Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pesatnya perkembangan dan pertumbuhan penduduk di Indonesia yang sangat cepat
di Indonesia sangat berdampak pada tingkat kebutuhan dan tingkat konsumsi masyarakat
sehingga kebutuhan pangan dan pokok di kalangan masyarakat sangatlah dibutuhkan
khususnya akan kebutuhan akan makanan layaknya daging unggas maupun terlurnya
yang mengandung protein utama. Dalam hal ini harus diimbangi dengan adanya
persediaan yang cukup untuk memenuhi ketersediaan pangan, sehingga kebutuhan
pangan seperti telur yang mengandung protein tinggi dapat memenuhi kebutuhan protein
tubuh. Berdasarkan tinjauan kali ini salah satu cara untuk mengatasi pesatnya
pertumbuhan masyarakar yaitu dengan menggantikan penetas telur dengan kemampuan
yang lebih mudah hemat praktis dan lebih modern, yang mampu mengahasilkan hasil
yang lebih baik. Kebutuhan daging telur dan telur itik dari tahun ke tahun cenderung
mengalami peningkatan, namun sayang besarnya permintaan ini belum mampu diimbangi
dengan jumalah pasokannya, sehingga perlu ada penambahan populasi. Itu artinya
peluang, untuk menekuni usaha penetasan demi meng menghasilkan DOD sangat terbuka
lebar (Mito & Johan, 2011). Penetas telur menjadi popular di kalangan masyarakat
peternak ayam untuk menghasilkan unggas unggas yang berkualitas. Ayam kampung
diyakini memiliki resistansi ( ketahan tubuh ) yang lebih kuat dibanding ayam ayam
lain , disisi lain rasa daging ayam kampung jauh lebih lezat dibanding ayam-ayam
lainnya.

Secara alami ayam kampong mengerami telurnya selama 21 hari, kemudian


mengasuh anaknya hingga berumur dua bulan. Karena itu, ayam kampong hanya bisa
menghasilkan telur sekitar 40 butir pertahun. Namun penetasan menggunakan mesin tetas
membuat waktu untuk mengasuh anak ayam menjadi terpangkas, sehingga dapat
digunakan untuk memproduksi telur lagi. Penetasan telur menggunakan mesin tetas
membuat produktivitas ayam mampu mencapai 105 120 butir per tahun (Tirto Hartono
& Isman, 2012).

Rancangan penetas telur yang dibuat dengan sebuah sistem dan kontroler yang dapat
diatur secara otomatis. Dalam hal ini sistem menggunakan sensor suhu yang dapat
membaca keadaan secara otomatis. Dengan sitem otomatis tersebut diharapkan dapat
mengontrol suhu dan kelembaban yang diinginkan sehingga dapat menetaskan telur

1
menjadi bibit ayam yang berkualitas unggul. Suhu yang terlalu panas pada mesin tetas
dapat menyebabkan telur mengalami dehidrasi, sehingga bibit yang dihasilkan akan
lemah, lesu dan tidak bergairah makan. Akibatnya bibit akan mengalami kekerdilan dan
mortalitas (tingkat kematian) yang tinggi (Tirto Hartono & Isman, 2012). Alat penetasan
telur biasanya menggunakan pemanas dari kawat nikelin atau lampu pijar yang diletakan
diruang inkubator . Dan biasanya pengontrolan suhu yang tidak efisien dan harus
mematikan lampu maupun memutuskan arus pada kawat nikelin jika suhu ruang penetas
terlalu panas, dan harus menyalakan kembali jika ruang penetas dalam kondisi dingin.
Hal ini kurang efisien dalam pemakaian dan juga waktu dengan adanya system
pengaturan suhu maka akan meningkatkan produktivitas penetasan telur.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelas berikut beberapa uraian permasalahan
antara lain:
1. Penyempurnaan karakteristik sensor dan beberapa komponen yang digunakan dalam
rangkaian sistem kontrol agar sistem dapat berjalanan.
2. Mengatur sensor suhu alat penetas telur agar suhu tetap dalam kondisi yang sesuai
dengan kondisi penetasan telur dan sistem yang mengatur kondisi agar stabil dalam
kondisi otomatis bukan manual.
3. Ruang penetasan telur yang menggunakan bahan yang dapat menyimpan panas yang
tahan lama dan model mapun desain ruang agar lebih efesien.

