Anda di halaman 1dari 27

Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

ARSITEKTUR BERKELANJUTAN
(SUSTAINABLE ARCHITECTURE)

SEJARAH
Arsitektur Berkelanjutan (Sustainable Architecture, disingkat SA) adalah
pergerakan arsitek-arsitek dalam rancang bangun pada bidang arsitektur yang
berbasiskan Sustainable Development (disingkat SD). Maksud dari berkelanjutan
itu sendiri ialah memastikan segala sesuatu yang dihasilkan dari dunia arsitektur
tidak berdampak pada kehidupan generasi yang akan datang sebagi bentuk
pendekatan dari kesadaran para arsitek terhadap energi dan konservasi ekologi
dalam mendesain bangunan1, 2.

Ide suistainable development itu sendiri berasal dari akar pemikiran suistainable
forest management yang mana muncul di Eropa sekitar abad 17 s/d abad 18
sebagai respon dari meningkatnya kesadaran akan menipisnya sumberdaya kayu
(hutan) di Inggris3, 4. Kemudian pada tahun 1987 muncul konsep SD yang lebih
moderen oleh Brundtland Commission yang secara formal lebih dikenal sebagai
World Commission on Environment and Development (WCED) yang tertera dalam
dokumen A/42/427 PBB (United Nation, UN)5.

Terminologi sustainable harus dipandang sebagai pencapaian keseimbangan


antara manusia dan ekosistem (homeostatis), sementara itu terminologi SD
adalah pendekatan yang baik secara temporal maupun holistik akan membawa
manusia ke sasaran akhir dari sustainable6.

Namun sampai sekarang SD menjadi bahan perdebatan, seperti pertanyaan, Apa


sebenarnya yang menjadi sustainable dalam SD? Banyak yang berpendapat
bahwa sebenarnya tidak ada bentuk dari penggunaan yang berkelanjutan dari
sumberdaya alam yang tidak terbaharukan dan hal itu ditunjukkan oleh data
aktual peningkatan eksploitasi yang berujung pada menipisnya sumberdaya
alam. Dinyatakan juga bahwa konsep SD justru menjauh dari manajemen
konservasi dan pembangunan ekonomi (economic growth) sehingga dapat
dikatakan WCED tidak mengenalkan apapun kecuali strategi bisnis untuk
economic growth yang tidak melekat kepada substansialnya7.

1
Dublin Institute of Technology Sustainable Architecture and Simulation Modelling", Ken
Beattie Publications, 2001
2
DOERR ARCHITECTURE, Definition of Sustainability and the Impacts of Buildings; Doerr
Publishers 2003
3
Ulrich Grober: Deep roots A conceptual history of "Sustainable Development"
(Nachhaltigkeit), Wissenschaftszentrum Berlin fr Sozialforschung, 2007
4
Understanding Sustainable Development - John Blewitt, 2015
5
http://www.un-documents.net/a42-427.htm
6
Shaker, R.R. The spatial distribution of development in Europe and its underlying
sustainability correlations. Applied Geography, 63, 304-314, ScienceDirect, 2015.
7
Rist, Gilbert, The History of Development, 3rd Ed. p194. New York: Zed, 2008.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 1
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Walaupun begitu, tahun 2015 badan PBB bersama 194 negara berhasil
merumuskan 17 tujuan dan 169 sasaran SD 8. Gambar berikut ini dapat dilihat
logo dari 17 tujuan SD.

Gambar 01. Tujuan Sustainable Development (sumber: wikipedia)

SUSTAINABLE DEVELOPMENT
Sebelum berangkat ke pemahaman Sustainable Architecture (SA) yang lebih
mendalam, ada baiknya mengkaji ruang lingkup Sustainable Development (SD)
dahulu. Ada 3 ruang lingkup kerangka berpikir SD yang diajukan oleh Ren Passet
pada tahun 1979, yaitu: 1. Sosial; 2. Lingkungan hidup; 3. Ekonomi 9; atau 1.
Ekuiti; 2. Ekologi; 3. Ekonomi10 yang kemudian diperluas oleh khayalak dunia
menjadi 4 kerangka berpikir (atau lebih dimaksudkan pengaruh) yaitu
institusi/pemerintah11, 12 dan lain sebagainya. Sebagai contoh diagram yang
dimodifikasi dan diperluas oleh institusi Internasional (PYXERA Global), dapat
dilihat pada Gambar 04.

8
http://www.un.org/ga/search/view_doc.asp?symbol=A/69/L.85&Lang=E
9
Passet, Ren (1979-01-01). L'conomique et le vivant (in French). Payot, 1979.
10
United Nations. Prototype Global Sustainable Development Report (Online unedited
ed.). New York: United Nations Department of Economic and Social Affairs, Division for
Sustainable Development. 2014.
11
James, Paul, Urban Sustainability in Theory and Practice Circle of Sustainability,
Routledge, London & New York, ISBN: 978-1-138-02572-1. 2015
12
Andy Scerri, Paul James, Accounting for sustainability: Combining Qualitative and
Quantitative Research in Developing 'Indicators' of Sustainability. International Journal of
Social Research Methodology Journal, Vol. 13, No. 1, February 2010, p4153.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 2
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Gambar 02. Tiga Pilar Dasar SD-PBB Gambar 03. Tiga Pilar Dasar Modifikasi
(sumber: wikipedia) SD oleh SOGESID13

Gambar 04. Diagram Tujuan Sustainable Development (diperluas)

13
http://www.sogesid.it/english_site/Sustainable_Development.html
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 3
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Gambar 05. Detail Diagram Venn Tiga Pilar SD-PBB 14 (sumber: University of
Windsor)

Diagram-diagram pada gambar 02 sampai dengan 05 adalah sebagai usaha


untuk menstrukturisasi dan memudahkan memahami 17 tujuan dan 169 sasaran
dari SD. Namun pada dasarnya setiap elemen-elemen bahkan yang terkecil
yang terdapat di dalam SD terkait satu sama lainnya yang pada akhirnya
membentuk diagram lingkar15. Selain itu menurut peneliti-peneliti dan institusi
lembaga swadaya bahwa tiga pilar yang diajukan PBB terutama pada irisan
lingkungan hidup dan sosial tidaklah cukup untuk mendefinisikan atau tidak
menjangkau kompleksitas sosial masyarakat kontemporer. Dengan diagram
lingkar bahkan dapat mendefinisikan SD menurut fenomena dari suatu kawasan
atau negara tertentu yang ditunjukkan oleh warna indikator (gambar 06 s/d 11),
mulai dari yang terbaik (vibrant) sampai kritis.

14
Barbier, E. (1987) The Concept of Sustainable Economic Development. Environmental
Conservation 14(2) 101-110.
15
Ibid 11
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 4
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Gambar 06. Diagram Lingkar SA PBB Gambar 07. Diagram Lingkar Afrika
Selatan

Gambar 08. Diagram Lingkar Brazil Gambar 09. Diagram Lingkar India

| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 5
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Gambar 10. Diagram Lingkar Iran Gambar 11. Diagram Lingkar


Indonesia ?

Dasar pemikiran seperti diagram lingkar ini dipakai sebagai acuan dan agenda
berbagai negara didalam mendefinisikan permasalahan SD. Bagaimana pun juga,
semakin kompleks permasalahan membuat alat assessment penilaian SD akan
semakin tidak berguna untuk menilai berbagai domain yang tercakup di
dalamnya16.

