Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH "LEGALISASI GANJA"

bimo seno 08:11

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Belakangan muncul wacana tentang perlunya legalisasi ganja diberlakukan di Indonesia,
padahal ganja selama ini dikenal sebagai bahan terlarang dan masuk kategori narkotika
kelas I di hukum Indonesia. Namun bagi Lingkar Ganja Nusantara (LGN), ganja justru
memiliki banyak manfaat sehingga tidak perlu dikategorikan sebagai narkotika. Komunitas
inilah yang sedang gencar melakukan usaha-usaha agar ganja dapat dilegalkan di Indonesia.
Untuk selanjutnya, LGN akan mencari donasi dan melakukan penelitian tentang manfaat
ganja dengan mengajak kerja sama pihak lain. LGN juga akan berpartisipasi dalam Global
Marijuana March yang akan diadakan pada 7 Mei 2011 mendatang.
Padahal permasalahan pemaknaan "legalisasi" sangatlah berakibat fatal terhadap fungsi
kekuatan hukumnya. Legalisasi dalam bahasa Indonesia dimaknai sebagai suatu
pengesahan secara tertulis oleh pihak yang dianggap mewakili suatu institusi tetapi tidak
disertai dengan pembukuan ataupun sertifikasi terhadap obyek yang dimaksud.
Jika diperhatikan kekuatan hukum dalam arti kata legalisasi mempunyai kekuatan hukum
yang tidak penuh. Artinya kekuatan hukum terhadap legalisasi tidak dapat dijadikan sebagai
pembuktian atas kepemilikan dan hanya sekedar pengesahan dari pihak tertentu yang hal
tersebut tentunya tidak dapat dipertanggungjawabkan karena legalisasi tidak dapat
mewakili suatu institusi tertentu dan hanya bersifat pemberian keterangan.
Lalu sekarang yang perlu dipermasalahkan di sini adalah objek legalisasi yang diiginkan LGN
adalah ganja, yaitu salah satu jenis narkotika yang kepemilikan, penggunaan, dan
pengedarannya dilarang oleh negara. Lebih lanjut tentang definisi ganja, dampak
penggunaannya, dan bagaimana status ganja di beberapa negara akan dibahas dalam bab
pembahasan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam pembuatan
makalah ini adalah:
1. Apa definisi kata legalisasi?
2. Apa definisi ganja?
3. Bagaimana dampak pemakaian ganja?
4. Bagaimana status ganja di negara-negara lain?
5. Bagaimana wacana legalisasi ganja di Indonesia?

C. Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah tadi, maka tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui apa definisi dari kata legalisasi?
2. Mengetahui apa definisi ganja?
3. Mengetahui bagaimana dampak pemakaian ganja?
4. Mengetahui bagaimana status ganja di negara-negara lain?
5. Mengetahui bagaimana wacana legalisasi ganja di Indonesia?

