Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya menghaturkan puji dan syukur kepada Allah Yang Maha
Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan paper ini
sebagai salah satu prasyarat dalam melaksanakan Kepaniteraan Kinik Senior

pada Bagian Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin di RSUP Medan yang berjudul
URTIKARIA.

Pada kesempatan ini tak lupa saya mengucapkan banyak terima kasih

kepada yang terhormat Dr.Surya Dharma Hamidah,Sp.KK, atas


bimbingan dan arahannya selama mengikuti kepaniteraan klinik dibagian Ilmu
Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Dr. Pringadi Medan serta dalam penyusunan
dan penyelesaian Paper ini.

Sebagai manusia yang tidak sempurna, saya menyadari bahwa paper ini
masih banyak kekurangannya dan masih jauh dari sempurna, karena itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga Paper ini
bermanfaat untuk kita semua.

Medan, Januari 2016

SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 1


Ricky Febrino
FK UNBRAH
Penulis

DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR ..................................................................................................
..... 1

DAFTAR
ISI .................................................................................................................
.. 2

PENDAHULUAN .............................................................................................
............... 3

DEFINISI .......................................................................................................
................. 3

SINONIM........................................................................................................
.................3

EPIDEMOLOGI ...............................................................................................
............... 3

ETIOLOGI ......................................................................................................
................ 4

PATOGENESIS ...............................................................................................
................ 5

KLASIFIKASI...................................................................................................
..................6

SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 2


Ricky Febrino
FK UNBRAH
GEJALA
KLINIS ...........................................................................................................
.... 8

PEMERIKSAAN
PENUNJANG............................................................................................8

DIAGNOSIS ...................................................................................................
................. 8

DIAGNOSIS
BANDING ................................................................................................... 9

PENATALAKSANAAN .....................................................................................
................ 9

PROGNOSIS ..................................................................................................
................. 10

DAFTAR
PUSTAKA .......................................................................................................
.. 12

URTIKARIA

PENDAHULUAN

Urtikaria merupakan penyakit kulit yang sangat sering dijumpai.


Dapat terjadi secara akut dan kronik. Keadaan ini merupakan masalah
yang dihadapi oleh dokter dan pasien. Walaupun patofisiologi dan

SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 3


Ricky Febrino
FK UNBRAH
penyebab yang kita curigai telah diketahui, ternyata pengobatan yang
diberikan kadang-kadang tidak memberikan hasil seperti yang
diharapkan.(1,6)

Karena pengobatan urtikaria yang kadang-kadang tidak


memberikan hasil seperti yang diharapkan, maka oleh sebab itulah paper
tentang urtikaria ini dibuat. Agar kita dapat mendapatkan pengetahuan
(1,6)
yang lebih tentang penyakit urtikaria.

DEFINISI

Urtikaria adalah suatu reaksi vascular di kulit akibat bermacam-


macam sebab, biasanya ditandai dengan edema setempat yang cepat
timbul atau mendadak dan akan menghilang secara perlahan-lahan,
dengan gambaran lesi yang eritem, atau berwarna pucat, meninggi
dipermukaan kulit, serta dikelilingi halo.(1,2,3,4,6,7)

SINONIM
(1)
Hives, Nettle rash, Biduran, Kaligata.

EPIDEMOLOGI

Urtikaria merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai,


ditemukan pada semua jenis ras dan suku bangsa. Urtikaria dapat
ditemukan pada semua umur,orang dewasa lebih sering terkena urtikaria
dibandingkan usia muda. Urtikaria lebih sering pada wanita dibandingkan
.(1,3,7,)
pada laki-laki. Lama serangan urtikaria berlangsung bervariasi.

Menurut Sheldon (1951), menyatakan bahwa umur rata-rata


penderita urtikaria ialah 35 tahun. Jarang dijumpai pada umur kurang dari
(1)
10 tahun atau lebih dari 60 tahun.

Ditemukan 40% bentuk urtikaria saja, 49 % urtikaria bersama-sama


(1)
angioedema, dan 11 % dalam bentuk angioedema.