Sebagai contoh, pertama, dengan pendekatan Triple Bottom Line (TBL) 17 akan
cenderung menganggap ekonomi sebagai titik fokus utama dengan environment
sebagai komponen eksternalnya. Kedua, dari basis data kuantitatif menunjukkan
keterbatasan solusi terhadap masalah kualitatif yang kompleks. Ketiga, ukuran,
cakupan dan jumlah indikator yang termasuk di dalam metode terlalu banyak
dan tidak masuk akal sehingga tidak dapat diterapkan secara efektif. Keempat,
keterlibatan organisasi, perusahaan, pemerintahan kota dan negara serta
komunitas kurang begitu besar18.

Environmental

16
Liam Magee, Paul James, Andy Scerri, Measuring Social Sustainability: A Community-
Centred Approach, Applied Research in the Quality of Life, vol. 7, no. 3., 2012, pp. 239
61.
17
Freer Spreckley: A Management Tool for Co-operative Working. WorkAid Beechwood
College, 1981:
Triple Bottomline (TBL) adalah alat penilaian SD yang didefinisikan oleh PBB
Brundtland pada tahun 1987. Tools ini dapat memperluas kerangka pelaporan untuk
mempertimbangkan kinerja sosial dan lingkungan disamping kinerja keuangan,
bahwa perusahaan harus dapat mengukur dan melaporkan kinerja keuangan, peran
terhadap kesejahteraan masyarakat, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
18
Liam Magee, Andy Scerri, Paul James, Lin Padgham, James Thom, Hepu Deng, Sarah
Hickmott, and Felicity Cahill, Reframing Sustainability Reporting: Towards an Engaged
Approach, Environment, Development and Sustainability, vol. 15, no. 1, 2013, pp. 225
43.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 6
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Kestabilan ekologis permukiman manusia adalah bagian dari hubungan antara


manusia dan lingkungan alami atau sosial dan lingkungannya 19, dapat juga
disebut human ecology, memperluas fokus pembangunan berkelanjutan dengan
memasukkan domain kesehatan manusia. Kebutuhan dasar manusia seperti
udara, air, makanan dan tempat berlindung (ketersediaan dan kualitas)
merupakan pondasi ekologi SD20 dan menangani risiko kesehatan masyarakat
melalui investasi layanan ekosistem dapat juga menjadi kekuatan yang kuat dan
transformatif serta mencakup semua spesies 21. Dimana konstruksi atau
pembangunan perumahan berkaitan erat antara ketersediaan material alam dan
kebutuhan energi dengan lingkungan hidup (flora dan fauna).

Pertambahan luas lahan perkebunan dan pertanian (agriculture) serta


pemukiman akan menggeser habitat semakin ke dalam hutan yang tinggal
sedikit. Pada akhirnya batas habitat itu akan tumpang tindih dengan lingkungan
manusia sehingga akan berdampak kepunahan massal spesies yang lainnya.

Jika manusia termasuk fauna seperti yang diutarakan Charles Darwin, maka
sebaiknya mempertimbangkan pertumbuhan jumlah penduduk dengan kualitas
lingkungan hidup yang lainnya. Ini seperti tingkat perbandingan yang ideal
antara jumlah manusia dengan spesies-spesies yang lainnya. Pengendalian
jumlah penduduk pernah diterapkan oleh pemerintah Indonesia (Program
Keluarga Berencana, KB) dan sampai sekarang masih diterapkan oleh pemerintah
negara China (1 anak), namun tidaklah jelas bagaimana tingkatan pemahaman
masyarakat terhadap program ini. Domain ini mungkin lebih banyak dibahas
dalam pilar SD yang lainnya terutama social & culture.

Tabel 01. Hubungan sumberdaya alam tidak terbarukan dengan keseimbangan


alam
(sumber: wikipedia)

Dari deskripsi di atas dapat dilihat bahwa pilar environmental memiliki domain-
domain pembahasan dan keterkaitan, yaitu:

1. Material dan energi


2. Air dan udara
3. Flora dan fauna
4. Habitat dan tanah
5. Tempat dan ruang
6. Konstruksi dan permukiman
7. Emisi dan limbah

19
Ibid 12, p41 53.
20
White, F; Stallones, L; Last, JM. Global Public Health: Ecological Foundations. Oxford
University Press 2013. ISBN 978-0-19-975190-7.
21
iisd Annual Report 20112012. Solutions for Improved Human Well-Being.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 7
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Ekonomi

Pada Gambar 06 Diagram Lingkar SD, terlihat domain pembahasan dan


pemikiran sebagai indikator pilar ini adalah sebagai berikut:

1. Produksi dan sumberdaya


2. Pertukaran dan transfer (ekspor-impor)
3. Akunting dan regulasi
4. Konsumsi dan penggunaan
5. Pekerja dan kesejahteraan
6. Teknologi dan infrastruktur
7. Kekayaan dan distribusi/pemerataan

Kemiskinan dan eksploitasi alam yang berlebihan mendudukkan posisi


sumberdaya alam sebagai aset penting dalam ekonomi (natural capital)22. SD
mungkin terlibat dalam peningkatan kualitas hidup banyak orang namun perlu
menurunkan kebutuhan akan sumberdaya23 yang tidak terbaharukan namun
tetap menganggap penting terhadap sumberdaya yang terbarukan seperti kayu
dari hutan.

Pada awal 1970-an, konsep SD digunakan untuk menggambarkan sebuah


ekonomi dalam keseimbangan dengan sistem pendukung ekologi dasar 24. Para
ilmuwan dari berbagai cabang ilmu pengetahuan telah menggaris-bawahi The
Limits to Growth25 dan para ekonom memberikan alternatif terhadap
permasalahan pertambahan pembangunan oleh manusia dalam konsep steady-
state economy26. Dalam penelitiannya pada tahun 1987, Edward Barbier
menyusun konsep keberlanjutan dalam pembangunan ekonomi (The Concept of
Sustainable Economic Development), dimana ia mendapatkan bahwa konservasi
lingkungan hidup tidak bertentangan dengan ekonomi bahkan dapat memperkuat
satu sama lain27.

Pada penelitian yang dilakukan oleh World Bank pada tahun 1999 menyimpulkan
bahwa pembuat kebijakan dapat mempengaruhi dan melakukan intervensi untuk
meningkatkan SD dalam konteks makro dan mikro ekonomi 28. Dan banyak lagi
penelitian-penelitian yang menunjukkan hubungan positif pilar ekonomi dengan
domain yang lain dalam SD.

22
Barbier, Edward B. Natural Resources and Economic Development. Cambridge
University Press. pp. 4445. ISBN 9780521706513. 2006.
23
Brown, L. R. World on the Edge. Earth Policy Institute. Norton. ISBN 978-0-393-08029-2.
2011
24
Stivers, R. The Sustainable Society: Ethics and Economic Growth. Philadelphia:
Westminster Press. 1976.
25
Meadows, D.H.; Randers, Jrgen; Meadows, D.L. Limits to Growth: The 30-Year Update
(from 1972). Chelsea Green Publishing. ISBN 978-1-931498-58-6. 2004.
26
Daly, Herman E. Steady-state economics (2nd ed.). London: Earthscan Publications.
1992.
27
Barbier, E. "The Concept of Sustainable Economic Development". Environmental
Conservation. 14 (2): 101110. 1987.
28
Hamilton, K.; Clemens, M. "Genuine savings rates in developing countries". World Bank
Economy Review. 13 (2): 333356. 1999.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 8
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Namun menurut Gilbert Rist, penelitian-penelitian tersebut hanyalah topeng dari


tujuan keuntungan semata dan menunjukkan yang sebenarnya berlanjut
(sustain) adalah pembangunan itu sendiri, tidak ada toleransi terhadap ekosistem
dan sosial masyarakat29.

