Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN KANKER PARU

Oleh:

D IV Keperawatan, Tingkat II
Semester 3

RONNY ANDRIAN GUPTA


/NIM.P07120215074

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

TAHUN 2016
LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN KANKER PARU

A. PENGERTIAN
Tumor merupakan awal mula kanker. Tumor berasal dari kata tumere
dalam bahasa latin yang berarti bengkak. Tumor adalah sebutan untuk
neoplasma atau lesi padat yang terbentuk akibat pertumbuhan sel tubuh yang
tidak semestinya. Pada umumnya pertumbuhan tumor paru terbagi atas tumor
jinak atau benign (5%) antara lain adenoma, hamartoma dan tumor ganas atau
malignan (95%) adalah karsinoma bronkogenik. Kanker memiliki potensi
untuk menyerang dan merusak jaringan yang berdekatan dan menciptakan
metastasis. Tumor jinak tidak menyerang tissue berdekatan dan tidak
menyebarkan benih (metastasis), tetapi dapat tumbuh secara lokal menjadi
besar. Sedangkan tumor ganas atau malignan disebut kanker. Kanker adalah
penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak
normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali dan
akan terus membelah diri. Selanjutnya, sel kanker akan menyusup ke jaringan
sekitarnya (invasif) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, serta
menyerang organ-organ penting dan syaraf tulang belakang. Dalam keadaan
normal, sel tubuh hanya akan membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang
telah mati dan rusak. Sebaliknya, sel kanker akan terus membelah walaupun
tubuh tidak memerlukannya. Akibatnya akan terjadi penumpukan sel baru
yang disebut tumor ganas. Penumpukan sel baru tersebut akan mendesak dan
merusak jaringan normal sehingga mengganggu organ yang ditempatinya.
Karena pertimbangan klinis maka yang dibahas adalah kanker paru atau
karsinoma bronkogenik. (Suryo, 2010).
Kanker paru adalah tumor ganas paru yang berasal dari saluran napas
atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang
tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses
keganasan pada epitel bronkus didahului oleh masa pra kanker. Perubahan
pertama yang terjadi pada masa prakanker disebut metaplasia skuamosa yang
ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya silia (Robbin &
Kumar, 2007).
Kanker paru dibagi menjadi kanker paru sel kecil (small cell lung
cancer, SCLC) dan kanker paru sel tidak kecil (non-small cell lung cancer,
NSCLC). NSCLC merupakan tipe paling umum dari kanker paru-paru, dan
tidak seagresif dibandingkan dengan SCLC. NSCLC cenderung tumbuh dan
menyebar lebih lambat. Bila didiagnosa secara dini, pembedahan dan/atau
radioterapi, kemoterapi, dapat memberikan harapan akan kesembuhan. SCLC
merupakan kanker yang memiliki tingkat pertumbuhan pesat dan menyebar
cepat ke pembuluh darah menuju anggota tubuh lainnya. Seringkali, kanker
ini dikategorikan sebagai penyakit kompleks saat terdiagnosa. Kanker ini
biasanya diobati melalui kemoterapi dan bukan melalui prosedur
pembedahan. Klasifikasi ini digunakan untuk menentukan terapi.
1. Karsinoma sel skuamosa (epidermoid)
Merupakan tipe histologik kanker paru yang paling sering ditemukan,
berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk
metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka panjang, secara khas
mendahului timbulnya tumor. Karsinoma sel skuamosa biasanya terletak
sentral di sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter
tumor jarang melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar
secara langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada, dan
mediastinum. (Wilson, 2005).
2. Adenokarsinoma
Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat
mengandung mukus. Kebanyakan jenis tumor ini timbul di bagian perifer
segmen bronkus dan kadang-kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut
lokal pada paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi sering kali meluas ke
pembuluh darah dan limfe pada stadium dini dan sering bermetastasis jauh
sebelum lesi primer menyebabkan gejala-gejala.
3. Karsinoma bronkoalveolus
Dimasukkan sebagai subtipe adenokarsinoma dalam klasifikasi terbaru
tumor paru dari WHO. Karsinoma ini adalah sel-sel ganas yang besar dan
berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti
bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru perifer,
tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat
yang jauh.
4. Karsinoma sel kecil
Umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat yang terletak di sentral
dengan perluasan ke dalam parenkim paru dan keterlibatan dini kelenjar
getah bening hilus dan mediastinum. Kanker ini terdiri atas sel tumor
dengan bentuk bulat hingga lonjong, sedikit sitoplasma, dan kromatin
granular. Gambaran mitotik sering ditemukan. Biasanya ditemukan
nekrosis dan mungkin luas. Sel tumor sangat rapuh dan sering
memperlihatkan fragmentasi dan crush artifact pada sediaan biopsi.
Gambaran lain pada karsinoma sel kecil, yang paling jelas pada
pemeriksaan sitologik, adalah berlipatnya nukleus akibat letak sel tumor
dengan sedikit sitoplasma yang saling berdekatan (Kumar, 2007).
5. Karsinoma sel besar
Adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan
sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini
cenderung timbul pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan
penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh (Wilson,
2005).

