Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang dan sangat
berpengaruh pada kemajuan bangsa, karena pendidikan merupakan alat investasi jangka
panjang yang harus dipersiapkan sebaik-baiknya dan masa depan suatu bangsa akan
aman di tangan masyarakat yang berpendidikan. Hal tersebut dibuktikan dengan
banyaknya program-program pendidikan dari pemerintah. Program-program pemerintah
yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah semata-mata ingin
menghasilkan sumber daya manusia yang lebih baik. Sumber daya manusia yang
memiliki kualitas baik menjadi kebutuhan untuk masa depan bangsa khususnya bangsa
Indonesia agar dapat mengikuti perkembangan dunia. Salah satu usaha pemerintah
dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah adanya perubahan kurikulum yang
disesuaikan sesuai dengan berkembangnya kebutuhan masyarakat dan kondisi zaman
yang terus mengalami perubahan.
Perubahan kurikulum yang terjadi saat ini di Negara Indonesia yaitu Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013. Kurikukum 2013
menuntut proses pembelajaran berorientasi pada penerapan 5M agar dapat
mengembangkan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Hal tersebut
bertujuan agar pengetahuan diperoleh dari siswa bukan diberikan oleh Guru. Mengingat,
hakikat sains yaitu sains sebagai proses dengan harapan tidak hanya mengetahui
ataupun mempelajari suatu konsep, hukum ataupun teori yang sudah ada tetapi harus
juga memahami dan mengetahui bagaimana cara memperolehnya. Berdasarkan hal
tersebut, pembelajaran 5M yang dituntut oleh Kurikulum 2013 ini sangat sesuai dengan
karakteristik ilmu sains khususnya fisika yaitu ilmu empiris yang dibangun melalui
proses ilmiah atau metode ilmiah. Sehingga, tujuan akhir dari suatu pembelajaran siswa
tidak hanya memahami pengetahuan yang telah diperoleh saja melainkan dapat
menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dewasa ini terjadi perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat sebagai
salah satu akibat dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan
pemanfaatannya oleh manusia. Khusus dalam dunia pendidikan dampaknya sangat

1
terasa saat ini dan kedepan, sehingga orang menyebutnya sebagai masa pengetahuan
(knowledge age) dengan percepatan peningkatan pengetahuan yang luar biasa.
Percepatan peningkatan pengetahuan ini didukung oleh penerapan media dan teknologi
digital yang disebut dengan information super highway (Gates, 1996), informasi
semakin cepat terdistribusi ke seluruh penjuru dunia.
Akibatnya, dunia pendidikan semakin penting dan dituntut untuk menjamin peserta
didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan
teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan dengan menggunakan
keterampilan untuk hidup (life skills).
Tuntutan tersebut diimplementasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia untuk mengembangkan kurikulum baru untuk Sekolah Dasar (SD),
Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK), dengan mengadaptasi konsep pendidikan abad 21. Ketiga
konsep tersebut adalah 21st Century Skills, scientific approach, dan authentic
assessment (BSNP, 44:2004).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana latar belakang munculnya keterampilan abad 21?
2. Bagaimana kontribusi keterampilan abad 21 terhadap pembelajaran?
3. Bagaimana definisi keterampilan abad 21 menurut para ahli?
4. Bagaimana unsur pembelajaran abad 21?
5. Bagaimana arah pendidikan Indonesia?
6. Bagaimana contoh pembelajaran abad 21?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui latar belakang munculnya keterampilan abad 21.
2. Mengetahui kontribusi keterampilan abad 21 terhadap pembelajaran.
3. Mengetahui definisi keterampilan abad 21 menurut para ahli.
4. Mengetahui unsur pembelajaran abad 21.
5. Mengetahui arah pendidikan Indonesia.
6. Mengetahui contoh pembelajaran abad 21.