ETIOLOGI
SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 4
Ricky Febrino
FK UNBRAH
Pada penyelidikan ternyata hamper 80% tidak diketahhui penyebab
urtikaria dengan pasti. Diduga penyebab utikaria bermacam-macam
(1,2,3,4,5,6,7,,)
diantaranya:

1.Obat-obatan

Bermacam-macam obat dapat menyebabkan urtikaria, baik secara


imuonologi maupun nonimunologi. Contohnya obat-obat golongan
penisilin, sulfomid, analgesic, diuretic. (1,2,6,7)

2. Makanan

Peranan makanan ternyata lebih penting pada urtikaria akut,


umumnya akibat reaksi imunologik. Contohnya telur, kacang, udang susu,
keju, zat perwarna, zat pengawet, penyedap rasa, dll. (1,2,6,7)

3. Gigitan atau sengatan serangga

Gigitan atau sengatan serangga dapat menimbulkan urtikaria


setempat, hal ini lebih banyak diperantai oleh IgE (tipe 1) dan tipe selular
(tipe 4). Contohnya nyamuk , kepinding dan serangga lainya menimbulkan
urtikaria berbentuk popular disekitar tempat gigitannya. (1,5,7)

4. Kontakan

Kontak yang sering menimbulkan urtikaria ialah kutu binatang,


(1,2,6)
serbuk tekstil, tumbuh-tumbuhan, zat kimia.

5. Trauma fisik

Trauma fisik dapat disebabkan oleh faktor panas seperti sinar


matahari, sinar UV, radiasi, panas pembakaran. Faktor dingin seperti
berenang, memegang benda dingin. Faktor tekanan seperti pakaian ketat,
ikat pinggang, goresan. Pada trauma fisik terdapat Fenomena Darier atau
(1,2,3,)
Dermografisme

6. Infeksi dan infestasi

SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 5


Ricky Febrino
FK UNBRAH
Bermacam-macam infeksi dapat menyebabkan timbulnya urtikaria,
misalnya infeksi virus,infeksi bakteri, jamur maupun infestasi parasit.
Infeksi bakteri contohnya infeksi tonsil, infeksi gigi dan sinusitis. Infeksi
virus seperti infeksi virus hepatitis. Infeksi jamur biasanya disebabkan
(1,3)
oleh kandida, dan dermatofit.

7. Psikis

Faktor emosional atau stress perlu diperhatikan. Karena pada


tekanan jiwa atau stress dapat memacu sel mas atau langsung
menyebabkan peningkatan permeabeitas dan vasodilatasi kapiler,
vasodilatasi kapiler ini akan menyebabkan terjadinya urtikaria. Dari
penelitian ternyata 11,5% penderita urtikaria menunjukan gangguan
(1,7)
psikis.

8. Genetik

Faktor genetic ternyata juga berperan penting dalam urtikaria


(1)
walaupun jarang ditemukan.

9. Penyakit sistemik

Beberapa penyakit kolagen dan keganasan dapat menimbulkan


urtikaria. Beberapa penyakit sistemik yang sering disertai urtikaria antara
(1,7)
lain limfoma, hepatitis virus, urtikaria pingemtosa, lupus erimetosus.

PATOGENESIS

Urtikaria terjadi karena vasodilatasi pembuluh darah dermal disertai


permeabelitas kapiler yang meningkat, sehingga terjadi transudasi cairan
yang mengakibatkan pengumpulan cairan setempat. Sehingga secara
klinis tampak edema setempat disertai kemerahan.(1,6)

Vasodilatasi dan peningkatan permeabelitas kapiler dapat terjadi


akibat pelepasan mediator-mediator seperti histamine, slow reacting
substance of anaphylaxis (SRSA), dan prostaglandin. Keluarnya mediator
(1,6)
ini akibat degranulasi sel mast atau basofil.
SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 6
Ricky Febrino
FK UNBRAH
Histamin akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah di bawah kulit
sehingga kulit berwarna merah (eritema). Histamin juga menyebabkan
peningkatan permeabelitas pembuluh darah sehingga cairan dan sel,
keluar dari pembuluh darah dan mengakibatkan pembengkakan kulit
lokal. Cairan serta sel yang akan merangsang ujung saraf perifer kulit
(1,6)
sehingga timbul rasa gatal. Terjadi bentol merah yang gatal.

Baik faktor imunologik maupun faktor non imunologik mampu


merangsang sel mast atau basofil untuk melepaskan mediator mediator
seperti histamin, slow reacting substance of anaphylaxis (SRSA), dan
(1,6)
prostaglandin.

