Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia.

Hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan di pelayanan kesehatan

primer kesehatan. Hal ini merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi

yang tinggi, yaitu sebesar 25,8% (Riskesdas,2013).


Hipertensi disebut juga pembunuh diam-diam atau silent killer karena

pada sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala apa pun. Sakit kepala

yang sering menjadi indikator hipertensi tidak terjadi pada beberapa orang

atau dianggap sebagai keluhan ringan yang akan sembuh dengan sendirinya

(Nurrahmani,2012).
Prevalensi diseluruh dunia, diperkirakan 15-20%. Diprediksikan oleh

WHO pada tahun 2025 nanti sekitar 29% orang dewasa di seluruh dunia

menderita hipertensi (Depkes RI, 2006). Di Asia diperkirakan prevalensi

hipertensi sudah mendekati prevalensi di dunia yaitu mencapai 8-18%. Dan di

Indonesia prevalensi nasional hipertensi pada penduduk umur >18 tahun lebih

tinggi dibanding dengan rata-rata di Asia yaitu sebesar 29,8%. Berdasarkan

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi hipertensi di

Indonesia mencapai 25,8% dan menduduki urutan ke-6 pada data penyakit

tidak menular. Berdasarkan umur 18 tahun dengan presentasi tertinggi di

bangka Belitung (30.9%), diikuti Kalimantan Selatan (30,8%), Kalimantan

Timur (29,6%), Jawa Barat (29,4%) dan Jawa Timur (26,4%). Berdasarkan

data yang diambil pada bulan Maret tahun 2016 UPT PLSU Blitar di
Tulungagung dari 80 total penghuni UPT PLSU Blitar di Tulungagung,

terdapat 24 lansia yang menderita Hipertensi.


Penyebab penyakit hipertensi secara umum diantaranya penyempitan

arteri yang mensuplai darah ke ginjal, arterosklerosis (penebalan dinding arteri

yang menyebabkan hilangnya elastisitas pembuluh darah) keturunan, umur,

jenis kelamin, tekanan psikologis, stress, kegemukan (obesitas), kurang

olahraga dan kolesterol tinggi. Akibat tingginya tekanan darah yang lama akan

berakibat merusak pembuluh darah diseluruh tubuh, yang paling jelas pada

mata, jantung, ginjal, dan otak. Konsekuensi pada hipertensi yang lama

adalah gangguan penglihatan, oklusi koroner, gagal ginjal dan stroke. Selain

itu hantung juga membesar akibat dipaksa meningkatkan meningkatkan beban

kerja saat memompa meawan tingginya tekanan darah (Smelzer & Bare,

2008).
Hipertensi bisa disebabkan mulai dari usia, ras, jenis kelamin, lansia

yang menderita obesitas, kekurangan aktifitas fisik dan lansia yang

mempunyai kebiasaan buruk seperti minum-minuman keras dan merokok.

Jika hal ini tidak ditangani lebih lanjut maka bisa berakibat buruk dimana

hipertensi bisa menyebabkan komplikasi yang diantaranya berupa infark

miokard (serangan jantung), gagal jantung, stroke (serangan otak), gagal ginjal

dan penyakit vaskular perifer (Junaidi, 2008). Pasien usia >60 tahun, 50-60%

memiliki tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90mmHg

(Wahdah,2011). Pada usia 45 tahun ke atas, dinding arteri mengalami

penebalan akibat adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga

pembuluh darah akan menyempit dan menjadi kaku. Hal ini disebabkan
karena pengaturan metabolisme zat kapur (kalsium) mengalami gangguan

dengan pertambahan usia semakin tua, sehingga banyak zat kapur yang ada di

dalam darah (hypercalcidemia) menyebabkan darah menjadi lebih kental dan

peningkatan tekanan darah. Endapan kalsium pada pembuluh darah

(arteriesclerosis), menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga aliran

darah terganggu, yang hal ini menyebabkan adanya peningkatan tekanan

darah.
Terapi hipertensi dapat dikelompokkan dalam terapi farmakologis dan

terapi nonfarmakologis (Sudoyo dkk,2006). Terapi farmakologis pada

hipertensi merupakan terapi yang menggunakan obat-obatan untuk

mempertahankan tekanan darah dalam batas normal, namun pada terapi ini

memiliki efek samping yang berbeda-beda pada setiap golongannya.

Penanganan secara farmakologi terdiri atas pemberian obat yang bersifat

deuritik, betabloker, calcium channel blokers, dan vasodilator dengan

memperhatikan tempat, mekanisme kerja, dan tingkat kepatuhan. Penanganan

secara farmakologis ini mempunyai efek samping yang bermacam-macam

tergantung obat yang digunakan. Contohnya bahwa efek samping obat deuritik

yaitu mulut kering, haus, kelemahan, pusing, letargi, nyeri otot, takikardi,

gangguan gastrointestinal (Smeltzer & Bare, 2008).


