Anda di halaman 1dari 47

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap


perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah
mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat
dihalangi. Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang
dapat berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai
macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Hal ini akan menimbulkan
masalah kesehatan, sosial, ekonomi dan psikologis1.

Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada masa usia lanjut
adalah hipertensi. Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah
berusia 75 tahun. Hal ini merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada
orang yang bertambah usianya. Tekanan darah tinggi atau hipertensi
merupakan masalah kesehatan di dunia yang sangat penting dikarenakan
angka kejadiannya yang tinggi. Prevalensi tekanan darah tinggi meningkat
seiring dengan peningkatan usia.
Faktor pemicu hipertensi dapat dibedakan atas yang tidak dapat

terkontrol dan yang dapat dikontrol.


Di seluruh dunia, salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang
menjadi masalah kesehatan yang sangat serius saat ini adalah hipertensi yang
disebut sebagai the silent killer. Di Amerika, diperkirakan 1 dari 4 orang
dewasa menderita hipertensi.2 Apabila penyakit ini tidak terkontrol, akan
menyerang target organ, dan dapat menyebabkan serangan jantung, stroke,
gangguan ginjal, serta kebutaan. Dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa
penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peluang 7 kali
lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih besar terkena congestiveheart failure,
dan 3 kali lebih besar terkena serangan jantung.
Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH),
saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi diseluruh dunia, dan 3 juta di
antaranya meninggal setiap tahunnya. 7 dari setiap 10 penderita tersebut tidak
mendapatkan pengobatan secara adekuat.
2

Penelitian berskala nasional dilakukan oleh perhimpunan hipertensi


Indonesia pada tahun 2002 di Jawa,Sumatra,Kalimantan,Sulawesi dan Bali.
Dari 3080 subjek dewasa umur 40 tahun atau lebih yang berobat pada praktik
dokter, didapatkan prevalensi hipertensi 58,89% dan sebanyak 37,32% pasien
tanpa pengobatan antihipertensi. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2004 mendapatkan
prevalensi hipertensi di Pulau Jawa mencapai 41,9%. Kelompok Kerja
Serebro kardiovaskuler FK UNPAD/RSHS tahun 1999, menemukan
prevalensi hipertensi sebesar 17,6%,dan MONICA Jakarta tahun 2000
melaporkan prevalensi hipertensi di daerah urban adalah 31,7%. Sementara
untuk daerah rural (Sukabumi) FKUI menemukan prevalensi sebesar 38,7%.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) dari 70%
penderita hipertensi yang di ketahui hanya 25% yang mendapat pengobatan,
dan hanya 12,5% yang diobati dengan baik (adequately treated cases)
diperkirakan sampai tahun 2025 tingkat terjadinya tekanan darah tinggi akan
bertambah 60%, dan akan mempengaruhi 1,56 milyar penduduk di seluruh
dunia1.
Menurut AHA (American Heart Assosiation) di Amerika tekanan darah
tinggi ditemukan satu dari setiap tiga orang atau 65 juta orang dari 285 atau
59 juta orang mengidap hipertensi. Semua orang yang mengidap hipertensi
hanya satu pertiganya yang mengetahui keadaanya dan hanya 61% medikasi,
dari penderita yang mendapat medikasi hanya satu pertiga mencapai target
darah yang optimal/normal.
Menurut Hamid (2011), dalam Seminar The Scientific Meeting on
Hypertension 2011, tingkat prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31,7
persen dari total penduduk dewasa. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Tahun
2013, prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran pada
umur 18 tahun sebesar 25,8 persen. Jadi cakupan nakes hanya 36,8 persen,
sebagian besar (63,2%) kasus hipertensi di masyarakat tidak terdiagnosis.
Data secara nasional yang belum lengkap, sebagian besar penderita hipertensi
di Indonesia tidak terdeteksi, sementara mereka yang terdeteksi umumnya
tidak menyadari kondisi penyakitnya.1,3,4
3

Berdasarkan data dari rekapan kunjungan pasien Puskesmas Puskesmas


Tulang Bawang I, Kecamatan Banjar Agung, Lampung selama tahun 2016,
kasus hipertensi sebanyak 716 kasus, dan hipertensi menduduki peringkat 6
dari 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Tulang Bawang I, Kecamatan
Banjar Agung, Lampung.
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian terhadap penderita hipertensi dengan judul Upaya
Penjaringan Hipertensi dalam Upaya Mencapai Tekanan Darah Terkontrol di
wilayah kerja Puskesmas Tulang Bawang I, Kecamatan Banjar Agung,
Lampung.
Responden yang diambil pada mini project ini dari balai pengobatan
dan posbindu Desa Tunggal Warga, Desa Makmur Jaya Puskesmas Tulang
Bawang I, Kecamatan Banjar Agung, Lampung. Responden yang dituju
adalah responden berusia lanjut.

1.2. Rumusan Masalah


Dari penjelasan di atas, dapat ditemukan permasalahan sebagai berikut:
a. Hipertensi menjadi penyebab kematian kedua setelah stroke.
b. Hipertensi menduduki peringkat ke 6 dari 10 penyakit terbanyak di
Puskesmas
Tulang Bawang I, Kecamatan Banjar Agung, Lampung.
c. Kurangnya pengetahuan dan perilaku penderita hipertensi dalam upaya
mencapai tekanan
darah terkontrol.

1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui angka kejadian hipertensi pada pasien pada saat
pemeriksaan di balai pengobatan dan posbindu di Puskesmas Tulang
Bawang I, Kecamatan Banjar Agung, Lampung tahun 2017.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui angka kejadian hipertensi berdasarkan Pengobatan
Dasar yang dilakukan di Balai Pengobatan Puskesmas Tulang Bawang
I, Kecamatan Banjar Agung, Lampung
2. Untuk meningkatkan pengetahuan pasien mengenai faktor-faktor risiko
penyakit hipertensi
4

3. Untuk meningkatkan kesadaran pasien tentang pengobatan hipertensi


yang harus rutin baik non-farmakologi maupun farmakologi

1.4. Manfaat
1.4.1. Bagi Peneliti
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman bagi
penulis dalam meneliti secara langsung di lapangan.
2. Untuk memenuhi salah satu tugas peneliti dalam menjalani program
internship dokter umum Indonesia.
1.4.2. Manfaat bagi pasien dan masyarakat
1. Sebagai bahan informasi bagi pasien dan masyarakat tentang penyakit
hipertensi sehingga pasien dan masyarakat akan lebih sadar untuk
melakukan pemeriksaan tekanan darah dan pengobatan secara rutin
2. Sebagai bahan informasi bagi pasien dan masyarakat untuk melakukan
perubahan gaya hidup dan pola makan sebagai penanganan non-
farmakologi
1.4.3. Manfaat bagi instansi (Puskesmas)
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi Puskesmas Tulang
Bawang I, Kecamatan Banjar Agung, Lampung dalam rangka
meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya penyakit hipertensi.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di balai pengobatan dan posbindu yang berada
diwilayah kerja puskesmas Tulang Bawang I, Kecamatan Banjar Agung,
Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik
penyuluhan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah keadaan dimana seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam
waktu yang lama) di dalam arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu
keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri
menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal
5

jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Penderita yang mempunyai


sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg
saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi.5
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang
lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang
lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan
darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya
120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh. Dikatakan
tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140
mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau
keduanya. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan
sistolik dan diastolik. Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik
mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90
mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal.5,6

2.2. Epidemiologi
Tekanan darah meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Tekanan
darah sistolik meningkat sepanjang hidup, tetapi tekanan darah diastolik
cenderung stabil pada usia dekade kelima. Dengan demikian, baik insiden dan
prevalensi hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia, dan hipertensi
sistolik terisolasi menjadi subtipe yang paling umum pada orang tua. Untuk
orang setengah baya dengan tekanan darah normal yang hidup sampai usia 85
tahun, masa residual risiko mengembangkan hipertensi adalah 90%.7
Selain usia, faktor-faktor lain yang terkait dengan peningkatan risiko
hipertensi yang tidak dapat diubah (nonreversible) termasuk ras Afrika
Amerika atau memiliki riwayat keluarga hipertensi. Faktor yang dapat diubah
(reversible) termasuk memiliki tekanan darah dalam rentang prehipertensi,
kelebihan berat badan, memiliki gaya hidup yang kurang gerak, diet
mengkomsumsi tinggi natrium-rendah kalium, asupan alkohol yang berlebih,
atau memiliki sindrom metabolik. Sindrom metabolik didefinisikan oleh
adanya tiga atau lebih dari kondisi berikut: obesitas perut (lingkar pinggang>
40 inci pada pria atau> 35 inci pada wanita), toleransi glukosa oral (glukosa
puasa 110 mg / dL), tekanan darah 130/85 mm Hg atau lebih tinggi,
6

