Anda di halaman 1dari 17

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Keperluan Dan Fungsi Kemajuan

Dahulu telah diuraikan bahwa kegagalan yang terjadi pada


alat alat tegangan tinggi yang sedang dipakai dalam operasi
sehari hari disebabkan Karena isolasinya memburuk
(deterioration) atau terjadi kegagalan (breakdown) pada bagian
bagiannya. Melemahnya isolasi ini disebabkan Karena panas,
kelembaban, kerusakan mekanis, korosi kimiawi, korona
tegangan lebih, dll. Apabila korelasi antara karakteristik dan
umur isolasi tersebut diketahui, maka proses kelemahan dari
isolasi dapat diketahui dengan mempelajari karakteristik itu.
Maksud dari pada pengajuan isolasi adalah untuk mengetahui
proses kelemahan yang terjadi, supaya dengan demikian
kegagalan operasi dapat dihindarkan (sebelumnya). Pengujian
yang dilakukan sebelum kegagalan terjadi ini tidak merusakkan
specimen yang diuji dan pada pokoknya terdiri dari tiga macam:

1) Pengujian kehilangan daya dielektrik


2) Pengujian factor daya dielektrik
3) Pengujian tahanan isolasi

2.2 Kehilangan Daya Dielektrik Dan Factor Daya


Dielektrik

Apabila tegangan searah V diterapkan pada plat plat


sebuah kapasitor sempurna, maka arus pemuat mengalir untuk
waktu yang singkat dan memberikan kepada kapasitor tersebut
suatu muatan Q couloumb. Cukup untuk mengadakan perbedaan
potensial V volt antara plat plat kapasitor. Bila perbedaan
potensial ini tercapai, maka harus berhenti mengalir. Jumlah
muatan adalah Q=CV dimana C adalah kapasitansi yang
tergantung pada konstanta dielektrik dari bahan yang ada
diantara plat plat kapasitor. Jadi sebuah kapasitor sempurna
mempunyai sifat listrik yang ditentukan oleh konstanta
dielektriknya (disebut juga specific inductive capacity).
Dalam kapasitor yang tidak sempurna, yaitu yang didapati
dalam praktek, arusnya Ic tidak berhenti mengalir dalam waktu
singkat, tetapi turun perlahan lahan, sebagai dinyatakan dalam
Gbr. Ini berarti, bahwa dalam dielektrik mempunyai sifat sifat lain
juga. Arus konduksi akan mengalir dalam kapasitor praktis oleh
karena meskipun tahanan dielektrik itu besar sekali ia bukan tak
terhingga besarnya.

Namun, hal ini belum dapat menerangkan satu fenomena


(gejala) yang dapat dilihat pada kebanyakan dielektrika yaitu
bahwa arus konduksi itu pada mulanya lebih besar dari pada
arus yang timbul Karena konduksi saja. Arusnya tidak konstan,
tetapi makin lama makin turun seperti diuraikan semula.
Hampir semua bahan dielektrik mempunyai sifat ini.
Apabila sebuah kapasitor absortif yang diberi muatan, dibuang
muatannya, lalu sesudah itu dilepaskan hubungannya, maka
perbedaan potensial antara plat plat kapasitor naik lagi, artinya
kapasitor ini memberi dirinya muatan lagi. Hal ini dikenal sebagai
efek sisa, yang dinyatakan dalam Gbr. Absorpsi dapat
diterangkan dengan menganggap bahwa ada gerakan gerakan
yang lamban dari molekul molekul dielektrik apabila plat plat
kapasitor itu diberi muatan. Pada waktu itu pergerakan
pergerakan molekul dielektrik mula mula cepat (berakibat
adanya arus pemuat), lalu makin lama makin lambat dan
lamban. Pergerakan yang terakhir ini yang dihasilkan oleh
pemindahan muatan yang melekat pada molekul menghasilkan
arus molekul.

Efek sisa
dapat
diterangkan dengan anggapan yang serupa.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa kapasitas
sebuah kapasitor dapat dibagi menjadi dua komponen, masing
masing kapasitansi geometris (fungsi dari dimensinya) dan
kapasitansi absortif menyatakan kapasitansi geometris, R1

Menyatakan efek konduksinya, sedang C1 dan R2 bersama sama


menyatakan efek absorpsinya.

