Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENUGASAN BLOK 3.

Disusun oleh:

Ulinnuha Khirza Kafalah 14 711 011

M. Naufal Arkhaputra 14 711 150

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2017

1
LATAR BELAKANG
Mata adalah jendela dunia karena tanpa mata kita tidak bisa memvisualisasikan

seluruh makhluk ciptaan Allah yang indah didunia ini. Sehingga dapat dikatakan

mata adalah suatu organ indera yang sangat penting. Akan tetapi, mata juga

termasuk organ yang rentan terkena infeksi dan trauma karena berhubungan

langsung dengan dunia luar. Banyak sekali kelainan yang berhubungan dengan bola

mata dan yang paling sering adalah mata merah.


Diagnosis banding mata merah sangat banyak, ditinjau dari penyebabnya dari

mata merah karena iritasi sampai mata akibat trauma benda. Salah satu kelainan

tersebut adalah perdarahan subkonjungtiva yang disebabkan oleh berbagai hal.

Secara klinis, perdarahan subkonjungtiva tampak merah muda hingga tua pada bola

mata. Hal ini sering membuat pasien khawatir akan kondisinya. Akan tetapi dalam

24 jam darah tersebut akan diabsorbsi dan hilang dengan sendirinya. Dalam keadaan

tertentu pasien harus dirujuk apabila didapatkan penurunan visus, menetap dan

rekuren untuk mengetahui faktor risiko dan penanganannya yang tepat.

DAFTAR ISI
COVER..........................................................................................................1
LATAR BELAKANG....................................................................................2
DAFTAR ISI..................................................................................................3
STATUS PASIEN...........................................................................................4
a. Identitas Pasien..................................................................................4
b. Anamnesis..........................................................................................4

2
c. Pemeriksaan Fisik & Status Lokalis..................................................5
d. Rencana Pemeriksaan Penunjang......................................................11
e. Rencana Terapi...................................................................................11
TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................13
a. Definisi & Etiologi.............................................................................13
b. Epidemiologi......................................................................................14
c. Patogenesis.........................................................................................15
d. Manifestasi Klinis..............................................................................15
e. Pemeriksaan Penunjang.....................................................................16
f. Terapi.................................................................................................16
g. Pencegahan........................................................................................17
DISKUSI........................................................................................................18
REFERENSI..................................................................................................20
STATUS PASIEN
I. Identitas Pasien
Nama : Bapak K
Umur : 71 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Petani
Alamat : Patikan RT 01/ RW 01 Balikcatur Gamping
Sleman
II. Anamnesis
Keluhan utama :
Mata kanan merah akibat terkena cipratan tanah/lumpur pada saat sedang

mencangkul di sawah. Mata merah sejak 2 hari yang lalu. Pasien tidak sadar

bahwa matanya memerah. Istri pasien yang melihat kemerahan pada mata

pasien, menyarankan pasien untuk periksa ke dokter.


Riwayat penyakit sekarang :
Sejauh ini pasien tidak merasakan adanya keluhan, namun saat dilakukan

pemeriksaan vital sign didapatkan pasien memiliki darah tinggi.


Riwayat penyakit dahulu :
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit yng berhubungan sebelumnya
Riwayat penyakit keluarga :

3
Terdapat riwayat penyakit jantung dari ayah pasien
Riwayat kondisi sosial & lingkungan :
Pasien tinggal di pedesaan namun rumahnya dipinggir jalan raya, dirumah

pasien sendiri, biasanya pasien menyapu rumah 5-7 kali dalam sehari karena

debu banyak dari jalan raya. Kamar mandi dirumah pasien sendiri sudah

mengunakan keramik dan pengairannya berasal dari sumur dan pembuangan air

sudah ada tempatnya. Riwayat kebiasaan pasien sendiri, biasanya pasien

bergantian memasak dirumah karena istrinya juga bekerja sebagai penjual

jajanan pasar keliling, Kebiasaan cuci tangan juga sudah dibiasakan oleh

pasien. Pasien juga memiliki kebiasaan meminum jamu ditambah telur bebek

kurang lebih 3 minggu sekali atau jika pasien merasa tidak enak badan. Untuk

lingkungan social sendiri pasien biasa mengikuti pengajian dan ronda di

desanya.
III. Pemeriksaan Fisik & Status Lokalis
Status generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Gizi : Tidak Diketahui (namun tampak gizi baik)
Tanda vital : TD : 180/100
S : 35,6 C
N : 70x/mnt
R : 24x/mnt
Keadaan spesifik :
Kepala : mata merah, gigi tidak rata Genitalia :-
Leher :- Ekstremitas : -
Thorak :-
Abdomen :-
Status Lokalis
Pemeriksaan Subyektif

