Anda di halaman 1dari 65

Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202

Kata Pengantar
Patut kita menaikkan syukur kepada Allah Tritungal yang telah
menuntun Gereja Toraja Mamasa dalam menggumuli Revisi Tata Dasar
dan Tata Rumah Tangga Gereja Toraja Mamasa. Revisi Tata Dasar dan Tata
Rumah Tangga GTM adalah salah satu mandat Sidang Majelis Sinode
Tahunan 2015 di Klasis Salumokanan, yang ditindaklanjuti dengan
membentuk Tim Revisi Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga Gereja Toraja
Mamasa. Tim Revisi inilah yang bekerja dengan sepenuh hati melakukan
revisi Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga GTM, untuk dibahas dan
dijadikan sebagai salah satu keputusan pada Sidang Majelis Sinode Am
XIX di Klasis Mamasa Kota, Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat yang
berlangsung dari tangga 19-26 Juli 2016, dengan Tema Tuhan
Mengangkat Kita Dari Samudera Raya (Mazmur 71:20b) dan Sub
Tema Bersama-sama Memelihara Keutuhan Gereja Toraja Mamasa,
Mensukseskan Program Sentralisasi, Menghadirkan Keadilan,
Menanggulangi Radikalisme dan Memelihara Lingkungan Hidup.
Melalui pembahasan yang serius dan masukan-masukan dari peserta
Sidang Sinode Am ke XIX konsep Revisi Tata Dasar dan Tata Rumah
Tangga Gereja Toraja Mamasa diterima sebagai salah satu Keputusan
Sidang Majelis Sinode Am. Melalui kerja maksimal Tim Tata Dasar dan
Tata Rumah Tangga Gereja Toraja Mamasa dapat disempurnakan.
Inilah hasil akhir dari Tim Revisi yang kita sebut Tata Dasar dan
Rumah Tangga Gereja Toraja Mamasa. Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga
Gereja Toraja Mamasa adalah salah satu bagian dari sistem penataan
organisasi GTM yang menganut sistem Presbyterial Sinodal.
Terima kasih disampaikan kepada:
1. Tim Revisi Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga Gereja Toraja
Mamasa, yaitu : Pnt. Rustam Timbonga, SH, Pnt. Debora Tasik,
S.Pd.MH, Pnt. Pelipus Palullungan, S.Sos, Pnt. Robinson, S.Pd, Pdt.
Hengky Gunawan,S.Th.M.Min, Pdt.Aleksander Thomas, M.Th, Pdt.
Erwin Marrabang, S.Th, Pdt. Debora Tiku Ampulembang, M.Th, Pnt.
[1]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
Aristarchus Palumean, S.Pak, Pnt. Agustinus Buntu Mamadika, MH,
dan Pdt. Demianus, M.Th.
2. Peserta Sidang Majelis Sinode Am ke XIX tahun 2016 yang telah
menggumuli dan memberi masukan untuk penyempurnaan Tata
Dasar dan Tata Rumah Tangga Gereja Toraja Mamasa.
Dengan tersedianya buku Tata Dasar dan Rumah Tangga Gereja
Toraja Mamasa, diharapkan semua majelis gereja (Pendeta, Penatua,
Syamas dan Pengurus Kategorial) mempelajari, memahami dan
menjadikan Tata Dasar dan Rumah Tangga Gereja Toraja Mamasa menjadi
Buku ke dua setelah Alkitab sebagai sumber penataan pelayanan Gereja
Toraja Mamasa (lingkup Jemaat, Klasis dan Sinode GTM). Tuhan Yesus
memberkati buku Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga ini agar berguna
dalam pelayanan GTM demi kemuliaan Allah Tritunggal, Amin

Mamasa Minggu Kedua Agustus Menjelang Hari Ulang Tahun


Kemerdekaan Republik Indonesia
Badan Pekerja Majelis Sinode GTM
Periode 2016-2021

Pdt. Hengky Gunawan, S.Th. M.Min Pdt. Yusuf Arta, M.Th


Ketua Umum Sekretaris Umum

[2]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202

LAMPIRAN KEPUTUSAN
SIDANG MAJELIS SINODE AM XIX GEREJA TORAJA MAMASA
NOMOR: 08/KEP/SMSA-XIX/GTM/2016
TENTANG
TATA DASAR DAN TATA RUMAH TANGGA GTM

PEMBUKAAN
Gereja adalah ciptaan Allah Tritunggal dalam rangka mewujudkan
kehendak-Nya sebagaimana telah dinyatakan secara sempurna melalui
Yesus Kristus. Sebagai ciptaan Allah Tritunggal, gereja merupakan
persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus yang dipanggil
dari segala suku, bangsa, kaum dan bahasa (Luk. 24:47, Why. 7:9; Ef. 2:11-
20; I Pet.2:9-10.) dengan karunia yang berbeda-beda dan telah
menyatakan kesiapan untuk turut mengambil bagian dalam karya
penyelamatan Allah di dunia dan bagi dunia (Ibr. 2:4).
Gereja dipanggil dan diutus oleh Allah menjadi kesaksian bahwa
Kerajaan Allah telah berlaku, untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan
Allah dan menyatakan kemurahan Allah kepada umat manusia serta
seluruh ciptaan untuk memuji dan memuliakan Allah.
Dalam arak-arakan bersama dengan segala orang percaya
memenuhi panggilan Allah, Tuhan memanggil dan memberi karunia-
karunia khusus kepada hamba-Nya untuk memperlengkapi umat Allah
dalam mewujudkan misi Allah (Yoh. 17:21, Ef. 4:11-12).
Salah satu wujud gereja sebagai ciptaan Allah Tritunggal adalah
terbentuknya persekutuan-persekutuan orang percaya setempat di
wilayah Toraja Mamasa yang merupakan buah karya Roh Kudus melalui
orang-orang percaya dalam wadah Indishe Kerk dan CGK melalui ZCGK
(Zending van Christelijke Gereformeerde Kerken) yang telah melakukan
penginjilan di wilayah Toraja Mamasa. Kemudian pada tanggal 7 Juni
1947, orang-orang percaya di wilayah Toraja Mamasa dan sekitarnya
[3]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
mempersekutukan diri dalam satu wadah yang disebut Gereja Toraja
Mamasa yang berpusat di Mamasa untuk mengemban misi Allah sampai
ke ujung bumi.
Dalam rangka penataan pelayanan, Gereja Toraja Mamasa
memperlengkapi diri dengan jabatan gerejawi berdasarkan karunia-
karunia khusus serta menerapkan sistem pemerintahan gereja
Presbiterial- Sinodal.
Demi kelancaran dan ketertiban dalam pelaksanaan tugas
panggilan sebagai gereja, maka berdasarkan Alkitab dan Pengakuan Iman
disusunlah Tata Dasar, Tata Rumah Tangga dan Tata Laksana Gereja
Toraja Mamasa.

TATA DASAR GEREJA TORAJA MAMASA


BAB I
HAKIKAT DAN WUJUD
Pasal 1
(1) Hakikat Gereja Toraja Mamasa adalah bahagian dari Gereja Kristen
yang Kudus, Am, dan Rasuli yang dibentuk atas kehendak Allah.
(2) Wujud Gereja Toraja Mamasa adalah persekutuan yang kelihatan
berupa Jemaat, Klasis dan Sinode.
BAB II
NAMA, WAKTU, LAMBANG, MARS, DAN TUJUAN
Pasal 2
Nama, Waktu, Lambang dan Mars
(1) Nama, adalah Gereja Toraja Mamasa yang disingkat GTM;
(2) Gereja Toraja Mamasa (GTM) melembaga sebagai sebuah lembaga
keagamaan dan diakui sebagai badan hukum yang ditetapkan dalam
Sinode I di Minake pada tanggal 7 Juni 1947, dengan batas waktu yang
tidak ditentukan;

[4]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(3) Lambang Gereja Toraja Mamasa adalah Alkitab terbuka yang di
dalamnya tertulis -, dilingkari sebuah bingkai dengan tulisan
Gereja Toraja Mamasa dan tanda salib.
(4) Mars Gereja Toraja Mamasa adalah lagu Mars Gereja Toraja Mamasa.
Pasal 3
TUJUAN
Gereja Toraja Mamasa bertujuan untuk berperan serta dalam
mewujudkan kehendak dan karya penyelamatan Allah di dalam dunia.

BAB III
PENGAKUAN IMAN DAN DASAR AJARAN
Pasal 4
(1) Gereja Toraja Mamasa mengaku dan percaya pada Allah Tritunggal,
yaitu: Allah Bapa Sang Pencipta, Yesus Kristus Sang Penyelamat, dan
Roh Kudus Sang Penghibur dan Pembaharu.
(2) Pengakuan iman dan ajaran Gereja Toraja Mamasa berdasarkan
Firman Allah sesuai kesaksian Alkitab, yaitu: Perjanjian Lama (PL) dan
Perjanjian Baru (PB).
(3) Sebagai penjabaran pengakuan iman dan dasar ajaran tersebut, Gereja
Toraja Mamasa berpegang pada Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan
Nicea Constantinopel, Pengakuan Atanasius dan Pemahaman
Bersama Iman Kristen Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.
(4) Untuk menerapkan pengakuan iman dan dasar ajaran dalam
kehidupan bergereja berdasarkan Alkitab, disusunlah pengajaran
Gereja Toraja Mamasa dengan menggunakan dokumen-dokumen
tertulis yang sesuai dengan ajaran Calvinis.
BAB IV
PANGGILAN
Pasal 5
(1) Sebagai bagian dari Gereja Kudus, Am dan Rasuli yang diciptakan
demi misi Allah di bumi, maka GTM mengemban tugas Tri Panggilan

[5]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
Gereja: bersaksi, bersekutu dan melayani yang diwujudkan sebagai
berikut:
a. Memperlengkapi dan menggerakkan warganya menjadi umat yang
berbakti bagi Allah dalam persekutuan dengan Kristus (Mat 18:20,
Ef 4 : 3-6).
b. Memperlengkapi dan menggerakkan warganya menjadi kawan
sekerja Allah demi merangkul segala bangsa melakukan apa yang
dikehendaki Allah (Mat. 28:19-20) sehingga menjadi manusia baru
yang layak bagi kehendak dan rencana Allah.
c. Memperlengkapi dan menggerakkan warganya menjadi umat Allah
yang hidupnya menghadirkan damai sejahtera bagi segala makhluk
(Mrk 16:15) dan mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dengan
mengupayakan terwujudnya kesejahteraan hidup umat manusia,
perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaan.
d. Memprakarsai terwujudnya masyarakat yang adil, damai sejahtera,
dan berkeadaban bersama-sama dengan semua pihak.
(2) Tugas panggilan seperti tersebut pada ayat 1 (a, b, c dan d) dijabarkan
dalam Tata Rumah Tangga
BAB V
KELEMBAGAAN DAN KEWENANGAN
Pasal 6.A
(1) Secara kelembagaan, Gereja Toraja Mamasa adalah sebuah sinode
yang terdiri atas Klasis dan Jemaat.
(2) Pada semua lingkup ditetapkan Majelis Pertimbangan, Badan
Pengawas Perbendaharaan, Badan Pekerja Majelis dan Pengurus
Kategorial.
(3) Dalam melaksanakan fungsi kelembagaan, Gereja Toraja Mamasa
memiliki organisasi kategorial yang terintegrasi di semua lingkup
kelembagaan. Ketua organisasi kategorial pada semua lingkup
menjadi anggota Badan Pekerja Majelis.
(4) Organisasi kategorial sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2),
yaitu: Persekutuan Anak dan Remaja (PAR), Persekutuan Perempuan

[6]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
Gereja Toraja Mamasa (PPr GTM), Persekutuan Pemuda Gereja
Toraja Mamasa (PP GTM) dan Persekutuan Kaum Bapak (PKB GTM).
(5) Dalam menata kelembagaan dan kepemimpinannya, organisasi
kategorial mengacu kepada Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga
Gereja Toraja Mamasa yang dijabarkan dalam bentuk pedoman
pelayanan.
Pasal 6.B
(1) Pejabat yang mempunyai kewenangan bertindak keluar dan ke
dalam mewakili GTM adalah Ketua Umum dan Sekretaris Umum
Sinode GTM.
(2) Dalam menjalankan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud
ayat (1) tersebut, ketua umum dan sekretaris umum dapat
melimpahkan kewenangan tersebut kepada Ketua dan Sekretaris
BPMK atau Ketua dan Sekretaris BPMJ atau kepada pihak lain
berdasarkan kuasa yang sah.
(3) Untuk memberi pertimbangan dan untuk mengawasi
perbendaharaan pada setiap lingkup, dibentuk Majelis Pertimbangan
disingkat MP dan Badan Pengawas Perbendaharaan disingkat BPP.

BAB VI
JABATAN GEREJAWI
Pasal 7
(1) Jabatan gerejawi adalah fungsi berdasarkan karunia khusus dari
Yesus Kristus Kepala Gereja, melalui Roh Kudus yang menuntun dan
memperlengkapi umat Allah menjadi pelaku misi Allah (Ef. 4:11)
sebagai perwujudan pemerintahan Kristus atas Gereja-Nya (Ef. 4:15;
Kol. 1:18; Wah. 7:17).
(2) Sesuai kebutuhan pelayanan dalam Gereja Toraja Mamasa, maka
ditetapkan 3 jenis jabatan Gerejawi, yakni: pendeta, penatua dan
syamas.
(3) Uraian tentang penetapan dan fungsi masing-masing jabatan
dijabarkan dalam Tata Rumah Tangga.

[7]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
BAB VII
JENIS DAN SISTEM KEANGGOTAAN
Pasal 8
JENIS KEANGGOTAAN
(1) Anggota calon baptis.
(2) Anggota baptis.
(3) Anggota sidi.
(4) Anggota simpatisan.
Pasal 9
SISTEM KEANGGOTAAN
(1) Keanggotaan Gereja Toraja Mamasa menganut sistem terbuka.
(2) Syarat-syarat keanggotaan Gereja Toraja Mamasa diatur dalam Tata
Rumah Tangga.
BAB VIII
KEPEMIMPINAN
Pasal 10
(1) Kepemimpinan Gereja Toraja Mamasa diemban oleh majelis dalam
semua lingkup Sinode, Klasis dan Jemaat.
(2) Dalam menjalankan fungsi dan tugas kepemimpinan maka
dibentuklah Badan Pekerja Majelis di semua lingkup pelayanan
Sinode, Klasis dan Jemaat, yang terdiri dari:
a. Pada lingkup Sinode terdiri atas Badan Pekerja Majelis Sinode
disingkat BPMS, dan Pengurus Kategorial, yaitu: PPr GTM, PP GTM
dan PKB GTM.
b. Pada lingkup Klasis terdiri Badan Pekerja Majelis Klasis disingkat
BPMK dan Pengurus Kategorial, yaitu: PPr GTM, PP GTM dan PKB
GTM.
c. Pada lingkup Jemaat terdiri atas Badan Pekerja Majelis Jemaat
disingkat BPMJ dan Pengurus Kategorial, yaitu: PPr GTM, PP GTM
dan PKB GTM.

