Anda di halaman 1dari 8

Manajemen Keuangan Pemerintah (MKP) D IV Akuntansi PKN STAN

Semester 7 Kelas 7B 7D
Dosen : Abdul Gofar\
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ringkasan Materi Kuliah (RMK) TM IX, 17 Nopember 2016

Capital Budgeting
* Analisis dan evaluasi kebutuhan Belanja Modal (Aset Tetap);
a. Model Benefit and Cost Analysis/BCA.
b. Internal Rate of Return/IRR
c. Discounted Cash Flow/DCF
* Analisis Keuangan Acquisition of Fixed Asset choice (optimalisasi penggunaan/
pemanfaatan dengan keterbatasan dana dan alokasi)
Evaluasi perolehan dengan :
a. pembelian dana APBN/APBD
b.transfer, leasing, hibah, KSO,BTO, kerja sama infrastruktur, pinjam pakai.
* Analisis Keuangan atas Pemanfaatan Aset.
* Evaluasi atas Pembelanjaan Modal.
* Analisi Investasi pemerintah Jangka Panjang.
Capital Budgeting

Analisis dan evaluasi kebutuhan Belanja Modal (Aset Tetap):

Capital Budgeting atau Penganggaran Modal (PM) adalah proses perencanaan


pengeluaran modal untuk memperoleh aset yang aliran kasnya diperkirakan diatas
satu tahun (Brigham and Houston,2003). PM mencakup keseluruhan proses
penganalisaan proyek-proyek dan penetapan proyek mana yang akan dimasukkan
ke dalam penganggaran modal.

Proyek dapat didefinisikan sebagai keseluruhan aktivitas yang menggunakan


sumber-sumber daya untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit), atau aktivitas yang
mengeluarkan uang dengan harapan untuk mendapatkan hasil dimasa yang akan
datang dan yang dapat direncanakan,dibiayai dan dilaksanakan sebagai suatu unit
(DJKN, Analisis Proyek,2014).
Manfaat proyek dapat diklasifikasi kedalam tiga aspek, yaitu manfaat langsung,
manafaat tidak langsung dan manfaat tidak nyata (intangible).

Penganggaran Modal (pemerintah) berkaitan erat dngan investasi yang dilakukan


oleh pemerintah dan juga berkaitan dengan manajemen aset (asset
management).Besaran belanja modal merupakan representasi dari komitmen
pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.
Belanja modal pemerintah dalam APBN tidak persis menggambarkan besaran
belanja modal secara keseluruhan, karena banyak jenis-jenis belanja lain dalam
APBN yang sebenarnya merupakan belanja modal.

Belanja Modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset
lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja Modal
meliputi antara lain belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan,
peralatan dan aset tak berwujud (definisi menurut SAP).
Belanja Modal adalah pengeluaran untuk pembayaran perolehan aset tetap dan/atau
menambah nilai aset tetap/aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu
periode akuntansi dan melebihi batas minimal kapitalisasi aset tetap/aset lainnya
yang ditetapkan pemerintah (definisi menurut DJA).

Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah
sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau
sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun
masyarakat,serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non
keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan
sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya (definisi
menurut SAP).

Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua
belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh
masyarakat umum (definisi menurut SAP).

Klasifikasi Aset Tetap terdiri dari (a) Tanah, (b) Peralatan dan Mesin, (c) Gedung dan
Bangunan, (d) Jalan, Irigasi dan Jaringan, (e) Aset Tetap Lainnya, (f) Konstruksi
dalam Pengerjaan.

