Anda di halaman 1dari 14

Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja 0

Puskesmas Cawas I Klaten (Arif Madriffai)

HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN KEKAMBUHAN


PASIEN SKIZOFRENIA DI WILAYAH KERJA
UPTD PUSKESMAS CAWAS I KLATEN

NASKAH PUBLIKASI

Diajukan sebagai salah satu syarat


untuk meraih gelar Sarjana Keperawatan

Disusun Oleh :

NAMA : Arif Madriffai


NIM : J 210.131.017

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2015
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja 1
Puskesmas Cawas I Klaten (Arif Madriffai)
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja 2
Puskesmas Cawas I Klaten (Arif Madriffai)

PENELITIAN

HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN KEKAMBUHAN PASIEN


SKIZOFRENIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CAWAS I KLATEN

Arif Madriffai*
H.M. Abi Muhlisin, SKM, M.Kep **
Ns. Wachidah Yuniartika, S.Kep ***

Abstrak
Skizofrenia merupakan penyakit distorsi mental tentang apa yang
dirasakan dengan orang lain adalah berbeda, lebih cenderung persepsi terhadap
dirinya sendiri. Kekambuhan pada pasien skizofrenia 100% terjadi pada tahun
kelima setelah terdiagnosis skizofrenia. Keluarga merupakan tempat yang aman
dan nyaman untuk berlindung, keluarga juga merupakan perawat utama bagi klien
dalam menentukan asuhan keperawatan yang diperlukan di rumah. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui peran keluarga dengan kekambuhan pada
pasien skizofrenia. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan
rancangan penelitian deskriptif korelasional yaitu mencari hubungan antar
variable. Penelitian dilakukan bulan Maret 2015 di puskesmas Cawas I Klaten.
Jumlah responden sebanyak 35 responden dengan teknik purposive sampling.
Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan
Uji Chi square. Hasil penelitian adalah 16 responden (46%) berperan rendah dan
14 responden (40%) berperan cukup serta 5 responden (14%) berperan tinggi
dilihat dari kekambuhan pasien skizofrenia yang tergolong kekambuhan jarang 13
pasien (37%) dan tergolong kekambuhan sering 22 pasien (63%). Kesimpulan dari
penelitian ini adalah ada hubungan yang signifikan antara peran keluarga dengan
kekambuhan pada pasien skizofrenia di wilayah kerja puskesmas Cawas I Klaten.

Kata kunci : Peran Keluarga, Kekambuhan Skizofrenia


Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja 3
Puskesmas Cawas I Klaten (Arif Madriffai)

THE ROLE OF FAMILY RELATIONSHIP WITH RELAPSE IN


SCHIZOPHRENIA PATIENTS PUSKESMAS CAWAS I KLATEN

Arif Madriffai*
H.M. Abi Muhlisin, SKM, M.Kep **
Ns. Wachidah Yuniartika, S.Kep ***
Abstract

chizophrenia is a mental illness distortion of what is perceived by others


is a different, more likely perceptions of himself. Relapse in patients with
schizophrenia 100% occurred in the fifth year after diagnosis of schizophrenia.
The family is a safe and comfortable place for shelter, the family is also the
primary caregivers for clients in determining the required nursing care at home.
The purpose of this study was to determine the role of families with relapse in
patients with schizophrenia. This research is a quantitative study with a
descriptive correlational design is to look for relationships between variables. The
study was conducted in March 2015 in the clinic Cawas I Klaten. Total
respondents 35 respondents using purposive sampling. Methods of data collection
using the questionare. Data analysis using Chi-square test. Results of the research
are 16 respondents (46%) plays low and 14 respondents (40%) to act fairly and 5
respondents (14%) play a role lofty views of relapse of schizophrenia patients
were classified as recurrence rare 13 patients (37%) and classified as recurrence
often 22 patients (63%). The conclusion from this study is that there is a
significant relationship between the role of families with recurrence in patients
with schizophrenia in the working area health centers Cawas I Klaten.

Keyword : Family roles, Recurrence Schizophrenia


Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I 3
Klaten (Arif Madriffai)

