Anda di halaman 1dari 28

Rumusan Masalah Pembahasan:

1. Definisi BPJS
2. Definisi dan fungsi umum Apoteker di Komunitas
3. Peran dan apoteker di bagian BPJS yang terdiri dari
a. Apoteker dalam pengendalian persediaan (perencanaan, pengadaan dan
pengelolaan) obat.
b. Kemampuan apoteker dalam pengendalian biaya obat peresep dimana
apoteker berperan sebagi verifikator resep dengan dasar farmakoekonomi
dan farmakoterapi yang baik.
4. Program PROLANIS pada BPJS

A. DEFINISI BPJS
Setiap orang berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan
dasar hidup yang layak dan meningkatkan martabat sehingga pemerintah
mengembangkan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) bagi seluruh rakyat
Indonesia untuk memberikan jaminan sosial yang menyeluruh. Sistem Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) ini telah resmi dilaksanakan pada 1 Januari 2014. JKN
merupakan perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat
pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau
iurannya dibayar oleh pemerintah yang diselenggarakan secara nasional
berdasarkan prinsip asuransi sosial dan ekuitas (Departemen Kesehatan, 2004).
Dalam pelaksanaan sistem JKN di Indonesia dibentuklah Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) yang bertanggung
jawab memastikan berjalannya jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia
sebagai peserta jaminan (Departemen Kesehatan, 2011). Berlakunya jaminan
kesehatan secara nasional adalah akses untuk mengamankan masyarakat agar
mendapatkan pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dengan biaya
yang terjangkau.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah badan hukum yang
dibentuk dengan Undang-Undang untuk menyelenggarakan program jaminan

1
social. BPJS menurut UU SJSN adalah transformasi dari badan penyelenggara
jaminan sosial yang sekarang telah berjalan dan dimungkinkan untuk membentuk
badan penyelenggara baru sesuai dengan dinamika perkembangan jaminan social.
BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan adalah badan hukum public menurut
UU BPJS.
Pada UU No. 24 tahun 2011, disebutkan Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial. BPJS- Kesehatan bertujuan untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial di bidang kesehatan. Adapun dasar ditujuknya PT. Askes
(Persero) sebagai BPJS Kesehatan oleh pemerintah adalah:
a. Undang-undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN). Sistem jaminan sosial nasional (SJSN), merupakan suatu tata cara
penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa Badan
Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS).
b. Undang No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Nasional
c. Peraturan Presiden Republik Indonesia No.12 tahun 2013 tentang jaminan
kesehatan. Jaminan kesehatan berupa perlindungan kesehatan agar peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam
memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang
yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah.
Dalam menjalankan sistem jaminan kesehatan nasional harus ada
kerjasama antara BPJS Kesehatan dengan fasilitas kesehatan sebagai pemberi
layanan kesehatan kepada peserta jaminan kesehatan nasional. Fasilitas kesehatan
dibedakan menjadi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas
Kesehatan Tingkat Lanjutan (FKTL). Fasilitas kesehatan tingkat pertama meliputi
puskesmas, praktek dokter, dokter gigi, klinik pratama atau yang setara, dan
rumah sakit kelas D atau yang setara (Kementrian Kesehatan, 2013a), sedangkan
fasilitas kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit (Umum, Daerah, Pusat,
Swasta, khusus dan lainnya yang udah terakreditas serta Balai Kesehatan. Sasaran
pembangunan kesehatan oleh pemerintah adalah meningkatkan derajat kesehatan

2
masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
yang dapat dicapai dengan mendekatkan sarana pelayanan kesehatan kepada
masyarakat antara lain melalui puskesmas. Pada era JKN, pemerintah menerapkan
gate keeper concept dimana FKTP berperan sebagai pemberi pelayanan kesehatan
dasar serta dapat berfungsi optimal sesuai standar kompetensinya dan memberikan
pelayanan kesehatan sesuai standar pelayanan medik (BPJS Kesehatan, 2014a).
Pelayanan kesehatan pada era JKN dilaksanakan berjenjang serta memberlakukan
sistem rujukan yang menetapkan prosedur rujukan untuk semua peserta (Andini,
2014) sehingga dapat mengurangi beban rumah sakit (BPJS Kesehatan, 2014a).
Adapun cakupan dari pelayanan BPJS Kesehatan pada Rawat Jalan
Tingkat Pertama meliputi :
a. administrasi pelayanan, meliputi biaya administrasi pendaftaran peserta untuk
berobat, penyediaan dan pemberian surat rujukan ke fasilitas kesehatan
lanjutan untuk penyakit yang tidak dapat ditangani di fasilitas kesehatan
tingkat pertama;
b. pelayanan promotif preventif, meliputi:
1. kegiatan penyuluhan kesehatan perorangan;
Penyuluhan kesehatan perorangan meliputi paling sedikit penyuluhan
mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan
sehat.
2. imunisasi dasar;
Pelayanan imunisasi dasar meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG),
Difteri Pertusis Tetanus dan Hepatitis-B (DPTHB), Polio, dan Campak.
3. keluarga berencana;
a) Pelayanan keluarga berencana meliputi konseling, kontrasepsi dasar,
vasektomi dan tubektomi bekerja sama dengan lembaga yang
membidangi keluarga berencana.
b) Penyediaan dan distribusi vaksin dan alat kontrasepsi dasar menjadi
tanggung jawab pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah.
c) BPJS Kesehatan hanya membiayai jasa pelayanan pemberian vaksin
dan alat kontrasepsi dasar yang sudah termasuk dalam kapitasi, kecuali
untuk jasa pelayanan pemasangan IUD/Implan dan Suntik di daerah
perifer.
d) Skrining kesehatan

