Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pencemaran Tanah Oleh Limbah Minyak Bumi

Pencemaran tanah adalah suatu keadaan yang terjadi karena perubahan

kondisi tata lingkungan yang merugikan kehidupan mahluk hidup yang disebabkan

oleh kehadiran zat-zat asing sehingga tanah tidak dapat dimanfaatkan sebagai

peruntukkannya (Susilo, 2003). Minyak bumi dan turunannya merupakan salah satu

contoh zat pencemar dari hidrokarbon yang banyak digunakan oleh manusia dan

berpotensi mencemari lingkungan (Notodarmojo, 2005).

Menurut Bishop (1984) dalam Suryatmana (2006) menyatakan bahwa

pencemaran lingkungan oleh minyak bumi dapat berasal dari:

a. Tumpahan minyak pada lahan akibat proses distribusi minyak melalui pipa

dan alat transportasi.

b. Timbunan limbah dari hasil kegiatan usaha minyak bumi yang dapat

mencemari tanah di sekitar dan merembes ke dalam aliran air tanah.

c. Limbah pengeboran berupa lumpur bor serta serbuk bor yang mengandung

residu minyak.

d. Instalasi pengolahan air limbah (separator, oil catcher, disolve air flotation,

chemical unit, free water knock out) yang mengolah air limbah pada usaha

minyak dan gas bumi.

e. Tangki pemisah atau tangki penimbun minyak tanah (floating storage,

tanker, storage tank).

12
13

f. Buangan dari hasil pembersihan alat-alat proses pada kegiatan usaha

minyak dan gas bumi.

g. Pengeboran minyak lepas pantai memberikan kontribusi pencemaran secara

terus menerus dari kebocoran sumur pengeboran di dasar laut, juga dapat

berupa ceceran dari distribusi minyak dari sumur ke kapal tanker dan dari

kapal ke daratan.

2.2 Limbah Minyak Bumi (Crude Oil)

Limbah minyak bumi atau crude oil merupakan salah satu bentuk limbah

dari proses industri pengilangan minyak bumi yang tergolong ke dalam bahan

berbahaya dan beracun (B3) sehingga dibutuhkan pengolahan atau penanganan

sebelum dibuang ke lingkungan.

Limbah minyak bumi tersusun dari berbagai senyawa hidrokarbon berantai

C2 sampai C44 yang terdiri dari jenis hidrokarbon alifatik dan poliaromatik.

Kandungan senyawa yang terdapat dalam minyak bumi antara lain benzena,

toluena, etilbenzena, xylena, dan logam logam berat berpotensi karsinogenik.

Senyawa-senyawa ini bersifat toksik dan sangat sulit terdegradasi (Suryatmana dan

Setyawati, 2012). Menurut Hadi (2004), minyak bumi mengandung senyawa

nitrogen 0-0,5%, belerang 0-6%, dan oksigen 0-3,5%. Unsur karbon merupakan

komponen terbesar penyusun minyak bumi, dan komponen ini yang merupakan

sumber energi utama dunia sekaligus merupakan salah satu sumber pencemar.

Secara spesifik hidrokarbon minyak bumi merupakan senyawa organik

yang terdiri dari rangkaian atom karbon dan hidrogen, dengan jumlah tertentu dan
14

digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu hidrokarbon alifatik, hidrokarbon alisiklik,

dan hidrokarbon aromatik. Hidrokarbon alifatik atau disebut juga parafin adalah

senyawa yang mempunyai rantai atom karbon terbuka. Hidrokarbon alifatik terdiri

dari alkana, alkena dan alkuna. Hidrokarbon alisiklik adalah senyawa yang

umumnya berbentuk cincin, bersifat stabil dan tahan terhadap oksidasi.

Hidrokarbon alisiklik terdiri atas sikloalkana, sikloalkena dan sikloalkuna.

Hidrokarbon aromatik merupakan senyawa yang sangat kompleks, termasuk

diantaranya senyawa-senyawa aromatik dengan substitusi mono, di dan poli alkil

maupun tanpa substitusi. Hidrokarbon aromatik mempunyai cincin sederhana atau

tunggal, sebagai contoh benzen terdiri dari 6 atom karbon yang berikatan ganda dan

tunggal serta cincin ganda seperti naftalen (Speight, 1980 dalam Pagoray, 2009).