2.3 Pengukuran Kehilangan Dan Factor Daya Dielektrik

2.3.1. Prinsip Jembatan Schering

Cara jembatan schering adalah cara yang paling banyak


dipergunakan untuk mengukur kehilangan daya dan factor daya
dielektrik. Semua cara yang memakai prinsip jembatan terdiri
dari rangkaian jembatan wheatstone dimana baterai diganti oleh
sumber AC. Pada frekuensi rendah atau frekuensi yang lebih
tinggi.
Detektornya tergantung pada frekuensi yang dipakai
galvanometer vibrasi dipakai untuk frekuensi rendah dan telpon
untuk frekuensi lain yang tinggi (800-1000 Hz) Gbr dibawah
menunjukkan rangkaian jembatan schering yang dapat dipakai
untuk tegangan rendah dan tinggi.

C1 adalah kapasitor yang factor dayanya hendak diukur dan R 1


adalah tahanan ekuivalen yang menyatakan komponen
kehilangan daya dielektriknya.
C2 adalah kapasitor standar yang tidak mempunyai kehilangan
daya R3 dan R4 adalah tahanan yang non induktif yang terdahulu
variable. C4 adalah kapasitor variable.

2.3.2. Jembatan Schering Berperiasai (Shielded)


Dalam pemakaian jembatan schering pada tegangan tinggi
atau untuk pengukuran berketelitian yang pada tegangan rendah
efek kapasitansi sasaran antara elemen elemen jembatan perlu
sekali ditiadakan. Hak ini dapat dilakukan dengan menutupi
bagian bagian yang mungkin terkena dengan tameng
elektrostatik pada potensial yang sesuai. Jembatan yang
bertameng itu cocok untuk pemakaian dengan tegangan tinggi
seperti yang tertera pada gambar.

Pada gambar diatas sakelar A dipakai untuk memasang detector


pada jembatan utama untuk mencapai keseimbangan pokok,
atau untuk memasang detector diantara tameng dan titik potong
B untuk keperluan keseimbangan bantuan. Cabang tegangan
rendah R3 dan R4-C4 tertutup oleh tameng yang dibumikan
secara langsung. Oleh Karena tameng tersebut kapasitansi
lansung antara kawat tegangan tinggi dan cabang detector atau
dengan kawat dari cabang tegangan rendah tidak ada. Oleh
Karena tameng yang dibumikan, maka kapasitansi langsung
antara elemen elemen tegangan rendah juga tidak ada. Arus
kapasitif antara penghantar tegangan tinggi dengan cabang
detector mengalir ketanah melalui cabang pembantu R5-L5-C5.

2.3.3. Jembatan Schering Presisi


Konstruksi dari sebuah meja jembatan schering presisi
tertera pada gambar dibawah yaitu gambar fisik dari diagram.
Dalam gambar ini besarnya masing masing elemen adalah :
1. R3 berjumlah 11.111 ohm, terdiri dari 5 buah tombol; untuk
pengaturan halus dipakai tombol tambahan S=0,13 ohm
yang variable.
2. C4 terdiri dari 4 buah tombol variable berjumlah 1,111
mikrofarad.

3. R4 adalah tahanan tak induktif berharga 318,32 ohm.


4. Sebuah shunt (Ni) terdiri dari 0,3; 1; 3; 10; dan 30 ohm.
5. R5 berjumlah 4450 ohm terdiri dari 3 tombol.
6. L5 dapat dirubah 5 sampai 500 mhenry dengan hubungan
seri parallel.
7. C5 dapat dirubah dari 10.000 pikofarad sampai 2
mikrofarad, terdiri dari 1 tombol.
8. Kapasitor standarnya C2 berharga 100 pikofarad dan
mempunyai tegangan kerja 200 Kv AC berisi gas CO 2 yang
bertekanan 12 kg/cm2.
2.4 Beberapa Pokok Pengukuran tan

2.4.1. Macam Pengukuran

Yang dilakukan biasanya dua macam pengukuran yaitu :


1. tan sebagai fungsi dari tegangan dengan suhu sebagai
parameter atau
2. tan sebagai funsi dari suhu dengan tegangan sebagai
parameternya.

Fakor factor tan biasanya konstan pada tegangan nominal bila


bahan isolasinya tidak mengandung air atau kantong udara.
Naiknya tan dengan naiknya teganagan biasanya disebabkan
Karena kantong udara itu memungkinkan pelepasan korona.
Karakteristik dari kapasitansi versus tegangan dapat juga
diambil.
Untuk alat alat listrik yang berisolasi minyak karakteristik tan
sebai fungsi dari suhu biasanya konstan. Karena itu sebaiknya
dipilih tegangan yang sesuai sebagai parameter, misalnya 10 Kv.
Grafik kapasitansi sebagai fungsi dari suhu juga dapat diambil.

