Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rumah Sakit merupakan tempat berkumpulnya segala macam penyakit, baik menular
maupun tidak menular (Musadad, Lubis, &Kasnodihardjo, 1993). Seluruh petugas
kesehatan yang bekerja dirumah sakit seharusnya mengetahui pentingnya pencegahan
infeksi silang (nosokomial). Infeksi sebagian besar dapat dicegah dengan strategi yang
telah tersedia yaitu dengan cuci tangan (Tietjen, Bossemeyer, & McIntosh, 2004).
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh atau terjadi di rumah sakit
(Darmadi, 2008). Infeksi nosokomial dikenal pertama kali pada tahun 1847 oleh
Samwelweis dan hingga saat ini merupakan salah satu penyebab meningkatnya angka
kesakitan (morbidity) dan angka kematian (mortality) di rumah sakit, sehingga dapat menjadi
masalah kesehatan baru, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Beberapa
kejadian infeksi nosokomial mungkin tidak menyebabkan kematian pada pasien, akan
tetapi ini menjadi penyebab penting pasien dirawat lebih lama di Rumah Sakit.
Infeksi nosokomial merupakan persoalan serius yang menjadi penyebab langsung
maupun tidak langsung kematian pasien, hal ini dapat di cegah melalui perilaku cuci
tangan petugas kesehatan di Rumah Sakit. Kebiasaan cuci tangan petugas merupakan
perilaku yang mendasar sekali dalam upaya mencegah cross infection (infeksi silang).
Hal ini mengingat Rumah sakit sebagai tempat berkumpulnya segala macam penyakit,
baik menular maupun tidak menular.
Salah satu sumber penularan infeksi nosokomial di rumah sakit adalah perawat, yang
dapat menyebarkan melalui kontak langsung kepada pasien. Perawat memiliki andil yang
sangat besar dalam pencegahan infeksi nosokomial, karena perawat lebih sering kontak
dengan pasien dan linkungan pasien. Cara penularan terutama melalui tangan dan dari
petugas kesehatan maupun tenaga kesehatan yang lain. Pengetahuan perawat tentang
kebersihan dan kesehatan tangan sudah baik, akan tetapi pada praktiknya sulit dilakukan.
Banyak faktor yang berhubungan dengan perilaku cuci tangan di kalangan perawat.
Perilaku mencuci tangan perawat yang kurang adekuat akan memindahkan organisme-
organisme bakteri pathogen secara langsung kepada hospes yang menyebabkan infeksi
nosokomial di semua jenis lingkungan pasien

1
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat terhadap tindakan pencegahan
infeksi adalah faktor karakteristik individu (jenis kelamin, umur, jenis pekerjaan, masa
kerja, tingkat pendidikan), faktor psikososial (sikap terhadap penyakit, ketegangan kerja,
rasa takut dan persepsi terhadap resiko), faktor organisasi manajemen, faktor
pengetahuan, faktor fasilitas, faktor motivasi dan kesadaran, faktor tempat tugas, dan
faktor bahan cuci tangan terhadap kulit ( Tohamik, 2003)
Bantuan hidup dasar adalah tindakan darurat untuk membebaskan jalan napas,
membantu pernapasan dan mempertahankan sirkulasi darah tanpa menggunakan alat
bantu (Alkatiri, 2007). Tujuan bnatuan hidup dasar ialah untuk oksigenasi darurat secara
efektif pada organ vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan dan sirkulasi
buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan oksigen dengan kekuatan sendiri
secara normal (Latief, 2009). Tindakan bantuan hidup dasar sangat penting pada pasien
trauma terutama pada pasien dengan henti jantung yang tiga perempat kasusnya terjadi di
luar rumah sakit (Alkatiri, 2007). Cedera merupakan salah satu penyebab kematian. Pada
tahun 1990 3,2 juta kematian dan 312 juta orang mengalami cedera di seluruh dunia.
Pada tahun 2000 kematian akan mencapai 3,8 juta dan pada tahun 2020 diperkirakan
cedera/trauma akan menyebabkan penyebab kematian ketiga atau kedua untuk semua
kelompok umur (IKABI, 2004). Dari hasil penelitian Chandrasekaran dkk pada tahun
2010 di india menunjukkkan bahwa 31% kalangan medis, mahasiswa keperawatan,
mahasiswa kedokteran gigi dan mahasiswa kedokteran tidak mengetahui singkatan BLS
yang merupakan Basic life support, 51% gagal malakukan usaha penyelamatan sebagai
langkah awal dalam bantuan hidup dasar, dan 74% tidak mengetahui lokasi yang tepat
untuk kompresi dada pada tindakan bantuan hidup dasar (Chandrasekaran, 2010)

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan cuci tangan?
2. Apa tujuan cuci tangan?
3. Bagaimana tehnik cuci tangan?
4. Apa itu infeksi nosocomial?
5. Dampak dari kesalahan perawat saat tidak memperhatikan tentang cuci tangan?
6. Faktor- faktor yang mempengaruhi kepatuhan cuci tangan perawat?
7. Apa itu Bantuan Hidup Dasar?
8. Bagaimana Prosedur dalam menanganni kasus Bantuan Hidup Dasar?

2
1.3 Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas
dibatasi pada masalah :
1. Definisi cuci datangan dan prosedur cuci tangan
2. Pentingnya cuci tangan bagi tenaga kesehatan
3. Mengidentifikasi kejadian infeksi nosokomial
4. Bagaimana melakukan Bantuan Hidup Dasar.

1.4 Metode Penulisan Makalah


Data ini di ambil melalui literatur perpustakaan dengan cara mengambil data
dari buku ke buku dan sebagian di dapatkan dari informasi yang di peroleh dari
internet.