PENDAHULUAN tidak diteruskan di rumah yang kemudian


Hampir 1% dari jumlah penduduk di mengakibatkan klien harus dirawat kembali
dunia menderita skizofrenia selama hidup (kambuh). Peran serta keluarga sejak awal
mereka (Fausiah, 2005). Berdasarkan data asuhan di rumah sakit adalah meningkatkan
World Health Organition WHO (2010) dan memberdaya kemampuan keluarga secara
masalah skizofrenia sudah menjadi masalah mandiri dalam merawat klien di rumah
yang sangat serius, angka kejadian pertahun (Kelliat, 1992).
mencapai 15-20/100.000 individu, dengan Data rekam medik puskesmas Cawas I
resiko morbiditas selama hidup 0,85% Klaten didapatkan bahwa prevelensi penderita
(pria/wanita) dan kejadian puncak pada akhir skizofrenia pada tahun 2012 ditemukan
masa remaja atau awal dewasa (Katona, frekuensi kekambuhan sebanyak 530
2013). kunjungan dari sejumlah 60 penderita,
Depkes RI (2008) melaporkan bahwa sedangkan laporan tahun 2013 mencatat
di Indonesia jumlah penderita gangguan jiwa angka kejadian kekambuhan penyakit
berat sekitar 6juta orang atau sekitar 2,5% skizofrenia sebanyak 449 kunjungan dari 55
dari penduduk di indonesia, Sebanyak 1-3 penderita, dan tahun 2014 terdapat angka
orang dari 1000 penduduk di Indonesia kekambuhan skizofrenia sebanyak 487
mengalami gangguan jiwa. Dari 1-3 penderita kunjungan dari 55 penderita skizofrenia.
tersebut separuh diantaranya berlanjut Jumlah keseluruhan penderita skizofrenia di
menjadi gangguan jiwa berat skizofrenia. puskesmas Cawas I Klaten pada tahun 2014
Berdasarkan data dinas kesehatan sebanyak 93 penderita tetapi yang mengalami
Jawa Tengah (2013) terdapat 3/1000 dari kekambuhan sebanyak 55 pasien
32.952.040 penduduk di jawa tengah
terdiagnosa skizofrenia, jadi terdapat sekitar LANDASAN TEORI
98.856 orang yang mengalami gangguan jiwa Definisi
skizofrenia (Sri, 2008). Berdasarkan laporan Skizofrenia merupakan gangguan
tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten yang ditandai dengan disorganisasi
angka kejadian gangguan jiwa pada tahun kepribadian yang cukup parah, distorsi realita
2014 sebanyak 1.565 penderita. dan ketidakmampuan berinteraksi dengan
. Kekambuhan adalah timbulnya gejala kehidupan sehari - hari. Seseorang yang
yang sebelumnya sudah memperoleh mengalami skizofrenia biasanya isi fikirnya
kemajuan (Stuard and Laraia, 2006). Pasien tidak teratur, dan mungkin mengalami delusi
dengan diagnosis skizofrenia diperkirakan atau halusinasi pendengaran (Ardani, 2013)
akan kambuh 50% pada tahun pertama, 70% Kambuh pada skizofrenia merupakan
pada tahun kedua dan 100% pada tahun keadaan klien dimana muncul gejala yang
kelima setelah pulang dari rumah sakit. sama seperti sebelumnya (Andri, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi Frekuensi kekambuhan adalah lamanya waktu
kekambuhan pasien skizofrenia yaitu klien, tertentu atau masa dimana klien muncul lagi
penanggung jawab klien (care manager), gejala yang sama seperti sebelumnya dan
dokter, dan keluarga (Kelliat, 2011). mengakibatkan klien harus dirawat kembali
Keluarga merupakan unit paling dekat (Kelliat, 2011).
dengan klien, dan merupakan perawat Pasien skizofrenia yang kambuh
utama bagi klien. Keluarga berperan dalam biasanya sebelum keluar dari RS mempunyai
menentukan cara atau asuhan keperawatan karakteristik hiperaktif, tidak mau minum
yang diperlukan klien di rumah. Keberhasilan obat dan memiliki sedikit keterampilan sosial
perawat di rumah sakit dengan sia-sia jika (Kelliat, 2011)
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I 4
Klaten (Arif Madriffai)

