Anda di halaman 1dari 3

2.

2 KONDISI INFRASTRUKTUR HSR JAKARTA-BANDUNG


2.2.1 Latar Belakang Proyek HSR
Kota Jakarta dan Bandung merupakan dua kota besar di Indonesia yang
menjadi pusat perekonomian saat ini. Dengan potensi ekonomi yang masih sangat
tinggi, Pemerintah merasa perlu menyelaraskan pembangunan infrastruktur
koridor Jakarta-Bandung dengan gerak pembangunan perekonomian yang terjadi
di sekitar Jakarta dan Bandung. Dengan kondisi tersebut, kereta cepat menjadi
pilihan pemerintah sebagai bentuk modernisasi transportasi massal di Indonesia
dalam membangun konektivitas antar kota, dan pembangunan kawasan untuk
mendorong pembangunan kawasan dan memaksimalkan potensi besar Koridor
Jakarta-Bandung. Kereta cepat Jakarta-Bandung ini akan terbentang dari Halim
sampai dengan Tegal Luar sepanjang 142,3 km. Proyek ini direncanakan akan
beroperasi pada 2019 nanti, dan merupakan kereta cepat pertama di Asia Tenggara
dan belahan bumi bagian Selatan.
Menurut Presiden Indonesia Joko Widodo, koridor Jakarta-Bandung
memiliki potensi besar dalam pengembangan industri, perdagangan, dan
pariwisata sehingga dapat memunculkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar
6%. Kereta ini direncanakan akan melewati 9 kabupaten/kota yaitu: Jakarta Timur
(DKI Jakarta), Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kota
Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kota Bandung
dan Kabupaten Bandung. Meskipun pembangunan kereta cepat ini sudah
direncanakan dengan cukup seksama, namun proyek ini belum tercantum dalam
RTRW kota maupun kabupaten yang dilaluinya.
Dalam pembangunannya, pemerintah bekerjasama dengan PT. Kereta
Cepat Indonesia China (KCIC), dengan tidak ada jaminan pemerintah,
pembiayaan APBN dan subsidi tarid, setelah 50 tahun kereta cepat Jakarta-
Bandung akan dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah. KCIC merupakan gabungan
konsorsium Tiongkok (China Railway) dan konsorsium BUMN Indonesia yang
terdiri atas PT. Wijaya Karya, PT. Jasa Marga, dan PT. Perkebunan Nusantara, dan
PT. Kereta Api Indonesia. Proyek ini akan menghabiskan lahan sekitar 650 hektar
beserta biaya investasi proyek sebesar USD 5,573 miliar. Diperkirakan harga tiket
kereta dalam satu kali perjalanan akan mencapai Rp 200.000 per orang.
Dalam operasionalnya, pendapatan dari pengadaan kereta cepat tidak
hanya berasal dari penerimaan tiket saja, tetapi juga dari perluasan bisnis pada
kawasan stasiun dan sekitarnya yang berbentuk Transit Oriented Development
(TOD). Dalam hal ini, Walini akan dikembangkan sebagai Kota Baru dan Transit
Oriented Development yang memiliki luas sekitar 1270 hektar dan dikelola oleh
PT. KCIC.
Dalam mendukung penyediaan tenaga kerja, disediakan pendidikan dan
pelatihan serta magang di bidang perkeretaapian untuk mendukung penyiapan
tenaga kerja Indonesia yang ahli dan terampil. Sekda Jabar, Iwa Karniwa,
mengatakan pihaknya telah meminta PT KCIC memberi ruang kepada tenaga
kerja lokal asal Jawa Barat khususnya di daerah-daerah yang dilalui proyek Kereta
Cepat Bandung-Jakarta.

2.2.4 Progres Proyek

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menjelaskan


secara detil pelaksanaan Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) proyek KA
Cepat Jakarta-Bandung. Beliau mengatakan proyek sudah dikonsultasikan di awal
oleh Kementerian Perhubungan pada Oktober 2015, dokumen formal sudah
masuk November 2015, pemrakarsa sudah lakukan sosialisasi di surat kabar
(lokal) pada 12 Desember, lalu dilaksanakan konsultasi publik untuk Jakarta
Timur dan Bekasi.

Pada 28 Desember dilakukan persiapan rapat tim teknis oleh Tim AMDAL. Di
dalam Tim AMDAL tersebut, masuk sebagai anggota adalah Dirjen Planologi dan
Tata Lingkungan. Dalam rapat teknis, Tim AMDAL membahas kerangka acuan
AMDAL.

Pada Januari 2016, progres AMDAL dirapatkan. Hasilnya, Surat


Keputusan Kelayakan Lingkungan dan Izin Lingkungan terbit satu hari kemudian
atau tanggal 20 Januari siang. Hasil AMDAL terbit satu hari sebelum proyek
kereta cepat groundbreaking pada 21 Januari 2016. Setelah izin AMDAL
diterbitkan, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberi ruang ke publik
memberi masukan selama satu bulan. Hasilnya, KLH menerima banyak catatan
publik dengan izin yang sudah dikeluarkan. Siti Nurbaya juga menyebut Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) sudah dibahas dan diusulkan ke Kementerian
Agraria dan Tata Ruang (ATR) pada Desember 2015. Penetapan trase kereta cepat
di dalam RTRW kabupaten/kota yang dilalui sudah ada kesepakatan yang
dipimpin oleh Sekretaris Daerah Jawa Barat.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno


mempertanyakan waktu berlakunya konsesi Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung
yang dipatok Kementerian Perhubungan. Rini menilai waktu berlakunya konsesi
kereta api cepat dibedakan dengan konsesi proyek infrastuktur lainnya. Kemenhub
akan memberikan waktu konsesi KA Cepat selama 50 tahun. Konsesi itu berlaku
setelah dokumennya ditandatangi oleh KCIC.