Anda di halaman 1dari 14

BAB IV

MIX DESIGN, PENCAMPURAN BETON


DAN PERAWATAN BENDA UJI

Rancangan campuran beton adalah rancangan komposisi beton yang akan


dibuat agar mendapatkan komposisi beton yang ekonomis dan memenuhi persyaratan
kelecakan, kekuatan, dan durabilitas/ ketahanan. Komposisi/jenis beton yang akan
diproduksi biasanya tergantung pada beberapa hal yaitu:
Sifat-sifat mekanis beton keras yang diinginkan yang ditentukan oleh

perencana struktur.
Sifat-sifat beton segar yang diinginkan yang dikendalikan oleh jenis
konstruksi, teknik penempatan/ pengecoran, dan pemindahan.
Tingkat pengendalian (kontrol) di lapangan.

Untuk mendapatkan komposisi campuran beton tersebut perlu dilakukan proses


yang dimulai dari suatu perancangan campuran dan kemudian diikuti oleh pembuatan
campuran awal. Sifat-sifat yang dihasilkan dari campuran kemudian diperiksa terhadap
persyaratan yang ada, dan jika perlu, dilakukan penyesuaian/ perubahan komposisi
sampai didapat hasil yang memuaskan.

Hal utama yang harus diperhatikan dalam perancangan campuran beton adalah
kekuatan beton yang disyaratkan. Biasanya, kekuatan yang disyaratkan adalah kekuatan
beton umur 28 hari. Namun, ada pertimbangan lain (misalnya: waktu pelepasan
bekisting) yang dapat menjadi alasan untuk memilih kekuatan beton umur selain 28
hari sebagai syarat yang harus dipenuhi. Faktor-faktor lainnya adalah rasio air-
semen, tipe dan kandungan semen, durabilitas, kelecakan, kandungan air, dan
pemilihan agregat.

Banyak metode yang dipakai untuk merancang suatu beton diantaranya metode SNI
T-15-1990-03, metode ACI, metode road note no.4 dan lain-lain. Pada perancangan mix
design ini kami menggunakan metode American Concrete Institute (ACI). Metode ini
mensyaratkan suatu campuran perancangan beton dengan mempertimbangkan sisi

22
ekonomisnya dengan memperhatikan ketersediaan bahan-bahan di lapangan, kemudahan
pekerjaan, serta keawetan dan kekuatan pekerjaan beton. Cara ACI melihat bahwa dengan
ukuran agregat tertentu, jumlah air perkubik akan menentukan tingkat konsistensi dari
campuran beton yang pada akhirnya akan mempengaruhi pelakasanaan pekerjaan
(workability).

4.1 Perancangan
Sebelum melakukan perancangan, data-data yang dibutuhkan harus dicari. Jika data-
data yang dibutuhkan tidak ada, dapat diambil data dari table-tabel yang telah dibuat
untuk membantu penyelesaian perancangan cara ACI ini.
Pada metode ini, input data perancangan meliputi data standar deviasi hasil pengujian
yang berlaku untuk pekerjaan yang sejenis dengan karakteristik yang sama. Selanjutnya
data tentang kuat tekan rencana, data butir nominal agregat yang akan digunakan, data
slump (jika diinginkan dengan nilai tertentu), berat jenis agregat, serta karakteristik
lingkungan yang diinginkan.

4.2 Langkah Perancangan


Data-data yang diketahui adalah sebagai berikut :
1. Mutu beton yang direncanakan adalah 35 Mpa pada umur beton 28 hari.
2. Volume pekerjaan kecil
3. Mutu pelaksanaan baik
4. Butir maksimum agregat adalah 40 mm
5. Berat kering agregat kasar adalah 1508 Kg/m3
6. Modulus Halus Butir Agregat Halus adalah 3.32
7. Tipe beton direncanakan Non Air-entrained

4.2.1. Menghitung kuat tekan rata-rata rencana (f cr)


Fc yang direncanakan = 35 MPa
Fcr = m + fc
M = 1.64 sd -------- dari tabel direncanakan nilai sd adalah 6

23
= 1.64 x 6
= 9.84 MPa
Fcr = 9.84 + 35 = 44.84 MPa
Nilai sd ditentukan dari tabel berikut :

Tabel 4.1 Nilai Standar Deviasi


Mutu Pelaksanaan (MPa)
Volume Pekerjaan Baik Sekali Baik Cukup
Kecil (<1000 M3) 4.5 - 5.5 5.5 - 6.5 6.5 - 8.5
Sedang (1000-3000 M3) 3.5 - 4.5 4.5 - 5.5 5.5 - 7.5
Besar ( >3000 M3) 2.5 - 3.5 3.5 - 4.5 4.5 - 6.5

4.2.2 Pemilihan Angka Slump


Slump menentukan kelecakan adukan campuran beton. Nilai slump dapat
dipilih dari tabel 3.2 berikut untuk berbagai jenis pengerjaan kontruksi.

Tabel 4.2 Nilai Slump yang Disarankan untuk Berbagai Jenis


Pekerjaan Konstruksi.

