Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN SOSIALISASI PANGAN LOKAL

Cintai Singkongku, Lestari Panganku

Disusun oleh
Kelompok 3
Anggota Kelompok :
Ike Khasanatut D 151710101049
Baity Nur Jannah 151710101064
Firas Nuryanti 151710101109
Siti Romlah 151710101127
Ahmad Dzicky J 151710101130

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1 PENDHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar mata pencaharian
penduduknya dengan bertani, sehingga Indonesi memiliki sumber daya alam yang
beragam dengan dukungan iklim yang cocok untuk bertani. Akan tetapi hal
tersebut mulai luntur karena meningkatnya kepadatan penduduk yang tidak
diimbangi dengan lahan pertanian akibat pengalihfungsian menjadi lahan
pemukiman (Karsin, 2004). Hal tersebut juga mengakibatkan hilangnya kultur
budaya Indonesia yang terkenal beragam suku dan kebudayaan yang beragam.
Selain itu masyarakat Indonesia lebih senang mengkonsumsi pangan
impor di era globalisasi seperti saat ini (Sumiyati, 2015). Faktor lainnya yaitu
kurang optimalnya dalam membangun ketahanan pangan nasional, padahal
berbagai jenis makanan dapat dipakai sebagai salah satu ukuran tingginya
kebudayaan dari bangsa yang bersangkutan yang mencerminkan potensi alam
daerah masing-masing (Susanto dalam Rosyidi, 2006). Kenyataannya konsumsi
masayarakat Indonesia terhadap panganan lokal tradisional semakin berkurang
karena masyarakat lebih memilih konsumsi terhadap pangan pokok beras.
Oleh karena itu perlu dilakukan divesifikasi pangan demi melepaskan
Indonesia dari jeratan pangan impor dan penggunaan satu jenis bahan pangan
seperti konsumsi beras sebagai bahan pokok tunggal. Bahan-bahan pangan hasil
pertanian lainnya masih dapat dimanfaatkan untuk menjadi pengganti makanan
pokok misalnya pangan lokal seperti pemanfaatan umbi-umbian, biji-bijian, labu,
pisang, singkong dan yang lainnya.
Pemanfaatan tanaman singkong sebagai bahan pangan pengganti beras
beralasan karena kandungan karbohidrat kompleknya dan kaya akan serat serta
dapat diolah menjadi kripik singkong, tiwul, tepung tapioka atau mocaf, gethuk,
sawut dan lainnya. Pengolahan singkong menjadi beragam pangan lokal dapat
meningkatkan minat konsumsi terhadap singkong. Sawut merupakan pangan lokal
yang terbuat dari singkong, kelapa parut dan gula jawa. Akan tetapi penyajian
sawut yang hanya seadanya tidak dapat menarik minat masyarakat untuk
mengkonsumsinya, sehingga perlu dilakukan modifikasi terhadap penyajian sawut
yakni salah satunya adalah sawut talam. Ibu-ibu pengajian di desa ... hanya
mengenal sawut dengan penyajian sederhana tanpa tersentuh pengolahan dan
penyajian yang lebih modern. Oleh karena itu perlu dilakukan sosialisasi agar
sawut talam dapat dikenal masyarakat luas dan meningkatkan pemahaman
masyarakat terhadap diversifikasi pangan lokal.
1.2 Tujuan
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas maka dapat diketahui tujuan
yaitu:
1. Memberikan informasi kepada ibu pengajian mengenai difersivikasi singkong
sebagai pangan lokal.
2. Meningkatkan kecintaan masyrakat terhadap produk pangan lokal.
3. Menjadikan pangan lokal sebagai alternatif kebutuhan energi masyarakat.