Faktor-faktor yang mempengaruhi tanggung jawab yang penting dalam proses


kekambuhan skizofrenia perawatan di rumah sakit jiwa, persiapan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pulang dan setelah
kekambuhan skizofrenia adalah klien, dokter
penanggung jawab klien dan keluarga No. Umur Jumlah Persentasi
(Kelliat, 2011). Responden (%)
1. Faktor klien 1. Remaja 4 11
Secara umum bahwa klien yang minum akhir (17 -
obat secara tidak teratur mempunyai 25)
kecenderungan untuk kambuh. Hasil 2. Deawasa 9 26
penelitian menunjukkan 25% sampai 50% awal (26 -
klien yang pulang dari rumah sakit jiwa 35)
tidak memakan obat secara teratur 3. Dewasa 13 37
(Appleton, dalam Keliat 1996). Klien akhir (36 -
kronis, khususnya skizofrenia sukar 45)
mengikuti aturan minum obat karena 4. Lansia 7 20
adanya gangguan realitas dan awal (46
ketidakmampuan mengambil keputusan. - 55)
Di rumah sakit perawat bertanggung jawab 5. Lansia 2 6
dalam pemberian atau pemantauan akhir (56 -
pemberian obat, di rumah tugas perawat 65)
digantikan oleh keluarga. Jumlah 35 100
2. Faktor dokter pasien pulang kerumah, sebaiknya pasien
Minum obat yang teratur dapat mengurangi melakukan perawatan lanjutan pada
kekambuhan, namun pemakaian obat puskesmas di wilayahnya yang mempunyai
neuroleptik yang lama dapat menibulkan program integrasi kesehatan jiwa. Keluarga
efek samping yang dapat menggangu membantu proses adaptasi klien di dalam
hubungan sosial seperti gerakan yang tidak keluarga dan masyarakat serta membuat
terkontrol. Pemberian resep diharapkan jadwal aftercare. Kualitas dan efektifitas
tetap waspada mengidentifikasi dosis perilaku keluarga akan membantu proses
terapeutik yang dapat mencegah pemulihan kesehatan klien sehingga status
kekambuhan dan efek samping. klien meningkat.
3. Faktor penanggung jawab klien.
Setelah klien pulang ke rumah maka
penanggung jawab kasus mempunyai METODE PENELITIAN
kesempatan yang lebih banyak untuk Desain penelitian
bertemu dengan klien, sehingga dapat Metode penelitian yang digunakan
mengidentifikasi gejala dini dan segera adalah deskriptif korelatif dengan desain
mengambil tindakan. Cross-Sectionalf, yang digunakan untuk
4. Faktor keluarga. mencari hubungan antar variable, digunakan
Ekspresi emosi yang tinggi dari keluarga untuk mengetahui antara peran keluarga
diperkirakan menyebabkan kekambuhan dengan kekambuhan pasien skizofrenia Jenis
yang tinggi pada klien. Hal lain adalah penelitian ini adalah kuantitatif.
klien mudah dipengaruhi oleh stress yang Populasi dan Sampel
menyenangkan maupun yang Populasi penelitian ini adalah semua
menyedihkan. Keluarga mempunyai keluarga yang mempunyai anggota keluarga
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I 5
Klaten (Arif Madriffai)

yang sakit skizofrenia di wilayah kerja Tabel 4.3


puskesmas Cawas I Klaten yang pernah Distribusi Responden Menurut Tingkat
mengalami kekambuhan sebanyak 55 Pendidikan
responden. Sampel sebanyak 35 responden.
teknik pengambilan sampel menggunakan No. Pendidikan Jumlah Persentasi
Purposive Sampling. Instrumen penelitian (%)
yang digunakan peneliti dalam pengumpulan 1. SD 14 40
data adalah kuesioner. 2. SMP 10 29
HASIL PENELITIAN 3. SMA 9 26
Berikut hasil dan pembahasan 4. PT 2 5
mengenai peran keluarga dengan kekambuhan Jumlah 35 100
pasien skizofrenia pada responden penelitian :
Distribusi responden menurut tingkat
Tabel 1 pendidikan menunjukkan distribusi
Distribusi frekuensi responden bedasarkan terbesar adalah SD yaitu sebanyak 14
umur (40%) dan distribusi terendah adalah
perguruan tinggi (PT) sebanyak 2
Distribusi responden menurut umur responden (5%). Rata - rata responden
diketahui bahwa responden termuda adalah berpendidikan SMP (29%) dan SMA
remaja akhir (17 - 25 tahun) sebanyak 4 (26%).
responden (11%), dan responden tertua adalah Tabel 4.4
kategori lansia akhir (55 - 65 tahun) sebanyak Distribusi Responden Menurut Pekerjaan
2 reponden (6%) sedangkan distribusi
terbanyak adalah dewasa akhir (36 - 45 tahun)
No. Pekerjaan Jumlah Persentasi
yaitu sebanyak 13 (37%).
(%)
1. Petani 14 40
Tabel 4.2
2. PNS 1 3
Distribusi Responden Menurut Jenis
3. Pegawai 5 14
Kelamin
Swasta
4. Wiraswasta 15 43
No. Jenis Jumlah Persentasi
jumlah 35 100
Kelamin (%)
1. laki-laki 22 63
Distribusi responden menurut
2. perempuan 13 37
pekerjaan diketahui sebagian besar
Total 35 100
memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta
sebanyak 15 (43%), lebih banyak
Distribusi responden menurut Jenis
dibandingkan dengan responden yang
Kelamin menunjukkan distribusi terbesar
pekerjaan sebagai PNS yaitu sebanyak 1
adalah laki - laki yaitu sebanyak 22 (63%)
responden (3%).
dan distribusi terendah adalah perempuan
sebanyak 13 responden (37%).
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I 6
Klaten (Arif Madriffai)

