Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PAPER

ILMU PERILAKU DAN ETIKA PROFESI

Disusun Oleh:
Nama : Fety Rosana
NPM : 1115003841

D-III FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2017

BAB I
PENDAHULUAN

A Latar Belakang
Manusia dan kebudayaan adalah satu hal yang tidak dapat
dipisahkan, karena dimana manusia itu hidup dan menetap pasti manusia
akan hidup sesuai dengan kebudayaan yang ada didaerah yang
ditinggalinya. Manusia hidup karena adanya kebudayaan, sementara itu
kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau
melestarikan kebudayaan dan bukan merusaknya. Dengan demikian
manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena
dalam kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil
kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan,
bahkan kadang kala disadari atau tidak manusia merusak kebudayaan.
Unsur-unsur kebudayaan meliputi pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan serta kebiasaan yang
dilakukan oleh masyarakat-masyarakat, yang merupakan hail budi atau
akal manusia. Dalam mengatasi masalah-masalah lebih berorientasi pada
adaptasi dan pelaksanaan strategi terhadap keadaan social
(Koentjaraningrat, 2002).
Strategi adaptasi social budaya yang melahirkan sistem-sistem
medis, tingkah laku dan bentuk-bentuk kepercayaan yang berlandaskan
budaya, yang timbul sebagai respon terhadap ancaman-ancaman yang
disebabkan oleh penyakit. Dan pola-pola dari pranata-pranata social dan
tradisi-tradisi budaya yang menyangkut perilaku yang sengaja untuk
meningkatkan kesehatan, meskipun hasil dari tingkah laku khusus tersebut
belum tentu menghasilkan kesehatan yang baik (Alamsyah, 2011).
Masalah kesehatan merupakan salah satu faktor yang berperan
penting dalam mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas.
Melalui pembangunan di bidang kesehatan diharapkan akan semakin
meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan
dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat secara memadai
(Notoatmodjo, 2007).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan
seseorang yaitu lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan
sosial, dimana lingkungan sosial ini dapat mempengaruhi perilaku
seseorang.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, memiliki naluri
untuk hidup dengan lainnya. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan
orang lain disebut gregariousness sehingga manusia disebut social animal
(hewan sosial). Karena sejak dilahirkan manusia sudah mempunyai dua
kecenderungan pokok, yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan
manusia lain di sekelilingnya (masyarakat), dan keinginan untuk menjadi
satu dengan suasana alam sekelilingnya. Kecenderungan manusia untuk
hidup bersosial-bermasyarakat sudah ada sejak lahir.
Masyarakat adalah kelompok manusia yang hidup bersama dan
yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian, tak ada masyarakat
yang tidak memiliki kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa
masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya.Terdapat hubungan timbal
balik antara kebudayaan dengan masyarakat, sebagaimana ada hubungan
antara kebudayaan, peradaban dan sejarah. Masyarakat itu menghasilkan
kebudayaan, sedangkan kebudayaan itu menentukan corak masyarakat.
Jadi antara manusia dan kebudayaan merupakan suatu kesatuan yang
memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama
lain. Melalui ini,kita akan melihat seberapa eratnya masyarakat dengan
budayanya,dan budaya dengan masyarakatnya,serta seberapa penting dan
bagaimana kebudayaan itu ada di dalam masyarakat.
Setiap masyarakat manusia selama hidup pasti mengalami
perubahan-perubahan. Perubahan dimana dapat berupa perubahan yang
tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula perubahan-perubahan
yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-
perubahan yang lambat sekali, akan tetapi ada juga yang berjalan dengan
cepat. Perubahan-perubahan hanya akan dapat diketemukan oleh
seseorang yang sempat meneliti susunan dan kehidupan suatu masyarakat
pada suatu waktu dan membandingkannya dengan susunan dan kehidupan
masyarakat tersebut pada waktu yang lampau.
Masyarakat indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya dan
adat istiadat yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku
seseorang termasuk dalam perilaku kesehatan, sehingga petugas kesehatan
yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang
mempunyai latar bekalang suku, adat istiadat dan budaya yang berbeda,
harus mampu memahami budaya masyarakat yang dilayaninya.

B Rumusan masalah

1 Bagaimana manfaat petugas kesehatan dalam mempelajari unsur-unsur


kebudayaan dalam upaya perbaikan kesehatan masyarakat ?

2 Bagaimana ciri-ciri masyarakat yang mudah menerima perubahan ?

C Tujuan

1 Untuk mengetahui manfaat petugas kesehatan dalam mempelajari


unsur-unsur kebudayaan.

