Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sejak awal permasalahan teologis dikalangan umat Islam telah terjadi


perbedaaan dalam bentuk praktis maupun teoritis. Perbedaan tersebut tampak
melalui perdebatan dalammasalah kalamyang ahirnya menimbulkan berbagai
aliran-aliran dalam Islam. Dalamperdebatan tentang teologi ini, yang
diperdebatkan bukanlah akidah-akidah pokok seperti iman kepada Allah, kepada
malaikat dan lain sebagainya, melainkan perdebatan masalah akidah cabang yang
membahas bagaimana sifat Allah, Al-Quran itu baru ataukah qodim,malaikat itu
termasuk golongan jin atau bukan, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu.

Pebedaan tersebut ahirnya menimbulkan berbagai macam aliran


diantaranya sepertiKhawarij, Syiah, Murjiah, Mutazilah, Jabariyah dan
Qodariyah, AsyariyahdanMaturidiyah. Dalam bab ini kita akan membahas sedikit
banyak tentang aliran Murjiah dan Jabariyah yang juga timbul akibat dari adanya
permasalahan-permasalahan kalam.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah


sebagai berikut:

1. Pengertian Murjiah dan Jabariyah


2. Latar Belakang Kemunculan Murjiah dan Jabariyah
3. Doktrin-doktrin pokok Murjiah dan Jabariyah
4. Perkembangan Aliran Murjiah dan Jabariyah

1
2

BAB II
PEMBAHASAN
A. ALIRAN MURJIAH
1. Pengertian Murjiah

Nama Murjiah diambil dari kata irja atau arjaa yang bermakna
penundaan, penangguhan dan pengharapan. Jadi kaum Murjiah adalah
kaum yang menangguhkan. Kata arjaa mengandung pula arti memberi
harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk
memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu, arjaa berarti
pula meletakkan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang
mengemudikan amal dari iman. Selanjutnya, arjaa juga berarti memberi
pengharapan. Hal ini dikarenakan golongan tersebut berpendapat bahwa
orang Islam yang melakukan dosa besar bukanlah kafir tetapi tetap
mukmin dan tidak akan kekal di dalam neraka, memang memberikan
pengharapan bagi yang berbuat dosa untuk mendapat rahmat Allah. swt.
Bisa juga irja tersebut bermana takhir atau mengakhirkan. Hal tersebut
berarti segala keputusan mengenai apakah beriman atau tidak berada di
akhir yaitu setelah hari Kiamat.
Secara istilah kaum Murjiah adalah kaum yang menangguhkan
keputusan tentang perselisihan yang terjadi di kalangan umat Islam sampai
di hadapan Tuhan nanti. Jadi, aliran atau sekte Murjiah adalah
sekelompok atau segolongan orang yang menunda keputusan mengenai
masalah-masalah perselisihan seperti khilafah dan lain sebagainya, sampai
di hadapan Tuhan, ketika manusia menghadap Tuhan nanti. Dalam Tarikh
al-Baghdad, diterangkan bahwa golongan ini bukan termasuk golongan
dalam Islam.

2. Latar Belakang Kemunculan Murjiah

Golongan Murjiah adalah golongan yang lahir pada permulaan abad


ke 1 Hijriyah. Golongan ini terdiri dari sekumpulan umat Islam yang
menjauhkan diri dari pertikaian yang terjadi di antara para sahabat Nabi
3

