Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

MANFAAT LATIHAN FISIK PADA PASIEN DENGAN HEMODIALISA


Di Ruang Hemodialisa RSUD Wangaya Kota Denpasar

Oleh :
Ni Putu Anggelina Wijaya 1202106044
Komang Taranita Shanti 1202106034
Ni Made Angga Agustini 1202106045
Putu Puput Dirgahayu 1202106021
Nyoman Aditya Agung Pramana 1202106058
I Made Dana Putra 1202106041
Ni Putu Eka Sintia Dewi Astiti 1202106023
Luh Ketut Vicky Novi Andani 1202106082

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
MEI, 2017
SATUAN ACARA PENYULUHAN
MANFAAT LATIHAN FISIK PADA PASIEN DENGAN HEMODIALISA
Hari/Tanggal : Kamis, 18 Mei 2017
Waktu : 40 menit
Tempat Pelaksanaan : Ruang Hemodialisa RSUD Wangaya
Sasaran : Pasien dan keluarga yang menjalani hemodialisa di
RSUD Wangaya
Topik Kegiatan : Penyuluhan Tentang Latihan Fisik pada Pasien
Hemodialisa

A. LATAR BELAKANG
Chronic kidney disease (CKD) adalah suatu proses patofisiologis dengan
etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang
irreversibel dan progresif dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit
sehingga menyebabkan uremia (Black & Hawk, 2009; Smeltzer & Bare, 2008;
Sudoyo dkk, 2006). Di Indonesia diperkirakan insidens PGK berkisar 100
150 per 1 juta penduduk dan prevalensi mencapai 200 250 kasus per juta
penduduk (Firmansyah, 2010).
Terapi penggantian ginjal (renal replacement therapy) merupakan salah satu
terapi yang dipertimbangkan pada pasien penyakit ginjal kronik tahap akhir.
Terapi penggantian ginjal dapat berupa dialisis dan transplantasi ginjal
(Sudoyo dkk, 2006; Le Mone, 2008). Salah satu tindakan dialisis yaitu
hemodialisis merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam
keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialisis jangka pendek atau pasien
dengan penyakit ginjal stadium terminal yang membutuhkan terapi jangka
panjang atau permanen (Smeltzer & Barre, 2008).
Pasien akan mengalami sejumlah permasalahan dan komplikasi serta adanya
berbagai perubahan pada bentuk dan fungsi system dalam tubuh setelah
dilakukan hemodialisa ( Smeltzer & Bare, 2008; Knap, 2005).
Salah satu permasalahan yang sering dikeluhkan pasien yang menjalani
hemodialisis rutin adalah kelemahan otot. Kelemahan otot tersebut disebabkan
adanya pengurangan aktivitas, atrofi otot, miopati otot, neuropati atau
kombinasi diantaranya (Muniralanam, 2007; Klinger, 2004).
Penguatan otot dapat dilakukan dengan mengkontraksikan otot. Salah satu
cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan latihan fisik. Latihan
fisik penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan tubuh
secara keseluruhan (Fritz, 2005; Potter & Perry, 2006). Selama dialisis banyak
program latihan fisik yang dapat dilakukan pasien dengan didukung fasilitas
dan dimonitor oleh tim kesehatan. Latihan fisik selama hemodialisis dapat
menjaga stabilitas tekanan darah sistolik dan diastolik (Hidayati, 2009).
Casteneda et al dalam Johansen (2005) menyebutkan bahwa latihan fisik dapat
memperbaiki kekuatan otot ( nilai p < 0,001). Pada atrofi otot beberapa
penelitian melaporkan bahwa latihan ketahanan secara signifikan
meningkatkan kekuatan otot dan ukuran miofiber pada pasien dengan
kegagalan ginjal (Adam et al, 2006; Johansen, 2005). Sehingga sangat penting
diberikan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya dan manfaat latihan fisik
pada pasien dengan hemodialisa
.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan selama 35 menit diharapkan pasien dan
keluarga pasien yang menjalani hemodialisa dapat memahami manfaat latihan
fisik pada pasien yang melakukan hemodialisa.
2. Tujuan Khusus
a. pasien dapat menjelaskan manfaat aktivitas latihan pada pasien
hemodialisa
b. pasien dapat menjelaskan jenis aktivitas latihan pada pasien hemodialisa
c. pasien dapat menjelaskan prinsip aktivitas latihan pada pasien hemodialisa
d. pasien dapat melakukan latihan range of motion (ROM) selama
hemodialisa