Slump (mm)
Jenis Konstruksi Maksimum Minimum
Dinding penahan dan Pondasi 76.2 25.4
Pondasi sederhana, sumuran dan dinding sub struktur 76.2 25.4
Balok dan dinding beton 101.6 25.4
Kolom structural 101.6 25.4
Perkerasan dan slab 76.2 25.4
Beton massal 50.8 25.4

Dalam praktikum ini kami memilih jenis konstruksi Kolom dengan


nilai slump maksimal 10.16 cm.

4.2.3 Estimasi Kebutuhan Air Pencampur


Jumlah air pencampur per satuan volume beton yang

24
dibutuhkan untuk menghasilkan nilai slump tertentu sangat
bergantung pada ukuran maksimum agregat, bentuk gradasi agregat,
dan jumlah kebutuhan kandungan udara pada campuran.
Jumlah air yang dibutuhkan tersebut tidak banyak terpengaruh
oleh jumlah kandungan semen dalam campuran.Tabel 3.3
memperlihatkan informasi mengenai kebutuhan air pencampur untuk
berbagai nilai slump dan ukuran maksimum agregat.

Tabel 4.3 Perkiraan air campuran dan persyaratan kandungan udara untuk
berbagai slump dan ukuran nominal agregat maksimum

Slump Air
9.5 12.7 19.1 25.4 38.1 50.8 76.2
(mm)
25.4-50.8 mm
210 mm
201 mm
189 mm
180 mm
165 mm
156 mm
132
76.2-127 231 219 204 195 180 171 147
152-177.8 246 231 216 204 189 180 162
Mendekati jumlah kandungan
udara dalam beton air- 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.3
25.4-50.8
entrained (%) 183 177 168 162 150 144 123
76.2-127 204 195 183 177 165 159 135
152-177.8 219 207 195 186 174 168 156

25
4.2.4 Tetapkan nilai Faktor Air Semen
Tabel 4.4 Nilai Faktor Air Semen

0.48
0.4

27.6 34.5 44.8

Nilai fcr
adalah 44.8 , maka harus dilakukan ekstrapolasi untuk mendapatkan nilai FAS dengan
tipe beton Non Air-entrained.

27.644.8 0.48x
=
34.544.8 0.4x

26
17.2 0.48x
=
10.3 0.4x

4.944+10.3 x=6.88+17.2 x

6.9 x= 1.936

x = 0.28
Maka, diperoleh nilai slump untuk fcr 44.8 MPa adalah 0.28

27
4.2.5 Perhitungan Semen yang Dibutuhkan
Air
FAS=
Semen

Air
Semen=
FAS

180
Semen= =638.30 Kg
0.28

4.2.6 Perhitungan Volume Agregat Kasar


Rancangan campuran beton yang ekonomis bisa didapat dengan
menggunakan semaksimal mungkin volume agregat kasar (atas dasar berat isi
kering/ dry rodded unit weight) per satuan volume beton. Data eksperimen
menunjukan bahwa semakin halus pasir dan semakin besar ukuran maksimum
partikel agregat kasar, semakin banyak volume agregat kasar yang dapat
dicampurkan untuk menghasilkan campuran beton dengan kelecakan yang baik.

Tabel 4.5 Persentase Agregat Kasar Per Satuan Volume Beton

28
0.71
0.69

2.8 3.0 3.32

Dengan nilai
agregat maksimum 40 mm dan Modulus Halus Butir Agregat halus 3.32 maka
harus dilakukan ekstrapolasi untuk mendapatkan nilai persentase agregat kasar

2.83.32 0.71x
=
3.03.32 0.69x

0.52 0.71x
=
0.32 0.69x

0.227+0.32 x =0.359+ 0.52 x

0.132=0.2 x

x = 0.66

Berat Agregrat Kasar = persentase agregat x berat kering agregat kasar

29
Ukuran Agregat Maks (mm) Beton Air-entrained Beton Non Air-entrained
9.5 2304 2214
12.7 2334 2256 = 0.66
19.1 2376 2304 x 1508 kg/m3
25.4 2406 2340
= 1010.36 kg
38.1 24422 2376
50.8 2472 2400
76.2 2496 2424
152.4 2538 2472
4.2.7 Perhitungan Berat
Agregat Halus

Untuk menentukan berat agregat halus, terlebih dahulu harus dihitung berat
beton segarnya yaitu melalui tabel berikut :

Tabel 4.6 Estimasi Berat Awal Beton Segar (kg/m3)

Berat beton segar = 2376 kg/m3

Berat agregat halus = Berat beton segar (berat semen + berat air + berat agregat
kasar) = 2376 (638.30 + 180 + 1010.36)

= 547.34 kg

4.2.8. Rekapitulasi Mix Design per Meter Kubik

N
Material Berat
o
1 Air 180 kg
2 Semen 638.3 kg
3 Agregat Halus 1010.36 kg 30
4 Agregat Kasar 547.34 kg
Jumlah 2376 kg
31
4.2.9 Perhitungan Jumlah Material Yang Dibutuhkan