3
1) Pelayanan skrining kesehatan diberikan secara perorangan dan
selektif.
2) Pelayanan skrining kesehatan ditujukan untuk mendeteksi risiko
penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit
tertentu, meliputi:
diabetes mellitus tipe 2;
hipertensi;
jantung
astma
PPOK
Epilepsy
Schizophrenia
Stroke
Systemic lupu erytematosus (SLE)
Penyakit kronis lainnya yang ditetapkan MEenKes dan
Organisasi Profesi.
3) Pelayanan skrining kesehatan penyakit diabetes mellitus tipe 2 dan
hipertensi dimulai dengan analisis riwayat kesehatan, yang
dilakukan sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali.
4) Jika Peserta teridentifikasi mempunyai risiko penyakit diabetes
mellitus tipe 2 dan hipertensi berdasarkan riwayat kesehatan, akan
dilakukan penegakan diagnosa melalui pemeriksaan penunjang
diagnostik tertentu dan kemudian akan diberikan pengobatan
sesuai dengan indikasi medis.
5) Pelayanan skrining kesehatan untuk penyakit kanker leher rahim
dan kanker payudara dilakukan sesuai dengan indikasi medis.
c. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis;
d. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif;
e. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai;
f. Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama;
g. Pemeriksaan ibu hamil, nifas, ibu menyusui dan bayi ;
h. Upaya penyembuhan terhadap efek samping kontrasepsi termasuk penanganan
komplikasi KB paska persalinan;

i. Rehabilitasi medik dasar.


Untuk mempermudah memahami alur dari program BPJS kesehatan ini,
dapat dilihat gambar dibawah ini:

4
Gambar. Kerangka Program BPJS kesehatan
Program Rujuk balik pada gambar diatas adalah Pelayanan Kesehatan
yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih
memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang
dilaksanakan di faskes tk I atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis yang
merawat. Pelayanan rujuk balik ini diberikan kepada penderita di fasilitas
kesehatan tingkat pertama atas rekomendasi/rujukan balik dari Dokter
Spesialis/Sub Spesialis yang merawat. Tujuan dari program rujik balik ini adalah
optimalisasi peran Dokter Layanan Primer sebagai Gatekeeper sekaligus manager
Kesehatan bagi Peserta, Transfer Of Knowledge dari Dokter Spesialis /Sub
Spesialis ke Dokter Layanan Primer, dan meningkatkan efektifitas pelayanan
kesehatan bagi peserta penderita penyakit kronis. Berikut adalah gambar
mekanisme program rujuk balik dilakukan dalam BPJS kesehatan;

5
Gambar. Mekanisme Program Rujuk Balik
Obat yang diberikan kepada peserta rujuk balik adalah obat utama ( yaitu
obat kronis yang diresepkan oleh dr spesialis/Sub spesialis di Faskes Rujukan dan
tercantum dalam Formularium Nasional untuk Program Rujuk Balik) dan obat
tambahan (yaitu obat yang mutlak diberikan bersama obat utama dan diresepkan
oleh dr spesialis/sub spesialis di Faskes Rujukan untuk mengatasi penyakit
penyerta atau mengurangi efek samping akibat obat utama). Peserta yang berhak
memperoleh obat PRB adalah peserta dengan diagnosa penyakit kronis yang telah
ditetapkan dalam kondisi terkontrol/stabil oleh Dokter Spesialis/Sub Spesialis dan
telah mendaftarkan diri untuk menjadi peserta Program Rujuk Balik.
Manfaat dari berlakunya program rujuk balik ini dapat dinikmati oleh 3
pihak, yaitu peserta BPJS itu sendiri, Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama, dan
Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut. Peran apoteker di FKTP dalam meningktakan
fungsi pengawasan dan pengobatan dapat diaplikasikan semaksimal mungkin
dalam program Rujuk balik ini. Lihatlah pada gambar berikut:

6
Gambar. Manfaat Rujuk Balik Program BPJS

B. DEFINISI DAN TUGAS FUNGSI UMUM APOTEKER


Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan
telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan
berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di indonesia sebagai apoteker (Menkes
RI, 2004). Apoteker merupakan profesi yang berbasis pengetahuan, untuk
mendapatkan pengetahuan ini harus melalui studi dan pelatihan. apoteker, dan
mereka memilih untuk menjadi apoteker memiliki berbagai cara untuk
mendapatkan pengetahuan. sekali pengetahuan yang diperoleh, apoteker
menerima berbaga kepercayaan ( Kelly, 2002).
Apoteker merupakan tenaga kesehatan professional yang banyak
berhubungan langsung dengan masyarakat sebagai sumber informasi obat. Oleh
karena itu, informasi obat yang diberikan pada pasien haruslah informasi yang
lengkap dan mengarah pada orientasi pasien bukan pada orientasi produk. Dalam
hal sumber informasi obat seorang apoteker harus mampu memberi informasi
yang tepat dan benar sehingga pasien memahami dan yakin bahwa obat yang
digunakannya dapat mengobati penyakit yang dideritanya dan merasa aman
menggunakannya. Dengan demikian peran seorang apoteker di apotek sungguh-
sungguh dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

7
1. Peranan Apoteker
Apoteker memiliki kemampuan dalam melaksanakan kegiatan pelayanan
kefarmasian yang bermutu dan efisien yang berasaskan pharmaceutical care di
apotek, rumah sakit maupun puskesmas. Adapun standar pelayanan
kefarmasian di apotek telah diatur melalui SK Mentri Kesehatan RI 1027/
Menkes/ SK/ IX/ 2004 dimana tujuan dari standar pelayanan ini adalah
melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional, melindungi
profesi dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar, pedoman dalam
pengawasan praktek Apoteker, pembinaan serta meningkatkan mutu
pelayanan farmasi di apotek, rumah sakit maupun puskesmas.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1027/Menkes/SK/IX/2004, bahwa pelayanan kefarmasian meliputi:
1) Pelayanan Resep
a. Skrining Resep
b. Penyiapan obat
c. Penyerahan obat
2) Pelayanan komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
3) Pelayanan Residensial (Home Care)
4) Peranan Apoteker Sebagai Manager

2. Hak dan Kewajiban Apoteker


Hak Apoteker
a. Mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang
beriktikad tidak baik;
b. Melakukan pembelaan diri yang sepatutnya di dalam penyelesaian hukum
sengketa konsumen;
c. Rehabilitasi nama baik apabila tidak terbukti secara hukum bahwa
kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/ atau jasa yang
diperdagangkan;
d. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.