Belanja Modal (sesuai dengan APBN) terdiri dari :


a. Belanja Modal Tanah;
b. Belanja Modal Peralatan dan Mesin;
c. Belanja Modal Gedung dan Bangunan;
d. Belanja Modal Jalan/Irigasi dan Jaringan;
e. Belanja Modal Lainnya;
f. Belanja Modal Badan Layanan Umum (BLU).

a. Belanja Modal Tanah adalah seluruh pengeluaran untuk pengadaan/


pembelian/pembebasan/penyelesaian, balik nama, pengosongan,
penimbunan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertifikat tanah, serta
pengeluaran-pengeluaran lain yang bersifat administratif sehubungan dengan
perolehan hak dan kewajiban atas tanah pada saat pembebasan/pembayaran
ganti rugi sampai tanah tersebut siap dugunakan/dipakai.

b. Belanja Modal Peralatan dan Mesin adalah pengeluaran untuk pengadaan


peralatan dan mesin yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan antara lain
biaya pembelian, biaya pengangkutan, biaya instalasi serta biaya langsung
lainnya untuk memperoleh dan mempersiapkan sampai peralatan dan mesin
tersebut siap digunakan.

c. Belanja Modal Gedung dan Bangunan adalah pengeluaran untuk


memperoleh gedung dan bangunan secara kontraktual sampai dengan
gedung dan bangunan siap digunakan meliputi biaya pembelian atau biaya
konstruksi termasuk biaya pengurusan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB),
Notaris, dan pajak (kontraktual). Dalam belanja ini termasuk biaya untuk
perencanaan dan pengawasan yang terkait dengan perolehan gedung dan
bangunan.
d. Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan adalah pengeluaran untuk
memperoleh jalan dan jembatan, irigasi dan jaringan sampai siap pakai
meliputi biaya perolehan atau biaya konstruksi dan biaya-biaya lain yang
dikeluarkan sampai jalan dan jembatan, irigasi dan jaringan tersebut siap
pakai.
Dalam belanja ini termasuk biaya untuk penambahan dan penggantian yang
meningkatkan masa manfaat, menambah nilai aset dan diatas batas minimal
nilai kapitalisasi jalan dan jembatan, irigasi dan jaringan.
e. Belanja Modal Lainnya adalah pengeluaran yang diperlukan dalam kegiatan
pembentukan modal untuk pengadaan/pembangunan belanja modal lainnya
yang tidak dapat diklasifikasikan dalam perkiraan kriteria belanja modal
Tanah, Peralatan dan Mesin, Gedung dan Bangunan, Jaringan ( Jalan, irigasi
dan lain-lain). Termasuk dalam belanja modal ini Kontrak Sewa Beli
(leasehold), pengadaan/pembelian barang-barang kesenian (art pieces),
barang-barang purbakala dan barang-barang untuk museum, serta hewan
ternak, buku-buku dan jurnal ilmiah sepanjang tidak dimaksudkan untuk dijual
dan diserahkan kepada masyarakat.
Termasuk dalam Belanja Modal ini adalah belanja modal non fisik yang
besaran jumlah kuantitasnya dapat terindikasi dan terukur.

f. Belanja Modal Badan Layanan Umum (BLU) adalah pengeluaran untuk


pengadaan/perolehan/pembelian aset yang dipergunakan dalam rangka
penyelenggaraan operasional BLU.

Semua pendanaan yang dibutuhkan hingga aset tersebut tersedia dan siap untuk
digunakan dihitung sebagai Belanja Modal, termasuk biaya operasional Panitia
Pengadaan Barang/Jasa yang terkait dengan pengadaan aset berkenaan.
Konsep ini disebut Konsep Nilai Perolehan.

Biaya Perolehan (menurut SAP) adalah jumlah kas atau setara kas yang telah dan
yang masih wajib dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang telah dan yang
masih wajib diberikan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau
konstruksi sampai dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk
dipergunakan.

Aset tetap diakui pada saat manfaat ekonomi masa depan dapat diperoleh dan
nilainya dapat diukur dengan handal. Untuk dapat diakui sebagai aset tetap harus
dipenuhi kriteria sebagai berikut :

(a) Berwujud;
(b) Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;
(c) Biaya perolehan aset dapat diukur secara handal;
(d) Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas; dan
(e) Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.