[8]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
BAB IX
PERBENDAHARAAN DAN PEMBIAYAAN
Pasal 11
(1) Perbendaharaan Gereja Toraja Mamasa adalah seluruh bentuk
kekayaan yang menjadi milik persekutuan serta badan-badan
kelembagaan Gereja Toraja Mamasa.
(2) Pembiayaan Gereja Toraja Mamasa bersumber dari persembahan dan
usahausaha yang sah dan tidak mengikat.
(3) Penjabaran perbendaharaan serta pengelolaan pembiayaan Gereja
Toraja Mamasa diatur dalam Tata Rumah Tangga dan Tata laksana
Perbendaharaan.
BAB X
VISITASI DAN VERIFIKASI
Pasal 12
(1) Visitasi adalah kunjungan kelembagaan ke jemaat- jemaat.
(2) Verifikasi adalah kunjungan BPMK ke jemaat-jemaat dalam rangka
supervisi administrasi dan penyelenggaraan pelayanan di masing-
masing jemaat.
BAB XI
ATURAN PERUBAHAN
Pasal 13
PERUBAHAN
(1) Perubahan Tata Dasar ini dapat diusulkan:
a. 2/3 Anggota Majelis Sinode.
b. BPMS GTM.
(2) Perubahan Tata Dasar hanya dapat dilakukan jika:
a. Persidangan dihadiri 2/3 anggota Majelis Sinode.
b. Keputusan dapat diambil jika disetujui setengah tambah satu
anggota Majelis Sinode yang hadir.

BAB XII
[9]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 14
(1) Tata Dasar berlaku sejak ditetapkan.
(2) Dengan berlakunya Tata Dasar ini, maka Peraturan Dasar sebelumnya
dinyatakan tidak berlaku lagi.
(3) Hal-hal yang belum diatur dalam Tata Dasar ini akan diatur dalam Tata
Rumah Tangga dan Tata Laksana.

PENJELASAN PEMBUKAAN
Pembukaan berisikan rangkuman pemahaman dasar tentang hakikat,
wujud dan panggilan Gereja sebagai konsep dasar eklesiologi yang
melandasi keberadaan Gereja secara umum dan GTM secara khusus.
Pendekatan teologis diarahkan pada Trinitaris, berarti tidak hanya
fokus pada karya penyelamatan Allah tetapi kehendak dan rencana Allah
yang utuh dan menyeluruh. Keberadaan Gereja dipahami dalam kerangka
kehendak dan rencana Allah yang menyeluruh tersebut, walaupun puncak
karya penyelamatan ada dalam Yesus Kristus.
Yang dimaksud kehendak-Nya ialah Allah mempunyai kuasa yang
luar biasa dan rencana yang baik untuk manusia dan alam semesta.
ZCGK adalah singkatan dari Zending Van Christelijke Gerefoormeerde
Kerken merupakan badan zending CGK. CGK adalah singkatan Christelijke
Gerefoormeerde Kerken. Sebelum ZCGK melakukan pekabaran injil di
Mamasa dan sekitarnya dilakukan Indishe Kerk atau GPI Gereja Protestan
Indonesia. GPI melakukan PI di Mamasa tahun 1913 sampai 1928 dan
dilanjutkan oleh ZCGK mulai 1928. Presbyterial-Synodal adalah sistem
pemerintahan gereja. GTM dalam melaksanakan tugas panggilannya
menganut sistem Presbiterial Sinodal yang merupakan penggabungkan
dari sistem presbiterial dan sinodal.
Presbiterial berasal dari kata presbyter (Yunani), atau zaqen (Ibrani)
yang berarti Pinisepuh (Jawa), Sesepuh (Sunda), Ketua (Indonesia). Sistem
Presbiterial, di mana gereja dipimpin oleh para presbiter (Penatua).

[10]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
Keputusan tertinggi ada pada persidangan presbiter (Majelis Jemaat).
Sistem Sinodal, kata sinodal berasal dari kata Yunani sunhodos. Akar
katanya terdapat dalam Alkitab, yaitu sunodeuo (Kis. 9:7) dan sunodia
(Luk. 2:44) yang berarti seperjalanan. Sinode berarti berjalan bersama,
seperjalanan, berpikir bersama, bertindak bersama. Sistim Presbiterial di
mana gereja dipimpin oleh persidangan para pejabat gerejawi yang
disebut sinode. Persidangan sinode ini merupakan instansi tertinggi yang
keputusannya harus dilaksanakan oleh jemaat-jemaat yang tergabung
dalam sinode tersebut.

Ciri dari sistem Presbiterial-Sinodal adalah:


1. Gereja dipimpin oleh pejabat-pejabat gerejawi; yang secara
kolektif disebut Majelis Jemaat. Pejabat-pejabat gerejawi ini bukanlah
wakil-wakil dari jemaat melainkan orang yang memegang jabatan itu
atas nama Tuhan Yesus Kristus dan berhadapan dengan jemaat. Setiap
anggota Majelis Jemaat mempunyai kedudukan yang sama; tidak ada
seorang pun yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Masing-
masing mempunyai tugasnya sendiri.
2. Ciri utama dari sistem ini ialah kepenuhan dalam kesatuan. Tiap-tiap
jemaat yang dipimpin oleh Majelis Jemaat mempunyai kemandirian
penuh; tetapi pada saat yang sama tiap-tiap jemaat yang ada berada
dalam kesatuan dengan jemaat-jemaat lain dalam satu sinode sebagai
wujud nyata berjalan bersama para presbiter dalam memimpin gereja
yang Tuhan percayakan kepada mereka. Hal ini mempunyai implikasi
positif sebagai berikut: Jemaat mempunyai otonomi (kemandirian
penuh) tetapi terbatas; yang membatasinya ialah Sinode. Sebaliknya
Sinode mempunyai kekuasaan tetapi terbatas; yang membatasinya
ialah jemaat-jemaat. Dalam sistem Presbiterial-Sinodal semua
keputusan yang diambil berdasarkan kesepakatan bersama bukan
berdasarkan wewenang yang ada pada salah satu pihak.
3. Dalam sistem ini terdapat dua garis timbal balik antara Jemaat-Klasis-
Sinode Am; tetapi juga antara Sinode Am-Klasis-Jemaat. Hubungan
yang ada bukanlah yang bersifat hierarkies (dari atas ke bawah)
[11]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
melainkan lebih bersifat mengarah kepada kesatuan sebagai keluarga
besar. Kekuasaan tertinggi ada pada persidangan-persidangan pejabat
gerejawi, baik di tingkat jemaat, klasis dan sinode am. Persidangan yang
satu tidak boleh menguasai/memerintah persidangan yang lain;
4. Sebagaimana pejabat gerejawi yang satu tidak boleh
menguasai/memerintah pejabat gerejawi yang lain Dengan demikian
sistem ini mengharuskan banyaknya terjadi dialog dan komunikasi
yang intensif antara pengambil keputusan.
Yang dimaksud Tata Laksana adalah penjabaran dari Tata Dasar dan
Tata Rumah Tangga yang berisi petunjuk pelaksaanaan dan teknis.

PENJELASAN PASAL DEMI PASAL


BAB I
Pasal 1
1. Sebagai bagian dari Gereja yang hakikatnya satu yaitu persekutuan
orang percaya pada segala abad dan tempat, maka dengan sendirinya
Gereja Toraja Mamasa juga hakikatnya adalah satu persekutuan.
2. Karena kondisi lingkungan dan demi memudahkan koordinasi
pelayanannya, maka GTM yang satu itu diwujudkan dalam bentuk
jemaat, klasis dan sinode.
3. Jemaat adalah persekutuan warga gereja di satu tempat sebagai wujud
gereja yang kelihatan.
4. Klasis adalah persekutuan orang percaya melalui jemaat-jemaat yang
berdekatan pada satu wilayah tertentu.
5. Sinode adalah persekutuan orang percaya melalui jemaat-jemaat dan
klasis-klasis se-Gereja Toraja Mamasa.
6. Dalam pemahaman seperti ini maka keberadaan setiap Jemaat dan
Klasis harus mencerminkan kebersamaan dalam kesatuan yang
menyeluruh, walaupun diberi kewenangan mengimplementasikan
dirinya sesuai kondisi lingkungan masing-masing.

[12]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
BAB II
Pasal 2
1. Tentang Nama jelas.
2. Jauh sebelum 7 Juni 1947 telah ada Jemaat-jemaat tapi masih dalam
status daerah penginjilan. Sejak 7 Juni 1947 diadakan satu
musyawarah bersama dan sepakat membentuk diri dalam satu
kesatuan yang disebut Sinode. Pembentukan diri dalam satu Sinode
adalah sebuah proses peralihan dari status daerah Penginjilan
menjadi Gereja yang sudah siap mengemban tanggung jawab
pelayanan sendiri. Selanjutnya, agar memiliki status hukum yang jelas
dalam Negara, maka melalui Departemen Agama RI GTM terdaftar
sebagai salah satu Lembaga Agama di Indonesia, dan melalui
Departemen Dalam Negeri RI menjadi Lembaga yang punya Hak Milik.
Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Dirjen Bimas (Kristen)
Protestan Departemen Agama RI No. 27 Tahun 1972, No. 140 Tahun
1988 dan Hak Milik berdasarkan SK. Mendagri No. 305 Tahun 1987,
yang berpusat di Mamasa untuk jangka waktu yang tak terbatas.
3. Tentang Lambang, sebenarnya merupakan penyempurnaan dari apa
yang selama ini telah digunakan sebagai stempel resmi Gereja Toraja
Mamasa.
4. Tanda 2 (dua) salib adalah merupakan satu kesatuan dan hanya
diperuntukkan untuk keseimbangan dan tidak bermakna ada 2 (dua)
buah tanda salib yang masing-masing punya makna.
5. Mars GTM ditetapkan di Sidang Majelis Sinode Am XIX Gereja Toraja
Mamasa, di Mamasa, tanggal 24 Juli 2016. Mars yang dimaksud adalah
lagu Mars Gereja Toraja Mamasa ciptaan Pdt. Deppatola Pawa, S. Th.,
MM.
Pasal 3- Cukup jelas
BAB III
Pasal 4
1. Karena sampai saat ini belum ada rumusan khusus tentang Pengakuan
Iman dan Pengajaran GTM, maka sebagai patokan dasar,

[13]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
dirumuskanlah inti pengakuan yang didasarkan atas Firman Allah
dalam Alkitab.
2. Sebelum Pengakuan Iman GTM dirumuskan, maka penjabaran
Pengakuan Iman dalam praktek hidup bergereja, GTM mengacu pada
Pengakuan yang diterima secara umum Gereja-gereja se Dunia,
pengakuan yang diterima oleh Gereja-gereja Reform se-dunia, dan
pemahaman iman yang diterima oleh Persekutuan Gereja-gereja di
Indonesia.
3. Untuk merumuskan pengajaran berdasarkan Alkitab dan Pengakuan
Iman, GTM menggunakan warisan teologi Calvinis. Warisan teologi
Calvin yang dimaksudkan adalah:
a. Doktrin kedaulatan, kasih dan kemuliaan Allah
b. Penekanan pada sentralitas pemberitaan Firman dan pelayanan
Sakramen
c. Gereja tertata dalam presbiterial-sinodal dan jabatan gereja
d. Penerapan disiplin (siasat) gereja
e. Hubungan gereja dan negara adalah setara dalam kemitraan
f. Gereja mengedepankan diakonia dengan pemahaman: Air mata
orang miskin adalah juga air mata Allah; dalam luka-luka
kemiskinan manusia, Allah turut terluka; pengungsi adalah sesama
manusia yang wajib dikasihi seperti diri sendiri.
g. Kemuliaan hanya bagi Allah (Soli Deo Gloria) (Bdk. Luk. 2:14).

BAB IV
Pasal 5
1. Sebagai Lembaga Gereja, GTM memahami Panggilannya yang bersisi
ganda, yaitu:
a. Ke dalam, berarti memperlengkapi dan memberdayakan warganya
untuk menjadi pelaku misi Allah.
b. Ke luar, berarti memprakarsai upaya perwujudan damai sejahtera
sesuai kehendak Allah di muka bumi.
2. Keberadaan Gereja sangat tergantung pada penghayatan mengenai
hakikat, wujud dan panggilannya yang terkandung dalam pengakuan
[14]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
iman dan pengajaran yang dipegang teguh. Itu berarti bahwa hal
menyangkut pendalaman pemahaman Pengakuan Iman dan
pengajaran merupakan kebutuhan hakiki dalam kehidupan bergereja.
Oleh karena itu, fungsi pelaksana pengajaran Gereja sangat penting.

BAB V
Pasal 6.A
Tugas dari alat-alat kelengkapan kelembagaan GTM seperti MPS dan BPPS
pada lingkup Sinode, Klasis dan Jemaat adalah sebagai berikut:
1. Tugas Majelis Pertimbangan (MP) adalah:
a. Memberikan masukan dan pertimbangan, diminta atau tidak, kepada
Badan Pekerja Majelis, Badan Pengawas Perbendaharaan dan
Pegurus Kategorial pada lingkupnya masing-masing.
b. Menjadi penasihat dalam persidangan gerejawi pada lingkupnya
masing-masing.
2. Tugas-tugas Badan Pengawas Perbendaharaan (BPP):
a. Badan Pengawas Perbendaharaan Sinode (BPPS) melakukan:
a.1. pengawasan, pengendalian, pemeriksaan dan pembinaan atas
seluruh kekayaan gereja pada lingkup sinode;
a.2. pengawasan, pengendalian, pemeriksaan dan pembinaan atas
kekayaan organisasi kategorial pada lingkup sinode;
a.3. pembinaan mengenai pengelolaan keuangan kepada Bendahara
Klasis dan BPP Klasis.
b. Badan Pengawas Perbendaharaan Klasis (BPPK) melakukan:
b.1. pengawasan, pengendalian, pemeriksaan dan pembinaan atas
seluruh kekayaan gereja pada lingkup klasis;
b.2. pengawasan, pengendalian, pemeriksaan dan pembinaan atas
kekayaan organisasi kategorial pada lingkup klasis;
b.3. pembinaan mengenai pengelolaan keuangan kepada Bendahara
Jemaat dan BPP Jemaat.
c. Badan Pengawas Perbendaharaan Jemaat (BPPJ) melakukan:

[15]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
c.1. pengawasan dan pemeriksaan atas seluruh kekayaan gereja pada
lingkup jemaat;
c.2. pengawasan, pengendalian, pemeriksaan atas kekayaan
organisasi kategorial pada lingkup jemaat.
3. Yang dimaksud dengan terintegrasi adalah semua organisasi kategorial
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan lembaga GTM di
semua lingkup. Karena ketua organisasi kategorial dilantik dalam
ibadah dan persidangan gerejawi sehingga memiliki kewibawaan
gerejawi untuk menjadi bagian dari Badan Pekerja Majelis pada semua
lingkup.
4. Yang dimaksud dengan kekayaan gereja pada lingkup masing-masing
termasuk dana-dana yang dikelola oleh kepanitiaan-kepanitiaan.