Faktor imunologik lebih berperan pada urtikaria akut daripada


urtikaria kronik. Biasanya IgE yang terikat pada permukaan sel mast dan
atau sel basofil karena adanya reseptor FC. Bila ada antigen yang sesuai
dengan IgE, terjadi ikatan antara IgE dan antigen. Sehingga terjadi
degranulasi sel mast, yang akan melepaskan mediator didalamnya seperti
histamine, slow reacting substance of anaphylaxis (SRSA), dan
prostaglandin. Keadaan ini jelas tampak pada reaksi tipe I (anafilaksis),
(1,6,)
misalnya keadaaalergi obat dan makanan.

Pada nonimunologik mungkin sekali siklik AMP (adenosine mono


phosphate) memegang peranan penting pelepasan mediator. Beberapa
bahan kimia seperti golongan amin dan derivate amin; obat-obatan
seperti morfin,kodein,polimiksin; beberapa antibiotic ; Bahan kolinergik
misalnya asetilkolin; Faktor fisik misalnya panas, dingin, benda tumpul,
sinar x dan pemijatan dapat secara langsung merangsang sel mas.
Beberapa keadaan misalnya demam, panas, emosi, dan alcohol dapat
merangsang langsung pembuluh darah kapiler sehingga terjadi
(1,6)
vasodilatasi dan peningkatan permeabelitas.

KLASIFIKASI

SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 7


Ricky Febrino
FK UNBRAH
Terdapat bermacam-macam paham atau pendapat tentang
penggolongan urtikaria. Berdasarkan lamanya serangan berlangsung,
(1,2,4)
urtikaria dibedakan atas:

1. Urtikaria Akut

Urtikaria akut dikatakan bila serangan berlangsung kurang dari 6


minggu atau berlangsung selama 4 minggu tetapi muncul setiap
hari. Dengan gejala timbul mendadak, menghilang dengan cepat,
dan pada umunya mudah diobati.

2. Urtikaria Kronis
Apabila lesi yang berlangsung lebih dari 6 minggu. Dengan gejala
timbul berulang-ulang atau menetap lebih dari 6 minggu meskipun
telah diobati.

Berdasarkan Morfologi klinis urtikaria dapat dibedakan bentuknya


yaitu urtikaria popular (bila berbentuk papul), Gruata bila besarnya
sebesar tetesan air, dan girata bila ukurannya besar-besar. Juga terdapat
(1,2,6)
yang arsinar dan anular.

Berdasarkan penyebab urtikaria dan mekanisme terjadinya, maka


(1,2)
dikenal urtikaria imunologik, non-imunologik, dan idiopatik.

Urtikaria Imunologik
1. Bergatung pada IgE (reaksi alergik tipe I).
a. Pada Atopi.
b. Antigen spesifik .
2. Ikut sertanya komplemen.
a. Pada reaksi sitotoksik (reaksi alergi tipe II).
b. Pada reaksi kompleks imun (reaksi alergi tipe III).
c. Defisiensi C1 esterase inhibitor.
3. Reaksi alergi tipe IV.
Urtikaria atas reaksi nonimunologik
1. Langsung memacu sel mas, sehingga terjadi pelepasan mediator.
2. Bahan yang menyebabkan perubahan metabolisme asam
arakidonat.
3. Trauma fisik seperti dermografisme, rangsangan dingin, panas,
atau sinar, bahan kolinergik.

SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 8


Ricky Febrino
FK UNBRAH
Urtikaria yang tidak jelas penyebabnya dan mekanismenya
digolongkan idiopatik

GEJALA KLINIS

Keluhan subyektif biasanya gatal, rasa terbakar, atau tertusuk.


Klinis tampak eritema dan edema setempat yang berbatas tegas, kadang-
kadang bagian tengah tampak lebih pucat. Ukuran lesi dapat bervariasi
mulai dari beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter. Lesi dapat
(1,2,4,6,7)
berbentuk sirkular atau serpiginosa (merambat).

Bentuk urtikaria dapat popular seperti pada urtikaria akibat


sengatan serangga, besarnya dapat retikuler, numular sampai plakat. Bila
mengenai jaringan yang lebih dalam sampai dermis, atau subkutan,
submukosa atau mengenai beberapa alat dalam seperti saluran nafas dan
(1,4,5,6,7)
saluran cerna disebut dengan angioedema.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan darah, urin dan Feses rutin.