Dalam penentuan jenis Belanja Modal atau Belanja Barang berdasarkan jenis
transaksinya, kriteria kapitalisasi digunakan. Kriteria kapitalisasi dalam
pengadaan/pemeliharaan barang/aset merupakan suatu tahap validasi untuk
penetapan belanja modal atau bukan dan merupakan syarat wajib dalam penetapan
kapitalisasi atas pengadaan barang/aset.
Kriteria tersebut meliputi :
1. Pengeluaran anggaran belanja tersebut mengakibatkan bertambahnya aset
dan/atau bertambahnya masa manfaat/umur ekonomis aset berkenaan.
2. Pengeluaran anggaran belanja tersebut mengakibatkan bertambahnya
kapasitas, peningkatan standar kinerja atau volume aset.
3. Memenuhi nilai minimum kapitalisasi dengan rincian sebagai berikut :
a. Untuk pengadaan peralatan dan mesin, batas minimal harga pasar per
unit barang adalah sebesar RP.300.000,-
b. Untuk pembangunan dan/atau pemeliharaan gedung dan bangunan per
paket pekerjaan adalah sebesar Rp.10.000.000,-
4. Pengadaan barang tersebut tidak dimaksudkan untuk diserahkan/dipasarkan
kepada masyarakat atau entitas lain di luar pemerintah.

Beberapa model atau metode untuk analisis dan evaluasi kebutuhan belanja modal
(aset tetap). Ada hal strategis yang harus dilakukan untuk menilai apakah suatu
program/kegiatan atau proyek layak didanai atau dilaksanakan. Dengan
keterbatasan sumber dana yang dimiliki (oleh pemerintah) disatu sisi dan banyaknya
program/kegiatan yang harus dilaksanakan untuk meningkatkan kesejateraan rakyat
di lain sisi, maka diperlukan analisis dan evaluasi yang seksama (appraisal) agar
dapat dijamin keberhasilan program/kegiatan yang dipilih sebagai prioritas.

The six steps for good appraisal.menurut European Union : Guide to Cost Benefit
Analysis of Investment Projects,(2008) :

1. A presentation and discussion of the socio-economic context and the


objectives.
2. The clear identification of the project.
3. The study of the feasibility of the project and of alternative options.
4. Financial Analysis.
5. Economic Analysis.
6. Risk assessment.

Project can be defined as an operation comprising a series of works, activities or


services intended to accomplish an indivisible task of a precise economic or
technical nature , one which has well defined goals.

Contoh model atau metode yang sudah dipraktikkan di berbagai perusahaan/


organisasi publik:

Benefit and Cost Analysis/BCA or Cost Benefit Analysis/CBA atau Analisis


Biaya Manfaat.

BCA or CBA is a systematic approach to estimating the strengths and weaknesses


of alternatives that satisfy transactions activities or functional requirements for a
business. It is a technique that is used to determine options that provide the best
approach for the adoption and practice in terms of benefits in labor, time and cost
savings etc. (David, Ngulube and Dube,2013)

The BCA defined as a systematic process for calculating and comparing benefits
and costs of a project, decision on government policy.
Broadly BCA has two purpose :

1. to determine if it is a sound investment/decision (justification/feasibility);


2. to provide a basis for comparing projects. It involves comparing the total expected
cost of each option against the total benefits, to see wether the benefits outweigh
the cost, and by how much.

BCA/CBA digunakan untuk mengevaluasi penggunaan sumber daya ekonomi yang


langka agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya secara efisien. Pemerintah
mempunyai banyak program/kegiatan yang harus dijalankan, sedangkan sumber
dana yang tersedia (resources) relatif terbatas. Melalui penerapan berbagai model
ini diharapkan Pemerintah bisa menjamin penggunaan sumber dana yang ada bisa
dilakukan secara tepat dan efisien.
BCA/CBA adalah salah satu model yang dapat digunakan sebagai alat untuk
memilih program/kegiatan yang layak diprioritaskan. BCA/CBA merupakan analisis
yang digunakan untuk mengetahui besaran keuntungan atau kerugian serta
kelayakan suatu program kegiatan yang akan dilaksanakan atau didanai dari
anggaran negara.

Internal Rate of Return (IRR).

IRR is capital budgeting metric used by firms to decide wether they should make
investment. It is allso called discounted cash flow rate of return (DCFROR) or rate of
return (ROR). It is indicator of the efficiency of quality of an investment, as opposed
IRR is the interest rate received for an investment consisting of payment and income
that occur at regular periods.