2.3 Bioremediasi Tanah Tercemar Minyak Bumi

Bioremediasi adalah aplikasi dari prinsip-prinsip proses biologi untuk

perlakuan pada groundwater, tanah dan sludge yang terkontaminasi oleh limbah

bahan kimia berbahaya dan beracun (Cookson, 1996). Bioremediasi mempunyai

tiga komponen utama yang meliputi makanan (nutrient atau substrat), organisme,

dan faktor lingkungan. Makanan berupa senyawa hidrokarbon yang

mengontaminasi lingkungan nantinya akan dilenyapkan sebagai sumber energi

selama proses bioremediasi. Organisme merupakan agen biologis terutama

mikroorganisme yang mampu mendegradasi kontaminan dalam lingkungan, faktor

lingkungan merupakan kondisi yang diperlukan untuk mendukung proses

mikroorganisme dalam mendegradasi kontaminan (Shukla dkk., 2011).


15

Berikut beberapa metode bioremediasi yang digunakan dalam penelitian ini

dibandingkan metode yang lainnya karena efektif dalam segi pelaksanaan, biaya,

dan lingkungan untuk mengurangi pencemaran limbah minyak bumi pada tanah:

2.3.1 Landfarming

Landfarming merupakan salah satu jenis kategori bioremediasi yang dapat

mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk pembersihan lahan yang

terkontaminasi dibandingkan dengan secara fisika, kimia, dan biologi. Landfarming

sering juga disebut dengan Landtreatment atau landapplication ini membutuhkan

penggalian dan penempatan pada tumpukan-tumpukan tanah. Tumpukan-

tumpukan itu secara berkala dipindahkan untuk dicampur dan diatur

kelembabannya. Cara ini merupakan salah satu teknik bioremediasi yang dilakukan

di permukaan tanah dan prosesnya memerlukan kondisi aerob. Bioremediasi

dengan teknik landfarming telah dilakukan untuk mengatasi tanah tercemar limbah

minyak berat pada industri minyak PT Chevron Pacific Indonesia (Charlena, 2010).

Menurut Desrina (2011), teknik landfarming merupakan metode yang seringkali

dipilih untuk tanah yang terkontaminasi hidrokarbon, karena relatif lebih murah,

dan berpotensi tinggi berhasil.

Prinsip penerapan teknik landfarming adalah berupa aerasi yang terjaga

dengan penambahan bulking agent (Munawar, 2012). Beberapa faktor yang perlu

diperhatikan dalam melakukan teknik ini, yaitu kondisi lingkungan, kondisi tanah

yang tercemar, pencemar, dan pelaksanaan teknik landfarming. Panas yang terik

dapat mengakibatkan tanah cepat mengering, maka kelembaban harus selalu dijaga
16

dengan penyiraman. Sebaliknya pada musim hujan, tanah menjadi terlalu jenuh air,

sehingga menghambat biodegradasi pencemar karena aerasi terhambat.

2.3.2 Bioaugmentasi

Bioaugmentasi merupakan teknik bioremediasi dengan menambahkan

mikroorganisme pemulih lingkungan yang tercemar terhadap tanah. Walaupun

mikroorganisme pendegradasi hidrokarbon tersebar luas di alam, bioaugmentasi

dianggap sebagai strategi untuk mempercepat proses bioremediasi minyak sejak

tahun 1970 (Udiharto, 1996). Teknik ini sering digunakan contohnya seperti yang

dilakukan bioremediasi limbah minyak di Cepu dengan menggunakan bakteri

Bacillus sp. (Komar dan Irianto, 2000). Menurut Gossalam (1999), ada beberapa

faktor yang mensyaratkan penggunaan mikroorganisme selektif tersebut seperti

mikroorganisme indigenus hanya mampu merombak polutan dengan kecepatan

sangat rendah; mikroorganisme asli (indigenus) perombak polutan pada lingkungan

bersangkutan jumlahnya tidak banyak; lingkungan telah tercemar berat sehingga

perlu dilakukan pemulihan populasi mikroorganisme; bila kecepatan perombak

polutan menjadi faktor tertentu; dan jika waktu dan biaya yang tersedia untuk

melakukan bioremediasi hanya sedikit.