Pada percobaan ini, digunakan benda uji berupa silinder dengan dimensi
diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Jumlah benda uji yang akan dibuat adalah 5 buah
benda uji. Dengan demikian, jumlah material yang dibutuhkan untuk membuat 5 benda
uji tersebut adalah sebagai berikut :

15

30

Volume 1 benda uji adalah


1
V = d2
4

1 2
V = 3.14 x 0.15 x 0.30
4

V = 0.005298 m3

Volume 5 benda uji adalah


V5 = 5 x 0.005298 = 0.0269 m3

Jumlah material dikalikan faktor pengali 1.2


V5 = 0.0269 x 1.2 = 0.032 m3

32
4.2.10 Rekapitulasi Kebutuhan Material Beton

N
Material Berat
o
1 Air 5.8 kg
2 Semen 20.5 kg
3 Agregat Halus 32.4 kg
17.6
4 Agregat Kasar kg
0
76.2
Jumlah kg
6

33
4.3. Pengerjaan Campuran Beton

Pencampuran bahan-bahan penyusun beton dilakukan agar diperoleh suatu komposisi


yang solid dari bahan-bahan penyusun berdasarkan rancangan campuran beton. Sebelum
diimplementasikan dalam pelaksanaan konstruksi di lapangan, pencampuran bahan-bahan
dapat dilakukan di laboratorium. Agar tetap terjaga konsistensi rancangannya, tahapan lebih
lanjut dalam pengolahan beton perlu diperhatikan. Komposisi yang baik akan menghasilkan
kuat tekan yang tinggi, tetapi jika pelaksanaannya tidak dikontrol dengan baik, kemungkinan
dihasilkannya beton yang tak susuai dengan rencana akan semakin besar. Cara pengolahan ini
akan menentukan kualitas dari beton yang akan dibuat.

4.3.1. Bahan yang diperlukan


1. Air
2. Semen
3. Agregat Halus
4. Agregat Kasar
5. Oli/Pelumas

4.3.2. Peralatan
1. Mesin Pengaduk Campuran (Mixer)
2. Ember Besar
3. Ember kecil
4. Karung goni
5. Sekop
6. Tongkat Besi
7. Bekisting Silinder
8. Slump Cone

4.3.3. Langkah Kerja


1. Siapkan rancangan mix design terlebih dahulu.
2. Timbang material sesuai dengan rancangan mix design yang telah dihitung.
3. Siapkan semua peralatan.
4. Benda uji terlebih dahulu diolesi dengan oli untuk memudahkan saat
pembukaan dan dikencangkan baut-baut pengikatnya.
5. Hidupkan mixer, atur putarannya pada kecepatan sedang.
6. Bersihkan terlebih dahulu sisa-sisa material dan kotoran yang menempel pada
dinding mixer.

34
7. Masukkan seluruh material agregat kasar ke dalam mixer.
8. Masukkan bagian material agregat halus ke dalam mixer.
9. Biarkan sejenak hingga kedua agregat tercampur dengan baik.
10. Masukkan seluruh semen ke dalam mixer.
11. Segera setelah memasukkan semen, masukkan sisa bagian agregat halus.
12. Biarkan sejenak hingga material agregat dan semen tercampur dengan baik.
13. Masukkan air ke dalam mixer, kemudian perbesar kecepatan rotasi mixer.
14. Biarkan beberapa saat sampai seluruh material tercampur dengan baik.
15. Tuang beton segar di atas permukaan triplek yang sudah disiapkan.
16. Lakukan uji slump test terlebih dahulu yaitu dengan cara memasukkan beton
segar ke dalam slump cone yang dibagi ke dalam 3 tahapan. Setiap tahapan
dilakukan pemadatan dengan tongkat besi sebanyak 25 kali. Kemudian angkat
slump cone arah vertikal dan ukurlah besarnya slump dengan cara mengukur
jarak puncak cetakan slump cone dengan ujung beton segar tersebut. Pada
praktikum ini diperoleh nilai slump sebesar 2.1 cm.
17. Setelah selesai uji slump, masukkan beton segar ke dalam semua benda uji
sampai penuh. Gunakan tongkat besi untuk memadatkan beton.
18. Lakukan pekerjaan finishing dengan meratakan permukaan benda uji.
19. Simpan benda uji dan biarkan mengeras selama 24 jam.

4.4. Pembukaan Dan Perawatan Benda Uji


Setelah dibiarkan selama 24 jam beton akan mencapai final setting, artinya beton
telah mengeras. Pada saat itulah cetakan benda uji sudah dapat dibuka untuk kemudian
dilakukan perawatan (curing) benda uji. Perawatan ini dilakukan agar proses hidrasi
selanjutnya tidak mengalami ganggguan. Jika hal ini terjadi, beton akan mengalami
keretakan karena kehilangan air yang begitu cepat.
Pada praktikum ini, kami melakukan perawatan benda uji dengan cara merendam
benda uji di dalam air selama 12 hari. Pada permukaan benda uji terlebih dahulu
diberikan tanda kelompok supaya tidak tertukar dengan benda uji kelompok yang lain.

35