2
D. Manfaat Penulisan
Penulis mengharapkan bahwa makalah ini memiliki manfaat sebagai berikut :

1. Memberikan penjelasan mengenai keterampilan abad 21 dengan segala unsur dan


indicator eterampilannya.
2. Memberikan beberapa informasi mengenai pembelajaran dan asesmen pada
pembelajaran abad 21.

3
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Latar Belakang Munculnya Keterampilan Abad 21


Dewasa ini terjadi perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat sebagai
salah satu akibat dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan
pemanfaatannya oleh manusia. Khusus dalam dunia pendidikan dampaknya sangat
terasa saat ini dan kedepan, sehingga orang menyebutnya sebagai masa pengetahuan
(knowledge age) dengan percepatan peningkatan pengetahuan yang luar biasa.
Percepatan peningkatan pengetahuan ini didukung oleh penerapan media dan
teknologi digital yang disebut dengan information super highway (Gates, 1996),
informasi semakin cepat terdistribusi ke seluruh penjuru dunia.
Akibatnya, dunia pendidikan semakin penting dan dituntut untuk menjamin
peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan
menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan
dengan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills).
Tuntutan tersebut diimplementasikan oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia untuk mengembangkan kurikulum baru untuk
Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas
(SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dengan mengadaptasi konsep
pendidikan abad 21. Ketiga konsep tersebut adalah 21st Century Skills, scientific
approach, dan authentic assessment (BSNP, 44:2004).

B. Kontribusi Keterampilan Abad 21 Terhadap Pembelajaran


Berbagai fenomena pergeseran dan kemajuan teknologi tidak hanya terjadi di
Indonesia, tapi merambah ke segala hampir di seluruh negara berkembang yang ada
bahkan beberapa negara maju di dunia barat pun merasakan tantangan yang sungguh
hebat akibat munculnya kekuatan dari negara di Asia seperti Cina, India, dan Taiwan.
Dengan demikian kontribusi pendidikan nasional abad 21 dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Untuk menghadapi abad 21 yang makin syarat dengan teknologi dan sains
dalam masyarakat global di dunia ini, maka pendidikan kita haruslah

4
berorientasi pada ilmu pengetahuan matematika dan sains alam disertai dengan
sains sosial dan kemanusiaan (humaniora) dengan keseimbangan yang wajar.
2. Pendidikan ilmu pengetahuan, bukan hanya membuat seorang peserta didik
berpengetahuan, melainkan juga menganut sikap keilmuan dan terhadap ilmu
pengetahuan, yaitu kritis, logis, inventif dan inovatif, serta konsisten, namun
disertai pula dengan kemampuan beradaptasi. Di samping memberikan ilmu
pengetahuan, pendidikan ini harus disertai dengan menanamkan nilai-nilai
luhur dan menumbuh kembangkan sikap terpuji untuk hidup dalam masyarakat
yang sejahtera dan bahagia di lingkup nasional maupun dilingkup antarbangsa
dengan saling menghormati dan saling dihormati.
3. Untuk mencapai ini mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar,
menengah dan pendidikan tinggi haruslah merupakan suatu sistem yang
tersambung erat tanpa celah, setiap jenjang menunjang penuh jenjang
berikutnya, menuju ke frontier ilmu. Namun demikian, penting pula pada akhir
setiap jenjang, di samping jenjang untuk ke pendidikan berikutnya, terbuka
pula jenjang untuk langsung terjun ke masyarakat. Bagaimanapun juga, pada
setiap jenjang pendidikan perlu ditanamkan jiwa kemandirian, karena
kemandirian pribadi mendasari kemandirian bangsa, kemandirian dalam
melakukan kerjasama yang saling menghargai dan menghormati, untuk
kepentingan bangsa.
4. Khusus di perguruan tinggi, dalam menghadapi konvergensi berbagai bidang
ilmu pengetahuan, maka perlu dihindarkan spesialisasi yang terlalu awal dan
terlalu tajam.
5. Dalam pelaksanaan pendidikan perlu diperhatikan kebhinnekaan etnis, budaya,
agama dan sosial, terutama di jenjang pendidikan awal. Namun demikian,
pelaksanaan pendidikan yang berbeda ini diarahkan menuju ke satu pola
pendidikan nasional yang bermutu.
6. Untuk memungkinkan seluruh warganegara mengenyam pendidikan sampai ke
jenjang pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya, pada dasarnya
pendidikan harus dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat dengan
mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah (pusat dan daerah).