8
Kewajiban Apoteker
Kewajiban-kewajiban apoteker sebagai pelaku usaha pelayanan kefarmasian
diatur dalam Pasal 7 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen, yaitu
a. Beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya.
b. Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/ atau jasa serta memberikan penjelasan penggunaan,
perbaikan dan pemeliharaan;
c. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif;
d. Menjamin mutu barang dan/ atau jasa yang diproduksi dan
diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/ atau jasa
yang berlaku;
e. Memberikan kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan mencoba
barang dan/ atau jasa tertentu serta memberikan jaminan atas barang yang
dibuat dan/ atau diperdagangkan;
f. Memberikan kompensasi, ganti rugi dan/ atau penggantian atas kerugian
akibat penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/ atau jasa
yang diperdagangkan; Selain itu, sebagai pelayanan kefarmasian
kewajiban apoteker juga diatur dalam Pasal 15

C. PERAN DAN POSISI APOTEKER DI BAGIAN BPJS

Menurut PP 51 Tahun 2009 dan UU Kesehatan Nomor 108 Tahun 2009


dengan jelas mengatur fungsi dan peranan apoteker dalam dunia kesehatan. Jika
peranan tersebut dimaksimalkan maka BPJS diharapkan apoteker mampu
menekan biaya pelayanan kesehatan sekaligus mengontrol penggunaan obat
tidak rasional dan peresepan yang berlebihan. Melihat peranan apoteker yang
cukup besar, mungkin tidak ada salahnya jika pemerintah meninjau ulang Perpres
No. 12 Tahun 2013 tentang jaminan kesehatan.

9
Konsep pembelian jasa pelayanan kesehatan oleh BPJS Kesehatan dari
Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dengan menggunakan tarif kapitasi
menyebabkan fasilitas kesehatan tingkat pertama menyesuaikan pola
manajemennya sehingga operasional fasilitas kesehatan tersebut dapat lebih
efektif dan efisien tanpa mengenyampingkan kualitas pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada pasien. Konsep kapitasi ini sangat mempengaruhi konsep
manajemen pada fasilitas kesehatan, salah satunya adalah konsep laba/profit.
Peran Apoteker pada masa JKN ini menjadi sangat strategis dalam system
pelayanan kesehatan maupun system adminitrasi kesehatan. Pada era JKN ini
paling tidak ada 2 kompetensi Apoteker yang tidak dapat tergantikan dalam
menjalankan praktek kefarmasian di Apotek yaitu kompetensi apoteker dalam
pengendalian persediaan ( perencanaan, pengadaan dan pengelolaan ) obat
serta kemampuan apoteker dalam pengendalian biaya obat peresep dimana
apoteker berperan sebagi verifikator resep dengan dasar farmakoekonomi dan
farmakoterapi yang baik.
Berdasarkan kebijakan yang telah dikeluakan oleh kementerian kesehatan,
posisi atau kedudukan Apoteker dalam system JKN adalah sebagai berikut:
a) Merupakan bagian dari fasilitas kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan
kerjasama dengan BPJS Kesehatan. Disini Apoteker berkedudukan sebagai
penanggungjawab ruang farmasi atau apoteker pendamping pada Puskesmas
maupun Klinik pertama atau yang setara, dan juga sebagai penaggung jawab
instalasi farmasi atau Apoteker pendamping pada Rumah Sakit Kelas D
Pratama atau yang setara.
b) Merupakan bagian dari sarana penunjang fasilitas kesehatan tingkat pertama
yang melaksanakan kerjasama dengan BPJS Kesehatan. Disini Apoteker
berkedudukan sebagai penanggungjawab Apotek atau Apoteker pendamping
pada Apotek yang bekerjasama dengan praktik dokter atau praktik dokter gigi
maupun Puskesmas atau Klinik pertama yang tidak memiliki Apoteker.
1. Apoteker dalam pengendalian persediaan (perencanaan, pengadaan dan
pengelolaan) obat

10
Terdapat konsep yang sangat berbeda terkait laba / profit pada saat
sebelum dan sesudah dilaksanakannya jaminan kesehatan nasional pada
tanggal 1 januari 2014 yang lalu. Sebelum era JKN profit yang diperoleh oleh
fasilitas kesehatan di tingkat pertama untuk pelayanan kesehatan rawat jalan
akan berbanding lurus dengan jumlah kunjungan pasien, lamanya pasien
dirawat, volume penjualan obat dan bahan habis pakai dan beberapa faktor
lainnya. Sedangkan pada pasca JKN, konsep profit diatas berubah terbalik.,
dimana pada era JKN diharapkan fasilitas kesehatan dapat merawat pasien
dengan baik akan tetapi menggunakan sumberdaya yang seefisien mungkin.
Jumlah kunjungan pasienpun diharapkan dapat dikurangi, dengan cara
meningkatkan upaya pelayanan kesehatan promotif dan prefentif oleh fasilitas
kesehatan.
Konsep profit pada sarana kefarmasian secara otomatis mengikuti
konsep profit pada fasilitas pelayanan kesehatan pada era JKN ini. Konsep
profit pada sarana kefarmasian saat ini tidak lagi tergantung pada volume
penjualan obat dan bahan habis pakai untuk pasien peserta JKN, melainkan
tergantung kepada kemampuan manajemen farmasi, farmakoekonomi dan
farmakoterapi apoteker dalam melakukan pelayanan kefarmasian baik dalam
proses manajemen sarana kefarmasian ataupun pelayanan farmasi klinik
kepada pasien.
Seorang apoteker dalam menentukan besaran angka kapitasi pelayanan
kefarmasian harus mampu menetukan besaran angka kapitasi untuk
perbekalan farmasi (obat dan BHP) selain jasa pelayanan kefarmasian oleh
Apoteker. Dengan posisi atau kedudukan sarana kefarmasian (apotek) dalam
system JKN seperti ini, maka besaran angka kapitasi untuk sarana (obat)
mampu dihemat sebagai akses dari praktek kefarmasian yang baik oleh
apoteker.
Tugas apoteker dalam pengendalian obat terdiri dari review kinerja,
pengendalian pengelolaan informasi , pengendalian fisik dan pemisahan tugas.
Sedangkan tugas apoteker dalam pemantauan obat yaitu memantau keluar
masuknya obat, memeriksa secara rutin pelaksanaan kerja bagian gudang dan

