Anda di halaman 1dari 12

PEMBUATAN DAN EVALUASI SEDIAAN SUSPENSI

CHLORAMPHENICOL

I. TUJUAN
Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan sediaan suspense
dengan bahan aktif chloramphenicol.
Mahasiswa dapat melakukan evaluasi terhadap sediaan suspensi
yang meliputi : organoleptis, homogenitas, berat jenis, volume
sedimentasi, redispersibilitas, tes pH, dan viskositas.
Mahasiswa dapat mengetahui khasiat dari sediaan suspense yang
dibuat.

II. DASAR TEORI

Larutan merupakan sediaan cair yang mengandung bahan kimia


terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling, kecuali dinyatakan lain.
(Anief, M, 2005)

Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan


suatu cairan, maka zat padat tadi terbagi secara molekuler dalam cairan
tersebut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah
kelarutan pada suhu 20o, kecuali dinyatakan lain menunjukan 1 bagian
bobot zat padat atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume
tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut
adalah kelarutan pada suhu kamar. (Anief, M., 2005)

Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata,


maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya
memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang
baik, jika larutan diencerkan atau dicampur. (Anonim, 1995)

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat


tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Sediaan yang digolongkan
sebagai suspensi adalah sediaan seperti tersebut di atas dan tidak
termasuk kelompok suspensi yang lebih spesifik, seperti suspensi oral,
suspensi topikal, dan lainlain. Beberapa suspensi dapat langsung
digunakan, sedangkan yang lain berupa sediaan padat yang harus
dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera
sebelum digunakan (Anonim, 1995).

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat


dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat
yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila
digojok perlahanlahan, endapan harus segera terdispersi kembali. Dapat
ditambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi
kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah digojok dan
dituang. Suspensi sering disebut pula mikstur gojog (mixtura agitandae).
Bila obat dalam suhu kamar tidak larut dalam pelarut yang tersedia maka
harus dibuat mikstur gojog atau disuspensi. (Anief, 2006)
Suspensi adalah yang mengandung bahan obat padat dan bentuk
halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa (FI III hal: 32).

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut


yang terdispersi dalam fase cair (FI IV hal : 17).

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak


melarut dan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa atau
sediaan padat terdiri dari obat dalam bentuk serbuk sangat halus, dengan
atau tampa zat tambahan yang akan terdispersikan sempurna dalam
cairan pembawa yang di tetapkan (formularium nasional hal : 3).

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat


dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa
(IMO hal : 149).
Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase.
fase kontinue atau fase luar umumnya merupakan cairan atau semi padat
dan fase terdispersi atau fase dalam terbuat dari partikel kecil, yang pada
dasarnya tidak larut, tetapi terdispersi seluruhnya dalam fase kontinu zat
yang tidak larut bisa dimaksudkan untuk diabsorpsi fisiologis atau untuk
fungsi pelapisan dalam dan luar (leon lachman hal : 985).

Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel


yang terdispersi dalam pembawa cair yang bertujuan untuk penggunaan
pada kulit. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai lotio termasuk
dalam golongan ini. (Anonim, 1995)

Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah :


1. Ukuran partikel
Semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas
penampangnya (dalam volume yang sama ). Sedangkan semakin
besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan semakin
memperlambat gerakan partikel untuk mengendap, sehingga untuk
memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil
ukuran partikel.
2. Kekentalan (viscositas)
Dengan menambah viscositas cairan maka gerakan turun dari
partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Tatapi perlu diingat
bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan
mudah dikocok dan dituang.
3. Jumlah partikel (konsentrasi)
Makin besar konsentrasi pertikel, makin besar kemungkinan
terjadi endapan partikel dalam waktu yang singkat.
4. Sifat / muatan partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari babarapa
macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan
demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang
menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena
sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam, maka kita tidak dapat
mempengaruhinya. (Anonim, 2004 )

Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi


Metode pembuatan suspensi
Metode dispersi
Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam
mucilago yang telah terbentuk kmudian baru diencerkan.
Metode praesipitasi
Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam
pelarut organik yang hrndak dicampur dengan air. Setelah larut
diencerkan dengan larutan pensuspensi dalam air.