C. PESERTA PENYULUHAN
Pasien dan keluarga yang melakukan hemodialisa di RSUD Wangaya Kota
Denpasar

D. PENYELENGGARA PENYULUHAN
Penyelenggara penyuluhan manfaat aktivitas fisik pada pasien dengan
hemodialisa adalah mahasiswa semester sepuluh Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

E. METODE PELAKSANAAN
1. Ceramah
2. Demonstrasi
3. Tanya jawab

F. STRATEGI PELAKSANAAN
Tahap Kegiatan Waktu
Pembukaan Mengucapkan salam 5 menit
Melakukan perkenalan diri
Menyampaikan maksud dan tujuan
Mengadakan kontrak waktu
Kerja Menjelaskan manfaat aktivitas latihan 20 menit
pada pasien hemodialisa
Menjelaskan jenis aktivitas latihan pada
pasien hemodialisa
Menjelaskan prinsip aktivitas latihan pada
pasien hemodialisa
Menjelaskan latihan range of motion
(ROM) selama hemodialisa
Tanya jawab 10 menit
Penutup Mengakhiri kontrak 5 menit
Melakukan evaluasi kegiatan
Salam penutup
Jumlah 40 menit

G. MEDIA DAN ALAT


1. Power point
2. Leaflet
H. SETTING TEMPAT

1 2

4 4
4 3 3 4
4 4
3
4 3 4
4 3 4
Keterangan gambar:
1. Moderator 5
2. Penyuluh
3. Fasilitator
4. Peserta
5. Observer

I. PENGORGANISASIAN
Moderator : Ni Putu Eka Sintia Dewi Astiti
Penyaji : Komang Taranita Shanti
Observer : Ni Made Angga Agustini
Fasilitator : Putu Puput Dirgahayu
Nyoman Aditya Agung Pramana
I Made Dana Putra
Ni Putu Anggelina Wijaya
Luh Ketut Vicky Novi Andani

J. KRITERIA EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
Rencana kegiatan dipersiapkan 3 hari sebelum kegiatan dan informasi
kepengurusan 2 hari sebelum kegiatan.

2. Evaluasi Proses
Kegiatan berlangsung tepat waktu
Peserta yang hadir 80% dari jumlah
total peserta
Tempat : Ruang hemodialisa
RSUD Wangaya
Peserta yang aktif bertanya 70%
dari total peserta.

3. Evaluasi Hasil
a. pasien dapat menjelaskan manfaat aktivitas latihan pada pasien
hemodialisa
b. pasien dapat menjelaskan tentang jenis aktivitas latihan pada
pasien hemodialisa
c. pasien dapat menjelaskan prinsip aktivitas latihan pada pasien
hemodialisa
d. pasien dapat melakukan latihan range of motion (ROM) selama
hemodialisa

K. LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Materi
2. Leaflet

LAMPIRAN
MATERI PENYULUHAN LATIHAN FISIK PADA PASIEN
HEMODIALISA

1. Definisi Latihan Fisik


Latihan fisik didefinisikan sebagai pergerakan terencana, terstruktur yang
dilakukan untuk memperbaiki atau memelihara satu atau lebih aspek kebugaran
fisik (Orti, 2010). Latihan yang dilakukan secara teratur dan sesuai menjadi
bagian yang penting dalam mempertahankan kesehatan dan menjadi salah satu
bagian program rehabilitasi dan terapi pada penyakit kronis ( Knap et al, 2005).
Pada pasien penyakit ginjal kronik penting untuk melakukan latihan yang
disesuaikan dengan kondisi secara teratur (Knap et al, 2005). Latihan dapat
dimulai dengan kerjasama yang baik antara dokter, perawat dan pasien dengan
terapi terbaik terhadap keluhan yang ada.