meningkatkan tingkat plasma trigliserida ( 150 mg / dL), atau rendah high-


density lipoprotein (HDL) kolesterol (<40 mg / dL pada pria atau <50 mg / dL
pada wanita). Hal ini diduga bahwa resistensi insulin mungkin menjadi faktor
patofisiologis yang mendasari untuk sindrom metabolik. Memperbaiki faktor
reversibel dapat menurunkan tekanan darah dan mencegah perkembangan
dari hipertensi.7
Dalam usia dewasa muda dan usia pertengahan awal, hipertensi lebih
umum pada pria dibandingkan pada wanita. Pada orang yang lebih tua dari 60
tahun, sebaliknya adalah hipertensi lebih umum pada wanita dibandingkan
pada pria. Hipertensi lebih umum di ras Afrika Amerika daripada ras kulit
putih di segala usia, dan di kedua ras itu lebih umum di ekonomi yang
menengah ke bawah.7
Prevalensi hipertensi tergantung antara komposisi ras pada populasi
yang diteliti dan kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan kondisi.
Dalam populasi suburban kulit putih seperti dalam penelitian Framingham,
hampir seperlima dari individu memiliki tekanan darah 160/95 mmHg,
sementara setengahnya memiliki tekanan darah 140/90 mmHg. Prevalensi
yang lebih tinggi telah didokumentasikan dalam penduduk kulit putih. Pada
perempuan prevalensi berkaitan erat dengan usia, dengan peningkatan yang
substansial terjadi setelah usia 50. Peningkatan ini diduga berkaitan dengan
perubahan hormonal saat menopause, meskipun mekanismenya belum
diketahui dengan jelas. Dengan demikian, rasio frekuensi hipertensi pada
wanita dibandingkan pria meningkat 0,6-0,7 pada usia 30 hingga 1,1-1,2 pada
usia 65.8
Data dari The National Health and Nutrition Survey (NHANES) telah
menunjukkan bahwa 50 juta atau lebih orang Amerika menderita hipertensi
yang menjalani beberapa bentuk pengobatan.1,2 Seluruh Dunia estimasi
prevalensi untuk hipertensi diperkirakan sebanyak 1 miliar orang, dan sekitar
7,1 juta kematian per tahun mungkin disebabkan hipertensi. Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa tekanan darah suboptimal
(tekanan darah sistolik > 115 mmHg) bertanggung jawab atas 62 persen dari
penyakit serebrovaskular dan 49 persen dari penyakit jantung iskemik (IHD),
7

dengan sedikit variasi berdasarkan jenis kelamin. Selain itu, tekanan darah
suboptimal tersebut merupakan faktor risiko nomor satu kematian di dunia.9.
Untuk orang-orang dengan hipertensi, kematian yang paling sering
disebabkan oleh komplikasi dari penyakit arteri koroner. Faktor-faktor yang
menambah risiko ini adalah penggunaan tembakau, hiperlipidemia, diabetes
mellitus, obesitas, gaya hidup yang kurang gerak, sindrom metabolik, jenis
kelamin (laki-laki dan pascamenopause pada perempuan), usia lebih tua dari
60 tahun, dan riwayat keluarga penyakit kardiovaskular premature (wanita
<65 tahun, laki-laki <55 tahun). Adanya kerusakan organ target (stroke,
hipertrofi ventrikel kiri, penyakit jantung iskemik, gagal jantung kongestif,
penyakit ginjal, retinopati, penyakit pembuluh darah perifer, dan demensia)
meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular peristiwa ini berlanjut bahkan
jika tekanan darah telah dikontrol. Fakta ini berpendapat untuk identifikasi
dini dan pengobatan yang tepat hipertensi untuk menghindari perkembangan
cedera organ target.7
2.3. Klasifikasi
JNC 8 mengklasifikasikan hipertensi untuk usia 18 tahun, klasifikasi
hipertensi tersebut dapat kita lihat pada tabel berikut :

Tabel 2.1.
Klasifikasi Hipertensi Untuk Usia 18 Tahun.10
Klasifikasi Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik Grade
(mmHg) (mmHg)
Normal <120 <80
>60 tahun >150 >90 A
<60 tahun >140 >90 A (30-59 tahun)
E (18-29 tahun)
>18 tahun (dengan >140 >90 E
CKD dan DM)

Tabel 2.2.
Definisi dan Klasifikasi Tekanan Darah dari European Society of
Hypertension (ESH).11
8

Kategori Sistolik Diastolik


Optimal <120 Dan <80
Normal 120-129 dan/atau 80-84
Normal Tinggi 130-139 dan/atau 85-89
Derajat 1 Hipertensi 140-159 dan/atau 90-99
Derajat 2 Hipertensi 160-179 dan/atau 100-109
Derajat 3 Hipertensi >180 dan/atau >110
Sistolik Hipertensi Terisolasi >140 Dan <90

Tabel 2.3.
Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO

Kategori Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)

Optimal < 120 < 80


Normal < 130 < 85

Tingkat 1 (hipertensi ringan) 140-159 90-99

Sub grup : perbatasan 140-149 90-94

Tingkat 2 (hipertensi sedang) 160-179 100-109

Tingkat 3 (hipertensi berat) 180 110

Hipertensi sistol terisolasi 140 < 90

Sub grup : perbatasan 140-149 < 90

Klasifikasi hipertensi dapat dibagi menjadi dua berdasarkan


penyebabnya dan berdasarkan bentuk hipertensi. Berdasarkan penyebabnya
yaitu hipertensi primer (hipertensi esensial) dan hipertensi sekunder
(hipertensi non esensial).11
Berdasarkan bentuk hipertensi dibagi menjadi hipertensi diastolik
(diastolic hypertension), hipertensi campuran (sistol dan diastol yang
meninggi), hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension).12
Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh
tekanan darah yang sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau
telah terjadinya kelainan organ target. Biasanya ditandai oleh tekanan darah
>180/120 mmHg; dikategorikan sebagai hipertensi emergensi atau hipertensi
9

urgensi. Pada hipertensi emergensi tekanan darah meningkat ekstrim disertai


dengan kerusakan organ target akut yang bersifat progresif, sehingga tekanan
darah harus diturunkan segera (dalam hitungan menit jam) untuk mencegah
kerusakan organ target lebih lanjut. Contoh gangguan organ target akut:
encephalopathy, pendarahan intrakranial, gagal ventrikel kiri akut disertai
edema paru, dissecting aortic aneurysm, angina pectoris tidak stabil, dan
eklampsia atau hipertensi berat selama kehamilan.6,13
Hipertensi urgensi adalah tingginya tekanan darah tanpa disertai
kerusakan organ target yang progresif. Tekanan darah diturunkan dengan obat
antihipertensi oral ke nilai tekanan darah pada tingkat 1 dalam waktu
beberapa jam sampai beberapa hari.6,13

2.4. Etiologi
Penyebab hipertensi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :5,10,13
1. Hipertensi esensial atau primer
Hipertensi esensial memiliki etiologi multifaktorial.
a Faktor genetik
Tekanan darah anak dalam sebuah keluarga cenderung meningkat
apabila orang tuanya mengalami hipertensi,dibandingkan dengan
anak tanpa riwayat orang tua hipertensi. Hal ini menunjukkan
tendensi faktor risiko genetik dalam penyebab hipertensi, meskipun
sebagian, adanya pengaruh lingkungan secara bersama. Namun,
sebagian besar faktor genetik bertanggung jawab atas kejadian
hipertensi dalam sebuah keluarga.
b Janin faktor
Berat badan lahir rendah dikaitkan dengan hipertensi. Hubungan ini
mungkin karena adaptasi janin intrauterin akibat kekurangan gizi
dengan perubahan jangka panjang dalam darah, struktur atau fungsi
penting sistem hormonal.
c Faktor-faktor lingkungan
Di antara beberapa faktor lingkungan yang telah diduga berperan,
berikut ini tampaknya menjadi yang paling signifikan:
a Obesitas
Orang gemuk memiliki tekanan darah yang lebih tinggi
dibandingkan orang kurus. Ada resiko, yang cenderung lebih
10

tinggi jika tekanan darah diukur dengan manset kecil.


Sesuaikan ukuran manset dengan lingkar lengan. Gangguan
pernafasan saat tidur yang bersamaan ditemukan pada pasien
obesitas merupakan faktor risiko tambahan.
b Asupan
Kebanyakan penelitian telah menunjukkan hubungan yang erat
antara konsumsi alkohol dan hipertensi. Namun, subyek yang
mengonsumsi sejumlah kecil alkohol tampaknya memiliki
tingkat tekanan darah yang lebih rendah daripada mereka yang
mengkonsumsi alkohol dalam jumlah banyak.
c Asupan Garam
Asupan Garam yang tinggi telah disarankan untuk menjadi
penentu utama dari perbedaan tekanan darah dalam populasi di
seluruh dunia. Populasi dengan asupan natrium lebih tinggi
memiliki tekana darah rata-rata lebih tinggi dibandingkan
dengan asupan natrium rendah. Migrasi dari pedesaan ke
lingkungan perkotaan dikaitkan dengan peningkatan tekanan
darah yang sebagian terkait dengan jumlah garam dalam diet.
Studi tentang pembatasan asupan garam telah menunjukkan
efek yang menguntungkan pada tekanan darah pada pasien
hipertensi. Sejumlah bukti telah menjelaskan komsumsi tinggi
kalium dapat melawan efek asupan kadar garam yang tinggi.
d Stres
Nyeri akut atau stress dapat meningkatkan tekanan darah.
Namun hubungan antaran nyeri kronik dan peningkatan
tekanan darah belum dapat dijelaskan dengan pasti.
d Mekanisme Hormonal
e Adanya sistem saraf otonom maupun Renin-angiotensis, peptide
nautriuetik dan sistem kali krein-kinin memainkan peran dalam
regulasi perubahan tekanan darah jangka pendek dan telah
dikaitkan dalam patogenesis hipertensi. Penurunan renin, salt
sensitive, hipertensi esensial yang terjadi pada pasien yang
mengalami retensi garam dan air dapat dijelaskan.
f Resistensi Insulin
g Hubungan antara diabetes dan hipertensi telah lama telah diakui
dan sebuah sindrom telah dijelaskan dari adanya hiperinsulinemia,
11

intoleransi glukosa, penurunan tingkat kolesterol HDL,


hipertrigliseridemia dan obesitas sentral (semua yang berhubungan
dengan resistensi insulin) dalam hubungan dengan hipertensi.
Hubungan ini (juga disebut sindrom metabolik) merupakan faktor
risiko utama untuk penyakit kardiovaskular.
Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi primer
sedangkan 10% tergolong hipertensi sekunder.
1. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat
diketahui. Pada sekitar 5 - 10 % penderita hipertensi, penyebabnya
adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1 - 2 %, penyebabnya adalah
kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya penyakit
kelenjar adrenal / hiperaldosteronisme, penggunaan pil KB).