11
bagian pengadaan perlrngkapan, serta memantau ketersediaan obat untuk
pasien pengguna BPJS dengan menganalisa laporan stock opname setiap
bulan
a. Penilian resiko
Penilaian resiko manajemen untuk tujuan pelaporan keuangan dan
desain serta implementasi aktivitas pengendalian yang ditujukan untuk
mengurangi resiko tersebut pada tingkat minimum untuk
mempertimbangkan biaya dan manfaatnya. Tujuan manajemen
mengadakan penilaian resiko adalah untuk menentukan bagaimana cara
mengatasi resiko yang telah diidentifikasi
Apoteker harus memperhatikan masa kadaluarsa dari obat karena
akan mengakibatkan resiko yang menimbulkan kerugian instansi, sehingga
untuk mengatasi hal tersebut apoteker harus membuat kebijakan yang
biasa disebut dengan stock opname yang dilakukan sebubal sekali dan
menggunakan dua metode yaitu FIFO (first in first out) dan FEFO (first
Expired first out) yang sesuai dengan kondisi dari situasi keterangan obat
atau kadaluarsanya sehingga resiko kadaluarsa dapat diperkecil. Serta
sebelum minimnya persediaan sudah dilakukan pemesanan oleh bagian
gudang ke bagian pengadaan perlengkapan mengenai persediaan obat
pasien pengguna BPJS Kesehatan untuk menjaga adanya keterlambatan
dalam menangani pemesan obat oleh pasien. Untuk memaksimalkan
mencegah terjadinya penumpukan persediaan obat yang mengakibatkan
risiko dalam persediaan.
b. Informasi dan komunikasi
Komunikasi menyangkut penyampaian informasi kepada semua
yang terlibat dalam pelaporan keuangan agar mereka memahami
bagaimana aktivitasnya berhubungan dengan pekerjaan orang lain, baik di
dalam organisasi maupun diluar organisasi. Hal ini dapat terlihat dari
penyusunan prosedur yang jelas termasuk prosedur pengawasan
persediaan obat, khususnya untuk pasien pengguna BPJS Kesehatan, yang
melibatkan beberapa fungsi terkait, dokumen dan catatan yang diperlukan

12
serta laporan yang dihasilkan dan pencatatan ke dalam catatan akuntansi
harus di dasarkan atas laporan sumber yang dilampiri dengan dokumen
pendukung yang diotorisasi oleh pihak yang memiliki wewenang tersebut.
c. Pengawasan
Pemantauan (monitoring) adalah proses penilaian kualitas kinerja
struktur pengendalian intern secara periodik dan terus-menerus.
Pemantauan dilaksanakan oleh orang yang semestinya melakukan
pekerjaan tersebut, baik pada tahap desain meupun pengoperasian
pengendalian pada waktu yang tepat. Tujuannya adalah untuk menentukan
apakah pengawasan intern telah beroperasi sebagaimana yang telah
disesuaikan dengan perubahan keadaan. Pemantauan dapat dilakukan oleh
suatu bagian khusus yang disebut dengan bagian pemeriksaan intern (audit
internal). Pemantauan atas persediaan obat untuk pasien pengguna BPJS
Kesehatan secara khusus meliputi penilaian dan penganalisaan laporan
stock opname setiap bulannya.
d. Aktivitas pengendalian
Aktivitas pengendalian (control activity) adalah berbagai kebijakan
dan prosedur yang digunakan untuk memastikan bahwa tindakan yang
tepat telah dilakukan untuk menangani berbagai resiko yang telah di
identifikasi perusahaan.
2. Kemampuan apoteker dalam pengendalian biaya obat peresep dengan
verifikasi resep dengan dasar farmakoekonomi dan farmakoterapi yang
baik.
Farmakoekonomi didefenisikan sebagai deskripsi dan analisis dari
biaya terapi dalam suatu sistem pelayanan kesehatan. Lebih spesifik lagi
adalah sebuah penelitian tentang proses identifikasi, mengukur dan
membandingkan biaya, resiko dan keuntungan dari suatu program, pelayanan
dan terapi (Vogenberg, 2001).
Farmakoekonomi diperlukan karena adanya sumber daya yang terbatas,
dimana hal yang terpenting adalah bagaimana memberikan obat yang efektif
dengan dana yang tersedia, pengalokasian sumber daya yang tersedia secara