4
Pemeriksaan OD OS
Visus jauh 6/12 6/9
Refraksi
Koreksi
Visus dekat
Proyeksi sinar
Presepsi warna (merah, hijau

Gambar 1. Pemeriksaan segmen anterior

Gambar 2. Pemeriksaan segmen anterior


Pemeriksaan Obyektif

Pemeriksaan OD OS
1. Sekitar mata
-Supersilia - -
2. Kelopak mata normal
-Pasangan normal
-Gerakan normal
-Lebar rima sedikit bengkak normal
-Kulit normal

5
-Tepi kelopak
-Margointermarginalis
3. Apparatus lakrimalis
-Sekitar gld lakrimalis
-Sekitar saccus normal normal
normal normal
lakrimlis
-Uji fluoresin - -
-Uji regurgitasi - -
4. Bola mata
-Pasangan
-Gerakan normal normal
-Ukuran normal normal
5. Tekanan bola mata - -
6. Konjungtiva
-K. Palpebra superior normal normal
-K. Papebra inferior normal normal
-K. Fornik normal normal
-K. Bulbi merah normal
7. Sklera
-Episklera normal normal
8. Kornea
-Ukuran normal normal
-Kecembungan
-Limbus normal normal
-Permukaan jernih licin jernih licin
-Medium
-Dinding belakang arcus senilis arcus senilis
-Uji Fluoresin - -
-Placido - -
9. Camera oculi anterior
-Ukuran kedalaman
-Isi bening bening
10. Iris
-Warna coklat coklat
-Pasangan
-Gambaran
-Bentuk normal normal
11. Pupil normal
-Ukuran longkaran normal

6
-Bentuk lingkaran
-Tempat sentral sentral
-Tepi rata rata
-Reflek direk normal normal
-Reflek indirek normal normal
12. Lensa
-Ada/Tidak Ada Ada Ada
-Kejernihan Sedikit keruh Sedikit keruh
Shadow Test
-Letak Dibelakang iris Dibelakang iris
-Warna kekeruhan Sedikit keruh Sedikit keruh
13. Korpus vitreum

(funduskopi) - -
14. Reflek fundus

(funduskopi) - -

Kesimpulan Pemeriksaan

OD : OS :
visus 6/12, merah pada visus 6/9, tidak ada kemerahan,

konjungtiva bulbi, lensa sedikit lensa sedikit keruh dan terdapat

keruh, dan terdapat arcus senilis arcus senilis

7
Hasil positif yang diperiksa :
Merah pada subkonjungtiva

IV. Pemeriksaan Penunjang


Tidak dilakukan
V. Rencana Terapi
Umum : anjuran/larangan
o Pasien disarankan untuk menjaga kebersihan matanya dan

jangan sampai kejadian yang sama terulang, selain itu juga

mungkin lebih hati-hati dalam bekerja


Farmakoterapi : lokal/sistemik/tindakan
o Pasien diberi obat antibiotik tetes mata untuk menjaga agar tidak

terjadi infeksi pada mata


o Karena pasien memiliki tekanan darah yang tinggi, maka diberi

captopril untuk menurunkannnya


o Tindakan tidak diperlukan karena sifat penyakitnya akan

sembuh sendiri

8
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi dan Etiologi
Konjungtiva merupakan lapisan tipis dan transparan yang melapisi sklera.

Vaskularisasi di konjungtiva cukup banyak dan biasanya tampak akan lebih jelas

bila membesar akibat peradangan. Karena dinding pembuluh darah sangat rapuh

maka bila terdapat suatu hal akan membuat mudah pecah. Hal ini dinamakan

perdarahan subkonjungtiva yang biasanya berwarna merah terang atau gelap (Ilyas

& Yulianti, 2014)

Gambar 3. Perdarahan subkonjungtiva


Perdarahan subkonjungtiva adalah perdarahan yang disebabkan karena

pembuluh di bawah lapisan konjungtiva ruptur. Biasanya bersifat unilateral dan

terjadi secara spontan atau akibat trauma (Christanto, 2014). Keadaan yang

membuat pembuluh darah menjadi rupture disebabkan karena faktor usia,

pemakaian obat antikoagulan dan penyakit berat seperti hipertensi (Ilyas &

Yulianti, 2014). Selain itu defisiensi vitamin C, operasi mata, konjungtitvitis dan

NSAID juga dapat menyebabkan perdarahan subkonjungtiva. Manuver valsava

9
seperti batuk, mengejan dan muntah-muntah juga dapat menjadi penyebab

perdarahan subkonjungtiva (Christanto, 2014).