Muhammad.saw. Mereka tidak mau menyalahkan orang lain. Terdapat


beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan
Murjiah. Pertama, teori ini menyatakan bahwa gagasan irja
dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan
dan kesatuan umat Islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga untuk
menghindari sekterianisme.
Kedua, gagasan irja, yang merupakan basis doktrin Murjiah, muncul
pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali bin
Abi Thalib, Al-Hasan bin Muhammad al-Hanafiyah, sekitar tahun 695.
Ketiga, golongan ini bertolak belakang dengan khawarij. Karena golongan
ini sangat tidak setuju dengan pendapat kaum Khawarij, yang
menghukumi kafir orang-orang yang melakukan dan menyetujui tahkim.
Jadi golongan ini menyerahkan sepenuhnya atau menangguhkan hukum
orang yang melakukan dan menyetujui tahkim kepada Allah, ketika semua
manusia berada di hadapan Allah. Dan menurut penulis, pendapat yang
ketiga ini yang paling benar.
Menurut Harun Nasution, kelompok ini disebut dengan Murjiah, dikarenakan dua
hal:
1. Karena mereka mengakhirkan (tidak memasukkan) amalan ke dalam
definisi keimanan.
2. Karena keyakinan mereka bahwa Allah SWT mengakhirkan
(membebaskan) adzab atas (pelaku) kemaksiatan.

3. Doktrin-Doktrin Pokok Murjiah

Ajaran pokok murjiah pada dasarnya bersumber dari gagasan


atau doktrin irja yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik politik
maupun teologis. Dalam bidang politik misalnya, doktrin tersebut
diaplikasikan dengan sikap politik yang netral yang diekspresikan dengan
sikap diam. Sedangkan dalam bidang teologis, doktrin tersebut
dikembangkan untuk menanggapi masalah-masalah dalam bidang tersebut,
misalnya masalah iman, kufur dan lain sebagainya.
4

Adapun asas-asas mazhab Murjiah adalah mereka berpendapat


bahwa kelompok-kelompok yang berselisih itu masih beriman, sekalipun
sebagian mereka itu ada yang benar dan sebahagian mereka ada yang
salah. Karena mereka tidak mampu untuk menentukan yang mana benar
dan yang mana bersalah, maka dikembalikan hukum itu kepada Allah swt.
Golongan yang berselisih ini dikategorikan masih beriman karena mereka
masih mengucap dua kalimah Syahadah. Kemudian asas ini berkembang
pada masa berikutnya:
1. Iman itu ialah dengan pembenaran (tasdiq) dan makrifah (mengenal
Allah). Amal pula tidak memberi kesan kepada iman secara mutlak.
Mereka mengatakan bahawa keimanan yang disertai dengan kemaksiatan
tidak memberi mudarat, sebagaimana tidak memberi manfaat kekufuran
yang disertai dengan ketaatan.
2. Kemudian sebagian mereka ada yang bersikap ekstrim. Mereka
menganggap bahawa keimanan itu hanyalah dengan hati, sekalipun
seseorang itu mengumumkan kekufurannya dengan lisan, menyembah
berhala atau melazimi orang-orang Yahudi dan Nasrani; dan dia mati
dalam keadaan begitu, maka tetap dianggap sebagai orang yang beriman.
Terdapat kefasikan dan kejahatan di dalam pandangan-pandangan
mazhab ini yang membuka pintu ke arah segala kerusakan. Mereka
menjadikannya sebagai perantara dosa-dosa mereka
Berkaitan dengan doktrin Murjiah, Watt, sebagaimana yang dikutip
oleh Rozak dan Anwar, merincinya sebagai berikut:
1. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah
memutuskannya di akhirat kelak.
2. Penangguhan Ali untuk menduduki rangking keempat dalam peringkat Al-
Khalifah al-Rasyidun.
3. Pemberian harapan terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk
memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.
4. Doktrin-doktrin Murjiah menyerupai pengajaran para skeptis dan empiris
dari kalangan Helenis.
Sedangkan Harun Nasution menyebutkan empat ajaran pokok Murjiah, antara
lain:
5

1. Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash dan Abu Musa, yang
terlibat tahkim dan menyerahkan kepada Allah di hari kiamat kelak.
2. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa
besar.
3. Meletakkan pentingnya iman daripada amal.
4. Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk
memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.
Jadi pada dasarnya doktrin yang dikembangkan sifatnya adalah
penangguhan dan pemberian harapan kepada muslim juga bersifat diam
jika terdapat permasalahan yang sedang terjadi. Demikian juga
penafsirannya atas ayat-ayat al-Quran dan hadits. Hampir semua ayat
yang menunjukkan ampunan terhadap dosa dan harapan masuk surga
mereka tafsiri dan digunakan sebagai tandensi.