C. Batasan Masalah
Pada penelitian ini permasalahan yang diteliti dibatasi pada:
1. Pengkarakteristikan sensor suhu dan beberapa komponen dengan kontrol suhu
berkisar antara 37C 38,5 C agar mendapat nilai yang sesuai dengan set point
yang ditentukan.
2. Rancangan alat inkubator yang masih belum sempurna.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan dalam penelitian ini
antara lain:

1. Bagaimana merancang sebuah alat penetas telur otomatis yang memiliki suhu
konstan agar telur bisa ditetaskan dengan baik pada kondisi suhu 37C 38,5 C ?
2. Bagaimana analisis karakteristik sistem kontrol pada alat penetas telur dengan
menggunakan rangkaian otomatis?

E. Tujuan Penelitian

2
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan diatas maka tujuan penelitian ini
antara lain :

1. Merancang sebuah alat penetas telur otomatis sesuai dengan set point yang
dibutuhkan.
2. Menganilis sistem kontrol pada alat penetas telur otomatis.

F. Manfaat Penelitian
Berikut hal hal yang bisa diperoleh dari penelitian berikut ini, antara lain:
1. Alat ini mampu memudahkan masyarakat khususnya untuk para peternak unggas
2. Pembuatan dan perancangan alat penetas telur ini diharapkan mampu berfungsi
sebagaimana fungsinya, dan bisa dikembangkan lagi untuk penelitian lebih lanjut
sesuai dengan fungsinya.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Penetas Telur

3
Mesin tetas merupakan sebuah peti atau lemari dengan konstruksi yang dibuat
sedemikian rupa supaya panas didalamnya tidak terbuang. Suhu didalam ruangan mesin
tetas dapat diatur sesuai dengan derajat panas yang dibutuhkan selama periode
penetasan. Prinsip kerja penetas telur dengan mesin tetaini sama dengan induk unggas
(Paimin, 2011, p. 11).

Agar hasil penetasan mendapat hasil yang baik, maka ada beberapa kondisi yang harus
diperhatikan, antara lain:
1. Kestabilan Suhu
Untuk menjaga kestabilan suhu saat mengeram, ayam selalu bergerak atau bergeser,
terutama pada 5 6 hari pertama pengeraman. Tidak sampai 5 jam, ayam akan
bergerak atau bergeser lagi. Jika masih terlalu panas, telur yang dierami akan dibalik
dengan dan lehernya. Proses pembalikan ini bertujuan untuk meratahakan suhu dan
melawan gaya gravitasi, sehingga posisi embrio di dalam telur tetap baik. Proses
pembalikan telur biasanya dilakukan tiga kali dalam sehari, tergantung pada
peningkatan suhu didalam terlur. Pada hari ke 15 atau hari ke 16 keatas ayam akan
mencari makan. Hal ini dialakukan untuk mendinginkan kembai telur telur akibat
perkembangan embrio. Tingginya tingkat metabolism dapat menyebabkan suhu telur
menjadi tinggi (telur menjadi panas). Karena itu, ketika penetasan menggunakan
mesin tetas, tempertaut mesin tetas harus mengacu pada suhu alami pada saat induk
ayam mengerami telur tetas. Penetasan sebaiknya dibuat stabil yaitu tidak boleh lebih
0,5 1F atau 0,125 0,56C dari suhu acuan. Fluktuasi suhu yang besar akan
mengakibatkan daya tetas dan kualitas yang dihasilkan menjadi menurun (Tirto
Hartono & Isman, 2012).
2. Kelembapan
Kelemban udara berfungsi untuk mengurangi atau menjaga cairan dalam telur dan
merapuhkan kerabang telur. Jika kelembapan tidak optimal, embrio tidak akan
mampu memecahkan kerbang yang terlalu keras. Namun kelembapan yang terlalu
tinggi dapat menyebabkan air masuk melalui pori pori kerabang, lalu terjadi
penimbunan cairan di dalam telur. Akibatnya, embrio tidak dapat bernapas dan
akhirnya mati. Pada sis teknis kegagalan penetasan biasnya bersumber dari kegagalan
pengaturan suhu dan kelembapan ini. Selama 18 hari pertama penetasn telur ayam
kampong membutuhkan kelembapan sebesar 55% dan selanjutnya membutuhkan
kelembapan sebesar 65% sampai menetas (Tirto Hartono & Isman, 2012).
3. Ventilasi