1.2 Manfaat
Adapun manfaat dari dilakukannya kegiatan sosialisasi pangan lokal antara
lain.
1. Menambah wawasan dan pengetahuan akan pentingnya pangan lokal bagi
ibu pengajian selaku ibu rumah tangga.
2. Mengenalkan produk pangan lokal kepada ibu pengajian jalan Baturaden.
3. Menerapkan konsumsi pangan lokal berupa singkong sebagai alternatif
sumber energi dari nasi.
4. Menjaga budaya kearifan pangan lokal di lingkungan masyarakat.
BAB 2. REVIEW LITERATUR

2.1 Pangan
Menurut UU Pangan No. 18 Tahun 2012 pangan adalah segala sesuatu yang
berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan,
peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang
diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk
bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan
dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau
minuman. Pengertian pangan yang dimaksudkan dalam penelitian ini atau sesuai
dengan konteks ketahanan pangan nasional difokuskan pada jenis pangan yang
mendominasi kandungan karbohidrat.Jenis makanan atau pangan yang
dimaksudkan terdiri atas beras, jagung, ketela, singkong, jenis ubi-ubian, dan jenis
ketela.
Pangan adalah hak asasi setiap individu untuk memperolehnya dengan
jumlah yang cukup dan aman serta terjangkau.Oleh karena itu, upaya pemantapan
ketahanan pangan harus terus dikembangkan dengan memperhatikan sumberdaya,
kelembagaan dan budaya lokal.Pangan merupakan kebutuhan dasar
manusia.Tersedianya pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi, sehat serta halal
merupakan syarat utama guna mewujudkan masyarakat yang bermartabat serta
sumberdaya yang berkualitas.Pangan juga merupakan hak asasi setiap individu
untuk memperolehnya dengan jumlah yang cukup dan aman serta terjangkau.Oleh
karena itu, upaya pemantapan ketahanan pangan harus terus dikembangkan
dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya local (Lembata,
2009).

2.2 Pangan Lokal


Pangan Lokal adalah makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat
sesuai dengan potensi dan kearifan lokal (UU RI nomor 18 tahun 2012).makanan
yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan
lokal. Pangan lokal merupakan produk pangan yang telah lama diproduksi,
berkembang dan dikonsumsi di suatu daerah yang umunya diolah dari bahan
bakulokal, teknologi lokal, serta pengetahuan lokal pula. Sehingga produk pangan
lokal berkaitan dengan budaya lokal, Oleh karena itu, produk ini sering kali
menggunakan nama daerah, seperti gudek jogja, dodol garut, jenang kudus, beras
cianjur, dan sebagainya (Hariyadi, 2010).
Aneka ragam pangan lokal tersebut berpotensi sebagai bahan alternatif
pengganti beras. Sebagai contoh, di Papua ada beberapa bahan pangan lokal
setempat yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai bahan
baku pengganti beras, seperti ubi jalar, talas, sagu, gembili, dan jawawut. Produk
pangan lokal tersebut telah beradaptasi dengan baik dan dikonsumsi masyarakat
Papua secara turun temurun (Wahid Rauf dan Sri Lestari, 2009). Selain di Papua,
beberapa pangan lokal yang telah dimanfaatkan oleh masyarakatnya sebagai
bahan pengganti beras adalah jagung di Madura dan Gorontalo.

2.3 Diversifikasi Pangan


Diversifikasi pangan adalah suatu proses perkembangan dalam
pemanfaatan dan penyediaan pangan ke arah yang semakin beragam. Manfaat
diversifikasi pada sisi konsumsi adalah semakin beragamnya asupan zat gizi, baik
makro maupun mikro, untuk menunjang pertumbuhan, daya tahan, dan
produktivitas fisik masyarakat (Amang, 1995).Pakpahan dan Suhartini (1989)
menyatakan dalam konteks Indonesia diversifikasi/keanekaragaman konsumsi
pangan sering diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi
oleh penambahan konsumsi bahan pangan non beras.Demikian pula Suhardjo
(1998) menyebutkan bahwa pada dasarnya diversifikasi pangan mencakup tiga
lingkup pengertian yang saling berkaitan, yaitu (1) diversifikasi konsumsi pangan,
(2) diversifikasi ketersediaan pangan, dan (3) diversifikasi produksi pangan.
Menurut Ariani dan Ashari (2006), konsep diversifikasi pangan meliputi
tiga hal, yaitu diversifikasi horizontal (mengubah usaha tani berbasis padi menjadi
tanaman pangan lain), diversifikasi vertikal (pengembangan pangan pasca panen),
dan diversifikasi regional (penganekaragaman pangan dengan pendekatan
wilayah). Penganekaragaman konsumsi pangan akan memberi dorongan dan
insentif pada penyediaan produk pangan yang lebih beragam dan aman untuk
dikonsumsi termasuk pangan yang berbasis lokal. Diversifikasi pangan menjadi
salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan.Diversifikasi
konsumsi pangan tidak hanya sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada
beras tetapi juga upaya peningkatan perbaikan gizi untuk mendapatkan manusia
yang berkualitas dan mampu berdaya saing dalam percaturan globalisasi
(Himagizi, 2009).
Diversifikasi pangan tercakup aspek produksi, konsumsi, pemasaran, dan
distribusi. Berdasarkan aspek produksi, diversifikasi berarti perluasan spektrum
komoditas pangan, baik dalam hal perluasan pemanfaatan sumber daya,
pengusahaan komoditas maupun pengembangan produksi komoditas
pangan.Sedangkan diversifikasi konsumsi merupakan penganekaragaman
konsumsi pangan dari masyarakat Indonesia agar terpenuhinya gizi yang tepat dan
seimbang.Pemenuhan pangan dapat diartikan pemenuhan asupan zat-zat yang
diperlukan tubuh, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan lain sebagainya
yang kemudian dikonversi menjadienergi (Ariani dan Ashari, 2006).