4. Perkembangan Aliran Murjiah

Selanjutnya aliran Murjiah juga mengalami perkembangan, yaitu


dengan terbagi menjadi sub-sekte yang kecil-kecil. Hal itu dikarenakan
perbedaan pendapat yang bersifat internal tentang permasalahan-
permasalahan yang muncul. Menurut Harun Nasution, aliran Murjiah ini
dibagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan moderat dan golongan ekstrim.
Golongan moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar
bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan dihukum dalam
neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukannya dan ada
kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya dan oleh karena
itu tidak akan masuk neraka sama sekali. Dalam golongan Murjiah
moderat ini termasuk al-Hasan Ibn Muhammad ibn Ali, Abu Yusuf dan
beberapa ahli hadits. Jadi menurut golongan ini orang yang berdosa besar
masih tetap mukmin dan masih ada kemungkinan untuk mendapatkan
ampunan dari Allah yang akhirnya bisa masuk surga. Dalam hubungan ini
Abu Hanifah memberikan definisi iman sebagai berikut: iman adalah
pengetahuan dan pengakuan adanya Tuhan, Rasul-rasul-Nya dan tentang
segala yang datang dari Tuhan dalam keseluruhan tidak dalam perincian;
6

iman tidak mempunyai sifat bertambah dan berkurang, tidak ada


perbedaan manusia dalam hal iman.

Golongan ekstrim, yang dimaksud adalah al-Jahmiah, pengikut Jahm Ibn


Safwan. Menurut golongan ini orang Islam yang percaya pada Tuhan dan
kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidaklah menjadi kafir, karena iman
dan kufr tempatnya hanya dalam hati, bukan dalam bagian lain dari tubuh
manusia. Jadi menurut golongan ini, iman bukan dalam hati dan diucapkan
dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan, akan tetapi cukup dalam hati
seperti halnya niat.

Termasuk golongan ekstrim yaitu, Shalihiyah, kelompok Abu


Hasan Al-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Tuhan,
sedangkan kufur adalah tidak tahu Tuhan. Shalat bukanlah ibadah. Ibadah
adalah iman kepadaNya dalam arti mengetahui Tuhan. Yunusiyah dan
Ubaidiyah berpendapat bahwa maksiat tidaklah merusak iman seseorang.
Hasaniyah berpendapat bahwa orang yang mengetahui perintah dan
larangan Tuhan dan tidak menepatinya, maka ia tetap iman.
Sementara itu, Abu al-Hasan al-Asyari mengklasifikasi su-sekte aliran Murjiah,
ketika membicarakan mengenai iman, yaitu:
1. Jahamiyah aliran ini adalah pengikut Jahm bin Safwan
2. Para pengikut Abu Hasan al-Shalihi.
3. Pengikut Yunus al-Samiri. Mereka berpendapat, bahwa iman itu adalah
pengenalan terhadap Allah, patuh atasNya, tidak bersikap sombong
kepada-Nya dan mencintai-Nya.
4. Syamriyyah,, mereka beranggapan bahwa iman itu adalah pengenalan
terhadap Allah, patuh atasNya, mencintai-Nya sepenuh hati dan
menyatakan ikrar bahwa Dia itu Esa tanpa sesuatupun yang
menyerupainya.
5. Tsaubaniyah, para pengikut Abu Tsauban. Mereka beranggapan bahwa
iman itu menyatakan ikrar kepada Allah, rasul-Nya, terhadap apapun yang
wajib secara akal untuk diperbuat dan terhadap apapun yang boleh secara
akal untuk tidak diperbuat.
6. Najariyah, pengikut Husein ibn Muhammad al-Najar. Mereka
beranggapan bahwa iman itu pengenalan kepada Allah, rasul-Nya, segenap
7