5
7. Untuk menjamin terlaksananya pendidikan yang berkualitas, sistem monitoring
yang benar dan evaluasi yang berkesinambungan perlu dikembangkan dan
dilaksanakan dengan konsisten. Lembaga pendidikan yang tidak menunjukkan
kinerja yang baik harus dihentikan.

C. Definisi Keterampilan Abad 21 Menurut Para Ahli


Twenty first century skills pertama kali di definisikan oleh lembaga P21 (2009:6-
7) yaitu meliputi: (a) Learning and innovation skills (Kreatif dan inovatif ,bekerja
dengan inovatif dan mengimplementasikan keterampilan berinovasi) (b) Critical
thinking and problem solving (berpikir efektif dan sistematik, Membuat keputusan
dan menyelesaikan masalah) (b) Communication and collaboration (Berkomunikasi
dengan jelas dan dapat berkolaborasi dengan orang lain dan juga bekerja sama dalam
tim) (c) Information, media and technology skills (literasi informasi, literasi media
dan literasi ICT) (d) Life and carrier skills (fleksibel dan beradaptasi, berinisiatif dan
mandiri, dapat bersosial dan berinteraksi antar suku dan bangsa, Produktivitas dan
akuntabilitas, berkepemimpinan dan bertanggung jawab). Kemudian Binkley et al
(2012: 19-20) dalam penelitiannya bersama ATCS21 membagi 21st century skills
menjadi 4 grup yang terdiri dari (a) ways of thinking; (b) ways of working; (c) tools
for working; (d) living in the world .
Ways of thinking merupakan kelompok keterampilan berpikir. Keterampilan ini
akan membangun konsep berpikir dari berpikir sederhana sampai berpikir tingkat
tinggi. Keterampilan ini menekankan cara kepada berpikir tingkat tinggi untuk lebih
mudah mengingat sebuah konsep dan menarik kesimpulan. Binkley et al (2012: 37-
38) membagi Ways of thingking menjadi 3 keterampilan yaitu: (1) Kreatif dan
Inovatif, (2) Berpikir kritis, memecahkan masalah dan menentukan keputusan (3)
Belajar bagaimana untuk belajar dan kemampuan metakognitif. Kreatif adalah
kemampuan berpikir ataupun melakukan tindakan yang bertujuan untuk mencari
pemecahan sebuah kondisi ataupun permasalahan secara cerdas, bersifat tidak umum,
merupakan pemikiran sendiri/ orisinil, serta membawa hasil yang tepat dan
bermanfaat sedangkan inovatif merupakan kemampuan seseorang dalam
menggunakan pikiran dan sumber daya yang ada di sekelilingnya untuk
menghasilkan sebuah karya yang benar-benar baru yang orisinil atau sebuah karya