2.4 Ketahanan Pangan


Definisi ketahanan pangan sangat bervariasi, namun umumnya mengacu
definisi dari Bank Dunia (1986) dan Maxwell dan Frankenberger (1992) yakni
akses semua orang setiap saat pada pangan yang cukup untuk hidup sehat (secure
access at all times to sufficient food for a healthy life).Ketahanan Pangan menurut
UU Pangan No. 18 Tahun 2012 adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara
sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup,
baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau
serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk
dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.Menurut Undang-
Undang Pangan No.7 Tahun 1996: kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi
rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari
jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.Berdasarkan definisi
tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketahanan pangan memiliki 5 unsur yang
harus dipenuhi :
1. Berorientasi pada rumah tangga dan individu
2. Dimensi waktu setiap saat pangan tersedia dan dapat diakses
3. Menekankan pada akses pangan rumah tangga dan individu, baik fisik,
ekonomi dan sosial
4. Berorientasi pada pemenuhan gizi
5. Ditujukan untuk hidup sehat dan produktif
Ketahanan pangan merupakan salah satu faktor penentu dalam stabilitas
nasional suatu negara, baik di bidang ekonomi, keamanan, politik dan
sosial.Diversifikasi pangan ataupun produksi pangan, keduanya berkaitan dengan
kebijakan ketahanan pangan nasional. Upaya kebijakan untuk diversifikasi pangan
sudah dilaksanakan sejak awal dekade 1960an untuk mengantisipasi kebutuhan
atau permintaan akan jenis tanaman pangan nasional (Handewi dan Ariani, 2008).

2.5Singkong
Singkong dengan nama latin Manihot esculenta merupakan umbi atau akar
pohon yang panjang fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm,
tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih
atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan disimpan meskipun di
tempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya
warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi
manusia.
Singkong merupakan salah satu tanaman tropis yang paling berguna dan
dimanfaatkan sebagai sumber kalori yang murah.Singkong merupakan tanaman
yang memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap.Kandungan zat dalam
singkong ialah karbohidrat, fosfor, kalsium, vitamin C, protein, zat besi dan
vitamin B1.Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat
namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada
daun karena mengandung asam amino metionin. Pemanfaatan tanaman singkong
berkembang sebagai bahan baku industri pangan. Singkong memiliki keunggulan
berdasarkan aspek ketersediaan dan nutrisi.Keunggulan ini dapat menjadi fakor
pendorong program diversifikasi pangan dengan singkong sebagai sumber kalori
alternatif utama. Pemanfaatan tanaman singkong berkembang sebagai bahan baku
industri pangan (Adegunwa dkk, 2011). Singkong merupakan bahan baku yang
paling potensial untuk diolah menjadi tepung (Sulusi dkk, 2011).

