Anda di halaman 1dari 20

TEORI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

1. Pengertian Tumbuh Kembang


Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi
saling berkaitan dan sulit dipisahkan yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah,
ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran
berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan
keseimbangan metabolik (retensi kalsium nitrogen tubuh). Sedangkan perkembangan
(development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur fungsi tubuh yang
lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses
pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel sel tubuh, jaringan
tubuh, organ-organ dan system organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-
masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan
tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Supartini, 2004).
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang saling berhubungan dan
berkelanjutan pada masa bayi dan masa kanak-kanak. Pertumbuhan merujuk pada
peningkatan ukuran fisik sedangkan perkembangan adalah proses berturut yang selama
proses tersebut bayi dan anak-anak memperoleh berbagai keterampilan dan fungsi.
Maturasi merujuk pada peningkatan fungsionalitas berbagai sistem tubuh atau
keterampilan perkembangan. Mengamati keadekuatan pertumbuhan dan perkembangan
pada berbagai usia merupakan bagian penting dari pengkajian keperawatan bayi dan anak
(Kyle&Carman, 2014) .

2. FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan


Proses pertumbuhan dan perkembangan anak, setiap individu akan mengalami siklus
yang berbeda pada kehidupan manusia. Peristiwa tersebut dapat secara cepat maupun
lambat tergantung dari individu atau lingkungan.
Proses percepatan dan perlambatan tersebut dapat dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu:
a. Faktor Herediter
Merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai tumbuh
kembang anak di samping faktor-faktor lain. Faktor herediter meliputi bawaan, jenis
kelamin, ras dan suku bangsa. Faktor ini dapat ditentukan dengan intensitas, kecepatan
dalam pembelahan sel telur, tingkat sensivitas jaringan terhadap rangsangan, usia
pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang.
Pertumbuhan dan perkembangan anak dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir
akan cenderung lebih cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan bertahan
sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan akan mengalami
pertumbuhan yang lebih cepat ketika mereka mencapai pubertas (Supartini, 2004).
Ras atau suku bangsa juga memiliki peran dalam mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan, hal ini dapat dilihat pada suku bangsa tertentu yang memiliki
kecenderungan lebih besar atau tinggi, seperti orang Asia cenderung lebih pendek dan
kecil dibandingkan dengan orang Eropa atau lainnya.
b. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam
menentukan tercapai atau tidaknya potensi yang sudah dimiliki. Faktor lingkungan ini
dapat meliputi lingkungan prenatal (yaitu, lingkungan dalam kandungan) dan
lingkungan postnatal (yaitu, lingkungan setelah bayi lahir) (supartini, 2004).
1) Lingkungan Prenatal
a) Lingkungan mekanis
Lingkungan mekanis adalah segala hal yang memengaruhi janin atau posisi
janin dalam uterus.
Radiasi dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan otak janin.
Infeksi dalam kandungan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
janin.
Kekurangan oksigen pada janin mengakibatkan gangguan dalam plasenta
sehingga kemungkinan bayi lahir denga berat badan kurang.
Faktor imunitas dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin
karena menyebabkan terjadinya abortus atau karena ikterus.
Stress dapat memengaruhi kegagalan tumbuh kembang janin.
b) Zat kimia atau toksin
Hal ini berkaitan dengan penggunaan obat-obatan, alkohol, atau kebiasaan
merokok oleh ibu hamil
c) Hormonal
Hormon-hormon ini mencakup hormon somatotropin, plasenta, tiroid, dan
insulin. Peran hormon somatotropin (growth hormone), yaitu disekresi kelenjar
hipofisis janin sekitar minggu ke-9 dan produksinya meningkat pada minggu ke-
20. Hormon plasenta (human placental lactogen) berperan dalam nutrisi plasenta
(Supartini, 2004).
2) Lingkungan Postnatal
Selain faktor lingkungan intrauteri terdapat lingkungan setelah lahir yang dapat
memengaruhi tumbuh kembang anak, seperti budaya lingkungan, sosial ekonomi
keluarga, nutrisi iklim atau cuaca, olahraga, posisi anak dalam keluarga, dan status
kesehatan (Supartini, 2004).
a) Budaya lingkungan
Budaya lingkungan dalam hal ini adalah budaya di masyarakat yang
memengaruhi seseorang atau masyarakat mempersepsikan pola hidup sehat, hal
ini dapat terlihat apabila kehidupan atau perilaku mengikuti budaya yang ada
sehingga kemungkinan besar dapat menghambat dalam aspek pertumbuhan dan
perkembangan. Sebagai contoh, anak yang dalam usia tumbuh kembang
membutuhkan makanan bergizi, namun karena terdapat adat atau budaya tertentu
yang melarang makan dalam masa tertentu padahal makanan tersebut dibutuhkan
untuk perbaikan gizi, maka tentu akan mengganggu atau menghambat masa
tumbuh kembang.
b) Status sosial ekonomi
Status sosial ekonomi juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Anak dengan keluarga yang memiliki sosial ekonomi tinggi
umumnya pemenuhan kebutuhan gizinya cukup baik dibandingkan dengan anak
dengan social ekonomi rendah. Demikian juga dengan anak berpendidikan rendah
tentu akan sulit untuk menerima arahan dan pemenuhan gizi dan mereka sering
tidak mau atau tidak meyakini pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi atau
pentingnya pelayanan kesehatan yang menunjang dalam membantu pertumbuhan
dan perkembangan anak.
c) Nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen yang penting dalam menunjang
keberlangsungan proses pertumbuhnan dan perkembangan. Nutrisi menjadi
kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang selama masa pertumbuhan. Dalam
nutrisi terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhann dan
perkembangan seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air.
Apabila kebutuhan nutrisi seseorang tidak atau kurang terpenuhi maka dapat
menghambat pertumbuhan dan perkembangannya.
d) Iklim dan cuaca
Iklim dan cuaca dapat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan.
Misalnya pada saat musim tertentu kebutuhan gizi dapat dengan mudah
diperoleh, namun pada saat musim yang lain justru sebaliknya. Sebagai contoh,
saat musim kemarau penyediaan air bersih atau sumber makanan sangatlah sulit.
e) Olahraga atau latihan fisik
Olahraga atau latihan fisik dapat memacu perkembangan anak karena dapat
meningkatkan sirkulasi darah sehingga suplai oksigen ke seluruh tubuh dapat
teratur serta dapat menigkatkan stimulasi perkembangan tulang, otot, dan
pertumbuhan sel lainnya. Dari aspek social, anak menjadi mudah berinteraksi
dengan teman sesuai dengan jenis olahraganya.
f) Posisi anak dalam keluarga
Posisi anak dalam keluarga dapat memengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan. Secara umum, anak pertama atau tunggal memiliki kemampuan
intelektual lebih menonjol dan cepat berkembang karena sering berinteraksi
dengan orang dewasa, namun dalam perkembangan motoriknya kadang-kadang
terlambat karena tidak ada stimulasi yang biasa dilakukan saudara kandungnya.
Sedangkan pada anak kedua atau anak tengah, kecenderungan orang tua yang
merasa sudah biasa dalam merawat anak lebih percaya diri sehingga kemampuan
anak untuk beradaptasi lebih mudah, meskipun dalam perkembangan intelektual
biasanya kurang apabila dibandingkan dengan anak pertamanya, kecenderungan
tersebut juga bergantung pada keluarga.
g) Status kesehatan
Status kesehatan dalam keluarga dapat memengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan. Hal ini dapat terlihat apabila anak berada dalam kondisi sehat dan
sejahtera, maka percepatan untuk tumbuh kembang menjadi sangat mudah dan
sebaliknya. Sebagai contoh, pada saat tertentu anak seharusnya mencapai puncak
dalam pertumbuhan dan perkembangan, namun apabila saat itu pula terjadi
penyakit kronis yang ada pada diri anak maka pencapaian kemampuan untuk
maksimal dalam tumbuh kembang akan terhambat karena anak memiliki masa
kritis. Beberapa kondisi yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak
misalnya ada kelaianan perkembangan fisik atau disebut cacat fisik (bibir
sumbing, strabismus atau juling, kaki bengkok, dan lain-lain), adanya kelainan
dalam perkembangan saraf (seperti gangguan motorik, gangguan bicara, atau
gangguan personal sosial), adanya kelainan perkembangan mental (seperti
retardasi mental), adanya kelainan perkembangan perilaku (seperti hiperaktif,
gangguan belajar, atau depresi), dan lain-lain (Hidayat, 2011).