kewajiban dari-Nya, patuh atas semua yang diwajibkan-Nya dan


menyatakan ikrar secara lisan.
7. Ghailaniyah, pengikut Ghailan. Mereka beranggapan bahwa iman itu
pengenalan terhadap Allah berdasarkan akal dan dalil-dalilnya, mencintai-
Nya, mematuhi-Nya dan menyatakan ikrar kepada rasul-Nya dan atas
segenap yang didatangkan Allah.
8. Para pengikut Muhammad ibn Syabib. Mereka beranggapan bahwa iman
itu menyatakan ikrar kepada Allah, mengenal bahwa Dia adalah Esa tanpa
sesuatupun yang menyerupai-Nya, menyatakan ikrar dan mengenal para
Nabi ataupun rasul-Nya.
9. Hanafiyah, para pengikut Abu Hanifah. Mereka beranggapan bahwa iman
itu mengenal dan menyatakan ikrar kepada Allah, rasul-Nya dan apapun
yang didatangkan Allah secara total dan bukan secara bagian per-bagian.
10. Tumaniyah, para pengikut Abu al-Muadz al-Tumani. Mereka beranggapan
bahwa iman itu merupakan hal yang menghindarkan seseorang dari
kekufuran, yang penamaan tersebut diberikan untuk beberapa hal. Orang
yang melakukan dosa besar dan kecil tidak dikatakan bagi pelakunya
muslim atau fasiq, namun dikatakan kepadanya fasaqa atau asha. Orang
yang sujud kepada matahari, bulan atau berhala tidak kufur dalam dirinya,
namun itu semua adalah tanda-tanda kekufuran. Iman adalah
membenarkan dalam hati dan mengucapkan dalam lisan secara bersama-
sama.
11. Marisiyyah, para pengikut Bisr al-Marisi. Mereka beranggapan bahwa
iman itu pembenaran. Jadi tanpa pembenaran maka tidak ada iman dalam
diri seseorang tersebut.
12. Karamiyyah, para pengikut Muhammad ibn Karam. Mereka beranggapan
bahwa iman itu menyatakan ikrar dan pembenaran secara lisan, bukan
sepenuh hati, sehingga mereka pun mengingkari kalau pengenalan dengan
hati atau pembenaran yang bukan dengan lisan itu disebut sebagai iman.
Sedangkan dalam hal dosa besar atau kecil, anggapan para pengikut Murjiah ini
terbagi menjadi dua:
1. Kelompok pertama beranggapan: setiap perbuatan maksiat itu merupakan
dosa besar.
8

2. Kelompok kedua beranggapan: perbuatan maksiat itu terbagi menjadi dua


bagian, yaitu perbuatan maksiat yang termasuk dosa besar dan perbuatan
maksiat yang termasuk dosa kecil.

A. ALIRAN JABARIYAH
1. Pengertian Jabariyah

Kata Jabariyah berasal dari kata jabbara yang


mengandung arti memaksa. Sedangkan menurut Al-Syahrastani
bahwa Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba
dan secara hakikat menyandarkan perbuatan tersebut kepada
Allah SWT.
(Supiana, 2003: 178)
Dalam istilah inggris paham Jabariyah disebut fatalism /
predestination, yaitu paham yang menyatakan bahwa perbuatan
manusia di tentukan sejak semula oleh qada dan qadar Tuhan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa paham Jabariyah itu adalah
manusia dianggap tidak mempunyai kebebasan dan
kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya,
tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan.

2. Latar Belakang Kemunculan Jabariah


Kata Jabariah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa. Di
dalam Al-Munjid dijelaskan bahwanama Jabariah berasal dari kata jabara
yang mengandung arti memaksa dan mengharuskan melakukan sesuatu.
1
Kalau dikatakan Allah mempunyai sifat Al-Jabbar (dalam bentuk
mubalaghah) artinya Allah Maha Memaksa. Ungkapan al-insan majbur
(bentuk isim maful) mempunyai arti bahwa manusia dipaksa atau
terpaksa. Selanjutnya, kata jabara (bentuk pertama), setelah ditarik
menjadi Jabariah (dengan menambah ya nisbah), artinya adalah sesuatu
kelompok atau aliran (isme) menghilangkan perbuatan manusia dalam arti
yang sesungguhnya dan menyandar-kannya kepada Allah SWT.2 Dengan
kata lain, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa.