Perdarahan subkonjungtiva dapat bersifat idiopatik yang berkaitan dengan gen

polimorfisme faktor XIII Val34Leu baik secara homozigot atau dizigot. Ini

merupakan faktor predisposisi pada penderita yang sering mengalami kekambuhan

(Christanto, 2014).
B. Epidemiologi

Insidens trauma pada mata bervariasi pada berbagai penelitian yang dilaporkan.

Suatu studi berbasis populasi di Amerika Serikat melaporkan kejadian trauma mata

pada anak berkisar sebesar 15,2/100.000 pertahun.

Berdasarkan data dari Unit Gawat Darurat Departemen Ilmu Kesehatan Mata

FKUI/ RSCM telah dilaporkan bahwa pada tahun 2009 terdapat 935 kasus trauma

pada mata, berdasarakan jumlah tersebut, 377 kasus dianggap memenuhi kriteria

untuk penelitian. Berdasarkan kelompok usia dilaporkan bahwa 9,2% berusia di

bawah 5 tahun; 20,2% pada kelompok usia 6-19 tahun; 67,7% kelompok usia 20-55

tahun; 2,9% kelompok usia lebih dari 55 tahun dari 377 kasus yang diteliti.

Berdasarkan 377 kasus yang diteliti, didapatkan nilai yang hampir sama, yaitu

(4,7% vs. 4,5%) untuk proporsi jenis kelamin pada kelompok usia dibawah 5tahun.

Sedangkan untuk kelompok usia antara 6-19 tahun. didapatkan hasil bahwa laki-laki

lebih banyak daripada wanita yaitu (17.3% vs. 2,9%) (Trihono, 2012).

C. Patogenesis

10
Konjungtiva merupakan selaput tipis yang membungkus bola mata dan memiliki

vaskularisasi yang banyak. Pembuluh darah konjungtiva sangat rapuh sehingga

mudah pecah apabila terdapat jejas atau terjadi secara spontan. Perdarahan bisa

tampak berwarna merah muda atau tua di sklera dan bisa menyebar secara difus di

jaringan subkonjungitva karena struktur jaringan ikat yang halus. Secara klinis

apabila perdarahan cukup berat maka dapat menyebabkan kemotik kantung darah

yang menonjol di atas tepi kelopak mata. (Rakhmasari, 2015)


Ada 2 tipe perdarahan subkonjungtiva berdasarkan mekanisme patogenesisnya:
a. Perdarahan subkonjungtiva tipe spontan
Perdarahan ini terjadi secara spontan karena pernurunan fungsi endotel

sehingga pembuluh darah m


enjadi rapuh dan muda pecah. Hal ini terkait faktor risiko seperti usia,

hipertensi dan valsava manuver (Vaughan, 2010).


b. Perdarahan subkonjungtiva tipe traumatik
Perdarahan yang terjadi karena sebelumnya penderita memiliki riwayat

trauma secara langsung maupun tidak langsung. Perdarahan yang terjadi kadang

menutupi perforasi bola mata yang terjadi (Ababneh, 2013).


D. Manifestasi Klinis
Pada kebanyakan kasus hanya terlihat perdarahan pada subkonjungtiva tetapi

tidak menutup kemungkinan terjadi perdarahan pada sklera yang berwarna merah

muda atau tua. Rasa nyeri saat perdarahan sangat jarang. Perdarahan dapat memberi

kesan seperti ada yang mengganjal dibagian kelopak atau bola mata. Pasien sering

merasa khawatir dengan perdarahan di bola mata. Tanda peradangan mungkin

11
terjadi tapi ringan. Dalam 24 jam pertama, perdarahan akan semakin meluas tetapi

lama kelamaan akan semakin berkurang karena diabsorbsi (Kusumastuti, 2010).


E. Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada pemeriksaan penunjang untuk perdarahan subkonjugtiva. Dalam

menegakkan diagnosis perdarahan subkonjungtiva cukup dilakukan pemeriksaan

fisik saja. Pemeriksaan yang teliti perlu dilakukan untuk mengetahui adanya riwayat

cedera pada mata. Penilaian harus dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda khas

dari penyakit-penyakit yang ada. Selain itu, sangat penting untuk melakukan

penilaian visus atau tajam penglihatan pasien sebagai data klinis awal. Trauma yang

menyebabkan terjadinya perdarahan subkonjungtiva mengindikasikan perlunya

evaluasi yang menyeluruh terhadap cedera pada mata yang lebih serius (Trihono,

2012).
F. Terapi

Penatalaksanaan pada perdarahan subkonjungtiva atau hematoma

subkonjungtiva sebenarnya tidak perlu diberikan. karena pada kasus perdarahan

subkonjungtiva, darah yang berada dibawah konjungtiva akan diserap sendiri secara

spontan dalam waktu kurang lebih 1 hingga 3 minggu (Ilyas, 2014).