c. Faktor Hormonal
Faktor hormonal yang berperan dalam tumbuh kembang anak antara lain hormon
somatotropin, tiroid, dan glukokortiroid. Hormon somatotropin (growth hormone)
berperan dalam memengaruhi pertumbuhan tinggi badan dan menstimulasi terjadinya
proliferasi sel kartilago dan system skeletal. Hormon tiroid berperan menstimulasi
metabolisme tubuh. Hormone glukokortiroid mempunyai fungsi menstimulasi
pertumbuhan sel interstisial dari testis (untuk memproduksi testosteron) dan ovarium
(untuk memproduksi estrogen), selanjutnya hormone tersebut akan menstimulasi
perkembangan seks, baik pada anak laki-laki maupun perempuan yang sesuai dengan
peran hormonnya (Hidayat, 2011).

3. Tahap Pertumbuhan dan perkembangan


a. Bayi (0- 1 tahun)
Bayi menunjukan peningkatan fenomenal pada keterapilan motorik kasar dan halus
mereka selama 12 bulan pertama kehidupa. Keterampilan motorik kasar berkembang
dalam cara sefalokaudal yang berarti dari kepala ke ekor. Dengan kata lain, bayi belajar
untuk mengangkat kepala sebelum belajar berguling dan duduk. Keterampilan motorik
halus berkembang dalam cara proksimodistal yakni dari usat ke perifer. Kepalan tangan
bayi menggenggam dalam cara seluruh tangan dan pada akhirnya menjadi genggaman
menjepit yang halus.
1) Perubahan fisik (Ridha, 2014)
1 bulan
Berat badan akan meningkat 15-200 gr/mg, tinggi badan meningkta 2,5
cm/bulan, lingkar kepala meningkat 2,5 cm/bulan, lingkar kepala meningkat 1,5
cm/bulan. Besarnya kenaikan seperti ini akan berlangsung sampai umur bayi
berusia bulan.
2-13 bulan
Fontanel posterior sudah tertutup
4-5 bulan
Bert badan menjadi dua kali dari berat badan lahir, ngeces karena tidak adanya
koordinasi dalam menelan saliva
8-9 bulan
Sudah bisa duduk dengan sendirinya, koordinasi tangan kemulut sangat sering,
bayi mulai tengkurap sendiri dan mulai belajar untuk merangkak, sudah bisa
mengambil benda dengan menggunakan jari-jarinya.
10-12 bulan
Berat badan bayi 3 kali berat badan waktu lahir, gigi bagian atas dan bawah
sudah tumbuh

2) Perkembangan Psikososial
Bayi berada pada periode percaya versus tidak percaya menurut Erickson (1963).
Bayi bergantung sepenuhnya pada orang tua atau pemberi asuhan. Pemberi
asuhanberepons terhadap kebutuhan dasar bayi dengan memberi makan, mengganti
popok, dan membersihkan, menyentuh, dan berbicara kepada bayi. Tindakan ini
menimbulkan rasa percaya pada bayi. Jika bayi diabadikan atau kebutuhannya tidak
terpenuhi, tidak percaya dapat terjadi . sering dengan maturasi sistem saraf, bayi
menyadari bahwa mereka adalah induvidu yang berbeda dari pemberi asuhan
mereka. Sering waktu, bayi belajar untuk menolerir sejumlah kecil frustasi dan
percaya bahwa meskipun kepuasan dapat tertunda, hal tersebut pada akhirnya akan
terpenuhi.

3) Perkembangan keterampilan Motorik dan Bahasa


Kemahiran keterampilan motorik kasar, motorik halus, dan bahasa terjadi secara
berurutan seiring waktu.
A. PENANDA KETERAMPILAN MOTORIK KASAR DAN HALUS
Keterampilan motorik
usia Keterampilan motorik kasar
halus
1 bulan Mengangkat dan menggerakan kepala Genggaman tangan
ke samping dalam posisi telungkup sebagian besar
Kepala jatuh ke belakang ketika mengepal
ditarik duduk Pergerakan tangan
Punggung bulat ketika sedang duduk involunter

