Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Plantar fascitis adalah kondisi yang paling umum dirawat oleh penyedia
layanan kesehatan. Telah diperkirakan bahwa plantar fascitis terjadi pada sekitar 2
juta orang Amerika setiap tahun dan mempengaruhi sebanyak 10% dari populasi
selama seumur hidup.1 Plantar fascitis (heel-spur syndrome) adalah peradangan dari
fibrous band of tissue (fascia) yang menghubungkan tulang tumit ke dasar jari-jari
kaki.1
Plantar fascitis, sebuah cedera berulang pada medial arch dan tumit adalah
salah satu penyebab paling umum dari kaki yang sakit. Fungsi dari plantar fascia ada
dua yaitu statis, menstabilkan panjang lengkungan medial longitudinal arch;
dinamis, memulihkan lengkungan dan membantu dalam konfigurasi ulang kaki
untuk efisien ketika melangkah. Ketika jaringan ini menjadi rusak, rasa sakit atau
kelemahan dapat berkembang di daerah ini.
Faktor risiko fascitis plantar termasuk kelainan struktur, kelebihan berat
badan, berkaitan dengan perubahan usia degeneratif, pekerjaan atau kegiatan yang
membutuhkan berdiri terlalu lama dan kesalahan pelatihan. Literatur menunjukkan
bahwa plantar fascitis dapat berhasil diobati dengan menggunakan pendekatan
konservatif.1
Dalam kasus berat dari plantar fasciitis, bagaimanapun perawatan bedah
mungkin diperlukan untuk mengembalikan pasien ke aktivitas normal sehari-hari
atau olahraga.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1
2.1 Definisi

Plantar fascitis adalah suatu peradangan pada fascia plantarisnya yang disebabkan
oleh penguluran yang berlebihan pada fascia plantarisnya yang dapat menyakibatkan
kerobekan kemudian timbul suatu iritasi pada fascia plantaris, khususnya mengenai bagian
antero-medial tuberositas calcaneus terkadang dapat juga terjadi pada bagian posterior
calcaneus. Plantar fascitis diawali karena adanya penguluran yang berlebih pada sisi
perlengketan fascia akan menimbulkan cidera, inflamasi dan nyeri serta kerobekan pada
fascia plantaris. Cidera fascia pada perlengketan calcaneus akan cenderung kronis mengingat
pada usia lanjut daerah tersebut hipovasculer.2

2.2 Epidemiologi
Insiden yang tepat dan prevalensi menurut umur plantar fascitis tidak diketahui, tetapi
kondisi ini terlihat pada orang dewasa dari segala usia dasarnya. Insiden puncak dapat terjadi
pada wanita berusia 40-60 tahun. Insiden meningkat ada pada pasien dengan
spondyloarthropathies tertentu (misalnya, ankylosing spondylitis), yang sering hadir pada
pasien berusia 20-40 tahun. Perempuan dipengaruhi oleh plantar fasciitis dua kali sesering
pria. Pada dewasa muda, rasio kejadian sama pada kedua jenis kelamin. Ras dan etnis
memainkan peran dalam kejadian plantar fascitis.3

2.3 Etiologi
Pada waktu kita berjalan, semua berat badan kita bertumpu pada tumit yang kemudian
tekanan ini akan disebarkan ke plantar fascia. Sehingga ligamen plantar fascia tertarik ketika
kaki melangkah. Apabila kaki berada dalam posisi baik maka tegangan yang ada tidak
menyebabkan masalah, tetapi apabila kaki berada pada posisi yang salah atau adanya tekanan
yang berlebih maka plantar fascia akan tertarik secara berlebihan, menjadi tegang dan terasa
sakit ringan yang akhirnya inflamasi (plantar fascitis).4
Tegang yang berulang juga dapat menyebabkan nyeri ringan dan inflamasi dalam
ligamen. keluhan nyeri juga acap muncul setelah duduk atau berbaring lama. Keluhan juga
bisa muncul setelah kaki menapak ke lantai lagi setelah lama tidak menapak. Seiring
berjalannya waktu, rasa sakit ini bisa mereda pada siang hari. Intensitas rasa sakit bervariasi,
bisa ringan sampai berat.4
2.4 Faktor Resiko