1.5 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan memahami definisi dan prosedur saat mencuci tangan
yang baik
2. Untuk mengetahui kejadian infeksi nosocomial
3. Untuk mengetaahui hubungan antara kepatuhan perawat melakukan cuci tangan
dan kejadian infeksi nosokomial
4. Untuk mengetahui dan memahami pentingnya mencuci tangan saat perawat
melakukan tindakan keperawatan dan dampak yang buruknya saat mengabaikan
cuci tangan
5. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana prosedur yang baik saat
memberikan Bantuan Hidup Dasar

BAB II
PEMBAHASAN

3
2.1 Cuci Tangan
2.1.1 Definisi cuci tangan
Menurut Tim Depkes (1987) mencuci tangan adalah membersihkan
tangan dari segala kotoran, dimulai dari ujung jari sampai siku dan lengan dengan
cara tertentu sesuai dengan kebutuhan. Sementara itu menurut Perry & Potter
(2005), mencuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting dalam
pencegahan dan pengontrolan infeksi. Cuci tangan adalah proses membuang
kotoran dan debu secara mekanik dari kulit kedua belah tangan dengan memakai
sabun dan air (Tietjen, et.al., 2004). Sedangkan menurut Purohito (1995) mencuci
tangan merupakan syarat utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan
tindakan keperawatan misalnya: memasang infus, mengambil spesimen. Infeksi
yang di akibatkan dari pemberian pelayanan kesehatan atau terjadi pada fasilitas
pelayanan kesehatan.Infeksi ini berhubungan dengan prosedur diagnostik atau
terapeutik dan sering termasuk memanjangnya waktu tinggal di rumah sakit
(Perry & Potter, 2000).
Mencuci tangan adalah membasahi tangan dengan air mengalir untuk
menghindari penyakit, agar kuman yang menempel pada tangan benar-benar
hilang. Mencuci tangan juga mengurangi pemindahan mikroba ke pasien dan
menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang berada pada kuku, tangan , dan
lengan (Schaffer, et.al., 2000).
Cuci tangan harus dilakukan dengan baik dan benar sebelum dan sesudah
melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat
pelindung lain. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi
mikroorganisme yang ada di tangan sehingga penyebaran penyakit dapat di
kurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi.Tangan harus di cuci sebelum dan
sesudah memakai sarung tangan.Cuci tangan tidak dapat digantikan oleh
pemakaian sarung tangan.

2.1.2 Tujuan cuci tangan


Menurut Susiati (2008), tujuan dilakukannya cuci tangan yaitu untuk
Mengangkat mikroorganisme yang ada di tangan, Mencegah infeksi silang (cross
infection), Menjaga kondisi steril, Melindungi diri dan pasien dari infeksi,

4
Memberikan perasaan segar dan bersih.

2.1.3 Indikasi cuci tangan


Indikasi untuk mencuci tangan menurut Depkes RI. (1993) adalah :
Sebelum melakukan prosedur invasif misalnya : menyuntik, pemasangan kateter
dan pemasangan alat bantu pernafasan, Sebelum melakukan asuhan keperawatan
langsung, Sebelum dan sesudah merawat setiap jenis luka Setelah tindakan
tertentu, tangan diduga tercemar dengan mikroorganisme khususnya pada
tindakan yang memungkinkan kontak dengan darah, selaput lendir, cairan tubuh,
sekresi atau ekresi, Setelah menyentuh benda yang kemungkinan terkontaminasi
dengan mikroorganisme virulen atau secara epidemiologis merupakan
mikroorganisme penting. Benda ini termasuk pengukur urin atau alat penampung
sekresi Setelah melakukan asuhan keperawatan langsung pada pasien yang
terinfeksi atau kemungkinan
kolonisasi mikroorganisme yang bermakna secara klinis atau epidemiologis
Setiap kontak dengan pasien-pasien di unit resiko tinggi Setelah melakukan
asuhan langsung maupun tidak langsung pada pasien yang tidak infeksius.

2.1.4 Keuntungan mencuci tangan


Menurut Puruhito (1995), cuci tangan akan memberikan keuntungan
Dapat mengurangi infeksi nosocomial, Jumlah kuman yang terbasmi lebih banyak
sehingga tangan lebih bersih dibandingkan dengan tidak mencuci tangan Dari
segi praktis, ternyata lebih murah dari pada tidak mencuci tangan sehingga tidak
dapat menyebabkan infeksi nosokomial.

2.1.5 Macam- macam cuci tangan dan cara cuci tangan


Cuci tangan dalam bidang medis dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu
cuci tangan medical (medical hand washing), cuci tangan surgical (surgical hand
washing) dan cuci tangan operasi (operating theatre hand washing). Adapun cara
untuk melakukan cuci tangan tersebut dapat dibedakan berbagai cara :

2.1.5.1 Tehnik mencuci tangan biasa

5
Teknik mencuci tangan biasa adalah membersihkan tangan dengan
sabun dan air bersih yang mengalir atau yang disiramkan, biasanya
digunakan sebelum dan sesudah melakukan tindakan yang tidak
mempunyai resiko penularan penyakit. Peralatan yang dibutuhkan untuk
mencuci tangan biasa adalah setiap wastafel dilengkapi dengan peralatan
cuci tangan sesuai standar rumah sakit (misalnya kran air bertangkai
panjang untuk mengalirkan air bersih, tempat sampah injak tertutup yang
dilapisi kantung sampah
medis atau kantung plastik berwarna kuning untuk sampah yang
terkontaminasi atau terinfeksi), alat pengering seperti tisu, lap tangan
(hand towel), sarung tangan (gloves), sabun cair atau cairan pembersih
tangan yang berfungsi sebagai antiseptik, lotion tangan, serta di bawah
wastefel terdapat alas kaki dari bahan handuk.

Prosedur kerja cara mencuci tangan biasa adalah:


a. Melepaskan semua benda yang melekat pada daerah tangan, seperti
cincin atau jam tangan.
b. Mengatur posisi berdiri terhadap kran air agar memperoleh posisi
yang nyaman.
c. Membuka kran air dengan mengatur temperatur airnya.
d. Menuangkan sabun cair ke telapak tangan.
e. Melakukan gerakan tangan, dimulai dari meratakan sabun dengan
kedua telapak tangan, kemudian kedua punggung telapak tangan
saling menumpuk, bergantian, untuk membersihkan sela-sela jari.
f. Membersihkan ujung-ujung kuku bergantian pada telapak tangan.
g. Membersihkan kuku dan daerah sekitarnya dengan ibu jari secara
bergantian kemudian membersihkan ibu jari dan lengan secara
bergantian .
h. Membersihkan (membilas) tangan dengan air yang mengalir sampai
bersih sehingga tidak ada cairan sabun dengan ujung tangan
menghadap ke bawah.
i. Menutup kran air menggunakan siku, bukan dengan jari, karena jari

6
yang telah selesai kita cuci pada prinsipnya bersih.
j. Pada saat meninggalkan tempat cuci tangan, tempat tersebut dalam
keadaan rapi dan bersih. Hal yang perlu diingat setelah melakukan
cuci tangan yaitu mengeringkan tangan dengan hand towel.