Tabel 4.5 Analisis univariat


Distribusi Responden menurut Hubungan
dengan Pasien Tabel 4.5
Peran keluarga
No. Hubungan Jumlah Persentasi
dengan (%) No. Peran Jumlah Persentasi
Pasien keluarga (%)
1 Ayah 13 37 1. Rendah 16 46
2 Ibu 5 14 2. Cukup 14 40
3 Kakak 9 26 3. Tinggi 5 14
4 Adik 3 9 Jumlah 35 100
5 Lain-Lain 5 14
Total 35 100 Data tentang peran keluarga diperoleh dari
18 pertanyaan kuesioner. Peran keluarga
Distribusi responden menurut dibagi menjadi 3 kategori, yaitu peran rendah,
Hubungan dengan pasien menunjukkan cukup dan tinggi.
distribusi terbesar adalah ayah yaitu Distribusi peran tertinggi adalah kategori
sebanyak 13 (37%) dan distribusi terendah cukup yaitu sebanyak 16 responden (46%)
adalah adik sebanyak 3 responden (9%). dan distribusi terendah adalah kategori tinggi
Rata - rata responden hubungan sebagai sebanyak 5 responden (14%).
ibu (14%), kakak (26%) dan lain-lain
(14%). Tabel 4.6
Tabel 4.6 Frekuensi Kekambuhan Pada Penderita
Distribusi Responden menurut Lama Skizofrenia
Pasien Menderita Skizofrenia
No. Kekambuhan Jumlah Persentasi
No. Lama Jumlah Persentasi (%)
menderita (%) 1. Jarang 13 37
1. 1-4 10 29 2. Sering 22 63
tahun Jumlah 35 100
2. 5-8 25 71
tahun
Kekambuhan responden dibagi dalam
Total 35 100
2 kategori, yaitu kekambuhan jarang dan
sering. Pada tabel 4.6 di atas menunjukkan
Distribusi responden menurut lama
bahwa sebagian besar responden dalam
pasien menderita skizofrenia menunjukkan
kategori sering yaitu 22 (63%) sedangkan
distribusi terbesar adalah 5 8 tahun yaitu
distribusi terendah adalah kategori jarang
sebanyak 25 responden (71%) dan
sebanyak responden (37%)
distribusi terendah adalah 1 - 4 tahun
sebanyak 10 responden (29%).
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I 7
Klaten (Arif Madriffai)

Tabel 4.7 akhir yaitu sebanyak 13 responden dengan


Crosstab Hubungan Antara Peran jumlah presentase 37%, sedangkan sebagian
Keluarga Dengan Kekambuhan Pada kecil keluarga yang mempunyai anggota
pasien skizofrenia keluarga yang sakit skizofrenia yaitu lansia
akhir sebanyak 2 responden dengan
Peran Kekambuhan skizofreni Total presentase 6%.
keluarg Jarang Sering Berdasarkan hasil penelitian distribusi
a berdasarkan jenis kelamin responden di
Fre % Fre % Frek %
dapatkan data bahwa sebagian besar
Rendah 2 6 14 40 16 100 responden berjenis kelamin laki laki yaitu
Cukup 8 23 6 17 14 100 22 responden (63%) dan hubungan dengan
Tinggi 3 9 2 5 5 100 pasien skizofrenia sebagai ayah yaitu 13
13 38 22 62 35 100 responden (37%).
X2 = 7.679 H0 ditolak Hasil penelitian yang dilakukan di
- value = 0,022 puskesmas Cawas I Klaten hampir sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Hendy
Tabel 4.5 menunjukkan responden (2007) di lingkungan keluarga, ibu kurang
yang berperan rendah dengan kekambuhan berperan secara optimal sehingga ibu
jarang sebanyak 2 responden (6%), peran cenderung menjadi bad-enough mother.
rendah dengan kekambuhan sering sebanyak Selain itu kedudukan ibu lebih lemah
14 responden (40%). Responden yang daripada ayah sehingga ibu hanya cenderung
berperan cukup dengan kekambuhan jarang menurut kepada ayah. Ayah memiliki
sebanyak 8 responden (23%), peran cukup kedudukan yang paling kuat danb berperan
dengan sering sebanyak 6 responden (17%). lebih aktif sehingga ayah menjadi figur
Sedangkan responden yang berperan tinggi sentral dan memegang keputusan keluarga.
Distribusi responden menurut pekerjaan
dengan kekambuhan jarang sebanyak 3
didapatkan data bahwa pekerjaan responden
responden (9%) dan peran tinggi dengan paling banyak sebagai wiraswasta yaitu 15
kekambuhan sering sebanyak 2 responden responden (43%) dan paling sedikit sebagai
(5%). PNS sebanyak 1 responden (3%), frekuensi
Hasil pengujian Chi-Square hubungan tingkat pendidikan responden paling banyak
peran keluarga dengan kekambuhan diperoleh adalah SD sebanyak 14 responden (40%) dan
nilai X2 sebesar 7.679 dengan -value = 0,022. paling sedikit adalah PT sebanyak 2
Nilai -value lebih kecil dari 0,05 (0,022< responden (6%).
0,05) maka disimpulkan H0 ditolak. Hasil penelitian tersebut hampir serupa
Berdasarkan uji tersebut maka disimpulkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Meta
terdapat Hubungan Antara Peran Keluarga (2010) bahwa status ekonomi dan kualitas
Dengan Kekambuhan Pada Pasien hidup yang sangat bermakna antara pasien
Skizofrenia Di Wilayah Kerja Puskesmas skziofrenia gejala positif menonjol dan gejala
Cawas I Klaten. negatif menonjol serta proporsi pasien
skizofrenia yang mempunyai kualitas hidup
PEMBAHASAN baik secara sangat bermakna lebih banyak
Berdasarkan hasil penelitian tentang didapatkan pada kelompok pasien skizofrenia
distribusi berdasarkan pengelompokan usia yang mempunyai gejala positif menonjol
responden di dapatkan data bahwa sebagian daripada yang negatif menonjol.
besar keluarga yang mempunyai anggota
keluarga sakit skizofrenia adalah dewasa
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I 8
Klaten (Arif Madriffai)

