Anda di halaman 1dari 4

SOSIOLOGI MASYARAKAT TIMUR TENGAH

KONFLIK ETNIS KURDI DI IRAK

PENDAHULUAN
Suku Kurdi merupakan salah satu etnis yang hidup di beberapa negara di Timur
Tengah, mereka memiliki cita-cita dan ambisi menciptakan negara Kurdistan yang
merdeka dan berdaulat. Namun setelah perang dunia pertama berakhir, mereka harus
tinggal terpisah karena daerah Kurdistan oleh PBB dibagi menjadi beberapa negara
berdaulat (Iran, Irak, Suriah dan Turki). Etnis Kurdi di Irak dalam sejarahnya merupakan
etnis Kurdi yang paling agresif dalam menyampaikan aspirasinya dibandingkan dengan
etnis Kurdi di negara lain. Mereka menciptakan sebuah gerakan nasionalisme etnis yang
digunakan dalam rangka menuntut aspirasi mereka yaitu kemerdekaan Kurdi.
Irak yang merupakan salah satu negara di Timur Tengah juga memiliki latar
belakang etnis yang beragam. Masalah etnis yang dihadapi Irak adalah mengenai
keberadaan suku Kurdi. Kurdi merupakan salah satu etnis minoritas di negara yang
dijuluki land of fear. Suku Kurdi menguasai seperlima wilayah Irak, khususnya wilayah
Irak Utara. Etnis Kurdi memiliki cita-cita mendirikan negara Kurdistan merdeka, cita-cita
ini merupakan harapan historis mereka sejak zaman leluhur dan konsep ini selalu
diwariskan turun temurun.
Dimulai pada tahun 1919, Syakh Mahmud Barzanji mendeklarasikan perjuangan
Kurdi di Irak lewat pemberontakan yang lebih dikenal sebagai revolusi Sulaymaniyah.
Tidak terakomodasinya kepentingan Kurdi Irak oleh berbagai rezim yang silih berganti
menguasai Irak, membuat pemberontakan etnis Kurdi di Irak terus berlanjut sampai
akhirnya Irak dikuasai oleh rezim otoriter Saddam Hussein. Periode rezim Saddam
Hussein merupakan periode terberat dalam sejarah etnis Kurdi. Berbagai kebijakan
pembersihan etnis Kurdi Irak mulai digencarkan oleh rezim otoriter Saddam Hussein,
namun disaat itu pula gerakan nasionalisme etnis Kurdi di Irak semakin bertambah kuat.

KONFLIK ETNIS KURDI DI IRAK: Analisis Terhadap Tragedi Halabja di Irak


Utara Pada Maret Tahun 1988
Konflik merupakan gejala anatarkelompok untuk memperebutkan hal yang sama
yaitu kekuasaan, kebebasan, dan kesetaraan hak sebagai warga negara.konflik terjadi
karena tidak adanya kemungkinan integrasi secara permanen. Hal ini terjadi apabila
terdapat kekuasaan dominan yang memaksakan kelompok lain. Istilah konflik menurut
Ramlan Surbakti mengandung pengertian "benturan", seperti perbedaan pendapat,
persaingan, dan pertentangan antara individu dan individu, kelompok dan kelompok,
individu dan kelompok, dan antara individu atau kelompok dengan pemerintah. Konflik
tidak harus dengan cara kekerasan, tetapi kekerasan merupakan alternatif terakhir di
dalam konflik. Maka, konflik keberagaman etnis di Irak berupa huru-hara, kudeta,
pembunuhan atau sabotase yang mengarah pada terorisme, pemberontakan, separatisme
dan revolusi. (Ramlan Surbakti, 2010:149-150).