6
pemikiran sendiri, dan yang pasti dapat bermanfaat bagi banyak orang (Binkley et al,
2012: 37-38). Berpikir kritis merupakan proses intelektualitas yang melibatkan
aktivitas dan keterampilan dalam aspek konseptual, menerapkan, menganalisis,
mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan
oleh observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai
pemecahan masalah dan mengambil keputusan (Scriven & Paul, dalam Snyder, Lisa
Gueldenzoph & Snyder ,Mark J. 2008:90). Pengetahuan metakognitif merupakan
pengetahuan kognitif yang secara umum serta sadar akan kemampuan
pengetahuannya sendiri serta dapat menentukan sebuah strategi untuk menyelesaikan
masalah dan tahu kenapa memilih strategi tersebut (Anderson, L. W. & Krathwohl
David R. 2001:56).
Ways of working merupakan keterampilan untuk bekerja dengan berinteraksi
sosial dan bekerja dalam tim yang membutuhkan keterampilan untuk berkomunikasi
dan berkolaborasi (Binkley et al 2012:44-47). Keterampilan berkomunikasi
merupakan keterampilan seseorang dalam menyampaikan sesuatu dengan bahasa
yang baik dan mudah di mengerti dan juga disampaikan dengan bahasa yang sopan
sesuai dengan kondisi budaya setempat. Keterampilan berkolaborasi lebih mengarah
keterampilan bekerja sama dalam tim yang terdiri dari keterampilan berinteraksi,
keterampilan manajemen waktu dalam tim, keterampilan membimbing dan
memimpin tim dan juga kemampuan mengatur proyek dalam tim (Binkley et al
2012: 47).
Tools for working merupakan keterampilan baru yang mengacu pada literasi
informasi, literasi media dan literasi ICT untuk membantu berpikir , mencari alasan
yang logis, berusaha menyelesaikan masalah yang kompleks, mencari permasalahan
serta keterampilan dalam menggunakan berbagai media dan teknologi terkini
(Boyles, trish. 2012: 47). Binkley et al (2012:51-53) menjelaskan lebih lanjut tools
for working yaitu meliputi literasi informasi dan literasi ICT. Literasi informasi disini
merupakan keterampilan dalam mengakses dan mengevaluasi informasi,
keterampilan, Menggunakan dan mengelola informasi, dan keterampilan dalam
menggunakan teknologi terkini untuk mencari informasi. Literasi ICT yang di
maksud di sini adalah keterampilan dalam mengakses dan mengevaluasi ICT,

7
Menganalisis media, membuat produk media, mengaplikasikan teknologi secara
efektif dan positif.
Living in the world juga dikenal keterampilan untuk hidup dan bekerja di abad ke-
21 yang merupakan keterampilan dan kemampuan individu untuk bekerja secara
efektif dengan tim yang beragam, berpikiran terbuka untuk berbagai ide-ide dan
nilai-nilai, menetapkan dan mencapai tujuan, mengelola proyek secara efektif,
bertanggung jawab atas hasil yang diperoleh, menunjukkan etika yang baik, dan
bertanggung jawab kepada diri sendiri dan masyarakat yang lebih besar (Pacific
Policy Research Center. 2010:7). Lebih lanjut Binkley et al (2012: 55-57)
mengelompokkan kembali keterampilan living in the world menjadi kehidupan
berwarga negara dalam lingkup lokal dan global, keterampilan berkarir dan hidup
bersosial dan bertanggung jawab secara individu dan masyarakat.
Hal yang sangat diperhatikan dalam mengintegrasikan 21st century skills
didasarkan pada domain knowledge, skills, attitudes, values and ethics yang dikenal
dengan KSAVE (Binkley et al 2012: 24). Kategori Knowledge ini mencakup semua
referensi yang spesifik, pengetahuan atau pemahaman persyaratan untuk masing-
masing dari 21st century skills. Knowledge ini sama halnya seperti kemampuan
kognitif peserta didik. Skills merupakan kemampuan dan keterampilan peserta didik
dalam hal membangun 21st century skills dalam hal ini domain ini merupakan
domain psikomotorik peserta didik. Attitudes, Values, and Ethics merupakan nilai
dari sikap dan kecakapan peserta didik yang tercermin dalam 21st century skills
identik dengan domain afektif peserta didik.