IRR adalah sebuah ukuran anggaran modal yang digunakan oleh perusahaan dalam
menentukan apakah mereka harus melakukan investasi atau tidak. Atau IRR
didefinisikan sebagai sebuah tarif bunga untuk sebuah investasi yang berasal dari
pembayaran dan pendapatan yang meliputi periode regular. Secara umum, dapat
disimpulkan bahwa IRR adalah tingkat biaya pengembalian atas sebuah proyek
yang diterima perusahaan/pemerintah.

IRR merupakan indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi suatu proyek/investasi
dapat dilaksanakan apabila pengembaliannya (rate of return) lebih besar dari pada
tingkat pengembalian apabila melakukan investasi pada tempat lain (bunga depositi
bank, reksa dana, pembelian saham dan sebagainya).

Pengertian IRR (lainnya) adalah tingkat bunga atau rate of return pada saat
sekarang dan akumulasi arus kas bersih (net cash flow) suatu investasi dikurangi
dengan nilai investasi awalnya sama dengan nol atau IRR adalah tingkat bunga
pengembalian pada saat NPV= O

Discounted Cash Flow (DCF)

DCF analysis is a method of valuing project, company, or asset using the concepts
of the time value of money. All future cash flows are estimated and discounted to
give their present values (PVs) The sum of all future cash flows both incoming and
outgoing, is the net present value (NPV), which is taken as the value or price of the
cash flows in question. Present value may also be expressed as a number of years
purchase of the future undiscounted annual cashflows expected to arise.

DCF merupakan suatu metode pemeringkatan proposal-proposal investasi yang


menggunakan konsep nilai waktu uang (Brigham and Houston,2003). Metode ini
merupakan teknik penilaian usulan investasi yang berdasarkan ukuran keuangan.
Sedangkan ukuran non keuangan secara umum didefinisikan sebagai ukuran-
ukuran yang tidak menggunakan metric keuangan tradisional jangka pendek seperti
laba maupun return akuntansi.

DCF (arus kas yang terdiskon) adalah suatu metode untuk menghitung prospek
pertumbuhan suatu instrumen investasi dalam beberapa waktu kedepan. Konsep
DCF ini didasarkan pada pemikiran bahwa jika perusahaan menginvestasikan
sejumlah dana, maka dana tersebut akan tumbuh sekian persen atau beberapa kali
lipat setelah waktu tertentu. Disebut DCF (arus kas yang terdiskon) karena cara
menghitungnya adalah dengan mengestimasi arus dana dimasa mendatang untuk
kemudian di cut dan menghasilkan nilai dana tersebut pada masa kini.

Teknik-teknik penilaian proyek yang dapat digolongkan kedalam metode DCF ini
antara lain Net Present Value (NPF), Internalt Rate of Return (IRR) dan Provitability
Index (PI).

Net Present Value (NPV) merupakan selisih antara pengeluaran dan pemasukan
yang telah didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital sebagai
diskon faktor., atau dengan kata lain merupakan arus kas yang diperkirakan pada
masa yang akan datang yang didiskonkan pada saat ini. Untuk menghitung NPV
diperlukan data tentang perkiraan biaya investasi, biaya operasi dan pemeliharaan
serta perkiraan manfaat/benefit dari proyek yang direncanakan.

Penggunaan metode DCF mensyaratkan dipenuhinya terlebih dahulu parameter-


parameter DCF yang meliputi :

1. Aliran kas masa depan sebuah proyek;


2. Tingkat diskonto risiko yang telah disesuaikan;
3. Dampak proyek terhadap arus kas yang dihasilkan dari aset lain;
4. Dampak proyek terhadap kesempatan investasi masa depan.

Analisis DCF akan membuat keputusan investasi menjadi optimal selama


perusahaan mampu mengestimasi parameter DCF secara akurat.

Analisis Keuangan Acquisition of Fixed Asset choice ( optimalisasi


penggunaan/pemanfaatan dengan keterbatasan dana dan alokasi ).