13
efisien, kebutuhan pasien dimana dari sudut pandang pasien adalah biaya yang
seminimal mungkin (Vogenberg, 2001).
Melalui sistem BPJS-Kesehatan, apoteker sebagai pengelola apotek
harus dapat memberikan pelayanan kefarmasian yang profesional. Dalam
memberikan pelayanan, apoteker harus dapat mengintegrasikan pelayanannya
dalam sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara keseluruhan
sehingga dihasilkan system pelayanan kesehatan yang berkesinambungan
Apoteker harus mampu mengambil keputusan yang tepat, berdasarkan pada
efikasi, efektifitas dan efisiensi terhadap penggunaan obat yang rasional
dan alat kesehatan.
Tujuan farmakoekonomi adalah membandingkan obat yang berbeda
untuk pengobatan pada kondisi yang sama. Selain itu juga membandingkan
pengobatan yang berbeda pada kondisi yang berbeda (Vogenberg, 2001).
Dimana hasilnya bisa dijadikan informasi yang dapat membantu para pembuat
kebijakan dalam menentukan pilihan atas alternatif-alternatif pengobatan yang
tersedia agar pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien dan ekonomis.
Informasi farmakoekonomi saat ini dianggap sama pentingnya dengan
informasi khasiat dan keamanan obat dalam menentukan pilihan obat mana
yang akan digunakan.
Dalam JKN, pembiayaan dilakukan dengan sistem paket berbasis
diagnosa yaitu Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs) untuk fasilitas
kesehatan rujukan tingkat lanjutan. Sedangkan untuk. fasilitas kesehatan
tingkat pertama dilakukan dengan sistem kapitasi. Dengan sistem pembiayaan
ini, setiap fasilitas diwajibkan melakukan kendali mutu sekaligus kendali
biaya pelayanan kesehatan, termasuk obat. Diharapkan fasilitas kesehatan
dapat memberikan pelayanan dengan mutu yang terbaik (efektif) namun biaya
yang efisien. Selain itu, setiap peserta BPJS Kesehatan tidak diperbolehkan
dikenakan iur biaya termasuk untuk obat yang diresepkan. Oleh karena itu,
Fornas menjadi instrumen yang tepat untuk melakukan kendali mutu dan
kendali biaya penggunaan obat dalam JKN, dan disusun berdasarkan bukti
ilmiah terkini (evidence based medicine). Obat yang tercantum dalam Fornas

14
harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, sehingga proses seleksi
dilakukan dengan ketat.
Pemilihan obat dalam Fornas didasarkan atas beberapa kriteria,
diantaranya adalah adanya keamanan dan khasiat yang memadai berdasarkan
bukti ilmiah terkini dan sahih, memiliki rasio manfaat biaya (benefit-risk
ratio) yang paling menguntungkan pasien, memiliki izin edar dan indikasi
yang disetujui oleh BPOM, serta memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost
ratio) yang tertinggi. Apabila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki
terapi yang serupa, pilihan dijatuhkan pada obat yang memiliki sifat yang
paling banyak diketahui berdasarkan bukti ilmiah, memiliki sifat
farmakokinetik dan farmakodinamik yang diketahui paling menguntungkan,
memiliki stabilitas yang lebih baik dan mudah diperoleh. Untuk obat jadi
dengan kombinasi tetap, harus memenuhi criteria berikut: hanya bermanfaat
jika diberikan dalam bentuk kombinasi tetap; kombinasi tetap menunjukan
khasiat dan keamanan yang lebih tinggi daripada masing-masing komponen;
perbandingan dosis komponen kombinasi tetap merupakan perbandingan yang
tepat untuk sebagian besar pasien yang memerlukan kombinasi tersebut; dan
kombinasi tetap dapat meningkatkan rasio manfaat-biaya. Untuk kombinasi
antibiotik, kombinasi ini harus dapat mencegah atau mengurangi terjadinya
resistensi atau efek merugikan lainnya (Dirjen Bina Kefarmasian dan Alkes
Kemenkes RI. 2015).
Pemerintah secara serius merasionalkan harga obat dengan cara
menurunkan harganya secara general. SK Menkes No 720 Tahun 2006
merupakan hasil kerja tim rasionalisasi harga obat selama setahun. Mereka
menghitung dengan cermat berapa harga obat yang rasional, dengan
memperhatikan segala aspek dari pembuatan obat.
Metode-metode analisis yang digunakan dalam farmakoekonomi
meliputi: Cost-minimization analysis, Cost-effectiveness analysis, Cost-Utility
analysis dan Cost-benefit analysis.
a. Metode Cost-minimization analysis (CMA) membandingkan biaya total
penggunaan 2 atau lebih obat yang khasiat dan efek samping obatnya sama

15
(ekuivalen). Karena obat-obat yang dibandingkan memberikan hasil yang
sama, maka CMA memfokuskan pada penentuan obat mana yang biaya
per-harinya paling rendah.
b. Metode yang paling sering dilakukan adalah Cost-effectiveness analysis
(CEA). Metode ini cocok jika terapi yang dibandingkan memiliki hasil
terapi (outcome) yang berbeda. Metode ini digunakan untuk
membandingkan obat-obat yang pengukuran hasil terapinya dapat
dibandingkan. Sebagai contoh, membandingkan dua obat yang digunakan
untuk indikasi yang sama tetapi biaya dan efektifitasnya berbeda. CEA
mengubah biaya dan efektifitas ke dalam bentuk ratio. Ratio ini meliputi
cost per cure (contoh: antibiotika) atau cost per year of life gained (contoh:
obat yang digunakan pada serangan jantung). Pada saat membandingkan
dua macam obat, biasanya digunakan pengukuran incremental cost-
effectiveness yang menunjukkan biaya tambahan (misalkan, per cure atau
per life saved) akibat digunakannya suatu obat ketimbang digunakannya
obat lain. Jika biaya tambahan ini rendah, berarti obat tersebut baik untuk
dipilih, sebaliknya jika biaya tambahannya sangat tinggi maka obat
tersebut tidak baik untuk dipilih.
c. Metode lain adalah Cost-Utility analysis (CUA). Metode ini dianggap
sebagai subkelompok CEA karena CUA juga menggunakan ratio cost-
effectiveness, tetapi menyesuaikannya dengan skor kualitas hidup.
Biasanya diperlukan wawancara dan meminta pasien untuk memberi skor
tentang kualitas hidup mereka. Hal ini dilakukan dengan menggunakan
kuesioner yang sudah dibakukan, sebagai contoh digunakan skala
penilaian (0= kematian; 10= kesehatan sempurna). Quality-adjusted life
years (QALYs) merupakan pengukuran yang paling banyak digunakan.
d. Metode Cost-Benefit analysis (CBA) mengukur dan membandingkan
biaya penyelenggaraan 2 program kesehatan dimana outcome dari kedua
program tersebut berbeda (contoh: cost-benefit dari program penggunaan
vaksin dibandingkan dengan program penggunaan obat
antihiperlipidemia). Pengukuran dapat dilakukan dengan menghitung