4
Ventilasi memegang peranan yang sangat penting sebagai sumber oksigen
embrio untuk bernapas. Ventilasi juga menjadi kunci penyeimbang antara
kelembapan dan suhu. Jika ventilasi lancer maka kelembapan bisa berkurang.
Namun, jika ventilasi terhambat maka suhu dan kelembapan mesin akan meningkat.
Kesalahan system ventilasi dapat menyebabkan dua kemungkinan. Kemungkinan
pertama, embrio mengalami kelebihan cairan dan mati karena kelembapan terlalu
tinggi (Tirto Hartono & Isman, 2012).
Pada saat telur tetas dimasukan kedalam mesin tetas, ventilasi harus dalam
keadaan terutup. Menjelang hari ke tiga, biasanya suhu meningkat sekita 0,55C.
Bertambahnya suhu disebabkan oleh embrio dalam telur sedang berkembang dan
mulai melepaskan CO2 melalui pori pori kulit telur sedang. Agar pertukaran gas
semakin baik, ventilasi perlu diaktifkan. Lubang ventilasi dapat dibuka pada hari
keempat sebesar bagian, hari kelima bagian hari keena bagian, serta hari
ketujuh dan seterusnya dibuka seluruhnya (Paimin, 2011, p. 18).

B. Rangkain Otomatis Suhu


1. Sensor Suhu LM 35 DZ
Sensor adalah elemen sistem yang secara efektif berhubungan dengan proses
dimana suatu variabel sedang diukur dan menghasilkan suatu keluaran dalam
bentuk tertentu tergantung pada variabel masukannya, dan dapat digunakan oleh
bagian sistem pengukuran yang lain untuk mengenali nilai variabel tersebut.
sebagai contoh adalah sensor termokopel yang memiliki masukan berupa
temperatur serta keluaran berupa gaya gerak listrik (GGL) yang kecil. GGL yang
kecil ini oleh bagian sistem pengukuran yang lain dapat diperkuat sehingga
diperoleh pembacaan pada alat ukur (Rafiuddin Syam, 2013, p.13).
Sensor suhu LM35Dz berfungsi ntuk menguah suhu menjadi tegangan listrik ,
sehingga dapat dikatakan bahwa suhu merupakan variable input ang dideteksi oleh
sensor suhu LM35DZ dan tegangan merupakan output dari sensor suhu LM35DZ.
Semakin panas atau semakin tinggi suhu yang masuk, maka tegangan keluaran
sensor LM35 semakin besar. Semakin dingin atau semakin rendah shu yang
masuk, tegangan keluaran sensor LM35 semakin kecil (Budiharto 2005).

Seri LM35 adalah sirkuit terpadu presisi perangkat suhu dengan tegangan
keluaran linearly proporsional ke suhu Celcius. Perangkat LM35 memiliki
kelebihan dibanding linier sensor suhu dikalibrasi di Kelvin, sebagai pengguna
tidak diperlukan untuk mengurangi tegangan konstan yang besar dari hasil

5
keluaran untuk mendapatkan Celcius yang nyaman penskalaan. Perangkat LM35
tidak memerlukan apapun kalibrasi eksternal atau pemangkasan untuk
memberikan tipikal akurasi C pada suhu kamar dan C selama rentang
temperatur penuh -55 C sampai 150 C. Menurunkan biaya dijamin dengan
pemangkasan dan kalibrasi pada tingkat wafer Impedansi keluaran rendah,
keluaran linier, dan kalibrasi melekat tepat dari perangkat LM35 membuat
interfacing ke sirkuit pembacaan atau control sangat mudah. Perangkat ini
digunakan dengan kekuatan tunggal persediaan, atau dengan persediaan plus dan
minus. Sebagai perangkat LM35 hanya menarik 60 A dari suplai, yang
dimilikinya pemanasan diri yang sangat rendah kurang dari 0,1 C di udara
masih. Perangkat LM35 dinilai beroperasi lebih dari -55 C sampai Kisaran suhu
150 C, sedangkan perangkat LM35C adalah diberi nilai untuk kisaran -40 C
sampai 110 C (-10 dengan akurasi yang ditingkatkan). Perangkat seri LM35
adalah tersedia dalam kemasan hermetis TO transistor paket, sedangkan LM35C,
LM35CA, dan LM35D perangkat yang tersedia di plastik TO-92 transistor paket
(Texas Instruments, 2016:1 ).