2.1.5.2 Tehnik mencuci tangan aseptik


Mencuci tangan aseptik yaitu cuci tangan yang dilakukan sebelum
tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan antiseptik. Mencuci
tangan dengan larutan disinfektan, khususnya bagi petugas yang
berhubungan dengan pasien yang mempunyai penyakit menular atau
sebelum melakukan tindakan bedah aseptik dengan antiseptik dan sikat
steril.
Prosedur mencuci tangan aseptik sama dengan persiapan dan
prosedur pada cuci tangan higienis atau cuci tangan biasa, hanya saja
bahan deterjen atau sabun diganti dengan antiseptik dan setelah mencuci
tangan tidak boleh menyentuh bahan yang tidak steril.

2.1.5.3 Tehnik mencuci tangan steril


Teknik mencuci tangan steril adalah mencuci tangan secara steril (suci
hama), khususnya bila akan membantu tindakan pembedahan atau operasi.
Peralatan yang dibutuhkan untuk mencuci tangan steril adalah
menyediakan bak cuci tangan dengan pedal kaki atau pengontrol lutut,
sabun antimikrobial (non-iritasi, spektrum luas, kerja cepat), sikat scrub
bedah dengan pembersih kuku dari plastik, masker kertas dan topi atau
penutup kepala, handuk steril, pakaian di ruang scrub dan pelindung mata,
penutup sepatu.
Prosedur kerja cara mencuci tangan steril adalah sebagai berikut:
1. Terlebih dahulu memeriksa adanya luka terpotong atauabrasi pada
tangan dan jari, kemudian melepaskan semua perhiasanmisalnya
cincin atau jam tangan.
2. Menggunakan pakaian bedah sebagai proteksi perawatyaitu: penutup
sepatu, penutup kepala atau topi, masker wajah,pastikan masker

7
menutup hidung dan mulut anda dengan kencang.Selain itu juga
memakai pelindung mata.
3. Menyalakan air dengan menggunakan lutut atau controldengan kaki
dan sesuaikan air untuk suhu yang nyaman.
4. Membasahi tangan dan lengan bawah secara bebas,
mempertahankankan tangan atas berada setinggi siku selama seluruh
prosedur.
5. Menuangkan sejumlah sabun (2 sampai 5 ml) ke tangan dan
menggosok tangan serta lengan sampai dengan 5 cm di atas siku.
6. Membersihkan kuku di bawah air mengalir dengan tongkat oranye
atau pengikir. Membuang pengikir setelah selesai digunakan.
7. Membasahi sikat dan menggunakan sabun antimikrobial.
8. Menyikat ujung jari, tangan, dan lengan. Menyikat kuku tangan
sebanyak 15 kali gerakan. Dengan gerakan sirkular, menyikat
telapak tangan dan permukaan anterior jari 10 kali gerakan.
Menyikat sisi ibu jari 10 kali gerakan dan bagian posterior ibu jari
10 gerakan. Menyikat samping dan belakang tiap jari 10 kali
gerakan tiap area, kemudian sikat punggung tangan sebanyak 10
kali gerakan. Seluruh penyikatan harus selesai sedikitnya 2 sampai
3 menit (AORN, 1999 sebagaimana dikutip oleh Perry& Potter,
2000).
9. Kemudian bilas sikat secara seksama. Dengan tepat mengingat, bagi
lengan dalam tiga bagian. Kemudian mulai menyikat setiap
permukaan lengan bawah lebih bawah dengan gerakan sirkular
selama 10 kali gerakan; menyikat bagian tengah dan atas lengan
bawah dengan cara yang samasetelah selesai menyikat buang sikat
yang telah dipakai. Dengan tangan fleksi, mencuci keseluruhan dari
ujung jari sampai siku satu kali gerakan, biarkan air mengalir pada
siku.
10. Mengulangi langkah 8 sampai 10 untuk lengan yang lain.
11. Mempertahankan lengan tetap fleksi, buang sikat kedua dan
mematikan air dengan pedal kaki. Kemudian mengeringkan dengan

8
handuk steril untuk satu tangan secara seksama, menggerakan dari
jari ke siku dan mengeringkan dengan gerakan melingkar.
12. Mengulangi metode pengeringan untuk tangan yang lain dengan
menggunakan area handuk yang lain atau handuk steril baru.
13. Mempertahankan tangan lebih tinggi dari siku dan jauh dari tubuh
anda. Perawat memasuki ruang operasi dan melindungi tangan dari
kontak dengan objek apa pun.

2.1.6 Kewaspadaan untuk perawat dalam melakukan cuci tangan steril


Pakaian atau seragam scub perawat harus tetap kering. Air mengalir
berdasarkan gravitasi dari ujung jari ke siku. Jadi mempertahankan tangan tetap
tinggi sehingga memungkinkan air mengalirdari area yang kurang ke yang paling
terkontaminasi. Bila perawat ingin menggunakan sarung tangan steril di
areareguler, perawat tidak perlu menyikat atau mengeringkan tangan dengan
handuk steril. Dengan penyabunan dan penggosokan yang dilakukan duakali
sesuai prosedur akan menjamin tangan bersih. Pada situasi ini perawat dapat
menggunakan handuk kertas untuk pengeringan. Pengeringan dimulai dari area
yang paling bersih ke area yang kurang bersih. Pengeringan mencegah kulit
kering dan memudahkan penggunaan sarung tangan (perry & potter, 2005).

2.1.7 Perilaku cuci tangan tenaga kesehatan


Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang
mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain berjalan, berbicara, menangis,
tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau
aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati
oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003),
merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses
adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut
merespons, maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R atau Stimulus

9
Organisme Respon.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku menurut
Notoatmodjo (2003) dapat dibedakan menjadi dua yaitu perilaku tertutup (covert
behavior) dan perilaku terbuka (overt behavior).Perilaku tertutup (convert
behavior) merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk
terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini
masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang
terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati
secara jelas oleh orang lain. Sedangkan perilaku terbuka (overt behavior)
merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau
terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan
atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.
Menurut teori Green dalam Notoatmodjo (2003), menganalisis perilaku
manusia dari tingkat kesehatan, dimana kesehatan seseorang atau masyarakat
dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yakni faktor perilaku (behaviocauses) dan faktor
diluar perilaku (nonbehavior causes). Selanjutnya perilakun itu sendiri ditentukan
atau terbentuk dari 3 faktor yaitu faktor-faktor predisposisi (predisposing factors),
yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan
sebagainya; faktor-faktor pendukung enabling factors), yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-
sarana kesehatan, misalnya fasilitas untuk cuci tangan; dan faktor- faktor
pendorong (reinforcing factors) yang dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan,
atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku
masyarakat.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Musadad, et.al.(1993) ditulis
dalam CDK (Cermin Dunia Kedokteran) yaitu perilaku cuci tangan oleh tenaga
kesehatan baik dokter maupun perawat menunjukkan bahwa sebagian besar
petugas tersebut tidak melaksanakan cuci tangan. Hal ini terlihat pada waktu
petugas akan memeriksa pasien, baik saat pertama kali atau pergantian dari pasien
satu ke pasien lainnya. Mereka pada umumnya mencuci tangan setelah selesai
melakukan pemeriksaan pasien keseluruhannya. Kondisi seperti ini dapat memicu
terjadinya Infeksi nosokomial yang dikenal dengan Healthcare Associated