16
jumlah episode penyakit yang dapat dicegah, kemudian dibandingkan
dengan biaya kalau program kesehatan dilakukan. Makin tinggi ratio
benefit:cost, maka program makin menguntungkan. Metode ini juga
digunakan untuk meneliti pengobatan tunggal. Jika rationya lebih dari 1,
maka pengobatan dianggap bermanfaat karena ini berarti manfaatnya lebih
besar dari biayanya. CBA merupakan analisis yang paling komprehensif
dan sulit untuk dilakukan. Berbeda dengan CEA yang menggunakan efek
terapeutik sebagai outcome atau CUA yang menggunakan kualitas hidup,
maka CBA menggunakan nilai uang dalam mengukur benefit, sehingga
dapat menimbulkan perdebatan, sebagai contoh: berapa nilai uang sebuah
kualitas hidup seseorang?
Ada 3 strategi untuk menjalankan farmakoekonomi ini, yaitu
1. Menggunakan langsung data dari literature.
2. Membuat data model ekonomi (economic modeling data).
3. Melakukan penelitian sendiri.

D. Program PROLANIS di BPJS


Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional (SJSN) menyebutkan manfaat dari program Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) mencakup pelayanan kesehatan perseorangan yang
bersifat promotif dan preventif. Manfaatnya mencakup skrining kesehatan
yang diberikan secara selektif untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah
dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu.
PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan
proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan Peserta,
Fasilitas Kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan
kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk
mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang
efektif dan efisien.
Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) merupakan pengelolaan
penyakit kronis termasuk diabetes melitus dan hipertensi pada penderita yang

17
merupakan peserta BPJS Kesehatan untuk mencegah komplikasi, peningkatan
kualitas hidup, dan pembiayaan jaminan kesehatan yang efektif dan efisien.

Tujuan dari Program Prolanis di BPJS ini merupakan suatu upaya dalam
menekan angka insidensi penyakit kronis terutama DM dan hipertensi.
Dengan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Prolanis, membuat
masyarakat ragu dalam mengenali keadaan tubuhnya sendiri, sehingga
terlambat mendeteksi adanya kedua penyakit tersebut. Dengan pembuatan
makalah ini, diharapkan Prolanis dapat lebih diketahui luas oleh masyarakat
dan dapat menekan angka mortalitas dan morbiditas dari kedua penyakit
tersebut.
Adapun Program Pengelolaan Penyakit Kronis memiliki karateristik
sebagai berikut:
a. Penetapan target kesehatan individual bagi setiap penderita penyakit
kronis.
b. Penanganan kesehatan per individual peserta penderita penyakit kronis
fokus pada upaya promotif dan preventif untuk mencegah episode akut.
c. Edukasi dan upaya meningkatkan kesadaran dan peran serta Peserta
penderita penyakit kronis terhadap perawatan kesehatannya secara
mandiri.
d. Penerapan protokol pengobatan yang berdasaran evidence base medicine.
e. Peningkatan fungsi gate keeper pada tingkat Rawat Jalan Tingkat Pertama
dalam rangka pengendalian biaya pelayanan rujukan.

1. Sasaran PROLANIS
Sasaran Prolanis adalah seluruh peserta Askes Sosial penderita
penyakit kronis Diabetes Mellitus dan Hipertensi. Tahapannya, peserta
harus mendaftar dahulu di Kantor Cabang PT Askes (Persero) terdekat
atau di Puskesmas dan Dokter keluarga tempat peserta terdaftar. Setelah
mendaftar, peserta akan mendapatkan Dokter Keluarga Prolanis atau
Dokter di Puskesmas Prolanis yang dipilih serta buku pemantauan status

18
kesehatan. Dokter Keluarga / Puskesmas di sini berperan sebagai
gatekeeper yang tidak hanya memilih pasien untuk dirujuk ke spesialis
terkait, tetapi diharapkan juga dapat memberikan pelayanan komprehensif
dan terfokus pada upaya promotif dan preventif. Dokter Keluarga/Dokter
Puskesmas akan bertindak sebagai manajer kesehatan bagi penderita
penyakit kronis ini. Dokter keluarga juga akan berperan sebagai konsultan
bagi peserta yang memberikan bimbingan, edukasi, dan peningkatan
kemampuan peserta untuk melakukan pemeliharaan atas kesehatan
pribadinya secara mandiri. Dokter akan memantau kondisi dan status
kesehatan peserta Prolanis secara rutin serta bisa memberikan resep obat
kronis pada level Rawat Jalan Tingkat Pertama.

