteolitik digunakan dalam berbagai terapi medis. Enzim proteolitik juga berperan
dalam metabolisme tubuh yaitu pengaturan fungsi hati. Peran lain dari enzim
proteolitik adalah menguraikan fibrin berlebih di system peredaran darah dan
jaringan tubuh penghubung (otot). Enzim proteolitik juga member nutrisi dan darah
kaya oksigen untuk membuang sisa metabolisme yang dhasilkan dari peradangan
dan fibrin berlebuh. Dengan demikian enzim proteolitik dapat mencegah
penggumpalan darah.

2 Manfaat enzim proteolitik


Manfaat enzim proteolitik adalah mengurangi peradangan, membersihkan sel
mati, mencegah penggumpalan darah, memaksimalkan sistem imun, dan
menghilangkan bekas luka.
Tabel 2.2.3 %kandungan enzim bromelin pada buah nanas
Bagian Buah % kandungan enzim bromelin
Buah utuh masak 6-8%
Daging buah masak 8-12,5%
Kulit buah 5-7,5%
Tangkai 4-6%
Buah utuh mentah 4-6%
Daging buah mentah 5-7%
(sumber : Bimkes, 2014)

5
P2

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Rancangan Praktikum


3.1.1. Skema Praktikum
Pembuatan Santan

Kelapa tua yang Peras parutan Dinginkan selama


sudah diparut kelapa dan ambil 2 jam akan
ditambah air santannya terbentuk
dengan skim+krim
perbandingan 1:1

Gambar 3.1 Pembuatan Santan


Pembuatan Starter
Pisahkan Skim Aduk campuran Dinginkan Campuran di
dan kriim. dan masukkan campuran, inkubasi dalam
Campur skim ke autoclave kemudian inkubator
50 ml dengan suhu 121C inokulasi goyang
air kelapa 50 untuk proses dengan ragi roti
ml lalu sterilisasi atau ragi tempe
tambahkan atau enzim dari
nutrient sesuai sari buah
variabel
Gambar 3.2 Pembuatan Starter
Fermentasi Santan

Campur krim Cek densitas Atur pH Inkubasikan


santan dengan tiap variabel sampai 7 dalam
starter inkubator

Gambar 3.3 Fermentasi Santan


Analisa Hasil Minyak Kelapa

Masukkan Sentrifugasi Minyak Minyak Titrasi hasil minyak


hasil pada 3200 kelapa kelapa diuji kelapa dengan
fermentasi rpm dalam diukur secara larutan standar
ke dalam waktu 15 volumeny organoleptik NaOH 0,1 N untuk
cuvet menit a mendapatkan kadar
asam lemak bebas
Gambar 3.4 Analisa Hasil Minyak Kelapa

6
P2

3.1.2. Variabel Praktikum


1. Starter
Variabel Kontrol : Skim, Air Kelapa
Variabel Bebas : Gula Pasir, Urea, Ragi tempe, Ragi Roti, Sari Kiwi, Sari Nanas,
Sari Pepaya
Variabel Terikat : Densitas dan pH
2. Fermentasi
Variabel Kontrol : Krim dan Starter
Variabel Bebas :-
Variabel Terikat : pH

3.2. Bahan dan Alat

3.2.1. Bahan
1. Kelapa parut = 1,5 kg 7. Sari Kiwi = 12 ml
2. Ragi Roti = 4,036 gr 8. Gula = 4,036 gr
3. Ragi tempe = 4,036 gr 9. Urea = 4,036 gr
4. Air Kelapa = 200 ml 10. NaOH 0,1 N = 200 ml
5. Sari Nanas = 12 ml 11. Etanol = 95%
6. Sari Pepaya = 12 ml 12. Indikator PP = 12 tetes

3.2.2. Alat
1. Erlenmeyer 8. Autoclave
2. Pipet tetes 9. Alumunium foil
3. Beaker glass 10. Indikator pH
4. Gelas ukur 11. Pengaduk
5. Inkubator goyang 12. Centrifuge
6. Cuvet 13. Statif
7. Neraca analitik . 14. Klem
15. Buret