Distribusi responden menurut lama skizofrenia sudah sembuh dan pengawasan


anggota keluarga menderita skziofrenia aftercare di pelayanan kesehatan jiwa
didapatkan data bahwa sebagian besar lama (RSJ/puskesmas integrasi) menjadi
pasien menderita selama 5 - 8 tahun sebanyak terabaikan. Hal inilah yang menyebabkan
25 responden (71%) dan sebagian kecil lama peran keluarga terhadap pasien skizofrenia
menderita pasien selama 1 4 tahun sebanyak menjadi rendah ( Kelliat, 1992).
10 responden (29%) sesuai dengan penelitian Dalam penelitian ini didapatkan bahwa
yang dilakukan oleh Suryani (2009) bahwa sebagian besar peran keluarga 46% responden
keluarga pasien skizofrenia mempunyai dalam kategori rendah. Peran keluarga yang
kecenderungan depresi dibandingkan dengan diberikan salah satunya Keluarga membantu
keluarga pasien psikis lainya, terdapat proses adaptasi klien di dalam keluarga dan
hubungan yang kuat antara lama sakit pasien masyarakat serta pelaksanaan program
skizofrenia dengan skor depresi pada aftercare. Peran keluarga yang diberikan
keluarganya dan terdapat hubungan negatif terhadap pasien skizofrenia dapat dipengaruhi
yang kuat antara persepsi dukungan sosial oleh perbedaan kelas sosial seperti keluarga
dengan skor depresi pada keluarga pasien yang berpenghasilan rendah, keluarga kelas
skizofrenia. pekerja dan menengah, karena keluarga
Data tentang peran keluarga tentang dengan kelas sosial yang tinggi peran tentang
skizofrenia diperoleh dari 18 pertanyaan kepedulian dan cara menentukan asuhan
kuesioner. Distribusi peran keluarga tertinggi keperawatan yang diperlukan oleh anggota
adalah kategori cukup yaitu sebanyak 16 keluarga yang menderita skizofrenia lebih
responden (46%) dan distribusi terendah maksimal dibandingkan dengan kelas sosial
adalah kategori tinggi sebanyak 5 responden yang rendah. Penelitian ini sesuai dengan
(14%). pendapat Friedman (2002) bahwa variabel
Peran keluarga terhadap penderita yang dapat mempengaruhi peran keluarga
skizofrenia merupakan serangkaian tindakan antara lain perbedaan kelas sosial, bentuk
yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial keluarga, pengaruh kebudayaan / etnik, tahap
yang diberikan dalam keluarganya. Sebagian perkembangan keluarga, dan model peran.
besar peran keluarga yang diberikan sebagai Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
pendorong, sahabat, pendamai, penyalah, bahwa sebagian besar responden dalam
dominator, pengasuh keluarga, terapi keluarga kategori sering yaitu 22 responden (63%)
dan perawatan selama dirumah sesuai dengan sedangkan distribusi terendah adalah kategori
teori peran keluarga menurut Friedman jarang sebanyak 13 responden (37%).
(2002). Dalam penelitian ini didapatkan bahwa
Keluarga berperan dalam menentukan cara sebagian besar Kekambuhan skizofrenia 63%
atau asuhan keperawatan yang diperlukan responden dalam kategori sering.
klien di rumah. Keberhasilan perawat di Kekambuhan yang terjadi dipengaruhi oleh
rumah sakit dengan sia - sia jika tidak obat psikotropik dan faktor keluarga.
diteruskan di rumah Peran serta keluarga Keluarga yang rutin berkoordinasi dengan
sejak awal asuhan di rumah sakit adalah petugas kesehatan dalam pelaksanaan
meningkatkan dan memberdaya kemampuan program aftercare pengobatan pada penderita
keluarga secara mandiri dalam merawat klien skizofrenia akan mengurangi angka
di rumah (Kelliat, 1992). kekambuhanya.
Penelititan ini serupa dengan penelitian Kekambuhan skizofrenia sering kali di
Nurdiana (2007) bahwa keluarga biasanya sembunyikan oleh keluarga dan dikucilkan
menganggap anggota keluarganya yang sakit agar tidak diketahui oleh masyarakat. Persepsi
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I 9
Klaten (Arif Madriffai)