D. Unsur Pembelajaran Abad 21


Unsur pertama adalah menekankan pada mata pelajaran utama (Core subject
knowledge). Apapun keterampilan yang dikembangkan, harus didasarkan pada
pengetahuan mengenai isi materi mata pelajaran utama dan pemahaman mengenai
ciri materi utama tersebut. Di Amerika mata pelajaran utamanya adalah bahasa
Inggris, membaca atau bahasa, matematika, Sains, Bahasa asing, PPKn, Ilmu
kepemerintahan, ekonomi, sejarah, dan geografi. Jadi semua subjek ini merupakan
subjek utama yang perlu dibelajarkan dengan baik.

8
Unsur kedua adalah menekankan pada pengembangan keterampilan belajar.
Mereka harus terus menerus belajar sepanjang hayat, oleh karenanya mereka
memerlukan pengembangan keterampilan belajar yang terdiri dari 3 keterampilan,
yaitu 1) keterampilan terkait informasi dan komunikasi; 2) keterampilan berpikir dan
memecahkan masalah; dan 3) keterampilan interpersonal dan keterampilan mengatur
diri sendiri. Guru yang baik perlu terus mengembangkan keterampilanketerampilan
ini. Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan pengembangan keterampilan
ini ke dalam kelas, secara sengaja, strategis, dan seluas-luasnya.
Unsur ketiga adalah memanfaatkan alat belajar abad 21 untuk mengembangkan
keterampilan belajar. Dalam dunia digital, siswa perlu belajar bagaimana
menggunakan alat-alat yang esensial untuk kehidupan sehari-hari dan untuk
produktif di tempat kerja. Warga negara abad 21 yang terampil haruslah lancar atau
literat ICT, yang didefinisikan oleh Programme for International Student Assessment
(PISA) sebagai minat, sikap, dan kemampuan individu untuk menggunakan alat-alat
teknologi digital secara tepat dan alat-alat komunikasi untuk mengakses, mengelola,
mengintegrasikan, dan mengevaluasi informasi untuk membentuk pengetahuan baru,
dan berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam
masyarakat.
Unsur keempat adalah membelajarkan siswa dalam konteks abad 21. Siswa perlu
belajar materi pelajaran melalui contoh-contoh, penerapan, dan pengalaman dunia
nyata, baik di dalam, maupun luar sekolah. Siswa memahami dan ingat lebih banyak
bila yang mereka pelajari relevan, menarik, dan bermanfaat dalam kehidupan mereka
sehari-hari. Di dalam lingkungan kerja global abad 21 pembelajaran siswa juga dapat
meluas ke luar dari empat dinding kelas. Sekolah harus mendekati masyarakat,
pegawai, anggota masyarakat, dan orang tua untuk menjebol tembok yang
membatasi dinding sekolah dengan dunia nyata.
Unsur kelima adalah membelajarkan konten abad 21. Pendidik dan pemimpin
bisnis mengidentifikasi 3 konten yang penting yang muncul yang dianggap kritis
untuk sukses dalam masyarakat dan tempat kerja yaitu wawasan global, literat
keuangan, ekonomi, dan bisnis, serta literat warga negara. Banyak dari konten ini
tidak tertangkap dalam kurikulum yang ada, apalagi diajarkan secara konsisten

9
secara mendalam di sekolah. Salah satu cara efektif untuk mengintegrasikan konten
ini adalah memadukan pengetahuan dan keterampilan ini ke dalam kurikulum.
Unsur keenam adalah menggunakan asesmen abad 21 yang mengukur
keterampilan abad 21. Negara perlu punya tes terstandar yang berkualitas tinggi yang
dapat mengukur prestasi siswa dalam unsur-unsur pembelajaran abad 21. Agar
efektif, perlu dikembangkan asesmen yang tepat, berkelanjutan, dan terjangkau,
untuk semua jenjang pendidikan, dengan menggunakan teknologi informasi untuk
meningkatkan efisiensi dan jelas waktunya.
Kelompok ini menerbitkan laporan hasil pemikiran mereka yang disertai dengan
petunjuk bagaimana memulai reposisi pendidikan keterampilan abad 21 berupa
Milestones for Improving Learning and Education (MILE) Guide for 21st Century
Skills (Partnership for 21st Century Skills, 2002). Mereka berkomitmen untuk
mempromosikan dialog nasional mengenai keterampilan abad 21 dan untuk
memecahkan masalah berupa isu sebaiknya membelajarkan keterampilan dasar
(keterampilan proses Sains) atau membelajarkan keterampilan abad 21. Menurut
mereka keduanya penting dan apabila dilakukan secara bersamaan, yang satu
memperkuat yang lain.

