Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN CARSINOMA NASOPHARING

A. PENGERTIAN
Karsinoma nasopharing merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah
nasopharing dengan pridileksi di fossa Rossenmuler dan atap nasopharing. Karsinoma
nasopharing merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak
ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001). Karsinoma nasofaring merupakan
tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa
Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas
daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti,
2001).
ETIOLOGI
Kaitan Virus Epstein Barr dengan ikan asin dikatakan sebagai penyebab utama
timbunya penyak ini. Virus ini dapat masuk dalam tubuh dan tetap tinggal disana
tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama. Untuk
mengaktifkan virus dibutuhkan suatu mediator kebiasaan untuk mengkonsumsi
ikan asin secara terus menerus mulai dari kanak-kanak merupakan mediator utama
yang dapat mengaktifkan virus ini sehingga menimbukan Ca. Nasopharing.
Mediator yang berpengaruh untuk timbulnya Ca. Nasopharing:
1. Ikan asin, makanan yang diawetkan dan nitrosamine.
2. Keadaan social ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup.
3. Sering kontak dengan Zat karsinogen ( benzopyrenen, benzoantrance, gas kimia,
asap industri, asap kayu, beberapa ekstrak tumbuhan).
4. Ras dan keturunan (Malaysia, Indonesia)
5. Radang kronis nasofaring
6. Profil HLA

B.TANDA DAN GEJALA


Gejala Setempat
Gejala Hidung:
- Pilek dari satu atau kedua lubang hidung yang terus-menerus/ kronik
- Lendir dapat bercampur darah atau nanah yang berbau
- Epistaksis dapat sedikit atau banyak dan berulang
- Dapat juga hanya berupa riak campur darah
- Obstruksio nasi unilateral atau bilateral bila tumor tumbuh secara eksofilik
Gejala Telinga:
- Kurang pendengaran
- Tinitus
- OMP
2. Gejala karena tumbuh dan menyebarnya tumor
Merupakan gejala yang timbul oleh penyebaran tumor secara ekspansif, infiltratif
dan metastasis.

C. POHON MASALAH

alopesi G3 harga
a diri
anoreksi Perubahan nutrisi (-)
stomati dr kebutuhan
a Kerusakan pada kulit
s
kepala

Iritasi mukosa Mual Kerusakan integritas G3 integritas


mulut muntah kulit kulit

Perangsangan elektrik zona pencetus


Merusak sel-sel epitel
kemoreseptor di ventrikel IV otak
kulit

Resti perubahan Resti


membrane mukosa aral Indikasi Infeksi
Kemoterapi
Imunosupre
NYERI ssi
G3
pembuluh Eritrosit, leukosit,
Kelenjar melekat pada Sipresi sum2 sel darah trombosit
otot dan sulit di gerakan tulang merah
DIARE KOSTIPA
Menembus kelenjar & SI
mengenai otak di
bawahnya Gangguan Persepsi
Rangsanga
Sensori (pendengaran)
n
Benjolan masa pada leher bag.
samping Iritasi traktus GI
Penyumbatana muara
Pertumbuhan dan tuba
perkembangan sel-sel kanker Penekanan pada tuba
di kel. Getah bening Sifat kanker diturunkan pd
eutachius anak
Metastases el-sel kanker Pertumbuhan sel kanker
ke kelenjargetah bening pada nasofaring Kromosom ekstra terlalu
melalui aliran limfe sedikit

Diferensieasi dan Transokasi kromosom


polferasi
Pola kromosom
protein laten (EB NA-1) abnormal
Menstimulasi Terbentuk sel-sel
Pembelahan Sel muatan
Abnormsl yang tdk Kerusakan DNA pd sel
dimana
Mengaktifkan EBV
Pols kromosomnya

Konsumsi ikan asin Riwayat keluarga


meningkat
D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Nasofaringoskopi
2. Untuk diagnosis pasti ditegakkan dengan Biopsi nasofaring dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu dari hidung dan mulut. Dilakukan dengan anestesi topikal dengan
Xylocain 10 %.
3. Pemeriksaan CT-Scan daerah kepala dan leher untuk mengetahui keberadaan tumor
sehingga tumor primer yang tersembunyi pun akan ditemukan.
4. Pemeriksaan Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk mengetahui infeksi
virus E-B.
5. Pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis.
(Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 148 - 149).

E. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Radioterapi merupakan pengobatan utama ditekankan pada penggunaan
megavolte dan pengaturan dengan komputer (4000-6000 R)
2. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher (benjolan di leher
yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran
dan tumor induknya sudah hilang yang terlebih dulu diperiksa dengan radiologik
dan serologik) , pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi,
seroterapi, vaksin dan antivirus.
Pemberian ajuvan kemoterapi yaitu Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil.
Sedangkan kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum. Kombinasi
kemo-radioterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil oral sebelum diberikan
radiasi yang bersifat RADIOSENSITIZER.

F. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas
Identitas klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa,
status marital, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, No
Medrec, diagnosis dan alamat.
Identitas penanggung jawab yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
b. Riwayat kesehatan
Keluhan utama
Biasanya didapatkan adanya keluhan suara agak serak, kemampuan menelan
terjadi penurunan dan terasa sakit waktu menelan dan terdapat kekakuan dalam
menelan.

Riwayat kesehatan sekarang


Merupakan informasi sejak timbulnya keluhan sampai klien dirawat di RS.
Menggambarkan keluhan utama klien, kaji tentang proses perjalanan penyakit
sampai timbulnya keluhan, faktor apa saja memperberat dan meringankan keluhan
dan bagaimana cara klien menggambarkan apa yang dirasakan, daerah terasanya
keluhan, semua dijabarkan dalam bentuk PQRST.

Riwayat kesehatan dahulu


Kaji tentang penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya yang ada
hubungannya dengan penyakit keturunan dan kebiasaan atau gaya hidup, misalnya
pada penderita Ca tonsil adanya kebiasaan merokok, minum alkohol, terpapar zat-
zat kimia, riwayat stomatitis yang lama, oral hygiene yang jelek, dan yang
lainnya.

Riwayat kesehatan keluarga


Kaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan
klien atau adanya penyakit keturunan yang berhubungan dengan Ca Nasofaring

2. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda dan Gejala
1) Aktivitas
Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor
yangmempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
2) Sirkulasi
Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah,
epistaksis/perdarahan hidung.
3) Integritas Ego
Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis,
perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.
4) Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin,
perubahan bising usus, distensi abdomen.
5) Makanan/ Cairan
Kebiasaan diit buruk (rendah serat, aditif, bahan pengawet), anoreksia,
mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan,
kakeksia, perubahan kelembaban/turgor kulit.
6) Neurosensori
Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus
7) Nyeri/ Kenyamanan
Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di
daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran
8) Pernafasan
Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok),
pemajanan

9) Keamanan
Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama / berlebihan,
demam, ruam kulit
10) Seksualitas
Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.
11) Interaksi Sosial
Ketidakadekuatan/ kelemahan sistem pendukung
b. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Kaji tentang keadaan klien, kesadaran dan tanda-tanda vital.

2) Sistem respirasi
Jika Ca sudah membesar dan menyumbat jalan nafas maka klien akan
mengalami kesukaran bernafas, apalagi klien dilakukan Trakheostomi, produksi
sekret akan menumpuk dan mengakibatkan jalan nafas tidak efektif dengan
adanya perubahan frekuensi nafas dan stridor.

3) Sistem cardiovaskuler
Ca nasofaring dengan pemasangan Trakheostomi dan produksi sekret meningkat,
bila dilakukan suction yang berlebihan dalam satu waktu dapat merangsang
reflek nerves sehingga mengakibatkan bradikardi dan biasanya terjadi
peningkatan JVP.

4) Sistem gastrointestinal
Dapat ditemukan adanya mukosa dan bibir kering, nafsu makan menurun,
penurunan berat badan. Jika Ca sudah menyumbat saluran pencernaan dapat
dilakukan tindakan Gastrostomy.