10
Infections (HAIs) yang dapat terjadi melalui penularan dari pasien kepada
petugas, dari pasien ke pasien lain, dari pasien kepada pengunjung atau keluarga
maupun dari petugas kepada pasien (Depkes RI, 2009).
Salah satu tahap kewaspadaan standar yang efektif dalam pencegahan dan
pengendalian infeksi adalah hand hygiene (kebersihan tangan) karena
kegagalan dalam menjaga kebersihan tangan adalah penyebab utama infeksi
nosokomial dan mengakibatkan penyebaran mikroorganisme multi resisten di
fasilitas pelayanan kesehatan (Menkes dalam Depkes RI, 2009).
Menjaga kebersihan tangan dengan cara mencuci tangan menurut Tietjen,
et.al. (2004) adalah metode paling mudah, murah dan efektif dalam pencegahan
infeksi nosokomial dengan strategi yang telah tersedia, yaitu:
1. Menaati praktek pencegahan infeksi yang diajurkan, terutama kebersihan dan
kesehatan tangan (cuci tangan) serta pemakaian sarung tangan.
2. Memperhatikan dengan seksama proses yang telah terbukti bermanfaat untuk
dekontaminasi dan pencucian peralatan dan benda lain yang kotor, diikuti
dengan sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi.
3. Meningkatkan keamanan dalam ruang operasi dan area beresiko tinggi lainnya
di mana kecelakaan perlukaan yang sangat serius dan paparan pada agen
penyebab infeksi sering terjadi.
Kewaspadaan universal perawat dalam mencegah infeksi nosocomial
menurut Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial Rumah Sakit Elisabeth Medan
(2008) dapat dilakukan dengan cara antara lain mencuci tangan dengan sabun
dan air mengalir sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan,
menggunakan alat pelindung yang sesuai untuk setiap tindakan seperti misalnya:
sarung tangan, gaun pelindung, celemek, masker, kacamata pelindung oleh setiap
kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lain, pengelolaan dan
pembuangan alat-alat tajam dengan hati- hati, pengelolaan limbah yang tercemar
oleh darah atau cairan tubuh dengan aman, pengelolaan alat kesehatan bekas
pakai dengan melakukan dekontaminasi, desinfeksi dan sterilisasi dengan benar,
dan pengelolaan linen yang tercemar dengan benar.

2.1.8 Faktor- faktor yang mempengaruhi kepatuhan cuci tangan perawat

11
Lankford, Zembover, Trick, Hacek, Noskin, & Peterson (2003) bahwa
faktor yang berpengaruh pada tindakan cuci tangan adalah tidak tersedianya
tempat cuci tangan, waktu yang digunakan untuk cuci tangan, kondisi pasien,
efek bahan cuci tangan terhadap kulit dan kurangnya pengetahuan terhada
standar. Sementara itu Tohamik (2003) menemukan dalam penelitiannya bahwa
kurang kesadaran perawat dan fasilitas menyebabkan kurang patuhnya perawat
untuk cuci tangan.Kepatuhan cuci tangan juga dipengaruhi oleh tempat tugas.
Menurut Saefudin, et.al. (2006), tingkat kepatuhan untuk melakukan KU
(Kewaspadaan Universal), khususnya berkaitan dengan HIV / AIDS, dipengaruhi
oleh faktor individu (jenis kelamin, jenis pekerjaan, profesi, lama kerja dan
tingkat pendidikan), faktor psikososial (sikap terhadap HIV dan virus hepatitis B,
ketegangan dalam suasana kerja, rasa takut dan persepsi terhadap resiko), dan
faktor organisasi manajemen (adanya kesepakatan untuk membuat suasana
lingkungan kerja yang aman, adanya dukungan dari rekan kerja dan adanya
pelatihan).
Beberapa ahli sebagaimana dikemukakan oleh Smet (1994), mengatakan
bahwa kepatuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan factor eksternal. Faktor
internal yang mempengaruhi kepatuhan dapat berupa tidak lain merupakan
karakteristik perawat itu sendiri. Karakteristik perawat merupakan ciri-ciri pribadi
yang dimiliki seseorang yang memiliki pekerjaan merawat klien sehat maupun
sakit (Adiwimarta, et.al. 1999 dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia).Karakteristik perawat meliputi variabel demografi (umur, jenis
kelamin, ras, suku bangsa dan tingkat pendidikan), kemampuan, persepsi dan
motivasi.

2.1.9 Tempat dan penyebab infeksi nasokomial khusus di ruangan ICU dengan
ketidakpatuhan dalam melakukan cuci tangan dan menjaga kebersihan
tangan
Traktus urinarius
Pemasangan kateter urine :
a. Sistem drainase terbuka.
b. Kateter dan selang tidak tersambung
12
c. Kantung drainase menyentuh permukaan yang
terkontaminasi.
d. Tehnik penampungan yang tidak tepat.
e. Obstruksi atau gangguan pada drainase urine.
f. Urine dalam kateter atau selang drainase masuk kembali kedalam kandung
kemih (refluk).
g. Tehnik mencuci tangan yang tidak tepat.
h. Mengirigasi ulang kateter dengan larutan.

Luka bedah atau traumatic


a. Persiapan kulit (mencukur dan membersihkan) yang tidak tepat, sebelum
pembedahan.
b. Tehnik mencuci tangan tidak tepat.
c. Tidak membersihkan permukaan kulit dengat tepat.
d. Tidak tepat menggunakan tehnik aseptic selama ganti balutan.
e. Menggunakan larutan antiseptic yang sudah
terkontaminasi.