1 L. maluf. AL-Munjid fi Al-Lughah wa Al-Alam. Dar Al-Masyriq. Beurut. 1998. hlm. 78

2 Asy-Syahrastani. Al-Milal wa An-Nihal. Darul Fikr. Beirut. hlm. 85


9

Dalam bahasa Inggris, Jabariah disebut fatalism atau predestination, yaitu


paham bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha
dan qadar Tuhan.3
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai asal-usul kemunculan dan
perkem-bangan Jabariah, tampaknya perlu dijelaskan siapa sebenarnya
yang melahirkan dan menyebarluaskan paham al-jabar serta dalam situasi
apa paham itu muncul.
Paham al-jabar pertama kali diperkenalkan oleh Jad bin Dirham
(terbunuh 124 H) yang kemudian disebarkan oleh Jahm Shafwan (125 H)
dan Khurasan. Dalam sejarah teologi Islam, Jahm tercatat sebagai tokoh
yang mendirikan aliran Jahmiyah dalam kalangan Murjiah. Ia duduk
sebagai sekretaris Suraih bin Al-Haris dan menemaninya dalam gerakan
melawan kekuasaan bani Umayah.4 Dalam perkem-bangannya, paham al-
jabar ternyata tidak hanya dibawa oleh dua tokoh di atas. Masih banyak
tokoh-tokoh lain yang berjasa dalam mengembangkan paham ini,
diantaranya adalah Al-Husain bin Muhammad An-Najjar dan Jad bin
Dirar.

Mengenai kemunculan al-jabar, para ahli sejarah pemikiran


mengkajinya melalui pendekatan geokultural bangsa Arab. Di antara ahli
yang dimaksud adalah Ahmad Amin. Ia menggambarkan kehidupan
bangsa Arab yang dikungkung oleh gurun pasir sahara yang memberikan
pengaruh besar ke dalam cara hidup mereka. 5 Ketergantungan mereka
pada alam sahara yang ganas telah mencuatkan sikap penyerahan diri
terhadap alam.
Lebih lanjut, Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi
demikian, masyarakat Arab tidak banyak melihat jalan untuk mengubah

3 Harun Nasutiaon. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. UI Press.


Cet V. Jakarta. 1986. hlm. 31

4 Ibid. hlm. 33

5 Ahmad Amin. Fajr Al-Islam. Maktabah An-Nahdhah Al-Misriyah li Ashhabiha Hasan


Muhammad wa Auladihi. Kairo. hlm. 45
10

keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya. Mereka merasa


dirinya lemah dan tidak kuasa dalam menghadapi kesukaran-kesukaran
hidup. Akhirnya, mereka banyak bergantung pada kehendak alam. Hal ini
membawa mereka pada sikap fatalism.6
Sebenarnya, benih-benih paham al-jabar sudah muncul jauh
sebelum kedua tokoh di atas. Benih-benih itu terlihat dalam peristiwa
sejarah berikut ini
1. Suatu ketika, Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar
dalam masalah takdir Tuhan. Nabi melarang mereka untuk
memperdebatkan persoalan tersebut, agar terhindar dari kekeliruan
penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir.7
2. Khalifah Umar bin Khaththab pernah menangkap seseorang yang
ketahuan mencuri. Ketika diiterogasi, pencuri itu berkata, Tuhan telah
menentukan aku mencuri. Mendengar ucapan itu, Umar marah sekali dan
menganggap orang itu telah berdusta kepada Tuhan. Oleh karena itu, Umar
memberikan dua jenis huku-man kepada pencuri itu. Pertama, hukuman
potong tangan karena mencuri. Kedua, hukuman dera menggunakan dalil
takdir Tuhan.8
3. Khalifah Ali bin Abi Thalib sesuai Perang Siffin ditanya oleh seorang
tua tentang kadar (ketentuan) Tuhan dan kaitannya dengan pahala dan
siksa. Orang tua itu bertanya, Apabila perjalanan (menuju Perang Siffin)
itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan, tidak ada pahala sebagai
balasannya. Kemudian Ali menjelaskan bahwa qadha dan qadar bukanlah
paksaan Tuhan. Oleh karena itu, ada pahala dan siksa sebagai balasan
amal perbuatan manusia. Ali selanjutnya