Tabel 2.4.
Contoh Penyebab Terjadinya Hipertensi Sekunder

Penyebab Contoh
Penyakit Ginjal 1. Stenosis arterirenalis
2. Pielonefritis
3. Glomerulonefritis
4. Tumor-tumor ginjal
5. Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
6. Trauma ginjal (luka yang mengenai ginjal)
7. Terapipenyinaran yang mengenaiginjal
Kelainan Hormonal 1. Hiperaldosteronisme
2. Sindroma Cushing
3. Feokromositoma
Obat-obatan 1. Pil KB
2. Kortikosteroid
3. Siklosporin
4. Eritropoietin
5. Kokain
6. Penyalahgunaan alkohol
7. Kayumanis (dalam jumlah sangat besar)
Penyebab lainnya 1. Koartasio aorta
2. Preeklamsia
3. Porfiriaintermiten akut
4. Keracunan timbal akut

2.5. Gejala Penyakit Hipertensi


Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala,
meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan
12

dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya


tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung,
pusing, wajah kemerahan dan kelelahan yang bisa saja terjadi baik pada
penderita hipertensi maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang
normal.

Hipertensi diduga dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang


lebih serius dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Sering kali hipertensi
disebut sebagai silent killer karena dua hal yaitu:

a Hipertensi sulit disadari seseorang karena hipertensi tidak memiliki


gejala khusus, gejala ringan seperti pusing, gelisah, mimisan dan sakit
kepala biasanya jarang berhubungan langsung dengan hipertensi,
hipertensi dapat diketahui dengan mengukur secara teratur.

b Hipertensi apabila tidak ditangani dengan baik, akan mempunyai risiko


besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke,
serangan jantung, gagal jantung dan gagal ginjal.

Jika timbul hipertensinya berat atau menahun dan tidak terobati, bisa
timbul gejala berikut:

1 Sakit kepala
2 Kelelahan
3 Jantung berdebar-debar
4 Mual
5 Muntah
6 Sesak nafas
7 Gelisah
8 Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,
mata,
jantung dan ginjal.
9 Telinga berdenging
10 Sering buang air kecil terutama di malam hari.
13

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan


bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut
ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.14

2.6. Mekanisme Terjadinya Hipertensi


1. Mekanisme Humoral
Mekanisme humoral meliputi abnormalitas Sistem Renin-
Angiotensin-Aldosteron (SRAA), hormon natriuretik, dan
hiperinsulinemia.5,6
Abnormalitas SRAA
SRAA adalah sistem endogen kompleks yang terlibat pada
hamper sebagian besar komponen tekanan darah arterial. Aktivasi dan
regulasi SRAA diperintah oleh ginjal. SRAA mengatur natrium, kalium,
dan keseimbangan cairan. Untuk itu sistem ini secara signifikan
mempengaruhi tonus vaskuler dan aktivitas sistem saraf simpatik serta
paling berpengaruh terhadap pengaturan homeostatis tekanan darah.
Secara ringkas mekanisme hipertensi karena gangguan SRAA dapat
dilihat digambar.6,15
Renin adalah enzim yang disimpan di dalam sel juxtaglomerular
yang berada di arteriol aferen ginjal. Pelepasan renin dimodulasi oleh
faktor intrarenal (seperti angiotensin II, katekolamin, dan tekanan
perfusi ginjal), dan juga faktor ekstrarenal (seperti natrium, klorida, dan
kalium).6,13
Sel juxtaglomerular berfungsi sebagai alat sensor, dimana pada
penurunan tekanan ateri ginjal dan aliran darah ginjal dapat dikenali
oleh sel ini, dan kemudian menstimulasi pelepasan renin. Begitu juga
dengan peristiwa menurunnya kadar natrium dan klorida yang
ditranspor ke tubulus distal, peningkatan katekolamin, serta penurunan
kalium dan/atau kalsium intrasel dapat memicu sel juxtaglomerular
untuk melepaskan renin. Renin mengkatalisis perubahan
angiotensinogen menjadi angiotensin I di dalam darah. Angiotensin I
akan diubah menjadi angiotensin oleh angiotensin converting enzyme
14

(ACE). Setelah berikatan dengan reseptor spesifik (yang


diklasifikasikan sebagai subtipe AT1 dan AT2), angiotensin II
menyebabkan respon biologis pada beberapa jaringan. Reseptor AT1
terletak di ginjal, otak, miokardium, pembuluh darah perifer, dan
kelenjar adrenal. Reseptor ini memediasi sebagian besar respon penting
bagi fungsi ginjal maupun kardiovaskuler, sementara reseptor AT2 tidak
mempengaruhi pengaturan tekanan darah. 6,13

Bagan 2.1.
Pengaruh SRAA Terhadap Pengaturan Tekanan Darah

Sirkulasi Angiotensin II dapat meningkatkan tekanan darah


melalui efek pressor dan volume. Efek pressor termasuk diantaranya
adalah vasokonstriksi langsung, stimulasi pelepasan katekolamin dari
medulla adrenal, dan peningkatan aktivitas saraf simpatik yang
diperantarai oleh saraf pusat. Angiotensin II juga menstimulasi sintesis
aldosteron dari korteks adrenal yang menyebabkan reabsorpsi air dan
natrium yang mengakibatkan peningkatan volume plasma, tahanan
perifer total, dan tentu saja tekanan darah. 6,13,16
15

Hormon Natriuretik
Hormon natriuretik menghambat ATPase sodium dan potassium,
sehingga mempengaruhi transpor sodium melewati membrane sel.
Secara teoritis peningkatan konsentrasi hormon natriuretik dalam
sirkulasi darah akan meningkatkan sekresi sodium dan potassium
melalui urin. Defek pada kemampuan ginjal mengeliminasi sodium
dapat menyebabkan peningkatan volume darah. 6,13,16
Resistensi insulin dan Hiperinsulinemia
Resistensi insulin dan hiperinsulinemia dihubungkan dengan
perkembangan hipertensi karena kejadian tersebut berkaitan dengan
sindrom metabolik. Secara hipotesis, peningkatan knsentrasi hormon
insulin dapat menyebabkan hipertensi akibat retensi sodium dan
meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik, lebih jauh lagi insulin
memiliki aksi mirip growth hormon yang dapat menginduksi hipertrofi
sel-sel otot polos vaskuler. Insulin dapat meningkatkan tekanan darah
dengan meningkatkan kalsium intraseluler, yang menyebabkan
peningkatan tahanan vaskuler. Mekanisme pasti dari hipertensi akibat
resistensi insulin dan hiperinsulinemia belum diketahui. 6,13,16

2. Pengaturan Neuronal
Sisem saraf pusat dan otonom terlibat banyak dalam pengaturan
tekanan darah arteri. Sejumlah reseptor baik yang meningkatkan atau
menghambat pelepasan norepinefrin berada di permukaan presinaps
ujung syaraf simpatis. Reseptor presinaps dan berperan dalam
umpan balik negatif dan positif pada vesikel yang mengandung
norepinefrin yang berada di dekat ujung neuronal. Stimulasi reseptor
(2) presinaps menyebabkan penghambatan negatif pada pelepasan
norepinefrin. Stimulasi reseptor presinaps menstimulasi pelepasan
norepinefrin.
Serat saraf simpatis berada pada permukaan sel efektor yang
menginervasi reseptor dan , stimulasi reseptor ( 1) postsinaptik
pada arteriol dan venule menyebabkan vasokontriksi. Terdapat dua
16

postsinaptik reseptor , yaitu 1 dan 2, keduanya berada di semua


jaringan yang di inervasi oleh sistem saraf simpatis. Stimulasi reseptor
1 pada jantung menyebabkan peningkatan cardiac output dan
kontraktilitas. Sementara itu, stimulasi reseptor 2 pada arteriol dan
venula menyebabkan vasodilatsi.
Sistem refleks baroreseptor adalah mekanisme umpan balik
negatif yang mengontrol aktivitas simpatis. Baroreseptor adalah ujung
saraf yang berada di dinding arteri besar, khususnya arteri karotid dan
arkus aortik. Perubahan tekanan arteri dengan cepat mengaktivasi
baroreseptor, yang mentransmisikan impuls ke batang otak melalui saraf
kranial pertama dan nervus vagus. Pada sistem refleks, penurunan
tekanan darah arteri menstimulasi baroreseptor, menyebabkan
vasokontriksi dan peningkatan cardiac output dan memacu kontraksi
jantung.
Mekanisme reflek baroreseptor ini bisa mengalami kemunduran
pada lansia dan pada penderita diabetes. Tujuan mekanisme neuronal ini
adalah untuk mengatur tekanan darah dan menjaga homeostasis.
Gangguan patologis pada salah satu dari empat komponen utama (serat
saraf otonom, reseptor adrenergik, baroreseptor, atau sistem saraf pusat)
dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah secara kronis. Defek
pada salah satu komponen juga akan mengubah fungsi normal yang
lainnya dan sekumpulan abnormalitas tersebut bisa menjelaskan
perkembangan hipertensi primer. 6,13,16