Sumberdaya alam terutama yang tidak terbarukan semakin menipis, sehingga


para ilmuwan mencari pemecahan untuk mendapatkan sumberdaya yang tidak
ada habisnya. Tetapi untuk mendapatkan bahan material yang dibutuhkan tetap
saja didapatkan dari alam. Namun tidak untuk kebutuhan energi, berbagai
penemuan dan penerapan telah tersedia untuk mendapatkan energi terutama
listrik dari sumberdaya yang tiada habisnya. Seperti yang disajikan pada gambar
berikut ini:

Gambar 12. Wind Powerplant Gambar 13. Pengolahan limbah


dengan sumber energi dari sinar
matahari - Spanyol

Politik

Pada pembahasan sebelumnya, telah menunjukkan bahwa pembuat kebijakan


dapat mempengaruhi SD30 dan erat kaitannya dengan politik suatu negara 31, oleh
karena itu International Institute for Sustainable Development (disingkat: iisd)
telah menyusun kerangka berpikir untuk konsumsi domain ini. Badan dunia PBB
Global Impact telah merumuskan 7 sub-domain dari domain politik, yaitu 32:

1. Organisasi dan kepemerintahan


2. Hukum dan keadilan
3. Komunikasi dan kritik
4. Representasi dan negosiasi
5. Keamanan dan kebijakan
6. Dialog dan rekonsiliasi
7. Etika dan akuntabilitas

29
The History of Development, 3rd Ed. p194. New York: Zed, 2008.
30
Ibid 28
31
Paul-Marie Boulanger. "Sustainable development indicators: a scientific challenge, a
democratic issue. ''S.A.P.I.EN.S.'' (1)". Sapiens.revues.org. 2008.
32
Ibid 18
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 9
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Budaya

Beberapa peneliti dan institusi Internasional telah menunjukkan bahwa dimensi


keempat harus ditambahkan pada dimensi pembangunan berkelanjutan, karena
dimensi triple-bottom-line ekonomi, lingkungan dan sosial tampaknya tidak cukup
untuk mencerminkan kompleksitas masyarakat kontemporer. Dalam konteks ini,
United Cities and Local Governments (UCLG) memimpin penyusunan pernyataan
kebijakan " Culture: Fourth Pillar of Sustainable Development", yang disahkan
pada tanggal 17 November 2010, dalam kerangka KTT Dunia Pemimpin Daerah
dan Regional pada Kongres Dunia UCLG ke-3, diselenggarakan di Mexico City.
Dokumen ini meresmikan sebuah perspektif baru dan menunjuk pada hubungan
antara budaya dan pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan ganda:
mengembangkan kebijakan budaya yang solid dan menganjurkan dimensi
budaya dalam semua kebijakan publik. Pendekatan Circles of Sustainability
membedakan empat domain keberlanjutan ekonomi, ekologi, politik dan
budaya33.

Penambahan domain keempat ini didukung oleh organisasi European Union (EU)
The Network of Excellence "Sustainable Development in a Diverse World",
terintegrasi dalam multidisiplin dan menafsirkan keragaman budaya sebagai
elemen kunci dari strategi baru SD. Dan juga Pendekatan Circles of Sustainability
mendefinisikan domain budaya (keempat) sebagai praktik, wacana, dan
ungkapan material, yang, seiring berjalannya waktu, mengungkapkan kontinuitas
dan diskontinuitas dalam makna sosial34.

Pilar keempat dari SD ini menjadi rujukan oleh Direktur Eksekutif International
Multimedia Institute (IMI), Vito Di Bari, dalam mengenalkan manifesto gerakan
seni dan arsitektur Neo-Futurism yang terinspirasi dari dokumen laporan PBB
tahun 1987 Our Common Future pada pertemuan dan penandatanganan
perjanjian UNESCO dengan Kota Milan35.

SUSTAINABLE ARCHITECTURE (SA)


SA adalah pergerakan arsitektur yang berusaha meminimalkan dampak
lingkungan negatif bangunan dengan efisiensi dan moderasi dalam penggunaan
material, energi, dan ruang pengembangan serta ekosistem secara luas. SA
menggunakan pendekatan kesadaran terhadap konservasi energi dan ekologi
dalam perancangan lingkungan binaan 36. Gagasan tentang sustainability, atau

33
James, Paul. Assessing Cultural Sustainability. Culture 21 Agenda 21 for Culture. UCLG
2004-2014.
34
Ibid 18
35
Dokumen UNESCO: https://atom.archives.unesco.org/agreement-between-unesco-and-
city-of-milan-concerning-international-multimedia-institute-imi-2;isad
36
Sustainable Architecture and Simulation Modelling", Dublin Institute of Technology.
(Updated06/05/2017: 404 Error)
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 10
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

desain yang ekologis, adalah memastikan bahwa tindakan dan keputusan kita
saat ini tidak menghambat peluang generasi mendatang 37.

Dalam SA, pergerakan baru-baru ini dari New Urbanism dan New Classical
Architecture mendorong pendekatan berkelanjutan terhadap pembangunan,
yang menghargai dan mengembangkan pertumbuhan yang cerdas, desain
arsitektur tradisional dan klasik38, 39. Namun dalam website-nya justru
menyatakan bahwa tidak ada alternatif bagi arsitektur tradisional 40 jika serius
mempertimbangkan SD. Bisa dibayangkan, bagaimana bisa mempertahankan
lahan horizontal bagi perumahan tradisional yang mengambil lahan luas jika
pertumbuhan penduduk dan peningkatan kebutuhan tidak dibatasi, walapun
konsep tradisional itu sendiri menawarkan keselarasan dengan lingkungan hidup
(kearifan lokal).

Ini berbeda dengan Arsitektur Modern dan International Style, yang menentang
perumahan horizontal ke daerah pinggiran kota, dengan jarak tempuh yang jauh
dan jejak sejarah ekologis yang bernilai tinggi 41 (kearifan lokal atau local wisdom).
Kedua trend tersebut dimulai pada 1980-an. Perlu dicatat bahwa SA sebagian
besar berkaitan dengan domain ekonomi sementara lansekap arsitektural lebih
berkaitan dengan wilayah ekologis.

Tidak didapati kajian mendalam tentang SA sekarang ini karena isu SD sendiri
cenderung baru di dunia Internasional. Namun kesadaran arsitek perencana
sudah mulai ada terutama di Indonesia, walapun ada beberapa kajian tentang SA
yang menjadi rujukan sudah tidak ada lagi di website Internasional42, 43.

Struktur fisik terkait dengan konteks arsitektur dan urban adalah kota,
lingkungan land use (termasuk perumahan) dan bangunan. Namun biasanya
studi SA yang dilakukan lebih banyak kepada domain-domain SD non-social
culture, yaitu penggunaan energi dan bahan bangunan yang berkelanjutan.