PEMBAHASAN

A. Definisi Legalisasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata le.ga.li.sa.si berarti pengesahan (menurut
undang-undang atau hukum): -- abortus tidak menolong usaha pelembagaan perkawinan dl
masyarakat. Sedangkan arti kata melegalisasi berarti membuat menjadi legal;
mengesahkan (surat dsb); dan arti kata melegalisasikan sama dengan arti dari kata
melegalisasi.
Legalisasi berasal dari kata serapan to legalize/ legalization, yang memiliki bermacam
makna tergantung konteks yang hendak dibicarakan. Namun pada intinya legalisasi adalah
proses membuat sesuatu menjadi legal/sah/resmi, legalization is the act of making lawful.
Proses itu sendiri juga bermacam-macam mulai dari pembuatan hukum positif (UU,
Perpres, Perda dll), ratifikasi, pembuatan akta-akta hukum, hingga keputusan
hakim/pengadilan. Memang, penggunaan kata legalisasi sering dipakai di dalam istilah-
istilah di bidang hukum namun tidak tertutup kemungkinan istilah tersebut juga dipakai
dalam kegiatan sehari-hari.
Timbulnya kerancuan penggunaan istilah legalisasi sering timbul ketika dipakai dalam
percakapan sehari-hari yang kemudian menyebabkan distorsi dan akhirnya menimbulkan
kebingungan. Sebenarnya istilah legalisasi sangatlah terbatas, kata tersebut hanya bisa
dipakai dalam aktivitas hukum.
Legalisasi bukanlah legalisasi apabila ia tidak merujuk pada suatu produk hukum tertentu,
atau dengan kata lain harus ada hitam di atas putih. Namun seringkali orang menggunakan
kata legalisasi untuk merujuk suatu peristiwa yang pernah terjadi, dan kemudian ditafsirkan
karena tidak ada yang melarang maka hal itu dilegalkan.
Contoh dari perbuatan tersebut misalnya seperti pengendara yang melanggar lampu lalu
lintas namun tidak ditangkap oleh polisi ditafsirkan bahwa perbuatan tersebut dilegalkan.
Namun di beberapa tulisan atau pandangan orang seringkali memberi label legalisasi pada
suatu perbuatan namun tidak menyebutkan produk hukum mana yang dirujuk untuk
menyatakan sesuatu itu legal.
Konklusinya, pembiaran distorsi ini dapat menyebabkan berubahnya informasi yang benar,
hanya karena usaha-usaha pembenaran yang tidak didasari oleh produk hukum. Sangat
disayangkan karena ketika hal itu terjadi kemudian tanpa sadar dibaca dan kemudian
dipahami sebagai kebenaran namun ternyata sama sekali tidak (dalam kerangka hukum).
Jadi, ketika anda menggunakan legalisasi maka rujuklah produk hukum yang mendukung
pernyataan anda.

B. Definisi Ganja
Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat,
namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol
(THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa
senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok
mariyuana.
Tanaman semusim ini tingginya dapat mencapai 2 meter. Berdaun menjari dengan bunga
jantan dan betina ada di tanaman berbeda (berumah dua). Bunganya kecil-kecil dalam
dompolan di ujung ranting. Ganja hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian di
atas 1.000 meter di atas permukaan laut.
Ganja menjadi simbol budaya hippies yang pernah populer di Amerika Serikat. Hal ini
biasanya dilambangkan dengan daun ganja yang berbentuk khas. Selain itu ganja dan
opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisme yang
dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang. Di India, sebagian Sadhu yang
menyembah dewa Shiva menggunakan produk derivatif ganja untuk melakukan ritual
penyembahan dengan cara menghisap hashish melalui pipa chilam/chillum, dan dengan
meminum bhang.
Di Indonesia, ganja dibudidayakan secara ilegal di Provinsi Aceh. Biasanya ganja ditanam
pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya. Hasil panen
ganja berupa daun beriut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil. Campuran
daun, ranting, bunga, dan buah yang telah dikeringkan inilah yang biasa dilinting menjadi
rokok mariyuana. Kalau bunga betinanya diekstrak, akan dihasilkan damar pekat yang
disebut hashish.
Sesuai Undang-Undang No. 22 Tahun 1997, ganja di Indonesia termasuk ke dalam jenis
narkotika yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman (baik sintetis
maupun semi sintetis) yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Menurut pakar kesehatan
narkoba, singkatan dari kata narkotika, psikotropika, dan zat adiktif berbahaya, sebenarnya
adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau
obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini presepsi itu disalahgunakan akibat
pemakaian yang telah di luar batas dosis. Maka dari itu kepemilikan, penggunaan, dan
pengedaran narkoba dilarang oleh negara. Hal itu diatur lebih lanjut kedalam Undang-
Undang tentang narkotika terbaru yaitu Undang-Undang No. 35 Tahun 2009.

C. Dampak Pemakaian Ganja


Sebenarnya pemakaian ganja mulai dari biji sampai daunnya memiliki dampak negatif dan
positif, berikut penjelasanya:
Dampak Positif
Pada biji ganja terdapat sumber makanan bergizi dengan protein kualitas tinggi,
bahkanlebih tinggi dari kacang kedelai.
Buah ganja dapat digunakan sebagai bahan bakar, biasa secara langsung atau bisa juga
diolah melalui proses pirolisis menjadi batu bara, metana, metanol, dan bensin. Minyak
ganja lebih baik daripada minyak bumi karena bersih dari unsur logam dan belerang, sangat
aman dan ramah lingkungan.

