Anda di halaman 1dari 3

Pengaruh Kondisi Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Kesehatan secara Menyeluruh

diposting oleh basmarosandi-fkg05 pada 21 June 2011

Selain keadaan sistemik yang dapat mempengaruhi keadaan rongga mulut, keadaan
pada rongga mulut pun dapat mempengaruhi keadaan sistemik. Sejak dahulu telah diketahui
hubungan antara kesehatan rongga mulut dengan kesehatan sistemik, sehingga kejadian pada
rongga mulut tidak dapat dipisahkan dengan keadaan sistemik (Supriyatno & Darmawan,
2002).

Status kesehatan gigi-mulut sangat bermakna pada anak. Riset telah membuktikan
adanya hubungan antara kesehatan mulut dengan kesehatan umum. Gangguan kesehatan
mulut berdampak lebih luas daripada sekadar gangguan lokal mulut dan sekitarnya. Keadaan
seperti labiopalatoskisis akan mengganggu nutrisi dan proses bicara. Berbagai kelainan gigi-
mulut dapat mengganggu kesehatan umum pada anak, di antaranya: (1) gangguan
pertumbuhan struktur maksilofasial bawaan/didapat; (2) trauma wajah dan mulut; (3)
kebiasaan oral yang mengganggu pertumbuhan rahang; (4) keganasan rongga mulut; dan (5)
infeksi oral (karies dentis) (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Rongga mulut merupakan tempat berkumpulnya bakteri. Rongga mulut memberi


kontribusi yang cukup berarti dalam menimbulkan bakteremia. Pada keadaan penurunan
imunitas, bakteri rongga mulut yang semula komensal dapat berubah menjadi patogen
sehingga dapat menyebabkan bakteremia dan infeksi sistemik. Misalnya, pada keadaan
penyakit jantung bawaan, infeksi pada rongga mulut dapat menyebabkan endokarditis
bakterialis yang merupakan penyakit yang cukup serius. Infeksi gigi secara perkontinuitatum
dapat menjalar ke mastoid dan akhirnya menyebabkan meningitis purulenta yang dapat
berakibat fatal (Peterson &Thomson, 1999).

Pada keadaan mulut yang sakit, proses nutrisi mengalami gangguan. Demikian pula
komunikasi. Keadaan gangguan mulut yang sering terjadi adalah karies dentis yang
berhubungan dengan higiene mulut dan kurangnya fluor. Kedua hal tersebut harus
menjadikan perhatian dokter, baik dokter anak maupun dokter gigi. Akibat gangguan
tersebut, proses tumbuh kembang anak akan terganggu, terutama pada anak balita. Karies
dentis, selain banyak dijumpai pada anak balita, juga pada anak sekolah di mana sakit gigi
merupakan kejadian sehari-hari yang sering dijumpai (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Infeksi saluran napas atas akut (ISPA) seperti faringitis dan common cold (influensa)
merupakan infeksi rongga mulut yang paling sering dijumpai. Gejala utama faringitis adalah
batuk, demam, nyeri saat menelan, dan rasa tidak nyaman di mulut. Faringitis karena bakteri
biasanya dengan demam mendadak tinggi, sakit menelan, terdapat detritus pada farings, dan
pembesaran kelenjar getah bening sekitarnya. Gejala common cold hampir sama dengan
radang tenggorok. Pada yang ringan, gejala panas tidak timbul. Gejala yang dapat timbul
adalah batuk, pilek, dan hidung tersumbat. Tampak bahwa infeksi sekitar rongga mulut dapat
menyebabkan kelainan sistemik berupa demam, nyeri otot, dan rasa tidak nyaman pada
pasien (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Pada faringitis, pemeriksaan laboratorium terdapat lekositosis dengan netrofil yang


meningkat. Jika dijumpai keadaan di atas, kemungkinan infeksi oleh Streptokokus
hemolitikus sangat besar. Infeksi kuman tersebut dapat menimbulkan kelainan di kemudian
hari, yaitu penyakit jantung rematik dan glomerulonefritis pasca-streptokokus yang menjadi
masalah cukup serius (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Infeksi endokarditis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme pada
katub jantung atau endokardium, seringkali pada kelainan jantung kongenital atau didapat.
Penyebab pada umunya kuman, tetapi bisa juga jamur. Apabila penyebabnya adalah bakteri
maka disebut bakterial endokarditis. Patogenesis infeksi endokarditis adalah penyakit jantung
kongenital atau kelainan katup terjadi aliran darah abnormal di dalam jantung. Arus-arus
turbulasi ini akan menimbulkan trauma pada endokardium, sehingga terjadi lesi pada jnatung.
Dengan adanya bakterimia walapun sifatnya sementara akan menimbulkan vegetasi kuman
(Sarsito, 2000).

Bakteri endokarditis dapat bersifat akut atau subakut. Pada yang akut bersifat sudden
onset, jika tidak dirawat maka fatal dalam beberapa minggu. Penyebabnya biasanya
Streptokokus aureus. Pada yang subakut bersifat slower onset, jika tidak dirawat maka fatal
dalam beberapa bulan. Penyebabnya biasanya Streptokokus viridans (Sarsito, 2000).
Bakterial endokarditis seringkali dihubungkan dengan adanya foci infeksi di mulut. Hal ini
karena adanya persamaan penyebab diantara keduanya dan gejala yang dapat timbul segera
setelah manipulasi di mulut. Lesi-lesi di mulut yang dapat merupakan foci infeksi adalah lesi-
lesi periapikal seperti granuloma, kista dan abses; gigi dengan infeksi saluran akar; dan
penyakit periodontal (Sarsito, 2000).

(http://basmarosandi-fkg05.web.unair.ac.id/artikel_detail-426-Umum-Pengaruh%20Kondisi
%20Kesehatan%20Gigi%20dan%20Mulut%20terhadap%20Kesehatan%20secara
%20Menyeluruh.html)