B. TANDA DAN GEJALA


Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala klinis. Bila
sudah menunjukkan gejala berarti pasien dalam stadium lanjut. (Sudoyo Aru)
Keluhan utama:
1. Batuk-batuk dengan/tanpa dahak (dahak putih, dapat juga purulen) lebih
dari 3 minggu
2. Batuk darah
3. Sesak napas
4. Suara serak
5. Nyeri dada yang persisten
6. Sulit/sakit menelan
7. Benjolan di pangkal leher
8. Sembab muka dan leher, kadang-kadang disertai sembab lengan dengan
rasa nyeri yang hebat. Tidak jarang yang pertama terlihat adalah gejala
atau keluhan akibat metastasis di luar paru, seperti kelainan yang timbul
karena kompresi hebat di otak, pembesaran hepar. Ada pula gejala dan
keluhan tidak khas seperti :
1. Berat badan berkurang
2. Nafsu makan hilang
3. Demam hilang timbul

C. Pohon Masalah :
Faktor Kimiawi Faktor Genetik Faktor Fisik Faktor Nutrisi

Faktor Bioorganisme infeksi saluran pernapasan

Bahan Karsinogenik mengendap

Iritasi mukosa bronkus

Peradangan Kronik

Pembelahan sel yang tidak terbatas

KANKER PARU
Ulserasi Bronkus Karsinoma Sel Besar metaplasia sel skuamosa

Karsinoma sel oat Pada bronkus

Reaksi Radang obstruksi bronkus

Obstruksi bronkus Prognosis buruk

Penumpukan sekret empisema Ketidakefektifan


Bersihan Jalan
Ansietas Nafas

Batuk Penekanan saraf Gangguan


Pertukaran
Gas
Anoreksia Nyeri kadar O2 ke jaringan menurun

Gangguan Pemenuhan Nutrisi : lemah atau letih


Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
Intoleransi
Aktivitas
Gambar 1 : Pathway Kanker Paru-paru

Sumber : NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan

Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Radiologi.
a. Foto thorax posterior anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi
adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi.
Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural,
atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
b. Bronkhografi.
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.

2. Laboratorium.
a. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe). Dilakukan untuk
mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
b. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA. Dapat dilakukan untuk mengkaji
kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.
c. Tes kulit, jumlah absolute limfosit. Dapat dilakukan untuk
mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru).
3. Histopatologi.
a. Bronkoskopi. Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan
pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat
diketahui).
b. Biopsi Trans Torakal (TTB). Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi
yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai
90 95 %.
c. Torakoskopi. Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang
lebih baik dengan cara torakoskopi.
d. Mediastinosopi. Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar
getah bening yang terlibat.
e. Torakotomi. Torakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila
bermacam macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya
gagal mendapatkan sel tumor.
4. Pencitraan.
a. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.

E. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Manajemen umum : terapi radiasi
2. Pembedahan : Lobektomi, pneumonektomi, dan reseksi.
3. Terapi obat : kemoterapi

F. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Data Subjektif:
Anamnesis
Anamnesis yang lengkap serta pemeriksaan fisik merupakan kunci untuk
diagnosis tepat. Keluhan dan gejala klinis permulaan merupakan tanda
awal penyakit kanker paru. Batuk disertai dahak yang banyak dan kadang-
kadang bercampur darah, sesak nafas dengan suara pernafasan nyaring
(wheezing), nyeri dada, lemah, berat badan menurun, dan anoreksia
merupakan keadaan yang mendukung. Beberapa faktor yang perlu
diperhatikan pada pasien tersangka kanker paru adalah faktor usia, jenis
kelamin, keniasaan merokok, dan terpapar zat karsinogen yang dapat
menyebabkan nodul soliter paru.
2. Data Objektif
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan berupa
perubahan bentuk dinding toraks dan trakea, pembesaran kelenjar getah
bening dan tanda-tanda obstruksi parsial, infiltrat dan pleuritis dengan
cairan pleura.
Pemeriksaan Fisik :
Pada pemeriksaan fisik pasien dengan kanker paru akan didapatkan
sebagai berikut :
a. Inspeksi
Cahaya yang adekuat diperlukan agar perawat dapat membedakan
warna, bentuk dan kebersihan tubuh klien. Fokus inspeksi pada setiap
bagian tubuh meliputi : ukuran tubuh, warna, bentuk, posisi, simetris.
Dan perlu dibandingkan hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu
dengan bagian tubuh lainnya. Contoh : mata kuning (ikterus), terdapat
struma di leher, kulit kebiruan (sianosis), dan lain-lain.
b. Auskultasi
Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan
suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat yang
disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi
jantung, suara nafas, dan bising usus. Suara tidak normal yang dapat
diauskultasi pada nafas adalah :
1) Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-
saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus,
sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia, TBC.
2) Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi
maupun saat ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila
klien batuk. Misalnya pada edema paru.
3) Wheezing : bunyi yang terdengar ngiii.k. bisa dijumpai pada
fase inspirasi maupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut,
asma.
4) Pleura Friction Rub : bunyi yang terdengar kering seperti suara
gosokan amplas pada kayu. Misalnya pada klien dengan
peradangan pleura.
c. Palpasi
Palpasi adalah suatu teknik yang menggunakan indera peraba. Tangan
dan jari- jari adalah instrumen yang sensitif digunakan untuk
mengumpulkan data, misalnya tentang : temperatur, turgor, bentuk,
kelembaban, vibrasi, ukuran. Langkah-langkah yang perlu
diperhatikan selama palpasi :
1) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan santai
2) Tangan perawat harus dalam keadaan hangat dan kering
3) Kuku jari perawat harus dipotong pendek
4) Semua bagian yang nyeri dipalpasi paling akhir. Misalnya : adanya
tumor, oedema, krepitasi (patah tulang), dan lain-lain.
d. Perkusi
Perkusi bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk dan
konsistensi jaringan. Perawat menggunakan kedua tangannya sebagai
alat untuk menghasilkan suara. Adapun suara-suara yang dijumpai
pada perkusi adalah :
1) Sonor : suara perkusi jaringan yang normal.
2) Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat, misalnya di
daerah paru-paru pada pneumonia.
3) Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi
daerah jantung, perkusi daerah hepar.
4) Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih
berongga kosong, misalnya daerah caverna paru, pada klien asthma
kronik.

Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk :
1) Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker
paru. Kerusakan pada paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal
paru atau pemeriksaan analisis gas.
2) Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker
paru pada organ-organ lainnya.
3) Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker
paru pada jaringan tubuh baik oleh karena tumor primernya
maupun oleh karena metastasis.
b. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang paling utama
dipergunakan untuk kanker paru. Kanker paru memiliki gambaran
radiologi yang bervariasi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk
menentukan keganasan tumor dengan melihat ukuran tumor, kelenjar
getah bening, dan metastasis ke organ lain. Pemeriksaan radiologi
dapat dilakukan dengan metode tomografi komputer.Pada pemeriksaan
tomografi komputer dapat dilihat hubungan kanker paru dengan
dinding toraks, bronkus, dan pembuluh darah secara jelas.Keuntungan
tomografi komputer tidak hanya memperlihatkan bronkus, tetapi juga
struktur di sekitar lesi serta invasi tumor ke dinding toraks.Tomografi
komputer juga mempunyai resolusi yang lebih tinggi, dapat
mendeteksi lesi kecil dan tumor yang tersembunyi oleh struktur normal
yang berdekatan.
c. Sitologi
Sitologi merupakan metode pemeriksaan kanker paru yang
mempunyai nilai diagnostik yang tinggi dengan komplikasi yang
rendah.Pemeriksaan dilakukan dengan mempelajari sel pada
jaringan.Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan gambaran
perubahan sel, baik pada stadium prakanker maupun kanker. Selain
itu dapat juga menunjukkan proses dan sebab peradangan.
Pemeriksaan sputum adalah salah satu teknik pemeriksaan yang
dipakai untuk mendapatkan bahan sitologik.Pemeriksaan sputum
adalah pemeriksaan yang paling sederhana dan murah untuk
mendeteksi kanker paru stadium preinvasif maupun invasif.
Pemeriksaan ini akan memberi hasil yang baik terutama untuk kanker
paru yang letaknya sentral. Pemeriksaan ini juga sering digunakan
untuk skrining terhadap kanker paru pada golongan risiko tinggi.
d. Bronkoskopi
Setiap pasien yang dicurigai menderita tumor bronkus merupakan
indikasi untuk bronkoskopi.Dengan menggunakan bronkoskop fiber
optik, perubahan mikroskopik mukosa bronkus dapat dilihat berupa
nodul atau gumpalan daging. Bronkoskopi akan lebih mudah
dilakukan pada tumor yang letaknya di sentral. Tumor yang letaknya di
perifer sulit dicapai oleh ujung bronkoskop.
e. Biopsi Transtorakal
Biopsi aspirasi jarum halus transtorakal banyak digunakan untuk
mendiagnosis tumor pada paru terutama yang terletak di perifer. Dalam
hal ini diperlukan peranan radiologi untuk menentukan ukuran dan
letak, juga menuntun jarum mencapai massa tumor. Penentuan letak
tumor bertujuan untuk memilih titik insersi jarum di dinding kulit
toraks yang berdekatan dengan tumor.

f. Torakoskopi
Torakoskopi adalah cara lain untuk mendapatkan bahan guna
pemeriksaan histopatologik untuk kanker paru. Torakoskopi adalah
pemeriksaan dengan alat torakoskop yang ditusukkan dari kulit dada
ke dalam rongga dada untuk melihat dan mengambil sebahagian
jaringan paru yang tampak.Pengambilan jaringan dapat juga dilakukan
secara langsung ke dalam paru dengan menusukkan jarum yang lebih
panjang dari jarum suntik biasa kemudian dilakukan pengisapan
jaringan tumor yang ada.

1. Aktivitas/ istirahat.
Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan
rutin, dispnea karena aktivitas.
Tanda : Kelesuan( biasanya tahap lanjut).
2. Sirkulasi.
Gejala : JVD (obstruksi vana kava). Bunyi jantung : gesekan
pericardial (menunjukkan efusi), Takikardi/ disritmia, Jari tabuh.
3. Integritas ego.
Gejala : Perasaan takut. Takut hasil pembedahan,Menolak kondisi yang
berat/ potensi keganasan.
Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang- ulang.
4. Eliminasi.
Gejala : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil). Peningkatan
frekuensi/ jumlah urine (ketidakseimbangan horm[onal, tumor
epidermoid)
5. Makanan/ cairan.
Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan
masukan makanan, Kesulitan menelan, Haus/ peningkatan masukan
cairan.
Tanda : Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap lanjut) Edema
wajah/ leher, dada punggung (obstruksi vena kava), edema wajah/
periorbital (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor
epidermoid).
6. Nyeri/ kenyamanan.
Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak
selalu pada tahap lanjut) dimana dapat/ tidak dapat dipengaruhi oleh
perubahan posisi. Nyeri bahu/ tangan (khususnya pada sel besar atau
adenokarsinoma) Nyeri abdomen hilang timbul.
7. Pernafasan.
Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan atau
produksi sputum. Nafas pendek, Pekerja yang terpajan polutan, debu
industri, Serak, paralysis pita suara. Riwayat merokok
Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerja. Peningkatan fremitus taktil
(menunjukkan konsolidasi). Krekels/ mengi pada inspirasi atau
ekspirasi (gangguan aliran udara), krekels/ mengi menetap;
pentimpangan trakea ( area yang mengalami lesi). Hemoptisis.
8. Keamanan.
Tanda : Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma) Kemerahan,
kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
9. Seksualitas.
Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik, karsinoma sel
besar) Amenorea/ impotent (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma
sel kecil)