2.4.2. Cara Menganalisa Perubahan Sifat Isolasi


Untuk mengetahui banyaknya air yang telah
meresap, maka diuji sebuah gulungan yang bertegangan nominal
11 Kv seperti tertera pada gambar. Gulungan ini dapat diberi
isolasi berbagai macam. Efek dari macam isolasi dan lamanya
bahan tersebut dipakai, demikian pula pengaruh dari
kelembaban nyata sekali. Bila dibandingkan dengan lengkung D
dan E, maka dapat dilihat bahwa pada tegangan nominal, tan
dalam keadaan lembab kira kira 50% lebih tinggi dari pada tan
dalam waktu kering, meskipun sudah dipakai beberapa tahun.
Untuk lengkung E, tan waktu tegangan dinaikkan berbeda
dengan keadaan waktu tegangan diturunkan.pada umumnya
pengujian tan sukar untuk digunakan sebagai alat untuk
mengetahui adanya hubung singkat sebagian didalam suatu
gulungan.

2.5 Pengukuran Tahanan Isolasi

2.5.1. Tahanan Isi Dan Tahanan Permukaan

Apabila tegangan diterapkan pada sebuah bahan isolasi,


maka sebagian dari arusnya mengalir melalui tubuh dan
sebagian lagi melalui permukaan bahan tersebut.
Oleh sebab itu isolasi dikenal dua macam tahanan yaitu tahanan
isi Rv dan tahanan R5. Cara pengukurannya dengan mudah
dapat dilihat, masing masing pada gambar dibawah. Untuk
bahan isolasi dapat pula diukur resistivitasnya yaitu masing
masing

menurut gambar.

Tahanan isolasi berubah dengan tegangan yang


diterapkan, polaritasnya, lamanya tegangan yang diterapkan,
suhu, kelembaban, arus absorpsi, bentuk bahan yang diuji, dsb.

2.5.2. Beberapa Factor Yang Mempengaruhi Tahanan


Isolasi

Beberapa factor yang mempengaruhi pengukuran tahanan


isolasi antara lain adalah :
1. arus absorpsi
2. suhu
3. tegangan yang diterapkan

Berhubungan dengan adanya arus absorpsi seperti diuraikan


dimuka, maka dalam pengukuran tahanan perlu diperhatikan
lamanya tegangan yang diterapkan dan bahwa sebelum
pengukuran dimulai, bahan yang hendak diuji sudah dibebaskan
dari muatan yang melekat padanya. Selanjutnya untuk kondisi
suatu bahan isolasi dipakai suatu indeks polarisasi :

R10 menit
p
= R1 menit

Dimana R menyatakan tahanan isolasi, dan I menyatakan jumlah


arus yang mengalir, semuanya diukur sesudah 1 atau 10 menit.
Bila p = 1, maka dalam bahan isolasi terdapat kebocoran ini
berarti bahwa bahan tersebut tidak baik.

Untuk isolasi murni dan kering di jepang berlaku syarat syarat


sebagai berikut :
p > 1,5 untuk isolasi kelas A
p > 1,5 untuk isolasi kelas B
Biasanya pada permulaan pengeringan tahanan isolasi turun
dengan naiknya suhu, tetapi sesudah itu naik lagi bila
bahannyanmenjadi bertambah kering. Proses pengeringan dapat
dihentikan bila tahanannya mencapai kekenyangan, tahanannya
cukup tinggi dan p nya cukup besar.
Pengukuran tahanan isolasi biasanya dilakukan sesudah
pengujian suhu. Untuk mesin, tahanan isolasi biasanya
terpengaruh oleh macam dan dan kapasitas mesin.

2.5.3. Alat Pengukur Tahanan Isolasi


Alat ini memakai prinsip defleksi langsung yaitu prinsip
yang sering dipakai dalam pengukuran tahanan isolasi. Alat ini
diperlengkapi dengan galvanometer G yang peka sekali yang
dihubungkan dengan skala berlampu (10 -11 ampere/mm), seperti
pada gbr. Adanya sirkuit pelindung memungkinkan pengukuran
yang teliti. Pengukuran dilakukan pada konsol yang sama dengan
meja penguji tan.

Konstruksi selengkapnya adalah sebagai berikut :

1. 1 set universal shunt (multiplier) : 300 kilo-ohm dengan


factor pengali 1, 2, 5, 10, 20, 50, 100, 500, 1000, 5000,
10000, 100000, dan .
2. 1 set galvanometer jenis skala lampu, dengan kepekaan 1
10-11 ampere/mm dan tahanan krisis 300 kilo-ohm. Waktu
penunjukan 20 detik.
3. 1 set tahanan standar 10 mega-ohm.
4. Perlengkapan tambahan terdiri dari sebuah landasan yang
tahan goncangan (shock proof) dengan sumber DC dan
sebuh lemari gelas untuk galvanometer.
Pada gambar dibawah M adalah universal shunt, G adalah
galvanometer,S1 adalah sakelar untuk membuang dan memberi
muatan, S2 adalah sakelar penghubung tahanan standard an
specimen, R adalah tahanan pelindung dan B adalah baterai
(sumber DC).

BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpula

n
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari materi ini yaitu

:
1. pengajuan isolasi adalah untuk mengetahui proses
kelemahan yang terjadi, supaya dengan demikian
kegagalan operasi dapat dihindarkan (sebelumnya).
Pengujian yang dilakukan sebelum kegagalan terjadi ini
tidak merusakkan specimen yang diuji dan pada pokoknya
terdiri dari tiga macam:
1) Pengujian kehilangan daya dielektrik
2) Pengujian factor daya dielektrik
3) Pengujian tahanan isolasi.
2. Cara jembatan schering adalah cara yang paling banyak
dipergunakan untuk mengukur kehilangan daya dan factor
daya dielektrik.
3. Pengukuran ada dua macam yaitu:
a. tan sebagai fungsi dari tegangan dengan suhu sebagai
parameter atau
b. tan sebagai funsi dari suhu dengan tegangan sebagai
parameternya.
4. Beberapa factor yang mempengaruhi pengukuran tahanan
isolasi antara lain adalah :
a. arus absorpsi
b. suhu
c. tegangan yang diterapkan
5. alat penguji tahanan isolasi memakai prinsip defleksi
langsung yaitu prinsip yang sering dipakai dalam
pengukuran tahanan isolasi
3.2 Saran
Adapun saran dari penulis yaitu hendaknya para
pembaca untuk memberi masukan agar pembuatan
makalah selanjutnya lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

[1] S.Hoki, judgement of insulation Electrical apparatus, ohm


Company Ltd,
Tokyo, 1953.
[2] Archer E.Knowlton (ed.), Standard Handbook For Electrical
Engineers, 8th edition, McGnaw-Hill Book Co., NewYork,
1949.
[3] Wiesman, AIEE Transactions, Newyork, vol.53, 1934.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dahulu telah diuraikan bahwa kegagalan yang terjadi pada


alat alat tegangan tinggi yang sedang dipakai dalam operasi
sehari hari disebabkan Karena isolasinya memburuk
(deterioration) atau terjadi kegagalan (breakdown) pada bagian
bagiannya. Melemahnya isolasi ini disebabkan Karena panas,
kelembaban, kerusakan mekanis, korosi kimiawi, korona
tegangan lebih, dll. Apabila korelasi antara karakteristik dan
umur isolasi tersebut diketahui, maka proses kelemahan dari
isolasi dapat diketahui dengan mempelajari karakteristik itu.
Maksud dari pada pengajuan isolasi adalah untuk mengetahui
proses kelemahan yang terjadi, supaya dengan demikian
kegagalan operasi dapat dihindarkan (sebelumnya). Pengujian
yang dilakukan sebelum kegagalan terjadi ini tidak merusakkan
specimen yang diuji dan pada pokoknya terdiri dari tiga macam:

1) Pengujian kehilangan daya dielektrik


2) Pengujian factor daya dielektrik
3) Pengujian tahanan isolasi

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana keperluan dan fungsi kemajuan pengujian
isolasi ?
2. Bagaimana mengatasi kehilangan daya dielektrik dan
factor daya dielektrik?
3. Apa pokok pokok pengukuran tan ?
4. Apa factor yang mempengaruhi tahanan isolasi ?
5. Apa alat pengukur tahanan isolasi?

1.3 Tujuan Dan Manfaat


Adapun tujuan dan manfaat dari makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas dari dosen bersangkutan dan sebagai bahan
bacaan.

DAFTAR ISI

Kata pengantar.............................................................................
Daftar isi.......................................................................................
Bab I Pendahuluan
1.1.......................................................................................L
atar belakang.................................................................
1.2.......................................................................................R
umusan masalah............................................................
1.3.......................................................................................T
ujuan dan manfaat.........................................................
Bab II Pembahasan
2.1.......................................................................................k
eperluan dan kemajuan..................................................
2.2.......................................................................................k
ehilangan daya dielektrik dan factor daya dielektrik.....
2.3.......................................................................................p
engukuran kehilangan daya ielektrik dan factor daya
dielektrik........................................................................
2.4.......................................................................................P
okok pengukuran tan ...................................................
2.5.......................................................................................F
aktor yang mempengaruhi tahanan isolasi....................
Bab III Kesimpulan
c.1.......................................................................................K
esimpulan.......................................................................
c.2.......................................................................................S
aran................................................................................
Daftar pustaka..............................................................................

Tugas
PLC

Oleh :

ANDI ZULFIKAR (E1D114006)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017