2 Untuk mengetahui ciri-ciri masyarakat yang mudah menerima


perubahan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A Pengertian Kebudayaan

Secara sederhana kebudayaan dapat diartikan sebagai hasil dari


cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya Budaya atau kebudayaan berasal dari
bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari
buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan
budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture,
yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan.
Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.
Koentjaraningrat (2002) mendefinisikan budaya adalah segala hal
yang dibuat oleh manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang
mengandung cinta, rasa dan karsa. Dapat berupa kesenian moral,
pengetahuan, hukum, kepercayaan, adat istiadat, dan ilmu.
Taylor dalam bukunya Primitive Culture, memberikan definisi
kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang didalamnya
terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, dan kemampuan kesenian,
moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan lain serta kebiasaankebiasaan
yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut Herskovits, Budaya sebagai hasil karya manusia sebagai
bagian dari lingkungannya (culture is the human-made part of the
environment). Artinya segala sesuatu yang merupakan hasil dari perbuatan
manusia, baik hasil itu abstrak maupun nyata, asalkan merupakan proses
untuk terlibat dalam lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial,
maka bisa disebut budaya.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai
kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan
dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia,
sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang
diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku
dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa,
peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang
kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan
kehidupan bermasyarakat (Prasetyawati, 2012).

B Jenis-jenis kebudayaan di Indonesia


a Kebudayaan Modern
Kebudayaan modern biasanya berasal dari manca negara datang di
Indonesia merupakan budaya/ kesenian import. Budaya modern akting,
penampilan, dan kemampuan meragakan diri didasari sifat komersial.
Budaya modern lebih mengesampingkan norma , gaya menjadi idola
masyarakat dan merupakan target sasaran Contoh : film, musik jazz.
b Kebudayaan Tradisional
Bersumber dan berkembang dari daerah setempat. Penampilan
mengutamakan norma dengan mengedepankan intuisi bahkan bersifat
bimbingan dan petunjuk tentang kehidupan manusia. Kebudayaan
tradisional kurang mengutamakan komersial dan sering dilandasi sifat
kekeluargaan. Contoh : Ketoprak, wayang orang, keroncong, ludruk.
c Budaya Campuran
Budaya campuran pada hakekatnya merupakan campuran budaya
modern dengan budaya tradisional yang berkembang dengan cara
asimilasi ataupun defusi. Kebudayaan campuran sudah
memperhitungkan komersiel tapi masih mengindahkan norma dan adat
setempat. Contoh : Musik dangdut, orkes gambus, campur sari
(Koentjaraningrat, 2002).

C Unsur Kebudayaan
Koentjaraningrat (2002) membagi budaya menjadi 7 unsur : yakni
sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi
kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata
pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan. Ketujuh unsur
itulah yang membentuk budaya secara keseluruhan.
BAB III