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d adanya eksudat di alveolus,
obstruksi bronkial sekunder karena invasi tumor
2. Gangguan pertukaran gas b/d hipoventilasi
3. Nyeri akut berhubungan b/d agen cidera (karsinoma), penekanan saraf
oleh tumor paru
4. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d
ketidakmampuan untuk menelan makanan, anoreksia, kelelahan dan
dyspnea
5. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai oksigen Z
6. Ansietas b/d proses perkembangan penyakit

H. RENCANA KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA INTERVENSI (NIC)


KEPERAWATAN HASIL (NOC)
1. Ketidakefektifan NOC NIC
bersihan jalan nafas a. Respiratory Airway management
1. Posisikan pasien untuk
b/d adanya eksudat status :
memaksimalkan ventilasi
di alveolus, Ventilation
2. Identifikasi pasien
obstruksi bronkial b. Respiratory
perlunya pemasangan alat
sekunder karena status : Airway
jalan nafas buatan
invasi tumor patency 3. Keluarkan sekret dengan
Setelah dilakukan batuk atau suction
4. Ajarkan cara melakukan
tindakan keperawatan
batuk efektif
3x24 jam diharapkan
5. Mengelola kelembaban
mampu mempertahankan
udara atau oksigen
kebersihan jalan nafas 6. Auskultasi suara nafas,
dengan kriteria : catat adanya suara
a.Mendemonstrasikan tambahan
7. Mengatur asupan cairan
batuk efektif dan suara
untuk mengoptimalkan
nafas yang bersih, tidak
keseimbangan cairan
ada sianosis dan
8. Memonitor status
dyspneu (mampu
pernapasan dan
mengeluarkan sputum,
oksigenasi
mampu bernapas
dengan mudah) Airway suctioning
b.Menunjukkan jalan 1. Ajarkan cara menjaga
nafas yang paten kebersihan tangan
2. Auskultasi suara nafas
(frekuensi pernafasan
sebulum dan sesudah
rentang normal, tidak
suctioning
ada suara nafas
3. Informasikan pada klien
abnormal)
c.Mampu dan keluarga tentang
mengidentifikasi dan suctioning
4. Minta klien nafas dalam
mencegah faktor yang
sebelum suction
dapat menghambat
dilakukan
jalan nafas
5. Berikan O2 dengan
menggunakan nasal untuk
memfasilitasi
suktionnasotrakeal
6. Anjurkan pasien untuk
istirahat dan napas dalam
setelah kateter
dikeluarkan dari
nasatrakeal
7. Ajarkan keluarga
bagaimana cara
melakukan suksion
8. Hentikan sucsion dan
berikan oksigen apabila
pasien menunjukan
bradikardi, peningkatan
saturasi O2,dll.
9. Teknik suction berbeda,
berdasarkan respon klinis
pasien
10. Pantau dan catat sekresi
warna, jumlah dan
konsistensi
11. kirim sekresi untuk tes
kultur dan sensitivitas
Respiratory Monitoring
1. Monitor tingkat,
kedalaman irama dan
usaha respirasi
2. Pantau dyspnea dan
peristiwa yang
meningkatkan dan
memperburuk kondisi
pasien
3. Monitor hasil ront-gen
dada
2. Gangguan pertukaran NOC NIC :
Management asam basa
gas b/d hipoventilasi a. Respiratory Status :
1. Posisikan pasien untuk
Gas
memaksimalkan
exchange
ventilasi
b.Keseimbangan asam 2. Dapatkan atau
basa, Elektrolit pertahankan jalur
c. Respiratory Status : intravena
3. Pertahankan kepatenan
ventilation
jalan nafas
a. Vital Sign Status
4. Monitor tanda gagal
Setelahdilakukan tindakan
nafas
keperawatan selama 3x24 5. Monitor kepatenan
jam gangguan pertukaran respirasi
6. Lakukan fisioterapi
pasien teratasi dengan
dada jika perlu
kriteria hasil:
7. Keluarkan sekret
a. Mendemonstrasikan
dengan batuk
peningkatan ventilasi
atausuction
dan oksigenasi yang 8. Auskultasi suara nafas,
adekuat catat adanyasuara
b. Memelihara
tambahan
kebersihan paru paru 9. Berikan bronkodilator
10. Barikan pelembab
dan bebas dari tanda-
udara
tanda distress
11. Atur intake untuk cairan
pernafasan
mengoptimalkan
c. Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan
nafas yang bersih,
status O2
tidak ada sianosis dan
13. Catat pergerakan
dyspneu
dada,amati kesimetrisan,
(mampumengeluarkan
penggunaan otot
sputum,mampu tambahan,retraksi otot
bernafas dengan supraclavicular
mudah, tidak ada danntercostal
14. Monitor suara nafas,
pursedlips)
d. Tanda-tanda vital seperti dengkur
15. Monitor pola nafas :
dalam rentang normal
bradipena,
takipenia,kussmaul,
hiperventilasi, cheyne
stokes,biot
16. Auskultasi suara nafas,
catat area penurunan /
