Anda di halaman 1dari 3

DEFINISI PENGAWET

Definisi zat pengawet menurut Permenkes RI No.445/MENKES/PER/V/1998 adalah zat


yang dapat mencegah kerusakan kosmetika yang disebabkan oleh mikroorganisme. Istilah agen
antimikroba secara umum digunakan untuk agen kimia yang terdapat dalam kosmetika atau
produk rumah tangga baik yang memiliki aktivitas bakterisidal ataupun bakteriostatik selama
penggunaannya. Fungsi dari antibakteri adalah untuk melindungi produk (Barel, et al., 2001).

MEKANISME KERJA PENGAWET

Pengawet mempengaruhi dan mengganggu pertumbuhan mikroba, multiplikasi, dan


metabolisme melalui mekanisme modifikasi permeabilitas membran sel dan menyebabkan
kebocoran komponen penyusun sel (lisis parsial), penghambatan metabolisme seluler seperti
menghambat sintesis dinding sel, oksidasi komponen seluler, koagulasi komponen sitoplasma
yang tidak dapat balik/irreversible, dan hidrolisis.

JENIS-JENIS PENGAWET DALAM KOSMETIKA

Jenis pengawet yang sering digunakan adalah paraoxybenzoates atau yang sering dikenal
dengan paraben. Paraben juga merupakan pengawet yang banyak digunakan dalam makanan
(Mitsui, 1998). Adapun jenis-jenis pengawet yang digunakan dalam kosmetika, yaitu:

1. Asam organik dan garam serta esternya


Contohnya yaitu asam dehidroasetat, asam sorbat, asam salisilat, asam propionat dan
garamnya, juga asam benzoat berserta garamnya dan alkil ester. 4-hydroxybenzoic acid yang
paling banyak digunakan beserta alkil esternya (umumnya dikenal sebagai paraben) dan
garamnya. Adapun pengawet tersebut diantaranya metilparaben, etil paraben, propil paraben,
dan butil paraben. Aktivitas antimikroba golongan tersebut meningkat seiring dengan
peningkatan jumlah karbon pada rantai alkilnya tetapi kelarutannya dalam air menurun.

2. Aldehid dan pengawet yang melepaskan formaldehid


Contoh yang paling digunakan adalah formaldehid yang dikenal sebagai oxymethylene atau
formalin. Formalin tersebut memiliki keuntungan murah, lebih mudah larut dalam air
daripada minyak dan lemak, digunakan pada media yang berair seperti sampo, gel mandi,
sabun cair untuk cuci tangan. Tetapi formalin tersebut memiliki kekurangan diantaranya tidak
berwarna, menimbulkan gas yang iritan dapat menyebabkan mata berair, sensasi terbakar
pada mata dan tenggorokan, mual, susah bernafas, dan alergi. Berdasarkan keputusan
Cosmetic, Toiletry, and Fragrance Association (CTFA) dan EU Scientific Committee on
Consumers Products (SCCP), ditetapkan bahwa batas maksimum pengawet ini didasarkan
pada pelepasan kandungan formaldehidnya yaitu maksimum formaldehid yang dilepaskan
sebesar 0,2% contohnya benzilhemiformal 0.15% sebanding dengan 0,044% formaldehid.
3. Amina, amida, piridin dan garam benzalkonium
Contohnya triclocarbon, hexamidin, klorhexidin, dan benzalkonium klorida. 4) Fenol dan
derivatnya Contohnya fenol, klorofen, dan triklosan.
4. Alkohol dan derivatnya
Contohnya benzil alkohol, fenoxietanol, dan klorobutanol.
5. Derivat Imidazol
Contohnya Climbazole, DMDM hydantoin, Imidazolidinilurea, dan urea diazolidnil.
6. Pengawet lainnya
Contohnya Bronidox dan Methylisothiazolinone.
(Salvador and Chrisvert, 2007)

BATASAN PENGGUNAAN PENGAWET DALAM KOSMETIKA


Pengguaan bahan tambahan pengawet dalam kosmetika harus tetap memenuhi batasan
kadar yang dipebolehkan ditambahkan dalam kosmetika. Berikut ini merupakan contoh beberapa
pengawet yang sering digunakan dalam kosmetika, yaitu :

Tabel 1. Pengawet yang paling sering digunakan dalam kosmetik


Zat pengawet yang diizinkan digunakan dalam kosmetik dengan persyaratan penggunaan
dan kadar maksimum yang diperbolehkan dalam produk akhir (Keputusan BPOM RI No. HK
00.05.4.1745). Adapun beberapa bahan pengawet dan kadar maksimum yang diizinkan
digunakan dalam kosmetik (Peraturan Kepala BPOM RI No. HK 00.05.42.1018) yaitu :

Tabel 2. Kadar maksimum pengawet dalam kosmetik menurut peraturan BPOM RI