2 bulan Mengangkat kepala dan dada, posisi


menahan
kendali kepala membaik
3 bulan mengangkat kepala hingga 45 dalam Menahan tangan di
posisi telugkup depan wajah, tangan
kepala sedikit jatuh ke belakang ketika terbuka
dilakukan prasat pull-to-sit
4 bulan mengangat kepala dan melihat ke Memukul benda
sekeliling
berguling dari posisi telungkup ke
posisi telentang
kepala mendahului tubuh ketika tarik
duduk
5 bulan berguling dari posisi terlungkup ke Menggenggam mainan
posisi telentang dan kembali lagi (rattle)
duduk dengan punggung tegak lurus
ketika disangga
6 bulan Duduk tipoid Melepaskan benda
ditangan untuk
mengambil benda dari
satu tangan ke tangan
yang lain.
7 bulan Duduk sendiri dengan menggunakan Memindahkan benda
tangan untuk menyangga dari satu tangan ke
tangan lainnya
8 bulan Duduk tanpa disangga Genggaman menjepit
yang kasar
9 bulan Merangkak, abdomen tidak menganai Memukulkan benda
lantai bersamaan
10 bulan Menarik untuk berdiri Genggaman menjepit
meluncur yang halus
12 bulan Duduk dari posisi berdiri
Berjalan secara mandiri
B. PENANDA BAHASA BAYI
Bayi Baru Menangis dengan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Lahir
Usia 1-3 Membuat suara burung dara (coo), membuat vokalisasi lainnya dan
bulan mennjukan menangis yang berbeda
Usia 4-5 Membuat suara vokal yang sederhana, tertawa dengan keras, melakukan
bulan raspberry, dan bersuara sebagai respons terhadap suara. Berespon
terhadap namanya sendiri dan mulai berespon terhadap tidak
Usia 4-7 Mulai membedakan emosi berdasarkan nada suara
bulan
Usia 6 Menjerit atau berteriak untuk mengeskpresikan kegembiraan atau
bulan perasaan tidak senang
Usia 7-10 Mulai berceloteh dan berkembang menjadi rangkaian misalnya
bulan mamama, dadada) tanpa makna. Mampu berespon terhadap perintah
sederhana.
Usia 9-12 Mulai meletakan makna mama dan dada dan mulai mengimitasi bunyi
bulan bicara lainnya
Rata-rata Menggunakan dua atau tiga kata yang dapat diketahui dengan makna,
usia 12 mengenali benda berdasarkan nama, mulai mengimitasi suara binatang.
bulan Perhatian semakin meningkat pada bicara, mencoba mengmitasi kata;
dapat berkata, uh-oh. Berceloteh dengan perubahan nada suara.
Sumber: Feigelman, S. (2007a) second year dalam Kyle dan Carman (2014).

b. Toodler (1-3 tahun)


Pertumbuhan dan perkembangan pada masa toodle memperoleh keterampilan
motorik masih sedikit melambat selama usia todler. Penyempurnaan keterampilan
motorik dilanjutkan dengan pertumbuhan kognitif, dan kemahiran keterampilan bahasa
yang tepat sangat penting selama masa todler.
1) Perkembangan psikososial
Erickson mendefenisikan periode toodler sebagai waktu otonomi versus malu dan
ragu, waktu menegaskan seseorang belajar kontrol dan kemandirian.
Ambivalensi selama perubahan dari dependen ke otonomi sering kali
menyebabkan kelabilan emosi. Aktivitas selama periode ini meliputi:
Memperoleh otonomi dan kontrol diri
Berpisah dari orangtua/ pemberi asuhan
Menoleransi penundaan kepuasan
Negativisme yang berlebihan (sering kali mengatakan tidak bahkan ketika
artinya iya)
Mengintimasi individu dewasa dan teman bermain
Menunjukan afeksi secara spoton
Antusiasme meningkat tentang teman bermain
Tidak dapat bergiliran dalam permainan hingga usia 3 tahun.
2) Perkembangan keterampilan motorik dan bahasa

A. PENANDA KETERAMPILAN MOTORIK TODLER


Usia Keterampilan motorik kasar Keterampilan motorik halus
12-15 bulan Berjalan secara mandiri. Makan sendiri dengan makanan jari
menggunakan jari telunjuk untuk
menunjuk
18 bulan Memanjat tangga dengan Menguasai meraih, menggenggam dan
bantuan, menarik mainan melepasakan: tumpukan balok,
sambil berjalan. eletakan benda dalam lubang.
Membalik halaman buku (satu persatu
dengan buku papan, banyak jika
buku kertas).
24 bulan Berlari. Membangun menara enam atau tujuh
Menendang bola. kubus.
Dapat berdiri dengan hanya Tangan kanan atau kiri.
menjejakan ujung jari saja Mengimitasi gerakan sirkuler dan
berjinjit). vertikal.
Membawa beberapa mainan Menulis dengan tergesa-gesa dan
atau mainan besar sambil melukis.
berjalan. Mulai memutar tombol.
Memanjat ke atas dan ke Memasukan pin bulat ke dalam lubang.
bawah dari furnitur tanpa
bantuan.
36 bulan Memanjat dengan baik Membuka baju sendiri
Mengayuh sepeda roda tiga Menyalin lingkaran
Berlari dengan mudah Membnagun menara 9 atau 10 kubus
Berjalan naik dan turun Memegang pensil dalam posisi menulis
tangga dengan kaki Memasang atau melepaskan penutup,
bergantian kacang, baut
Membungkuk dengan Membalikan satu halaman buku pada
mudah tanpa terjatuh satu waktu
B. PENANDA BAHASA TODLER
Usia Bahasa Reseptif Bahasan ekspresif
12 bulan Memahami kata umum Menggunakan jari untuk menunjuk
terlepas dari konteks sesuatu
Mengikuti perintah satu Mengimitasi atau menggunakan gerak
langkah yang diserta isyarat, seperti melambaikan tangan
dengan gerak isyarat selamat tinggal
Mengkomunikasikan keinginan dengan
kombinasi kata dan gerak-isyarat
Imitasi vokal
Kata pertama
15 bulan Melihat individu dewasa Megulang kata yang ia dengar
pada saat berkomunikasi Berceloteh yang terdengan menyerupai
Mengikuti perintah satu kalimat
langkah tanpa gerak
isyarat
Memahami 100-150 kata
18 bulan Memahami kata tidak Menggunakan minimal 5-20 kata
Memahami 200 kata Menggunakan nama benda yang
Terkadang menjawab familier
pertanyaan,Apakah ini?
24 bulan Menunjukan bagian tubuh Perbendaharaan kata mencapai 40-50
yang disebutkan kata
Menunjuk gambar dalam Kalimat yang terdiri atau dua atau 3
buku kata (saya naik, mau kue)
Menikmati mendengarkan Mengajukan pertanyaan (apakah itu?)
cerita sederhana Menggunakan frase sederhana
Menyebutkan berbagai Menggunakan kata deskriptif lapar,
benda dalm lingkungan panas)
Mulai menggunakan saya Dua pertiga dari yang dikatakan anak
atau punya saya seharusnya dapat dimengerti
Mengulangi kata yang dia dengar
30 bulan Mengikuti rangkaian dua Perbendaharaan kata mencapai 150-
perintah mandiri 300 kata
36 bulan Berbicara biasanya dimengerti oleh
mereka yang menganl anak, sekitar
setengah dimengerti oleh mereka
yang bukan keluarga
Menanyakan kenapa?
Kalimat yang terdiri atas tiga hingga 4
kata
Membicarakan tentang sesuatu yang
terjadi dimasa lampau
Perbendaharaan kata mencapai 1000
kata
Dapat menyebutkan nama, usia dan
jemis kelamin
Menggunakan kata ganti dan kata
jamak
Sumber: Feigelman, S. (2007c) Preschool years dalam Kyle dan Carman (2014).