2. Mekanisme PROLANIS BPJS


Pelayanan Program Pengelolaan Penyakit Kronis bersifat
komprehensif (menyeluruh) meliputi :
a. Upaya promotif; penyuluhan/informasi berbagai media, konsultasi, dan
reminder aktifitas medis
b. Upaya preventif; imunisasi, penunjang diagnostik, kunjungan rumah
(home visite), konseling
c. Upaya kuratif; pemeriksaan dan pengobatan penyakit pada Rawat
Jalan Tingkat Pertama, Rawat Jalan Lanjutan, Rawat Inap Lanjutan
serta pelayanan obat
d. Upaya rehabilitatif; penanganan pemulihan dari penyakit kronis
Pelayanan PROLANIS di fasilitas kesehatan primer lebih fokus pada
pelayanan promotif dan preventif meliputi :
a. Pemberian konsultasi medis, informasi, edukasi terkait penyakit kronis
kepada penderita dan keluarga
1) Kunjungan ke rumah pasien
2) Penyuluhan penyakit kronis
3) Pelatihan bagi tata cara perawatan bagi penderita

b. Pemantauan kondisi fisik peserta kronis secara berkesinambungan

19
c. Pemberian resep obat kronis dan kemudian peserta mengambil obat
pada Apotek yang ditunjuk
d. Pemberian surat rujukan ke Fasilitas yang lebih tinggi untuk kasus-
kasus yang tidak dapat ditanggulangi di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama / Primer.
e. Penanganan terapi penyakit kronis dan peresepan obat kronis sesuai
Panduan Klinis penanganan penyakit kronis yang berlaku
f. Membuat dokumentasi status kesehatan per Pasien terhadap setiap
pelayanan yang diberikan kepada tiap pasien
g. Membuat jadwal pemeriksaan rutin yang harus dijalani oleh peserta

3. Langkah-Langka Pelaksanaan

Sebelum melaksanakan PROLANIS, ada beberapa langkah yang


harus dilakukan sebelum aktivitas PROLANIS itu sendiri:
a. Melakukan identifikasi data peserta sasaran berdasarkan:
1) Hasil Skrining Riwayat Kesehatan dan atau
2) Hasil Diagnosa DM dan HT (pada Faskes Tingkat Pertama maupun
RS)

b. Menentukan target sasaran


c. Melakukan pemetaan Faskes Dokter Keluarga/ Puskesmas berdasarkan
distribusi target sasaran peserta
d. Menyelenggarakan sosialisasi Prolanis kepada Faskes Pengelola

20
e. Melakukan pemetaan jejaring Faskes Pengelola (Apotek,
Laboratorium)
f. Permintaan pernyataan kesediaan jejaring Faskes untuk melayani
peserta PROLANIS
g. Melakukan sosialisasi PROLANIS kepada peserta (instansi, pertemuan
kelompok pasien kronis di RS, dan lain-lain)
h. Penawaran kesediaan terhadap peserta penyandang Diabetes Melitus
Tipe 2 dan Hipertensi untuk bergabung dalam PROLANIS
i. Melakukan verifikasi terhadap kesesuaian data diagnosa dengan form
kesediaan yang diberikan oleh calon peserta Prolanis
j. Mendistribusikan buku pemantauan status kesehatan kepada peserta
terdaftar
k. Melakukan rekapitulasi data peserta terdaftar
l. Melakukan entri data peserta dan pemberian flag peserta PROLANIS
m. Melakukan distribusi data peserta Prolanis sesuai Faskes Pengelola
n. Bersama dengan Faskes melakukan rekapitulasi data pemeriksaan
status kesehatan peserta, meliputi pemeriksaan GDP, GDPP, Tekanan
Darah, IMT, HbA1C. Bagi peserta yang belum pernah dilakukan
pemeriksaan, harus segera dilakukan pemeriksaan
o. Melakukan rekapitulasi data hasil pencatatan status kesehatan awal
peserta per Faskes Pengelola (data merupakan luaran Aplikasi P-Care)
p. Melakukan Monitoring aktifitas PROLANIS pada masing-masing
Faskes Pengelola:
1) Menerima laporan aktifitas PROLANIS dari Faskes Pengelola
2) Menganalisa data
q. Menyusun umpan balik kinerja Faskes PROLANIS
r. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/ Kantor Pusat

21
Gambar. Skema Pengelolaan Penyakit Kronis Peserta BPJS Kesehatan
Terlihat pada gambar tersebut pada pengambilan obat kronis / rujuk
balik merupakan titik kritis pelayanan, hal tersebut berhubungan dengan
pembiayaan yang efektif dan efisien. Seorang apoteker harus mampu
memverifikasi resep tersebut dengan kemampuan farmakoekonomi dan
farmakoterapinya untuk menekan biaya obat.
Setelah semua persiapan pelaksanaan PROLANIS sudah dipenuhi,
Aktivitas PROLANIS dapat dilakukan. Adapun aktivitas PROLANIS
dijalankan sebagai berikut :
1. Konsultasi Medis Peserta Prolanis : jadwal konsultasi disepakati
bersama antara peserta dengan Faskes Pengelola
2. Edukasi Kelompok Peserta Prolanis
Definisi : Edukasi Klub Risti (Klub Prolanis) adalah kegiatan untuk
meningkatkan pengetahuan kesehatan dalam upaya memulihkan
penyakit dan mencegah timbulnya kembali penyakit serta
meningkatkan status kesehatan bagi peserta PROLANIS
Sasaran : Terbentuknya kelompok peserta (Klub) PROLANIS
minimal 1 Faskes Pengelola 1 Klub. Pengelompokan diutamakan
berdasarkan kondisi kesehatan Peserta dan kebutuhan edukasi.