Traktur respiratorius
a. Peralatan terapi pernapasan yang terkontaminasi.
b. Tidak tepat menggunakan tehnik aseptic saat pengisapan pada jalan napas.
c. Pembuangan sekresi mukosa dengan cara yang tidak tepat.
d. Tehnik mencuci tangan yang tidak tepat.

Aliran darah
a. Kontaminasi cairan intravena melalui pergantian selang atau jarum.
b. Memasukkan obat tambahan ke cairan intravena.
c. Penambahan selang penyambung atau stopcocks pada system intravena.
d. Perawatan area tusukan yang tidak tepat.
e. Jarum atau kateter yang terkontaminasi.
13
f. Gagal untuk mengganti tempat akses intravena ketika tampak pertama kali ada
imflamasi.
g. Tehnik yang tidak tepat selama pemberian bermacam produk darah.
h. Perawatan yang tidak tepat terhadap pirau peritoneal atau hemodialisis.
i. Tehnik mencuci tangan yang tidak tepat.

2.1.10 Tahapan infeksi nasokomial


Tahap pertama, mikroba pathogen bergerak menuju ke pejamu/penderita
dengan mekanisme penyebaran (mode of transmission) terdiri dari penularan
langsung dan tidak langsung (Darmadi 2008).
a. Penularan langsung
Melalui droplet nuclei yang berasal dari petugas, keluarga/pengunjung, dan
penderita lainnya. Kemungkinan lain berupa darah saat transfuse darah.
b. Penularan tidak langsung
i. Vehicle-borne yaitu penyebaran/penularan mikroba pathogen melalui benda-
benda mati seperti peralatan medis atau peralatan lainnya. Tindakan invasif
seperti pemasangan kateter, vena pungsi, tindakan pembedahan, proses, dan
tindakan medis lain beresiko untuk terjadinya infeksi nasokomia.
ii. Food borne yaitu penyebaran atau penularan makanan/minuman yang
disajikan penderita.
iii.Water borne penyebaran atau penularan pathogen melalui air, namum
kemungkinan kecil air rumah sakit sudah ter uji baku.
iv. Air borne yaitu penyebaran atau penularan pathogen melalui udara, ini
disebabkan karena ruang dan bangsa yang tertutup secara teknis kurang baik
ventilasi, dan pencahayaannya.

Tahap kedua, upaya dari mikroba pathogen untuk menginvasi ke


jaringan/organ pejamu (pasien) dengan cara mencari akses masuk seperti adanya
kerusakan, lesi/kulit atau mukosa dari rongga hidung, mulut, orifisium uretra, dan
sebagainya. Hal ini dapat terjadi sewaktu melakukan insisi bedah atau jarum
suntik. Mikroba pathogen yang dimaksud antara lain virus hepatitis B. Mikroba
masuk melalui kerusakan/lesi mukosa saluran urogenital karena tindakan invasive

14
seperti tindakan kateterisasi, sistoskopi, pemeriksaan dan tindakan ginekologi,
pertolongan persalin pervaginam patologis, baik dengan bantuan alat instrument
medis maupun tanpa bantuan instrumen medis. Dengan cara inhalasi, mikroba
pathogen masuk melalui rongga hidung menuju saluran napas.lansung terjadi
melalui percikan ludah apabila terdapat individu yang mengalami infeksi saluran
napas melakukan ekshalasi paksa seperti batuk atau bersin. Dari penularan tidak
langsung juga dapat terjadi apabila udara dalam ruangan terkontaminasi.
Lama kontak terpapar antara sumber penularan dan penderita akan meningkatkan
risiko penularan.

2.1.11 Dampak Infeksi Nasokomial akibat kekurangan perawat dalam melakukan


tindakan proses keperawatan dengan kebersihan tangan
Infeksi nasokomial dapat mengakibatkan beberapa dampak antara lain:
a. Menyebabkan cacat fungsional, serta stress emosional, dan dapat
menyebabkan cacat yang permanen serta kematian.
b. Dampak tertinggi pada Negara berkembang dengan prevalensi
HIV/AID yang tinggi.
c. Meningkatkan biaya kesehatan di berbagai Negara yang tidak mampu dengan
meningkatkan lama perawatan di rumah sakit, pengobatan dengan obat obat
mahal, dan penggunaan pelayanan lainnya.
d. Morbilitas dan mortalitas semakin tinggi.
e. Adanya tuntutan secara hukum.
f. Penurunan citra rumah sakit

2.1.12 Pengelolaan infeksi nasokomial


Terjadi infeksi nasokomial dipengaruhi oleh:
a. Banyaknya pasien yang dirawat dapat menjadi sumber infeksi bagi
lingkungan, dan pasien lainnya .
b. Kontak langsung antara pasien yang menjadi sumber infeksi dengan pasien
lainnya
c. Kontak langsung antara petugas rumah sakit yang tercemar kuman dengan
pasien

15
d. Penggunaan alat/peralatan medis yang tercemar oleh kuman
e. Kondisi pasien yang lemah akibat yang dideritanya

Seperti yang diketahui, penderita yang terindikasi harus menjadi proses


asuhan keperawatan, yaitu penderita harus menjalani proses asuhan keperawatan
seperti observasi, tindakan medis akut, atau pengobatan yang berkesinambungan.
daya tahan tubuh yang lemah sangat rentan terkena infeksi. Masuknya mikroba ke
penderita tentunya berasala dari sekitar penderita, dimana penderita menjalani
proses asuhan keparawatan, seperti penderita lain yang juga dalam proses
keprawatan, petugas pelaksana seperti dokter, dan terkusus perawat, peralatan
medis, tempat ruangan dimaan penderita dirawat, tempat dan kamar penderita
menjalani tindakan medis akut seperti kamar operasi, kamar persalinan, makanan
dan minuman yang disajikan rumah sakit,serta lingkungan rumah sakit. Untuk
dapat mengendalikannya diperlukan adanya mekanisme kerja atau system yang
bersifat lintas sektoral dan diperlukan kerja sama sesama tim kesehatan khusus
nya bagi perawat untuk menerapkan kepatuhan penerapan infeksi nasokomial