c. Anak Prasekolah (3-6 tahun)


Anak usia prasekolah tumbuh lebih lambat dari pada tahun sebelumnya dan anak
prasekolah yang sehat bertubuh ramping dan tangkas dengan postur tubuh yang tegak.
Perkembangan kognitif, bahasa dan psikososial sangat penting pada periode prasekolah
1) Perubahan fisik (Ridha, 2014)
Berat badan meningkat 2,5 kg/tahun, tinggi badan meningkta 6,75-7,5 cm/tahun

2) Perkembangan psikososial
Tugas psikososial periode sekolah menurut erikson (1963) adalah menciptakan
perasaan inisiatif versus rasa bersalah. Anak prasekolah adalah pelajar yang ingin
tahu dan sangat antusias dalam mempelajari hal baru. Anak prasekolah merasakan
sensasi pencapaian ketika berhasil dalam aktivitas dan merasa bangga pada
pencapaian akan suatu hal membantu anak untuk menggunakan inisiatifnya. Akan
tetapi, ketika anak mendorong dirinya lebih lanjut melebihi kemampuan yang
dimikinya saat ini ia dapat merasa bersalah.
Aktivitas yang berkaitan dengan periode ini meliputi:
Suka menyenagkan orangtua
Mulai merencanakan aktivitas dan mebuat permainan
Memulai aktivitas dengan individu lain
Melakukan peran individu lain (nyata dan imajinasi)
Mengembangkan identitas seksual
Mengembangkan perasaannya
Dapat melampiaskan frustasi pada saudara
Suka mengeksplorasi hal baru
Menikmati olahraga, berbelanja, memasak dan bekerja
Mereka sangat menyesal jika melakukan hal yag salah dan berperilaku buruk
Bekerja sama dengan anak lain
Menegosiasikan solusi terhadap konflik

3) Perkembangan keterampilan motorik dan bahasa


Seiring dengan perkembangan anak yang masih kecil, kemampuan keterampilan
motorik dan bahasa meningkat.
PERKEMBANGAN KETERAMPIALN MOTOTRIK DAN BAHASA ANAK
PRASEKOLAH
Usia Keterampilan Keterampilan motorik Perkembangan Komunikasi dan
Motorik kasar halus bahasa
4 Melempar bola Menggunakan gunting Berbicara dalam kalimat yang
tahu dengan ayunan dengan baik: lengkap menggunakan tata
n tangan yang tinggi: Mengopi huruf kapital bahasa menyerupai individu
Menandang bola ke Menggambar lingkaran dewasa:
depan dan bujur sangkar Menceritakan kisah yang mudah
Menagkapa bola Mengopi palang atau diikuti
yang memantul wajik 75% pembicaraan dimengerti
Melompat pada satu Menggambar orang oleh individu lain selain
kaki dengan dua hingga keluarag
Berdiri pada satu empat bagian tubuh Mengajukan pertayaan dengan
kaki hingga 5 Mengikati tali sepatu siapa, bagaiman, berapa
detik banyak
Mengangkat dan Tetap pada topik dalam
menurunkan kaki pembicaraan
secara bergantian Memahami konsep sama dan
Bergerak ke berbeda
belaknag dan ke Mengajukan banyak pertanyaan
depan dengan Mengetahui nama hewan yang
gesit familiar
Menyebutkan objek yang lazim
di dalam buku dan majalah
Mengetahui minimal satu warna
Menggunakan bahasa untuk
terlibat dalam membuat
percaya
Mengikuti perintah tiga bagian
Dapat menghitung beberapa
angka
Perbendaharaan kata 1500 kata
5 Berdiri pada satu Menulis beberapa huruf: Individu selain keluarga dapat
tahu kaki selama 10 Menggambar orang memahami sebagai besar
n detik atau lebih dengan tubuh dan pembicaraan anak:
lama minimal enam bagian Menjelaskan bagaiman sebuah
Berayun dan Berpakaian/melepaskan barang digunakan
memanjat dengan pakaian tanpa bantuan Berpartisipasi dala percakapan
baik Dapat belajar mengikati yang panjang dan detail
Dapat meloncat tali sepatu Bebrbicara tentang kejadian di
secara berulang Menggunakan garpu, masa lampau, masa depan dan
menggunakan tali sendok, dan pisau imajinasi
yang melingkar (diawasi) dengan baik Menjawab pertanyaan yang
Melakukan jungkir Mengopi segitiga dan menggunakan kenapa dan
balik pola geometri lainnya kapan
Dapat belajar Sebagian besar Dapat terhitung hingga 10
bermain sepatu memerhatikan Mengingat bagian dari cerita
luncur dan kebutuhan toileting Pembicaraan secara umu benar
berenang sendiri menurut tata bahasa
Perbendaharaan kata 2100 kata
Mengatakan nama dan alamat

d. Anak Usia Sekolah (6-12 tahun)


Anak usia antara usia 6 dan 12 tahun, emngalami periode pertumbuhan fisik yang
lambat secara progresif sendangkan pertumbuhan sosial dan perkembangan mereka
mnglamai akselerasi sert pningatan dalam kompleksitas. Mereka bergerak ke arah
pemikiran yang lebih abstrak. Fokus dunia mereka meluas dari pengaruh keluarga
menjadi pengaruh guru, teman sebaya dan individu lain misalnya pelatih, media. Anaka
pada tahap ini menjadi lebih mandiri secara bertahap seraya berpartisipasi dalam
aktivitas di luar rumah.
1) Perubahan fisik (Ridha, 2014)
Berat badan meningkta 2-3 kg/tahun, tinggi badan meningkat 6-7 cm/tahun

2) Perkembangan psikososial
Anak usia sekolah berada dalam periode Erickson tahun 1963 industri versus
inferioritas. Anak yang diasuh dan didukung selama periode ini akan
mengembangkan perasaan industri dengan sukses. Inferiositas terjadi bersama
kegagalan berulang dengan dukungan atau kepercayaan yang minim dari orang
yang penting bagi anak. Aktivitas yang berikatan dengan periode ini meliputi:
Tertarik pada cara sesuatu dibuat dan bekarja
Berhasil dalam tugas personal dan sosial
Peningkatan aktivitas di luar rumah misalnya klub olahraga
Peningkatan interaksi dengan teman sebaya
Pengingkatan minat pada pengutahuan

3) Perkembangan keterampilan motorik dan bahasa


Keterampilan motorik kasar dan motorik halus terus berkembang selama periode
usia sekolah. Pengembangan bahasa mengalami akselerasi.