5) Sistem muskuloskeletal
Kekuatan otot mungkin penuh atau bisa juga terjadi kelemahan dalam mobilisasi
leher karena adanya pembengkakan bila Ca sudah terlalu parah.

6) Sistem endokrin
Mungkin ditemukan adanya gangguan pada hormonal apabila ada metastase
pada kelenjar tiroid.

7) Sistem persyarafan
Biasanya ditemukan adanya gangguan pada nervus III, IV, dan VI yaitu syaraf
yang mempersyarafi otot-otot mata, nervus IX, X, XI dan XII yang
mempersyarafi glosofaringeal, vagus, asesorius dan hipoglosus. Biasanya bila
ada nyeri yang dirasakan klien dapat merangsang pada sistem RAS di formatio
retikularis sehingga menyebabkan klien terjaga.

8) Sistem urinaria
Biasanya tidak ditemukan adanya masalah, bila ada metastase ginjal, akan terjadi
penurunan fungsi ginjal.

9) Sistem wicara dan pendengaran


Dapat terjadi gangguan pendengaran yang disebabkan adanya sumbatan pada
tuba eustacius sehingga menggangu saluran pendengaran. Bila Ca sudah
bermetastase pada pita suara, maka klien tidak dapat berkomunikasi secara
verbal.

10) Sistem integumen


Klien yang mendapat terapi radiasi atau kemoterapi akan terjadi perubahan
warna hiperpigmentasi pada area penyianaran.

11) Sistem reproduksi


Biasanya dengan adanya perasaan nyeri, maka dapat menyebabkan gangguan
pada sexualitas.
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan agens cedera biologis (benjolan pada leher bagian
samping)
2. Gangguan sensori persepsi berubungan dengan gangguan status organ sekunder
metastase tumor
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan makan
(anoreksia dan mual muntah)
4. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder
imunosupresi
5. Resti gangguan integritas kulit berhu jubungan dengan penurunan imunologi, efek
radiasi kemoterapi
6. Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral behubungan dengan efek samping
agen kemoterapi radiasi
7. Gangguan harga diri rendah situasional berhubugan dengan gangguan citra tubuh
efek samping radioterapi: kehilangan rambut
8. Resiko terhadap perdarahan berhubungan dengan gangguan sistem hematopoetik