E. Arah Pendidikan Indonesia


Pada tahun 2013 ini pemerintah telah melihat akan kebutuhan global untuk
menguasai kemampuan abad ke-21. Dari hasil beberapa kajian salah satunya data
PISA 2009 peringkat Indonesia tentang literasi membaca, literasi matematika dan
literasi sains sangat rendah, yaitu peringkat 61, 57, 60 dai 65 negara (kemdikbud,
2013). Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang sains dan teknologi di
Indonesia sangatlah rendah. Selain itu survei TIMMS juga menunjukkan kemampuan
kognitif bidang matematika dan sains juga rendah yaitu peringkat 37 dari 49 negara
(Kemdikbud 2013). Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik Indonesia masih
belum siap bersaing secara global. Dari hasil survei TIMMS dan PISA menunjukkan
bahwa perlu adanya perubahan dalam pembelajaran di Indonesia. Penilaian PISA dan
TIMMS tersebut didasarkan pada aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Selain itu
tuntutan dunia kerja secara global juga menjadi perhatian dunia pendidikan

10
Indonesia. Hal ini memaksa adanya perubahan dalam sistem pendidikan di
Indonesia.
Arah pendidikan di Indonesia harus segera diubah yang semula mengutamakan
kognitif dan mengesampingkan aspek psikomotorik dan afektif, maka untuk
menyiapkan bekal untuk peserta didik di masa akan datang. Pemerintah sudah
melakukan usaha untuk mengubah arah pendidikan Indonesia.
Langkah nyata pemerintah dalam menghadapi tantangan di abad ke-21 ini adalah
dengan membuat kebijakan baru tentang kurikulum. Kurikulum ini adalah kurikulum
2013. Kurikulum 2013 yang dicanangkan oleh pemerintah RI juga mengacu pada
21st century skills. Hal ini tercermin pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang
tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud No.
54).
Tampak secara tersirat SKL tahun 2013 mengimplementasikan 21st century skills.
Jika kita lihat dimensi SKL yang terdiri dari sikap, pengetahuan dan keterampilan hal
ini mirip dengan dimensi yang di kemukakan oleh Binkley et al (2012:24) yang
meniliai 21st century skills dengan dimensi KSAVE. Jika ditelaah lebih dalam
dimensi penetahuan sama dengan dimensi knowledge. Dimensi keterampilan adalah
dimensi skills, dan sikap adalah dimensi dari attitude, value and ethics.
Pada bagian kualifikasi kemampuan juga tampak mengimplementasikan 21st
century skills. Salah satu contohnya pada kalimat Memiliki pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni,
dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian. Hal ini menggabungkan
domain pengetahuan ways of thinking dan domain ways of working juga living in the
world pada 21st century skills. Pada dimensi sikap yang mengharuskan bertanggung
jawab dalam interaksi sosial serta dapt menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia juga dapat dikatakan telah mengintegrasikan 21st century
skills.Selain itu emiliki keterampilan berpikir kreatif dan inovatif juga diinterasikan
pada kualifikasi kemampuan pada dimensi keterampilan.
Dari kajian di atas jelas bahwa arah pendidikan di Indonesia di masa akan datang
telah mengintegrasikan 21st century skill dalam pembelajaran. Akan tetapi apakah
pemerintah RI dapat mengimplementasikannya secara baik atau tidak tentunya