Penanganan non-farmakologis meliputi penghentian merokok,

menurunkan konsumsi alkohol berlebih, menurunkan asupan garam dan

lemak, meningkatkan konsusmsi buah dan sayur, penurunan berat badan

berlebih, latihan fisik dan terapi komplementer. Terapi komplementer ini

meliputi bersifat terapi pengobatan alamiah diantaranya adalah dengan terapi


herbal, terapi nutrisi, relaksasi progresif, meditasi, terapi tawa, akupuntur,

akupresur, aromatherapi, refleksiologi dan hidroterapi atau terapi air putih

(Sudoyo, 2006).
Beberapa studi menyebutkan bahwa kombinasi pengobatan hipertensi

menggunakan farmakologis dan non-farmakologis bisa lebih efektif sehingga

bisa meminimalisir kemungkinan terjadinya komplikasi seperti stroke dan

penyakit jantung iskemik. Ada berbagai macam terapi non farmakologis untuk

menurunkan tekanan darah, salah satunya adalah dengan cara hidroterapi.


Hidroterapi merupakan salah satu metode penyembuhan dengan

mengunakan media air yang saat ini telah banyak dikembangkan di klinik

pengobatan bahkan di beberapa rumah sakit. Ada beberapa metode hidroterapi

diantaranya adalah dengan meminum air putih hangat setelah bangun tidur

pagi yang jika dilakukan secara kontinyu dapat menjadi salah satu cara

sederhana, murah, Menurut riset yang dilakukan oleh lembaga penelitian

nasional Perancis INSERM menyatakan bahwa orang yang meminum

sedikitnya dua gelas air perhari, 28% lebih rendah mengalami darah tinggi

ketimbang mereka yang meminum jumlah kurang dari itu (Ismail,2011). Air

merupakan kebutuhan pokok setiap makhluk hidup. Air merupakan sumber

kehidupan pertama bagi manusia. Air sangat dibutuhkakn tubuh sebagai

nutrisi yang sangat vital untuk menjaga kesehatan dan keutuhan setiap sel

dalam tubuh dan menjaga tingkat cair aliran darah agar lebih mudah mengalir

melalui pembuluh darah. Dalam tubuh manusia terdapat sekitar 70% hingga

80% kandungan air dari seluruh bagian tubuh, tergantung dari bobot dan

ukuran badan. Darah dan otak merupakan organ yang paling tinggi kandungan
airnya yaitu berkisar 90% sampai 95% (Tilong, 2015). Menurut Tilong (2015)

minum air putih dingin dapat membantu fungsi jantung dalam memompa

darah untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Menurut Williams, 2007 dalam

jurnal yang di tulis oleh Victor Paulus Souisa di Fakultas Keperawatan

Universitas Advent Indonesia dengan pemberian cairan dan jika cairan yang

diberikan dapat diserap dengan efektif maka akan menurunkan kepadatan

volume darah.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah Apakah ada pengaruh terapi

minum air hangat dengan doa terhadap perubahan tekanan darah pada lansia

penderita hipertensi di RW. 05 Kelurahan Balowerti Kota Kediri ?


C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Membuktikan pengaruh terapi air putih hangat dengan doa terhadap

penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di RT. 05

Kelurahan Balowerti Kota Kediri.


2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi tekanan darah penderita hipertensi sebelum

pemberian terapi air putih hangat dengan doa pada lansia di RT. 05

Kelurahan baloweri kota kediri.


b. Mengidentifikasi tekanan darah penderita hipertensi sesudah

pemberian terapi air putih hangat dengan doa pada lansia di RT. 05

Kelurahan baloweri kota kediri.


c. Menganalisis pengaruh pemberian terapi air putih hangat dengan

doa pada lansia di RT. 05 Kelurahan baloweri kota kediri.


D. Manfaat penelitian
1. Manfaat teoritis
a. mendapatkan informasi atau pengetahuan kebenaran ilmiah tentang

pengaruh pemberian terapi air putih hangat dengan doa pada lansia

di RT. 05 Kelurahan baloweri kota kediri.


b. Sebagai wacana untuk pengembangan penelitian lebih lanjut di

bidang keperawatan khususnya pengaruh pemberian terapi air

putih hangat dengan doa pada lansia di RT. 05 Kelurahan baloweri

kota kediri.
2. Manfaat praktis
a. Sebagai dasar pertimbangan melakukan intervensi keperawatan

dalam manajemen penurunan tekanan darah pada lansia penderita

hipertensi.
b. Sebagai dasar penetapan protap pelaksanaan penurunan tekanan

darah penderita hipertensi pada lansia.


c. Sebagai masukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.