keluarga yang positif sangat dibutuhkan kesehatan jiwa terdekat, kekambuhan


dalam perawatan pasien skizofrenia untuk skizofrenia dapat diminimalkan (Kelliat,
mengurangi kekambuhanya. Membangun 1992).
persepsi positif pada keluarga bisa dilakukan Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dengan cara melakukan penyuluhan kepada dilakukan oleh Kristin (2012) tentang faktor -
keluarga tentang skizofrenia dan tempat faktor yang mempengaruhi kekambuhan
pelayanan kesehatan jiwa perlu pasien skizofrenia di poliklinik RSJD Dr.
mengembangkan promosi kesehatan di Amino Gondohutomo Semarang bahwa
masyarakat agar terciptanya persepsi yang semakin baik peran serta keluarga terhadap
positif terhadap skizofrenia baik oleh keluarga pasien skizofrenia maka kekambuhan
maupun masyarakat sesuai dengan penelitian skizofrenia dapat diminimalkan.
yang dilakukan oleh Wijaya (2010) bahwa Namun dari penelitian ini juga terdapat 5%
semakin sulit atau semakin tidak adanya kekambuhan dengan responden yang berperan
pelayanan kesehatan yang diterima oleh tinggi sejumlah 2 responden. Hal tersebut
responden semakin besar kemungkinan untuk menunjukan bahwa peran keluarga bukan
seringnya terjadi kekambuhan atau dengan merupakan satu - satunya yang dapat memicu
kata lain semakin baik pelayanan kesehatan kekambuhan pada pasien skizofrenia. Adapun
yang tersedia semakin besar peluangnya faktor lain yang dapat memicu kekambuhan
dalam mencegah terjadinya kekambuhan. pada skizofrenia selain keluarga adalah
Penelitian ini sesuai dengan pendapat dokter, klien, dan case manager (Kelliat,
Kelliat (2011) bahwa faktor yang 1992).
mempengaruhi kekambuhan pada pasien Pada penelitian ini dapat diteliti
skizofrenia antara lain oleh pasien, dokter, karakteristik responden yang berhubungan
case manager dan keluarga. dengan penyebab kekambuhan skizofrenia
Dari penelitian ini didapatkan hasil 46% yaitu karakteristik tingkat pendidikan
responden berperan rendah yaitu sejumlah 16 responden. Tingkat pendidikan responden
responden dari 35 responden secara sebagian besar adalah SD yaitu sebanyak 40%
keseluruhan. Sedangkan yang berperan identik dengan pengetahuan yang rendah
sedang 40% dan yang berperan tinggi ada sehingga peran terhadap pasien skizofrenia
14%. Dari responden yang berperan rendah masih kurang sedangan tingkat pendidikan
tersebut, terdapat 46% responden yang perguruan tinggi sebanyak 6% identik dengan
mengalami kekambuhan skizofrenia. pengetahuan yang lebih luas dan tepat dalam
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat menentukan asuhan keperawatan yang
diartikan bahwa peran keluarga berpengaruh diperlukan pada pasien skizofrenia. Hal ini
besar pada kekambuhan pasien skizofrenia. sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Peran merupakan serangkaian tindakan yang Surya Mulyadi Fadli (2013) tentang gambaran
diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang pengetahuan dan Ekspresi keluarga terhadap
diberikan dalam keluarganya (Friedman, frekuensi kekambuhan skizofrenia di RSJD
2002). Peran keluarga merupakan cara tampan provinsi riau bahwa pengetahuan
keluarga dalam memberikan asuhan yang baik, ekspresi responden tidak
keperawatan yang diperlukan oleh penderita berlebihan frekuensi kekambuhan pada
skizofrenia selama di rumah, semakin tinggi penderita skizofrenia berkurang.
peran keluarga yang diberikan semakin Peran keluarga merupakan satu - satunya
rendah kekambuhanya. Pelaksanaan program hal yang bisa dilakukan untuk menghindari
aftercare yang dilakukan oleh keluarga terjadinya kekambuhan skziofrenia. Peran
bersama pasien di tempat pelayanan keluarga yang dapat dilakukan untuk
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I 10
Klaten (Arif Madriffai)