Sistem pembentukan suspensi


System flokulasi
1. partikel merupakan agregat yang bebas
2. sedimentasi terjadi capat
3. sediment terbentuk cepat
4. sediment tidak membentuk cake yang keras dan padat
dan mudah terdispersi kembali seperti semula.
5. wujud suspensi kurang menyenangkan sebab
sedimentasi terjadi cepat dan diatasnya terjadi daerah cairan
yang jernih dan nyata.
System deflokulasi
1. partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan
yang lain
2. sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing partikel
mengendap terpisah dan ukuran partikel adalah minimal
3. sediment terbentuk lambat
4. akhirnya sediment akan membentuk cake yang keras dan
sukar terdispersi lagi (Anonim, 2004).

Keuntugan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut :


a. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat
memperlambat terlepasnya obat.
b. Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk
larutan.
c. Obat dalam sediaansuspensi rasanya lebih enak dibandingkan
dalam larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.

Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :


a. Rasa obat dalam larutan lebih jelas.
b. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain,
misalnya pulveres, tablet, dan kapsul.
c. Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi
kimia antar kandungan dalam larutan di mana terdapat air
sebagai katalisator ( Anief, M., 1987 )

Macam-macam Suspensi :
1) Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat
dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan
pengaroma yang sesuai, yang ditujukan untuk penggunaan oral.
2) Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat
dalam bentuk halus yang terdispersi dalam cairan pembawa cair yang
di tunjukkan untuk penggunaan kulit.
3) Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-
partikel halus yang ditunjukan untuk di teteskan pada telinga bagian
luar.
4) Suspensi oflamik adalah sedian cair steril yang mengandung partikel
sangat halus yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian
pada mata.
5) Suspensi untuk injeksi terkontitusi adalah sediaan padat kering dengan
bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang
memenuhi semua persyaratan untuk suspensi. Steril setelah
penambahan bahan yang sesuai.
(lmu Resep Syamsuni hal 125).

Syarat-syarat Suspensi :
Suspensi tidak boleh diinjeksikan secara intravena dan intrarektal.
Suspensi yang dinyatakan untuk di gunakan dengan cara tertentu
harus mengandung zat antimikroba.
Suspense harus di kocok sebelum digunakan.
Suspensi harus disimpan dalam wadahtertutup rapat.(.
Suspensi terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap.
Jika dikocok harus segera terdispersi kembali.
Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas.
Keketalan suspense tidak boleh terlalu tinngi agar mudah di kocok
dan di tuang. (FI III hal 32)