Pasal 6.A
Yang dimaksud dengan:
a. Persekutuan Anak dan Remaja (PAR GTM) adalah wadah pelayanan
khusus bagi warga gereja kategori anak dan remaja. Karena anak dan
remaja tidak bisa mengorganisir dirinya sendiri sehingga PAR GTM
ditangani oleh Bidang PWG di semua lingkup.
b. Persekutuan Perempuan Gereja Toraja Mamasa (PPr GTM) adalah
wadah pelayanan khusus bagi warga gereja kategori perempuan.
c. Persekutuan Pemuda Gereja Toraja Mamasa (PP GTM) adalah wadah
pelayanan khusus bagi warga gereja kategori pemuda.
d. Persekutuan Kaum Bapak (PKB GTM) adalah wadah pelayanan
khusus bagi warga gereja kategori kaum bapak.

BAB VI
Pasal 7- Cukup jelas

[16]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
BAB VII
Pasal 8

Yang dimaksud dengan anggota simpatisan adalah anggota gereja yang


terdaftar secara aktif dalam satu jemaat tertentu, namun simpati dan aktif
dalam seluruh kegiatan dalam satu jemaat GTM sehingga mendapat
pelayanan dari Majelis Jemaat GTM atas permintaan yang bersangkutan
namun tidak didaftarkan sebagai anggota tetap GTM.
Pasal 9- Cukup jelas
BAB VIII
Pasal 10- Cukup jelas
BAB IX
Pasal 11- Cukup jelas
BAB X
Pasal 12- Cukup jelas
BAB XI
Pasal 13- Cukup jelas
BAB XII
Pasal 14- Cukup jelas

[17]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202

TATA RUMAH TANGGA


GEREJA TORAJA MAMASA

BAB I
MAKNA LAMBANG
Pasal 1
(1) Alkitab terbuka yang di dalamnya tertulis mengartikan bahwa
Gereja Toraja Mamasa mendasarkan diri dan pelayanannya atas
Firman Allah yang bersifat utuh dan menyeluruh dalam Perjanjian
Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB).
(2) Di dalam bingkai terdapat tulisan Gereja Toraja Mamasa dan tanda
salib menyatakan bahwa dalam rangka penerapan misinya, Gereja
Toraja Mamasa selalu menempatkan diri dan seluruh aktivitasnya
dalam bingkai kasih Allah bagi dunia dan manusia.

BAB II
PENYELENGGARAAN TUGAS PANGGILAN
Pasal 2
KEBAKTIAN
(1) Kebaktian Gereja Toraja Mamasa dilaksanakan dalam 3 (tiga) bentuk,
yakni:
a. Kebaktian jemaat, adalah kebaktian sebagai penyelenggaraan
persekutuan yang direncanakan dan diatur oleh jemaat.
b. Kebaktian keluarga adalah kebaktian yang dilakukan secara
spontan oleh anggota jemaat atas dorongan kesadaran pribadi.
c. Kebaktian persekutuan kategorial adalah kebaktian yang dilakukan
di masing-masing organisasi kategorial.
(2) Kebaktian jemaat dibagi atas 5 jenis yakni :
a. Kebaktian hari Minggu
b. Kebaktian hari raya gerejawi.

[18]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
c. Kebaktian anak dan remaja.
d. Kebaktian rumah tangga
e. Kebaktian khusus yaitu kebaktian yang dilakukan dalam rangka
pelaksanaan suatu kegiatan khusus yang tidak sempat
dirangkaikan dengan kebaktian Minggu, hari raya gerejawi dan
rumah tangga, seperti:
e.1. Kebaktian dalam rangka pelayanan Sakramen dan Peneguhan.
e.2. Kebaktian pentahbisan gereja
e.3.Kebaktian peletakan batu pertama gereja
e.4.Kebaktian pendewasaan/peresmian jemaat.
e.5.Kebaktian pengurapan pendeta dan emiritasi pendeta.
e.6. Kebaktian pengucapan syukur.
e.7. Kebaktian dalam rangka persidangan gerejawi.
e.8. Kebaktian dalam rangka hari raya khusus gerejawi, antara lain:
hari Ulang Tahun GTM (7 Juni), hari Reformasi (31 Oktober)
dan hari Ulang Tahun Jemaat.
e.9. Kebaktian penguburan/penghiburan.
e.10. Kebaktian dalam rangka pembinaan warga secara umum
maupun kategorial.
e.11.Kebaktian dalam rangka kegiatan oikumenis.
(3) Kebaktian Minggu dan rumah tangga, bersifat rutin menggunakan
liturgi tetap.
(4) Kebaktian khusus bersifat insidentil, sehingga menggunakan liturgi
sesuai kebutuhan.
(5) Nyanyian dalam kebaktian menggunakan buku-buku nyanyian
terbitan Yamuger, seperti: Mazmur & Nyanyian Rohani, Mazmur-
Kidung Jemaat, Kidung Jemaat (KJ), Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ),
Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB).
(6) Pelayan yang memimpin kebaktian Jemaat di tetapkan oleh Majelis
Jemaat
(7) Pemahaman tentang hakikat kebaktian dan petunjuk pelaksanaannya
dirumuskan dalam liturgi dan formulir.
(8) Pelaksanaan kebaktian keluarga dilaksanakan sesuai kebutuhan.
[19]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(9) Pelaksanaan kebaktian persekutuan organisasi kategorial
dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan masing
organisasi.
Pasal 3
HARI RAYA GEREJAWI
(1) Hari raya gerejawi adalah hari peringatan terhadap peristiwa karya
penyelamatan Allah dalam Kristus.
(2) Hari raya gerejawi tersebut adalah:
a. Adven dan Natal
a.1. 4 (Empat) Minggu, persiapan menyongsong Natal adalah
Minggu Adven.
a.2. Tanggal 25 Desember adalah peringatan kelahiran Yesus
Kristus.
a.3. Tanggal 26 Desember sampai dengan hari-hari sebelum
Epifania adalah syukuran perayaan Natal
b. Minggu Sengsara dan Paskah
b.1. 7(Tujuh) Minggu sebelum Paskah adalah Minggu Sengsara.
b.2. Jumat Agung adalah memperingati Kematian Yesus.
b.3. Minggu Kebangkitan sebagai pusat perayaan Paskah.
b.4. 6 (Enam) Minggu sesudah Kebangkitan sebagai pengucapan
syukur Paskah.
c. Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga, memperingati pemuliaan-Nya.
d. Hari raya Pentakosta adalah 50 hari sesudah Kebangkitan
memperingati hari keturunan Roh Kudus sebagai hari lahirnya
Gereja.
(3) Pelaksanaan perayaan hari raya gerejawi, dapat disertai dengan
berbagai kegiatan perayaan yang sesuai dengan makna masing-
masing hari raya tersebut.
Pasal 4
HARI RAYA KHUSUS GEREJAWI
Hari raya khusus gerejawi adalah hari raya berdasarkan kesepakatan
secara oikumenis untuk memperingati:

[20]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(1) Tahun Baru dirayakan setiap tanggal 1 Januari.
(2) Hari Reformasi dirayakan setiap 31 Oktober
(3) Hari-hari khusus yang dirayakan berdasarkan kesepakatan oikumenis
se Indonesia, se Asia dan se Dunia.
(4) Hari-hari khusus yang dirayakan berdasarkan ketetapan dalam
lingkup GTM.
(5) Akhir Tahun dirayakan setiap 31 Desember.

Pasal 5
PENGGEMBALAAN
(1) Penggembalaan adalah pelayanan terhadap warga dalam bentuk
dorongan, bimbingan dan arahan agar warga diperlengkapi dan
dikuatkan dalam memenuhi panggilannya.
(2) Penggembalaan dilaksanakan dalam 2 cara yakni:
a. Secara rutin dan terencana.
b. Secara spontan sesuai kebutuhan
(3) Penggembalaan dilakukan kepada warga secara pribadi, kepada satu
rumah tangga, kepada satu kelompok, kepada satu kategori, atau
kepada warga secara umum.

Pasal 6
SAKRAMEN BAPTISAN KUDUS DAN PERJAMUAN KUDUS
(1) Baptisan Kudus
a. Baptisan Kudus adalah tanda persekutuan dengan Allah Tritunggal
sehingga ditetapkan menjadi Sakramen sesuai Perintah Tuhan
Yesus (Mat. 28:19).
b. Baptisan kudus dilakukan kepada seseorang yang telah dijamin sah
menjadi anggota persekutuan dalam Kristus (Gereja).
c. Baptisan Kudus dilakukan kepada:
c.1. Anak-anak yang lahir dan atau terdaftar dalam salah satu
rumah tangga sah di jemaat.

[21]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
c.2. Anak-anak yang dimintakan oleh suatu rumah tangga warga
jemaat yang disertai dengan surat pernyataan dan mendapat
persetujuan dari Majelis Jemaat.
c.3. Orang dewasa yang telah terdaftar sebagai anggota jemaat,
yang dengan suka rela menyatakan Pengakuan Imannya.
c.4. Orang dewasa dari luar jemaat yang dengan sukarela
menyatakan pengakuan imannya dengan menyertakan surat
pernyataan dan mendapat persetujuan dari Majelis Jemaat.
c.5. Baptisan adalah tanda abadi yang diberikan hanya sekali bagi
setiap orang, sehingga baptisan ulang adalah sebuah
pelanggaran.
c.6. Jika karena suatu alasan yang tidak bisa dielakkan ternyata
calon baptisan tidak bisa hadir di Gereja, maka pelayanan
Baptisan Kudus dapat dilakukan kepadanya di rumah dalam
kebaktian khusus, setelah mendapat persetujuan dari Majelis
Jemaat.
c.7. Sebelum pelayanan Baptisan Kudus dilaksanakan, lebih
dahulu Majelis Jemaat mengadakan penggembalaan kepada
calon baptisan, orang tua dan saksi yang akan mengantar
anaknya untuk dibaptis.
(2) Perjamuan Kudus
a. Perjamuan Kudus adalah tanda persekutuan dengan Allah
Tritunggal sehingga ditetapkan sebagai Sakramen sesuai
perintah Kristus.
b. Perjamuan Kudus hanya dapat diikuti oleh anggota jemaat
dewasa dan tidak sedang dikenakan tertib gerejawi yang
membatasi dia.
c. Perjamuan Kudus dilakukan sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali
setahun.
d. Perjamuan Kudus dapat dilaksanakan di rumah anggota jemaat
yang terhalang hadir di gereja setelah pelaksanaan Perjamuan
Kudus dilakukan di gereja.

[22]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
e. Petunjuk pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus dirumuskan
dalam Formulir Perjamuan Kudus.
Pasal 7
PENEGUHAN SIDI
(1) Peneguhan sidi adalah bentuk pelayanan khusus untuk meneguhkan
iman bagi warga yang menerima baptisan sewaktu anak-anak.
(2) Sebelum seorang menerima peneguhan sidi, terlebih dahulu harus
mengikuti katekisasi minimal 1 (satu) tahun.
(3) Selain kematangan iman, kedewasaan umur juga menjadi
pertimbangan bagi seseorang untuk sidi, yakni umur 16 tahun ke atas.
(4) Jika karena suatu keadaan tertentu seseorang meminta peneguhan
sidi sebelum katekisasi, dapat dilakukan katekisasi khusus
berdasarkan kebijakan Majelis Jemaat.
(5) Pelayanan peneguhan sidi dilakukan terhadap anggota jemaat yang
mempunyai kelainan fisik termasuk anggota jemaat yang tuna rungu
dan tuna wicara dengan bimbingan khusus dari keluarga.
(6) Petunjuk pelaksanaan peneguhan sidi dirumuskan dalam formulir
peneguhan sidi.
Pasal 8
PERNIKAHAN

(1) Pernikahan Kristen adalah perjanjian yang kudus dan bersifat


permanen antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang
telah sidi untuk hidup bersama sebagai suami isteri.
(2) Peneguhan dan pemberkatan nikah adalah bentuk pelayanan Gereja
untuk mengesahkan pernikahan warga secara rohani.
(3) Calon pasangan yang meminta untuk mendapatkan pelayanan
pemberkatan dan peneguhan nikah mengajukan permohonan pada
Majelis Jemaat paling lambat 1 bulan sebelum peneguhan dan
pemberkatan nikahnya dan telah diumumkan kepada warga jemaat
2 kali kebaktian hari minggu.

[23]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(4) Sebelum melakukan peneguhan dan pemberkatan nikah, Majelis
Jemaat melakukan pastoral nikah. Bagi pasangan yang belum
dibaptis dan sidi diberi katekisasi pra nikah khusus.
(5) Peneguhan dan pemberkatan nikah dilakukan terhadap calon
pasangan nikah yang tidak bermasalah atau masalahnya telah
diselesaikan.
(6) Yang dimaksud dengan selesai masalahnya adalah:
a. Telah mendapat restu keluarga.
b. Tidak dikenakan tertib gerejawi.
c. Terjamin secara hukum.
(7) Peneguhan dan pemberkatan nikah dilaksanakan dalam kebaktian
jemaat yang dilayani oleh pendeta dengan menggunakan formulir
pernikahan.
(8) Bagi calon pasangan nikah yang sudah hidup bersama sebagai suami
isteri sebelum nikah dapat diberkati setelah melalui proses pastoral
dan yang bersangkutan melakukan pengakuan dosa.
(9) Bagi calon pasangan nikah yang salah satu atau keduanya sudah
merusak pernikahan sebelumnya (cerai), bentuk pelayanan
pernikahannya diserahkan kepada majelis jemaat yang didahului
dengan penggembalaan khusus.
(10) Jika terdapat calon pasangan nikah dalam lingkup Jemaat yang sudah
hidup sebagai suami-istri tetapi masalahnya belum dapat
diselesaikan, atau pasangan berbeda agama, dapat menerima
pelayanan khusus sesuai kebijakan Majelis Jemaat.
(11) Tata cara dan syarat-syarat pelaksanaan pernikahan diatur dalam
Tata Laksana Pernikahan

Pasal 9
PENGURAPAN DAN PENEGUHAN PENDETA
(1) Pendeta menerima tugas khusus yang hanya dapat dilaksanakan oleh
orang yang diurapi, sehingga penetapannya dilaksanakan dalam
bentuk pengurapan.