11
menjadi sebuah pertanyaan besar yang belum bisa terjawab saat ini.
Mengintegrasikan 21st century skills dalam pembelajaran tidaklah mudah. Perlu
adanya revolusi sistem kurikulum dan assesment pada pembelajaran di negara RI.
Selanjutnya dalam menilai kemampuan peserta didik tidak lagi mengedepankan
kemampuan kognitif belaka akan tetapi juga harus memperhatikan kemampuan
afektif dan psikomotorik peserta didik. Perubahan besar dalam sistem pendidikan ini
tentunya akan menjadi sebuah tantangan besar bagi para pendidik, pemegang
kebijakan dan semua yang terlibat dalam dunia pendidikan di RI. Tentunya dengan
mengintegrasikan 21st century skills pemerintah berharap setiap peserta didik dapat
bersaing secara global di dunia kerja, kehidupan bermasyarakat dan juga memiliki
sikap bertanggung jawab untuk bekalnya di masa akan datang.

F. Contoh Pembelajaran Abad 21


Salah satu contoh dalam pembelajaran abad 21 adalah blended
learning dan TPACK.(Prof. Dr. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. : 2011).
Seperti berikut :

Mungkin banyak dari kita belum menyadari bahwa dunia saat


kita membelajarkan siswa atau mahasiswa kita sekarang ini sudah
berbeda dengan dunia sepuluh tahun yang lalu, sehingga kita
tidak risau dengan cara kita membelajarkan siswa atau
mahasiswa kita. Kita tetap menggunakan cara mengajar yang
lama, dengan metode mengajar klasik yaitu ceramah dengan
komponen online sedikit saja atau sama sekali tidak ada. Atau
banyak dari kita sudah sadar bahwa dunia saat ini sudah berbeda
dengan dunia sepuluh tahun yang lalu, namun kita lamban
berpikir bagaimana menyesuaikan kondisi kelas kita dengan
kondisi yang ideal atau kondisi yang diharapkan dapat
membekali siswa atau mahasiswa kita dengan kecakapan hidup
abad 21. Mungkin pemikiran untuk memberikan layanan yang
lebih baik kepada siswa dan mahasiswa kita inilah yang
mendorong kita sekarang ini hadir di sini untuk bertukar pikiran
mengenai bagaimana membelajarkan siswa dan mahasiswa lebih

12
baik untuk hidup di abad 21 yang sudah berjalan lebih dari satu
dekade.

Berbeda dengan di negeri kita yang masih belum mempunyai


Asosiasi Pendidik IPA, di Amerika Serikat sudah ada National
Science Teacher Association (NSTA) yang mempunyai pernyataan
posisi NSTA dalam pengembangan kecakapan hidup abad 21.
Pernyataan posisi (Position statement) mereka mengenai
kecakapan hidup abad 21 itu berbunyi sebagai berikut NSTA
acknowledges the need for and importance of 21st-century skills
within the context of science education and advocates for the
science education community to support 21st-century skills
consistent with the best practices across preK-16 science
education system (NSTA, 2011).

Bagaimana kita mendidik siswa kita agar mereka dapat


mempersiapkan diri untuk sukses hidup di abad 21 yang penuh
tantangan? Bagaimana kita mempersiapkan mereka untuk hidup
di abad informasi? Bagaimana memberdayakan mereka agar
dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah
dimiliki di masa lalu dengan menggunakan teknologi masa kini
untuk menemukan hal-hal baru di masa depan? Bagaimana
mempersiapkan siswa kita agar dapat berpikir untuk dirinya
sendiri, membuat keputusan yang tepat, mengembangkan
keahlian, dan terus menerus belajar sepanjang hayat? Pertanyaan
ini dikemukakan oleh pendidik, pemberi kerja, orang tua, dan
masyarakat di negara-negara maju. Menurut mereka, keunggulan
masyarakat, kualitas kehidupan sehari-hari, kehidupan ekonomi,
dan kemampuan berkompetisi dalam bisnis bergantung pada
penyiapan warga negara dan angkatan kerja untuk hidup di abad
21.