Penggunaan Energi Berkelanjutan

Efisiensi energi merupakan tujuan terpenting SA sepanjang penggunaan


bangunan. Para arsitek menggunakan banyak teknik pasif dan aktif untuk
mengurangi kebutuhan energi dan meningkatkan kemampuan di dalam
menghasilkan energi sendiri44.
37
Doerr Architecture, Definition of Sustainability and the Impacts of Buildings. (Updated
06/05/2017: 404 Error)
38
http://www.cnu.org/charter
39
http://www.traditionalarchitecture.co.uk/aims.html
40
http://www.traditionalarchitecture.co.uk/environment.html:
If we are serious about conserving world resources for future generations in the way
we build there is no alternative to traditional architecture.
41
www.aiahonolulu.org/resource/resmgr/imported/6_Transit_AIA%20TOD%20Draft
%20statement.pdf
42
Ibid 36
43
Ibid 37
44
M. DeKay & G.Z. Brown, Sun Wind & Light, Architectural Design Strategies, 3rd ed.
Wiley, 2014
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 11
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Banyak metode pasif yang telah digunakan seperti pengaturan kamar, besar dan
orientasi, tinggi bangunan sampai perbandingannya dengan lebar jalan.

Untuk pengkondisian udara pasif, adalah dengan menggunakan sistem Heating


yang cost-effective (CEA)45, Ventilating dan Air Conditioning (HVAC) yang berjalan
dengan baik. Terlindung/tertutup namun tidak menghasilkan panas yang
berlebihan dan sedikit membutuhkan energi serta memiliki ventilasi yang cukup
untuk mengeluarkan polusi ruang dalam.

Gambar 14. Passive House Diagram

Sebuah bangunan tentu akan mengeluarkan panas dalam bentuk air, udara dan
limbah organik. Dengan teknologi daur ulang mandiri, energi itu dapat ditangkap
kembali dan ditransfer ke air dan udara segar. Untuk limbah organik, telah
banyak sekali sistem yang dapat dibangun sendiri untuk menghasilkan panas
(lihat Gambar 13). Untuk sebuah sistem yang lengkap mengenai hal ini dapat
dilihat diagramnya pada Gambar 14.

Desain sistem pasif yang menangkap energi dari cahaya matahari dapat
dibentuk tanpa menggunakan sel surya (photovoltaic cell). Biasanya dengan
menggunakan material yang tingkat penyerapan panasnya tinggi, dapat
menahan panas dan menggunakan bahan insulasi yang mencegah panas keluar.

Sementar itu air bersih bisa didapatkan dengan membuat tampungan air hujan
dan sistem suling yang sedikit membutuhkan energi listrik atau bisa juga dengan
energi panas cahaya matahari (penguapan).

45
Bleichrodt H, Quiggin J. "Life-cycle preferences over consumption and health: when is
cost-effectiveness analysis equivalent to cost-benefit analysis?". J Health Econ. 18 (6):
p681708. 1999.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 12
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Gambar 15. Sustainable Apartment di Gambar 16. Saltbox American


Windsor, Victoria Australia oleh Colonial Building, Thomas
DesignInc (2006) Hawley, Connecticut (1755)

Bangunan yang tanggap terhadap cuaca panas terik saat kemarau dapat
dirancang dengan menggunakan awning, blinds atau tirai cahaya. Selain itu
bangunan tersebut harus memiliki luas permukaan horizontal yang sedikit untuk
meminimalkan kehilangan panas. Contoh yang baik dapat dilihat pada bangunan
Kolonial Amerika (saltbox)46 untuk bangunan skala kecil.

Penataan perletakan pohon di depan jendela sebagai filter cahaya. Jika musim
panas maka pohon-pohon akan berdaun lebat yang akan menapis cahaya
berlebih, dan sebaliknya pada musim dingin (setelah musim gugur).

Pada wilayah bumi khatulistiwa yang beriklim panas (warm climate)


pengkondisian udara menjadi perhatian khusus. Penggunaan bahan bangunan
batu dan permukaan bangunan yang lebar akan sangat berguna terhadap
pelepasan panas pada malam hari. Bangunan di desain sedemikian rupa untuk
dapat menangkap angin dan mengalirkannya ke berbagai ruangan. Contoh yang
sangat baik dapat dilihat pada bangunan-bangunan tradisional (local wisdom)
dan beberapa pada bangunan transformatifnya dengan arsitektur barat
(kolonial).

Sistem pengkondisian udara yang digerakkan oleh motor dapat menggunakan


tembaga sebagai konduktor panasnya dan sepertinya lebih efisien daripada
metal lainnya. Sampai sekarang material tembaga masih digunakan dalam
sistem elektrikal bangunan dan dinyatakan (untuk sementara) sustainable baik
terhadap lingkungan (dapat didaur ulang dan ketersediaan cukup banyak).

Di lokasi bumi bagian utara, bukaan jendela pada selatan bangunan dapat dibuat
lebih besar, dan juga sebaliknya di lokasi bumi bagian selatan. Tujuannya adalah
mendapatkan cukup banyak cahaya tidak langsung. Penggunaan material kaca
juga dapat diterapkan dengan double atau triple yang ruang antara kaca diisi gas
emisi rendah (low-E)47 sebagai insulasinya sehingga mengurangi radiasi sampai
45%48.

46
National Park Service. "National Register Information System". National Register of
Historic Places. National Park Service. 2009.
47
Wilson, Alex (March 22, 2012). "The Revolution in Window Performance Part 1".
Green Building Advisor.
48
Jester, Thomas C., ed. (2014). Twentieth-Century Building Materials: History and
Conservation. Getty Publications. p. 273. ISBN 9781606063255.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 13
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Gambar 17, 18, 19. Sistem Jendela Low-E

Pengadaan sumber energi yang terbaharukan telah ditemukan pada beberapa


alternatif sistem, antara lain:

1. Solar Panel
Penggunaan sistem ini secara maksimal bisa diterapkan pada lokasi bumi
antara Latitude +15 dan -15. Namun dalam prakteknya dan telah di
studi analisis ekonomi, efektifitas menangkap panas berpengaruh besar
terhadap payback period dari investasi yang telah dibuat49.
2. Wind Turbine
Dalam penggunaan skala besar, biaya konstruksi wajib untuk dianalisis
lebih lanjut. Namun dalam skala kecil biaya maintenance akan menjadi
pertimbangan menggunakan sistem ini atau tidak 50.
3. Solar Water Heating
Dapat digunakan pada bangunan dan rumah pribadi namun dibutuhkan
biaya yang tinggi untuk instalasi awal. Namun dalam perhitungan
beberapa tahun ke depan, terkait dengan jumlah energi yang dapat
dihemat, maka payback period-nya akan menjadi lebih cepat51.

4. Heat Pumps
49
Shamilton. "Module Pricing". Solarbuzz. IHS Markit Analysis. 2012.
50
Brower, Michael; Cool Energy, The Renewable Solution to Global Warming; Union of
Concerned Scientists, 1990
51
John Randolph and Gilbert M. Masters, 2008. "Energy for Sustainability: Technology,
Planning, Policy," Island Press, Washington, DC.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 14
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Air-Source Heat Pumps (ASHP) hampir mirip dengan reversible AC. Seperti
AC, ASHP dapat mengambil panas dari suhu udara dingin relatif ruangan
dan membuangnya ke ruangan yang panas. Namun tidak seperti AC,
condenser dan evaporater ASHP dapat dibuat menyerap panas dari ruang
luar yang dingin dan mengalihkannya ke ruang dalam yang hangat. Walau
pun begitu, sistem ini hanya efisien pada daerah dengan iklim sedang.