2.3.3 Biostimulasi

Biostimulasi adalah suatu proses yang dilakukan melalui penambahan

nutrisi tertentu yang dibutuhkan oleh mikroorganisme (nutrient dan oksigen) atau

menstimulasi kondisi lingkungan sedemikian rupa agar mikroorganisme tumbuh


17

dan beraktivitas lebih baik. Metode bioremediasi yang dilakukan dengan

penambahan nutrisi digunakan untuk mendegradasi pencemar limbah minyak,

dengan penambahan N dan P (Kitts dan Kaplan, 2004). Nutrien dan oksigen dalam

bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam tanah yang tercemar untuk merangsang

pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme yang telah ada di dalam tanah tersebut

untuk mendegradasi limbah. Namun sebaliknya, jika kondisi yang dibutuhkan

tidak terpenuhi, mikroba akan tumbuh dengan lambat atau mati. Terdapat Berbagai

bahan yang dapat digunakan sebagai biostimulan yang diantaranya pupuk NPK,

pupuk organik, kompos, dan bahan yang memiliki kandungan hara nitrogen dan

fosfor (Cookson, 1996; Pagoray, 2009; Aliyanta dkk., 2011).

2.4 Proses Biodegradasi Limbah Minyak Bumi

Tingkat keberhasilan pada proses biodegradasi hidrokarbon di dalam tanah

bergantung pada kondisi lingkungan terhadap mikroba, kondisi yang dimaksud

adalah dalam hal oksigen, kelembaban, pH tanah, temperatur dan nutrisi yang

dibutuhkan oleh mikroba. Proses biodegradasi membutuhkan oksigen yang

berperan sebagai akseptor elektron untuk menampung kelebihan elektron dari

reaktan lainnya, jika oksigen habis dapat dilakukan pengadukan atau pembalikan

tanah yang tercemar tersebut (Munawar, 2012). Tingkat kelembaban yang baik

dalam proses biodegradasi adalah sekitar 80% kapasitas lapang dan pH di atas 5

(Cookson, 1996).
18

Bioremediasi berlangsung akibat aktivitas enzim yang di suplai oleh

mikroorganisme untuk mengkatalis pemusnahan bahan kontaminan. Reaksi kimia

tersebut merupakan reaksi oksidasi reduksi yang penting untuk menghasilkan

energi bagi mikroorganisme. Bioremediasi membutuhkan kehadiran sumber energi

yang sesuai, donor akseptor elektron, dan nutrient. Air dibutuhkan karena mikroba

mendapatkan karbon organik, nutrient inorganik, dan aseptor elektron untuk

pertumbuhannya dalam kondisi terlarut. Aseptor elektron untuk pertumbuhannya

dalam kondisi terlarut. Aseptor elektron terakhir yang banyak digunakan oleh

mikroba dalam sistem respirasinya adalah oksigen. Ketersediaan oksigen terbatas,


- -
mikroba dapat menggunakan aseptor elektron yang lain diantaranya NO3 , NO2 ,

SO42- dan CO2 (Munawar, 2012).

Gambar 2.1 Proses Biodegradasi Hidrokarbon (Sumber: Cookson, 1996)

Proses biodegradasi hidrokarbon berawal dari molekul induser

menstimulasi mikroorganisme untuk memproduksi enzim. Enzim tersebut

menyebabkan oksidasi awal dari hidrokarbon dan menghasilkan molekul alkohol.

Kemudian molekul induser menstimulasi mikroorganisme untuk memproduksi

enzim yang lain yang menyebabkan oksidasi dari alkohol untuk menghasilkan

aldehide. Selanjutnya molekul induser menstimulasi mikroorganisme untuk


19

memproduksi enzim yang lain yang menyebabkan oksidasi dari aldehida yang

menghasilkan asam lemak organik, dan seterusnya. Alkohol-alkohol dan aldehide-

aldehide tersebut adalah pelarut organik (solvent), sedangkan asam lemak organik

tersebut beraksi sebagai surfaktan.