Isu yang mengemuka dalam pelaksanaan APBN adalah ruang fiskal yang relatif
sempit. Artinya, dalam melaksanakan berbagai program dan kegiatan, pemerintah
selalu dihadapkan pada keterbatasan dana dan alokasi. Oleh sebab itu, untuk
menyiasati agar keterbatasan dana dan alokasi tidak menjadi kendala, upaya
optimalisasi penggunaan/pemanfaatan dana yang ada harus dilakukan dengan
sebaik-baiknya.
Evaluasi Perolehan dengan:
a. Pembelian dana APBN/APBD
b. transfer, leasing, hibah, KSO, BTO, kerjasama infrastruktur, pinjam
pakai.

Barang Milik Negara (BMN) adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas
beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Sedangkan Barang Milik
Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau
berasal dari peroehan lainnya yang sah.
Berdasarkan pengertian diatas, barang modal (aset tetap) yang dimiliki negara
(BMN) berasal dari pembelian yang dananya bersumber dari APBN.
Mengingat dana APBN relatif terbatas untuk mendanai belanja modal, maka
alternatif yang coba dilakukan oleh Pemerinah adalah dengan memanfaatkan aset
pemerintah (yang tidak digunakan untuk pelaksanaan tugas pokok) dapat dilakukan
dengan berbagai cara, antara lain :

Transfer merupakan transaksi penyerahan aset tetap kepada entitas lain yang masih
berada dibawah pengelola barang ( semacam hibah).

Leasing ( sewa guna usaha) adalah penyediaan Barang Modal (aset tetap) baik
dengan hak opsi (finance lease) maupun tanpa hak opsi (operating lease) untuk
digunakan oleh penyewa guna usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu
berdasarkan pembayaran secara angsuran.

Hak opsi adalah hak untuk membeli obyek sewa guna usaha setelah berakhirnya
perjanjian berdasarkan nilai sisa yang disepakati bersama.

Hibah adalah pengalihan kepemilikan barang dari pemerintah pusat kepada


pemerintah daerah, dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, antar
pemerintah daerah, atau dari pemerintah pusat/pemerintah daerah kepada pihak
lain, tanpa memperoleh penggantian.

Kerja Sama Operasi (KSO) adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dimana
masing-masing sepakat untuk melakukan usaha bersama menggunakan aset
dan/atau hak usaha yang dimiliki dengan menanggung keuntungan dan kerugian
secara bersama-sama dalam suatu waktu tertentu sesuai yang disepakati bersama.
KSO dapat berbentuk BSG atau BGS.

Build Transfer and Operate /BTO atau Bangun Serah Guna (BSG) adalah
pemanfaatan BMN/D berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan
bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai
pembangunannya diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam
jangka waktu tertentu yang disepakati.

Build Operate and Transfer/BOT atau Bangun Guna Serah (BGS) adalah
pemanfaatan BMN/D berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan
bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak
lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya
diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya
setelah berakhirnya jangka waktu.
Kerja sama Penyediaan infrastruktur (KSPI) adalah kerja sama antara Pemerintah
dan Badan Usaha untuk kegiatan penyediaan infrastruktur sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.

Pinjam pakai adalah penyerahan penggunaam barang dari Pemerintah Pusat ke


Pemerintah Daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa mendapat imbalan dan
setelah jangka waktu tertentu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada
Pengelola Barang/Pengguna Barang/

Catatan tambahan:

MP3EI ( Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia


2011-2025 dengan visi Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil
dan Makmur.

Mendorong perekonomian Indonesia menjadi negara maju yang semakin diakui


masyarakat dunia melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif dan
berkelanjutan.
Fokus pengembangan MP3EI pada 8 Program Utama : Pertanian, Pertambangan,
Energi, Industri, Kelautan, Pariwisata dan Telematika serta Pengembangan
Kawasan Strategis yang dijabarkan lagi kedalam 22 Kegiatan Utama.

MP3EI merupakan bagian integral Perencanaan Pembangunan Nasional.


Strategi utama : - Pengembangan potensi ekonomi melalui koridor ekonomi;
- Penguatan konektivitas regional;
- Penguatan kemampuan SDM dan Iptek nasional.

to be continued (RMK TM X)

........