Komposisi Suspensi :
1) Bahan aktif.
Contoh: sulfur praicipitat, calamin, titanium dioksida.
2) Bahan tambahan
Pewarna : metilen blue, metamil yellow
Pengawet : nipagin 2-5%, nipasol 0,05-0,025%.
3) Suspending Agent
Akasia (PGA)
Bahan ini diperoleh dari eksudat tanaman akasia sp. Dapat
larut dalam air, tidak larut dalam alcohol, dan bersifat asam,
viskositas optimum mucilagonya adalah PH 5-9.
Mucilage gom arap dengan kadar 35 % memeiliki kekentalan
kira-kira sama dengan gliserin. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri
sehingga dalam suspense harus ditambahkan pengawet. (ilmu
resep syamsuni hal 139)
Tragakhan
Mengandung tragakhan 2% dan dibuat dengan jalan
menggerus dahulu serbuk tragakan dengan air 20x banyaknya
sampai diperoleh suatu masa yang homogen. Kemudian diencerkan
dengan sisa dari tragakan lambat mengalami hidrasi. Sehinggan
untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan
mucilago tragakan juga lebih kental dari pada mucilago dari Gom
arab. (ilmu resep syamsuni hal 140)
Mucilago amily
Dibuat dengan amilum tritici 2% . (vanduin hal 58)
Solution gum arabicum
Mengandung gum arabikum 10% dan dibuat dengan jalan
membuat dahulu mucilage gom arab dari gom yang tersedia
kemudian mengencerkannya. (vanduin hal 58 )
Mucilago saleb
Dibuat dengan serbuk saleb 1 % seharusnya dengan serbuk
yang telah dihilangkan patinya dengan pengayakan, dimana
diperoleh suatu mucilage. (vanduin hal 58)
Solution gummosa
Mengandung pulvis gummosus 2% dan dibuat dengan jalan
menggerus dahulu pulvis gummosus dengan air 7x banyaknya
sampai diperoleh suatu masa yang homogen dan mengencerkannya
sedikit demi sedikit (vanduin hal 58)
Cara Pembuatan Suspensi Secara Umum
a. Metode dispersi
Ditambahkan bahan oral kedalam mucilage yang telah
terbentuk, kemudian diencerkan.
b. Metode Presitipasi
Zat yang hendak didispersikan dilarutkan dulu dalam pelarut
organik yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut
organik larutan zat ini kemudian di encerkan dengan latrutan
pensuspensi dalam air sehingga akan terjadi endapan halus
tersuspensi dalam air seningga akan terjadi endapan halus
tersuspensi dengan bahan pensuspensi.
III. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
Mortir
Stamper
Batang Pengaduk
Kain lap
Beaker glass
Gelas Ukur
Kaki tiga
Lampu spirtus
Asbes
Buret
Statif
Klem
Corong
Pipet tetes
Kertas perkamen
Cawan penguap
Sudip
Piknometer
Kertas pH
Timbangan digital
Stopwatch

2. Bahan

Chloramphinecol palmitas
CMC Na
Syrup simplex
PGA
Tween 80
Aquades
Orange essen
Glycerin

IV. CARA KERJA


A Pembuatan Syrup Simplex

Ditimbang gula sebanyak 65 gram

Dilarutkan dalam aquades 100 mL

Diaduk ad mendidih dan dinginkan

B Pembuatan Suspensi

Disiapkan alat dan bahan

Ditimbang asing-masing bahan :

Chloramphinecol Palmitas 2.6 gram


CMC Na 600 mg
Tween 80 300 mg
PGA 12 gram
Syrup simplex 14 MG
Glycerin 10 tetes
Essen jeruk 1 tetes
Aquades ad 60 mL
Didihkan aquades sebanyak 50 mL

Ditambahkan CMC Na diaduk ad homogen dan


kental

Didalam mortir, dimasukkan Clhorampinecol


Palmitas, Tween 80, Glycerin, PGA, dan larutan
CMC Na yang sudah kental diaduk dengan konstan
ad homogen

Ditambahkan syrup simplex dan essen diaduk ad


homogen

Ditambahkan aquades ad 60 mL

Dilakukan evaluasi sediaan

C Evaluasi Sediaan
Organoleptis

Disediakan sampel

Diamati bentuk, warna, bau, rasa

Uji Homogenitas

Diamati dibawah cahaya apakah partikel pada


suspense tersebar merata atau tidak

Uji Berat Jenis

Ditimbang piknometer kosong


Diukur volume piknometer kosong

Ditimbang piknometer kosong + suspensi

Dihitung BJ = (berat pikno + suspense)- (beat pikno kosong )


Volume Pikno

Presipitasi

Digojog suspensi dalam gelas ukur

Dialakukan pengamatan terhadap tinggi endapan


pada menit ke 0, 5, 10, 20, 30, 45, dan 60.

Dibandingkan tinggi sedimentasi dengan cairan mula-


mula sebagai volume sedimentasi

Redispersibilitas

Suspense yang sudah didiamkan 1 jam, digojog


dengan membentuk sudut 90

Dihitung berapa kali penggojokan dan waktu yang


dibutuhkan untuk membuat suspense kembali
homogen

Uji pH

Diencerkan suspense dengan air, dicelupkan kertas


pH dan dibaca dengan indicator pH
Uji Viskositas

Suspense dimasukkan dalam buret

Dibiarkan mengalir dan di catat berapa lama waktu


sampai semua suspense mengalir habis