6 Nasution. loc. cit

7 Aziz Dahlan. Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam. Beunebi Cipta. Jakarta.
1987. hlm. 27-29

8 Ali Mushthafa Al-Ghurabi. Tarikh Al-Firaq Al-Islamiyyah. Kairo. 1958. hlm. 15


11

menjelaskan, sekiranya qadha dan qadar merupakan paksaan, batallah pahala dan
siksa, gugur pulalah makna janji dan ancaman Tuhan, serta tidak ada celaan Allah
atas pelaku dosa dan pujian-Nya bagi orang-orang yang baik9
4. Pada pemerintahan daulah bani Umayah, pandangan tentang al-jabar
semakin mencuat ke permukaaan. Abdullah bin Abbas melalui suratnya
memberikan reaksi keras kepada penduduk Siria yang diduga berpaham
Jabariah.10
Paparan di atas menjelaskan bahwa bibit paham al-jabar telah
muncul sejak awal periode Islam. Akan tetapi, al-jabar sebagai pola pikir
atau aliran yang dianut, dipelajari dan dikembangkan terjadi pada masa-
masa pemerintahan Daulah Bani Umayah, yaitui oleh kedua tokoh yang
telah disebutkan.11
Berkaitan dengan kemunculan aliran Jabariah dalam Islam, ada
teori yang mengatakan bahwa kemunculannya diakibatkan oleh pengaruh
pemikiran asing, yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan
agama Kristen bermazhab Yacobit.12 Akan tetapi, tanpa pengaruh-
pengaruh asing itu sesungguhnya paham al-jabar akan muncul di kalangan
umat Islam. Sebab, di dalam Al-Quran tredapat ayat- ayat yang dapat
menimbulkan paham ini misalnya:

Artinya:
Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan
orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan
(pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan
beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak
mengetahui.
9 Ibid. hlm. 28

10 Huwaidhy. Dirasat fi Ilmi Al-Kalam wa Al-Falsafah Al-Islamiyah. Dar Ats-Tsaqafah.


Kairo. 1980. hlm. 98

11 Harun Nasution. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek. Cet. VI. UI Press. Jakarta. 1986.
hlm. 37
12

(QS. Al-Anam: 111)

Artinya:
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu"
(QS, Ash-Shaffat: 96)
Ayat-ayat di atas terkesan membawa seseorang pada alam pikiran
Jabariah. mungkin inilah sebabnya pola pikir Jabariah masih tetap ada di
kalangan umat Islam hingga kini walaupun anjurannya telah tiada.

3. Doktron-doktrin Pokok Jabariah


Menurut Asy-Syahrastani, Jabariah itu dapat dikelompokkan
menjadi dua bagian, yaitu ekstrem dan mederat. 12 Di antara doktrin
Jabariah ekstrem adalah pendapatnya bahwa segala perbuatan manusia
bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya, melainkan
perbuatan yang dipaksakan atas dirinya. Misalnya, kalau seseorang
mencuri, perbuatan mencuri itu bukan terjadi atas kehendak sendiri,
melainkan karena qadha dan qadar Tuhan yang menghendaki demikian.13
Di antara pemuka Jabariah ekstrem adalah sebagai berikut.
1. Jahm bin Shafwan
Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus bin Shafwan. Ia berasal dari
Khurasan, bertempat tinggal di Kufah. Ia seorang dai yang fasih dan lincah
(orator). Ia duduk sebagai sekretaris Harits bin Surais, seorang mawali
yang menentang pemerintah bani Umayah di Khurasan. Ia ditawan
kemudian dibunuh secara politik tanpa ada kaitannya dengan agama.14
Sebagai seorang yang penganut dan penyebar paham Jabariah,
banyak usaha yang dilakukan Jahm, antara lain menyebarkan doktrinnya
ke berbagai tempat, seperti ke Tirmidz dan Balk.
Di antara pendapat- pendapat Jahm berkaitan dengan persoalan
teologi adalah sebagai berikut.