[24]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(2) Bentuk pengurapan ditandai dengan penumpangan tangan pendeta
sambil membaca Alkitab.
(3) Pengurapan dalam jabatan pendeta dilaksanakan sekali seumur
hidup atas seseorang dan jika seorang pendeta diperpanjang atau
dimutasikan, Penempatannya ditandai dengan acara peneguhan.
(4) Setiap memulai masa jabatannya dalam satu lingkup persekutuan,
pendeta diteguhkan dan ditetapkan dengan SK oleh BPMS-GTM.
(5) Peneguhan pendeta ditandai dengan penumpangan tangan pendeta
pelayan sambil mengucapkan formulasi peneguhan.
(6) Pengurapan dan peneguhan pendeta dilakukan oleh BPMS-GTM
dalam satu kebaktian khusus.
(7) Pemahaman mengenai hakikat pengurapan/peneguhan pendeta dan
petunjuk pelaksanaannya diatur dalam formulir
pengurapan/peneguhan pendeta dan Tata Laksana Kependetaan.
Pasal 10
PENEGUHAN PENATUA DAN SYAMAS

(1) Peneguhan penatua dan syamas dilaksanakan dalam kebaktian


jemaat di gedung gereja.
(2) Peneguhan penatua dan syamas dilakukan oleh pendeta.
(3) Pemahaman tentang hakikat peneguhan penatua dan syamas serta
petunjuk pelaksanaannya diatur dalam Formulir Peneguhan
Penatua/Syamas.
Pasal 11
PERSEMBAHAN
(1) Persembahan adalah bentuk ucapan syukur dan wujud ketaatan
kepada Allah.
(2) Persembahan menjadi sumber abadi yang utama bagi biaya
penyelenggaraan gereja.
(3) Persembahan terdiri dari: kolekte kebaktian, persembahan langsung
dan persembahan natura.

[25]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(4) Persembahan menjadi salah satu akta liturgi dalam seluruh bentuk
kebaktian jemaat.
Pasal 12
PEKABARAN INIJIL DAN PELAYANAN KASIH
(1) Pekabaran Injil adalah bentuk ketaatan kepada Firman Allah untuk
memberitakan kabar suka cita tentang pengampunan dosa dan
keselamatan yang dianugerahkan Allah dalam Yesus Kristus.
(2) Pelayanan kasih adalah upaya gereja memprakarsai perwujudan
masyarakat yang adil, damai sejahtera dan berkeadaban secara
langsung dan atau bekerja sama dengan semua pihak.

BAB III
PENGAJARAN DAN PEMBINAAN
Pasal 13
PENGAJARAN DAN PEMBINAAN

(1) Pengajaran/pembinaan adalah bentuk pelayanan Gereja untuk


memperlengkapi warganya dengan Firman Allah, pengakuan Iman
dan pengajaran.
(2) Pengajaran/pembinaan diselenggarakan dalam 2 (dua) bentuk
yakni:
a. Pendewasaan iman adalah bentuk pengajaran yang diberikan
kepada anggota yang belum Sidi, meliputi :
a.1. Sekolah Minggu (anak-anak)
a.2. Remaja.
a.3. Katekisasi
b. Pendalaman Iman adalah bentuk pengajaran/pembinaan yang
diberikan kepada anggota yang sudah Sidi dengan memperhatikan
kelompok kategori.
c. Pengajaran/pembinaan bagi pemuda gereja.
d. Pengajaran/pembinaan bagi perempuan.
e. Pengajaran/ pembinaan bagi kaum bapak (laki-laki).

[26]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
f. Pengajaran/pembinaan bagi kelompok profesi.
g. Pengajaran/pembinaan bagi pejabat gereja.

(3) Bahan pengajaran Sekolah Minggu, remaja dan katekisasi ditetapkan


secara khusus.
BAB IV
KEANGGOTAAN JEMAAT
Pasal 14
SYARAT DAN TERTIB KEANGGOTAAN JEMAAT

(1) Untuk bisa menjadi Anggota Jamat dalam lingkup GTM maka harus
memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Bersedia mematuhi Firman Allah dalam Alkitab.
b. Bersedia mematuhi aturan yang berlaku di GTM.
c. Bagi yang pindah dari Jemaat lain wajib membawah surat pindah
dari jemaat asalnya atau dari gereja asalnya.
(2) Tertib annggota GTM yakni:
a. Terdaftar di salah satu Jemaat dalam lingkup GTM.
b. Tidak memiliki keanggotaan rangkap pada jemaat lain dalam
lingkup GTM atau gereja lain.

Pasal 15
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA JEMAAT

(1) Hak anggota jemaat:


a. Anggota jemaat berhak menerima pelayanan pembinaan dan
penggembalaan guna memperlengkapi dia bagi tugas panggilannya.
b. Anggota sidi berhak memilih dan dipilih dalam jabatan gerejawi.
c. Anggota jemaat berhak menyatakan pendapat atas pertumbuhan
hidup dan pelayanan gereja melalui prosedur gerejawi.
d. Anggota jemaat yang bermasalah berhak mengajukan masalahnya
untuk diselesaikan oleh gereja melalui proses gerejawi.

[27]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(2) Kewajiban anggota jemaat:
a. Anggota jemaat wajib membaktikan diri bagi pelayanan sesuai
karunia yang ada padanya, berdasarkan petunjuk dan arahan
Majelis Jemaat.
b. Anggota jemaat wajib menaati segala ketentuan yang berlaku dalam
GTM dan tunduk di bawah teguran gerejawi.

Pasal 16
PERPINDAHAN ANGGOTA JEMAAT

(1) Anggota jemaat yang oleh karena satu kepentingan meninggalkan


jemaat dan menetap sementara 2 Minggu sampai 1 tahun di jemaat
lain dalam lingkungan atau di luar GTM, wajib melapor kepada
Majelis Jemaat asalnya dan Majelis Jemaat yang dituju.
(2) Kepada anggota jemaat yang pindah sementara seperti tersebut
dalam ayat (1) di atas majelis jemaat asalnya memberikan surat
keterangan titipan pelayanan yang ditujukan kepada Majelis jemaat
yang dituju.
(3) Kepada anggota jemaat yang halnya disebut dalam ayat (1) dan (2)
di atas, wajib menaati ketentuan pelayanan pada jemaat dimana ia
tinggal sementara, tanpa melalaikan kewajiban di jemaat asalnya.
(4) Anggota jemaat yang oleh karena satu kepentingan meninggalkan
jemaat dan menetap lebih dari satu tahun atau untuk seterusnya di
jemaat lain di dalam maupun di luar GTM, wajib membawa surat
pindah jemaat dari majelis jemaat asalnya.
(5) Anggota jemaat yang pindah dari gereja lain dapat diterima bila
membawa surat pindah dan menyatakan pengakuan imannya untuk
menaati segala ketentuan yang berlaku dalam GTM, secara tertulis.
(6) Anggota jemaat yang pindah dari gereja lain yang telah dibaptis
dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, tidak
dibaptis ulang.
(7) Anggota jemaat pindahan dari Gereja lain yang tidak sempat
membawa surat pindah, dapat diterima setelah:
[28]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
a. Menjalani masa orientasi sekurang-kurangnya 6 bulan.
b. Menyatakan kesediaan menaati segala ketentuan yang berlaku di
GTM secara tertulis.
Pasal 17
HILANGNYA HAK KEANGGOTAAN SECARA KELEMBAGAAN

(1) Karena meninggal dunia.


(2) Karena pindah ke gereja lain.
(3) Karena dikucilkan.
(4) Karena murtad.

BAB V
PENETAPAN JABATAN GEREJAWI
Pasal 18
JABATAN PENDETA

(1) Pendeta adalah pengemban fungsi pelayanan tugas khusus, yang


hanya dapat dilakukan oleh orang yang diurapi.
(2) Proses persiapan menjadi calon Pendeta yakni:
a. Anggota Jemaat yang bersedia, menyatakan niatnya kepada Majelis
Jemaat.
b. Majelis Jemaat merekomendasikan yang bersangkutan kepada
BPMS-GTM untuk diproses selanjutnya.
c. BPMS-GTM merekomendasikan yang bersangkutan berdasarkan
rekomendasi dari Majelis Jemaat untuk mengikuti pendidikan
teologia di lembaga yang didukung oleh Gereja Toraja Mamasa
sebagai bakal calon pendeta GTM.
d. Bakal calon yang sudah menamatkan pendidikan teologia
menjalani masa vikaris selama 1 (satu) tahun.
e. Bakal calon yang sudah menjalani masa vikaris dievaluasi dan bila
layak, dinyatakan sebagai calon Pendeta GTM.

[29]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(3) Syarat menjadi pendeta.
a. Telah melalui proses pencalonan dan dinyatakan layak.
b. Anggota Sidi Gereja Toraja Mamasa.
c. Sudah menyatakan kesediaannya menjadi Pendeta Gereja Toraja
Mamasa dan taat pada ketentuan yang berlaku dalam Gereja
Toraja Mamasa.
d. Tidak sedang dikenakan tertib Gerejawi.
e. Menunjukkan kualifikasi moral dan iman dalam hidupnya seperti
yang terdapat dalam Kisah Rasul 6:1-7; I Timotius 3:1-7; Titus 3:5-
9.
f. Bagi yang sudah menikah, suami/istrinya tidak menjadi sandungan
dalam jemaat.
g. Berbadan sehat yang dibuktikan dengan keterangan dari dokter.
h. Bagi yang sudah menikah, suami/istrinya adalah anggota Gereja
Toraja Mamasa.
i. Memiliki rasa pengabdian bagi Allah dan mampu memelihara
rahasia jabatan.
j. Berumur minimal 23 tahun dan maksimal 55 tahun.
k.Telah menyelesaikan pendidikan minimal S1-teologia dilembaga
STT yang diakui oleh GTM. Bagi alumni STT yang tidak diakui
GTM, wajib mengikuti pendidikan khusus di STT yang diakui oleh
GTM.
l. Bersedia ditempatkan dalam lingkungan pelayanan Gereja Toraja
Mamasa atau tugas khusus.
(4) Pemanggilan Pendeta
a. Pemanggilan pendeta dilaksanakan berdasarkan kebutuhan
pelayanan (GTM.
b. Pemanggilan pendeta dilaksanakan oleh GTM dan ditempatkan di
jemaat dan atau lembaga-lembaga yang membutuhkan.
c. Pemanggilan dilaksanakan di dalam bentuk pengurapan oleh BPMS
GTM, dalam satu kebaktian khusus yang di tentukan oleh BPMS
GTM.

[30]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(5) Penempatan pendeta:
b. Pendeta yang sudah diurapi ditempatkan oleh BPMS GTM di jemaat
atau lembaga yang membutuhkan pelayanan pendeta dengan
Surat Keputusan (SK)
c. Penempatan pendeta dilaksanakan setelah BPMS GTM mengadakan
koordinasi dengan jemaat atau lembaga yang membutuhkan.
d. Bagi pendeta yang baru diurapi penempatannya dirangkaikan
dengan pengurapannya.
e. Bagi pendeta yang diperpanjang masa baktinya atau dimutasikan
penempatannya dilaksanakan melalui peneguhan.
(6) Jaminan hidup pendeta:
a. Jaminan hidup pendeta diatur sebagai berikut:
a.1. Gaji pokok dibayarkan oleh BPMS GTM melalui dana
sentralisasi.
a.2. Tunjangan keluarga, premi pensiun, tunjangan kesehatan
melalui BPJS dibayarkan oleh jemaat.
a.3. Tunjangan-tunjangan lainnya dibayarkan sesuai kemampuan
jemaat.
b. Pendeta tugas khusus diatur oleh lembaga dimana ia melayani.
(7) Masa jabatan pendeta.
Pendeta memangku jabatannya seumur hidup kecuali jika ia
diberhentikan tidak dengan hormat dan hak kependetaannya gugur.
(8) Masa bakti wajib pelayanan pendeta.
a. Masa bakti wajib melayani seorang pendeta jemaat atau klasis
adalah 5 tahun, dan dapat diperpanjang satu periode berikutnya
selama 5 tahun.
b. Apabila ia telah berumur 55 tahun, sakit atau sebab lain yang sah,
pendeta dapat mengajukan permohonan pensiun. Pada umur 65
tahun pendeta harus pensiun.
c. Pendeta yang sudah pensiun sewaktu-waktu dapat digunakan
tenaganya untuk melayani sesuai kebutuhan.
d. Pada waktu pendeta memasuki masa pensiun dilakukan kebaktian
emiritasi yang dipimpin oleh BPMS-GTM.
[31]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(9) Bebas dari wajib pelayanan pendeta.
a. Pendeta yang sudah menyelesaikan masa bakti wajib pelayanan di
satu jemaat tetapi belum dimutasi.
b. Mendapat tugas khusus dari BPMS GTM.
c. Dimohon sendiri setelah berumur 55 tahun.
d. Pendeta yang beralih tugas penuh waktu ke profesi lain.
e. Pendeta sedang menjalani tertib gerejawi, yang belum
menyebabkan hak jabatannya gugur.
(10) Mutasi pendeta :
a. Mutasi dilakukan saat periode pendeta selesai periode penugasan
di suatu tempat dengan tujuan agar pendeta selalu ada
penyegaran yang dapat menambah wawasan.
b. Selambat-lambatnya 6 bulan sebelum mutasi, pendeta dan
lembaga yang dilayani sudah melapor ke BPMS-GTM untuk
memulai proses mutasi.
c. Biaya mutasi pendeta ditanggungkan kepada jemaat atau lembaga
yang akan dilayani.
d. Pendeta yang terpilih menjadi personalia BPMS-GTM yang penuh
waktu, secara otomatis dimutasikan, dan biayanya ditanggung
oleh Kas BPMS-GTM
(11)Tugas jabatan pendeta.
a. Menyatakan jaminan damai sejahtera dan berkat Allah kepada
jemaat melalui penumpangan tangan atas jemaat dalam setiap
akta salam dan berkat.
b. Melayani sakramen.
c. Melakukan pengurapan dan peneguhan.
d. Mengawasi kemurnian ajaran dalam gereja.
e Melayani kebaktian jemaat.
g. Melaksanakan penggembalaan
h. Menyelenggarakan pembinaan dan pengajaran warga gereja
i. Memperlengkapi mendorong dan menggerakkan warga gereja
untuk memenuhi panggilan bersekutu, bersaksi dan melayani.