PEMBAHASAN

Manfaat petugas kesehatan mempelajari unsur-unsur budaya dalam


perbaikan kesehatan adalah sebagai berikut :
a Dengan mempelajari organisasi masyarakat, maka petugas kesehatan
akan mengetahui organisasi apa saja yang ada di masyarakat,
kelompok mana yang berkuasa, kelompok mana yang menjadi panutan
dan tokoh mana yang disegani. Sehingga dapat dijadikan strategi
pendektan yang lebih tepat dalam upaya mengubah perilaku kesehatan
masyarakat
b Dapat mengetahui pola perilaku manusia dalam kehidupan
bermasyarakat secara universal maupun pola preilaku manusia pada
tiap tiap masyarakat, dengan mengetahui pola perilaku masyarakat
artinya kita sudah bisa menerka pola pikir masyarakat setempat yang
mana hal ini merupakan satu kunci pertama yang harus diketahui oleh
petugas kesehatan, dimana kalau kita sudah mengetahui unsur budaya
ataupun pola pikir dan tingkah laku maka dengan mudah kita bisa
menanam pengaruh dalam hal ini penyuluhan kesehatan terutama bagi
penyuluh gizi yakni dalam menangani masalah tabu dan mengetahui
bagaimana mengayomi atau memberlakukan masyarakat setempat
sehingga akan mempermudah proses penyuluhan ataupu sosialisasi
terhadap masyarakat.
c Dapat mengetahui kedudukan serta peran yang harus kita lakukan
sebagai petugas kesehatan sesuai dengan harapan warga masyarakat
dari kedudukan yang kita sandang, artinya dengan mempelajari ilmu
budaya atapun unsur unsur budaya maka secara langsung ataupun
tidak langsung akan tertanam dalam pikiran kita peran kita sebagai
petugas kesehatan, betapa dibutuhkan keberadaan kita dalam
menangani kesehatan masyarakat, sehingga penyuluhan atau perbaikan
kesehatan yang dilakukan sesui dengan harapan masyarakat.
d Dengan mempelajari unsur unsur budaya maka akan memperluas
wawasan kita, mengenai budaya suatu masyarakat. Budaya merupakan
satu pegangan, satu pedoman dan aturan yang diyakini kebenarannya
oleh masyarakat,sehingga kalau kita sudah mengetahui aturan ataupun
budaya dan menghormati budaya masyarakat maka masyarakat pun
akan menerima saran dari kita dengan penuh rasa hormat pula dan
akan menunjang, membantu serta mempermudah kita melakukan
penyuluha, sebab sudah keseimbangan saling menghormati antara
petugas kesehatan dengan masyarakat yang dilandasi dengan
pengetahuan petugas kesehatan dengan budaya setempat .
e Dapat mengetahui berbagi macam masalah atau problema dalam
masyarakat. Dengan mempelajari budaya seorang petugas kesehatan
akan mengetahui masalah yang sedang terjadi di masyarakat, sehingga
timbul dalam pikiran petugas kesehatan bagaimana cara unutk
menyelesaikan masalah tersebut misalnya masalah gizi masyarakat
tanpa melanggar aturan atau budaya masyarakat setempat,yakni
dengan melakukan pendekatan secara perlahan lahan dan
mempelajari budaya masyarakat,apakah masalah gizi tersebut timbul
karena adat atau budaya seprti pantangan atau tabu, jikalau betul
disebabkan oleh tabu, maka petugas kesehatan atau kader gizi bisa
memberikan penyuluhan atau nasihat dan gambaran kepada
masyarakat bahwa tabu itu menimbulkan dampak yang sangat buruk
bagi kesehatan.
f Didalam religi atau agama ada kepercayaan tertentu yang berkaitan
dengan kesehatan, gizi, dan lainnya contohnya orang yang beragama
islam tidak memakan babi, sehingga dalam rangka memperbaiki status
gizi seorang petugas kesehatan dapat menganjurkan makanan lainyang
bergizi yang tidak bertentangan dengan agamanya.
g Petugas kesehatan juga perlu mempelajari bahasa lokal agar lebih
mudah berkomunikasi, menambah rasa kedekatan, rasa kepemilikan
bersama dan rasa persaudaraan.
h Selain itu perlu juga mempelajari tentang kesenian dimasyarakat
setempat. Karena petugas kesehatan dapat memanfaatkan kesenian
yang ada dimasyarakat untuk menyampaikan pesan kesehatan
i Teknologi dan peralatan masyarakat setempat. Masyarakat akan lebih
mudah menerima pesan yang disampaikan petugas jika petugas
menggunakan teknologi dan peralatan yang dikenal masyarakat.
(Notoatmodjo,2007)
Ciri-ciri masyarakat yang mudah menerima perubahan antara lain :
Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota besar, sebab kota-
kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar. Oleh
karena itu cirri-ciri yang ada pada masyarakat kota lebih cenderung pada
cirri-ciri masyarakat yang mudah menerima perubahan, misalnya :
a Peka terhadap masalah dan menyadari bahwa masalah tersebut tidak
terlepas dari keberadaan dirinya
b Senantiasa menerima perubahan setelah memahami adanya
kelemahan-kelemahan kondisi yang rutin
c Terbuka bagi pengalaman-pengalaman baru (inovasi) disertai sikap
yang tidak apriori atau prasangka

d Ia sangat memahami akan potensi dirinya, dan potensi itu ia yakin


dapat dikembangkan

e Orientasi pada waktu yang bertumpu pada logika bahwa waktu lampau
adalah pengalaman, waktu sekarang adalah fakta, dan waktu
mendatang adalah harapan yang mesti diperjuangkan

f Setiap pendiriannya selalu dilengkapi dengan informasi yang akurat

g Ia senantiasa ingin terlibat dan peka terhadap suatu perencanaan.

BAB IV

PENUTUP

A Kesimpulan
1 Manfaat bagi petugas kesehatan mempelajari unsur-unsur
budaya dalam perbaikan kesehatan masyarakat sangat perlu
dilakukan karena sebagai langkah yang efektif dalam
menerapkan prinsip-prinsip kesehatan didalam lingkungan
masyarakat dan sebagai penunjang petugas kesehatan agar
memberikan hasil yang diharapkan masyarakat.
2 Ciri masyarakat yang mudah menerima perubahan baik sosial
maupun budaya antara lain masyarakat yang terbuka. Yang
mana masyarakat terbuka merupakan masyarakat yang mau dan
mudah menerima perubahan.

DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah. 2011. Manajemen pelayanan kesehatan. Nuha Medika. Yogyakarta.

Bakker, JWM. 1999. Filsafat Kebudayaan Sebuah Pengantar.


Yogyakarta: Kanisius.

Davis, Kingsley. 1960. Human Society The Macmillan Company.


New York.

Dewantara, Ki Hajar. 1994. Kebudayaan. Yogyakarta: Majelis


Luhur Persatuan Tamansiswa..
Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Nuha
Medika. Yogyakarta.

Notoatmodjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Karya


Medika. Jakarta

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:


Rajawali Pers