2.1.13 Pengendalian dan pencegahan infeksi nasokomial


Dalam mengendalikan infeksi nasokomial di rumah sakit, ada tiga hal yang perlu
dalam program penerapan infeksi nasokomial.
a. Adanya system surveilan yang mantap.
b. Surveilan suatu penyakit adalah tindakan pengamatan yang sistemik dan
dilakukan terus-menerus terhadap penyakit tersebut yang terjadi pada suatu
populasi tertentu dengan tujuan untuk dapat melakukan penerapan infeksi
nasokomial, dan menurunkan risiko terjadinya infeksi
nasokomial.keberhasilan seorang perawat dalam penerapan infeksi nasokomial
bukan karena cangihnya peralatan rumah sakit, tetapi ditentukan oleh
kesempurnaan perilaku petugas dalam melaksanakan perawatan penderita
secara benar.dalam pelaksanaan surveilan ini perawat sebagai petugas
lapangan di garis paling depan mempunyai peran yang sangat menentukan.
c. Adanya peraturan yang jelas, dan tegas serta dapat dilaksanakan dengan tujuan
untuk mengurangi terjadinya resiko infeksi nasokomial. peraturan ini

16
merupakan merupakan standar yang harus dilaksanakan petugas setelah
dimengerti semua petugas. Disini lah peran perawat sangat besar dalam
penerapan infeksi nasokomial. Adanya program pendidikan yang terus-
menerus bagi semua petugas rumah sakit dengan tujuan mengembalikan
sikap mental yang benar dalam merawat penderita.
Transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan hygiene
dari tangan.Tetapi pada kenyataan, hal ini sangat sulit untuk dilakukan dengan
benar. Hal ini karena banyaknya alasan seperti kurangnya peralatan, alergenik
pencuci tangan, sedikitnya pengetahuan tentang pentingnya hal ini, selain itu
penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan apabila melakukan tindakan atau
pemeriksaan pada pasien yang menderita penyakit-penyakit infeksi. Hal ini
diingatkan kepada perawat memakai sarung tangan saat menyentuh darah,
cairan tubuh, atau keringat, tinja, urin, membrane mukosa, dan bahan yang kita
aggap telah terkontaminasi, dan segera mencuci tangan setelah melepas sarung
tangan, untuk mencegah penyebaran melalui jarum suntik maka diperlukan :
(1) pengurangan penyuntikan yang kurang diperlukan, (2) pergunakan jarum
steril (3) penggunaan alat suntik yang disposable. (Numed, 2012)

2.2 Bantuan Hidup Dasar


Keadaan henti jantung saat ini menjadi salah satu penyebab tertinggi kasus kematian

17
di berbagai belahan dunia. Henti jantung dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan
disebabkan oleh berbagai macam hal juga kondisi dan lingkungan yang beragam. Anak
dan bayi pun dapat terkena kejadian henti jantung ini. Oleh karena itu, dibutuhkan
serangkaian tindakan guna mencegah kematian yang diakibatkan oleh
henti jantung. Untuk melakukan pertolongan terhadap kejadian ini, diperlukan

sebuah teknik untuk menolong nyawa saat henti jantung. Teknik ini dinamakan dengan
Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan sebuah fondasi utama yang dilakukan untuk
menyelamatkan seseorang yang mengalami henti jantung. BHD terdiri dari identifikasi
henti jantung dan aktivasi Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT),
Resusitasi Jantung Paru (RJP) dini, dan kejut jantung
menggunakan automated external defibrillator (AED) atau alat kejut jantung
otomatis.Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah serangkaian tindakan penyelamatan jiwa
untuk meningkatkan kemungkinan bertahan hidup dari korban yang mengalami henti
jantung. Inti dari RJP yang optimal adalah bagaimana cara memberikan RJP sedini
mungkin dan seefektif mungkin, oleh karena itu pada bahasan ini akan dijelaskan
mengenai bagaimana cara mengenali korban henti jantung sedini mungkin hingga
bagaimana cara menanganinya. Keberhasilan dari resusitasi setelah henti jantung akan
bergantung pada langkah-langkah yang harus kita lakukan secara berurutan. Hal ini
disebut juga Rantai Keselamatan (gambar 1) yang mencakup:
1. Deteksi dini dari henti jantung dan aktivasi sistem pelayanan gawat darurat terpadu
(SPGDT)
2. Melakukan RJP secara dini dengan teknik penekanan yang tepat
3. Melakukan kejut jantung secara dini
4. Melakukan Bantuan Hidup Lanjut yang efektif
5. Melakukan resusitasi setelah henti jantung secara terintegrasi

18
Gambar 1. Rantai Keselamatan1

Sesuai dengan Rantai Keselamatan, ketika pertama kali melihat korban, hal yang
harus dilakukan adalah memastikan/mengetahui apakah korban mengalami henti jantung
atau tidak. Setelah mengenali tanda-tanda, penolong secepatnya mengaktifkan SPGDT,
dan meminta alat kejut jantung otomatis (AED), dan segera lakukan RJP dengan awalnya
berupa penekanan dada. Lalu jika alat kejut jantung otomatis (AED) datang, segera
pasangkan pada korban untuk melakukan kejut jantung jika terdeteksi perlu kejut
jantung.

2.2.1 Henti napas


Henti napas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara
pernapasan dari korban / pasien.
Henti napas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan
Hidup Dasar. Henti napas dapat terjadi pada keadaan :
Tenggelam
Stroke
Obstruksi jalan napas
Epiglotitis
Overdosis obat-obatan
Tersengat listrik
Infark miokard
Tersambar petir
Koma akibat berbagai macam kasus
Pada awal henti napas oksigen masih dapat masuk ke dalam darah untuk
beberapa menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan

19
organ vital lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan napas akan sangat
bermanfaat agar korban dapat tetap hidup dan mencegah henti jantung.
2.2.2 Henti jantung
Pada saat terjadi henti jantung secara langsung akan terjadi henti sirkulasi.
Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital
kekurangan oksigen. Pernapasan yang terganggu (tersengal-sengal) merupakan
tanda awal akan terjadinya henti jantung.
Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat
medik yang bertujuan :
a. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi.
b. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban
yang mengalami henti jantung atau henti napas melalui Resusitasi Jantung
Paru (RJP).

Resusitasi Jantung Paru terdiri dari 2 tahap, yaitu :


Survei Primer (Primary Surgery), yang dapat dilakukan oleh setiap orang.
Survei Sekunder (Secondary Survey), yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga
medis dan paramedis terlatih dan merupakan lanjutan dari survei primer.