12 Asy-Syahrastani. op. cit. hlm. 85

13 Nasution. op. cit. hlm. 34

14 Ahmad Amin. op. cit. hlm. 286-287


13

a) Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya,


tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan.
Pendapat Jahm tentang keterpaksaan lebih terkenal dibandingkan
pendapatnya tentang surge dan neraka, konsep iman, kalam Tuhan,
meniadakan sifat Tuhan (nafyu as-sifat), dan melihat Tuhan di akherat.
b) Surga dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain Tuhan.
c) Iman adalah makrifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini,
penda-patnya sama dengan konsep iman yang dimajukan kaum Murjiah.
d) Kalam Tuhan adalah makhluk. Allah Mahasuci dari segala sifat dan
keseru-paan dengan manusia, seperti berbicara, mendengar, dan melihat.
Begitu pula Tuhan tidak dapat dilihat dengan andra mata di akherat kelak.
Dengan demikian, dalam beberapa hal, Jahm berpendapat serupa dengan
Murjiah, Mutazilah, dan Asyariyah sehungga para pengritik dan sejarawan
menyebutnya dengan Al-Mutazili, Al-Murjii, dan Al-Asyari.

2. Jad bin Dirham


Al-Jad adalah seorang Maulana bani Hakim, tinggal di
Damaskus.ia di-besarkan di dalam lingkunganorang Kristen yang senang
membicarakan teologi. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan
pemerintahbani Umayah, tetapi setelah pikiran- pikirannya yang
kontroversial terlihat, bani Umayah menolaknya sehingga ia harus lari ke
Kufah dan bertemu dengan Jahm, yang akhirnya berhasil mentransfer
pikirannya kepada Jahm untuk dikembangkan dan disebarluaskan.
Doktrin pokok Jad secara umum sama dengan pikiran Jahm. Al-
Ghuraby menjelaskan sebagai berikut.15
a) Al-Quran itu adalah makhluk. Oleh karena itu, dia baru. Sesuatu yang
baru tidak dapat disifatkan kepada Allah.
b) Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti
berbicara, melihat, dan mendengar.
c) Manusia tidak terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.
Berbeda dengan Jabariah ekstrem, Jabariah moderat mengatakan
bahwa Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat
maupun perbuatan baik, tatapi manusia mempunyai bagian di dalamnya.

15 Al-Ghurabi. op. cit. hlm. 28-29


14

Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk


mewujudkan perbuatannya. Inilah yang dimaksud cdengan kasab
(acquisition).16 Menurut paham kasab, manusia tidak majbur (dipaksa oleh
Tuhan), tidak seperti waying yang terkendali di tangan dalang dan tidak
pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan
yang diciptakan Tuhan.17
Tokoh yang termasuk dalam Jabariah moderat adalah sebagai
berikut.
1. Al-Najjar
Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar (wafat
230 H). para pengikutnya disebut An-Najjariyah atau Al-Husainiyah. Di
antara pendapat-pendapatnya adalah:
a) Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia
mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.
Itulah yang disebut kasab dakam teori Al-Asyari.18 Dengan demikian,
manusia dalam pandangan An-Najjar tidak lagi seperti wayang yang
gerakannya bergantung pada dalang. Sebab, tenaga yang diciptakan Tuhan
dalam manusia mem-punyai efek untuk mewujudkan perbuatan-
perbuatannya.
b) Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. Akan tetapi, An-Najjar menyatakan
bah-wa Tuhan dapat memindahkan potensi hati (makrifat) pada mata
sehingga dapat melihat Tuhan.19
2. Adh-Dhirar
Nama lengkapnya adalah Dhirar bin Amr. Pendapatnya tentang
perbuatan manusia sama dengan Husein An-Najjar, yaitu bahwa manusia
tidak hanya me-rupakan wayang yang digerakkan dalang. Manusia
mempunyai bagian dalam per-wujudan perbuatannya.20 Secara tegas,
Dhirar secara bersamaan, artinya per-buatan manusia tidak hanya
16 Nasution. op. cit. hlm. 35