2. Pemeriksaan imunologi seperti kadar IgE, eosinofil dan komplemen.
3. Test kulit.
4. Test eliminasi makanan.
5. Test pemeriksaan gigi, THT, paru.
6. Test dermografisme.
7. Test foto tempe.l
8. Test dengan es.
9. Test dengan air hangat. (1,2,7)

DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti dan


pemeriksaan klinis yang cermat serta pemeriksaan penunjang. Pada
anamnesis harus dilakukan dengan lengkap, cermat dan telilti untuk
menentukan faktor-faktor atau etiologi penyebab terjadinya urtikaria.

SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 9


Ricky Febrino
FK UNBRAH
Pada pemeriksaan fisik dapat kita jumpai adanya lesi khas berupa
(1,2,3,4,5,6,7,)
eritema, berbatas tegas, gatal, rasa terbakar atau tertusuk.

DIAGNOSA BANDING

Diagnose banding dari Urtikaria antara lain:

1. Pitriasis Rosea.
2. Eritema.
(1,2,4)
3. Dermatitis kontak.

PENATALAKSANAAN

UMUM(1,2,3,4,5,6,7,)

Memberikan pendidikan kepada penderita dan menjelaskan hal sebagai


berikut :

Hindari faktor pencetus terjadinya urtikaria.


Menjaga kebersihan tubuh.
Apabila terkena urtikaria untuk tidak mengaruk lesi.
Memberitahukan tentang penyakit urtikaria tersebut.
Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan.

KHUSUS(1,2,3,4,5,6,7,)

Topikal:

1. Dapat dikompres air es atau mandi dengan air hangat dengan


mencampurkan koloid avenno oatmeal yg bisa mengurangi gatal.
2. Lotion anti pruritus atau emulsi dengan 0,25 % menthol bisa
membantu dengan atau tanpa 1 % fenol dalam lotion calamine.
3. Antibiotik topikal seperti eritromisin (1%), oksi tetrasiklin (1%),
klindamisin fosfat (1%).
4. Antiperadangan topikal, salap atau krim kortikosteroid kekuatan
ringan atau sedang (hidrokortison 1-2,5%), suntikan intralesi
kortikosteroid kuat (triamsinolon asetonid 10mg/cc).

SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 10


Ricky Febrino
FK UNBRAH
Sistemik:

1. Antihistamin H1
a. Hidroxyzine HCL
Dewasa : 3 x 25 mg
Anak-anak : 3 x 0,5 mg
b. Chlorpheniramine maleat

Dewasa : 3 x 3-4 mg

Anak-anak : 3 x 00,9 mg/kgbb

c. Loratadine: 1 x 10mg
d. Cetirizine : 1 x 10 mg

2.Kombinasi antihistamin H1 dan antihistamin H2

Cimetidine : 200-400 mg, sehari 2-4 kali atau 800 mg sehari 1 kali
waktu tidur malam

3. Kortikosteroid

a. Prednisone

Dewasa : 5-10 mg/dosis, sehari 3 kali

Anak-anak : 1 mg/kgBB/Hari

b. Dexametasone

Dewasa : 0,5-1 mg/dosis, sehari 3 kali


Anak-anak : 0,1 mg/kgBB/hari

PROGNOSIS

Setelah menjalani penggobatan, urtikaria akut lebih baik karena


dapat cepat diatasi penyebabnya. Urtikaria kronik lebih sulit diatasi
(1,2,3,4,5,6,7,8)
karena penyebabnya sulit dicari.

SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 11


Ricky Febrino
FK UNBRAH
Urtikaria Pada Dada
Urtikaria Pada
Lengan

Urtikaria Pada Wajah Urtikaria Pada Kaki

Urtikaria pada Leher


SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 12
Ricky Febrino
FK UNBRAH
DAFTAR PUSTAKA

1. Aisah,siti. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Jakarta. FKUI. 2007; 169-175
2. Fk unair,RSU DR SOETOMO.surabaya. ATLAS penyakit kulit dan kelamin
3. http://www.referensisehat.com/2015/03/definisi-penyebab-gejala--cara-
mengatasi-penyakit-urtikaria-kronis-hives.html
4. journal of Wardhana, E.A. Datau. Chronic Autoimmune Urticaria
5. https://id.wikipedia.org/wiki/Urtikaria
6. Judarwanto,Widodo. Biduran,Giduan,Urtikaria bukan sekedar alergi
makanan biasa, available from : http://childrenallergyclinic.wordpress.com
7. Journal of Vella, Dhelya Widiasmara, Marsudi Hutomo.urtikaria

SMF ILMUPENYAKIT KULIT DAN KELAMIN, RSUPM, 2016 13


Ricky Febrino
FK UNBRAH