PERKEMBANGAN KETERAMPILAN MOTOIK DAN BAHASA USIA SEKOLAH


Usia Keterampilan Keterampilan motorik Perkembangan komunikasi
Motorik Kasar halus dan bahasa
6-12 Peningkatan Koordinasi dan Keterampilan bahasa
tahun koordinasi, keseimbangan tangan- mengalami akselerasi;
keseimbangan dan mata meningkat; perbendaharaan kata
ritme; kemampuan peningkatan ketelitian meningkat; mulai
untuk mengendarai menulis, mereproduksi menggunakanbentuk tata
sepeda roda dua, kata, menjahit, bahasa yang lebih kompleks ;
melompati tali, membangun model dan meningkatkan gurauan dan
berdansa, bermain keahlian lainnya; teka-teki.
sepatu luncur, kemampuan untuk
berenang. Anak usia memainkan istrumen
sekolah yang lebih musik
besar dapat
menunjukan
ketidaknyaman
karena tubuh mereka
tubuh mereka
tumbuh lebih cepat
daripada kemampuan
merkea untuk
mengompensasi
Sumber: Kyle dan Carman (2014).

e. Remaja (11- 20 tahun)


Rentang remaja adalah periode transisi dari masa kanak-kanak menjadi dewasa yang
biasanya antara usia 11 dan 20 tahun. Remaja merupakan waktu pertumbuhan yang
cepat dengan perubahan dramatis pada ukuran dan proporsi tubuh. Selama waktu ini,
karakteristik seksual berkembangan dan maturitas reproduktif tercapai. Secara umum,
anak perempuan memasuki pubertas lebih awal (pada usia 9 hingga 10 tahun) daripada
anak laki-laki (pada usia 10 hingga 11 tahun).
1) Perkembangan psikososial
Remaja berada pada periode erikson (1963) identitas versus kebingungan peran.
Selama periode ini, remaja berupaya menentukan identitas dirinya. Kebingungan
peran sering terjadi selama periode ini, tetapi teratasi ketika remaja menentukan
identitas yang sehat. Aktivitas yang berikatan dengan tahap remaja adalah sebagai
berikut.
Remaja awal (11-14 tahun)
Fokus pada perubahan tubuh
Sering mengalami perubahan alam perasaan
Kesesuaian terhadap norma teman sebaya dan penerimaan teman sebaya
merupakan hal yang penting
Berupaya keras untuk menguasai keterampilan dalam kelompok teman sebaya
Menjelaskan batasan dengan orangtua dan figur yang berwenang
Tahap awal emansipasi; anak berupaya keras untuk berpisah dari orang tua,
tetapi masih menginginkan bantuan untuk mereka
Mengidentifikasi bersama teman sebaya sesama jenis kelamin
Lebih bertanggung jawab terhadap perilaku diri sendiri
Remaja menengah (14-16 tahun)
Terus menyesuaikan diri terhadap perubahan citra tubuh
Mencoba peran yang berbeda dalam kelompok teman sebaya
Membutuhkan penerimaan oleh kelompok teman sebaya pada tingkat yang
lebih tinggi
Tertarik dalam menarik perhatian lawan jenis
Masa konflik terbesar denga orangtua atau fisgur yang berwenang
Remaja akhir (17-20 tahun)
Mampu memahami implikasi perilaku dan keputusan
Terbentuk peran dalam kelompok teman sebaya
Merasa aman dengan citra tubuh
Memiliki identitas seksual yang matur
Memiliki tujuan karier yang ideal
Pentingnya pertemanan individual muncul
Proses emansipasi dari keluarga hampir lengkap

2) Perkembangan motorik dan bahasa


Selama masa remaja, keterampilan motorik kasar, motorik halus dan bahsa terus
berkembnag dan semakin baik.
A. PERUBAHAN FISIOLOGIS REMAJA
Tahap remaja Perubahan pada perempuan Perubahan pada laki-laki
Remaja awal Rambut pubis mulai mengeriting Rambut pubis menyebar secara lateral dan mulia
dan menyebar ke mos pubis; mengeriting; pigmentasi meningkat
pigmetasi genitalia meningkat Pertumbahan dan pembesaran testis dalam
Puting payudara dan aerola terus skrotum (skrotum berwarna kemerahan) dan
membesar; tidak ada penis terus memanjang
perpisahan payudara Penampilan berkaki panjang karena ekstremitas
Periode menstruasi pertama tumbuh lebih cepat daripada badan
(rata-rata 12,8 tahun)
Remaja Rambut pubis menjadi kasar Rambut pubis menjadi lebih kasar dalam tekstur
menengah dalam tekstur dan terus dan meniru distribusi individu dewasa
mengeriting; jumlah rambut Testis dan skrotum terus tumbuh; kulit skrotum
meningkat menjadi gelap; penis tumbuh melebar, dan
Areola dan papila terpisah dari glans penis berkembang
kontur payudara untuk Dapat mengalami pembesaran payudara
membentuk massa sekunder Suara berubah; lebih masuklin karena
pembesaran laring dan faring yang cepat dan
juga perubahan paru
Remaja akhir Distribusi rambut pubis matur Pembesaran payudara menghilang
dan kasar Bentuk dan ukuran testis, skrotum dan penis
individu dewasa; kulit skrotal menjadi gelap
B. PERKEMBANGAN KETERAMPILAN MOTORIK DAN BAHASA REMAJA
Keterampilan motorik Perkembangan
Usia Keterampilan motorik kasar
halus komunikasi dan bahasa
Semua Perkembangan daya tahan; peningkatan keterampilan
tahapan koordinasi dapat menjadi kemampuan untuk komunikasi membaik
remaja masalah akibat pacu tumbuh memanipulasi objek dengan penggunaan
yang tidak seimbang. tulisan tangan rapi bahasa dan bagian
remaja menengah: kecepatan ketangkasan jari pembicaraan yang
dan akurasi meningkat serta semakin halus dan benar
koordinasi membaik koordinasi mata penggunaan kata
peningkatan daya tangan yang tepat populer meningkat
remaja akhir:
keterampilan bahasa
dapat dibandingkan
dengan individu
dewasa
Sumber: Kyle dan Carman (2014).
DAFTAR PUSTAKA

Kyle, terri & Susan carman. (2014). Buku Praktik: Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC
Ridha, H. Nabiel. (2014). Buku ajar Keperawatan Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hidayat, A.A. (2011). Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan.
Jakarta: Salemba Medika
Supartini, Y. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC
KONSEP TERAPI BERMAIN

1. Pengertian
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh
kesenangan/kepuasan. Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual,
emosional, dan sosial (Wong, 2003).
Bermain merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-
hari karena bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, yang dapat menurunkan
stres pada anak serta merupakan media yang baik bagi anak untuk belajar berkomunikasi
dengan lingkungannya (Supartini, 2004 ).
Bermain merupakan kebutuhan anak seperti juga makanan, kasih sayang, perawatan
dan lain-lain (Ngastiyah, 2005).