Bagian seratnya merupakan bahan istimewa untuk pembuatan kertas dan kain. Karena
tanaman ganja tidak rumit, pada jenis tanaman ganja membutuhkan sangat sedikit
pestisida dari bahan kapas, itulah istimewanya dan ini juga ramah lingkungan.
Senyawa Delta-9-Tetrahydrocannabinol (THC) yang terdapat pada tanaman ganja dapat
mencegah penyakit pembuluh darah atherosclerosis - misalnya akibat nikotin pada rokok -
menyebabkan munculnya reaksi kekebalan dari tubuh yang memicu penimbunan lemak di
pembuluh arteri.
Ganja memiliki potensi medis dalam pengobatan (meringankan rasa sakit, obat-obatan
dari ganja juga digunakan untuk menambah nafsu makan bagi penderita anorexia, dan
untuk melawan efek samping kemoterapi pada penderita kanker).
Di masyarakat Aceh, ganja digunakan sebagai penyedap masakan.
Secara umum ganja tidak menimbulkan ketagihan (withdrawal), tidak pernah
menimbulkan overdosis dan tidak menimbulkan sifat agresif.
Dampak Negatif
Pada kasus-kasus keracunan (pemakaian dalam jumlah sangat banyak) dapat
meningkatkan risiko terkena schizophrenia bagi para pecandunya, yakni adanya
peningkatan gejala seperti paranoid, depresi, dan halusinasi visual (mendengar suara-suara
dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada).
Senyawa THC diduga memiliki sifat menurunkan reaksi kekebalan. Dikatakan oleh para
peneliti, keuntungan penggunaan THC bagi penderita atherosclerosis hanya didapatkan
dalam dosis tertentu saja. Pada dosis yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, THC tidak
memiliki efek pengobatan bagi penyumbatan pembuluh darah.
Dapat terjadi kerusakan pada otak yang bersifat irreversible atau tak dapat diubah.
Pengkonsumsian ganja jangka panjang dapat menyababkan efek euforia, rasa santai,
mengantuk, ketakutan, mudah panik, depresi, kebingungan, membuat orang menjadi
malas, kurang waspada, menghilangkan daya konsentrasi, dan berkurangnya interaksi
sosial.
Dampak fisik: denyut nadi dan tekanan darah cenderung meningkat, keseimbangan
dan koordinasi tubuh menjadi buruk, batuk harian, dahak, bronkitis dan kerentanan yang
lebih tinggi terhadap selesma dahak.
Pemakaian ganja jangka panjang dapat merusak paru-paru karena tingkat karbon
monoksida pada ganja tiga sampai lima kali lebih tinggi daripada tembakau.
Penggunaan ganja oleh wanita hamil meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan
berat badan rendah dan lebih rentan terhadap beberapa masalah kesehatan.
Ibu menyusui yang menghisap ganja menyebarkan THC pada bayinya melalui ASI,
dengan risiko pada pengembangan gerak si bayi.
Anak-anak yang menghisap ganja secara pasif menunjukkan lebih banyak tabiat yang
buruk, pengisapan ibu jari, dan kemarahan dibanding anak yang tidak terpajan.

D. Status Ganja di Negara-Negara Lain


Penanaman, kepemilikan, penggunaan, dan atau pengedaran/penjualan/perdagangan ganja
di masing-masing negara memiliki status yang beragam, berikut penjelasannya:
Australia
Mei tahun 2003, Perdana Menteri New South Wales, Bob Carr, menjanjikan 4 tahun masa
percobaan penggunaan ganja medis. Kenyataannya hampir tidak ada tindakan yang
dilakukan.
Dibagian utara Australia, ganja sudah didekriminalisasi. Sedangkan di bagian barat dan
utara Australia individu diperbolehkan menanam pohon ganja untuk penggunaan pribadi.
Austria
Delta9-THC maupun produk farmasi yang mengandung delta9-THC dikategorisasikan dalam
annex IV dalam Dekrit Narkotika Austria. Formulasi zat tersebut hanya dapat dilakukan
apabila telah mendapat persetujuan dari pihak yang berwenang. Pada tanggal 9 Juli 2008,
Parlemen Austria menyetujui penanaman pohon ganja untuk kebutuhan penelitian dan
medis. Penanaman ini dikontrol oleh Departemen Kesehatan dan Keamanan Makanan.