3. Elektrolit Dan Zat Kimia Lain


Konsumsi makanan tinggi natrium berpeluang besar untuk
menyebabkan hipertensi. Mekanisme pastinya belum diketahui, akan
tetapi diduga berkaitan dengan sirkulasi hormon natriuretik yang
menghambat transport Na intraseluler, menyebabkan peningkatan
reaktivitas vaskuler dan peningkatan tekanan darah.
Perubahan homeostasis Ca juga berperan penting pada
pathogenesis hipertensi. Rendahnya konsumsi Ca secara hipotesis dapat
17

mengganggu keseimbangan konsentrasi Ca intraseluler dan


ekstraseluler, menyebabkan perubahan fungsi otot polos vaskuler
dengan meningkatnya tahanan vaskuler perifer. Percobaan menunjukan
konsumsi suplemen Ca menyebabkan penurunan hipertensi pada pasien.
Hiperurikemia telah diasosiasikan dengan meningkatkan risiko
kejadian kardiovaskuler pada penderita hipertensi namun hal ini masih
menjadi kontroversi karena terbatasnya data. 6,13,16
4. Mekanisme Endotelial Vaskuler
Endotelium vaskuler dan otot polos memegang paranan penting
dalam mengatur tonus pembuluh darah dan tekanan darah. Fungsi
regulasi ini diperantarai oleh substansi nasoaktif yang disintesis oleh
sel-sel endotelial. Hal ini telah dipostulatkan yaitu defisiensi sintesis
lokal dari susbtansi vasodilatasi (contoh : Prostacyclin, dan bradikinin)
atau kelebihan substansi vasokontriksi (contoh : angiotensin II dan
endothelin I) berkontribusi terhadap terjadinya hipertensi primer,
arterosklerosis, dan sebagainya.
Nitric oxide diproduksi di endotelium, merelaksasi epitel vaskuler
dan merupakan vasodilator poten. Sistem nitric oxide penting sebagai
pengatur tekanan darah arteri. Penderita hipertensi dapat mengalami
defisiensi intrinsic pada pelepasan nitric oxide sehingga menyebabkan
vasodilatasi yang inadekuat. 6,13,16

2.7. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi


2.7.1. Faktor Risiko Yang Tidak Dapat Dikontrol
1. Usia
Faktor usia sangat berpengaruh terhadap hipertensi karena dengan
bertambahnya usia maka risiko hipertensi menjadi lebih tinggi. Insiden
hipertensi yang makin meningkat dengan bertambahnya usia,
disebabkan oleh perubahan alamiah dalam tubuh yang mempengaruhi
jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi pada usia kurang dari
35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian
prematur.17
18

Semakin bertambahnya usia, risiko terkena hipertensi lebih besar


sehingga prevalensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40
% dengan kematian sekitar 50% di atas umur 60 tahun. Arteri
kehilangan elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah meningkat
seiring dengan bertambahnya usia.

2. Jenis kelamin
Faktor jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya penyakit tidak
menular tertentu seperti hipertensi, di mana pria lebih banyak menderita
hipertensi dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 2,29 mmHg untuk
peningkatan darah sistolik.
Wanita dipengaruhi oleh beberapa hormon termasuk hormon
estrogen yang melindungi wanita dari hipertensi dan komplikasinya
termasuk penebalan dinding pembuluh darah atau aterosklerosis. Arif
Mansjoer mengemukakan bahwa pria dan wanita menopause memiliki
pengaruh sama pada terjadinya hipertensi.18Ahli lain berpendapat bahwa
wanita menopause mengalami perubahan hormonal yang menyebabkan
kenaikan berat badan dan tekanan darah menjadi lebih reaktif terhadap
konsumsi garam, sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan darah.
Terapi hormon yang digunakan oleh wanita menopause dapat pula
menyebabkan peningkatan tekanan darah.19

3. Riwayat keluarga
Keluarga dengan riwayat hipertensi akan meningkatkan risiko
hipertensi sebesar empat kali lipat. Data statistik membuktikan jika
seseorang memiliki riwayat salah satu orang tuanya menderita penyakit
tidak menular, maka dimungkinkan sepanjang hidup keturunannya
memiliki peluang 25% terserang penyakit tersebut. Jika kedua orang tua
memiliki penyakit tidak menular maka kemungkinan mendapatkan
penyakit tersebut sebesar 60%.20

2.7.2. Faktor Risiko Yang Dapat Dikontrol


1. Konsumsi garam
19

Garam dapur merupakan faktor yang sangat berperan dalam


patogenesis hipertensi. Garam dapur mengandung 40% natrium dan
60% klorida. Orang-orang peka natrium akan lebih mudah mengikat
natrium sehingga menimbulkan retensi cairan dan peningkatan tekanan
darah.9 Garam memiliki sifat menahan cairan, sehingga mengkonsumsi
garam berlebih atau makan-makanan yang diasinkan dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadai
melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah.
Sumber natrium yang juga perlu diwaspadai selain garam dapur
adalah penyedap masakan atau monosodium glutamat (MSG) yang
mempertinggi risiko terjadinya hipertensi.

2. Konsumsi Lemak
Kebiasaan mengkonsumsi lemak jenuh berkaitan dengan
peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi. Konsumsi
lemak jenuh juga meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan
dengan kenaikan tekanan darah.
Penggunaan minyak goreng lebih dari satu kali pakai dapat
merusak ikatan kimia pada minyak, dan hal tersebut dapat
meningkatkan pembentukan kolesterol yang berlebihan sehingga dapat
menyebabkan aterosklerosis dan hal yang memicu terjadinya hipertensi
dan penyakit jantung.18

3. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan
hipertensi, sebab rokok mengandung nikotin. Di otak, nikotin akan
memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau
adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa
jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan darah yang lebih
tinggi.
Tembakau memiliki efek cukup besar dalam peningkatan tekanan
darah karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah.
20

Kandungan bahan kimia dalam tembakau juga dapat merusak dinding


pembuluh darah
Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan
oksigen dalam darah. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah
meningkat karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan
oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya.
Merokok juga diketahui dapat memberikan efek perubahan
metabolik berupa peningkatan asam lemak bebas, gliserol, dan laktat
yang menyebabkan penurunan kolesterol High Density Lipid (HDL),
serta peningkatan Low Density Lipid (LDL) dan trigliserida dalam
darah. Hal tersebut akan meningkatkan risiko terjadinya hipertensi dan
penyakit jantung koroner.

4. Obesitas
Obesitas merupakan suatu keadaan di mana indeks massa tubuh
lebih dari atau sama dengan 30. Obesitas meningkatkan risiko
terjadinya hipertensi karena beberapa sebab. Makin besar massa tubuh,
makin banyak pula suplai darah yang dibutuhkan untuk memasok
oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Hal ini mengakibatkan volume
darah yang beredar melalui pembuluh darah akan meningkat sehingga
tekanan pada dinding arteri menjadi lebih besar.
Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut
jantung dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan kadar insulin
menyebabkan tubuh menahan natrium dan air.17 Kincaid-Smith
mengusulkan bahwa obesitas dan sindrom resistensi insulin berperan
utama dalam patogenesis gagal ginjal pada pasien hipertensi atau
disebut juga nephrosclerosis hypertension.
Obesitas dapat menyebabkan hipertensi dan penyakit
kardiovaskular melalui mekanisme pengaktifan sistem renin-
angiotensin-aldosteron, peningkatkan aktivitas simpatis, peningkatan
aktivitas procoagulatory, dan disfungsi endotel. Selain hipertensi,
timbunan adiposa abdomen juga berperan dalam patogenesis penyakit
jantung koroner, sleep apnea, dan stroke.
21

5. Kurangnya aktifitas fisik


Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah.
Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung
mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Hal tersebut
mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi.
Makin keras usaha otot jantung dalam memompa darah, makin besar
pula tekanan yang dibebankan pada dinding arteri sehingga
meningkatkan tahanan perifer yang menyebabkan kenaikkan tekanan
darah.
Studi epidemiologi membuktikan bahwa olahraga secara teratur
dapat menurunkan tekanan darah sekitar 6-15 mmHg pada penderita
hipertensi.

2.8. Komplikasi Hipertensi


Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Beberapa penelitian menemukan bahwa
penyebab kerusakan organ-organ tersebut dapat melalui akibat langsung dari
kenaikan tekanan darah pada organ, atau karena efek tidak langsung, antara
lain adanya autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II, stress oksidatif,
down regulation, dan lain-lain.21
1. Otak
Stroke merupakan kerusakan target organ pada otak yang
diakibatkan oleh hipertensi. Stroke timbul karena perdarahan, tekanan
intra kranial yang meninggi, atau akibat embolus yang terlepas dari
pembuluh non otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi
pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri di otak mengalami hipertropi
atau penebalan, sehingga aliran darah ke daerah-daerah tersebut akan
berkurang. Arteri-arteri di otak yang mengalami arterosklerosis
melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya
aneurisma.

2. Kardiovaskular
22

Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner mengalami


arterosklerosis atau apabila terbentuk trombus yang menghambat aliran
darah yang melalui pembuluh darah tersebut, sehingga miokardium
tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Kebutuhan oksigen
miokardium yang tidak terpenuhi menyebabkan terjadinya iskemia
jantung, yang pada akhirnya dapat menjadi infark.
Beban kerja jantung akan meningkat pada hipertensi. Jantung
yang terus-menerus memompa darah dengan tekanan tinggi dapat
menyebabkan pembesaran ventrikel kiri sehingga darah yang dipompa
oleh jantung akan berkurang yang akhirnya dapat menimbulkan
komplikasi gagal jantung kongestif.

3. Ginjal
Penyakit ginjal kronik dapat terjadi karena kerusakan progresif
akibat tekanan tinggi pada kapiler-kepiler ginjal dan glomerolus.
Kerusakan glomerulus akan mengakibatkan darah mengalir ke unit-unit
fungsional ginjal, sehingga nefron akan terganggu dan berlanjut
menjadi hipoksia dan kematian ginjal. Hal tersebut terutama terjadi
pada hipertensi kronik.