12
Gambar 4. Resep obat

G. Pencegahan

Memberikan pemahaman tentang bagaimana prinsip evaluasi dan tata laksana

adalah salah satu bentuk pencegahan. Hal ini akan membantu menurunkan tingkat

13
morbiditas okular dan tingkat kehilangan pengelihatan. Berdasarkan penelitian

sebelumnya, 90% trauma pada mata dapat dicegah atau dapat dicegah tingkat

keparahannya dengan beberapa cara, salah satunya adalah dengan cara memberikan

edukasi yang baik, selain itu juga memakai pelindung mata yang tepat, serta

menghindari faktor risiko yang berbahaya. Dokter-dokter di pusat pelayanan

kesehatan primer dapat membantu memberikan edukasi tentang pentingnya

penggunaan kacamata sebagai pelindung untuk melindungi mata selama beraktivitas

yang berkaitan dengan trauma mata (Trihono, 2012).

DISKUSI
Berdasarkan PPK hari Selasa tanggal 21 Maret 2017 kemarin kami

mendapatkan kasus, seorang laki-laki bernama Bapak K berusia 71 tahun datang ke

dokter dengan keluhan utama mata kanan merah karena kecipratan lumpur saat

menyangkul disawah sejak 2 hari yang lalu. Pekerjaan Bapak K adalah petani. Tidak

ada riwayat penyakit sebelumnya. Riwayat penyakit keluarga, ayah pasien

meninggal karena penyakit jantung. Keseharian Bapak K minum jamu dicampur

telur bebek 3 minggu sekali. Rumah Bapak K letaknya didekat jalan raya dan sering

dibersihkan dan disapu 5-7 kali sehari. Sanitasi dirumah baik dan untuk hubungan

sosial juga Bapak K sering mengikuti ronda dan pengajian.


Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik dan kesadaran compos

mentis. Berat badan Bapak K 58 kg dan tanda vital (tekanan darah 190/100,

14
respirasi 24 kali/menit, suhu 35,6 C dan nadi 70 kali/menit). Keadaan spesifik yang

mencolok pada bagian kepala yaitu mata merah, sipit, bibir atas bekas sikatrik dan

gigi sudah tidak rata. Pemeriksaan visus od 6/12 dan os 6/9. Kedua palpebra normal,

reflek pupil normal, rambut bulu mata normal, mata kanan merah mata kiri normal,

terdapat sedikit arcus sinilis pada kedua bola mata.


Diagnosis banding pada kasus ini adalah perdarahan subkonjungtiva, benda

asing di kornea, dan infeksi. Penatalaksanaan pada pasien ini diberikan obat tetes

mata antibiotik. Prognosis bonam. Maka dari itu penulis ingin membuat laporan

kasus berdasarkan hasil yang didapatkan di Puskesmas Godean I.


Dalam referensi yang kami dapatkan pemeriksaan mata harus dilakuan dengan

lengkap untuk mengetahui sejauh mana keparahan perdarahan subkonjungtiva.

Kebanyakan kasus perdarahan subkonjungtiva bersifat unilateral dan akan sembuh

dengan sendirinya. Beberapa hal penting yang mungkin dapat ditanyakan berkaitan

dengan pekerjaan, riwayat penyakit berat seperti hipertensi dan trauma. Pengobatan

yang paling mudah adalah dengan memberikan kompres dingin sebagai

vasokontriktor. Kelainan ini pada umumnya memiliki prognosis yang baik, bila

terdapat penurunan visus maka segera dirujuk (Vaughan, 2010).

15
REFERENSI

Ababneh, O.H. 2013. Orbital, Subconjungtival and Subcutaneous Emphysema After

an Orbital Floor Fracture. Journal Clinical Ophtalmology. Vol. 7 pp

1077-1079
Christanto, et al. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Ed. IV. Jakarta: Media

Aerskulapius.

16
Ilyas, S. & Yulianti, S.R. 2014. Ilmu Penyakit Mata Ed. V. Jakarta: Balai Penerbit

FKUI.
Kusumastuti, D.H., et al. 2010. Awareness Subconjuntival Bleeding on Warfarin

Therapy Patient. Jurnal Oftalmologi Indonesia. Vol. 7 (4) pp. 167-170


Rakhmasari, Y.A., et al. 2015. Comparasion of Topical and Subconjungtival

Curcumin Injection on Corneal Neovascularization on Alkali Injuries of

Wistars Cornea. Journal Ophthalmol Ina. Vol. 41 (1)

Trihono, P., (2012), Trauma Mata pada Anak, Pendidikan Kedokteran

Berkelanjutan LXI, Kegawatan pada Bayi dan Anak, Jakarta: Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM

Vaughan, D. 2010. Oftalmologi Umum Ed. 17. Jakarta: EGC.

17