2. Jenis Permainan
a. Permainan bahasa
Sebutkan kata kerja yang ditemukan di rumah sakit dan apa yang mereka lakukan
atau bagaimana mereka gunakan; kenali gambar dan kata peralatan rumah sakit dan
cocokkan dengan kata kerja tersebut. Susun kata kerja rumah sakit (katakata pada
kartu) kedalam orang, tempat, dan barang.
Sebutkan perlatan yang ditemukan di rumah sakit. Salah satu anak memberikan
gambar penggunannya, dan anak yang lain menebak alat mana yang digambarkan.
Minta anak menulis, mengilustrasikan cerita:bunyi dimalam hari, nasihat untuk
dokter, rumah sakit di masa depan, sesuatu yang saya suka dan tidak suka di rumah
sakit. Simpan jurnal dengan gambar( hanya dengan keterangan atau cerita), saya di
rumah sakit, Bagian tubub saya yang sakit, dokter saya, perawat saya,
ruangan saya, taman sekamar saya, sebelum saya sakit, dan sesudah saya
sakit (Wong, 2003).
b. Permainan Ilmiah
Pelajari tentang sistem tubuh, sebutkan berdasarkan urutan abjad, buat sebuah
gambar, buat organ dari tanah lempung atau lilin mainan, kumudian memintah anak
untuk mengidentifikasikan bagian sistem tubuh mana yang terlibat dalam masalah
medis. Pelajari tentang nutrisi secara umum dan alasan untuk diet khusus, diskusikan
bagaimana cara kerja obat, traksi dangips, dan bagaimana kesembuhan itu
memerlukan waktu (Wong, 2003).
c. Permainan Metematika
Gunakan materi yang ada pada Rumah sakit untuk mendiskusikan sistem metrik
dan membuat anak semakin familiar dengan berat, panjang, dan voleme badan, Ukur
secara rutin dalam satuan dan obyek rumah sakit yang tepat. Masalah kata rumah
sakit: gunakan situasi rumah sakit (misalnya, jika setiap bekerja 7per shif, berapa
banyak yang kamu perlukan dalam untuk 1 hari?) (Wong, 2003).
d. Permainan Ilmu Sosial
Berapa banyak jumlah pekerjaan yang ada di rumah sakit? Anak yang lebih tua
usianya dapat menjelaskan lebih detail tentang keahlihan dan pendidikan yang
diperlukan untuk pekerjaan-pekerjaan tersebut (Wong, 2003).
e. Permainan riwayat
Teliti sejarah rumah sakit, sejarah cabang ilmu kedokteran, cari tahu lebih banyak
orang terkenal dalam sejarah kedokteran (Hipocrates, Florence Nightingale, Clara
Barton, Roentgen, atau penemuan-penemuan dan kemajuan dalam bidang
kesehatan( penemuan lensa, penemuan obat penecilin) (Wong, 2003).
3. Klasifikasi permainan.
Dari sudut pandang perkembangan, pola permainan anak dapat dikategorikan menurut
isi dan karakter sosial. Keduanya memiliki efek adiktif, masing-masing berbentuk diatas
pencapaian masa lalu, dan beberapa elemen dari masing-masing dipertahankan selama
kehidupan, Pada setiap perkembangan yang baru lebih dominan (Wong, 2003).
a. Isi Permainan
Isi permainan terutama meliputi aspek bermain fisik meskipun hubungan sosial
tidak dapat diabaikan. Isi permainan mengikuti kecenderungan arah dari sederhana ke
kompleks (Wong Dkk, 2008).
1) Permainan sosial-efektif.
Bermain mulai dengan permainan sosial efektif, yang membuat anak merasakan
kesenangan dalam berhubungan dengan orang lain. Bila orang dewasa berbicara,
menyentuh, mencium, dan dalam berbagai cara membuat anak berespon, anak
segera belajar untuk menstimulasi emosi dan respons orang tua dengan perilaku
seperti tersenyum, mengeluarkan suara, memulai permainan dan aktivitas, tipe dan
integritas perilaku orang dewasa terhadap anak beragam pada setiap budaya
(Wong Dkk, 2008).
2) Permainan rasa-senang.
Permainan rasa-senang adalah pengalaman stimulasi nonsosial yang muncul
begitu saja. Obyek dalam lingkungan, sinar dan warna, rasa dan bau, tektur dan
konsistensi-menarik perhatian anak, merangsang indra mereka, dan memberikan
kesenangan bagi mereka. Pengalaman rasa senang berasal dari memegang bahan
mentah (air, pasir dan makanan), gerakkan tubuh (diayun,diangkat, ditimang), dan
dari pengalaman lain yang mengunakan indra dan kemampuan tubuh (mencium
dan bersenandung) (Wong Dkk, 2008).
3) Permainan keterampilan.
Bila anak telah mengembangkan kemampuan untuk menggenggam dan
memanipulasi, mereka secara terus-menerus menunjukkan dan melatih
kemampuan yang baru mereka kuasai melalui keterampilan, yang mengulang
tindakan tersebut berulang-ulang. Elemen dari permainan rasa senang sering
terlihat dalam mempraktikkan kemampuan baru, tetapi terlalu sering, bertekat
untuk berhasil menunjukkan keterampilan sulit yang menimbulkan nyeri dan
frustasi (misalnya belajar untuk mengenderai sepeda) (Wong Dkk, 2008).
4) Perilaku unuccupied.
Pada perilaku onuccupied, anak tidak bermain tetapi menfokuskan perhatian
mereka, secara singkat kepada apapun yang menarik perhatian mereka. Anak
melamun, memainkan pakaian, atau obyek lain, atau berjalan tampa tujuan. Peran
ini berbedah dengan pengamat yang secara aktif memerhatikan aktivitas orang lain
(Wong Dkk, 2008).
5) Permainan dramatik atau pura-pura.
Salah satu elemen vital pada proses identifikasi anak adalah permainan
dramatik, yang juga disebut permaianan simbolik atau pura-pura. Permainan ini
dimulai pada masa bayi akhir dan merupakan bentuk permainan yang dominan
pada anak pada prasekolah. Bila anak mulai memberikan makna pada situasi dan
manusia memberikan makna efektif pada dunia, mereka dapat menghayalkan dan
membayangkan hampir segala hal. Dengan memerankan kejadian hidup sehari-
hari, anak belajar dan mempraktikan peran dan identitas yang dimainkan oleh
anggota keluarga mereka dan masyarakat. Mainan anak replika benda-benda
dimasyarakat, memberikan media untuk anak belajar tentang peran dan aktivitas
orang dewasa yang dapat membingunkan dan menyimbulkan frustasi pada mereka.
Permainan sederhana, imitatif,dramatif pada anak, seperti mengunakan telpon,
mengenderai mobil-mobilan, atau menimang boneka, berkembang menjadi drama