22
Langkah - langkah:
a. Mendorong Faskes Pengelola melakukan identifikasi peserta
terdaftar sesuai tingkat severitas penyakit DM Tipe 2 dan
Hipertensi
b. Memfasilitasi koordinasi antara Faskes Pengelola dengan
Organisasi Profesi/Dokter Spesialis diwilayahnya
c. Memfasilitasi penyusunan kepengurusan dalam Klub
d. Memfasilitasi penyusunan kriteria Duta PROLANIS yang berasal
dari peserta. Duta PROLANIS bertindak sebagai motivator dalam
kelompok Prolanis (membantu Faskes Pengelola melakukan proses
edukasi bagi anggota Klub)
e. Memfasilitasi penyusunan jadwal dan rencana aktifitas Klub
minimal 3 bulan pertama
f. Melakukan Monitoring aktifitas edukasi pada masing-masing
Faskes Pengelola:
1) Menerima laporan aktifitas edukasi dari Faskes Pengelola
2) Menganalisis data
g. Menyusun umpan balik kinerja Faskes PROLANIS
h. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/Kantor Pusat
dengan tembusan kepada Organisasi Profesi terkait diwilayahnya

23
3. Reminder melalui SMS Gateway
Definisi : Reminder adalah kegiatan untuk memotivasi peserta untuk
melakukan kunjungan rutin kepada Faskes Pengelola melalui
pengingatan jadwal konsultasi ke Faskes Pengelola tersebut
Sasaran : Tersampaikannya reminder jadwal konsultasi peserta ke
masing-masing Faskes Pengelola
Langkah langkah:
a. Melakukan rekapitulasi nomor Handphone peserta
PROLANIS/Keluarga peserta per masing-masing Faskes
Pengelola
b. Entri data nomor handphone kedalam aplikasi SMS Gateway
c. Melakukan rekapitulasi data kunjungan per peserta per Faskes
Pengelola
d. Entri data jadwal kunjungan per peserta per Faskes Pengelola
e. Melakukan monitoring aktifitas reminder (melakukan
rekapitulasi jumlah peserta yang telah mendapat reminder)
f. Melakukan analisa data berdasarkan jumlah peserta yang
mendapat reminder dengan jumlah kunjungan
g. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/Kantor Pusat
4. Home Visit

24
Definisi : Home Visit adalah kegiatan pelayanan kunjungan ke rumah
Peserta PROLANIS untuk pemberian informasi/edukasi kesehatan diri
dan lingkungan bagi peserta PROLANIS dan keluarga
Sasaran:
Peserta PROLANIS dengan kriteria :
a. Peserta baru terdaftar
b. Peserta tidak hadir terapi di Dokter Praktek
Perorangan/Klinik/Puskesmas 3 bulan berturut-turut
c. Peserta dengan GDP/GDPP di bawah standar 3 bulan berturut-turut
(PPDM)
d. Peserta dengan Tekanan Darah tidak terkontrol 3 bulan berturut-
turut (PPHT)

e. Peserta pasca opname


Langkah langkah:
a. Melakukan identifikasi sasaran peserta yang perlu dilakukan Home
Visit
b. Memfasilitasi Faskes Pengelola untuk menetapkan waktu
kunjungan
c. Bila diperlukan, dilakukan pendampingan pelaksanaan Home Visit
d. Melakukan administrasi Home Visit kepada Faskes Pengelola
dengan berkas sebagai berikut:
1) Formulir Home Visit yang mendapat tanda tangan
Peserta/Keluarga peserta yang dikunjungi
2) Lembar tindak lanjut dari Home Visit/lembar anjuran Faskes
Pengelola
e. Melakukan monitoring aktifitas Home Visit (melakukan
rekapitulasi jumlah peserta yang telah mendapat Home Visit)
f. Melakukan analisa data berdasarkan jumlah peserta yang mendapat
Home Visit dengan jumlah peningkatan angka kunjungan dan
status kesehatan peserta
g. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/Kantor Pusat

25
26
DAFTAR PUSTAKA

Anonime. 2016. Program pengelolan penyakit kronis. Diakses pada tanggal 11


oktober 2016 di http://dokumen.tips/documents/lampiran-prolanis.html

BPJS dalam Forum Ilmiah Tahunan. 2015. Inovasi BPJS Kesehatan Untuk
Memperkuat Upaya Promotif Preventif yang Bersifat Perseorangan
menuju Gaya Hidup Sehat.

BPJS Kesehatan, RI. 2014. Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial


Kesehatan Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Jaminan
Kesehatan. Jakarta : BPJS Kesehatan RI.

BPJS Kesehatan. Panduan Praktis program PROLANIS.

BPJS. 2014. Sosialisasi Pelayanan Rujuk Balik dan Administrasi Pengajuan dan
Verifikasi Klaim.

Departemen Kesehatan RI. 2004. System Kesehatan Nasional. Jakarta

Departemen Kesehatan RI. 2011. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta

Depkes, RI. 2004. UU RI No. 40 Tahun 2004 Tentang Jaminan Sosial. Jakarta :
Depkes RI.

Dirjen Bina Kefarmasian dan Alkes Kemenkes RI. 2015. Pentingnya Informasi
Obat Bagi Masyarakat. Bulletin Infarkes Edisi 3.

Menteri Kesehatan Republic Indonesia Nomor 1027/menkes/ SK/ IX/ 2004.

Perpres, RI. 2013. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013
Tentang Jaminan Kesehatan. Jakarta : Perpres RI.Kementrian Kesehatan.

PP 51 Tahun 2009 dan UU Kesehatan Nomor 108 Tahun 2009

Sili, domika palang, dkk. 2016. Studi kasus Pengendalian Persediaan Obat
Pasien Bpjs Di Rsud Kabupaten Buleleng. Universitas Setia Budi.

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

27
UU No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial
(BPJS).Undang-undang No. 40 tahun 2004

Valentine, Putri Permata. 2016. Makalah Prolanis BPJS. FI USU: Medan.

Vogenberg, FR. 2001. Introduction To Applied Pharmacoeconomics. Editor :


Zollo S. McGraw-Hill Co mpa nies. USA.

28