2
Cedera ini dapat terjadi pada semua usia terutama pada usia pertengahan dan usia
lanjut. Pada usia-usia ini lebih beresiko untuk terjadinya plantar fascitis oleh karena faktor-
faktor sebagai berikut :

1. Bentuk kaki flat foot atau high arch

2. Kelebihan berat badan

3. Individu dengan tingkat aktivitas fisik yang tinggi

4. Individu dengan pekerjaan lebih banyak berdiri atau berjalan

5. Kelemahan atau kekakuan otot terutama otot betis (gastrocnemius)

6. Penggunaan sepatu yang tidak tepat

7. Individu yang hamil, karena selain terjadi penambahan berat badan juga karena
pengaruh hormon yang dapat menyebabkan jaringan ikat untuk relaksasi menjadi
lemas sehingga dapat memicu terjadinya plantar fasciitis.5

2.5 Patofisiologi

Secara aktual, patologi dari plantar fasciitis berawal dari stress yang berlebihan
dari fascia plantaris yang dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang
termasuk yaitu kurangnya fleksibilitas dari plantar fascia dan kekencangan otot-otot
gastroc atau soleus. kelemahan dari otot-otot intrinsik kaki dan yang utama yaitu otot tibialis
posterior pada ankle, penambahan berat badan atau aktivitas yang berat, kekurangan
propriosepsi atau adanya deformitas dari struktur kaki, seperti: pes cavus dan fore foot
varus. Hal tersebut akan mengakibatkan tarikan pada fascia, sehingga terjadi kerobekan
dan timbul iritasi pada fascia plantarisnya.6
Efek dari posisi yang lama dan terus menerus serta stress yang berlebihan dari fascia
plantar akan menyebabkan perubahan pada serabut collagen, dimana terjadi penurunan
kandungan air sekitar 3-4% dan dapat menurunkan jarak diantara serabut-serabut collagen
dan menyebabkan perubahan gerak yang bebas diantara serabut-serabut tersebut.
Menurunnya gerakan diantara serabut collagen membuat jaringan cenderung menjadi kurang
elastis dan lebih rapuh, sehingga akan terbentuk serabut collagen dalam pola yang acak,

3
disamping itu produksi fibroblas yang berlebihan pada fase produksi akan membentuk
jaringan fibrous yang tidak beraturan sehingga menciptakan terjadinya abnormal
crosslink yang akan menyebabkan perlengketan pada jaringan.6
Terjadinya abnormal crosslink disertai dengan inflamasi pada fascia plantarisnya dapat
menimbulkan nyeri tekan pada fascianya. Diagnosa plantar fascitis sering dihubungkan
dengan bone spur.6
Mekanisme nyeri fascitis plantaris diawali adanya lesi pada soft tissue disisi tempat
perlengkatan plantar aponeurosis yang letaknya dibawah dari tuberositas calcaneus atau pada
facia plantaris bagian medial calcaneus akibat dari penekanan dan penguluran yang
berlebihan. Hal itu menimbulkan aksi potensial dari ujung saraf nocisensorik (serabut saraf A-
delta dan C) yang menghantarkan impuls nyeri ke cornu dorsalis medulla spinalis lalu ke otak
dan diotak impuls tersebut di interprestasikan sebagai nyeri.6

2.6 Diagnosis
2.6.1 Manifestasi Klinis

Gejala atau tanda-tanda sebagai berikut :


Akut plantar fascitis.7
Nyeri pagi hari
Nyeri seperti sensasi terakar atau tertusuk pisau.
Plantar fascia tegang atau menebal
Nyeri tumit yang timul setelah berdiri lama atau duduk lama dan bangkit lagi
Menimbulkan bengkak
Kronik plantar fascitis.7
Tidak sembuh setelah 6 bulan
Nyeri terjadi di daerah aponeurosis dan menyebar sampai ke tendon achiles.
2.6.2 Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : pasien datang dengan berjinjit
Palpasi : melakukan palpasi pada tuberculum calcaneus medial biasanya menimbulkan
rasa sakit. Rasa sakit biasanya berada pada insersi serabut fascia plantaris sentralis,
dengan rasa sakit yang tidak jelas saat penekanan calcaneus dari medial ke lateral.7
2.6.3 Pemeriksaan penunjang

