Anda di halaman 1dari 3

PROMOSI JABATAN WAKIL KEPALA SEKOLAH

SMA / SMK

I. LATAR BELAKANG
Bayak kalangan yang memahami bahwa
pengangkatan jabatan wakil kepala sekolah
merupakan hak prerogatif kepala sekolah. Dalam
hal ini seorang kepala sekolah mempunyai hak
penuh untuk memilih seorang tenaga pendidik
yang menurutnya dianggap bisa bekerjasama.
Keadaan seperti ini bisa saja menjadi sesuatu yang
bersifat subjektif yang pada giliranya bisa
menghambat karir bagi yang lainnya. Dengan
demikian perlu ada pencerahan tentang sistem
mengangkatan wakil kepala sekolah yang sesuai
perundang-undangan yang berlaku.
II. LANDASAN HUKUM
- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan
- Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19
Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Oleh
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

III. SISTEM PROMOSI JABATAN PEMBATU


KEPALA SEKOLAH TINGKAT MENENGAH
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permen
Diknas) Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2007
Tentang Standar pengelolaan pendidikan oleh
satuan pendidikan dasar dan menengah pada
bagian Kepemimpinan Sekolah ayat 4 dinyatakan
bahwa Kepala SMA/MA dibantu minimal tiga wakil
kepala sekolah/madrasah untuk bidang akademik,
sarana-prasarana, dan kesiswaan. Sedangkan
kepala SMK dibantu empat wakil kepala
sekolah untuk bidang akademik, sarana-
prasarana, kesiswaan, dan hubungan dunia
usaha dan dunia industri. Dalam hal tertentu
atau sekolah/madrasah yang masih dalam taraf
pengembangan, kepala sekolah/madrasah dapat
menugaskan guru untuk melaksanakan fungsi
wakil kepala sekolah/madrasah (Permendiknas N0
19 th 2007). Dan pada ayat 5 dinyatakan
bahwa Wakil kepala sekolah/madrasah dipilih
oleh dewan pendidik, dan proses
pengangkatan serta keputusannya,
dilaporkan secara tertulis oleh kepala
sekolah/madrasah kepada institusi di
atasnya. Dalam hal sekolah/madrasah swasta,
institusi dimaksud adalah penyelenggara
sekolah/madrasah (Permendiknas N0 19 th 2007).
Yang dimaksud dewan pendidik di atas adalah
semua tenaga pendidik (guru) yang bertugas di
satuan pendidikan, termasuk kepala sekolah.
Peraturan di atas dengan jelas menerangkan
tentang komposisi dan sistem pemilihan jabatan
wakil kepala sekolah. Dengan demikian maka
semakin jelas bahwa jabatan wakil kepala sekolah
dipilih oleh semua tenaga pendidik (guru),
bukan oleh seorang guru yang diberi tugas
tambahan sebagai kepala sekolah. Selama
tidak ada peratuan lain khususnya tentang
komposisi dan sistem pemilihan jabatan wakil
kepada sekolah maka Permen Diknas No. 19 tahun
2007 hendaknya dijadikan landasan agar tidak
menimbulkan polemik diantara warga sekolah.
Dalam hal jabatan wakil kepala sekolah dan
jabatan lainnya, kita bisa mengasumsikan bahwa
untuk hal-hal yang tidak diatur dalam peraturan
perundang-undangan, sekolah bisa merumuskan
peraturan atau kebijakan yang dipandang perlu
seperti; kriteria, masa jabatan, mekanisme
pencalonan dan pemilihan, sistem promosi dan
rotasi, dll selama tidak bertentangan dengan
perundang-undangan yang berlaku.