yang semakin kompleks dan bersambung yang dibuat anak prasekolah, yang
meluas dari hal-hal umum di rumah tangga sampai aspek yang lebih luas tentang
dunia dan masyarakat, seperti memainkan peranan polisi, pramuniaga, guru, atau
perawat. Anak yang lebih besar menjalankan tema tertentu, memerankan sebuah
cerita, dan menyusun drama itu sendiri (Wong Dkk, 2008).
6) Permainan game.
Anak disemua budaya terlihat dalam permainan baik sendiri ataupun dengan
anak lain. Aktivitas soliter mencakup permainan yang dimulai ketika anak yang
masi sangat kecil berpartisipasi dalam aktivitas repetitif dan berlanjut ke permainan
yang lebih rumit yang menantang keterampilan mandiri mereka seperti menata
puzzle, bermaian kartu, dan permainan komputer atau video. Anak yang sangat
muda berpartisipasi dalam permainan imitatif sederhana seperti petak umpet.
Anak prasekolah belajar dan menikmati permainan formal yang dimulai dengan
permainan pertahanan diri yang ritual dimainkan seperti permainan ring-a-rosy
and london bridge ( permainan yang didalamnya terdapat aktivitas perebutan kursi
yang jumlahnya semakin di kurangi dan anak yang bermain berjalan mengintari
kumpulan kursi sambil diiringi musik pada periode tertentu dihentikan lalu
dimainkan kembali) Dengan pengecualian permainan papan sederhana, anak
prasekolah tidak terlihat dalam permainan kompetitif. Anak prasekolah tidak suka
kalah dan akan mencoba, atau menuntut, pengecualian dan kesempatan untuk
mengubah cara mereka (Wong Dkk, 2008).
b. Karakter Sosial
Interaksi permainan pada masa anak adalah antara anak dan orang dewasa. Anak
terus menikmati pendamping oleh orang dewasa tetapi semakin mampu bermain
sendiri. Sering pertambahan usia, Interaksi dengan teman seumur semakin penting
dan menjadi esensial dari proses sosialisasi. Melalui interaksi, anak yang sangat
egosentris, tidak dapat menoleransi penundaan atau campur tangan, pada akhirnya
dapat memperhatikan orang lain dan mampu menunda rasa puas atau bahkan menolak
rasa puas yang sangat mengorbankan orang lain sepasang anak terlibat dalam
perseteruan karena kebutuhan pribadi mereka tidak dapat menoleransi penundaan atau
gangguan. Pada saat mereka mencapai usia 5 atau 6 tahun, anak mampu mencapai
kompromi atau menjadi penengah atau perselisihan, biasanya setelah mereka
berusaha tetapi gagal untuk mendapatkan sesuatu dengan cara mereka sendiri. Melalui
interaksi kontinu dengan teman sebaya dan pertumbuhan kemampuan koseptual dan
katerampilan sosial, anak mampu meningkatkan partisipasi dengan orang dalam tipe
permainan (Wong Dkk, 2008).
1) Permainan pengamat
Selama permainan pengamat, anak memperhatikan apa yang dilakukan anak
lain tetapi tidak berusaha untuk tidak terlibat dalam aktivitas bermain tersebut.
Terdapat minat aktif dalam memperhatikan interaksi anak lain tetapi tidak
bergerak untuk berpartisipasi. Memperhatikan kakak menendang bola adalah
contoh umum dari peran pengamat.
2) Permainan tunggal
Selama permainan tunggal, anak bermain sendiri dengan mainan yang berbeda
dengan mainan yang digunakan oleh anak lain di tempak yang sama. Mereka
menikmati adanya anak lain tetapi tidak berusaha untuk mendekati atau berbicara
dengan mereka. Minat mereka dipusatkan pada aktivitas mereka sendiri, mereka
lakukan tampa terkait dengan aktivitas yang lain (Wong Dkk, 2008).
3) Permainan paralel
Selama aktivitas paralel, anak bermain secara mandiri tetapi diantara anak-
anak lain. Mereka bermain dengan mainan yang sama seperti mainan yang
digunakan anak lain disekitar mereka, tetapi ketika anak kompak, mereka tidak
saling mempengaruhi. Masing-masing anak bermain berdampingan, tetapi tidak
bersama-sama. Tidak ada asosiasi kelompok, bermain paralel merupakan ciri
permainan anak, tetapi juga dapat terjadi pada kelompok usia lain. Individu yang
terlibat dalam aktivitas kreatif dengan masing-masing orang secara terpisah
mengerjakan proyek individual termasuk ke dalam permainan paralel.
4) Permainan asosiatif
Pada permainan asosiatif, anak bermain bersama dan mengerjakan aktivitas
serupa atau bahkan sama, tetapi tidak ada organisasi, pembagian kerja, penetapan
kepeminpinan, atau tujuan bersama. Anak meminjam dan meminjami material
permainan, saling mengikuti dengan mengenderai wagon dan sepeda roda tiga,
dan terkadang berupaya untuk mengontrol siapa yang boleh dan tidak boleh
bermain dalam kelompok tersebut. Setiap anak bertindak sesuai dengan
harapannya sendiri; tidak ada tujuan kelompok. Misalnya, dua anak bermain
boneka, saling memimjam pakaian boneka dan melakukan percakapan serupa,
tetapi tidak ada yang mengarahkan tindakkan teman lain atau menetapkan aturan
mengenai batasa sesi permainan. Terdapat pengaruh perilaku yang sangat besar;
ketika satu anak memulai aktivitas, seluruh kelompok mengikuti contohnya
( Wong Dkk, 2008).
5) Permainan kooperatif
Permainan kooperatif (kerja sama) bersifat teratur, dan anak bermain dalam
kelompok dengan anak lain. Mereka mendiskusikan dan merencanakan aktivitas
untuk pencapaian tujuan akhir untuk membuat sesuatu, untuk mencapai tujuan
kompetitif, untuk memerankan situasi kehidupan orang dewasa atau kelompok,
atau memainkan permainan formal. Kelompok ini terbentuk secara rengang,
tetapi terdapat rasa memilki atau tidak memilki yang nyata. Tujuan dan
pencapaianya memerlukan pengorganisasian aktivitas, pembagian kerja, dan
peran bermain. Hubungan peminpin anak buah ditetapkan secara jelas, dan
aktivitas dikontrol oleh satu atau dua anggota yang memerankan peran dan
mengarahkan aktivitas orang lain. Aktivitas diatur untuk memungkinkan satu
anak menambah fungsi anak lain dalam mencapai tujuan ( Wong Dkk, 2008).