2.5 Peran Agen hayati dalam Bioremediasi Limbah Minyak Bumi

Kehadiran hidrokarbon di alam menyebabkan terseleksinya jenis

mikroorganisme dan sistem enzim tertentu yang mampu membantu dan

mendegradasi komponen tersebut. Namun, tidak semua jenis senyawa ini dapat di

degradasi dalam tingkat atau laju yang sama (Munawar, 2012). Pada umumnya

hidrokarbon akan digunakan sebagai sumber energi pada aktivitas mikroorganisme.

Tabel 2.1 Jenis Mikroorganisme Pendegradasi Hidrokarbon

Mikroorganisme Petrofilik
Bakteri Jamur
Pseudomonas Chytridomycetes
Aeromonas Oomycetes
Acinetobacter Zygomycota
Actinomyces Basidiomycota
Aeromonas Deuteromycota
Alcaligenes Zygomycota
Arthrobacter Microalga
Bacillus Porphyridium
Brevibacterium Petalonia
Corynebacterium Diatoms
Flavobacterium Chlorella
Spirillum Dunaliella

Sumber : Cerniglia (1992) dalam Rosenberg dkk (2003); Cookson (1996)


20

Bioremediasi yang dilakukan pada kontaminan minyak bumi bertujuan

untuk meningkatkan laju alamiah biodegradasi hidrokarbon yang menghasilkan

produk akhir bersifat non toksik (Munawar, 2012). Berikut beberapa

mikroorganisme yang digunakan dalam bioremediasi limbah minyak bumi pada

tanah :

2.5.1 Azotobacter vinelandii

Azotobacter merupakan genus rizhobakteri yang dikenal sebagai agen

penambat nitrogen yang mengkonversi dinitrogen (N2) ke dalam bentuk ammonium

(NH4+) dalam jumlah yang cukup tinggi. Aktivitas fiksasi nitrogen oleh genus

Azotobacter sangat bergantung pada sumber energi yang tersedia. Sumber karbon

yang dapat dimanfaatkan oleh Azotobacter vinelandii diantaranya CO2, alkohol dan

asam organik serta karbon seperti glukosa, fuktosa dan sukrosa. Pada medium yang

sesuai, Azotobacter mampu menambat 10-20 mg nitrogen gula (Wedhastri, 2002).

Azotobacter memiliki kemampuan dalam mengeksresikan produk ekstrasel dalam

kapasitas tinggi. Ekstrasel yang dihasilkan Azotobacter terdiri dari kelompok

eksopolisakarida (EPS) dan asam organik fraksi asam lemak serta biosurfaktan.

Senyawa penyusun yang dikandung biosurfaktan di dominasi oleh kelompok asam

lemak seperti asam dodekanoat, n-dodekanoat, asam dekanoat metil ester dan asam

oktadekanoat (Suryatmana dkk., 2006).

Menurut Vater dkk (2002) menyatakan bahwa asam lemak yang dihasilkan

Azotobacter merupakan kelompok senyawa yang efektif berfungsi sebagai

biosurfaktan. Kegiatan biosurfaktan tergantung pada konsentrasi senyawa aktif


21

permukaan critical micelle concetration (CMC) yang diperoleh. Biosurfaktan dapat

meningkatkan efektifitas bioremediasi hidrokarbon melalui dua mekanisme, yaitu

dengan meningkatkan bioavabilitas substrat bagi mikroorganisme dan

meningkatkan interaksi antara sifat hidrofobik permukaan zat dengan permukaan

sel mikroba. Biosurfaktan mengurangi tegangan antar permukaan senyawa tidak

larut, sehingga dapat meningkatkan biodegradasi hidrokarbon (Pacwa dkk., 2011).

2.5.2 Pseudomonas sp.

Pseudomonas sp. merupakan bakteri gram negatif dengan sel berbentuk

batang, berukuran 0,5-0,8 m x 1-3 m yang dapat melarutkan fosfat di dalam

tanah menjadi tersedia untuk tanaman dengan cara melepas P dari ikatan Fe, Mn,

Al, Ca dan Mg (Rao, 1994).