[32]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
j. Melaksanakan pelayanan sebagai rohaniwan pada pelantikan
jabatan pemerintahan atau lembaga lain yang membutuhkan.
(12) Pendeta tugas khusus.
Pendeta tugas khusus adalah pendeta yang ditugaskan pada
lembaga-lembaga di luar lingkup Jemaat dan lingkup klasis sesuai
dengan kebutuhan.
(13) Gugurnya jabatan pendeta.
a. Gugurnya jabatan pendeta karena:
a.1. Meninggal dunia.
a.2. Atas permintaan sendiri.
a.3. Dikenakan tertib gerejawi yang mengharuskan gugurnya
jabatan pendeta.
a.4. Melanggar kode etik kependetaan.
b. Sebelum keputusan pengguguran dalam Sidang Sinode BPMS GTM
mengadakan pelayanan pastoral kepada yang bersangkutan.
c. Gugurnya jabatan pendeta ditetapkan dalam Sidang Majelis
Sinode.
Pasal 19
JABATAN PENATUA DAN SYAMAS

(1) Penatua dan syamas adalah fungsi pelayanan yang mengemban tugas
khusus, yang boleh dilakukan tanpa pengurapan, sehingga
pemanggilan melalui pemilihan jemaat dan ditetapkan dengan cara
peneguhan pada jemaat yang memilihnya.
(2) Syarat-syarat jabatan penatua:
Dengan berpedoman pada kesaksian Alkitab, Titus 1:5-16 maka
ditetapkan syarat-syarat memangku Jabatan Penatua sbb.:
a. Anggota jemaat GTM yang telah disidi dan tidak sedang dikenakan
tertib gerejawi.
b. Telah terdaftar sebagai anggota jemaat setempat sekurang-
kurangnya 6 (enam) bulan.

[33]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
c. Memahami dan menaati pengakuan iman, ajaran, Tata dasar, Tata
Rumah Tangga GTM.
d. Bersedia melayani pekerjaan Tuhan dengan sukarela dan
bertanggung jawab.
e. Bersedia dan mampu memegang rahasia jabatan.
f. Bagi yang sudah berkeluarga suami / istrinya tidak menjadi
sandungan dalam jemaat.
(3) Syarat-syarat jabatan syamas:
Dengan berpedoman pada Firman Tuhan seperti Kisah Para Rasul 6:1-
7; I Timotius 3:8-13 ditetapkan syarat-syarat untuk memangku
jabatan syamas sebagai berikut:
a. Anggota sidi atau yang sudah dibaptis dewasa dan tidak sedang
dikenakan tertib gerejawi.
b. Telah terdaftar sebagai anggota jemaat di jemaat yang
bersangkutan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan.
c. Bersedia memahami pengakuan/ajaran dan menaati Tata Dasar
dan Tata Rumah Tangga GTM.
d. Bersedia melayani pekerjaan Tuhan dengan sukarela dan
bertanggung jawab.
e. Bagi yang sudah berkeluarga suami/istrinya tidak menjadi
sandungan dalam Jemaat
f. Mempunyai perhatian yang besar bagi masalah-masalah sosial di
kalangan warga dan masyarakat di sekitarnya.
g. Dapat memelihara rahasia jabatan dan mampu melakukan tugas
khusus syamas.
(4) Tugas jabatan penatua :
a. Melaksanakan tertib gerejawi dan mengawasi ketertiban hidup
jemaat.
b. Melayani kebaktian jemaat.
c. Melakukan penggembalaan
d. Mengawasi kemurnian ajaran gereja.
e. Melaksanakan katekisasi-sidi

[34]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
f. Memperlengkapi, mendorong dan menggerakkan warga jemaat
untuk memenuhi panggilan bersekutu, bersaksi dan melayani.
(5) Tugas jabatan syamas.
a. Mengurus persembahan jemaat, dan pelayanan diakonia.
b. b.Melayani kebaktian jemaat.
c. Melaksanakan penggembalaan.
d. Memperlengkapi, mendorong dan menggerakkan warga jemaat
untuk memenuhi panggilan bersekutu, bersaksi dan melayani.
(6) Masa jabatan penatua dan syamas.
a. Penatua dan syamas adalah jabatan periodik dengan masa bakti 5
tahun.
b. b.Penatua dan syamas yang sudah mengakhiri masa baktinya dapat
dicalonkan kembali untuk masa bakti berikutnya.
(7) Pencalonan dan pemilihan penatua dan syamas.
a. Pada tahun terakhir masa bakti majelis jemaat, Sidang Majelis
membentuk Panitia Pencalonan Penatua dan Syamas, yang terdiri
dari unsur anggota majelis dan anggota jemaat dengan
perbandingan 3 berbanding 2
b. Panitia pencalonan mengusahakan pengadaan calon dari anggota
majelis yang masih aktif dan ditambah dari anggota jemaat.
c. Jumlah calon yang disiapkan minimal sama dengan jumlah tenaga
yang dibutuhkan ditambah 5 (lima).
d. Jumlah tenaga yang dibutuhkan ditentukan berdasarkan
perbandingan 1 anggota majelis melayani sekurang-kurangnya 3
rumah tangga anggota jemaat.
e. Penentuan jumlah penatua dan syamas pada tiap Jemaat ditetapkan
dalam jumlah yang sama didasarkan atas kebutuhan pelayanan.
(8) Proses pemilihan penatua dan syamas dilaksanakan secara
bersamaan.
a. Calon terpilih ditetapkan menjadi calon penatua dan syamas tetap.
b. Calon tetap menjalani masa persiapan paling lama2 bulan di bawah
bimbingan pendeta dan BPMJ.

[35]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
c. Jika dalam masa persiapan terdapat keberatan yang sah atas diri
calon tetap, maka yang bersangkutan dinyatakan gugur.
d. Pada akhir masa bakti majelis jemaat, calon penatua dan syamas
tetap, diteguhkan dalam kebaktian jemaat.
e. Peneguhan dilaksanakan oleh Pendeta yang bertanggung jawab
atas pelayanan kependetaan di jemaat tersebut berdasarkan
formulir peneguhan penatua dan syamas.
(9) Pemilihan tambahan.
a. Jika sebelum berakhir masa bakti terjadi kekosongan, maka
pengisiannya dilakukan melalui pemilihan tambahan.
b. Calon pemilihan tambahan disiapkan oleh Majelis Jemaat dengan
jumlah calon 2x jumlah tenaga tambahan yang dibutuhkan.
c. Proses pemilihan dan peneguhan sama dengan poin 8a sampai 8e.
Pasal 20
PAKAIAN JABATAN

(1) Pakaian Jabatan terdiri dari:


a. Toga (hitam, ungu, dan putih) untuk pendeta.
b. Toga mini (hitam, ungu dan putih) untuk pendeta, penatua dan
syamas.
(2) Toga (hitam, ungu dan putih) digunakan oleh pendeta untuk
pelayanan ibadah hari Minggu, hari raya gerejawi dan pelayanan
khusus.
(3) Toga mini (hitam, ungu dan putih) digunakan oleh pendeta, penatua
dan syamas setiap memimpin kebaktian (pendeta menggunakan
colar).
(4) Pakaian pelayanan yang terdiri dari stola (ungu dan putih) adalah
pakaian pelayanan sehingga wajib digunakan oleh setiap majelis
pada saat memimpin kebaktian.
(6) Stola Putih, digunakan setiap kebaktian Minggu/hari raya gerejawi
atau pelayanan khusus di luar masa Minggu sengsara dan Minggu-
Minggu Advent.

[36]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(7) Stola Ungu, digunakan pada Minggu-Minggu Sengsara dan Minggu-
Minggu Advent.
BAB. VI
TERTIB GEREJAWI
Pasal 21
HAKIKAT TERTIB GEREJAWI

(1) Tertib Gerejawi adalah bentuk pelayanan gereja dalam upaya


memelihara kekudusan persekutuan (Ef. 5: 27. I Pet. 1: 16) dan
memelihara agar warga gereja selalu hidup tertib sesuai kehendak
Allah.
(2) Tertib Gerejawi adalah pelayanan khusus dalam bentuk bimbingan,
teguran, nasihat, penghiburan dan pemulihan berdasarkan kasih (I
Tes. 5: 14).
Pasal 22
TUJUAN TERTIB GEREJAWI

(1) Untuk menyatakan kemuliaan Allah.


(2) Untuk memelihara kekudusan hidup warga dan persekutuan Jemaat
(Imamat 11: 44 45; I Pet.1:15-16).
(3) Untuk menuntun anggota yang melanggar kepada pertobatan dan
pemulihan hidup (II Tim. 2:25-26).
(4) Untuk memperingatkan bahwa pintu Sorga terbuka bagi yang
bertobat, tapi tertutup bagi yang berkanjang dalam dosa.
Pasal 23
BENTUK TERTIB GEREJAWI
(1) Tertib gerejawi adalah bentuk penggembalaan khusus yang disertai
ketentuan-ketentuan yang wajib ditaati.
(2) Tertib Gerejawi dikenakan kepada setiap warga yang menyimpang
dari kebenaran Firman Allah sebagaimana dijabarkan dalam Tata
Dasar dan Tata Rumah Tangga Gereja Toraja Mamasa.

[37]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
Pasal 24
PELAKSANAAN TERTIB GEREJAWI
(1) Prinsip pelaksanaan tertib gerejawi didasarkan pada Mat. 18:15-18.
(2) Jika seorang melakukan pelanggaran, maka saudara yang
mengetahuinya wajib menegur dengan lemah lembut. Jika ia sudah
sadar dan bertobat berbahagialah dia bersama penasihatnya. Jika
yang melanggar tidak mengindahkan nasihatnya, maka penasihat itu
akan meminta bantuan saudara yang lain sebagai saksi untuk sekali
lagi menasihatinya. Jika tidak menerima nasihat itu, maka halnya
dilaporkan kepada Majelis Jemaat.
(3) Majelis jemaat mengadakan penggembalaan kepada yang
bersangkutan dengan penuh kasih. Jika yang bersangkutan sadar dan
bertobat, maka berbahagialah ia, karena Tuhan menjamin
keampunan baginya (Mat. 16:19; 18:18; Yoh. 20:23).
(4) Jika yang bersangkutan tidak mengindahkan nasihat dan teguran
majelis, maka Majelis Jemaat akan melanjutkan nasihat dan
tegurannya dengan meminta dukungan doa dari Jemaat, tanpa
menyebut nama dan pelanggaran orang yang bersangkutan.
(5) Jika nasihat atau teguran majelis dan dukungan doa jemaat
membawa yang bersangkutan pada pertobatan, maka ia dipulihkan
dengan jalan menyatakan pengakuan dosa kepada Tuhan di hadapan
Majelis Jemaat.
(6) Jika nasihat atau teguran majelis dan dukungan doa jemaat tidak
diindahkan, maka nama dan pelanggaran orang bersangkutan
dengan terpaksa diumumkan di tengah jemaat, agar pelanggarannya
tidak membawa contoh yang salah bagi jemaat (Tim. 5:20), dan yang
bersangkutan dinyatakan terikat dalam tertib gerejawi.
(7) Bila nasihat atau teguran yang diberikan kepadanya membuat yang
bersangkutan sadar dan dibuktikan dengan menaati segala
ketentuan yang mengikat dirinya, maka yang bersangkutan dapat
diorakkan dan dipulihkan setelah menyatakan Pengakuan Iman
dihadapkan Jemaat, dan seluruh jemaat akan menyambutnya dengan

[38]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
sukacita, karena kasih dan pengampunan Allah tidak terbatas (Maz.
103:1-13; Yes. 1:18; Yoh. 1:8-10).
(8) Jika terjadi satu bentuk pelanggaran yang langsung diketahui umum
dan meresahkan jemaat, maka pelaksanaannya langsung diumumkan
kepada Jemaat dan yang bersangkutan dinyatakan terikat oleh tertib
gerejawi.
(9) Jika yang sudah dinyatakan terikat karena dosanya akan tetapi ia
tetap berkanjang, maka setelah diberi waktu selama 1 (satu) tahun
lagi dan jika tidak ada perubahan diajukan ke klasis, sehingga klasis
ikut memberi nasihat dan teguran kepadanya.
(10) Jika nasihat dan teguran klasis membawa yang bersangkutan pada
pertobatan, maka pengorakan dan pemulihannya sama dengan ayat
7.
(11) Jika nasihat dan teguran klasis tidak diindahkan maka setelah
diberi waktu setahun lagi, maka BPMK mengembalikan masalahnya
kepada Majelis Jemaat dan yang bersangkutan dinyatakan
dikucilkan. Keputusan pengucilan dilaporkan kepada BPMS-GTM.
(12) Anggota yang murtad dan menerima baptisan ulang disamakan
dengan anggota yang dikucilkan.
(13) Jika orang yang dikucilkan menyesal dan bertobat, ia dapat
diterima kembali sbb.:
a. Yang bersangkutan mengajukan permohonan kepada Majelis
Jemaat di mana ia ingin kembali.
b. Yang bersangkutan dinyatakan sebagai anggota yang masih
terikat di bawah pengawasan majelis jemaat.
c. Setelah melihat penyesalannya serta kesetiaan dan ketaatannya,
maka yang bersangkutan dapat diproses untuk diterima kembali
sesuai dengan formulir penerimaan kembali anggota jemaat yang
dikucilkan.
(14) Penerimaan kembali orang yang dikucilkan, dilaporkan oleh majelis
jemaat ke BPMK dengan tembusan ke BPMS-GTM.

[39]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
Pasal 25
TERTIB GEREJAWI BAGI ANGGOTA BAPTIS

(1) Anggota baptis (belum sidi) yang melakukan pelanggaran perlu


ditertibkan.
(2) Pelaksanaan tertib gerejawi kepada anggota baptis dilakukan dalam
pelayanan khusus berupa pembinaan dan pengajaran.
Pelaksanaannya dilakukan atas sepengetahuan dan kerjasama
dengan orang tua dan saksi baptisnya.
Pasal 26
TERTIB GEREJAWI BAGI PEJABAT GEREJA
(1) Pejabat gerejawi yang melakukan pelanggaran dinasihati oleh
saudara yang mengetahuinya.
(2) Jika ia tidak mengindahkan nasihat tersebut, maka halnya dilaporkan
untuk dinasihati oleh Majelis Jemaat.
(3) Jika tidak mengindahkan nasehat majelis jemaat, maka ia dibebaskan
sementara dari tugas pelayanannya setelah mendapat persetujuan
dari BPMK dan seterusnya digembalakan oleh BPMK.
(4) Jika yang bersangkutan bukan pendeta dan tetap berkanjang dalam
pelanggarannya maka ia diberhentikan dari jabatannya dalam sidang
majelis jemaat setelah mendapat rekomendasi dari BMPK. Jika ia
seorang pendeta, maka masalahnya diajukan ke BPMS GTM oleh
badan pekerja Majelis klasis.
(5) Jika BPMS GTM tidak bisa menyelesaikannya, maka masalahnya
diteruskan kepada Sidang Majelis Sinode.