Laboratorium
laboratorium tidak diperlukan dalam pemeriksaan plantar fascitis. Namun, tes
laboratorium dapat digunakan untuk menyelidiki penyebab lain dari nyeri tumit jika
dicurigai.7
Radiografi

4
Radiografi biasanya diperlukan untuk mendiagnosis plantar fascitis untuk
menyingkirkan tumor tulang atau fraktur.
Radiografi polos sering digunakan untuk mengetahui apakah ada kelainan pada
tulang. Sekitar 50% dari pasien bergejala dan 20% dari pasien asimtomatik memiliki
taji tumit (calcaneus spur) yang menyebabkan nyeri pada tumit. Radiografi lateral
untuk menyingkirkan kemungkinan adanya tumor.7

Gambar 1. Foto Polos Plantar Fasciitis.7


Bone Scan
Untuk menilai aliran darah pada perlekatan pada fascia dengan tumit.
MRI
Ditemukan adanya calcaneus spur.

2.7 Diagnosa Banding


1. Tarsal Tunnel Syndrome.7
Kompresi nervus tibialis posterior yang berasal dari malleolus medial bagain posterior
melewati anteromedial menuju calcaneus.
Rasa baal sekitar plantar dan bagian medial tumit.
Rasa sakit tidak berkurang dengan istirahat
Nervus tibialis posterior berperan dalam mempersyarafi sensoris dan biasanya pasien
kesulitan dalam menunjukkan lokasi spesifik bagian yang sakit pada tumit.
Sakit semakin memberat saat berdiri dan berjalan setelah istirahat dalam waktu yang
lama dan tidak menunjukkan secara spesifik rasa sakit pada insersi serabut fascia
plantar medialis.
2. Ruptur Fascia Plantaris
Penyebab jarang yang menimbulkan rasa sakit pada plantar
Rasa sakit yang erat pada arcus medial karena trauma fisik.
beerapa pasien salah didiagnosis sebagai fascitis plantar dan tidak sukses diterapi
dalam beberapa bulan dengan injeksi steroid.
Cara jalan pincang yang menunjukan ekstremitas yang terkena

5
3. Penyakit Sistemik
Rhematoid Arthitis
Psoriatic arthritis : rasa sakit pada pasien dengan riwayat psoriasis dan rasa sakit
yang asimetris pada sendi interfalang distal pada distal dan jari tangan dan kaki.7
Reiters syndrome
Systemin Lupus Erythematosus

2.8 Penatalaksanaan

Farmakologi
1. NSAID ( Non Steroid Anti Inflamation Drugs )
Ex. Ibuprofen ( advil, motrin ) Untuk menghambat reaksi peradangan dan nyeri
dengan menurunkan sintesa prostaglandin digunakan sebagai anti inflamasi dan
analgesik, diberikan per oral. Pengobatan ini cara yang paling baik dan aman.4
2. Suntikan 25 mg Cortison acetat (IV)
Suntikan 25 mg cortison acetat (IV) di insersio paponeurosis plantaris pada os.
calcaneus atau tepat pada samping tubulus medial os. calcaneus. Suntikan yang
terlalu banyak dapat melemahkan serta merusak plantar fascia serta menyusutkan
bantalan lemak di sekeliling tumit.4
3. Methylprednisolon topical
Menurunkan peradangan dengan menekan migrasi dari sel PMN dan menurunkan
permeabilitas kapiler. Obat ini dapat menyebabkan ruptur dan atropi dari lapisan
lemak dari plantar fascia.4
4. NSAID lain
Contohnya Aspirin. Menurunkan respon peradangan dan efek sistemik yang
mengawali terjadinya peradangan selanjutnya.4
Operasi
Pada penderita plantar fascitis tidak dapat di operasi karena dapat merusak perlekatan
Muskulus Gastronemius dengan calcaneus. Gejala masih berlangsung lebih dari 6
bulan.4
Terapi fisik
Untuk kenyamanan, program terapi fisik dapat dibagi menjadi peregangan dan
penguatan.
1. Peregangan
Wall stretch (peregangan pelari) dengan lutut baik di diperpanjang dan tertekuk
posisi, tangga peregangan, dan peregangan handuk semua umum digunakan.
Untuk melakukan peregangan dinding, pasien berdiri 3 meter dari dinding,
menempatkan tangan di dinding. Menjaga jari-jari kaki menunjuk lurus dan tumit