4. Fungsi bermain
a. Perkembangan sensorimotor
Aktivitas sensorimotor adalah komponen utama barmain pada semua usia dan
merupakan bentuk dominan permainan pada masa bayi.Permainan aktif penting untuk
perkembangan otok dan bermanfaat untuk melepas kelebihan energi. Melalui
perkembangan sensorimotor, anak menggali sifat dunia fisik. Anak memperoleh kesan
tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka melalui stimulasi taktil, auditorius, visual
dan kinestetik. Todler dan prasekolah sangat menyukai gerakkan tubuh dan
mengeksplorasikan segala sesuatu di ruangan. Dengan meningkatnya maturitas,
permainan sensorimotor, menjadi semakin berbeda. Sementara anak yang masih kecil,
lebih menyukai berlari untuk menggerakkan tubuh, anak yang lebih besar
menggabungkan atau memodifikasi gerakkan menjadi aktivitas yang lebih rumit dan
terkoordinasi, seperti berlomba, melakukan permainan, naik sepeda dan roller skating
(Wong Dkk, 2008).

b. Perkembangan intelektual
Melalui eksplorasi dan manipulasi, anak belajar untuk mengenali warna, bentuk,
ukuran, tekstur dan fungsi obyek-obyek. Mereka mempelajari fungsi angka-angka dan
cara menggunakanya; mereka belajar untuk menghubungkan kata dengan benda dan
mereka mengembangkan pemahaman tentang konsep yang abstrak dan hubungan sosial
seperti puzzle dan permainan membantu mereka mengembangkan kemampuan
menyelesaikan masalah. Buku, cerita film dan koleksi benda dapat memperluas
pengetahuan sekaligus kesenangan. Permainan memberikan sarana untuk
mempraktikkan dan mengembangkan keterampilan berbahasa. Melalui bermain, anak-
anak berkelanjutan mempraktikkan pengalaman yang lalu untuk mengasimilasikan ke
dalam berbagai persepsi dan hubungan yang baru. Bermain membantu anak-anak
memahami dunia tempat mereka tinggal dan membedakan antara fantasi dan kenyataan.
Ketersedian materi permainan dan kualitas keterbatasan orang tua adalah dua
variabel terpenting terkait dengan perkembangan kognitif selama masa bayi dan
prasekolah (Wong Dkk, 2008).
c. Sosialisasi
Sejak masa bayi sampai Prasekolah menunjukkan minat dan kesenangan apabila di
temanin dengan anak lain. Hubungan sosial pertamanya adalah dengan pribadi ibu,
tetapi melalui bermain dengan anak lain, mereka belajar untuk membentuk hubungan
sosial dan menyelesaikan masalah yang terkait dengan hubungan ini. Mereka belajar
untuk saling memberi dan menerima, mereka banyak belajar dari kritikan teman
sebayanya dibandingkan dari orang dewasa. Mereka mempelajari peran seks sesuai
yang diharapkan oleh masyarakat serta mempelajari pola perilaku dan sikap yang
diterima masyarakat. Anak-anak mempelajari yang benar dari yang salah, standar
masyarakat dan bertanggung jawab atas tindakan mereka (Wong Dkk, 2008).
d. Kreativitas
Tidak situasi lain yang lebih memberi kesempatan untuk menjadi kreatif selain
bermain. Anak-anak bereksprimen dan mencoba ide mereka dalam bermain melalui
setiap media yang mereka miliki, termasuk bahan-bahan mentah, fantasi dan eksplorasi.
Kreativitas tertekan oleh tekanan untuk menyamakan; oleh sebab itu usaha keras untuk
dapat diterima oleh teman sebaya mungkin merintangi upaya kreatif anak prasekolah.
Kreativitas terutama merupakan hasil dari aktivitas tunggal, meskipun berpikir kreatif
seringkali ditingkatkan dalam kelompok ketika mendengar ide orang lain yang
merangsang ekplorasi lanjutan dari idenya sendiri. Ketika anak merasakan kepuasan
dari menciptakan sesuatu yang baru berbeda, mereka menstranfer minat kreatif ini ke
situasi di luar dunia bermain (Wong Dkk, 2008).
e. Kesadaran diri
Bermula dari eksplorasi aktif tubuh anak dan kesadaran diri bahwa mereka terpisah
dari ibunya, proses identifikasi diri difasilitasi melalui kegiatan bermain. Anak-anak
belajar mengenali siapa diri mereka dan dimana posisi mereka. Mereka semakin
mampu mengatur tingkah laku mereka sendiri, mempelajari kemampuan diri mereka,
dan membandingkan dengan anak-anak yang lain. Melalui bermain anak-anak mampu
menguji kemampuan mereka, melaksanakan dan mencoba berbagai peran dan
mempelajari dampak perilaku mereka pada orang lain (Wong Dkk, 2008).
f. Manfaat terapeutik.
Bermain bersifat terapeutik pada berbagai usia, bermain memberikan sarana untuk
melepaskan diri dari ketegangan dan stres yang dihadapi di lingkungan. Dalam
bermain, anak dapat mengekspresikan emosi dan melepaskan impuls yang tidak dapat
diterima dalam cara yang dapat diterima dalam masyarakat. Anak-anak mampu
mencoba dan menguji situasi yang menakutkan dan dapat menjalankan peran dan posisi
yang tidak dapat mereka lakukan di dunia nyata. Anak-anak banyak menunjukkan diri
mereka sendiri dalam bermain. Melalui bermain anak-anak mampu mengomunikasikan
kebutuhan, rasa takut, dan keinginan mereka kepada pengamat yang tidak dapat mereka
ekspresikan, karena keterbatasan keterampilan bahasa mereka. Selama bermain, anak
perlu penerimaan dari orang dewasa dan perlu didampingi oleh orang dewasa untuk
membantu mereka mengontrol agresi dan menyalurkan kecenderungan destruktif
mereka (Wong Dkk, 2008).

5. Bermain sebagai terapi


Pada saat dirawat di Rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat
tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih dan nyeri. Perasaan tersebut
merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami oleh anak karena menghadapi beberapa
stresor yang ada di lingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak
akan terlepas dari ketegangan dan stres yang dialaminya karena dengan permainan anak
akan mengalikan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui
kesenangannya melakukan permainan.
Hal tersebut terutama terjadi pada anak yang belum mampu mengekspresikannya
secara verbal. Dengan demikian, permainan adalah media komunikasi antara anak dengan
orang lain, termasuk dengan perawat atau petugas kesehatan di Rumah sakit. Perawat
dapat mengkaji perasaan dan pikiran anak melalui ekspresi nonverbal yang ditunjukkan
selama melakukan permainan atau melalui interaksi yang ditunjukkan anak dengan orang
dan teman kelompok bermainnya (Supartini, 2004).
DAFTAR PUSTAKA

Wong, Dkk.a. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Ed. 6. Vol.1. Jakarta: EGC
Wong, Dkk.b. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Ed. 6. Vol.2. Jakarta: EGC
Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC
Supartini, Y. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC
Wong, D.L. (2003). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Ed. 4. Jakarta: EGC