BAB VII
PEMBENTUKAN DAN
PEMBUBARAN JEMAAT DAN KLASIS
Pasal 27
PEMBENTUKAN JEMAAT
(1) Kategori jemaat :
[40]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
a. Dalam pengelolaannya, cabang kebaktian diatur sepenuhnya oleh
jemaat induk.
b. Dalam pengelolaannya, bakal jemaat dapat mempunyai lembaga
kepemimpinan sendiri jika tidak ada jemaat dewasa yang dapat
membinanya.
c. Jemaat adalah wujud persekutuan yang memiliki lembaga
kepemimpinan sendiri dan menyelenggarakan persekutuan
pelayanan secara menyeluruh.
(2) Syarat pembentukan Jemaat
a. Terdapat jumlah anggota yang sepakat, terdiri dari minimal 30
kepala keluarga. Memiliki potensi daya dan dana untuk melakukan
pelayanan.
b. Mendapat dukungan dari jemaat se-klasis.
c. Tidak mengganggu keutuhan jemaat lain.
(3) Status jemaat:
a. Jemaat, yaitu jemaat yang telah memenuhi persyaratan jemaat dan
sudah diresmiknan.
b. Bakal jemaat, yaitu persekutuan pelayanan yang terjadi karena
perpindahan sejumlah warga jemaat dan berkumpul di suatu
tempat tertentu. Bakal jemaat ini dapat ditingkatkan menjadi
jemaat resmi setelah diproses oleh BPMK.
c. Cabang Kebaktian, ialah persekutuan pelayanan yang direncanakan
oleh suatu jemaat resmi dan dapat ditingkatkan menjadi jemaat
resmi setelah diproses oleh jemaat induk bersama BPMK.
(4) Peresmian jemaat:
a. Bakal jemaat yang telah memenuhi syarat, diusulkan peresmiannya
kepada sidang majelis klasis.
b. Jika sidang majelis klasis setuju, maka usul peresmian diteruskan
kepada BPMS.
c. Setelah BPMS GTM mempertimbangkan dan dinyatakan layak,
maka BPMS GTM meresmikan bakal jemaat tersebut berdasarkan
tata cara yang ditetapkan oleh BPMS GTM.

[41]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
d. Cabang kebaktian yang sudah memenuhi syarat, diusulkan oleh
jemaat induknya kepada sidang Majelis Klasis. Kemudian BPMK
meneliti dan membahas cabang kebaktian tersebut dan jika
dinyatakan layak maka diteruskan kepada BPMS GTM.
e. BPMS GTM meresmikan cabang kebaktian menjadi jemaat
berdasarkan tata cara yang ditetapkan oleh BPMS.
Pasal 28
PEMBUBARAN JEMAAT

Sebuah jemaat dapat dibubarkan karena:


(1) Tidak lagi mampu mengemban tanggung jawab sebagai satu jemaat
(2) Pembubaran jemaat ditetapkan oleh Badan Pekerja Majelis Sinode
sebagai mandataris Sidang Majelis Sinode atas usul BPMK
(3) Anggota dari jemaat yang dibubarkan menggabung ke dalam jemaat
GTM yang terdekat
(4) Harta milik dan seluruh kekayaan jemaat yang bubar menjadi hak
milik GTM dan karena itu berada dalam tanggung jawab dan
pengaturan BPMS GTM
Pasal 29
PEMBENTUKAN KLASIS
(1) Syarat terbentuknya klasis.
a. Terdiri dari sekurang-kurangnya 4 jemaat yang berdekatan dan
sepakat serta mampu memenuhi tanggungjawab pelayanan
b. Memiliki potensi daya dan dana untuk menyelenggarakan
pelayanan.
c. Memiliki minimal seorang pendeta
(2) Peresmian klasis.
a. Jemaat-jemaat yang sepakat membentuk klasis mengajukan
permohonan kepada Sidang Majelis Klasis, jika sidang klasis
menyetujui maka dilanjutkan ke BPMS GTM.
b. Jika berdasarkan Penelitian BPMS GTM, ternyata usul itu layak,
maka BPMS-GTM mengusulkan ke Sidang Majelis Sinode. Setelah
[42]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
menjadi keputusan Sidang Majelis Sinode, maka BPMS GTM
meresmikan klasis tersebut melalui tata cara yang ditetapkan oleh
BPMS GTM.
Pasal 30
PEMBUBARAN KLASIS

(1) Jika ada Klasis yang tidak mampu memenuhi tanggung jawab
pelayanan sebagai Klasis, dapat membubarkan diri dan melebur ke
Klasis terdekat.
(2) Pembubaran Klasis dilaksanakan dalam Sidang Majelis Klasis dan
dilaporkan ke BPMS-GTM oleh pimpinan Sidang Majelis Klasis.
(3) Seluruh kekayaan dan inventaris klasis yang bubar diserahkan kepada
klasis kemana jemaat-jemaat tersebut melebur.

BAB VIII
PEMBIAYAAN GEREJA
Pasal 31
TANGGUNG JAWAB WARGA GEREJA
(1) Pembiayaan gereja menjadi tanggung jawab seluruh warga gereja.
a. Pembiayaan gereja lingkup sinode, menjadi tanggung jawab
seluruh warga melalui jemaat dan klasis se GTM.
b. Pembiayaan gereja lingkup klasis menjadi tanggung jawab seluruh
warga melalui Jemaat-jemaat se klasis.
c. Pembiayaan gereja lingkup jemaat menjadi tanggung jawab seluruh
warga jemaat bersangkutan.
(2) Pembiayaan gereja bersumber dari:
a. Persembahan warga gereja.
b. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan hakikat gereja.
(3) Dasar kebijakan pembiayaan gereja ditetapkan oleh majelis pada
semua lingkup kelembagaan.

[43]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
BAB IX
TATA CARA PELAKSANAAN KEPEMIMPINAN
Pasal 32
KEPEMIMINAN JEMAAT
(1) Kepemimpinan jemaat diemban oleh Majelis Jemaat yang anggotanya
terdiri dari pendeta, penatua, dan syamas yang melayani dan berada
di jemaat dengan masa bakti 5 tahun.
(2) Untuk mengemban kepemimpinan Majelis Jemaat sehari-hari atas
Jemaat, Majelis Jemaat membentuk Badan Pekerja Majelis Jemaat.
(3) BPMJ disusun berdasarkan fungsi-fungsi pokok, yaitu Ketua,
Sekretaris, Bendahara yang personalianya dipilih dari dan oleh
Anggota Majelis Jemaat dengan masa bakti 5 tahun dan dapat
dilengkapi dengan perangkat fungsional sesuai kebutuhan.
(4) Untuk mengawasi perbendaharaan jemaat, Sidang Majelis Jemaat
membentuk Badan Pengawas Perbendaharaan Jemaat dengan masa
bakti 5 tahun.
(5) Untuk memberikan pertimbangan kepada BPMJ diminta atau tidak
maka Sidang Majelis Jemaat membentuk Majelis Pertimbangan
Jemaat.
(6) Ketua BPMJ ditambah dua orang dari unsur BPMJ lainnya ditetapkan
sebagai utusan Majelis Jemaat untuk menjadi anggota Majelis Klasis,
dengan memperhatikan kehadiran unsur pendeta, penatua dan
syamas. Jika anggota majelis klasis berhalangan dapat diganti oleh
anggota BPMJ yang lain.
(7) Majelis Jemaat melaksanakan Sidang Majelis Jemaat sebagai forum
pengambilan keputusan bagi Majelis Jemaat dalam menetapkan
kebijakan pelayanan jemaat.
(8) Badan Pekerja Majelis Jemaat melaksanakan rapat untuk mengatur
penyelenggaraan jemaat sehari-hari.
(9) Untuk hal-hal yang membutuhkan penanganan khusus, Badan
Pekerja Majelis Jemaat dapat membentuk kepanitian-kepanitian
sesuai kebutuhan.

[44]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
Pasal 33
KEPEMIMPINAN KLASIS

(1) Kepemimpinan klasis diemban oleh Majelis Klasis yang anggotanya


terdiri dari pendeta, penatua, dan syamas yang diutus oleh Majelis
Jemaat dengan masa bakti 5 tahun.
(2) Untuk mengemban kepemimpinan Majelis Klasis sehari-hari atas
klasis, Majelis Klasis membentuk Badan Pekerja Majelis Klasis.
(3) BPMK disusun berdasarkan fungsi-fungsi pokok yaitu Ketua,
Sekretaris, Bendahara yang personalianya dipilih dari Anggota
Majelis Klasis, peninjau yaitu pendeta, dan anggota BPMK
Demisioner dengan masa bakti 5 tahun dan dapat dilengkapi dengan
perangkat fungsional sesuai kebutuhan.
(4) Ketua BPMK ditambah 2 orang dari Unsur BPMK lainnya ditetapkan
menjadi utusan Majelis Klasis untuk menjadi anggota Majelis Sinode,
dengan memperhatikan kehadiran unsur pendeta, penatua dan
syamas. Jika anggota majelis sinode berhalangan dapat diganti oleh
anggota BPMK yang lain.
(5) Untuk mengawasi perbendaharaan jemaat, Majelis Klasis
membentuk Badan Pengawas Perbendaharaan Klasis dengan masa
bakti 5 tahun.
(6) Untuk memberikan pertimbangan kepada BPMK diminta atau tidak
maka Sidang Majelis Klasis membentuk Majelis Pertimbangan Klasis
(MPK).
(7) BPPK berjumlah 3 orang, disusun berdasarkan fungsi-fungsi pokok
yaitu Ketua, sekretaris dan Anggota yang personalianya dipilih oleh
Sidang Majelis Klasis dari peserta sidang.
(8) Majelis Klasis melaksanakan Sidang Majelis Klasis sebagai forum
pengambilan keputusan bagi Majelis Klasis dalam menetapkan
kebijakan pelayanan klasis.
(9) Badan Pekerja Majelis Klasis melaksanakan rapat untuk mengatur
penyelenggaraan klasis sehari-hari.

[45]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(10) Untuk hal-hal yang membutuhkan penanganan khusus, Badan
Pekerja Majelis Klasis dapat membentuk kepanitian-kepanitian
sesuai kebutuhan.
Pasal 34
KEPEMIMPINAN SINODE
(1) Kepemimpinan Sinode diemban oleh Majelis Sinode yang anggotanya
terdiri dari pendeta, penatua, dan syamas yang diutus oleh Majelis
Klasis dengan masa bakti 5 tahun.
(2) Untuk mengemban kepemimpinan Majelis Sinode GTM, Sidang
Majelis Sinode membentuk Badan Pekerja Majelis Sinode.
(3) BPMS disusun berdasarkan fungsi-fungsi pokok yaitu Ketua,
Sekretaris, Bendahara dan dapat dilengkapi dengan perangkat
fungsional sesuai kebutuhan dengan masa bakti 5 tahun. BPMS
dipilih dari Anggota Majelis Sinode, peninjau yaitu pendeta, dan
anggota BPMS demisioner.
(4) Untuk mengawasi perbendaharaan sinode, Majelis Sinode
membentuk Badan Pengawas Perbendaharaan Sinode dengan masa
bakti 5 tahun.
(5) BPPS berjumlah 3 orang, disusun berdasarkan fungsi-fungsi pokok
yaitu Ketua dan Anggota yang personalianya dipilih oleh Sidang
Majelis Sinode dari peserta persidangan.
(6) Untuk memberikan pertimbangan kepada BPMS diminta atau tidak
maka Sidang Majelis Sinode membentuk Majelis Pertimbangan
Sinode (MPS).
(7) Majelis Sinode melaksanakan Sidang Majelis Sinode sebagai forum
pengambilan keputusan bagi Majelis Sinode dalam menetapkan
kebijakan pelayanan GTM secara umum.
(8) Badan Pekerja Majelis Sinode melaksanakan Rapat untuk mengatur
penyelenggaraan Sinode GTM sehari-hari.
(9) Untuk hal-hal yang membutuhkan penanganan khusus. Badan
Pekerja Majelis Sinode dapat membentuk kepanitian-kepanitian
sesuai kebutuhan.

[46]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
BAB X
PELAKSANAAN SIDANG MAJELIS
Pasal 35
SIDANG MAJELIS JEMAAT

(1) Sidang Majelis jemaat adalah forum Pengambilan Keputusan Majelis


Jemaat dalam menetapkan kebijakan pelayanan jemaat.
(2) Sidang Majelis Jemaat dilaksanakan dalam 2 bentuk:
a. Sidang Majelis Jemaat Tetap.
b. Sidang Majelis Jemaat Khusus.
(3) Sidang Majelis Jemaat tetap dilaksanakan pada :
a. Pada awal masa bakti untuk:
a.1. Menetapkan Badan Pekerja Majelis Jemaat, Majelis
Pertimbangan Jemaat (MPJ) dan Badan Pengawas
Perbendaharaan Jemaat (BPPJ).
a.2. Menetapkan 3 orang utusan menjadi Anggota Majelis Klasis
yang terdiri dari unsur pendeta, penatua dan syamas.
a.3. Menyusun program tahun pertama
a.4. Serah terima dengan Majelis Jemaat masa bakti lalu.
b. Pada setiap awal tahun untuk:
1. Mengevaluasi program tahun berlalu
2. Menyusun program dan APJ tahun berikutnya
c. Pada akhir masa bakti untuk:
1. Mengevaluasi program tahun terakhir
2. Mempersiapkan peneguhan penatua dan syamas terpilih.
(4) Sidang Majelis Jemaat khusus dilakukan sesuai kebutuhan untuk hal-
hal yang mendesak.
(5) Sidang Majelis Jemaat tetap diikuti oleh anggota Majelis Jemaat dan
undangan sesuai kebutuhan dan sah mengambil keputusan bila
dihadiri sekurang-kurangnya 2/3 anggota Majelis Jemaat.