6
di tanah, pasien bersandar pinggul ke arah dinding, kemudian memegang posisi ini
selama 30-40 detik.5

Gambar 2. Wall Strech pada penanganan plantar fasciitis.3

Calf stretch
Peregangan ditargetkan pada plantar fascia sangat penting. Tingkat 2 uji klinis
yang dipimpin oleh DiGiovanni et al mempelajari pengaruh Dorsofleksi pasif
pada jari kaki dengan simultan peregangan tendon Achilles. Merekrut
perpanjangan jari kaki dan kemudian melibatkan mekanisme mesin kerek
meningkatkan efektivitas rejimen peregangan tradisional , serta bantuan gejala
berikutnya.5

Gambar 3. Calf stretch pada latihan peregangan plantar fasciitis.3

7
2. Penguatan
Sebuah program penguatan yang menekankan penguatan otot kaki intrinsik juga
terbukti bermanfaat. Latihan untuk memperkuat otot-otot intrinsik meliputi ikal
handuk, (atau koin) marmer pickup, dan keran kaki.5
Untuk Curly towel, pasien duduk dengan kaki yang terkena terbaring di ujung
handuk yang ditempatkan pada permukaan halus, kemudian menarik handuk ke
tubuh dengan menggunakan jari-jari kaki meringkuk handuk sambil menjaga
tumit pada lantai (lihat gambar di bawah). Sebagai kemampuan pasien untuk
melakukan latihan ini meningkatkan, berat badan dapat ditambahkan ke ujung
handuk untuk meningkatkan kesulitan.5

Gambar 4. Latihan curly towel pada plantar fasicitis.3

Untuk pickup marmer, pasien tempat beberapa kelereng di lantai dekat cangkir,
mengambil mereka dengan jari-jari kaki, dan tetes mereka dalam cangkir sambil
menjaga tumit di lantai. Untuk memberikan tantangan yang lebih besar, koin bisa
diganti dengan kelereng.6

2.9 PROGNOSIS
Pasien yang tidak membaik setelah pengobatan konservatif selama 9 sampai 12
bulan, disarankan operasi. Kegagalan operasi dalam menangulangi penyakit ini adalah 2%
sampai 35%. Kegagalan ini ditandai dengan memburuknya rasa sakit dalam satu tahun
terakhir. Rasa sakit pada tumit menetap. Sebagian pasien mengeluhkan rasa sakit yang tidak
berkurang setelah operasi mungkin di sebabkan oleh komplikasi seperti infeksi dan lain-lain.7

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Plantar fascitis adalah suatu peradangan pada fascia plantarisnya yang disebabkan oleh
penguluran yang berlebihan pada fascia plantarisnya yang dapat menyakibatkan kerobekan
kemudian timbul suatu iritasi pada fascia plantaris. Plantar fascitis disebabkan oleh karena
faktor bentuk kaki flat foot atau high arch, kelebihan berat badan, individu dengan tingkat
aktivitas fisik yang tinggi, individu dengan pekerjaan lebih banyak berdiri atau berjalan,
kelemahan atau kekakuan otot terutama otot betis (gastrocnemius) dan penggunaan sepatu
yang tidak tepat.
Gejala atau tanda-tandanya adalah nyeri pagi hari, nyeri seperti sensasi terbakar atau
tertusuk pisau, plantar fascia tegang atau menebal, nyeri tumit yang timul setelah berdiri lama
atau duduk lama dan bangkit lagi dan menimbulkan bengkak. Penatalaksanaanya adalah
Farmakologi yaitu NSAID ( Non Steroid Anti Inflamation Drugs ), suntikan 25 mg cortison
acetat (IV) , methylprednisolon topical, NSAID lain, operasi dan fisioterapi.

9
10