Belgia
Pemerintah Belgia telah berinisiasi untuk menelaah efektivitas ganja medis dan akan segera
melakukan dekriminalisasi bagi kepemilikan ganja dalam jumlah yang kecil, walaupun
sekarang ini ganja masih ilegal. Siapapun yang memiliki ganja sampai 3 gram akan
mendapat peringatan verbal dan tetap boleh menyimpan ganjanya.

Jerman
Konsumsi ganja adalah tindakan legal dan tiap negara bagian memiliki hukum yang berbeda
terhadap kepemilikan sejumlah kecil ganja. Dalam banyak kasus, kepemilikan kurang dari 5
gram ganja atau resin tidak mendapat hukuman.

Israel
Beberapa orang telah mendapat akses dari Menteri Kesehatan untuk menggunakan ganja
medis. Sejak thaun 2004, militer israel menggunakan THC sebagai pengobatan bagi tentara
yang mengalami posttraumatic stress disorder.

Jepang
Segala macam produk dari ganja ilegal sejak 1948 ketika Amerika menyatakan adanya
Hukum Pengaturan Hemp setelah Perang Dunia 2.
Belanda
Sejak tahun 1976, penggunaan ganja untuk kebutuhan rekreasi telah diperbolehkan di
coffee shop walaupun oleh individu yang tidak memiliki izin medis. Pada tahun 2003, izin
untuk penggunaan ganja medis dikeluarkan dan dapat ditebus di apotek. Sebagai catatan,
memiliki dan menjual ganja tetap ilegal namun karena tidak ada kebijakan yang
memberikan hukuman, ganja secara de facto dikatakan legal di Belanda.

Norwegia
Kepemilikan dan penanaman ganja adalah ilegal dan hukumannya sangat berat; denda
biaya dan penjara. Tetap ada pasar gelap yang memperjual belikan ganja untuk kebutuhan
medis.

Portugal
Sejak 2001, kepemilikan segala macam obat untuk kebutuhan pribadi telah
didekriminalisasi. Penjualan dan perdagangan tetap mendapat hukuman kriminal. Indivivdu
dapat dihukum dan didenda apabila menggunakan ganja di tempat umum atau dianggap
terlibat perdaganan obat apabila memiliki lebih dari 25 gram obat.

Swiss
Segala bentuk kepemilikan dan penanaman tetap ilegal walaupun terdapat beberapa coffee
shop di Bienne dan Interlaken. Secara umum, individu yang memliki sedikit ganja sangat
jarang dihukum.

Thailand
Ganja ilegal di sini. Laporan menunjukan tingginya tingkat konsumsi ganja yang mungkin
disebabkan oleh mudahnya menanam ganja.

Inggris
Pada tahun 1999, DPR Inggris mengajukan permohonan untuk meberikan kuasa ganja
medis kepada dokter. Pemerintah tidak mengindahkan permohonan tersebut. Dalam
pelaksanaan, terkadang hakim tidak memberikan hukuman pada individu yang
menggunakan ganja medis namun banyak individu yang dipernjara karena kasus
kepemilikan, penanaman ataupun penyediaan ganja medis.
Pada tahun 2003, perusahaan farmasi inggris GW Pharmaceuticals, mendapat izin untuk
meneliti ganja demi kebutuhan medis dan berhak memproduksi ataupun menjual ganja
medis mulai tahun 2004. Persetujuan tidak kunjung datang hingga tahun 2005, hingga
akhirnya Inggris mendapat izin untuk menjual ekstrak ganja ke Kanada.

Uruguay
Penggunaan ganja legal dan tidak dikriminalisasi, bahkan individu boleh memiliki lebih dari
25 gram ganja. Namun, penanaman dan penjualan tetap dianggap kriminal.