mengurangi kekambuhan pada pasien Pelayanan kesehatan diharapkan dapat


skizofrenia adalah ikut berperan dalam memberikan penyuluhan kesehatan
perawatan aftercare di puskesmas integrasi / berulang tentang perawatan pasien
RSJ terdekat seperti kunjungan berobat, skizofrenia sehingga keluarga dapat
mengambil obat, pengawasan minum obat, berkontribusi dan berkolaborasi dengan
terapi keluarga dan bekerjasama dengan petugas kesehatan dalam perawatan
petugas kesehatan terkait peran sebagai case anggota keluarga yang menderita
manager terhadap pasien (Kelliat, 1992). skizofrenia sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan skizofrenia yang berulang
KESIMPULAN DAN SARAN 3. Bagi peneliti selanjutnya
Kesimpulan Hasil penelitian ini dapat dijadikan
Berdasarkan hasil penelitian yang sebagai landasan dan upaya untuk
dilakukan peneliti pada keluarga pasien melakukan penelitian lebih lanjut kearah
skizofrenia di wilayah kerja puskesmas penelitian yang lebih luas, yaitu dapat
Cawas I Klaten yang dilakukan pada bulan melakukan penelitian secara mendalam
april 2015 mengenai peran keluarga tentang faktor-faktor yang dapat
skizofrenia dengan kekambuhan pasien mempengaruhi kekambuhan pasien
skizofrenia dapat disimpulkan sebagai skizofrenia misalnya Klien, dokter/pemberi
berikut: resep, dan penanggung jawab klien (case
1. Sebagian besar keluarga skizofrenia di manager).
wilayah kerja puskesmas Cawas I Klaten
berperan rendah dan sebagian kecil DAFTAR PUSTAKA
responden berperan tinggi pada anggota
keluarga yang menderita skizofrenia Ardani, Tristiardi Ardi. 2013. Catatan Ilmu
2. Sebagian besar keluarga skizofrenia di Kedokteran Jiwa.Bandung : Karya Putra
wilayah kerja puskesmas Cawas I Klaten Darwati.
mengalami kekambuhan sering Arikunto, S. 2007. Prosedur Penelitian Suatu
sedangkan sebagian kecil responden Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka
mengalami kekambuhan jarang Cipta.
3. Ada hubungan antara peran keluarga Astuti, Reni. 2013. Hubungan Masalah
dengan kekambuhan pada penderita Psikososial Dengan Kejadian Skizofrenia
skizofrenia di wilayah kerja puskesmas di Wilayah Kerja Puskesmas Cibeber Kota
Cawas I klaten. Cimahi. Jurnal Penelitian. Cimahi: Stikes
Budi Luhur Cimahi.
Saran
Elenkolis, Kristin. 2012. Faktor- Faktor Yang
Saran yang dapat diberikan terkait
dengan hasil dan pembahasan penelitian ini Mempengaruhi Kekambuhan Pasien
penulis tujukan bagi: Skizofrenia Di Poliklinik RSJD Dr. Amino
1. Responden, disarankan dapat; Gondohutomo Semarang. Jurnal
Keluarga diharapkan lebih dapat penelitian. Salatiga : Universitas Kristen
menambah dan meningkatkan perannya Satya Wacana.
terhadap pasien skizofrenia melakukan Fausiah, Fitri. 2005. Psikologi Abnormal
Klinis Dewasa. Jakarta : Penerbit
aftercare di puskesmas integrasi dalam
Universitas Indonesia.
peranya menjaga ekspresi emosi dan
jadwal berkunjung selama perawatan.
2. Institusi Pelayanan Kesehatan (Puskesmas)
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I 11
Klaten (Arif Madriffai)