tidak adanya ventilasi
dansuara tambahan
17. Monitor TTV, AGD,
elektrolit dan
ststusmental
18. Observasi sianosis
khususnya membrane
mukosa
19. Jelaskan pada pasien
dan keluarga tentang
persiapan tindakan dan
tujuan penggunaan alat
tambahan (O2,
Suction,Inhalasi)
20. Auskultasi bunyi
jantung, jumlah, irama
dan denyut jantung
3. Nyeri akut b/d agen NOC : NIC :
a. Pain level Pain Management
cidera (karsinoma),
b. Pain control 1. Lakukan pengkajian nyeri
penekanan saraf oleh c. Comfort level
secara komprehensif
tumor paru Setelah dilakukan
termasuk lokasi,
tindakan keperawatan
karakteristik, furasi,
selama 3 x 24 jam. Pasien
frekuensi, kualitas dan
tidak mengalami nyeri, faktor presipitasi
2. Observasi reaksi nonverbal
dengan :
dari ketidaknyamanan
Kriteria Hasil
3. Bantu pasien dan keluarga
a. Mampu mengontrol
untuk mencari dan
nyeri (tahu penyebab
menemukan dukungan
nyer, mampu 4. Kontrol lingkungan yang
menggunakan teknik dapat mempengaruhi nyeri
nonfarmakologi untuk seperti suhu rungan,
mengurangi nyeri, pencahayaan dan
mencari bantuan) kebisingan
b. Melaporkan bahwa 5. Kurangi faktor presipitasi
nyeri berkurang nyeri
6. Kaji tipe dan sumber nyeri
dnegan menggunakan
untuk menentukan
manajemen nyeri
c. Mampu mengenali intervensi
7. Ajarkan tentang teknik non
nyeri (skala,
farmakologi : napas dala,
intensitas, frekuensi
relaksasi, distraksi, kompres
dan tanda nyeri)
d. Menyatakan rasa hangat/dingin
8. Berikan informasi tentang
nyaman setelah nyeri
nyeri seperti penyebab
berkurang
e. Tanda vital dalam nyeri, berapa lama nyeri
rentang normal akan berkurang dan
f. Tidak mengalami
antisipasi ketidaknyamanan
gangguan tidur
dari prosedur
9. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesic
Distraction
1. Dorong pasien untuk
memilih teknik distraksi
(musik, terlibat dalam
percakapan atau bercerita,
mengingat kejadian yang
menyenangkan, berfokus
pada foto, humor, atau
latihan pernapasan dalam)
2. Identifikasi dengan pasien
daftar kegiatan yang
menyenangkan
3. Dorong partisipasi keluarga
dalam memberikan teknik
distraksi yang diperlukan
4. Evaluasi respon pasien
terhadap kegiatan distraksi
5. Anjurkan pasien tentang
manfaat merangsang
berbagai rasa melalui musik,
membaca,dll.
Relaxation Therapy
1. Jelaskan manfaat
relaksasi, batasan, dan
jenis relaksasi yang
tersedia
2. Pertimbangkan kesediaan
individu untuk
berpartisipasi,
kemampuan untuk
berpartisipasi, sebelum
memilih strategi relaksasi
tertentu
3. Gunakan nada lembut
suara dengan lambat, bila
perlu
4. Evaluasi hasil relaksasi
dicapai, dan secara
berkala memantau
ketegangan otot, denyut
jantung, tekanan darah
4. Ketidakseimbangan NOC : NIC :
Nutrition Management
nutrisi: kurang dari a. Nutritional status
kebutuhan tubuh b/d : food and fluid a.Kaji adanya alergi
ketidakmampuan untuk b. Nutritional status makanan
a. Kolaborasi dengan ahli
menelan makanan, : nutrient intake
gizi untuk menentukan
anoreksia, kelelahan c. Weight control
jumlah kalori dan nutrisi
dan dyspnea Setelah dilakukan asuhan
yang dibutuhkan pasien
keperawatan 3 x 24 jam
b. Anjurkan pasien untuk
diharapkan masalah
meningkatkan protein
keperawatan
dan vitamin C
ketidakseimbangan nutrisi c. Yakinkan diet yang
kurang dari kebutuhan dimakan mengandung
tubuh dapat teratasi tinggi serat untuk
dengan mencegah konstipasi
d. Berikan makanan yang
Kriteria Hasil :
terpilih (sudah
a. Adanya
dikonsultasikan dengan
peningkatan berat
ahli gizi)
badan sesuai
e. Ajarkan pasien
dengan tujuan
bagaimana membuat
b. Berat badan ideal
catatan makanan harian
sesuai dengan
f. Monitor jumlah nutrisi
tinggi badan
dan kandungan kalori
c. Mampu
g. Kaji kemampuan pasien
mengidentifikasi
untuk mendapatkan
kebutuhan nutrisi
nutrisi yang dibutuhkan
d. Tidak ada tanda-
Nutrition Monitoring
tanda malnutrisi a. BB pasien dalam batas
e. Menunjukkan
normal
peningkatan fungsi b. Monitor adanya
pengecapan dari penurunan berat badan
c. Monitor tipe dan jumlah
menelan
f. Tidak terjadi aktivitas yang biasa
penurunan berat dilakukan
g. Berikan informasi d. Monitor interaksi anak
tentang kebutuhan atau orang tua selama