Gambar 20. Solar Panel Gambar 21. Wind Turbine

Gambar 22. Solar Water Heating Gambar 23. SWH System


(SWH)

Gambar 24. Air-Source Heat Pump Gambar 25. ASHP System

| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 15
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

(ASHP)

Bahan Bangunan Berkelanjutan

Pada prinsipnya hampir semua material di bumi ini dapat dijadikan bahan
bangunan. Banyak contoh yang berkelanjutan, mulai dari yang tersedia di alam
sampai teknologi hasil penelitian, contohnya: serpihan isolator fiber glass, serbuk
kayu gergaji, trass (abu gunung berapi), wol domba, beton UHPC dan self-
healing52, bambu dan sebagainya.

Terdapat 3 konsep dasar dalam mempertimbangan penggunaan bahan bangunan


yang sesuai dengan konsep SD pada SA, yaitu:

1. Bahan bangunan dari daur ulang


Tujuan pendauran ulang adalah untuk mengurangi pemakaian bahan baru
dan dapat diperoleh dari apa saja yang telah dipakai manusia bahkan dari
bangunan yang dihancurkan. Pada bangunan Tiara Convention Center
Medan yang berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan, kontraktor
dengan sangat berhati-hati membongkar lantai granit lama untuk
digunakan kembali.

Gambar 26. Pasangan dinding dengan Gambar 27. Kuil Buddha yang
botol plastik minuman bekas. Desa memakai bahan bangunan
Yelwa - Nigeria dari botol kaca bekas

2. Bahan yang tidak mengandung cairan yang mudah menguap


Bahan bangunan daur ulang sebaiknya tidak mengandung zat berbahaya
dan yang mudah menguap atau terbawa oleh udara. Bahan bangunan ini
biasanya dipakai pada bangunan yang berkategori low-impact atau yang
mengandung Volatile Organic Compound rendah. Sebaiknya menghindari
pemakaian bahan bangunan yang mengandung zat carcinogenic dan racun
contohnya formaldehyde yang mudah menguap dan terbawa angin 53.

3. Standarisasi Bahan Bangunan yang Berkelanjutan


Produksi dan pemakaian bahan bangunan daur ulang atau pun tidak
sebaiknya mengikuti standar yang telah ditetapkan dalam suatu negara

52
M Jonkers, Henk. Self Healing Material: as Alternatif Approach to 20th Centuries of
Material Science. Delfi University of Technology . Springer 2007. ISBN: 978-1-4020-6249-0
53
http://www.buildingecology.com/sustainability/building-materials/
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 16
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

atau pun mengikuti standar Internasional seperti Leadership in Energy and


Environmental Design (LEED). Pada lembaga itu telah banyak mendapat
proposal-proposal bahan bangunan dari berbagai belahan dunia untuk
mendapatkan sertifikasi54.

Manajemen Limbah

Kuncinya adalah bagaimana untuk mengubah mainset arsitek dan kontraktor


untuk menggunakan kembali apa yang telah dipakai manusia terutama yang
mudah ditemukan atau terkumpul banyak. Seringkali kita mendapat ide dari
sesuatu bahan yang telah dipakai untuk dapat digunakan kembali, namun tidak
dijumpai dimana-mana selain di tempat akhir pembuangan sampah dan sampai
ada perusahaan ataupun pribadi yang mengubahnya menjadi bahan bangunan
yang kemudian digunakan arsitek dan kontraktor bahkan ia tidak mengetahui
material itu berasal dari bahan daur ulang sepatunya, misalkan.

Sungguh ironi sekali jika suatu kota tidak dapat menyelesaikan masalah
persampahan sehingga mencemari lingkungan selain daripada permasalahan
pengangkutan ke tempat pembuangan akhir. Pengelolaan limbah yang baik
adalah dengan menggolongkannya menjadi beberapa jenis limbah dan
mengkelompokkannya/mengumpulkan berdasarkan bahan yang sejenis sehingga
dapat diolah dan dibentuk menjadi bahan bangunan.

Gambar 28 & 29. Pemisahan Limbah

Perletakan Bangunan/Lahan dalam Konteks Urban

Perletakan bangunan pada lahan menjadi pertimbangan penting untuk


merencanakannya sesuai dengan prinsip berkelanjutan. Bagaimana
mempertimbangkan perletakan bangunan terhadap posisi jalan masuk dan keluar
site serta fungsi yang tidak mengganggu dan dapat menyebabkan kemacetan.
Kemacetan akan menyumbang polusi udara dan suara yang terkonsentrasi.

Melihat situasi dan keadaan Indonesia khususnya di kota-kota besar, kemacetan


menjadi salah satu masalah utama. Arsitek yang menganut prinsip sustainable
biasanya memikirkan dampak fasilitas atau fungsi dari bangunan jika dibangun
pada suatu tempat di kota. Penempatan yang tidak sesuai zoning kota dengan
54
J. Contreras, M. Lewis, H. Roth, "Toward a Rational Framework for Sustainable Building
Materials Standards", Standards Engineering, Vol. 63, No. 5, p. 1, September/October
2011
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 17
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

perubahan fungsi lahan seringkali menyebabkan permasalahan bagi kota itu


sendiri. Jika pun dengan ketiadaan lahan sebagai alasan maka sebaiknya arsitek
melakukan studi yang komprehensif dalam memecahkan masalah dari fungsi
yang timbul dikemudian hari55.

Kemacetan juga berdampak pada konsumsi BBM yang berlebihan dan tidak
efisien. Jika nilai pemakaian BBM akibat kemacetan itu dihitung maka akan
melebihi nilai daripada membangun jalan layang pun moda transportasi yang lain
seperti MRT. Belum lagi kerugian yang timbul akibat pencemaran udara.

Pergerakan Arsitektur Indonesia dalam Menanggapi SD dan SA

Geliat Arsitektur Indonesia dalam menanggapi SD dengan mengusung Green


Architecture atau Eco-Architecture sebagai nama lain dari SA, dimulai pada tahun
1980an dengan angkatan pertama yaitu Y.B. Mangun Wijaya, Heinz Frick dan Eko
Prawoto. Sementara angakatan kedua pada tahun 1990an antara lain: Jimmy
Priatman, Ridwan Kamil, Budi Faisal, Andry Widyowijatnoko dan lain-lain.

Menurut Mclennan56, Desain berkelanjutan sering digunakan sebagai payung


untuk menggambarkan satu strategi, komponen dan teknologi dalam
mengurangi lingkungan sekaligus meningkatkan kenyamanan dan kualitas
secara keseluruhan. Kategori ini termasuk di dalamnya tetapi tidak hanya
sebatas ini:

daylighting
indoor air quality
passive solar heating
natural ventilation
energi efficiency
embodied energi
construction waste minimization
water conservation
commissioning
solid waste management
renewable energi
xeriscaping/natural landscaping
site preservation

Lembaga International Union of Architect (IUA) yang beranggotakan satu juta


arsitek dari 124 negara telah menyusun butir-butir desain SA:

1. Sustainable by design
2. Full life cycle analysis and management
3. Renewal energy
4. Local wisdom
5. Healthy material
55
Building, Planning and Massing, Green Building Platinum Series. Building and
Construction Authority of Singapore. 2010.
56
Mclennan, "The Philosophy of Sustainable Design", Ecotone LLC, Missouri. p.08. 2004.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 18
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

6. Reduce carbon imprint


7. Educating
8. Fenomenologi creativity

Pada poin 1 Sustainable Desain UIA menyarankan komitmen seluruh pihak yaitu:
klien, arsitek, insinyur, pemerintah, kontraktor, pengguna dan komunitas bahkan
feasibility analyst, terlibat dalam usaha penerapan SA. Namun kesempatan yang
ada di Indonesia lebih cenderung ke arah utopia. Hal ini karena mengharapkan
keterlibatan yang serius dari mereka justru akan menambah biaya desain dalam
skala kecil yaitu pengguna konvensional.