4. Retinopati
Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan
pembuluh darah pada retina. Makin tinggi tekanan darah dan makin
lama hipertensi tersebut berlangsung, maka makin berat pula kerusakan
yang dapat ditimbulkan. Kelainan lain pada retina yang terjadi akibat
tekanan darah yang tinggi adalah iskemik optik neuropati atau
kerusakan pada saraf mata akibat aliran darah yang buruk, oklusi arteri
dan vena retina akibat penyumbatan aliran darah pada arteri dan vena
retina. Penderita hypertensive retinopathy pada awalnya tidak
menunjukkan gejala, yang pada akhirnya dapat menjadi kebutaan pada
stadium akhir.
2.9. Pengobatan
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu
pengobatan non farmakologik dan pengobatan farmakologik.22,23
23

1. Pengobatan Non Farmakologik


Meskipun faktor keturunan memegang peranan penting, namun
cara dan pola hidup sangat esensial dalam menjauhi hipertensi.
Misalnya makan berlebihan dengan terlalu banyak lemak dan garam
(serta gula), terlampau sedikit gerak badan, dan merokok, dapat
mendorong terjadinya hipertensi. Terapi non farmakologis harus
dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan
tekanan darah dan mengendalikan faktor-faktor resiko serta penyakit
penyerta lainnya. Pengobatan non farmakologis terdiri dari : 22,23
a. Menurunkan berat badan berlebih
b. Mengurangi konsumsi alkohol berlebih
c. Mengurangi asupan garam
d. Membatasi minum kopi
e. Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan
lemak
f. Menghentikan merokok
g. Cukup istirahat dan tidur
h. Latihan fisik

2. Pengobatan Farmakologik
24

Bagan 2.2.
Tatalaksana Hipertensi Menurut JNC 810

Contoh Obat Hipertensi

Diuretictiazide Chlorothiazide(diuril) 125-500 1-2


Chlorthalidone(generic) 12,525 1
25

Loopdiuretic Bumetanide(bumex+) 0,5-2 2


Furosemide(lasix+) 20-80 2
Torsemide(demadex+) 2,5-10 1
Potassiumdiuretik Amiloride(midamor+) 5-10 1-2
Triamterene(dyrenium) 50-100 1-2
BBs Atenolol 25-100 1
Bisoprolol(zebeta+) 2,5-10 1
Propanolol 40-160 2
Timolol(blocadren+) 20-40 2
Aceinhibitor Benazepril(lotensin+) 10-40 1
Captopril(capoten+) 25-100 2
Enalapril(vasotec+) 5-40 1-2
AngiotensinIIantagonis Candesartan(atacand) 8-32 1
Eprosartan(teveten) 400-800 1-2
Irbesartan(avapro) 150-300 1
kalsiumkanalbloker- Amlodipin(norvasc) 2,5-10 1
dihidropridines
Felodipin(plendil) 2,5-10 1
Alpa1bloker Doxazosin(cardura) 1-16 1
Prazosin(minipress+) 2-20 2-3
Alpasentral2antagonis Clonidine(catapres+) 0,1-0,8 2
Metildopa(aldomet+) 250-1.000 2
vasodilator Hydralazin(apresoline+) 25-100 2
Minoxidil(loniten+) 2,5-80 1-2

Tabel 2.5.
Obat-Obat Anti Hipertensi.10

a Menagemen Hipertensi JNC 8


1 Rekomendasi 1
Pada usia 60 tahun, inisiasi terapi farmakologi untuk
menurunkan tekanan darah (TD) pada systolic blood
pressure (SBP) 150 mmHg, atau diastolic blood pressure
(DBP) 90 mmHg dan diturunkan sampai SBP 150
mmHg dan DBP 90 mmHg.(Rekomendasi Kuat-Grade A)

2 Corollary Recommendation
Pada populasi umum usia 60 tahun, jika terapi
farmakologi ternyata menurunkan tekanan darah SBP lebih
rendah dari target (SBP 140 mmHg) dan terapi dapat
26

ditoleransi tanpa ada efek samping yang menganggu maka


terapi tidak perlu penyusuaian ( Pendapat Ahli-Grade E)
3 Rekomendasi 2
Pada populasi umum dengan usia < 60 tahun, inisiasi terapi
farmakologi untuk menurunkan TD pada DBP 90 mmHg
dan diturunkan sampai tekanan DBP 90 mmHg. (untuk
usia 30-59 tahun, Rekomendasi Kuat- Grade A; untuk usia
18-29 tahun, pendapat ahli-Grade E)
4 Rekomendasi 3
Pada populasi umum dengan usia < 60 tahun, inisiasi terapi
farmakologi untuk menurukan TD pada SBP 140 mmHg
dan diturunkan sampai tekanan SBP < 140 mmHg.
(Pendapat Ahli-Grade E)
5 Rekomendasi 4
Pada populasi umum usia 18 tahun dengan Chronic
Kidney Disease (CKD), inisiasi terapi farmakologi untuk
menurunkan TD pada SBP 140 mmHg atau DBP 90
mmHg dan target menurunkan sampai SBP < 140 mmHg
dan DBP < 90 mmHg.(Pendapat Ahli-Grade E)
6 Rekomendasi 5
Pada populasi umum usia 18 tahun dengan diabetes,
inisiasi terapi farmakologi untuk menurunkan TD pada SBP
140 mmHg atau DBP 90 mmHg dan target menurunkan
sampai SBP < 140 mmHg dan DBP < 90 mmHg.(Pendapat
Ahli-Grade E)
7 Rekomendasi 6
Pada populasi bukan kulit hitam, termasuk dengan penyakit
diabetes, inisiasi terapi farmakologi harus mencakup,
diuretik tipe thiazide, calcium channel blocker (CCB),
angiostensin-converting enzym inhibitor (ACEI) atau
angiostensin receptor blocker (ARB). (Rekomendasi :
Sedang-Grade B)
8 Rekomendasi 7
Pada populasi kulit hitam, termasuk orang-orang dengan
diabetes, initiasi terapi farmakologi antihipertensi harus
mencakup diuretik tipe thiazide, calcium channel blocker
27

(CCB) (Untuk orang kulit hitam rekomendasi sedang-grade


B; untuk orang kulit hitam dengan diabetes rekomendasi
lemah grade C)
9 Rekomendasi 8
Pada populasi umum usia 18 tahun dengan CKD, inisiasi
terapi farmakologi antihipertensi harus mencakup obat
ACEI atau ARB untuk meningkatkan fungsi ginjal
(Rekomendasi Sedang-Grade B)
10 Rekomendasi 9
Tujuan objektif dari terapi hipertensi adalah untuk mencapai
dan mempertahankan tekanan darah sesuai target terapi. Jika
tekanan darah tidak dapat mencapai target terapi yang
diinginkan dalam waktu 1 bulan terapi tekanan darah, dapat
dilakukan peningkatan dosis obat atau menambah golongan
obat kedua dari salah satu golongan obat pada rekomendasi
6 (diuretik tipe thiazide, CCB, ACEI atau ARB). Dokter
harus terus menilai perkembangan TD dan menyesuaikan
regimen obat antihipertensi sampai TD yang diinginkan
dapat dicapai. Jika target tekanan darah tidak dapat dicapai
dengan pengunaan 2 jenis golongan obat antihipertensi,
dapat dilakukan penambahan dan titrasi obat ke 3 dari daftar
yang telah tersedia. Jangan pernah mengunakan obat ACEI
dan ARB secara bersamaan pada 1 orang pasien. Jika target
tekanan darah tetap tidak dapat dicapai mengunakan terapi
obat pada rekomendasi 6 karena ada kontraindikasi obat
atau membutuhkan lebih dari 3 jenis obat, maka obat dari
golongan antihipertensi lainnya dapat digunakan. Rujukan
ke spesialis perlu dilakukan jika pasien tidak dapat
mencapai target tekanan darah mengunakan strategi yang di
atas atau perlu dilakukan managemen komplikasi pada
pasien.

Algorithma Penatalaksanaan Hipertensi JNC 8


28
29

Bagan 2.3.
Skema Tatalaksana Penderita Hipertensi Berdasarkan Umur dan
Penyakit Penyertanya10

2.10.Diagnosis
Anamnesis dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama
menderitanya, riwayat dan gejala penyakit, penyakit yang berkaitan seperti
penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskuler. Apakah
terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, gejala-gejala yang berkaitan dengan
penyebab hipertensi, perubahan aktifitas/kebiasaan (merokok), konsumsi
makanan, riwayat obat-obat bebas, hasil dan efek samping terapi antihipertensi
sebelumnya bila ada dan faktor psikososial lingkungan (keluarga, pekerjaan
dll).

Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali


atau lebih dengan jarak 2 menit, kemudian diperiksa ulang pada lengan
kontralateral dikaji perbandingan berat badan dan tinggi pasien, kemudian
dilakukan pemeriksaan funduskopi untuk mengetahui adanya retio hipertensif,
pemeriksaan leher untuk mencari bising carotid, pembesaran vena, atau
kelenjara tiroid.
30

Beberapa pemeriksaan lain untuk menegakkan diagnosis:2


1. Urinalisis dapat menunjukkan adanya protein, sel darah merah atau sel
darah putih, pada penyakit ginjal: adanya katekolamin yang
dihubungkan dengan pheochromasitoma, atau glukosa yang
menunjukkan adanya dibetes.
2. Pengujian laboratorium dapat mengungkapkan adanya peningkatan
nitrogen urea dan kadar kreatinin serum dari penyakit ginjal, atau
hipokalemia menunjukkan disfungsi adrenal (hiperaldosteronisme
primer).
3. Hitung darah lengkap dapat mengungkapkan penyebab hipertensi
misalnya polisitemia dan anemia.
4. Excretory urography dapat mengungkapkan adanya atrofi ginjal yang
mengarah ke penyakit ginjal kronik. Satu ginjal lebih kecil dari ginjal
sebelahnya menunjukkan penyakit ginjal unilateral.
5. Elektrocardiografi (EKG) dapat menunjukkan adanya hipertrofi
ventrikel kiri atau iskemik jantung.
6. Foto X-ray dada dapat menunjukkan kardiomegali
7. Echokardiografi dapat mengungkapkan adanya hipertrofi ventrikel kiri.