2.6Sawut
Sawut adalah salah satu kudapaan dari Jawa Tengah yang menggunakan
singkong parut kasar sebagai bahan dasarnya.Sawut adalah salah satu makanan
atau jajanan tradisional yang terbuat dari bahan singkong yang di parut kasar dan
diberi campuran gula merah, dan ditaburi kelapa parut. Rasa sawut yang enak,
manis, dan lezat membuat jajanan ini banyak disukai oleh semua lapisan
masyarakat indonesia. Tidak hanya itu jajanan sawut ini juga dapat membuat perut
orang yang memakannya kenyang, oleh karena itu sawut ini sangat cocok sebagai
pengganjal perut.
Tanaman yang mengadung sumber karbohidrat jenisnya sangat banyak,
seperti talas, ganyong, dan ubi. Namun, yang populer adalah singkong yang
dimasak dengan diparut (sawut) yang bentuknya mirip nasi. Ditinjau dari segi
gizi, selain merupakan sumber kalori, singkong juga mengandung protein, lemak,
hidrat arang, kalsium, fosfor, zat besi, serta vitamin B dan vitamin C. Kandungan
protein yang kecil dapat dipadukan dengan protein dari lauk-pauk sehingga dapat
melengkapi kebutuhan sehari-hari juga dapat melengkapinya dengan sayuran dan
buah.
BAB 3. METODOLOGI SOSIALISASI

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu pelaksanaan sosialisasi Pangan Lokal dengan Tema Cintai
Singkongku, Lestari Panganku adalah pada hari Sabtu, 25Maret 2017 pukul
16.30 sampai dengan selesai berlokasi di kelompok ibu-ibu pengajian kelurahan
Darusallam, Jatimulyo kecamatan Jenggawah - Jember. Sasaran utama
diadakannya sosialisasi pangan lokal adalah ibu-ibu rumah tangga kelurahan
Darusallam, Jatimulyo kecamatan Jenggawah - Jember. Sehingga ibu-ibu rumah
tangga tersebut bisa langsung mengaplikasikan materi sosialisasi.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Peralatan yang digunakan untuk melakukan sosialisasi terdiri dari peralatan
untuk pemberian materi. Peralatan untuk pemberian materi yaitu alat tulis,print
out materi, dan poster.
3.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah bahan untuk membuat sawuttalam
sebelum sosialisasi.Bahan-bahannya terdiri atas 500 gram singkong yang sudah
dicuci dan diparut, 150 gram gula merah yang dicincang kasar, 1 sendok teh
garam, 2 lembar daun pandan, tepung tapioka dan dikukus serta vanili
secukupnya.

3.3 Metode Sosialisasi


Metode yang digunakan dalam sosialisasi Cintai Singkongku, Lestari
Panganku adalah dengan 2 tahap yaitu presentasi dan demo masak.
3.3.1 Presentasi
Hal hal yang akan dipresentasikan oleh penyaji antara lain yaitu :
1. Perkenalan penyaji
2. Pengertian pangan lokal, diversifikasi pangan, kemandirian pangan,
ketahanan pangan dan kedaulatan pangan.
3. Contoh pangan lokal yang ada di Indonesia, terutama aneka olahan
dari singkong
4. Penjelasan mengenai hubungan Gerakan Pangan Lokal dengan tema
Cintai Singkongku, Lestari Panganku dengan ekonomi Indonesia.
3.3.2 Penjelasan cara pembuatan sawut
Demonstrasi ini dilakukan oleh penyaji materi sosialiasi.
3.2.3 Pembagian brosur kepada peserta sosialisasi
Pada awal acara dilakukan pemberian brosur pada ibu-ibu
rumah tangga agar ibu-ibu rumah tangga tersebut mampu menerapkan
secara langsung cara membuat aneka panganan lokal yang menarik.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pembukaan
Sosialisasi pangan lokal yang bertemakan Cintai Singkongku, Lestari
Panganku telah diadakan di rumah Pak Sawon dan Ibu Nur selaku warga biasa
kelurahan Darusallam, Jatimulyo kecamatan Jenggawah - Jember. Kegiatan ini
berlangsung kurang lebih selama satu jam lima belas menit yaitu mulai pukul
16.30 WIB sampai 20.00 WIB. Tujuan awal diadakannya sosialisasi ini adalah
untuk lebih mengenalkan pangan lokal terutama singkong beserta olahannya yang
beragam kepada masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga, sehingga nantinya
diharapkan penganekaragaman makanan dalam masyarakat semakin meningkat
dan dapat mengurangi konsumsi beras.
Sosialisasi diawali dengan pembukaan yang berisi salam, kata-kata
pembuka, dan perkenalan masing-masing anggota kelompok kepada para ibu-ibu
rumah tangga. Selain memperkenalkan anggota kelompok, Fakultas Teknologi
Pertanian juga turut diperkenalkan. Ibu-ibu rumah tangga yang hadir juga ikut
memperkenalkan diri mereka. Perkenalan ini dilakukan agar pemateri dan warga
saling mengenal satu sama lain dan suasana sosialisasi tidak begitu canggung.
Jumlah peserta sosialisasi adalah 15 orang namun tidak termasuk anak-anak yang
dibawa oleh ibu-ibu.