H. RENCANA KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan dan INTERVENSI RASIONAL


Keperawatan Kriteria Hasil
1 Nyeri berhubungan Setelah dilakukan 1. Lakukan pengkajian 1. Agar
dengan agens cedera tindakan keperawatan nyeri komprehensif mengetahui
biologis (benjolan selama 3 x 24 jam yang meliputi lokasi, lokasi nyeri,
pada leher bagian diharapkan pasien karakteristik, karakteristik
samping) mampu mengontrol onset/durasi, nyeri, frekuensi
nyeri dengan kriteria frekuensi, kualitas, nyeri, kualitas
hasil; intensitas atau nyeri, intensitas
beratnya nyeri dan nyeri, dan faktor
1. Mengenali kapan
faktor pencetus. pencetus nyeri
nyeri terjadi 2. Gunakan strategi 2. Agar
2. Menggunakan terapiutik nonverbal mengetahui
3. Berikan informasi
tindakan pengurangan pengalaman
mengenai nyeri,
rasa nyeri tanpa nyeri dan
analgestik (reposisi seperti penyebab sampaikan
dan gosok nyeri, berapa lama penerimaan
punggungm) nyeri akan dirasakan, pasien terhadap
dan antisipasi dari nyeri
3. Menggunakan 3. Agar pasien
ketidaknyamanan
analgestik yang mengetahui
akibat prosedur.
direkomendasikan 4. Tentukan lokasi, penyebab nyeri,
4. Melaporkan karakteristik, kualits, berapa lama
perubahan terhadap dan keparahan nyeri. nyeri akan
5. Berikan kebutuhan
gejala nyeri pada dirasakan dll.
kenyamanan dan 4. Agar kita
professional
aktivitas lain yang mengetahui
kesehatan
dapat membantu keparahan nyeri
5. Melaporkan gejala 5. Agar pasien
relaksasi untuk
yang tidak terkontrol merasa nyaman
memfasilitasi
6. Agar
pada professional penurunan nyeri
mengetahui
kesehatan 6. Cek perintah
pengobatan apa
pengobatan meliputi
6. Melaporkan nyeri yang diresepkan
obat, dosis, dan
yang terkontrol
frekuensi dan obat
analgesti yang
diresepkan
2 Gangguan sensori Setelah dilakukan 1. Tentukan ketajaman 1. Agar kita
persepsi berubungan tindakan penglihatan, apakah mengetahui
dengan gangguan keperawatan selama satu atau dua mata perbedaan di
status organ sekunder 3 x 24 jam terlibat. kedua
2. Orientasikan pasien
metastase tumor diharapkan pasien penglihatan
terhadap lingkungan
mampu beradaptasi pasien
3. Observasi tanda-tanda
2. Agar kita
terhadap perubahan
dan gejala
mengetahui
sensori pesepsi
disorientasi
lingkungan
dengan kriteria 4. Perhatikan tentang
yang aman
hasil; suram atau
1. Mengenal penglihatan kabur dan nyaman
5. Bicara dengan gerak
gangguan dan kepada pasien
mulut yang jelas 3. Agar kita
berkompensasi
6. Bicara pada sisi
mengetahui
terhadap
telinga yang sehat
tanda dan
perubahan
gejala
disorientasi
4. Agar kita
mengetahui
apakah
penglihatan
pasien kabur
atau idak
5. Agar pasien
mengetahui
apa yang kita
bicarakan
6. Agar pasien
bisa
mendengar
apa yang kita
bicarakan
3 Nutrisi kurang dari Setelah dilakukan 1. Kolaborasi dengan tim 1. Agar tujuan
kebutuhan tubuh tindakan kesehatan lain untuk tercapai
2. Agar pasien
berhubungan dengan keperawatan selama mengembangkan
dan keluarga
ketidakmampuan 3 x 24 jam rencana perawatan
mengetahui zat-
makan (anoreksia dan diharapkan pasien dengan melibatkan
zat yang
mual muntah) mampu memenuhi klien dan orang-orang
penting yang
kebutuhan nutrisi terdekat dengan tepat
2. Ajarkan dan dukung dibutuhkan
pasien dengan
konsep nutrisi yang oleh tubuh
kriteria hasil;
3. Agar kita
1. Asupan nutrisi baik dengan klien (dan
mengetahui
pasien terpenuhi orang terdekat klien
2. Asupan cairan dengan tepat) berat badan
3. Timbang berat badan
pasien terpenuhi pasien secara
3. Asupan klien dengan secara
rutin
makanan pasien rutin (pada hari yang 4. Agar
terpenuhi sama dan setelah mengetahui
4. Frekuensi mual
BAB/BAK) pola makan
berkurang 4. Monitor prilaku klien
pasien
5. Frekuensi