BAB III
METODE

3.1. Jenis Mini Project


31

Mini Project ini dilakukan dengan metode penyuluhan langsung dan


pendekatan kelompok. Mini Project ini ditujukan kepada lansia di Kecamatan
Banjar Agung.

3.2. Waktu dan Tempat Mini Project


Mini Project ini dilaksanakan pada tanggal 13-16 Februari 2017 pada
kegiatan balai pengobatan di Puskesmas Tulang Bawang I dan posbindu di
Desa Tunggal Warga dan Desa Makmur Jaya Kecamatan Banjar Agung.

3.3. Sasaran Mini Project


Sasaran pada penyuluhan dan penjaringan ini adalah lansia di wilayah
kerja Puskesmas Tulang Bawang I Kecamatan Banjar Agung.

3.4. Media
Media yang digunakan dalam kegiatan ini adalah poster.

BAB IV
HASIL

4.1. Profil Komunitas Umum


Berdasarkan laporan program pembinaan usia lanjut Puskesmas Tulang
Bawang I, jumlah sasaran usia lanjut (usila) di wilayah kerja Puskesmas
Tulang Bawang I yaitu lansia 2542 jiwa.
32

4.2. Analisa Geografis Dan Wilayah Administrasi


4.2.1. Analisa Geografis
UPT Puskesmas Tulang Bawang I terletak di Kampung Tunggal
Warga Kecamatan Bandar Agung Kabupaten Tulang Bawang dengan jarak
27 KM dari ibu kota Kabupaten yaitu Menggala dengan luas wilayah
kerja UPT Puskesmas Tulang Bawang I adalah 9,772 Ha.
Wilayah kerja UPT Puskesmas Tulang Bawang I sebagian besar
berupa dataran rendah yang meliputi areal permukiman dan daerah transit
yang padat dan sibuk karena merupakan jalur strategis antar kabupaten dan
antar provinsi, perkebunan dan perladangan milik penduduk dan sebagian
kecil milik perusahaan.

4.2.2.Wilayah Administrasi
Secara Administratif batas wilayah Puskesmas Tulang Bawang I adalah
sebagai berikut :
a. Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Kibang
Budi Jaya
b. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Gedung
Aji Lama
c. Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Penawar
Jaya
d. Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Banjar
Baru

4.3. Kondisi Demografis


4.3.1. Jumlah dan Komposisi Penduduk
Jumlah penduduk yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tulang Bawang
I pada tahun 2016 sebanyak 36.659 jiwa, terdiri atas 17.265 penduduk laki-
laki dan 18.385 penduduk perempuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel berikut :

Tabel 4.1.
33

Data Jumlah Penduduk Per Kampung Kecamatan Bandar Agung


Tahun 2016

No Nama Desa Jumlah Penduduk

1 Tunggal Warga 5088 Jiwa


2 Warga Makmur Jaya 2711 Jiwa
3 Warga Indah Jaya 769 Jiwa
4 Dwi Warga Tunggal Jaya 8998 Jiwa
5 Tri Tunggal Jaya 5467 Jiwa
6 Banjar Agung 3322 Jiwa
7 Banjar Dewa 2539 Jiwa
8 Moris Jaya 3320 Jiwa
9 Tri Mukti Jaya 1104 Jiwa
10 Tri Darma Wira Jaya 2041 Jiwa
11 Tri Mulya Jaya 1300 Jiwa
JUMLAH 36.659 Jiwa
Sumber : Data Jumlah Penduduk Per Kampung Kec. Banjar Agung Tahun 2016

Tabel 4.2.
Jumlah Penduduk Per Kampung Kecamatan Bandar Agung Menurut Jenis
Kelamin Tahun 2015

No Nama Desa Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk

L P

1 Tunggal Warga 2477 Jiwa 2353 Jiwa 4830 Jiwa


2 Warga Makmur Jaya 1391 Jiwa 1312 Jiwa 2703 Jiwa
3 Warga Indah Jaya 339 Jiwa 436 Jiwa 775 Jiwa
34

4 Dwi Warga Tunggal Jaya 4215 Jiwa 4120 Jiwa 8335 Jiwa
5 Tri Tunggal Jaya 1933 Jiwa 3501 Jiwa 5434 Jiwa
6 Banjar Agung 1692 Jiwa 1610 Jiwa 3302 Jiwa
7 Banjar Dewa 1300Jiwa 1235 Jiwa 2535 Jiwa
8 Moris Jaya 1650 Jiwa 1652 Jiwa 3302 Jiwa
9 Tri Mukti Jaya 560 Jiwa 550 Jiwa 1110 Jiwa
10 Tri Darma Wira Jaya 1023 Jiwa 1001 Jiwa 2024 Jiwa
11 Tri Mulya Jaya 685 Jiwa 615 Jiwa 1300 Jiwa
JUMLAH 36.659 Jiwa
Sumber : Data Jumlah Penduduk Per Kampung Kec. Banjar Agung Tahun
2015

4.4. Sumber Daya Kesehatan


Keadaan sumber daya tenaga kesehatan di Puskesmas Tulang Bawang I
Tahun 2016 adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3.
Data Tenaga Kesehatan Berdasarkan Jumlah Dan Kualifikasi
Pendidikan Pada Puskesmas Tulang Bawang I Kecamatan Banjar
Agung Tahun 2016

NO JENIS JENJANG JUMLAH KETERANGAN


PENDIDIKAN PNS PTT PHL TKS
1 Sarjana Strata 2 Kesehatan
Umum

2 Sarjana Strata 1 Dokter 2


Dokter Gigi 1
35

Apoteker 1
SKM 4 1
S.Keperawatan 2 1 1
D4 Bidan 3
Umum 3

3 Diploma III AKPER 15


AKBID 5 7 6
AKL 1
AAK 1
AKG 2

4 SLTA Bidan
SPAG
SMAK
SPRG 1
SPK 4
PEKES 1

5 Umum SMA 2
SMK 1 1
JUMLAH 48 7 2 11
Sumber : Database Kepegawaian Puskesmas Tulang Bawang I tahun 2016

4.5. Sarana Dan Prasarana Kesehatan Di Wilayah Kerja


Puskesmas sebagai penanggung jawab pembangunan bidang kesehatan
di wilayah kerja bertanggung jawab melaksanakan pembinaan terhadap
sarana kesehatan yang ada agar pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
sarana kesehatan tersebut sesuai standar yang sudah ditentukan baik dalam
hal lokasi, fasilitas pelayanan maupun dari segi kesehatan lingkungannya.
Terutama pada saat mengajukan izin operasional ke Dinas Kesehatan, maka
rekomendasi dari puskesmas setempat menjadi salah satu syarat untuk
dikeluarkannya izin tersebut.
Di Puskesmas Tulang Bawang I Kecamatan Bandar Agung tahun 2016
terdapat beberapa sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.4.
Data Fasilitas Kesehatan/Penunjang Di Wilayah Kerja Puskesmas
Tulang Bawang I Kecamatan Banjar Agung Tahun 2016

No Fasilitas Kesehatan/Penunjang Jumlah


1 Puskesmas Induk 1
2 Puskesmas Pembantu 1
3 Gudang Obat 1
4 Laboratorium 2
5 Pos Kesehatan Desa 3
6 Bidan Praktek Mandiri 11
36

7 Praktek Dokter Swasta 4


8 Apotek 7
9 Rumah Sakit Swasta 1
10 Mobil Puskesmas Keliling 1
Sumber : Laporan SP2TP Puskesmas Tulang Bawang I tahun 2016

Tabel 4.5.
Data Upaya Kesehatan Bersumberdaya Manusia Di Wilayah Kerja
Puskesmas Tulang Bawang I Kecamatan Banjar Agung Tahun 2016

N Jenis UKBM Jumlah


o
1 KPKIA 15
2 Posyandu Balita 15
3 PSI 11
4 BKB 1
5 Posyandu Usila 11
6 PODF -
7 TOGA 12
8 Desa 4K 11
9 Posbindu 2
10 Kelas Ibu Hamil 11
Sumber : Laporan SP2TP Puskesmas Tulang Bawang I tahun 2016

4.6. Data Kesehatan Masyarakat (Primer)

Tabel 4.6.
Penjaringan Umur Dan Tekanan Darah Di Balai Pengobatan Puskesmas
Tulang Bawang I Desa Banjar Agung

JENIS
TEKANA
UMU KELAMI
NO NAMA N
R N
DARAH
L P
1 Syah Budin 48 th L 160/70
2 Rosmaladin 62 th P 160/90
3 Hanimi 58 th P 180/100
4 Sony 42 th L 190/100
5 Siti Jubaidah 52 th P 160/80
6 Marpin 57 th P 160/90
7 Sutini 46 th P 160/110
8 Siti katimah 60 th L 120/80
9 Penyanto 41 th L 80/60
10 Sutomo 56 th L 150/90
11 Tuti mutia 49 th P 120/80
12 Mujiati 40 th P 110/70
13 Setyo 44 th L 120/80
37

14 Galin 57 th P 130/70
15 Riwon 52 th P 130/70

Dari tabel diatas didapatkan dari 15 orang yang diperiksa tekanan


darahnya terdapat 7 orang yang tekanan darahnya tinggi, 2 orang laki laki dan
5 orang perempuan. Diantaranya yang berusia 45-59 tahun 6 orang dan 60-74
tahun 1 orang. Sedangkan 8 orang lainnya tekanan darahnya dalam batas
normal.