2. Manfaat Latihan Fisik


Pada pasien dengan penyakit ginjal kronik latihan fisik secara teratur
memberikan manfaat yang besar. Latihan yang kurang, atrofi otot, kemampuan
kerja fisik dan fungsi yang lemah, prevalensinya sangat tinggi pada pasien-
pasien penyakit ginjal tahap akhir dan potensial dapat diperbaiki dengan
melakukan latihan fisik (Nasution, 2010).
Latihan fisik yang dilakukan pada saat hemodialisis dapat meningkatkan aliran
darah pada otot, memperbesar jumlah kapiler serta memperbesar luas dan
permukaan kapiler sehingga meningkatkan perpindahan urea dan toksin dari
jaringan ke vaskuler. Menurut Takhreem (2008) latihan fisik dapat
menunjukkan adanya perbaikan pada kebugaran tubuh, fungsi fisiologis,
ketangkasan, dan meningkatkan kekuatan otot ekstremitas bawah.
Hasil adaptasi adalah peningkatan efisiensi sistem kardiovaskuler dan otot
otot yang aktif. Hasil dari perubahan perubahan tersebut adalah peningkatan
performance. Perubahan perubahan tersebut tidak dihasilkan dari satu kali
latihan akan tetapi perlu dilaksanakan secara teratur untuk mencapai
danmempertahankan kebugaran (Fritz, 2005). Perubahan fisiologi yang terjadi
dengan latihan adalah :
Respon kardiovaskuler terhadap latihan
Stimulasi serat serat otot pada otot rangka meliputi respon syaraf
simpatik. Respon sistem syaraf simpatis secara umum meliputi
vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan meningkatkan kontraktilitas
otot jantung, meningkatkan denyut jantung dan peningkatan tekanan darah
sehingga akan meningkatkan dan distribusi kembali cardiac output.
Meningkatnya cardiac output karena peningkatan kontraktilitas otot
jantung, denyut jantung dan aliran darah sepanjang otot yang bekerja.
Perubahan selama istirahat meliputi penurunan denyut nadi dengan
penurunan dominasi syaraf simpatik dan kadar epinephrine dan
norepinephrine. Terjadi penurunan tekanan darah dan seringkali terjadi
peningkatan volume darah dan hemoglobin yang memfasilitasi pengiriman
oksigen.

Respon pernapasan terhadap latihan


Terjadi perubahan dengan cepat pada pernapasan, peningkatan pertukaran
gas, peningkatan suhu tubuh, peningkatan kadar epinephrine dan
peningkatan stimulasi reseptor sendi dan otot. Peningkatan aliran darah
pada otot yang bekerja akan menyediakan tambahan oksigen. Perubahan
yang terjadi pada saat istirahat termasuk volume paru yang lebih luas
karena perbaikan fungsi paru. Perubahan dengan latihan terjadi karena
kapasitas difusi yang lebih luas dalam paru paru karena volume paru
yang lebih luas dan area permukaan kapilary alveolar yang lebih besar.
Bernapas menjadi lebih dalam dan lebih efisien.

3. Jenis latihan fisik yang dibutuhkan :


Ada 2 jenis latihan fisik untuk pasien hemodialisis regular yang dapat
dilakukan di rumah dan dilakukan selama hemodialisa:
Flexibility exercise
Latihan ini membuat kerja sendi menjadi lebih baik, dan pergerakan
menjadi lebih mudah, dapat dilakukan setiap hari dengan melakukan
peregangan otot dengan gerakan yang lambat. Latihan ini dilakukan
dengan meregangkan otot-otot hingga terasa tegangan yang ringan, dan
menahannya hingga 10 sampai 20 detik, bernafas dalam dan perlahan
ketika peregangan dilakukan, lalu keluarkan nafas perlahan saat menahan
pada posisi tersebut. Latihan ini mulai dari kepala, leher dan ke bawah
menuju kaki. Pengulangan dilakukan sedikitnya sebanyak 3 kali.
Conohnya: yoga, dan latihan pernafasan

Cardiovaskuler exercise
Juga disebut aerobik exercise, membuat jantung, paru-paru dan sirkulasi
bekerja lebih efisien. Dilakukan dengan gerakan ritmik, tetap dari lengan
ataupun kaki. Tujuan dari gerakan ini adalah memperbaiki ketahanan
(endurance). Contohnya : jalan kaki atau jogging.

Strengthening exercise
Latihan ini membuat otot lebih kuat dengan melawan gaya resistensi.
Dalam latihan ini bisa membuat otot bekerja lebih keras. Latihan ini
dimulai dengan perlahan dan secara bertahap. Selalu diawali pemanasan
dengan aktivitas ringan dan banyak istirahat agar otot rilek. Menarik nafas
ketika melakukan gerakan dan mencegah meningginya tekanan darah
berlebihan.Contohnya: melakukan latihan range of motion (ROM) selama
hemodialisis