yang berhubungan 5. Agar
muntah
dengan pola makan, mengetahui
berkurang
penambahan dan kenaikan dan
kehilangan berat penurunan
badan. berat badan
5. Monitor berat badan
pasien
klien sesuai secara 6. Agar pasien
rutin mengetahui
6. Berikan informasi
efek dari
kepada klien dan
kemoterapi
keluarga berkaitan
yang berisiko
dengan efek radiasi
infeksi karena
pada sel maligna
kekurangan sel
7. Memonitor pasien
darah putih
mengenai anoreksia,
(mual, muntah)
mual, dan muntah
7. Agar
sesuai dengan
mengetahui
kebutuhan
keparahan mual
muntah pasien
4 Setelah dilakukan 1. Alokasi kesesuaian 1. Agar
Resiko infeksi
tindakan luas ruang per pasien, melindungi
berhubungan dengan
keperawatan selama seperti diindikasi oleh pasien dari
ketidakadekuatan
3 x 24 jam pedoman pusat risiko infeksi
pertahanan sekunder 2. Untuk menjaga
diharapkan pasoen pengendalian dan
imunosupresi lingkungan
tidak terjadi infeksi pencegahan penyakit
2. Bersihkan lingkungan
dengan kriteria dengan baik tetap bersih
3. Anjurkan pasien 3. Untuk
hasil;
1. Klien bebas dari mengenai teknik membunuh
tanda dan gejala mencuci tangan kuman yang
infeksi dengan tepat terdapat di
2. Menunjukan 4. Ajarkan pengunjung
tangan pasien
kemampuan untuk untuk mencuci tangan 4. Untuk
mencegah timbulnya pada saat memasuki membunuh
infeksi dan meninggalkan kuman yang
3. Menunjukan prilaku
ruangan pasien terdapat di
hidup sehat 5. Cuci tangan sebelum
tangan
4. Jumlah leukosit
dan sesudah
pengunjung
dalam batas normal
perawatan pasien 5. Mencegah
6. Ajarkan pasien dan
tangan dari
anggota keluarga
kuman dan
mengenai bagaimana
kontaminasi
menghindari infeksi 6. Agar pasien
7. Tingkatkan asupan
dan anggota
nutrisi yang cukup
keluarga
8. Anjurkan asupan
terhindar dari
cairan, dengan tepat
9. Anjurkan istirahat infeksi
7. Untuk
meningkatkan
asupan nutrisi
pasien seperti
makanan baik,
sehat dan
bergizi
8. Agar terhindar
dari dehidrasi
9. Agar pola
istirahat pasien
terpenuhi
5 Resti gangguan Setelah dilakukan 1. Monitor warna dan 1. Agar
integritas kulit tindakan suhu kulit mengetahui
2. Monitor perubahan
berhubungan dengan keperawatan selama perubahan
pada integritas kulit
penurunan imunologi, 3 x 24 jam warna dan suhu
dan lakukan
efek radiasi diharapkan pasien kulit
pengobatan yang tepat 2. Agar mengetahi
kemoterapi integritas kulit tetap
3. Hindari penggunaan
perubahahan
terjaga dengan
plaster adhesive dan
integritas kulit
kriteria hasil;
zat-zat lainnya yang 3. Agar kulit tidak
1. Integritas kulit
mengiritasi kulit iritasi
terjaga dengan
4. Berikan perawatan 4. Untuk
normal
kulit khusus pada area memelihara
jaringan di area kulit
5. Agar tidak iritasi
lipatan-lipatan yang
6. Untuk
cenderung terkena
melakukan
infeksi
perawatan kulit
5. Hindari penggunaan
losion cukur pada
area yang terkena
radiasi
6. Diskusikan kebutuhan
perawatan kulit
seperti
mempertahankan
tanda/warna untuk
radiasi, menghindari
pemakaian sabun dan
perlindungan ketika
berjemur atau aplikasi
panas pada kulit
6 Resiko tinggi Setelah dilakukan 1. Memonitor indikasi 1. Untuk
perubahan membran tindakan timbulnya infeksi pada mengetahui
mukosa oral keperawatan selama membrane mukosa indikasi
behubungan dengan 3 x 24 jam mulut timbulnya
2. Motivasi pasien untuk
efek samping agen diharapkan tidak infeksi
melakukan kebersihan 2. Agar tujuan
kemoterapi radiasi terjadi gangguan
mulut yang baik yang
pada membran
dengan menggunakan diharapkan
mukosa dengan
alat pembersih gigi tercapai
kriteria hasil
3. Agar tidak
1. Menunjukkan mukosa seperti; bahan yang
memperparah
oral yang bersih dan tidak berlillin, benang
iritasi mukosa
utuh gigi yang tidak
4. Agar pasien
2. Tidak menunjukkan