[47]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(6) Sidang Majelis Jemaat khusus hanya diikuti oleh anggota Majelis
Jemaat dan sah mengambil keputusan bila dihadiri sekurang-
kurangnya 2/3 anggota Majelis Jemaat.
(7) Sidang Majelis Jemaat dilaksanakan berdasarkan Tata tertib yang
ditetapkan pada awal persidangan.
Pasal 36
SIDANG MAJELIS KLASIS
(1) Sidang Majelis Klasis adalah Forum Pengambilan Keputusan bagi
Majelis Klasis dalam menetapkan kebijakan pelayanan klasis.
(2) Sidang Majelis Klasis dilaksanakan dalam dua (2) bentuk:
a. Sidang Majelis Klasis Lengkap.
b. Sidang Majelis Klasis Tahunan.
(3) Sidang Majelis Klasis Lengkap dilaksanakan pada awal dan akhir
masa bakti untuk:
a. Mengevaluasi pelayanan dan menyelesaikan masalah-masalah
pelayanan.
b. Membentuk Badan Pekerja Majelis Klasis, Majelis Pertimbangan
Klasis (MPK) dan Badan Pengawas Perbendaharaan Klasis (BPPK).
c. Menetapkan 3 orang utusan untuk menjadi anggota Majelis Sinode
yang terdiri dari unsur pendeta, penatua dan syamas.
d. Menyusun program dan APBK tahun pertama.
(4) Sidang Majelis Klasis Lengkap diikuti oleh:
a. Anggota Majelis Klasis.
b. BPMK, MPK, BPPK dan 3 orang masing-masing pengurus inti
Kategorial.
c. Peninjau dan undangan yang ditetapkan oleh BPMK dengan
memperhatikan keterwakilan Kategorial.
d. Pendeta yang bukan anggota Majelis Klasis menjadi peninjau.
e. Sidang Majelis Klasis Lengkap sah mengambil keputusan bila
dihadiri sekurang-kurangnya 2/3 anggota Majelis Klasis.
(5) Sidang Majelis Klasis Tahunan dilaksanakan pada setiap akhir tahun
program untuk:

[48]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
a. Mengevaluasi pelayanan dan menyelesaikan masalah.
b. Menyusun program dan APBK tahun berikutnya.
(6) Sidang Majelis Klasis Tahunan diikuti oleh:
a. Anggota Majelis Klasis.
b. BPMK, MPK, BPPK, Pendeta yang terikat masa bakti dan 3 orang
pengurus kategorial lingkup klasis
c. Sidang Majelis Klasis Tahunan sah mengambil keputusan bila
dihadiri sekurang-kurangnya 2/3 anggota Majelis Klasis.
(7) Sidang Majelis Klasis dilaksanakan secara bergiliran di jemaat-jemaat
se Klasis.
(8) Sidang Majelis Klasis dilaksanakan berdasarkan tata tertib yang
ditetapkan pada awal persidangan.
(9) BPMK mengundang dan memimpin Sidang Majelis Klasis sampai
terbentuknya pimpinan sidang.
Pasal 37
SIDANG MAJELIS SINODE
(1)Sidang Majelis Sinode adalah forum pengambilan keputusan bagi
Majelis Sinode dalam menetapkan kebijakan pelayanan GTM secara
umum.
(2)Sidang Majelis Sinode Gereja Toraja Mamasa terdiri dari :
a. Sidang Majelis Sinode Am
b. Sidang Majelis Sinode Tahunan.
c. Sidang Majelis Sinode Am Istimewa
(3)Sidang Majelis Sinode Am dilaksanakan pada awal/akhir masa bakti
untuk :
a. Mengevaluasi pelayanan GTM secara umum melalui laporan
pertanggung jawaban BPMS dan BPPS.
b. Menyelesaikan masalah-masalah pelayanan.
c. Menetapkan dasar-dasar kebijakan GTM dan pokok-pokok program
masa bakti berikutnya.
d. Memilih dan menetapkan BPMS GTM, MPS dan BPPS periode
berikutnya.

[49]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(4)Sidang Majelis Sinode Am diikuti oleh:
a. Anggota Majelis Sinode.
b. Peninjau dan Undangan yang ditetapkan oleh BPMS dengan
memperhitungkan keterwakilan Kategorial.
c. BPMS GTM, MPS dan BPPS.
d. Pengurus Inti Kategorial lingkup sinode masing-masing 3 orang
e. Sidang Majelis Sinode Am sah mengambil keputusan bila dihadiri
sekurang-kurangnya 2/3 anggota majelis Sinode.
(5)Sidang Majelis Sinode Tahunan dilaksanakan untuk :
a. Mengevaluasi program pelayanan tahunan GTM melalui laporan
BPMS dan BPPS GTM.
b. Menetapkan Rancangan Program dan APB Tahunan Sinode yang
konsepnya diajukan oleh BPMS GTM.
c. Menyelesaikan masalah-masalah pelayanan.
(6)Sidang Majelis Sinode Tahunan diikuti oleh:
a. Anggota Majelis Sinode
b. Undangan yang ditetapkan oleh BPMS GTM.
c. BPMS GTM, MPS dan BPPS
d. Pengurus Inti Kategorial lingkup sinode masing-masing 3 orang.
e. Sidang Majelis Sinode Tahunan sah mengambil keputusan bila
dihadiri sekurang-kurangnya setengah ditambah satu anggota
Majelis Sinode.
(7)Sidang Majelis Sinode dilaksanakan secara bergiliran di klasis sebagai
penghimpun, yang ditetapkan pada Sidang Majelis Sinode Am.
(8)Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Toraja Mamasa mengundang dan
memimpin Sidang Majelis Sinode sampai terbentuknya pimpinan
sidang.
(9)Sidang Majelis Sinode dilaksanakan berdasarkan tata tertib yang
ditetapkan pada awal persidangan.
(10) .Jika terdapat suatu permasalahan prinsipil yang tidak dapat
diselesaikan pada Sidang Majelis Sinode Tahunan, maka ditetapkan
untuk mengadakan Sidang Majelis Sinode Am Istimewa.

[50]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(11) Sidang Majelis Sinode Am Istimewa dapat dilaksanakan bila disetujui
oleh 2/3 anggota Majelis Sinode yang mencerminkan representasi
klasis se-Gereja Toraja Mamasa.
(12) Sidang Majelis Sinode Am istimewa dilaksanakan di pusat sinode.
(13) Sidang Majelis Sinode Am Istimewa diikuti oleh: Anggota Majelis
Sinode, BPMS, MPS dan BPPS.
(14) BPMS-GTM menyiapkan agenda Sidang Majelis Sinode Am Istimewa.

BAB XI
PELAKSANAAN RAPAT BADAN PEKERJA MAJELIS
DAN RAPAT BADAN PENGAWAS
Pasal 38
RAPAT BADAN PEKERJA MAJELIS JEMAAT
(1) Agar pelaksanaan tugasnya lancar, maka Badan Pekerja Majelis
Jemaat mengadakan rapat kerja yang terdiri dari:
a. Rapat rutin 1 kali tiap bulan.
b. Rapat khusus sesuai kebutuhan.
(2)Rapat rutin dilakukan untuk:
a. Menyusun jadwal kegiatan sebulan.
b. Mengevaluasi pekerjaan.
c. Menyelesaikan masalah-masalah.
d. Mengevaluasi keadaan keuangan.
(3) Jika terdapat hal-hal yang mendesak, BPMJ dapat mengadakan rapat
khusus sesuai kebutuhan.
(4) Rapat BPMJ dipimpin oleh Ketua dan Sekretaris BPMJ.

Pasal 39
RAPAT BADAN PEKERJA MAJELIS KLASIS
(1) Agar pelaksanaan tugasnya lancar, maka BPMK mengadakan rapat-
rapat kerja yang terdiri dari:
a. Rapat rutin.
b. Rapat khusus.
[51]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(2) Rapat rutin minimal 1 kali setiap 3 bulan untuk:
a. Menyusun strategi pekerjaan.
b. Mengevaluasi pelaksanaan program.
c. Menyelesaikan masalah-masalah.
d. Mengevaluasi keadaan keuangan.
(3) Rapat rutin diikuti oleh staf BPMK dan unit-unit yang perlu.
(4) Jika terdapat hal-hal yang mendesak, BPMK dapat mengadakan rapat
khusus sesuai kebutuhan.
(5) Rapat-rapat BPMK dipimpin oleh Ketua dan Sekretaris BPMK.
Pasal 40
RAPAT BADAN PEKERJA MAJELIS SINODE
(1) Agar pelaksanaan tugasnya terarah, maka BPMS GTM melaksanakan
rapat-rapat Kerja yang terdiri dari:
a. Rapat rutin.
b. Rapat khusus.
c. Rapat unit/biro
(2) Rapat rutin terdiri dari:
a. Rapat BPMS Lengkap 1 kali setiap 4 bulan.
b. Rapat teknis BPMS 2 kali tiap bulan.
(3) Rapat BPMS Lengkap diikuti semua anggota BPMS, unit-unit
operasional, biro-biro dan bidang-bidang untuk:
a. Merumuskan pelaksanaan program.
b. Mengarahkan pelaksanaan tugas bagi setiap unit dan biro.
c. Mengevaluasi pekerjaan menyeluruh.
(4) Rapat Teknis BPMS, diikuti oleh semua Anggota BPMS, untuk :
a. Merumuskan kebijakan-kebijakan dalam mengarahkan program.
b. Mengevaluasi masalah-masalah.
c. Mengontrol penyelenggaraan tugas menyeluruh.
d. Mengevaluasi Keadaan Keuangan.
(5) Jika terdapat hal-hal yang mendesak, BPMS GTM dapat
melaksanakan rapat khusus sesuai kebutuhan.
(6) Rapat Bidang, unit dan biro dilakukan sesuai kebutuhan diatur oleh
masing-masing Bidang, unit dan biro.
[52]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(7) Rapat BPMS GTM dipimpin oleh Ketua dan Sekretaris.
(8) Rapat Bidang, unit dan biro dipimpin oleh Ketua Bidang, Unit dan
Biro.
Pasal 41
RAPAT DAN TUGAS BADAN PENGAWAS PERBENDAHARAAN
(1) Dalam arangka pelaksanaan tugasnya, Badan Pengawas
Perbendaharaan pada masing-masing lingkup melaksanakan rapat
kerja pada awal dan akhir kegiatannya.
(2)Badan Pengawas Perbendaharaan mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Melakukan pengawasan dan pemeriksaan, pengendalian dan
pembinaan.
b. Mencari jalan keluar (exit) atas temuan.
BAB XII
ATURAN PERALIHAN DAN TAMBAHAN
Pasal 42
ATURAN PERALIHAN
Dengan ditetapkannya Tata Rumah Tangga yang baru ini, maka Tata
Rumah Tangga yang lalu dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 43
ATURAN TAMBAHAN
(1) Hal-hal bersifat teknis yang belum diatur dalam Tata Dasar dan Tata
Rumah Tangga ini diatur dalam Tata Laksana dan pedoman-pedoman
pelayanan kategorial.
(2) Struktur Badan Pekerja dan Kelembagaan adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari Tata Rumah Tangga ini.
Pasal 44
PERUBAHAN TATA RUMAH TANGGA
Perubahan Tata Rumah Tangga hanya dapat dilaksanakan oleh Sidang
Majelis Sinode Am berdasarkan usul dari setengah ditambah satu anggota
majelis sinode dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 anggota
Majelis Sinode Am GTM yang hadir.

[53]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
PENJELASAN
TATA RUMAH TANGGAGEREJA TORAJA MAMASA

BAB I
Pasal 1

Rumusan tentang makna lambang adalah upaya pemaknaan agar


penggunaannya sekaligus menjadi komitmen hidup yang melandasi
keberadaan Gereja Toraja Mamasa beserta seluruh warganya.
BAB II
Pasal 2

Tentang nyanyian yang digunakan dalam kebaktian GTM, diatur dalam


buku Himpunan Keputusan Sidang Sinode Am XVIII dan buku
liturgi/formulir GTM.
Pasal 3
1. Hari Raya Gerejawi adalah hari-hari yang dirayakan untuk
memperingati tonggak-tonggak peristiwa penting dalam rangka karya
penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus dan Roh Kudus.
2. Tradisi perayaan Natal, Paskah, dan Pentakosta hari kedua tidak
dimutlakkan tetapi dilakukan sesuai kondisi sebagai bentuk perayaan
yang menyertai pelaksanaan hari-hari raya gerejawi tersebut.
3. Tradisi pemasangan Pohon Terang (lilin Natal) dilaksanakan pada
tanggal 25 Desember malam.
4. Dan masih bisa dilaksanakan pada hari lain sesudah tanggal 25
Desember.
Pasal 4
1. Tahun baru 1 Januari dan akhir tahun 31 Desember tidak termasuk
Hari Raya Gerejawi sehingga dikategorikan sebagai Hari Raya Khusus
Gerejawi.

[54]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
2. Hari-hari khusus yang dirayakan berdasarkan kesepakatan oikumenis
misalnya:
a. HUT PGI, Hari PI se-Indonesia dan lain-lain;
b. Hari PI se-Dunia, Perjamuan Kudus se-Dunia dan lain-lain.
3. Harihari khusus yang dirayakan berdasarkan ketetapan dalam
Lingkup GTM misalnya: HUT GTM, HUT Klasis, HUT Jemaat, Hari PI
GTM, Hari Kesehatan GTM dan lain-lain.
Pasal 5 jelas
Pasal 6 jelas
Pasal 7
Ayat (5) yang dimaksud dengan kelainan fisik adalah anggota jemaat yang
oleh karena keadaannya mempunyai keterbatasan beraktifitas secara
bebas karena cacat tubuh. Yang tentunya selaku warga jemaat juga
mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan termasuk yang tuna rungu
dan tuna wicara.
Pasal 8
1. Ayat 1-6a, jelas.
2. Ayat 6.b.
3. Ayat 6.c. yang dimaksud terjamin secara hukum adalah perceraian
yang dibuktikan dengan putusan Pengadilan atau keterangan resmi
dari pemerintah.
4. Ayat 10,
Pelayanan khusus yang dimaksudkan dapat berupa kebaktian,
pelayanan doa, perkunjungan dan bimbingan.
Pasal 9 jelas
Pasal 10 jelas
Pasal 11 jelas
Pasal 12
Kesaksian dan pelayanan kasih yang dilakukan atas nama Lembaga Gereja
Toraja Mamasa, dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk konkret seperti:

[55]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
1. Gereja Toraja Mamasa memprakarsai lahirnya suatu konsep
kemanusiaan yang sesuai dengan kehendak Pencipta yang hakiki.
2. Gereja Toraja Mamasa memprakarsai perlawanan terhadap
pemiskinan secara struktural dan penyakit sosial
3. Mendorong prakarsa kemandirian warga masyarakat
4. Memperjuangkan dan membela hak-hak sipil dan politik warga
masyarakat.
5. Melawan terjadinya eksploitasi manusia dan sumber daya alam.
6. Gerakan cinta lingkungan.
7. Gerakan cinta desa (hal ini dimaksudkan untuk memelopori adanya
gerakan bersama untuk kembali ke desa dan memeliharanya sebagai
eden pemberian Tuhan sehingga generasi muda tidak tergiur untuk
pindah ke kota mencari pekerjaan di sektor non formal).