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pergeseran ekonomi dari berbasis industri menjadi berbasis informasi menyebabkan
perubahan kualifikasi profesi, dimana untuk dapat bersaing pada era digital (digital age)
seseorang harus memiliki beberapa aspek yang didefinisikan sebagai Keterampilan
Abad 21. Pembelajaran pada saat ini harus dapat berkontribusi pada dunia kerja dan
masyarakat, berlatih dan membangun talenta, tanggung jawab pribadi dan sosial, serta
membawa nilai-nilai luhur. Hingga saat ini, sudah banyak lembaga-lembaga non-profit
dari berbagai negara mendefinisikan tentang keterampilan abad 21, beberapa
diantaranya adalah P21 yang menyatakan bahwa keterampilan abad 21 meliputi: (a)
Learning and innovation skills (b) Communication and collaboration (c) Information,
media and technology skills (d) Life and carrier skills. Sedangkan Binkley et al (2012:
19-20) dalam penelitiannya bersama ATCS21 membagi 21st century skills menjadi 4
grup yang terdiri dari (a) ways of thinking (b) ways of working (c) tools for working (d)
living in the world.
Terdapat 6 unsur dalam pembelajaran abad 21, yaitu menekankan pada mata
pelajaran utama, menekankan pada pengembangan keterampilan belajar, memanfaatkan
alat belajar abad 21 untuk mengembangkan keterampilan belajar, membelajarkan siswa
dalam konteks abad 21, membelajarkan konten abad 21, dan menggunakan asesmen
abad 21 yang mengukur keterampilan abad 21. Adapun langkah nyata pemerintah
Indonesia dalam menghadapi tantangan di abad ke-21 ini adalah dengan membuat
kebijakan baru tentang kurikulum. Kurikulum 2013 yang dicanangkan oleh pemerintah
RI mengacu pada 21st century skills. Hal ini tercermin pada Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) yang tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
(Permendikbud No.54). Salah satu contoh dalam pembelajaran abad 21 adalah blended
learning dan TPACK yang diterapkan oleh Prof. Dr. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D.
(2011) pada mahasiswa S1, S2, maupun S3 yang bertujuan untuk melatih kemampuan
menulis, melatih melaksanakan metakognisi, dan melatih berkomunikasi dan
berkolaborasi dalam mempelajari materi yang dipelajari di kelas.

14
B. Saran
Kajian tentang Keterampilan Abad 21 perlu dikaji lebih mendalam lagi, seperti
halnya mengenai hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru untuk setiap
aspek keterampilan abad 21 dalam proses pembelajaran, bentuk asesmen, dan contoh
soal terstandar untuk setiap aspek. Hal itu disebabkan penulis belum banyak
mempelajari lebih dalam terkait hal tersebut. Kemudian, penulis belum dapat
menemukan penelitian-penelitian yang sedang trend terkait Keterampilan Abad 21
dari berbagai jurnal yang telah dibaca.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Dr. Kuntari Eri Murti, MM. 2013. Pendidikan Abad 21 Dan


Implementasinya Pada Pembelajaran Di Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) Untuk Paket Keahlian Desain
Interior. Artikel Kurikulum 2013 SMK
2. Griffin, P., McGaw, B., & Care, E., (Eds.). 2012. Assessment
and teaching of 21st century skills .Dordrecht: Springer.
3. Partnership for 21st century skill. 2009. P21 Framework
Definitions.
4. Partnership for 21st century skill. 2007. 21st Century Skills
Assessment.
5. Prof. Dr. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. 2011. Blended Learning
untuk Menyiapkan Siswa Hidup di Abad 21. Seminar
Nasional Universitas Negeri Malang.
6. Tria Umbara & Muhammad Randy Fananta. 2011. 21st Century
Skills: Tantangan Generasi Abad ke-21. Seminar Nasional
UNY.

16