2.2.3 Survei Primer


Dalam survei primer difokuskan pada bantuan napas dan bantuan sirkulasi
serta defibrilasi. Untuk dapat mengingatkan dengan mudah tindakan survei
primer dirumuskan dengan abjad A, B, C, dan D, yaitu :
a. airway (jalan napas)
b. breathing (bantuan napas)
c. circulation (bantuan sirkulasi)
d. defibrilation (terapi listrik)
Sebelum melakukan tahapan A(airway), harus terlebih dahulu dilakukan
prosedur awal pada korban / pasien, yaitu :
1. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong.
2. Memastikan kesadaran dari korban / pasien.
Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak, penolong harus
melakukan upaya agar dapat memastikan kesadaran korban / pasien, dapat
20
dengan cara menyentuh atau menggoyangkan bahu korban / pasien dengan
lembut dan mantap untuk mencegah pergerakan yang berlebihan, sambil
memanggil namanya atau Pak !!! / Bu !!! / Mas !!! / Mbak !!!

3. Meminta pertolongan
Jika ternyata korban / pasien tidak memberikan respon terhadap panggilan,
segera minta bantuan dengan cara berteriak Tolong !!! untuk mengaktifkan
sistem pelayanan medis yang lebih lanjut.
4. Memperbaiki posisi korban / pasien
Untuk melakukan tindakan BHD yang efektif, korban / pasien harus dalam
posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras. Jika
korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi korban
ke posisi terlentang. Ingat ! penolong harus membalikkan korban sebagai
satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama.
Jika posisi sudah terlentang, korban harus dipertahankan pada posisi
horisontal dengan alas tidur yang keras dan kedua tangan diletakkan di
samping tubuh.
5. Mengatur posisi penolong
Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan bantuan
napas dan sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah posisi atau menggerakan
lutut.

A. (AIRWAY) Jalan Napas


Setelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan
dengan melakukan tindakan :
21
1. Pemeriksaan jalan napas
Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan
jalan napas oleh benda asing. Jika terdapat sumbatan harus
dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan
dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong
kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan
menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka
dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan
dengan jari telunjuk pada mulut korban.

2. Membuka jalan napas


Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing,
biasa pada korban tidak sadar tonus otototot menghilang, maka
lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink, inilah salah satu
penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah
dapat dilakukan dengan cara tengadah kepala topang dagu (Head tilt
chin lift) dan Manuver Pendorongan Mandibula. Teknik membuka
jalan napas yang direkomendasikan untuk orang awam dan petugas
kesehatan adalah tengadah kepala topang dagu, namun demikian
petugas kesehatan harus dapat melakukan manuver lainnya.

22
B. ( BREATHING ) Bantuan napas
Terdiri dari 2 tahap :

1. Memastikan korban / pasien tidak bernapas.


Dengan cara melihat pergerakan naik turunnya dada, mendengar
bunyi napas dan merasakan hembusan napas korban / pasien. Untuk itu
penolong harus mendekatkan telinga di atas mulut dan hidung korban /
pasien, sambil tetap mempertahankan jalan napas tetap terbuka.
Prosedur ini dilakukan tidak boleh melebihi 10 detik.

2. Memberikan bantuan napas.


Jika korban / pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat
dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke
stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan
hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan
untuk tiap kali hembusan adalah 1,52 detik dan volume udara yang
dihembuskan adalah 400 -500 ml (10 ml/kg) atau sampai dada korban /
pasien terlihat mengembang.
Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan
menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup.
Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 1617%. Penolong
juga harus memperhatikan respon dari korban / pasien setelah diberikan

23
bantuan napas.
Cara memberikan bantuan pernapasan :
a. Mulut ke mulut
Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini
merupakan cara yang cepat dan efektif untuk memberikan udara ke
paruparu korban / pasien.

Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut ke mulut,


penolong harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut
penolong harus dapat menutup seluruhnya mulut korban dengan
baik agar tidak terjadi kebocoran saat menghembuskan napas dan
juga penolong harus menutup lubang hidung korban / pasien
dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar
kembali dari hidung. Volume udara yang diberikan pada
kebanyakan orang dewasa adalah 400 - 500 ml (10 ml/kg).
Volume udara yang berlebihan dan laju inspirasi yang terlalu cepat
dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi
distensi lambung.

b. Mulut ke hidung

24
Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut
korban tidak memungkinkan, misalnya pada Trismus atau dimana
mulut korban mengalami luka yang berat, dan sebaliknya jika melalui
mulut ke hidung, penolong harus menutup mulut korban / pasien.

c. Mulut ke Stoma
Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma) yang
menghubungkan trakhea langsung ke kulit. Bila pasien mengalami kesulitan
pernapasan maka harus dilakukan ventilasi dari mulut ke stoma.

C. (CIRCULATION) Bantuan sirkulasi


Terdiri dari 2 tahapan :
1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban / pasien.
Ada tidaknya denyut jantung korban / pasien dapat ditentukan
dengan meraba arteri karotis didaerah leher korban / pasien, dengan dua
atau tifa jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba
pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser
ke bagian sisi kanan atau kiri kirakira 12 cm, raba dengan lembut
selama 510 detik.

Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa


pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang
25
dagu untuk menilai pernapasan korban / pasien. Jika tidak bernapas
lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas.

2. Melakukan bantuan sirkulasi


Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat
diberikan bantuan sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung
luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut :
Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang
iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada
(sternum).
Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2
atau 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk
meletakkan tangan penolong dalam memberikan bantuan
sirkulasi.
Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk
satu telapak tangan diatas telapak tangan yang lainnya, hindari
jarijari tangan menyentuh dinding dada korban / pasien, jarijari
tangan dapat diluruskan atau menyilang.
Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding
dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur
sebanyak 30 kali dengan kedalaman penekanan berkisar antara
1,52 inci (3,85 cm).
Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada
dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali
melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan
untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat
melakukan kompresi. (50% Duty Cycle).
Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah
posisi tangan pada saat melepaskan kompresi.
Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 30 : 2
dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong jika korban / pasien tidak
terintubasi dan kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit

26
(dilakukan 4 siklus permenit), untuk kemudian dinilai apakah
perlu dilakukan siklus berikutnya atau tidak.

Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan


sistolik 6080 mmHg, dan diastolik yang sangat rendah, sedangkan
curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah jantung normal.
Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur
dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada)
tidak boleh melebihi 30 detik.

D. (DEFRIBILATION)
Defibrilation atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan
istilah defibrilasi adalah suatu terapi dengan memberikan energi listrik. Hal ini
dilakukan jika penyebab henti jantung (cardiac arrest) adalah kelainan irama
jantung yang disebut dengan Fibrilasi Ventrikel. Dimasa sekarang ini sudah
tersedia alat untuk defibrilasi (defibrilator) yang dapat digunakan oleh orang
awam yang disebut Automatic External Defibrilation, dimana alat tersebut
dapat mengetahui korban henti jantung ini harus dilakukan defibrilasi atau
27
tidak, jika perlu dilakukan defibrilasi alat tersebut dapat memberikan tanda

kepada penolong untuk melakukan defibrilasi atau melanjutkan bantuan napas


dan bantuan sirkulasi saja.