E. Wacana Legalisasi Ganja di Indonesia


Wacana legalisasi ganja merambah ke Indonesia. Sebelumnya wacana legalisasi ganja juga
terjadi di California. Perlu kita ketahui bersama bahwa wacana Legalisasi Ganja sangat
didukung seorang pebisnis yang juga aktivis politik, George Soros. Menurut Soros, legalisasi
kepemilikan ganja akan menambah pendapatan negara dengan diberlakukannya pajak.
Bahkan untuk menunjukkan keseriusannya, George rela menggelontorkan jutaan dolar
demi mengadakan kampanye untuk mengajak warga California ikut mendukung legalisasi
kepemilikan ganja.
Di indonesia, Gerakan Legalisasi ganja juga tak kalah seriusnya. Sebagaimana diberitakan
akhir-akhir ini, sekelompok orang yang tergabung dalam Lingkar Ganja Nusantara (LGN)
menggelar aksi long march di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Aksi ini dilakukan dalam
rangka memperingati Global Marijuana March (GMM). Mereka membawa beragam poster
yang bertuliskan Ganja Untuk Masa Depan Indonesia, Legalisasi for Medis, Industri
Pangan dan Energi, Ganja Sama Dengan Solusi, Kami Suka Ganja dan Ganja go Green.
Ganja merupakan kelompok dari narkotika yang segala sesuatu yang berkaitan dengannya
di atur dalam undang-undang No.39 tahun 2009 tentang Narkotika. Benar bahwa ganja
bermanfaat bagi kesehatan dalam kadar tertentu. Bahakan Penjelasan Umum Undang-
Undang No.35 tahun 2009 juga mengakui bahwa Narkotika merupakan zat atau obat yang
sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu.
Menjadi perhatian kita bersama narkotika (ganja) menjadi bahaya jika disalahgunakan atau
digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat
merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda.
Memberikan ruang bagi legalisasi ganja berarti memberi ruang bagi penyalahgunaan ganja.
Artinya, kebebasan berganja yang dilegalkan tidak bisa kita terima begitu saja. Akan ada
orang-orang tertentu yang memanfaatnkan kondisi ini untuk kepentingan-kepentingan
sesaat.
Penolakan legalisasi ganja telah disampaikan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), ketua
Komnas Perlindungan Anak, Menteri Sosial, beberapa aktivis, dan beberapa ahli kesehatan.
Mereka ragu bila ganja dilegalisasi, secara logis semua orang malah lebih mudah
mendapatkannya sehingga risiko penyalahgunaannya dikhawatirkan dapat meningkat.
Oleh karena itu legalisasi ganja menurut penulis mustahil dilakukan di indonesia, walaupun
ganja mengandung unsur kemanfaatan tetapi kemanfaatan saja tidak cukup jika tidak
dibarengi dengan kepastian bahwa ganja tidak akan di salah gunakan. Di tengah mental
masyarakat yang euforia dengan kebebasan. Maka Legalisasi ganja lebih banyak
mudhorot-nya ketimbang manfaatnya.
PENUTUP

A. Kesimpulan
Legalisasi berasal dari kata serapan to legalize/ legalization. Pada intinya legalisasi adalah
proses membuat sesuatu menjadi legal/sah/resmi.
Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat,
namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol
(THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa
senang yang berkepanjangan tanpa sebab).
Pemakaian ganja mulai dari biji sampai daunnya memiliki berbagai macam dampak untuk
fisik, psikis, dan psikososial kita, baik negatif maupun positif.
Penanaman, kepemilikan, penggunaan, dan atau pengedaran/ penjualan/ perdagangan
ganja di masing-masing negara memiliki status yang beragam.
Legalisasi ganja di Indonesia masih hanya sekedar wacana, belum ada keputusan hukum
yang pasti dari pemerintah. Tapi sejauh ini Indonesia telah menggolongkan ganja ke dalam
jenis narkotika yang penanaman, kepemilikan, penggunaan, dan atau
pengedaran/penjualan/perdagangannya dilarang oleh negara sebagaimana terdapat pada
Undang-Undang tentang Narkotika No. 35 Tahun 2009.

B. Saran
Memang terdapat dampak positif yang bisa diambil dari penggunaan ganja itu sendiri,
tetapi harus diingat bahwa dampak negatifnya jauh lebih banyak. Jadi penulis menolak
legalisasi ganja dilakukan di Indonesia, karena Indonesia sendiri sebenarnya telah memiliki
Undang-Undang penolakan penggunaan narkotika itu sendiri jauh-jauh hari dan apabila
penggunaan ganja itu dilegalkan, dikhawatirkan penyalahgunaannya dapat meningkat.