7
P2

3.4 Prosedur Praktikum


3.4.1. Pembuatan Santan
a. Kelapa tua yang sudah diparut ditambah air dengan perbandingan 1:1 diperas
sehingga dihasilkan santan.
b. Santan didinginkan selama 2 jam pada suhu ruang.
c. Setelah 2 jam akan terbentuk 2 lapisan (krim dan skim) pada santan.
3.4.2. Pembuatan Starter
a. Skim yang telah dipisahkan dari krim kemudian ditambah dengan air kelapa ke
dalam erlenmeyer dengan perbandingan 1:1 kemudian tambah nutrient (urea, gula
pasir) sesuai variabel.
b. Aduk campuran hingga homogen dan sterilisasi dalam autoclave pada suhu 121C
selama 15 menit.
c. Setelah steril, campuran didinginkan.
d. Campuran diinokulasikan dengan mikroba Saccharomyces sp (ragi roti atau ragi
tempe) atau enzim ( sari buah nanas, kiwi, dan pepaya) dalam erlenmeyer steril pada
ruang aseptis.
e. Campuran ditutup dengan alumunium foil, diinkubasi dalam ikubator goyang pada
suhu kamar selama waktu yang ditentukan.
3.4.3. Fermentasi Santan
a. Krim santan sebanyak 60 ml dicampur dengan starter 40 ml ke dalam erlenmeyer pada
ruang aseptis.
b. Campuran diatur pH-nya menjadi 7 menggunakan NaOH 0,1 N dan ditutup dengan
alumunium foil.
c. Campuran diukur densitasnya menggunakan picnometer.
d. Campuran diinkubasikan selama waktu tertentu.

BAB IV

8
P2

PEMBAHASAN

4.1 Fenomena densitas tiap variabel


Pada percobaan minyak yang telah dilakukan terhadap berbagai variabel, didapat
densistas yang mengalami penurunan pada variabel 1 dan 3, kecuali pada percobaan 2
dan 4 yang mengalami kenaikan pada hari ke 3. Pada hari 1 sampai 3 densitas variabel 1
yaitu 0,982 gr/ml ; 0,97 gr/ml ; dan 0,9048 gr/ml. Sedangkan densitas variabel 2 pada
hari 1 sampai 3 yaitu 0,9089 gr/ml ; 0,964 gr/ml ; dan 0,9728 gr/ml. Densitas variabel 3
yaitu 0,9837 gr/ml ; 0,978 gr/ml ; dan 0,9737 gr/ml. Sedangkan untuk percobaan 4,
densitasnya pada hari 1 sampai dengan 3 yaitu 0,9856 gr/ml ; 0,964 gr/ml ; dan 0,9739
gr/ml.

Grafik Hubungan Densitas vs Hari


1
0.98
0.96
0.94
Densitas (gr/ml) 0.92
0.9
0.88
0.86
1 2 3

Hari

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Densitas vs Hari


Semakin banyak komponen yang terkandung dalam minyak, maka semakin besar
berat molekul minyak, sehingga densitasnya pun akan semakin tinggi. Ketidakjenuhan
komponen asam lemak yang tinggi, juga akan menaikan nilai berat jenis minyak
(Gustiani,2008). Pembuatan minyak kelapa murni dengan fermentasi pada prinsipnya
adalah perusakan protein yang menyelubungi globula lemak menggunakan enzim
proteolitik. Enzim yang dimaksud adalah enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme
sebagai inokulum. Pada pembuatan minyak kelapa dengan fermentasi, krim yang
didapatkan dicampurkan dengan ragi yang mengandung mikroba yang mampu
menghasilkan enzim protease dan lipase yang dapat menghidrolisis minyak dengan
didukung oleh kadar air yang tinggi (Sarwono,2000).

9
P2

Berdasarkan data percobaan, densitas selama waktu 3 hari mengalami penurunan hal
ini dikarenakan oleh tidak adanya sejumlah asam lemak rantai karbon ikatan rangkap
seperti palmitoleat dan linoleat, serta terurainya asam kaprat pada suhu 35C dan asam
lemak kaproat pada suhu 60C (Raharja S et al, 2002). Berat jenis minyak kelapa murni
tertinggi adalah 0,911 gram/cm pada lama fermentasi 24 jam. Standar berat jenis
maksimal yang diperkenankan oleh CodexStan 19-1981(rev-2-1999) adalah sebesar
0,920 gram/cm
Kadar air minyak serta zat-zat yang lolos pada saat penyaringan minyak seperti
kotoran, protein, garam, mineral, dapat mempengaruhi besarnya berat jenis minyak.
Standart mutu berat jenis minyak kelapa (SII) menurut Ketaren (1986) adalah berkisar
antara 0,917 0,919.