Tabel 4.7.
Penjaringan Umur Dan Tekanan Darah Di Balai Pengobatan Puskesmas
Tulang Bawang I Desa Dwi Warga Tunggal Jaya

JENIS
KELAMI TEKANAN
NO NAMA UMUR
N DARAH
L P
1 Sugiri 51 th L 160/90
2 Ruminah 85 th P 160/60
3 Juminah 59 th P 160/100
4 Suratman 67 th L 180/110
5 Samilah 65 th P 180/80
6 Sumiyatun 57 th P 160/90
7 Supriyanto 54 th L 170/100
8 Tagiyah 69 th P 170/100
9 Uma 67 th P 180/80
10 Yakinah 69 th P 190/90
11 Isnanih 52 th P 180/100
12 Asiah 40 th P 160/80
13 Rosnelawati 57 th P 160/100
14 Irsa 52 th P 170/100
15 Resmawati 53 th P 200/100
16 Leginem 54 th P 160/100
17 Putu 55 th L 190/120
18 Romapinta 73 th P 210/80
19 Subagio 51 th L 180/110
20 M. Alfian 70 th L 160/80
21 M. mukrom 56 th L 160/80
22 Irsawati 60 th P 160/100
23 Ali Sujito 67 th L 160/100
24 Kasdun 56 th L 120/80
25 M. Alfian 70 th L 130/60
26 Mansur 55 th L 130/80
38

27 Toyibatun 52 th P 130/60
28 Katmiatun 90 th P 90/60
29 Nurjanah 55 th P 120/70
30 Ribut Rianti 46 th L 150/100
31 Sri Handayani 52 th P 150/100
32 Cik Mamat 61 th L 120/80
33 Tarini 65 th P 120/80
34 I Dewa putu 63 th L 110/70
35 Erni Wati 46 th P 130/80
36 Juniar 68 th P 150/100
37 Sainem 51 th P 120/70
38 Raswan 42 th L 130/70
39 Kasaeri 52 th L 120/70
40 Riyati 49 th P 130/80
41 Kadiyana 42 th P 110/70
42 Karmiatun 62 th P 130/60
43 Jawiah 68 th P 130/80
44 Nurpiati 45 th P 120/80
45 Lasmiati 58 th P 150/80
Dari tabel diatas didapatkan dari 45 orang yang diperiksa tekanan
darahnya terdapat 26 orang yang tekanan darahnya tinggi, 9 orang laki laki
dan 17 orang perempuan. Diantaranya yang berusia 45-59 tahun 15 orang, 60-
74 tahun 10 orang dan 75-90 tahun 1 orang. Sedangkan 19 orang lainnya
tekanan darahnya dalam batas normal.

Tabel 4.8.
Penjaringan Umur Dan Tekanan Darah Di Balai Pengobatan Puskesmas
Tulang Bawang I Desa Tunggal Warga

JENIS
TEKANA
UMU KELAMI
NO NAMA N
R N
L P DARAH
1 Sukaini 57 th L 230/120
2 Rasimin 57 th L 160/100
3 Giah 90 th P 170/100
4 Romilah 48 th P 170/80
5 Yulasmi 45 th P 190/100
6 Sri Puji Astuti 45 th P 180/100
7 Sudiarti 45 th P 160/70
8 Hasan 63 th L 170/110
9 Suratiyah 59 th P 160/100
10 Sumanto 67 th L 180/90
39

11 Ruswati 53 th P 190/100
12 lin titik 47 th P 180/100
13 Sumarto 60 th L 190/90
14 Kusinawati 46 th P 170/90
15 Abidi 55 th L 160/90
16 Fatimah 41 th P 170/90
17 Nurdin 67 th L 170/90
18 Sanikem 70 th P 170/90
19 Sriyati 47 th P 190/110
20 Ruswita 53 th P 200/110
21 Iin Wartini 54 th P 170/110
22 Purwatiningsih 52 th P 190/100
23 Siti Sulaini 42 th P 160/100
24 Suharwati 48 th P 170/90
25 Ponem 65 th P 170/90
26 Joyo padi 85 th L 110/60
27 Darni 47 th P 120/70
28 Sunarno 45 th L 150/90
29 Nila wati 48 th P 150/80
30 Irma 42 th P 120/70
31 Samsudin 69 th L 130/70
32 Irnawati 42 th P 110/70
33 Karmanto 57 th L 130/70
34 Sugiman 54 th L 150/90
35 Tusilah 48 th P 120/80
36 Katimatu 45 th L 140/70
37 Nurmika 40 th P 150/90
38 Darius yaminsuri 61 th L 120/80
39 Pujiarti 40 th P 110/70
40 Timan 65 th L 150/100
41 Ani 57 th P 130/90
42 Dadah 63 th P 110/60
43 Marlina 42 th P 120/70
44 Leli haryani 43 th P 130/80
45 Nurjanah 65 th P 170/90
46 Yayah 82 th P 160/90

Dari tabel diatas didapatkan dari 46 orang yang diperiksa tekanan


darahnya terdapat 32 orang yang tekanan darahnya tinggi, 10 orang laki laki
dan 22 orang perempuan. Diantaranya yang berusia 40-50 tahun 13 orang, 51-
60 tahun 11 orang, 61-70 tahun 6 orang dan 81-90 tahun 2 orang. Sedangkan
14 orang lainnya tekanan darahnya dalam batas normal.
40

Tabel 4.9.
Penjaringan Umur Dan Tekanan Darah Di Balai Pengobatan Puskesmas
Tulang Bawang I Desa Moris Jaya

JENIS
TEKANA
UMU KELAMI
NO NAMA N
R N
DARAH
L P
1 Ruhailah 72 th P 160/90
2 Suparman 47 th L 170/110
3 Aswati 40 th P 150/100
4 Siti Aminah 40 th P 120/70
5 Muryanto 46 th L 120/70
6 Asubri 40 th P 150/90
7 Murcito 40 th L 130/80
8 Suparmi 54 th P 120/70

Dari tabel diatas didapatkan dari 8 orang yang diperiksa tekanan


darahnya terdapat 2 orang yang tekanan darahnya tinggi, 1 orang laki laki dan
1 orang perempuan. Diantaranya yang berusia 45-59 tahun 1 orang dan 60-74
tahun 1 orang. Sedangkan 6 orang lainnya tekanan darahnya dalam batas
normal.

Tabel 4.10.
Penjaringan Umur Dan Tekanan Darah Di Balai Pengobatan Puskesmas
Tulang Bawang I Desa Warga Makmur Jaya

JENIS
TEKANA
UMU KELAMI
NO NAMA N
R N
DARAH
L P
1 Rini 42 th P 160/100
2 Nyoman Destri 50 th P 180/110
3 Ismiati 60 th P 160/100
4 Nur ani 48 th P 160/80
5 Superni 57 th P 180/90
6 Sri Winayu 84 th P 180/90
7 Tuparno 47 th L 160/80
8 Rohiah 40 th P 160/100
9 Miyati 50 th P 160/90
10 Bambang 53 th L 160/100
11 Siti 60 th P 130/80
12 Sunanto 41 th L 120/70
41

13 Suratno 70 th L 130/80

Dari tabel diatas didapatkan dari 13 orang yang diperiksa tekanan


darahnya terdapat 8 orang yang tekanan darahnya tinggi, 2 orang laki laki dan
6 orang perempuan. Diantaranya yang berusia 45-59 tahun 6 orang, 60-74
tahun 1 orang dan 75-90 tahun 1 orang. Sedangkan 5 orang lainnya tekanan
darahnya dalam batas normal.

Tabel 4.11.
Penjaringan Umur Dan Tekanan Darah Di Balai Pengobatan Puskesmas
Tulang Bawang I Desa Tri Tunggal Jaya

JENIS
TEKANA
N UMU KELAMI
NAMA N
O R N
DARAH
L P
1 Soimah 51 th P 170/80
2 Rusmin 55 th L 160/100
3 Lagimin 49 th L 160/100
4 Mukafiqi 55 th L 160/100
5 Rasmin 55 th L 180/110
6 Sahlan 74 th L 200/100
7 Trimiarti 58 th P 170/80
8 Durkas Sumiarti 58 th P 130/80
9 Endang 48 th P 130/80
10 Sarkini 41 th P 120/80
11 Sarmini 41 th P 110/70
12 Sulyati 46 th P 130/80

Dari tabel diatas didapatkan dari 12 orang yang diperiksa tekanan


darahnya terdapat 7 orang yang tekanan darahnya tinggi, 5 orang laki laki dan
2 orang perempuan. Diantaranya yang berusia 45-59 tahun 6 orang dan 60-74
1 orang. Sedangkan 5 orang lainnya tekanan darahnya dalam batas normal.

Tabel 4.12.
42

Penjaringan Umur Dan Tekanan Darah Di Balai Pengobatan Puskesmas


Tulang Bawang I Desa Warga Indah Jaya

JENIS
TEKANA
UMU KELAMI
NO NAMA N
R N
DARAH
L P
1 Made Ari 68 th L 180/100
2 Ketut Kaimi 50 th P 210/120
3 Nyoman Rani 50 th P 150/90
4 Wayan Nurwati 46 th P 140/90
5 Made Darwi 53 th P 130/80

Dari tabel diatas didapatkan dari 5 orang yang diperiksa tekanan


darahnya terdapat 3 orang yang tekanan darahnya tinggi, 1 orang laki laki dan
2 orang perempuan. Diantaranya yang berusia 45-59 tahun 2 orang dan 60-74
tahun 1 orang. Sedangkan 2 orang lainnya tekanan darahnya dalam batas
normal.