4.2 Pemberian Materi


Materi yang diberikan meliputi pangan lokal, kemandirian pangan,
ketahanan pangan, kedaulatan pangan, dan singkong. Pemberian materi dilakukan
dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak dilakukan secara monoton
namun disertai dengan interaksi kepada para warga misalnya dengan menanyakan
makanan pokok apa yang biasa dikonsumsi oleh warga. Dari jawaban para warga
didapati bahwa makanan pokok mereka adalah beras dan rata-rata keseluruhan
warga harus makan nasi tiga kali sehari. Mereka mengonsumsi pangan lokal
semisal sukun, singkong, dll hanya jika mereka menginginkannya saja sehingga
jumlah konsumsi para ibu-ibu rumah tangga terhadap pangan lokal terbilang
rendah. Bagi mereka pangan lokal yang mereka makan hanya sekedar camilan dan
tidak sebagai pengganti makanan pokok. Oleh karena itu pemateri
memberitahukan kepada para peserta sosialisasi bahwa sumber karbohidrat tidak
hanya berasal dari beras saja, melainkan bisa berasal dari berbagai pangan lokal
dan salah satunya adalah singkong.

4.3 Sesi Tanya Jawab


Pertanyaan yang diajukan oleh ibu-ibu pengajian bukan banya terfokus pada
materi yang telah diberikan, namun juga mengenai brosur yang disebarkan saat
acara dimulai serta mengenai makanan yang disajikan saat acara hampir selesai.
Makanan yang diberikan adalah sawut talam sebagai sajian pangan lokal dan
konsumsi lain yang disediakan oleh pemateri. Untuk sajian pangan lokal ini dibuat
sendiri oleh penyaji pada sebelum acara dimulai dan konsumsi tambahan roti
dibeli melalui pemesanan.
Para peserta dari ibu-ibu pengajian antusias dalam menanggapi kedatangan
kami sebagai pemateri dengan olahan pangan lokal yang pemateri sediakan. Ibu-
ibu penagjian di sini memang telah mengerti dan faham mengenai olehan sawut,
namun yang berbeda dan membuat ibu-ibu di sini antusias adalah penyajian yang
dipadukan dengan kue talam yang membuat petanyaan muncul satu persatu. Ibu-
ibu pengajian di sini hanya mengetahui bahwa sawut hanyalah olahan dari
singkong yang disajikan dalam bentuk sawut saja tanpa ada modifikasi
penambahan kue talam di atasnya. Selain itu, ibu-ibu pengajian di sini juga
menanyakan mengenai penanganan singkong yang baik sebelum sebelum diolah
terkait dengan kandungan HCN dalam singkong yang bersifat racun. Pertanyaan
tersebut mengarah pada waktu yang digunakan untuk proses perendaman
singkong yang dapat menghilangkan kandungan HCN di dalamnya.
Pertanyaan : Bagaiman cara menghilangkan kandungan HCN pada singkong agar
tetap aman dikonsumsi dan kira-kira berapa lama prosesnya?
Jawaban : Cara menghilangkan kandungan HCN pada singkong adalah dengan
perendaman sekitar kurang lebih 2 jam.
Pertanyaan lain yang terlontar dari ibu-ibu pengajian lainnya mengacu pada
beragam olahan pangan lokal yang terbuat dari singkong, salah satunya tepung
gaplek.
Pertanyaan : Apakah kandungan yang terdapat dalam singkong tidak akan hilang
jika semisal dalam pengolahan tepung gaplek mengalami
perendaman yang lama dan pengolahnnya itu juga hingga menjadi
tepung dalam waktu yang lama? Apakah jika begitu yang
dikonsumsi itu hanya ampasmya saja tanpa ada kandungan
lainnnya yang dapat diambil?
Jawaban : Kandungan yang ada dalam tepung gaplek masih tersisa dari
kandungan singkong awal, meskipun itu hanya dalam jumlah yang
sedikit.
Pertanyaan lain yang muncul adalah beralasan dari brosur yang diberikan yaitu:
Pertanyaan : Apakah singkong tidak memiliki kandungan lemak sehingga dapat
disarankan bagi bagi orang yang berniat untuk diet?
Jawaban : Sebenarnya dalam singkong masih ada kandungan lemak, namun
dalam jumlah yang sangat sedikit dibandingkan dengan kandungan
karbohidrtanya. Istilah lainnya yaitu dalam singkong itu mayoritas
karbohidrat, sehingga jika ada yang berniat untuk diet itu baik
mengkonsumsi singkong yang sedikit kandungan lemaknya.
Pertanyaan lain yang muncul akibat edaran brosur adalah
Pertnyaan : Apakah singkong ini juga baik dikonsumsi bagi penderita diabetes
karena kandungan karbohidratnya juga tinggi, dimana karbohidrat
ini akan diubah menjadi gula sederhana? Selain itu, lebih baik mana
jika mengkonsumsi jagung atau singkong bagi penderia diabetes?
Jawaban : Lebih baik seseorang yang terkena diabetes mengkonsumsi beras
jagung, karena beras jagung lebih baik dibandingkan dengan sigkong
untuk kadar gula dalam darah atau diabetes.
Pada sesi tanya jawab atau lebih bisa disebut sharing ini ada umpan balik
dar ibu-ibu pengajian yang menghadiri acara sosialisasi, bukan hanya sekedar
tanya jawab pasif pada umumnya. Selain itu, pemateri juga belajar dari ibu-ibu
pengajian yang lebih mahir dalam membuat sawut, karena sawut yang penyaji
produksi tidak sesuai dengan sawut pada umumnya. Hal tersebut disebabkan oleh
adanya kandungan air yang berlebih pada sawut yang terjadi saat proses
pengkusan sawut, dimana sawut yang pada umunya itu harus diperas terlebih
dahulu sebelum dikukus bersama dengan gula merah. Selain itu, ibu-ibu pengajian
juga memberi saran bahwa akan lebih baik dan menyenangkan jika pada saat
sosialisasi dilaksanakan penyaji siap membawa beberapa sampel jenis olahan dari
singkong selain yang dijadikan bahan materi.