Friedman, M.M. 2002. Buku Ajar Notoatmodjo, S. 2011. Metodologi Penelitian


keperawatan Keluarga Riset, Teori, & Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
praktek edisi : 5. Jakarta : EGC. Nurdiana. 2007. Peran Serta Keluarga
Fytrhiani, Silva. 2011. Peran Keluarga Dalam Terhadap Tingkat Kekambuhan Klien
Meningkatkan Kesehatan Jiwa Lansia Di Skizofrenia. Jurnal Penelitian.
Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Banjarmasin : Stikes Muhammadiyah
Tembung. Jurnal penelitian. Medan : Banjarmasin.
Universitas Sumatera Utara. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Hadisukanto, Gitayanti. 2010. Buku Ajar Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Psikiatri. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Jakarta: Salemba Medika.
Kedokteran Universitas Indonesia. Priyanti, Leni. 2012. Faktor Faktor
Harmoko. 2012. Asuhan Keperawatan Penyebab Terjadinya Kekambuhan Pada
Keluarga edisi : pertama. Yogyakarta : Pasien Skizofrenia Di Unit Rawat Inap
Pustaka Pelajar. RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda.
Hendi, Purwo Prabowo. 2007. Interaksi Jurnal penelitian. Samarinda : Politeknik
Keluarga Pada Remaja Penderita Kesehatan Kalimantan Timur.
Skizofrenia : Tinjauan Psikokultural Jawa. Putri,B.K. 2011. Buku Ajar Psikiatri edisi 2.
Jurnal penelitian. Semarang : Undip. Jakarta : EGC.
Hidayat, A,A. (2008), 2003. Riset Ruspawan, Dewa Made. 2011. Hubungan
Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Peran Keluarga dengan Frekuensi
Jakarta : Salemba Medika. Kekambuhan Klien Skizofrenia di
Idiani M, Sri. 2006. Kecenderungan Depresi Poliklinik RSJ Provinsi Bali. Jurnal
Pada Keluarga Pasien Skizofrenia. Jurnal penelitian. Bali : Politeknik Kesehatan
Penelitian. Semarang : Undip. Denpasar.
Saryono. 2008. Metodologi Penelitian
Katona, Cornellius. 2012. At a glance Kesehatan Penuntun Praktis Bagi Pemula.
Psikiatri. Jakarta : Erlangga. Jogjakarta : Mitra Cendika Press.
Kelliat, Budi Anna. 2011. Manajement Kasus Safitri, Meta. 2010. Perbedaan Kualitas Hidup
Gangguan Jiwa CMHN Antara Pasien Skizofrenia Gejala Positif
(Intermediate Course ). Jakarta : EGC. Dan Gejala Negatif Menonjol. Jurnal
Maramis, Willy F. 2009. Catatan Ilmu penelitian. Surakarta : Universitas Sebelas
Kedokteran Jiwa Edisi Dua. Surabaya : Maret.
Airlangga University Press . Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian.
Mixrofa Sebayang, Septian. 2011. Hubungan Bandung : CV Alfabeta.
dukungan sosial keluarga dengan frekuensi Sumantri Arif. 2011. Metodologi Penelitian
kekambuhan pasien skizofrenia di Kesehatan. Jakarta : PT Rajawali.
poliklinik RSJD Propsu Medan. Jurnal Sumiati, Neneng Tati. 2012. Hubungan
penelitian. Medan : Universitas Sumatera Ekspresi Emosi (Ee) Keluarga Dengan
Utara. Fprekuaensi Kekambuhan Skizofrenia
Muhlisin, H.M. Abi. 2012. Keperawatan Warga Kersamanah,Garut. Jurnal
Keluarga.Yogyakarta : Gosyen Publishing.
Penelitian. Garut : Stikes Garut.
Nancye, Pandeirot M. 2009. Pengaruh Terapi
Keluarga Terhadap Dukungan Keluarga Susianto, Jaya. 2005. Promosi Kesehatan
Dalam Merawat Klien Dengan Masalah Pada Keluarga Penderita Dalam Deteksi
Perilaku Kekerasan Di Kota Surabaya. Awal Kekambuhan Skizofrenia Pasca
Jurnal Penelitian. Surabaya : Poltekes Pengobatan Di Rumah Sakit Jiwa Kota
Surabaya.
Hubungan Peran Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I 12
Klaten (Arif Madriffai)

Bengkulu. Jurnal Penelitian. Bengkulu :


Poltekes Bengkulu.
Sri, Wulansih. 2008. Hubungan Tingkat
Pengetahuan Dan Sikap Keluarga Dengan
Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia Di
RSJD Surakarta. Berita ilmu keperawatan,
ISSN 1979-2697. Vol.1.N0.4.
Http.//eprints.UMS.ac.id./1130/1/4f.pdf.
Diakses pada tanggal 25 April 2015.
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa.
Bandung : PT. Refika Aditama.
Wijaya, Aji. 2010. Peran Pelayanan
Kesehatan Dalam Mencegah Terjadinya
Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di
RSJ. Prof. Dr. Soeroyo Magelang. Jurnal
Penelitian. Jogjakarta : Universitas Gajah
Mada.
Wiwin, Karlin. 2010. Persepsi Keluarga
Terhadap Skizofrenia Di RS X. Jurnal
Penelitian. Bandung : unpad.

*Arif Madriffai : Mahasiswa S1 Transfer


Keperawatan FIK UMS. Jln A Yani Tromol
Post 1 Kartasura
H.M. Abi Muhlisin, SKM, M.Kep : Dosen
Keperawatan FIK UMS. Jln A Yani Tromol
Post 1 Kartasura
Ns. Wachidah Yuniartika, S.Kep : Dosen
Keperawatan FIK UMS. Jln A Yani Tromol
Post 1 Kartasura