mengiritasi mulut,
mengetahui
adanya ulserasi atau
sikat gigi elektrik atau
tanda dan
infeksi pada rongga
water pich, sesuai
gejala dari
mulut
dengan kebutuhan
3. Melaporkan tidak perubahan
3. Mulai kegiatan
adanya nyeri, mukosa oral
restorasi kesehatan
kesulitan menelan
mulut, seperti
dan dehidrasi
penggunaan saliva
buatan, stimulant
saliva, spray mulut
yang tidak
mengandung alcohol,
permen tanpa gula,
perawatan fluoride,
nyeri dan
pembengkakan
4. Ajarkan pasien untuk
melakukan
pemeriksaan sendiri
pada rongga mulut,
termasuk tanda dan
gejala untuk dapat
dilaporkan pada
evaluasi seanjutnya
7 Gangguan harga diri Setelah dilakukan 1. Bantu pasien dalam 1. Agar
rendah situasional tindakan perencanaan menumbuhkan
berhubugan dengan keperawatan selama kerontokan rambut, rasa percaya
gangguan citra tubuh 3 x 24 jam sesuai dengan diri pasien
2. Untuk
efek samping diharapkan pasien kebutuhan kebutuhan,
mencegah
radioterapi: gangguan harga diri dengan mengajarkan
kerontokan
kehilangan rambut teratasidengan alternatife (lain)
rambut lebih
kriteria hasil; seperti penggunaan
1. Pasien mau banyak
wig, selendang, topi
3. Untuk
menerima
dan penutup kepala
menumbuhkan
tentang efek
(turban)
semangat ke
yang 2. Ajarkan pasien untuk
pasien
ditimbulkan mencuci dan menyisir
4. Agar pasien
oleh raioterapi rambut dengan lembut
mengetahui
2. Membantu
dan untuk
jumlah
pasien
menggunakan sarung
kerontokan
meningkatkan
bantal berbahan sutra
rambut pada
kepercayaan diri
untuk mencegah
pasien
kerontokan rambut
lebih banyak sesuai
dengan kebutuhan
3. Yakinkan pasien
bahwa rambutnya
akan kembali tumbuh
setelah pengobatan
dihentikan, sesuai
dengan kebutuhan
4. Informasikan pasien
perkiraan jumlah
rambut rontok sesuai
dengan terapi yang
didapatkan pasien
8 Resiko terhadap Setelah dilakukan 1. Monitor dengan ketat 1. Untuk
perdarahan tindakan risiko terjadinya mengetahui ada
berhubungan dengan keperawatan selama perdarahan pada tidaknya
gangguan sistem 3 x 24 jam pasien perdarahan
2. Catat nilai hemoglobin
hematopoetik diharapkan pada pasien
dan hematocrit 2. Untuk
perdarahan dapat
sebelum dan setelah mengetahui
teratasi dengan
pasien kehilangan nilai
kriteria hasil;
1. Tidak ada darah sesuai indikasi hemoglobin
3. Monitor tanda dan
penururan dan hematocrit
gejala pendarahan 3. Untuk
hematocrit
2. Tidak ada menetap (contoh; cek mengetahui
penurunan semua sekresi darah tanda dan
hemoglobin yang terlihat jelas gejala
3. Tanda dan gejala
maupun yang perdarahan
perdarahan 4. Untuk
tersembunyi)
teridentifikasi 4. Memonitor tanda- mengetahui
tanda vital TTV pasien
5. Intruksikan pasien dan 5. Agar keluarga
keluarga untuk bisa melakukan
memonitor tanda-tanda tindakan
perdarahan dan pencegahan
mengambil tindakan
yang tepat jika terjadi
perdarahan (misalnya;
lapor kepada perawat )
I. REFERENSI
Nanda International. 2015. Diagnosis Keperawatan : Definisi Dan Klasifikasi
2015-2017. Jakarta : Egc

Bulechek, G., Butcher. H., Dochterman J., Wargner, C., 2016. Nursing
Intervention Classification (NIC). Indonesian; Elsevier

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, L., Swanson, E., Nursing Outcome
Classification (NOC). Indonesian; Elsevier

Lab. Upf Ilmu Penyakit Tht Fk Unair. (1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi
Lab/Upf Ilmu Penyakit Tht. Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetom Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya.

R. Sjamsuhidajat &Wim De Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi.
Jakarta : Egc

Smeltzer Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Alih Bahasa Agung Waluyo, Dkk. Editor Monica Ester, Dkk. Ed. 8. Jakarta :
Egc;