4.4 Penyajian Langsung Sampel Bahan Pangan Lokal kepada Peserta


Sosialisasi
Dari sosialisasi yang dilakukan, penyaji hanya memberikan sampel bahan
pangan lokal dari olahan singkong yang telah siap saji tanpa adanya sesi demo
memasak produk pangan lokal modifikasi sawut dengan talam. Hal tersebut
dikarenakan konsep demo memasak kurang matang dan karena keterbatasan
waktu.

4.5 Foto Bersama


Acara sosialisai diakhiri dengan foto-foto bersama ibu pengajian. Kegiatan
dilanjutkan dengan sesi doa bersama dipimpin oleh ketua pengajian.

4.6 Penutupan
Penutupan acara dilakukan dengan cara mengucapkan terima kasih dan
meminta maaf kepada para peserta sosialisasi apabila ada kekurangan dari
pemateri selama berlangsungnya acara sosialisasi. Kemudian para peserta
berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari sosialisasi pangan lokal ke ibu-ibu pegajian yang telah dilakukan
dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut :
1. Pangan lokal merupakan bahan pangan yang diproduksi atau berasal dari suatu
daerah dengan ruang lingkup tentang penganekaragaman pangan, kemandirian
pangan, ketahanan pangan, dan kedaulatan pangan, dimana hal tersebut
berkaitan erat dengan budaya masyarakat.
2. Adanya berbagai macam olahan singkong seperti sawut, gethuk, tiwul, mocaf,
dan lain-lain dapat meningkatkan konsumsi pangan lokal dalam rangka
mencapai kedaulatan pangan Indonesia.
3. Pembuatan berbagai macam olahan singkong ini dapat meningkatkan daya jual
dan daya pakai dari singkong yang mulai terpinggirkan.

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan untuk sosialisasi selanjutnya adalah
diharapkan penyaji lebih menguasai materi yangakan diberikan. Penyajian produk
pangan lokal sebagai sampel sebaiknya lebih dari satu.