Selain itu dalam hal pengadaan energi yang terbarukan (poin 3) hanya bisa
diterapkan pada skala besar pada skala dan konteks kota baru dengan jumlah
penduduk yang besar sebagai konsumernya walau pun dalam perhitungan
analisisnya cenderung lebih mahal daripada pembangkit konvensional (diesel)57.
Sementara itu menurut analisis IRENA, bahkan harga instalasi wind powerplant di
laut lebih mahal 50% daripada di daratan 58.

Misalnya, penerapan pengadaan energi yang terbarukan seperti wind electricity


dan solar panel hanya dapat dilakukan pada perencanaan dan pembangunan
kota baru. Dalam skala kecil walaupun lingkup perumahan, biaya yang
dibutuhkan untuk itu akan menjadi relatif lebih mahal daripada generator set
konvensional dan berimpak kepada harga rumah yang akan dijual. Perbandingan
harga tentunya dapat dilihat semua orang di Alibaba.com.

Tidak banyak bangunan-bangunan skala besar yang berada di kota-kota besar


diakui sebagai bangunan yang berkelanjutan, diantaranya adalah Wisma
Dharmala Jakarta dan Perpustakaan Pusat Jakarta.

Wisma Dharmala Jakarta yang dirancang oleh Paul Rudolf ditabalkan sebagai
bangunan sustainable terbaik yang mengadopsi kearifan lokal bangunan-
bangunan tradisional terutama dalam mengatasi curah hujan, cahaya dan
penghawaan. Gedung ini juga dinyatakan sebagai antitesis dari penggunaan AC
disetiap bangunan tinggi yang ada di Jakarta 59.

57
Lazards Levelized Cost of Energy Analyst, September 2014.
58
IRENA, Renewable Energy Technologies: Cost Analysis Series. Volume 1: Power Sector
Issue 5/5, Wind Power. June 2012.
59
Naning S. Adiningsih Adiwoso, Prasetyoadi, Savitra Perdana. Towards Indonesia
Sustainable Future through
Sustainable Building and Construction. Green Building Council Indonesia (GBCI)
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 19
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Gambar 30 & 31. Sketsa Wisma Dharmala oleh Paul Rudolf, 2008

Sementara itu, Perpustakaan Pusat Jakarta yang dirancang oleh Budiman


Hendropurnomo, memiliki luas gedung 30.000 m 2 berdiri pada lahan dengan luas
2,5 Ha juga dikategorikan sebagai bangunan sustainable yang baik oleh GBCI.

Perpustakaan ini dibangun dengan struktur yang anti gempa dan mendukung
konsep sustainable yaitu solar panel. Bagunan ini juga menggunakan bahan
bangunan dari dalam negeri yang didatangkan dari Cianjur, marmer sebagai
pelapis dinding dan lantainya. Seluruh jendela bangunan ini menggunakan
double glass glazed untuk mengantipasi radiasi panas dari cahaya matahari.
Tidak itu saja, bahkan memiliki pengolahan limbah sendiri. Perletakan bangunan
jauh dari jalan raya dan memiliki akses terbatas terhadap kenderaan bermotor
sehingga tidak terkena polusi udara dan suara.

Gambar 31, 32 & 33. Perpustakaan Pusat Jakarta.

Kearifan Local dan SA

Sebagaimana yang dikatakan Mclennan60 bahwa Dalam gerakan desain yang


berkelanjutan saat ini, mungkin orang mengidealkan desain dan inovasi
arsitektur vernakular yang dapat ditemukan dalam budaya kuno di seluruh

60
Mclennan, "The Philosophy of Sustainable Design", Ecotone LLC, Missouri. p.12. 2004.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 20
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

dunia. memposisikan arsitektur tradisional vernakular sebagai khasanah


berharga dalam SA.

Namun dalam pendapat yang lain menyatakan bahwa arsitektur tradisional


(vernacular) tidak dapat menerapkan SA karena membutuhkan resource dan
settlement yang banyak61. Oleh karena itu, penggalian makna vernakular
haruslah kepada prinsip-prinsip desain (nilai fungsi kearifan lokal) yang dapat
dimunculkan dan dipakai kembali dalam tatanan sosial masyarakat moderen saat
ini.

Kearifan lokal adalah sebagai bagian dari budaya yang merupakan domain
pembahasan dalam SA. Dalam penelitiannya, Mohammed Nawawiy menyatakan
bahwa transformasi arsitektur pada budaya batak persepsinya cenderung
mengarah kepada kepemilikan tanah dan ini tidak dimiliki pada rumah susun
ataupun apartemen62 namun disisi yang lain rumah tradisional batak adalah
suatu bentuk rumah yang compact dapat menampung 6 keluarga di dalamnya.
Sementara itu perusahaan PT. Summarecon telah menawarkan suatu kota
mandiri dengan konsep local wisdom yang menunjukkan situasi kota yang
compact lengkap dengan apartemen dan rumah susun.

Rumah tradisional Batak memperlihatkan bahwa dalam satu rumah adat terdapat
enam keluarga, di sini bisa saja orang menduga bahwa kearifan lokal mengarah
kepada efisiensi penggunaan lahan (salah satu elemen SA) yang cukup efektif
daripada satu keluarga untuk satu lahan rumah. Namun jika dikaitkan dengan
rumah susun atau pun apartemen dengan konsep satu bangunan 6 keluarga bisa
jadi tidak dapat diterapkan dengan keadaan sosial masyarakat tradisional batak.

Local wisdom yang ditawarkan sepertinya berupa penataan beberapa fasilitas


yang menyatu dengan alam dengan bentukan-bentukan tradisional dan kegiatan-
kegiatan sosial tradisional yang mungkin dapat dipertahankan. Slogannya adalah,
Think Global, Act Local63, masih perlu dikaji lagi apakah perusahaan itu benar-
benar telah menerapkan konsep local wisdom atau tidak. Ataukah hanya bagian
dari strategi pemasaran saja.

61
Ibid 40
62
Nawawiy, Mohammed. Transformation of Batak Toba Architecture ???
63
http://www.summareconbandung.com/do/local-wisdom
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 21
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Gambar 34. Summarecon Bandung. Gambar 35. CitraGran Cibubur.

Kemudian, Gunawan Tanuwidjaja, dalam tulisannya menyampaikan bahwa


perumahan CitraGran Cibubur belumlah menerapkan konsep Greeen
Architecture akibat salah persepsi tentang konsep SA64.

Local Wisdom pada umumnya lebih bersifat culture keyakinan daripada cuture
fungsi guna. Namun dalam pelbagai penelitian seperti yang telah dilakukan
menunjukkan nilai-nilai fungsi sustainable yang tinggi secara eksplisit oleh Heinz
Frick dan secara implisit oleh Mohammed Nawawiy pada rumah tradisional batak
toba, dan besar kemungkinan untuk dapat diterapkan pada zaman rasional dan
modern saat ini.