17 Harun Nasution. Ensiklopedia Islam Indonesia. Djambatan. Jakarta. 1992. hlm. 522

18 Asy-Syahrastani. op. cit. hlm. 89

19 Ibid
15

ditimbulkan oleh Tuhann tetapi juga oleh manusia. Manusia turut berperan
dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
Mengenai ruyat Tuhan di akherat, Dhirar mengatakan bahwa
Tuhan dapat dilihat di akherat melalui indra keenam. Ia juga
berpendapat bahwa hujjah yang dapat diterima setelah Nabi adalah ijtihad.
Hadits ahad tidak dapat dijadikan sumber menetapkan hukum.21

5. Perkembangan Aliran Jabariyah

Aliran Jabariyah ini di golongkan menjadi dua golongan yaitu


aliran jabariyah moderat dan aliran jabariyah ekstrim

Jabariyah ekstrim menyatakan segala perbuatan manusia bukan


merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi
perbuatan yang dipaksakan oleh dirinya
Jabariyah Moderat mengatakan bahwa tuhan memang menciptakan
perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun yang baik. Tetapi
manusia mempunyai bagian dalamnya.

20 Nasution. Teologi.. hlm. 35

21 Asy-Syahrastani. loc. cit.


16

BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Dari pembahasan diatas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan.
Murjiah artinya orang yang menunuda penjelasan kedudukan seseorang yang
bersengketa yakni Ali dan Muawwiyah serta pasukannya masing-masing, ke hari
kiamat kelak.
Golongan Murjiah, pada umumnya terbagi menjadi dua. Yaitu, golongan Murjiah
ekstrim dan Murjiah moderat.
Golongan Murjiah ekstrim menyatakan bahwa, iman adalah pengakuan dalam hati
(tasdiq bil qalb). Seseorang tidak menjadi kafir karena melakukan dosa besar
sekalipun menyatakan kekufurannya secara lisan.
Sedangkan golongan Murjiah moderat menyatakan bahwa, iman itu merupakan
pengakuan dalam hati (tasdiq bil qalb) dan pengakuan dengan lisan (iqraq bil al-
lisan). Pelaku dosa besar menurut mereka tidak kafir dan tidak kekal dalam
neraka. Kalau Tuhan mengampuninya ia bebas dari neraka, kalau tidak mendapat
ampunan maka ia masuk neraka.
Kata Jabariyah berasal dari kata jabbara yang mengandung arti
memaksa. Sedangkan menurut Al-Syahrastani bahwa Jabariyah berarti
menghilangkan perbuatan dari hamba dan secara hakikat
menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah SWT.

Golongan Jabariyah, pada umumnya terbagi menjadi dua. Yaitu, golongan


Murjiah ekstrim dan Murjiah moderat.
Jabariyah ekstrim menyatakan segala perbuatan manusia bukan merupakan
perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan
oleh dirinya
Jabariyah Moderat mengatakan bahwa tuhan memang menciptakan
perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun yang baik. Tetapi manusia
mempunyai bagian dalamnya.
17

DAFTAR PUSTAKA

Afrizal M., Ibn Rusyd, 7 Perdebatan Utama Dalam Teologi Islam (Jakarta: PT.
Gelora Aksara Pratama, 2008)
Ahmad Baso , NU studies: pergolakan pemikiran antara
fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal , (PT. Gelora Aksara
Pranama, 2006)
Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam. 1990