4. Prinsip latihan
Lama Aktivitas Latihan
Lakukan selama 30 menit dalam satu sesi. Lamanya aktivitas latihan harus
dibangun perlahan-lahan sampai tingkat ini. Jika pasien merasa mampu seperti
berjalan selama 45 sampai 60 menit, silakan dilakukan selama masih bisa
ditoleransi oleh tubuh.
Frekuensi Aktivitas Latihan
Aktivitas latihan di rumah setidaknya tiga hari dalam seminggu. Aktivitas
latihan harus dilakukan secara nonconsecutive misalnya, Senin, Rabu dan
Jumat. Tiga hari seminggu adalah persyaratan minimum untuk mencapai
manfaat latihan.
Kapan seharusnya pasien tidak melakukan aktivitas latihan
Pasien seharusnya tidak dianjurkan melakukan aktivitas latihan tanpa berbicara
dengan dokter jika Salah satu dari berikut ini terjadi:
Pasien mengalami demam
Pasien mengubah jadwal pengobatan
Kondisi fisik Pasien telah berubah
Pasien memiliki masalah sendi atau tulang yang memburuk olahraga
Jika Pasien berhenti berolahraga karena alasan ini, bicaralah dengan Dokter
sebelum mulai lagi melakukan aktivitas latihan

Tanda-tanda pasien harus menghentikan aktivitas latihan


Berhenti sebentar jika Anda memperhatikan hal-hal berikut selama latihan:
Jika pasien merasakan sakit dada
Jika pasien merasa detak jantung tidak teratur atau cepat
Jika pasien terkena kram kaki
Jika pasien merasa pusing.

5. Langkah-langkah latihan Range of Motion (ROM)


Latihan Range of Motion (ROM) merupakan latihan penting yang untuk
melatih rentang gerakan di sendi tubuh. Latihan ROM pada pasien
hemodisalisa dianjurkan untuk dilakukan rutin setiap hemodialisa. Setiap
gerakan dilakukan sebanyak 10 kali pada setiap sendi. Latihan ROM dapat
dilakukan posisi duduk atau berbaring. Langkah-langkah latihan ROM
berdasarkan bagian tubuh, yaitu :
Leher
Menggerakkan dagu menempel ke dada, mengembalikan kepala ke posisi
tegak, dan menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin
Memiringkan kepala sejauh mungkin kearah setiap bahu.
Memutar kepala sejauh mungkin ke arah setiap bahu.

Bahu
Menaikkan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan ke posisi diatas
kepala, mengembalikan lengan ke posisi di samping tubuh dan
menggerakkan lengan ke belakang tubuh, siku tetap lurus.
Menaikkan lengan ke posisi samping diatas kepala dengan telapak tangan
jauh dari kepala dan menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubuh
sejauh mungkin.
Dengan siku fleksi, memutar bahu dengan menggerakkan lengan sampai
ibu jari menghadap ke dalam dan ke belakang
Dengan siku fleksi, menggerakkan lengan sampai ibu jari ke atas dan
samping kepala.
Menggerakan lengan dengan gerakan penuh.

Siku dan Lengan Bawah


Menekuk siku sehingga lengan bawah bergerak ke depan sendi bahu dan
tangan sejajar bahu dan Meluruskan siku dengan menurunkan lengan.
Memutar lengan bawah dan tangan sehingga telapak tangan menghadap ke
atas dan memutar lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap ke
bawah

Pergelangan Tangan
Menggerakkan telapak tangan ke sisi bagian dalam lengan bawah
Menggerakkan jari-jari sehingga jari-jari, tangan dan lengan bawah berada
dalam arah yang sama
Membawa permukaan tangan dorsal ke belakang sejauh .mungkin.
Menekuk pergelangan tangan miring ke ibu jari dan menekuk pergelangan
tangan miring ke arah lima jari

Jari-Jari Tangan
Membuat genggaman, meluruskan jari-jari tangan dan menggerakkan jari-
jari tangan ke belakang sejauh mungkin
meregangkan jari-jari tangan yang satu dengan yang lain dan merapatkan
kembali jari-jari tangan
Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada tangan yang sama.

Pinggul
Menggerakkan tungkai ke depan dan ke atas, menggerakkan kembali ke
samping tungkai yang lain
Menggerakkan tungkai ke samping menjauhi tubuh dan menggerakkan
kembali tungkai ke posisi medial dan melebihi jika mungkin
Tekuk lutut dan dekatkan lutut menuju dada dan kembalikan kaki ke
tempat tidur, dan ulangi dengan kaki lainnya
Tekuk lutut dan silangkan kaki di atas paha dan dorong lutut ke arah bahu
yang berlawanan, ulangi dengan kaki lainnya.