(a) (b)

Gambar 1. (a) Skema pin sensor LM35DZ (Texas Instruments, 2016:2 ), dan
(b) Fisik sensor LM35DZ

Dari gambar 1 menunjukan bahwa sensor LM35DZ memiliki 3 pin


kaki, yaitu +Vs, Vout, GND (ground). Dari masing masing tiga pin sensor
LM35 DZ memliki fungsi tiap pinnya, antara lain pin +Vs mempunyai fungsi
sebagai sumber tegangan kerja, sedangkan Vout memliki fungsi kerja sebagai
tegangan keluaran dengan jangkauan 0 Volt 1,5 Volt dengan tegangan
suplai 4 Volt sampai 30 Volt , dan ground sebagai titik kembalinya arus.

6
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

7
Penelitian ini dilakukan mulai bulan September 2016, dan bertempat di Kost yang
beralamat Jln. Bimokurdo No.7, Sapen, Demangan, Gondokusuman, Kota
Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

B. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini baru mencapai tahap karakteristik sensor suhu LM 35DZ.
Dan perancangan alat incubator ruangan penetas telur.

C. Alat dan Bahan


1. Ruang Inkubator Penetas Telur
2. Komponen control suhu
a. Sensor Suhu LM 35 DZ
b. Termometer Ruangan

D. Pengambilan Data

Proses pengampilan data melalui dua tahap yaitu tahap perancangan alat dan
pengujian alat, namun karena beberapa kendala sehingga masih dalam tahapan
pertama yaitu perancangan alat , dalam hal ini baru mencapai fase karakteristik sensor
suhu di Kost yang beralamat Jln. Bimokurdo No.7, Sapen, Demangan,
Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta dan pemesanan alat
yang dilakukan di sentra pembuatan keramik Kasongan Bantul Yogyakarta. Untuk
tahap rancangan bangun alat selanjutnya teridiri dari tiga bagian antara lain:
1. Perancangan inkubator penetasan telur
Inkubator adalah sebuah balok yang mempunyai ruang dimana dalam ruangan
tersebut akan dikontrol suhu ruangannya. Sesuai dengan perencanaan ukuran
balok berkisar 30 cm x 28 cm x 28 cm yang akan dibuat menggunakan bahan
berdasar keramik. Dan untuk elemen pemanas dalam incubator akan
menggunakan lilitan kawat Nikelin.
2. Perancangan Pengaduk Telur
Pengaduk telur berfungsi untuk kelancaran selama fase penetas telur agar lebih
sempurna, dalam hal ini pengaduk telur akan dikontruksikan membentuk rak
sebagai wadah penetasan telur dan untuk pengaduknya menggunakan engsel
sehingga pemutar rak yang akan diposisikan dalam incubator mampu
memutar rak sampai keadaan miring sekitar 45 yang berfungsi sebagai
pengaduk telur.

8
E. Metode Analisis Data

Langkah langkah analisis data dalam penelitian kali ini adalah sebagai
berikut.

1. Mengkalibrasi sensor suhu dengan menggunakan multimeter dan


mebandingkan dengan hasil yang terukur dengan menganalisnya
2. Mengkalibrasi komponen sistem kontrol suhu

F. Diagram Tahapan Penelitian Mulai

Perancangan dan Pembuatan Alat

Pengujian Alat

Pengujian Berhasil
Tidak

Ya

Pengambilan Data

Analisis Data
9

Selesai
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Rancang Bangun Alat


Alat penetas telur ayam ini dirancang menggunakan komponen kompone rangkaian
yang dirangkain untuk menunjang system control dengan rentang suhu 37C 38,5C.
Berikut adalah analisis setiap blok sistem kontrol.
a. Blok Sensor Suhu LM35 DZ
Sensor Suhu LM 35 DZ berfungsi mengubah suhu menjadi tegangan , sehingga dapat
dikatakan bahwa suhu merupakan variabel input yang diukur oleh LM35 DZ dan
tegangan merupakan output dari sensor suhu LM35DZ. Dikarenakan rentang suhu
untuk penetasan telur 37C 38,5C maka hasil pengkarakteristikan hanya mengkur
di kondisi yang mendekati set point penetas telur tersebut. Berikut adalah hasil
karakteristik sensor suhu LM35DZ
Tabel 4.1 Hasil karakteristik LM 35 DZ suhu terhadap tegangan

No Suhu (C) Tegangan (mV)


1 30 278.3
2 31 295.6
3 32 307.8
4 33 317.3
5 34 327.9

10
6 35 336.2
7 36 341.5
8 37 350.9
9 38 355.5
10 39 366.5
11 40 376.3

Berdasarkan Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 berikut gambaran grafik berdasarkan hasil tabel

11
12