BAB III
Pasal 12
a. Pasal 13 Ayat 1 -2a, jelas.
b. Pasal 13 Ayat 2.b.3.
Demi kelancaran pengajaran dan pembinaan kepada kaum bapa dapat
ditunjuk koordinator di jemaat dan klasis.
c. Pasal 13 Ayat 2.b.4.
Kelompok profesi yang dimaksud antara lain: pengusaha, intelektual,
para medis, dll.)
d. Pasal 13 Ayat 2.c. jelas

BAB IV
Pasal 14 jelas
Pasal 15 jelas
Pasal 16 jelas
Pasal 17 jelas

[56]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
BAB V
Pasal 18
1. Tidak semua warga GTM yang mengikuti pendidikan teologi otomatis
menjadi calon pendeta GTM.
2. Pemanggilan/pengurapan pendeta tidak dilakukan berdasarkan
permintaan jemaat atau pribadi tertentu, tetapi berdasarkan
kebutuhan pelayanan di GTM atau lembaga lain yang meminta tenaga
pendeta melalui BPMS GTM.
3. Tidak diperlukan lagi panitia yang mengurus pemanggilan pendeta,
kecuali panitia penyelenggara acara pengurapan berdasarkan
kesepakatan BPMS dengan Majelis Jemaat di mana pengurapan
dilakukan.
4. Pasal 18 Ayat 4 - 5, jelas
5. Pasal 18 Ayat 6, a.3.
Yang dimaksud dengan tunjangan lainnya adalah transport pelayanan,
tunjangan hari raya (THR), tunjangan fungsional dan tunjangan
komunikasi.
6. Pasal 18 Ayat 6.d
Yang dimaksud dengan pendeta tugas khusus ialah pendeta GTM yang
diberikan tugas oleh BPMS GTM untuk beberapa waktu lamanya di luar
dari jemaat, klasis dan sinode. Contoh dari pendeta khusus, yaitu: TUG
yang ditempatkan di POUK, gereja, tenaga pengajar dan lembaga-
lembaga yang dianggap perlu.
7. Pasal 18 Ayat 7 8.c jelas.
8. Pasal 18 Ayat 8.4.
Kebaktian emiritasi dilakukan di jemaat dimana pendeta mengahiri
masa bakti wajib pelayanan dan atau di lembaga dimana dia sedang
melayani. Kebaktian emiritasi hanya dilakukan bagi pendeta yang
pensiun pada umur 65 tahun sesuai Tata Dasar dan Tata Rumah
Tangga GTM.
9. Pasal 18 Ayat 9.d.
Yang dimaksud dengan pendeta yang beralih tugas ke jabatan lain ialah
pendeta yang sengaja dan sadar mengingkari janji dan mengambil
[57]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
tugas diluar tugas pokok sebagai pendeta GTM. Apabila yang
bersangkutan ingin kembali pada masa bakti wajib pelayanan pendeta
maka ia harus mengajukan permohonan dan golongannya dihitung
mulai pada saat beralih tugas.

Pasal 19
1. Pemilihan penatua dan syamas dilakukan bersamaan artinya dilakukan
pada satu waktu. Ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu:
a.Masing-masing Jabatan disiapkan calon, jadi ada dua kelompok
calon.
b.Untuk semua jabatan dikumpulkan semua calon, lalu dari kumpulan
calon itu dipilih masing-masing jabatan secara bergantian.
c. Bagi jemaat yang pendetanya tidak menetap, dapat menetapkan
seorang guru jemaat yang dipilih oleh majelis jemaat dari salah
seorang penatua
2. Pasal 19 ayat 2a-e jelas.
3. Pasal 19 Ayat 2f.
Bagi yang sudah berkeluarga keduanya (suami/isteri) dapat dicalonkan
menjadi penatua dan syamas yang terdaftar dalam satu jemaat.

4. Pasal 19 ayat 3a-9c jelas.


Pasal 20
1. Penggunaan toga besar, toga mini dan stola, warnanya disesuaikan
dengan kalender gerejawi sebagaimana yang diatur dalam Formulir
dan Liturgi GTM.
2. Stola adalah pakaian jabatan dan pakaian pelayanan. Sebagai stola
jabatan maka yang wajib menggunakannya adalah pejabat gerejawi,
yakni pendeta, penatua, syamas yang disebut Majelis Jemaat. Stola
jabatan tersebut digunakan setiap hari Minggu, baik yang bertugas
maupun tidak, kerena fungsinya sebagai stola jabatan. Sebagai stola
pelayanan maka wajib digunakan oleh setiap pelayan firman

[58]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
(termasuk vikaris atau mahasiswa KKL) sebagai tanda penyerahan
tanggung jawab, kepercayaan, dan kontrol Majelis Jemaat.
3. Pasal 20 ayat 2
Yang dikategorikan pelayanan khusus ialah pelayanan sakramen,
pengurapan, peneguhan-peneguhan, penahbisan, peletakan batu gereja
dan pelayanan rohaniwan. Pendeta yang memimpin kebaktian hari
Minggu, hari raya gerejawi, kebaktian rumah tangga, dan kebaktian
insidentil lainnya menggunakan toga besar atau toga mini.
3. Pasal 20 ayat 4.
Stola digunakan oleh pelayan pada kebaktian, syukur, penghiburan,
pelepasan jenazah dan rumah tangga.
Yang dimaksud dengan pelayan adalah Majelis Gereja secara umum,
dan juga pelayan yang melayani pelayanan ibadah termasuk vikaris
atau pelayan dari gereja lain yang melayani kebaktian jemaat.

BAB VI
Pasal 21 jelas
Pasal 22 jelas
Pasal 23 jelas

Pasal 24
1. Pasal 24 ayat 6.
Seseorang yang dinyatakan terikat dan diumumkan di hadapan jemaat,
untuk sementara tidak diperkenankan mengikuti sakramen, menjadi
saksi baptisan, tidak berhak dipilih dan memilih majelis dan semua
kepengurusan/kepanitiaan gereja. Semua bentuk kebaktian dan
permintaan pelayanan dari yang bersangkutan tetap dilaksanakan.
Pasal 25 jelas

BAB VII
Pasal 26
1. Pasal 26 ayat 1-2 jelas

[59]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
2. Pasal 26 ayat 3
Bagi majelis jemaat yang dikenakan tertib gerejawi tidak otomatis
digantikan sebelum selesai proses tertib gerejawinya.

Pasal 27
1. Pasal 27 ayat 1.b.
Cabang Kebaktian dan bakal jemaat dapat mempunyai penanggung
jawab pelayanan dan alat kelengkapan administrasi (seperti kop surat,
stempel dan lain-lain) atas persetujuan jemaat induk. Pengelolaan
administrasi dan keuangan cabang dan bakal jemaat mengikuti
pedoman administrasi dan persembahan sesuai keputusan SMSA dan
tetap melaporkannya ke jemaat induk.

Pasal 28 jelas
Pasal 29
1. Pasal 29 Ayat 1.a.
Yang dimaksud dengan jemaat berdekatan artinya tidak berselang
seling dengan jemaat-jemaat dari klasis lain dan berada dalam
geografis yang sama. Pemekaran klasis dapat dilakukan jika tidak
mengganggu keberadaan klasis induk dan klasis lain.
2. Pasal 29 Ayat 1.b.
Potensi dana yang dimaksudkan ialah mampu memanggil minimal
seorang pendeta dan bisa memenuhi kewajiban keuangan ke klasis dan
sinode.

Pasal 30
1. Pasal 30 Ayat 1-2, jelas
2. Pasal 30 ayat 3.
Hal-hal lain yang memerlukan pengaturan lebih lanjut diserahkan
kepada kebijakan BPMS GTM.

[60]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
BAB VIII
Pasal 31
1. Pasal 31 ayat 1.c.
Terkait pembiayaan Klasis dan jemaat seperti yang dimaksudkan, hal
ini bukan berarti membatasi sikap membantu dalam hal pelayanan
antar jemaat dan Klasis di lingkup GTM.

BAB IX
Pasal 32
1. Pasal 32 ayat 3.
Perangkat fungsional dimaksud adalah pembidangan-pembidangan
pelayanan yang menjadi kebutuhan jemaat.
2. Pasal 32 ayat 4
Tugas Badan Pengawas Perbendaharaan Jemaat (BPPJ) adalah
Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas seluruh kekayaan gereja
dan kekayaan organisasi kategorial pada lingkup jemaat.
3. Pasal 32 ayat 5
- Masukan dari Majelis Pertimbangan dapat menjadi referensi untuk
menentukan kebijakan pelayanan, sehingga tidak otomatis harus
dilaksanakan. Jumlah personil MPJ terdiri atas 3 (tiga) orang, yakni:
ketua merangkap anggota, sekretaris merangkap anggota dan anggota.
- Tugas Majelis Pertimbangan Jemaat (MPJ) adalah:
Memberikan masukan dan pertimbangan diminta atau tidak,
kepada Badan Pekerja Majelis Jemaat, Badan Pengawas
Perbendaharaan Jemaat dan pengurus kategorial jemaat
Menjadi penasihat dalam persidangan gerejawi di lingkup
jemaat.
- Majelis Pertimbangan Jemaat (MPJ) terdiri dari pendeta, penatua,
syamas.
- Sidang Majelis Jemaat Tetap dilaksanakan sebelum Sidang Mjelis
Sinode Am XIX, sehingga dalam membentuk Majelis Pertimbangan
Jemaat (MPJ) mengacu pada Tata Rumah Tangga 2011-2016.
[61]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
Penjelasan Tata Rumah Tangga 2011-2016 mengatur bahwa yang
dapat dipilih Majelis Pertimbangan Jemaat (MPJ) adalah tua-tua
jemaat atau orang-orang yang mampu memberi pertimbangan demi
kemajuan pelayanan. Mereka bukan berasal dari kalangan penutua
dan syamas. Karena itu, Majelis Pertimbangan Jemaat yang bukan
majelis (pendeta, penatua, Syamas) tetap dipertahankan sampai
periodenya berakhir. Kata majelis dlam pasal ini mengandung arti
lembaga/badan/dewan, bukan dalam arti jabatan gerejawi (pendeta,
penatua, syamas)
4. Pasal 32 ayat 9
Yang dimaksud adalah Kepanitiaan-kepanitiaan termasuk tim kerja.

Pasal 33
1. Pasal 33 ayat 5
Tugas Badan Pengawas Perbendaharaan Klasis (BPPK) adalah:
- Melakukan pengawasan, pengendalian, pemeriksaan, dan
pembinaan atas seluruh kekayaan gereja dan kekayaan organisasi
kategorial pada lingkup klasis.
- Melakukan pembinaan mengenai pengelolaan keuangan kepada
Bendahara Jemaat dan BPP Jemaat.
2. Pasal 33 ayat 6.
- Masukan dari Majelis Pertimbangan dapat menjadi referensi untuk
menentukan kebijakan pelayanan, sehingga tidak otomatis harus
dilaksanakan. Mereka yang dipilih menjadi MPK adalah peserta
Sidang Majelis Klasis yang mampu memberikan pertimbangan demi
kemajuan pelayanan. Jumlah personil MPK terdiri atas 3 (tiga) orang
yakni: ketua merangkap anggota, sekretaris merangkap anggota dan
anggota.
- Tugas Majelis Pertimbangan Klasis (MPK) adalah:

[62]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
Memberikan masukan dan pertimbangan kepada Badan Pekerja
Majelis Klasis, Badan Pengawas Perbendaharaan Klasis dan
pengurus kategorial Klasis
Menjadi penasihat dalam persidangan gerejawi di lingkup klasis.
- Majelis Pertimbangan Klasis (MPK) terdiri dari pendeta, penatua,
syamas.
3. Pasal 33 ayat 10
Yang dimaksud adalah kepanitiaan-kepanitiaan, termasuk tim kerja.

Pasal 34
1. Pasal 34 ayat 6.
Masukan dari Majelis Pertimbangan dapat menjadi referensi untuk
menentukan kebijakan pelayanan, sehingga tidak otomatis harus
dilaksanakan. Mereka yang dipilih menjadi MPS adalah Peserta sidang
majelis Sinode yang mampuh memberikan pertimbangan demi
kemajuan pelayanan. Jumlah personil MPS terdiri atas 3 (tiga) orang
yakni: Ketua merangkap anggota, sekretaris merangkap anggota dan
anggota.
2. Pasal 34 ayat 9
Yang dimaksud adalah Kepanitiaan-kepanitiaan termasuk Tim Kerja

BAB X
Pasal 35
1. Pasal 35 ayat 3.a.1.
BPMJ, MPJ dan BPPJ dilantik oleh pimpinan sidang pada akhir
persidangan.
2. Pasal 35 ayat 3.a.2.
Bagi jemaat yang belum mempunyai pendeta yang diutus adalah
penatua dan syamas.

[63]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202
Pasal 36
1. Pasal 36 ayat 3.a.1.
BPMK, MPK dan BPPK dilantik oleh pimpinan sidang pada akhir
persidangan.

Pasal 37
1. Pasal 37 ayat 3.d.
BPMS, MPS dan BPPS dilantik oleh pimpinan sidang pada akhir
persidangan.
2. Pasal 37 ayat 4.b.
Yang masuk sebagai peninjau ialah pendeta pelayan jemaat, pendeta
jemaat-jemaat, dan vikaris.
3. Pasal 37 ayat 12.
Pembiayaan Sidang Sinode Istimewa anggarannya ditanggung oleh
peserta

BAB XI
Pasal 38 jelas
Pasal 39 jelas
Pasal 40 jelas
Pasal 41 jelas

BAB XII
Pasal 42 jelas
Pasal 43 jelas
Pasal 44 jelas

[64]
Tata Dasar Tata Rumah Tangga GTM- SMSA XIX 2016, diterbitkan oleh BPMS-GTM 2016/202

GEREJA TORAJA MAMASA

B U K U
TATA DASAR DAN
TATA RUMAH TANGGA
GEREJA TORAJA MAMASA

[65]