4.3 Perbandingan volume minyak variabel 1 dan 3

Grafik Perbandingan Volume Minyak Tiap Variabel


2

1.5

1
Volume Minyak (ml)
0.5

0
1 2 3 4
Variabel

Gambar 4.3 Grafik Perbandingan Volume Minyak Tiap Percobaan


Pada grafik hasil percobaan diatas, dapat diketahui variabel 1 memiliki hasil
minyak yang lebih sedikit dibanding percobaan 3. Volume minyak yang di hasilkan oleh
variabel 1 sebanyak 18,5 ml dan volume minyak variabel 3 sebesar 20 ml. Pada variabel
1, diberikan mikroba dengan ragi tempe dan ragi roti sedangkan variabel 3 tidak
ditambahkan mikroba.
Seharusnya hasil yang didapat adalah hasil minyak yang didapat pada variabel 1
lebih banyak dibandingkan dengan variabel ke 3. Karena dengan adanya penambahan
mikroba pada proses fermentasi di maksudkan agar terjadi koagulasi protein penstabil
emulsi santan. Pada proses koagulasi protein mengakibatkan membrane tipis pecah dan

10
P2

minyak dapat diperoleh. Di samping itu mikroorganisme juga menghasilkan enzim yang
dapat menghidrolisis makro molekul protein ( Dedi, 2011).
Hal ini dikarenakan dalam praktikum ini dilakukan proses sentrifugasi. Salah satu
metode dalam menghasilkan minyak ialah dengan sentrifugasi. Santan merupakan emulsi
minyak dalam air bersatu karena adanya bola-bola protein mengelilngi molekul minyak,
pemisahan minyak dari emulsi santan dapat dilakukan dengan metode sentrifugasi.
Pengaruh kecepatan centrifuge dan waktu centrifuge pada pembuatan virgin coconut oil
(VCO) sangat besar, semakin tinggi kecepatan centrifuge semakin besar minyak yang
diperoleh semakin besar pula. Dalam praktikum ini dilakukan pada kecepatan
sentrifugasi 3200 rpm dalam waktu 15 menit sehingga cukup untuk membuat kestabilan
emulsi terganggu, molekul minyak menjadi semakin kecil dan permukaan minyak
menjadi besar, sehingga protein yang ada tidak cukup untuk menyelubungi semua
molekul minyak dan minyak yang tidak terselubungi akan keluar dari emulsi dan terpisah
, emulsi dalam maksud-maksud tertentu diusahakan stabil tetapi dalam maksud yang lain
justru dirusak untuk memecah lapisan penstabil emulsi dengan kecepatan sentrifugasi
yang tinggi , pada kecepatan sentrifugasi 3200 rpm terjadi pemisahan dengan adanya
gaya sentrifugal karena perbedaan berat jenis, minyak dengan berat jenis yang lebih
ringan dibandingkan dengan air maka minyak akan terkumpul dibagian atas dan akan
diperoleh berat VCO dalam produk lebih besar. Maka dari itu dapat menghasilkan
minyak walaupun tidak ada penambahan ragi (Hapsari, 2013).

4.4 Kadar asam lemak bebas yang diperoleh tiap variabel

Kadar Asam Lemak Bebas


2
1.5
1
Kadar Asam Lemak Bebas
0.5
0
1 2 3 4
Variabel

Gambar 4.3 Grafik Perbandingan Volume Minyak Tiap Percobaan


Kadar asam lemak bebas yang diperoleh yaitu variabel 1 adalah 1,72, variabel 2
adalah 0,97, variabel 3 adalah 0,86, variabel 4 adalah 1,672.

11
P2

Asam Lemak Bebas adalah asam lemak yang sudah terlepas dari trigliserida karena
proses hidrolisis. Hidrolisis sangat mudah terjadi pada minyak dengan asam lemak rendah
seperti minyak kelapa ( Winarno, 1997 ). Dalam reaksi hidrolisis minyak akan diubah
menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Hasil percobaan tiap variabel menunjukan hasil yang
bervariasi tetapi masih berada dibawah batas maksimum menurut yang ditetapkan oleh SNI.
Minyak yang bermutu tinggi mempunyai kadar asam lemak kurang dari 3%, Apabila
kadar asam lemak bebas melebihi 5% maka minyak sawit dikatakan bermutu rendah ( Lubis,
1995). Tingginya asam lemak bebas mengakibatkan rendemen minyak turun, oleh karena itu
diperlukan usaha untuk mencegah terbentuknya asam lemak bebas dalam minyak kelapa
sawit.
Salah satu ciri khas Virgin Coconut Oil (Minyak Kelapa Murni) adalah tingginya
kadar asam lemak. Asam lemak yang dimiliki oleh Virgin Coconut Oil atau Minyak Kelapa
Murni sangat bermanfaat bagi kesehatan. Minyak VCO (Virgin Coconut Oil) Bersifat
Antibakteri, Antivirus dan Antiprotozoa. Selain itu kemampuan lain yang terdapat pada
minyak kelapa murni adalah sebagai antivirus, antibakteri, antijamur, anti protozoa. Hal
tersebut dikarenakan kandungan asam laurat, asam kaprilat, dan asam kaprat yang terdapat
didalamnya. ( Hanakrida,2011)

12