Melakukan Bhd 1 Dan 2 Penolong


Orang awam hanya mempelajari cara melakukan BHD 1 penolong.
Teknik BHD yang dilakukan oleh 2 penolong menyebabkan kebingungan
koordinasi. BHD 1 penolong pada orang awam lebih efektif mempertahankan
sirkulasi dan ventilasi yang adekuat, tetapi konsekuensinya akan menyebabkan
penolong cepat lelah.
BHD 1 penolong dapat mengikuti urutan sebagai berikut :
1. Penilaian korban.
Tentukan kesadaran korban / pasien (sentuh dan goyangkan korban
dengan lembut dan mantap), jika tidak sadar, maka
2. Minta pertolongan serta aktifkan sistem emergensi.
3. Jalan napas (AIRWAY)
Posisikan korban / pasien
Buka jalan napas dengan manuver tengadah kepala topang dagu.
4. Pernapasan (BREATHING)
Nilai pernapasan untuk melihat ada tidaknya pernapasan dan adekuat atau
tidak pernapasan korban / pasien.

28
Jika korban / pasien dewasa tidak sadar dengan napas spontan, serta tidak adanya
trauma leher (trauma tulang belakang) posisikan korban pada posisi mantap
(Recovery position), dengan tetap menjaga jalan napas tetap terbuka.
Jika korban / pasien dewasa tidak sadar dan tidak bernapas, lakukan bantuan
napas. Di Amerika Serikat dan dinegara lainnya dilakukan bantuan napas awal
sebanyak 2 kali, sedangkan di Eropa, Australia, New Zealand diberikan 5 kali.
Jika pemberian napas awal terdapat kesulitan, dapat dicoba dengan membetulkan
posisi kepala korban / pasien, atau ternyata tidak bisa juga maka dilakukan :
- Untuk orang awam dapat dilanjutkan dengan kompresi dada sebanyak 30 kali
dan 2 kali ventilasi, setiap kali membuka jalan napas untuk menghembuskan
napas, sambil mencari benda yang menyumbat di jalan napas, jika terlihat
usahakan dikeluarkan.
- Untuk petugas kesehatan yang terlatih dilakukan manajemen obstruksi jalan
napas oleh benda asing.
- Pastikan dada pasien mengembang pada saat diberikan bantuan pernapasan.
- Setelah memberikan napas 8-10 kali (1 menit), nilai kembali tanda tanda
adanya sirkulasi dengan meraba arteri karotis, bila nadi ada cek napas, jika
tidak bernapas lanjutkan kembali bantuan napas.

5. Sirkulasi (CIRCULATION)
Periksa tandatanda adanya sirkulasi setelah memberikan 2 kali bantuan
pernapasan dengan cara melihat ada tidaknya pernapasan spontan, batuk
atau pergerakan. Untuk petugas kesehatan terlatih hendaknya memeriksa
denyut nadi pada arteri Karotis.
Jika ada tandatanda sirkulasi, dan ada denyut nadi tidak dilakukan
kompresi dada, hanya menilai pernapasan korban / pasien (ada atau
tidak ada pernapasan)
Jika tidak ada tandatanda sirkulasi, denyut nadi tidak ada lakukan
kompresi dada :
- Letakkan telapak tangan pada posisi yang benar.
- Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali dengan kecepatan 100
kali per menit.
- Buka jalan napas dan berikan 2 kali bantuan pernapasan.
29
- Letakkan kembali telapak tangan pada posisi yang tepat dan
mulai kembali kompresi 30 kali dengan kecepatan 100 kali per
menit.

6. Penilaian Ulang
Sesudah 5 siklus ventilasi dan kompresi (+2Menit) kemudian korban
dievaluasi kembali,
Jika tidak ada nadi dilakukan kembali kompresi dan bantuan napas
dengan rasion 30 : 2.
Jika ada napas dan denyut nadi teraba letakkan korban pada posisi
mantap.
Jika tidak ada napas tetapi nadi teraba, berikan bantuan napas
sebanyak 8-10 kali permenit dan monitor nadi setiap saat.
Jika sudah terdapat pernapasan spontan dan adekuat serta nadi
teraba, jaga agar jalan napas tetap terbuka kemudian korban / pasien
ditidurkan pada posisi sisi mantap.

30
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Mencuci tangan merupakan kegiatan sehari hari yang sangat sederhana dan sepele, namun
berperan penting dalam menjaga kebersihan dan kesehatan. Dengan mencuci tangan menghindari
penyakit seperti diare, flu, penyakit kulit, alergi dan gatal gatal. Karena tangan kita adalah
bagian dari tubuh yang sangat sering menyebarkan infeksi. Tangan terkena kuman waktu
menyentuh daerah tubuh kita, tubuh orang lain, hewan atau permukaan yang tercemar.
Perawat punya andil besar dalam pencegahan infeksi nosokomial dengan cara meningkatkan
kepetuhan cuci tangan, oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara kepatuhan
perawat melakukan cuci tangan dan kejadian infeksi nosocomial
Bantuan hidup dasar terdiri dari beberapa cara sederhana yang dapat membantu
mempertahankan hidup seseorang untuk sementara. Beberapa cara sederhana tersebut adalah
bagaimana menguasai dan membebaskan jalan nafas, bagaimana memberikan bantuan penafasan
dan bagaimana membantu mengalirkan darah ke tempat yang penting dalam tubuh korban,
sehingga pasokan oksigen ke otak terjaga untuk mencegah matinya sel otak.
Penilaian dan perawatan yang dilakukan pada bantuan hidup dasar sangat penting guna
melanjutkan ketahapan selanjutnya. Hal ini harus dilakukan secara cermat dan terus menerus
termasuk terhadap tanggapan korban pada proses pertolongan.

31
DAFTAR ISI

Zaidulfar. (2010) Cardio Pulmonary Rescucitation. Proceedings of skill lab training of


medical student of Block 16th of Andalas University, Indonesia

Latief, Said A.dkk. (2002) Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua. Jakarta: Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Karo, Santoso.dkk. (2009) Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Jantung Lanjut ACLS
(Advanced Cardiac Life Support) Indonesia. Jakarta:PERKI-2008

32