A. Latar belakang peristiwa Halabja 1988


Terjadinya Perang Teluk 1 tahun 1980 antara Irak dan Iran menimbulkan kemelut
di dalam tubuh pemerintahan Irak. Tidak hanya menghadapi serangan dari luar (Iran),
pemerintahan Saddam juga menghadapi serangan dari dalam tubuh pemerintahan Irak
yang dilakukan oleh etnis Kurdi. Ketika itu, tepatnya tahun 1984, Saddam
memberikan kewenangan atas otonomi Kurdi dengan syarat etnis Kurdi harus
memberi dukungan Irak dalam menghadapi serangan dari pasukan Iran, tetapi etnis
Kurdi menolaknya. Bahkan mereka beraliansi untuk memanfaatkan kondisi ini atas
permintaan Iran. Kaum Kurdi justru membela Khomeini dalam peperangan yang
terjadi di wilayah Irak Utara.
Berakhirnya Perang Teluk 1 yang menimbulkan kekacauan di dalam negeri,
dimanfaatkan oleh kaum Kurdi dengan cara melakukan pemberontakan. Hal ini
diperparah dengan adanya pemberontakan yang dilakukan oleh kaum Syiah di
selatan Irak. Selama tiga pekan, wilayah Kurdi di Irak Utara bergejolak. Kemudian
kota-kota seperti Ranya, Sulaymaniah, Erbil, Duhok, Aqra, dan Kirkuk, dikuasai
Kurdi, termasuk Mosul. Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Dengan sigap Garda
Republik berhasil merebut kota-kota itu kembali. Akibatnya, kaum Kurdi harus
kehilangan tempat tinggal mereka, dan lebih dari satu juta orang Kurdi mengungsi ke
seluruh penjuru Kurdistan.
Kebijakan yang dilakukan oleh Saddam Hussein terhadap etnis Kurdi di Irak,
dikenal dengan Kampanyae Anfal. Pada awal Kampanye Anfal, tindakan awal
Saddam Hussein meliputi perampasan harta benda, tanah, surat-surat berharga,
hukuman penjara, hukuman mati terhadap masyarakat Kurdi. Kampanye Anfal
menjadi puncak dari sejarah panjang serangan terhadap Kurdi di Irak. Saddam
menganggap etnis Kurdi sebagai pengkhianat, agen Iran atau pembelot. Maka
selanjutnya, kebijakan Anfal diperluas dengan rangkaian eksekusi massal, dan
meratakan perkampungan Kurdi dengan senjata kimia pemusnah massal termasuk
dalam serangan Irak ke Halabja dengan menggunakan gas Mustard dan Sarin pada
Maret 1988.
B. Tragedi Halabja maret 1988
Peristiwa Halabja merupakan pembantaian massal dengan menggunakan senjata
kimia yang dilakukan oleh pemerintah Irak di bawah rezim Saddam, termasuk partai
Bath, terhadap etnis Kurdi di Halabja, Irak Utara, pada bulan Maret 1988. Peristiwa
ini terjadi pada Jumat 16 Maret 1988 di Halabja, terletak 75 kilometer dari
Sulaymaniah. Masyarakat Kurdi mengingat peristiwa ini sebagai Jumat Berdarah.
Peristiwa Halabja terjadi akibat dari separatisme etnis Kurdi, pergerakan etnis
Kurdi sebagai kelompok minoritas, dan konflik keberagaman etnis. Hal ini terjadi
disebabkan (1) Saddam Hussein sebagai kepala negara adalah seorang Arab Sunni
yang merupakan kelompok minoritas. Sehingga perlu untuk mendominasi
pemerintahan dan militer, serta untuk mempertahankannya; (2) Saddam dan Partai
Ba'th menganut paham Pan-Arabisme yang menginginkan wilayah kekuasaannya
murni dihuni oleh etnis Arab. Sehinnga kelompok lain yang memiliki perbedaan
fisik, dan etnis dengannya harus ditindas. Ambisi Saddam untuk menjadi pemimpin
Arab dan penyelamat Arab, sehingga berusaha untuk menekan eksistensi etnis Kurdi
di Irak bahkan di seluruh penjuru negeri Arab; (3) Diskriminasi yang dilakukan
Saddam Hussein terhadap etnis Kurdi menyebabkan munculnya perlawanan yang
digencarkan etnis Kurdi, sehingga menjadi kendala internal Irak ketika harus
menghadapi serangan dari eksternal dalam perang Irak-Iran sehingga memaksa
Saddam mengambil jalan pintas dengan cara pemusnahan Etnis Kurdi.
Kesimpulan

Suku Kurdi merupakan salah satu etnis yang hidup di beberapa negara di Timur
Tengah, mereka memiliki cita-cita dan ambisi menciptakan negara Kurdistan yang
merdeka dan berdaulat. Irak yang merupakan salah satu negara di Timur Tengah juga
memiliki latar belakang etnis yang beragam. Masalah etnis yang dihadapi Irak adalah
mengenai keberadaan suku Kurdi. Kurdi merupakan salah satu etnis minoritas di negara
yang dijuluki land of fear.
Periode rezim Saddam Hussein merupakan periode terberat dalam sejarah etnis
Kurdi. Berbagai kebijakan pembersihan etnis Kurdi Irak mulai digencarkan oleh rezim
otoriter Saddam Hussein, namun disaat itu pula gerakan nasionalisme etnis Kurdi di Irak
semakin bertambah kuat. Konflik merupakan gejala anatar kelompok untuk
memperebutkan hal yang sama yaitu kekuasaan, kebebasan, dan kesetaraan hak sebagai
warga negara.

Kebijakan yang dilakukan oleh Saddam Hussein terhadap etnis Kurdi di Irak,
dikenal dengan Kampanyae Anfal. Pada awal Kampanye Anfal, tindakan awal Saddam
Hussein meliputi perampasan harta benda, tanah, surat-surat berharga, hukuman penjara,
hukuman mati terhadap masyarakat Kurdi. Peristiwa Halabja merupakan pembantaian
massal dengan menggunakan senjata kimia yang dilakukan oleh pemerintah Irak di
bawah rezim Saddam, termasuk partai Bath, terhadap etnis Kurdi di Halabja, Irak Utara,
pada bulan Maret 1988. Peristiwa ini terjadi pada Jumat 16 Maret 1988 di Halabja,
terletak 75 kilometer dari Sulaymaniah.