Pseudomonas sp. merupakan bakteri yang mampu mendegradasi

hidrokarbon, senyawa hidrokarbon diubah menjadi molekul organik yang dapat di

metabolisme oleh sel bakteri yaitu menjadi asam lemak yang berfungsi sebagai

substrat penghasil energi untuk pertumbuhannya. Pseudomonas mampu

menggunakan lebih dari 90 jenis senyawa organik sebagai sumber karbon dan

energinya. Mikroorganisme pendegradasi hidrokarbon tersebut terdapat di

permukaan, sub permukaan tanah, maupun formasi batuan yang sangat dalam

(Baker dan Herson, 1994). Menurut Zhang dkk (2007) dalam Suryatmana (2006)

menyebutkan bahwa Pseudomonas sp. dapat menghasilkan biosurfaktan dalam

proses biodegradasi crude oil.


22

2.5.3 Jamur Petrofilik

Fungi atau Jamur adalah organisme yang mempunyai inti, spora, tidak

berklorofil, dinding sel terdiri atas selulosa, khitin atau kombinasi keduanya,

berbentuk filamen atau benang-benang bercabang yang bersekat atau tidak bersekat.

Jamur dapat tumbuh pada berbagai habitat dan tidak dapat memproduksi

makanan sendiri (heteretrof), oleh karena itu jamur memanfaatkan sumber nutrisi

dari sumber eksternal di sekitar tempat hidupnya. Jamur hidup dengan cara

mengambil zat-zat makanan, seperti selulosa, glukosa, lignin, protein, dan senyawa

pati dari organisme lainnya. Dengan bantuan enzim yang diproduksi oleh hifa,

dekomposisi molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga bahan

organik menjadi senyawa yang dapat diserap untuk pertumbuhan (Alexopoulus

dkk., 1996).

Jamur Petrofilik memiliki mekanisme degradasi yang berbeda dengan

bakteri. Bakteri menguraikan senyawa organik polutan dengan cara mennyerap

senyawa tersebut ke dalam selnya, sedangkan jamur memanfaatkan enzim

pendegradasi yang disekresikan dari miselianya, atau disebut enzim ekstra seluler.

Dengan demikian, proses biodegradasi terjadi di luar jamur. Golongan jamur yang

berfungsi dalam mendegradasi hidrokarbon poliksiklik aromatik umumnya berasal

dari genus Phanerochaete, Cunninghamella, Penicillium, Candida,

Sporobolomyces, Cladosporium. Jamur dari golongan Deuteromycota (Aspergillus

niger, Penicillium glabrum, P. janthinellum, Zygomycete, Cunninghamella

elegans), Basidiomycetes (Crinipellis stipitaria) diketahui juga dapat mendegradasi

hidrokarbon polisiklik aromatik (Waluyo, 2005).


23

2.5.4 Actinomycetes

Actinomycetes adalah bakteri gram positif filamentus yang bersifat aerob.

Bakteri ini memiliki morfologi yang mirip dengan fungi yaitu memiliki miselium.

Actinomycetes memiliki kadar GC (Guanin dan Sitosin) yang tinggi berkisar antara

57-75% (Dilip dkk., 2013).

Karakteristik Actinomycetes secara mikroskopis ditandai dengan bentuk

filamen bercabang atau batang dan memiliki hifa tidak bersekat. Miselium dapat

bercabang atau tidak bercabang, lurus atau berbentuk spiral. Spora berbentuk bola,

silinder atau oval (Sharma, 2014). Dinding sel Actinomycetes memiliki struktur

kaku yang berperan dalam mempertahankan bentuk sel dan mencegah pecahnya sel

karena tekanan osmotik tinggi (Yokota, 1997).

Populasi Actinomycetes telah di identifikasi sebagai salah satu kelompok

utama populasi tanah. Yokota (1997) menemukan bahwa sekitar 100 genus

Actinomycetes hidup di dalam tanah. Isolat Actinomycetes memiliki kisaran

pertumbuhan dari pH 5,0-9,0 dan pH optimum sekitar 7,0 (Augustine dkk., 2004).

Actinomycetes mampu mendekomposisi alginat, selulosa, kitin, minyak dan

hidrokarbon lainnya (Sharma, 2014). Actinomycetes yang termasuk genus

Arthrobacter, Brevibacterium, Corynebacterium dan Nocardia merupakan

mikroorganisme penting dalam degradasi hidrokarbon minyak bumi di lingkungan

(Dobos, 2010). Metabolit sekunder yang dihasilkan oleh Actinomycetes yaitu

Biosurfaktan. Biosurfaktan memiliki keunggulan dibandingkan bahan kimia.