nutrisi makan
e. Monitor lingkungan
selama makan
f. Jadwalkan pengobatan
dan tindakan tidak
selama jam makan
g. Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
h. Monitor turgor kulit
i. Monitor mual dan
muntah
j. Monitor kadar albumin,
total protein, Hb, dan
kadar Ht
k. Monitor pertumbuhan
dan perkembangan
l. Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
m. Monitor kalori dan
intake kalori
n. Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik
papilla lidah dan cavitas
oral
o. Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
Nutrition Therapy
a. Dorong pasien untuk
memilih makanan
setengah lunak jika
kekurangan air liur atau
mengalami kesulitan
menelan
b. Bantu pasien untuk
memilih makanan
lembut, hambar, dan
makanan tidak asam,
yang sesuai
c. Tentukan kebutuhan
menggunakan selang saat
makan
d. Hentikan penggunaan
selang bantu makan, jika
asupan oral telah normal
e. Monitor lingkungan
pasien untuk
menciptakan suasana
yang menyenangkan dan
santai
f. Bantu pasien untuk posisi
duduk sebelum makan
atau saat makan
g. Pantau hasil pemeriksaan
laboratorium, yang sesuai
Nutritional Counseling
a. Tentukan kebiasaan
asupan makanan pasien
b. Identifikasi perilaku
makan harus diubah
c. Berikan informasi, yang
diperlukan, tentang
perlunya kesehatan untuk
modifikasi diet:
penurunan berat badan,
penurunan kolesterol dan
sebagainya
d. Diskusikan makanan
yang disukai dan tidak
sukai pasien
e. Bantu pasien dalam
menyatakan perasaan
dan kekhawatiran tentang
pencapaian tujuan
f. Puji upaya untuk
mencapai tujuan
5. Intoleransi aktivitas b/d NOC : NIC :
Activity therapy
ketidakseimbangan a. Energy
a. Kolaborasi dengan
suplai oksigen conservation
tenaga rehabilitasi medik
b. Activity tolerance
dalam merencanakn
c. Self care : ADLs
program terapi yang tepat
Setelah dilakukan b. Bantu klien untuk
tindakan keperawatan mengidentifikasi aktivitas
3x24 jam diharapkan yang mampu dilakukan
c. Bantu klien untuk
mampu beraktivitas
memilih aktivitas yang
seperti biasa dengan
konsisten yang sesuai
kriteria :
dengan kemampuan fisik,
Kriteria hasil :
psikologi dan sosial
a. Berpartisipasi
d. Bantu pasien
dalam aktivitas
mengidentifikasi dan
fisik tanpa disertai
mendapatkan sumber
peningkatan
yang diperlukan untuk
tekanan darah,
aktivitas yang diinginkan
nadi, dan RR e. Bnatu pasien untuk
b. Mampu mendapatkan alat
melakukan bantuan aktivitas seperti
aktivitas sehari- kusi roda, krek
f. Bantu untuk
hari (ADLs) secara
mengidentifikasi aktivitas
mandiri
yang disukai
c. Mampu
g. Bnatu klien untuk
berpindah : dengan
membuat jadwal latihan
atau tanpa bantuan
di waktu luang
alat h. Bantu pasien/keluarga
d. Status untuk mengidentifikasi
kardiopulmonari kekurangan dalam
adekuat beraktivitas
i. Bantu pasien untuk
e. Status respirasi :
pertukaran gas dan mengembangkan
ventilasi adekuat motivasi diri dan
penguatan
j. Monitor respon fisik,
emosi, sosial dan
spiritual
6. Ansietas b/d proses NOC NOC
perkembangan penyakit a. Anxiety self-control Anxiety Reduction
b. Anxiety level (penurunan kecemasan)
c. Coping a. Gunakan pendekatan yang
Setelah dilakukan menenangkan
tindakan keperawatan b. Nyatakan dengan jelas
3x24 jam diharapkan harapan terhadap pelaku
pasien merasa tenang dan pasien
nyaman dengan kriteria : c. Jelaskan semua prosedur
Kriteria Hasil : dan apa yang dirasakan
a. Klien mampu selama prosedur
mengidentifikasi dan d. Pahami prespektif pasien
mengungkapkan terhadap situasi stress
gejala cemas e. Temani pasien untuk
b. Mengidentifikasi, memberikan keamanan dan
mengungkapkan dan mengurangi takut
menunjukkan tehnik f. Dorong keluarga untuk
untuk mengontrol menemani anak
cemas g. Lakukan back/ neck rub
c. Vital sign dalam batas h. Dengarkan dengan penuh
normal perhatian
d. Postur tubuh, ekspresi i. Identifikasi tingkat
wajah, bahasa tubuh kecemasan
dan tingkat aktivitas j. Bantu pasien mengenal
menunjukkan situasi yang menimbulkan
berkurangnya kecemasan
kecemasan k. Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
l. Instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi
Berikan obat untuk
mengurangi kecemasan