Jari-Jari Kaki
Perlahan tekuk pergelangan kaki ke atas dan kemudian kembalikan ke
posisi semula
Melengkungkan jari-jari kaki ke bawah, meluruskan jari-jari kaki
Merenggangkan jari-jari kaki satu dengan yang lain dan merapatkan
kembali bersama-sama.
DAFTAR PUSTAKA

Adams, R.G., &Vaziri, D.N. (2005). Skeletal muscle dysfunction in chronic renal
failure : effects of exercise. Am J Physiol 290: F753-F761,2006, diperoleh
dari http://ajprenal.physiology.org tanggal 3 Mei 2017

Altintepe, L., Levendoglu F., Okudan, N., Guney I. (2006). Physical disability,
psychological status, and health-related quality of life in older hemodialysis
patients and age-matched controls. Hemodialysis International; 10:260-266,
diperoleh dari http://www.interscience.com tanggal 3 Mei 2017

Black, J.M.,&Hawks, J.H. (2009). Medical Surgical Nursing Clinical Managemen


for Positive Outcome. (8th ed). St. Louis: Elsevier

Daugirdas, J.T., Blake, P.G., Ing,T.S., (2007). Handbook of Dialysis. (4th ed).
Lippincott : Philadelphia

Deligiannis. (2004). Exercise rehabilitation and skeletal muscle benefits in


hemodialysis patients.Clin Neprol.2004. May 61 supp1: s46-50, diperoleh
dari http www. Ncbi.com, diperoleh tanggal 3 Mei 2017

Fritz. S. (2005). Sport & exercise massage. St. Louis Missouri : Elsevier Mosby.
Ganong. F.W., (2005). Buku ajar fisiologi kedokteran ( Review of medical
physiologi) alih bahasa Pendit, B.U., EGC : Jakarta

Headley,C.M., & Wall.B. (2000).Advanced practice nurses : Role in the


hemodialysis unit. Nephrologi nursing journal, 27.177-187

Ignatavicius D.D, & Workman L.M., (2006) Medical surgical nursing critical
thinking for collaboration care (5th). St. Louis. Elsevier

Kallenbach.J.C., Gutch.C.F., Martha.S.H, & Corla, A.L (2005). Review of


hemodialisis for nurses and dialisis peritoneal 7th edition. St Louis:
Elsevier Mosby

Klinger. S.A, (2004). Why do my muscle feel weak than I am on dialysis.


aakpRENALIFE, September 2004, Vol. 20 No.2, diperoleh dar
www.aakp.org tanggal 3 Mei 2017

Knap B, Ponikvar B.J, Ponikvar R, Bren F.A. (2005). Regular exercise as a part of
treatment for patients with end stage renal disease. Therapeutic Apheresis
and Dialysis; 9 (3):211-213, diperoleh dari http://www.Proquesumi.pq
dauto tanggal 3 Mei 2017

Kusmana. D (2007). Olah raga untuk orang sehat dan penderita penyakit jantung.
FKUI: Jakarta

Orti. E.S., ( 2010) Exercise in hemodyalisis patients : A literature systematic


review. Nefrologia 2010: 30(2) : 236 246. diperoleh dari
http://revistanefrologia.com pada tanggal 3 Mei 2017

Parsons, T.K., Tosselmire E.D., King-VanVlack C.E. Exercise training during


hemodialysis improves dyalisis efficacy and physical performance.
Exercise Arch phys med rehabil: 2006; 87:680-7, diperoleh dari
http;//www. Interscience.com

Potter & Perry (2006)., Renata Kumalasari dkk, ( Alih Bahasa ) Fundamental
Keperawatan: EGC Jakarta

Price. (2006). Patofisiologi konsep klinis proses proses penyakit. EGC. Jakarta
Rehabilitation & exercise for renal patient. (2006). Renal Resource Centre.
Diperoleh dari htttp://www.renalresource.com, tanggal 3 Mei 2017

Smeltzer, S.C., & Bare. B.G., (2009). Texbook of medikal surgical nursing (11th
ed). Philladelphia: Lipincott Williams & Wilknis

Suleman. A, Riaz. K (2008). Exercise physiology. Physiologi :emedicine sport


medicine update 10 September 2008, Diperoleh melalui
http://www.medscape.com tanggal 3 Mei 2017

Takhreem, M., (2008) The effectiveness of intradialityc exercise prescription on


quality of life in patient with chronic kidney disease. Medscape J Med.
2008; 10 (10): 228, diperoleh melalui http://.ncbi.nlm.nih.gov tanggal 3
Mei 2017