Gambar 36. Kolong Rumah Adat Nias Gambar 37. Atap Rumah Adat
Tongkonan Toraja

64
Tanuwidjaja, Gunawan. Desain Arsitektur Berkelanjutan Di Indonesia: Hijau Rumahku
Hijau Negeriku. Halaman 12. Universitas Kristen Petra. http://repository.petra.ac.id/15546/
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 22
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Pada rumah adat Nias kita dapat melihat nilai fungsi guna
kearifan lokal yang sangat tinggi dalam mengatasi permasalahan
gempa. Namun sampai saat ini hanya menjadi daftar pustaka
bagi tingginya nilai budaya tradisional Indonesia. Belum ada
yang secara serius dan berkesinambungan meneliti bagaimana
penerapannya pada bangunan-bangunan moderen.

Pada rumah atap Tongkonan Toraja yang menggunakan bambu


sebagai bahannya, terlihat sangat baik di dalam mengatasi hujan dan panas.
Dalam tulisannya Parmonangan Manurung65, menyatakan bahwa terdapat nilai
yang tinggi terhadap konsep keberlanjutan karena material yang digunakan tidak
memerlukan proses produksi dan fabrikasi rumit serta tidak menghasilkan limbah
berbahaya. Namun jika menjadi trend tidak akan mungkin pula mengembangkan
perkebunan bambu yang sangat luas untuk dapat memenuhi permintaan dan
penggunaan secara massal karena konsep SD juga mempertimbangan dan
berkewajiban mempertahankan biodiversity lingkungan hidup.

KONKLUSI
Kebutuhan sumberdaya alam semakin meningkat sejalan dengan percepatan
pertumbuhan jumlah manusia, sementara ketersediaan semakin menipis juga
menjadi permasalahan yang besar dalam penerapan material yang sering dipakai
pada bangunan-bangunan tradisional. Konservasi-konservasi yang dilakukan pun
tidak dapat mengejar atau menutupi kebutuhan permintaan. Yang bisa disaksikan
hanyah usaha bagaimana untuk tidak membuat kerusakan yang lebih besar.

Indonesia sendiri belumlah memiliki indikator SD yang pasti berdasarkan


penelitian-penelitian dari berbagai disiplin ilmu yang terintegrasi dan serius
untuk melihat sudah sampai dimana tingkat SD Indonesia. Karena dengan
indikator itu kita dapat menentukan langkah selanjutnya di dalam mengatasi
permasalahan keterbatasan sumberdaya alam. Mungkin hal ini diakibatkan
kondisi politik dan kebijakan-kebijakan pemerintah terutama pemerintah daerah
dan kota belumlah menguatkan pentingnya SD dan SA.

Sistem pengadaan energi dan bahan/elemen bangunan dalam konsep SD dan SA


yang terintegrasi pada bangunan dan kota jelas lebih mahal daripada
konvensional. Namun dengan memikirkan dampaknya pada lingkungan hidup
secara akumulasi jangka panjang akan lebih murah daripada konvensional. Jadi
cukup wajar pemerintah concern mengadakan listrik dengan menggunakan
genset diesel daripada alternatif yang ditawarkan SD. Kenaikan sedikit saja tarif
listrik di negara ini berpengaruh besar terhadap jalannya perpolitikan dan
keamanan.

65
Manurung, Parmonangan. Arsitektur Berkelanjutan, Belajar dari Kearifan Arsitektur
Nusantara. Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Arsitektur dan Desain, Universitas
Kristen Duta Wacana. Simposium Nasional RAPI XIII FT. UMS. ISSN 1412-9612. 2014.
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 23
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

Di dalam merumuskan konsep SD dan SA yang tepat pada suatu negara


dibutuhkan orang-orang dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan lembaga
pemerintah serta lembaga swadaya yang terus menerus bekerja untuk itu.
Setiap domain dan sub-domain yang terdapat di dalam SD juga akan
mempengaruhi konsep SA yang akan dibentuk. Pemikiran yang holistik bahkan
harus menjangkau culture dan politik yang dapat mempengaruhi arah
pergerakan SD serta implementasinya dalam SA.

Contohnya, misalkan ditemukan material baru yang tidak menurunkan kualitas


lingkungan hidup sehingga diproduksi secara massal. Pabrik yang memproduksi
juga harus didesain sedemikian rupa agar tidak mengganggu lingkungan hidup,
baik itu mesinnya dan limbah yang dihasilkan. Disamping itu, kesadaran
perusahaan akan kesejahteraan yang merata pada setiap pekerja juga harus
tinggi sehingga mereka dapat membeli produk-produk SD dan SA daripada
mereka mencari alternatif sumberdaya secara militan dan tidak dapat diawasi
dapat membuat kerusakan yang lebih besar. Di lain sisi, budaya kesadaran akan
pentingnya lingkungan hidup pada masa yang akan datang di setiap orang juga
harus tinggi, dan itu dapat diwujudkan dengan pendidikan.

Di dalam pendidikan pun terdapat masalah tersendiri mengenai kesiapan mereka


untuk memberikan pemahaman yang dalam tentang SD. Habit penelitian yang
terjadi di Indonesia adalah tidak melanjutkan dan tidak melakukan penelitian
pada bidang yang sedikit datanya. Ini dapat dilihat dari banyaknya penelitian-
penelitian Local Wisdom daripada Technical Wisdom, alias jalan di tempat.

Belum lagi dengan permasalahan sosial masyarakat, seperti korupsi, kejahatan,


keamanan dan terorisme. Yang pada akhirnya membentuk suatu lingkaran hitam
(black circle) dengan kebiasaan akar rumput berupa siapa menyalahkan siapa
tanpa bisa berangkat keluar dari permasalahan yang dihadapinya dan bangsa,
pun bagaimana bisa pula untuk mewarnai (mengukur) Circle of Sustainable of
Indonesia.

Sudah saatnya inovasi dan kreatifitas anak bangsa ditentukan dan oleh
kemampuannya berpikir dalam kedamaian dengan perut yang lapar dalam
menemukan berbagai alternatif-alternatif implementasi SD dan SA dengan biaya
produksi yang rendah.

Walaupun dari segi biaya belumlah dikaji secara serius namun dalam percobaan
secara konseptual sudah ada pergerakan ke arah sustainable seperti yang
dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi dalam menciptakan
konsep rumah dengan pendekatan arsitektur tradisional 66.

DAFTAR PUSTAKA
1. Andy Scerri, Paul James, Accounting for sustainability: Combining Qualitative
and Quantitative Research in Developing 'Indicators' of Sustainability.