I. IMPLEMENTASI
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi

J. EVALUASI
Evaluasi Formatif
Evaluasi Sumatif

K. REFERENSI

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC.

Jakarta.

Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.

Elizabeth, J. Corwin.2008. Buku Saku Patofisiologis. Jakarta: ECG

Gloria, dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) Sixth Edition.

Amerika : Elsevier Mosby

Ikhsanuddin. 2013. Keperawatan. http://repository.usu .ac.id/bitstream /12345

6789/3583/1/keperawatan-ikhsanuddin2.pdf

NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi

2012-2014. Jakarta: EGC.

Nurarif & Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis


Medis & NANDA NIC NOC Edisi revisi jilid 1. Yogyakarta: Mediaction

Suryo, Joko. 2010. Herbal Penyembuhan Gangguan Sistem Pernapasan.

Yogyakarta: B First
Tarwoto, 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Gangguan Sistem Persyarafan .
Jakarta: Sagung Seto.
William, Lippicont . 2008 . Nursing: Memahami Berbagai Macam Penyakit .
Jakarta: Indeks.

Denpasar, 16 November 2016

Mengetahui,

Pembimbing Praktek/CI Mahasiswa

Ronny Andrian Gupta

NIM. P07120215074

Mengetahui,

Pembimbing Akademik/CT

NIP. 197108141994021001