Tabel 4.13.
Penjaringan Umur Dan Tekanan Darah Di Posbindu
Desa Warga Makmur Jaya

JENIS
N TEKANA
NAMA UMUR KELAMIN
O N DARAH
L P
1 Pawit 66 th L 160/90
2 Ngatipah 45 th P 150/90
3 Astuti 45 th P 150/100
4 Ummi Salamah 42 th P 120/80
5 Narti 48 th P 120/80
6 Ismiyati 55 th P 150/90
7 Sariyanto 42 th P 120/80
8 Mei Ningsih 62 th P 160/90
9 Wijatsih 65 th P 190/100
10 Sugiarti 51 th P 180/100
11 Basuki 54 th L 100/70
12 Parmini 45 th P 110/70
13 Santo 70 th L 190/110
14 Darto 45 th L 150/90

Dari tabel diatas didapatkan dari 14 orang yang diperiksa tekanan


darahnya terdapat 9 orang yang tekanan darahnya tinggi, 3 orang laki laki
dan 6 orang perempuan. Diantaranya yang berusia 45-59 tahun 5 orang dan
43

60-74 tahun 4 orang. Sedangkan 5 orang lainnya tekanan darahnya dalam


batas normal.

Tabel 4.14.
Penjaringan Umur Dan Tekanan Darah Di Posbindu
Desa Tunggal Warga

JENIS
TEKANA
NO NAMA UMUR KELAMIN
N DARAH
L P
1 Tumirah 51 th P 150/90
2 Sutiem 43 th P 130/80
3 Wijiati 52 th P 130/80
4 Martuti 50 th P 150/90
5 Sundari 46 th P 90/60
6 Suharwati 60 th P 160/90
7 Menik Zaharo 55 th P 130/80
8 Parti 41 th P 120/80
9 Sri Indarti 47 th P 130/80
10 Kartinem 50 th P 140/100
11 Siti Soleha 51 th P 150/90
12 Ruswati 53 th P 170/90
13 Cipto Utomo 64 th L 160/100
14 Partini 51 th P 120/80
15 Ama 46 th P 200/130
16 Nani 53 th P 170/100

Dari tabel diatas didapatkan dari 16 orang yang diperiksa tekanan


darahnya terdapat 9 orang yang tekanan darahnya tinggi, 1 orang laki laki
dan 8 orang perempuan. Diantaranya yang berusia 45-59 tahun 7 orang dan
60-74 tahun 2 orang. Sedangkan 7 orang lainnya tekanan darahnya dalam
batas normal.

BAB V
44

DISKUSI

5.1. Monitoring
Monitoring yang dilakukan dengan menggunakan kartu monitoring.
Dimana setiap orang yang melakukan pemeriksaan, semuanya di catat dalam
kartu monitoring, sehingga para petugas kesehatan bisa mengontrol dari kartu
monitoring ini.
Monitoring dilakukan dengan pengukuran vital sign dan berat badan.
Pendekatan kepada peserta dilakukan melalui penyuluhan dan diskusi, terlihat
bahwa peserta tampak antusias dan lebih leluasa bertanya kepada narasumber.
Setelah diadakan penyuluhan ini, peserta tampak lebih paham mengenai
hipertensi dan diharapkan kedepannya semakin memperlihatkan tanda-tanda
bahaya yang mungkin timbul sehingga tidak terlambat mendapatkan
penanganan di instalansi kesehatan.

5.2. Evaluasi
Dari hasil kegiatan penyuluhan terkait hipertensi dapat di evaluasi
dengan menanyakan pertanyaan dibahah ini:
1. Mengapa perlu melakukan pemeriksaan berkala terhadap tekanan
darah?
Jawab :
Hipertensi merupakan penyakit yang dapat memberikan gejala maupun
tidak. Hipertensi juga merupakan salah satu penyakit yang tidak dapat
disembuhkan tetapi dapat dikontrol dengan cara minum obat secara
rutin dan memperbaiki gaya hidup. Sehingga pada pasien yang memiliki
risiko tinggi hipertensi sebaiknya dianjurkan rutin untuk memeriksakan
tekanan darahnya. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat bermanifestasi
serius pada organ vital tubuh seperti jantung, ginjal,

5.3. Pembahasan
Pada lanjut usia terdapat peningkatan insidensi penyakit tidak menular
yang merupakan penyakit degeneratif, penyakit gangguan metabolisme, dan
psikososial. Menurut riskesdas tahun 2007 terdapat tujuh masalah kesehatan
yang paling banyak pada lansia yaitu penyakit 62,9%, hipertensi 63,5%,
45

katarak 41,9%, stroke 31,9%, jantung 19,2%, gangguan emosional 23,2%,


dan diabetes melitus 3,4%.
Dari tabel penjaringan umur dan tekanan darah yang dilakukan di balai
pengobatan dan posbindu di wilayah kerja Puskesmas Tulang Bawang I
Kecamatan Banjar Agung dapat dilihat dari hasil pemeriksaan yang dilakukan
pada kegiatan balai pengobatan dan posyandu lansia didapatkan gambaran
secara deskriptif jumlah lansia yang berobat maupun yang mengikuti kegiatan
posyandu lansia pada tanggal 13-16 Februari 2017 adalah 174 orang. Dari
data yang didapatkan angka hipertensi cukup tinggi yaitu dari 174 orang
didapatkan 100 orang yang terdeteksi tekanan darah nya tinggi, 34 orang
laki-laki dan 66 orang perempuan. Diantaranya yang berusia 45-59 tahun 67
orang, 60-74 tahun 29 orang dan 75-90 tahun 4 orang. Sedangkan 74 orang
lainnya tekanan darahnya dalam batas normal.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa angka kejadian hipertensi
seiring bertambahnya usia di wilayah kerja Puskesmas Tulang Bawang I
masih cukup tinggi.
Kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya melakukan
pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu faktor tingginya prevalensi
penurunan kualitas kesehatan di masa senja. Pentingnya menjaga kesehatan
sejak dini dengan melakukan kontrol kesehatan berkala dan pola hidup sehat
perlu digalakkan oleh petugas kesehatan.

5.4. Pemberian Penyuluhan


Tujuan dari pemberian penyuluhan adalah menambah pengetahuan bagi
masyarakat. Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengetahuan (kognitif)
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang (overt behavior). Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata
perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada
perilaku yang tidak didasari pengetahuan.
Ada beberapa langkah / proses sebelum orang mengadopsi perilaku
baru. Pertama adalah awareness (kesadaran), dimana orang tersebut
menyadari stimulus tersebut. Kemudian dia mulai tertarik (interest).
Selanjutnya, orang tersebut akan menimbang-nimbang baik atau tidaknya
stimulus tersebut (evaluation). Setelah itu, dia akan mencoba melakukan apa
46

yang dikehendaki oleh stimulus (trial). Pada tahap akhir adalah adoption,
berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya.
Dengan mendapatkan informasi yang benar, diharapkan lansia mendapat
bekal pengetahuan yang cukup untuk dapat melaksanakan pola hidup sehat
sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit-penyakit tidak menular
sedangkan bagi yang sudah menderita dapat menurunkan risiko terjadinya
progresivitas penyakit dan terjadinya komplikasi.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
1 Hipertensi meningkat seiring peningkatan jumlah usia.
2 Masih kurangnya kesadaran dan kemauan masyarakat untuk rutin
memeriksakan kesehatan, terutama tekanan darah ke pusat kesehatan
terdekat. Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko
hipertensi. Hal ini menyebabkan kesadaran masyarakat untuk
memeriksakan tekanan darah secara rutin ketenaga kesehatan masih
kurang.
47

3 Kurangnya pengetahuan masyarakat bahwa obat hipertensi harus selalu


diminum sehingga banyak penderita sering tidak rutin kontrol karena
tidak merasakan keluhan apapun dan merasa sehat.
4 Penerapan pola hidup sehat pada lansia dapat mencegah dan mengatasi
penyakit hipertensi pada lansia di wilayah kerja puskemas Tulang
Bawang I Kecamatan Banjar Agung.

6.2. Saran
1. Tenaga kesehatan terutama meliputi pemegang program posbindu,
posyandu lansia dan prolanis serta kader juga ikut proaktif untuk
mengajak masyarakat berkunjung ke posyandu lansia, posbindu atau
balai pengobatan dan prolanis sehingga secara rutin dapat mendeteksi
secara dini penyakit-penyakit tidak menular pada lansia dan mengontrol
tekanan darah pada lansia.
2. Lansia yang menderita hipertensi dirujuk ke puskesmas untuk dilakukan
penanganan lebih lanjut dan diberikan kartu menuju sehat lansia sebagai
salah satu alat ukur untuk memantau tekanan darah dan menilai
keberhasilan pengobatan.
3. Lansia yang menderita hipertensi juga disarankan untuk mengikuti
program prolanis terutama yang mengikuti program JKN (Jaminan
Kesehatan Nasional). Dalam hal ini diharapkan pada beberapa
pemegang program seperti posbindu, posyandu lansia dan prolanis
dapat bekerjasama dalam mendeteksi, memantau tekanan darah dan
menilai keberhasilan pengobatan terutama penyakit hipertensi.
4. Tenaga kesehatan dan kader secara kontinyu memberikan penyuluhan
tentang penerapan pola hidup sehat pada lansia.
5. Pada puskesmas terutama pada kegiatan prolanis diharapkan dapat
memberikan jumlah obat hipertensi lebih banyak kepada pasien yang
menderita hipertensi.