Biosurfaktan sangat spesifik dan tidak beracun. Biosurfaktan efektif pada kondisi

ekstrim dari suhu, pH dan salinitas (Chandraja dkk., 2014).


24

2.6 Bulking Agent

Penambahan bulking agent atau agen penyangga dapat mencegah

kekurangan nutrisi, pemadatan tanah, dan meningkatkan porositas tanah dengan

suplai oksigen. Peningkatan porositas seringkali diikuti dengan menurunnya kadar

kelembaban tanah sehingga diperlukan bulking agent untuk mempertahankannya

selama proses biodegradasi berlangsung (Eweis dkk, 1998). Jenis bulking agent

yang dapat digunakan antara lain rumput kering, Woodchips, jerami, arang sekam,

zeolit, dan baglog jamur (Munawar, 2012). Berikut bulking agent yang digunakan

dalam bioremediasi tanah tercemar minyak bumi :

2.6.1 Arang Sekam Padi

Sekam padi merupakan limbah pertanian padi yang tersedia dalam jumlah

besar di berbagai tempat Indonesia. Berat sekam yang dihasilkan adalah 22% dari

berat gabah kering giling (Pakpahan, 2006). Sekam dikategorikan sebagai biomassa

yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan baku industri, pakan

ternak dan energi atau bahan bakar ataupun sebagai adsorbsi pada bahan pencemar.

Sekam tersusun dari jaringan serat-serat selulosa yang mengandung banyak silika

dalam bentuk serabut-serabut yang sangat keras.

Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85%-95%

karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan

pada suhu tinggi. Arang sekam bersifat porous, ringan, tidak kotor dan cukup dapat

menahan air. Arang sekam padi mengandung beberapa unsur kimia yaitu kadar air

(9,02%), protein kasar (3,03%), lemak (1,18%), serat kasar (35,68%), abu (17,17%),
25

karbohidrat (33,71%), hidrogen 1,54%, oksigen 33,64%, dan silika 16,98%

(Jasman, 2011). Pembakaran sekam akan menghasilkan rendemen arang 75,46%,

kadar air 7,35%, dan kadar abu 1%. Sifat penting arang sekam adalah porositasnya

yang tinggi (Angel, 1995).

2.6.2 Baglog Jamur

Baglog merupakan istilah lain dari media tanam jamur. Terdapat dua

macam baglog yang berpotensi menjadi limbah bagi lingkungan, yaitu baglog tua

dan baglog terkontaminasi. Baglog tua berasal dari baglog yang sudah tidak

produktif dan tidak dipakai lagi sebagai media tanam jamur dan telah berumur lebih

dari tiga bulan. Baglog terkontaminasi disebabkan karena sebelum baglog

ditumbuhi jamur, baglog mengalami masa inkubasi, yaitu masa penumbuhan

mycellium hingga baglog full grown (Sulaeman, 2011). Media pertumbuhan jamur

tiram umumnya terdiri dari campuran serbuk gergaji, bekatul, kapur dan gips atau

sering disebut dengan baglog. Media tersebut hanya bisa di gunakan satu kali dalam

pertumbuhan jamur tiram, setelah itu diganti dengan yang baru, untuk mendapatkan

pertumbuhan jamur yang baik. Baglog yang tidak terpakai sebagian besar menjadi

limbah.

Penggunaan media limbah baglog jamur tiram sebagai bulking agent

mempunyai beberapa keunggulan, yaitu menambah porositas, menambah daya ikat

air pada tanah, memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah terhadap zat hara,

dan membantu pelapukan bahan mineral (Indriyani, 2005). Baglog jamur terdiri

dari komposisi serbuk gergaji 68,5%, dedak halus 13,5%, gypsum (CaSO4) 0,5%,
26

kapur (CaCO3) 3,5%, TSP 0,5%, pupuk kandang 13,5%, dan air. Baglog jamur

mengandung unsur N dalam bentuk Amonium atau nitrat, dan N-organik (Abbas

dkk., 2001). Limbah baglog jamur dapat menyediakan nutrien organik untuk

menstimulasi bakteri indigenus dan faktor lingkungan yang mendukung proses

degradasi senyawa hidrokarbon oleh mikroba (Zhyahrial dkk., 2014).