66
Hadi Yanuar Iswanto, Adam Priyadi, Ikhwan Nurtadril dan Luthfi Pratama. Desain
Pengembangan Green Architecture Di Kawasan Dago Dengan Pendekatan Arsitektur
Tradisional Sunda. Universitas Pendidikan Indonesia
| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 24
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

International Journal of Social Research Methodology Journal, Vol. 13, No. 1,


February 2010, p4153.
2. Barbier, E. "The Concept of Sustainable Economic Development".
Environmental Conservation. 14 (2): 101110. 1987.
3. Barbier, Edward B. Natural Resources and Economic Development. Cambridge
University Press. pp. 4445. ISBN 9780521706513. 2006.
4. Bleichrodt H, Quiggin J. "Life-cycle preferences over consumption and health:
when is cost-effectiveness analysis equivalent to cost-benefit analysis?". J
Health Econ. 18 (6): p681708. 1999.
5. Brower, Michael; Cool Energy, The Renewable Solution to Global Warming;
Union of Concerned Scientists, 1990
6. Brown, L. R. World on the Edge. Earth Policy Institute. Norton. ISBN 978-0-393-
08029-2. 2011
7. Building, Planning and Massing, Green Building Platinum Series. Building and
Construction Authority of Singapore. 2010.
8. Daly, Herman E. Steady-state economics (2nd ed.). London: Earthscan
Publications. 1992.
9. Doerr Architecture, Definition of Sustainability and the Impacts of Buildings.
(Updated 06/05/2017: 404 Error)
10.DOERR ARCHITECTURE, Definition of Sustainability and the Impacts of
Buildings; Doerr Publishers 2003
11.Dokumen UNESCO: https://atom.archives.unesco.org/agreement-between-
unesco-and-city-of-milan-concerning-international-multimedia-institute-imi-
2;isad
12.Dublin Institute of Technology Sustainable Architecture and Simulation
Modelling", Ken Beattie Publications, 2001
13.Freer Spreckley: A Management Tool for Co-operative Working. WorkAid
Beechwood College, 1981
14.Hadi Yanuar Iswanto, Adam Priyadi, Ikhwan Nurtadril dan Luthfi Pratama.
Desain Pengembangan Green Architecture Di Kawasan Dago Dengan
Pendekatan Arsitektur Tradisional Sunda. Universitas Pendidikan Indonesia
15.Hamilton, K.; Clemens, M. "Genuine savings rates in developing countries".
World Bank Economy Review. 13 (2): 333356. 1999.
16.http://www.aiahonolulu.org/resource/resmgr/imported/6_Transit_AIA%20TOD
%20Draft%20statement.pdf
17.http://www.buildingecology.com/sustainability/building-materials/
18.http://www.cnu.org/charter
19.http://www.sogesid.it/english_site/Sustainable_Development.html
20.http://www.summareconbandung.com/do/local-wisdom
21.http://www.traditionalarchitecture.co.uk/aims.html
22.http://www.traditionalarchitecture.co.uk/environment.html
23.http://www.un.org/ga/search/view_doc.asp?symbol=A/69/L.85&Lang=E
24.http://www.un-documents.net/a42-427.htm
25.IRENA, Renewable Energy Technologies: Cost Analysis Series. Volume 1: Power
Sector Issue 5/5, Wind Power. June 2012.
26.J. Contreras, M. Lewis, H. Roth, "Toward a Rational Framework for Sustainable
Building Materials Standards", Standards Engineering, Vol. 63, No. 5, p. 1,
September/October 2011
27.James, Paul, Urban Sustainability in Theory and Practice Circle of
Sustainability, Routledge, London & New York, ISBN: 978-1-138-02572-1. 2015

| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 25
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

28.James, Paul. Assessing Cultural Sustainability. Culture 21 Agenda 21 for


Culture. UCLG 2004-2014.
29.Jester, Thomas C., ed. (2014). Twentieth-Century Building Materials: History
and Conservation. Getty Publications. p. 273. ISBN 9781606063255.
30.John Randolph and Gilbert M. Masters, 2008. "Energy for Sustainability:
Technology, Planning, Policy," Island Press, Washington, DC.
31.Lazards Levelized Cost of Energy Analyst, September 2014.
32.Liam Magee, Andy Scerri, Paul James, Lin Padgham, James Thom, Hepu Deng,
Sarah Hickmott, and Felicity Cahill, Reframing Sustainability Reporting:
Towards an Engaged Approach, Environment, Development and
Sustainability, vol. 15, no. 1, 2013, pp. 22543.
33.Liam Magee, Paul James, Andy Scerri, Measuring Social Sustainability: A
Community-Centred Approach, Applied Research in the Quality of Life, vol. 7,
no. 3., 2012, pp. 23961.
34.M Jonkers, Henk. Self Healing Material: as Alternatif Approach to 20th
Centuries of Material Science. Delfi University of Technology . Springer 2007.
ISBN: 978-1-4020-6249-0
35.M. DeKay & G.Z. Brown, Sun Wind & Light, Architectural Design Strategies, 3rd
ed. Wiley, 2014
36.Manurung, Parmonangan. Arsitektur Berkelanjutan, Belajar dari Kearifan
Arsitektur Nusantara. Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Arsitektur dan
Desain, Universitas Kristen Duta Wacana. Simposium Nasional RAPI XIII FT.
UMS. ISSN 1412-9612. 2014.
37.Mclennan, "The Philosophy of Sustainable Design", Ecotone LLC, Missouri.
p.08. 2004.
38.Mclennan, "The Philosophy of Sustainable Design", Ecotone LLC, Missouri.
p.12. 2004.
39.Meadows, D.H.; Randers, Jrgen; Meadows, D.L. Limits to Growth: The 30-Year
Update (from 1972). Chelsea Green Publishing. ISBN 978-1-931498-58-6.
2004.
40.Naning S. Adiningsih Adiwoso, Prasetyoadi, Savitra Perdana. Towards
Indonesia Sustainable Future through
41.National Park Service. "National Register Information System". National
Register of Historic Places. National Park Service. 2009.
42.Nawawiy, Mohammed. Transformation of Batak Toba Architecture ???
43.Passet, Ren (1979-01-01). L'conomique et le vivant (in French). Payot, 1979.
44.Paul-Marie Boulanger. "Sustainable development indicators: a scientific
challenge, a democratic issue. ''S.A.P.I.EN.S.'' (1)". Sapiens.revues.org. 2008.
45.Rist, Gilbert, The History of Development, 3rd Ed. p194. New York: Zed, 2008.
46.Shaker, R.R. The spatial distribution of development in Europe and its
underlying sustainability correlations. Applied Geography, 63, 304-314,
ScienceDirect, 2015.
47.Shamilton. "Module Pricing". Solarbuzz. IHS Markit Analysis. 2012.
48.Stivers, R. The Sustainable Society: Ethics and Economic Growth. Philadelphia:
Westminster Press. 1976.
49.Sustainable Architecture and Simulation Modelling", Dublin Institute of
Technology. (Updated06/05/2017: 404 Error)
50.Sustainable Building and Construction. Green Building Council Indonesia
(GBCI)

| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 26
Tugas MK Arsitektur Berkelanjutan S2 Arsitektur Profesional USU Semester B 2017

51.Tanuwidjaja, Gunawan. Desain Arsitektur Berkelanjutan Di Indonesia: Hijau


Rumahku Hijau Negeriku. Halaman 12. Universitas Kristen Petra.
http://repository.petra.ac.id/15546/
52.The History of Development, 3rd Ed. p194. New York: Zed, 2008.
53.Ulrich Grober: Deep roots A conceptual history of "Sustainable
Development" (Nachhaltigkeit), Wissenschaftszentrum Berlin fr
Sozialforschung, 2007
54.Understanding Sustainable Development - John Blewitt, 2015
55.United Nations. Prototype Global Sustainable Development Report (Online
unedited ed.). New York: United Nations Department of Economic and Social
Affairs, Division for Sustainable Development. 2014.
56.Wilson, Alex (March 22, 2012). "The Revolution in Window Performance Part
1". Green Building Advisor.

| ARSITEKTUR BERKELANJUTAN 27