Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kata vitamin pasti sudah tidak asing lagi didengar oleh setiap orang.
Jika mendengar kata vitamin, hal pertama kali yang terlintas dibenak ialah
kesehatan. Tentunya vitamin ada untuk menunjang kesehatan. Vitamin
merupakan zat organik yang berfungsi sebagai zat pengatur dalam tubuh sama
halnya dengan mineral. Vitamin memang sangat dibutuhkan tubuh karena
tidak ada zat lain yang dapat menggantikan vitamin dalam melakukan
perannya untuk mengatur fungsi tubuh. Oleh karena itu, sebagian besar
vitamin bersifat esensial atau tidak didapat diproduksi oleh tubuh sehingga
membutuhkan asupan dari luar.
Walaupun vitamin sangat dibutuhkan oleh tubuh, namun dalam
penggunaanya vitamin hanya dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Oleh
karenanya vitamin tergolong ke dalam mikronutrien atau nutrisi yang
dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Sampai saat ini telah ditemukan 13
jenis vitamin, yaitu vitamin A, B kompleks (B1, B2, B3, B5, B6, B7, B9, dan B12),
C, D, E, dan K. Setiap jenis vitamin tersebut memiliki fungsinya masing-
masing yang berguna untuk mengatur fungsi tubuh.
Dewasa kini, banyak orang yang beralih menyukai dan mengonsumsi
makanan-makanan instan yang terdapat bahan kimianya daripada
mengonsumsi makanan-makanan alami yang terjamin nutrisinya. Gambaran
masyarakat saat ini merupakan salah satu bentuk kurangnya pengetahuan dan
pemahaman orang-orang mengenai peran dan fungsi nutrisi terutama vitamin.
Hal ini menjadi salah satu faktor masih terdapatnya orang-orang yang
mengalami avitaminosis yaitu gangguan atau penyakit yang terjadi akibat
defisiensi (kekurangan) asupan nutrisi dari vitamin.
Oleh sebab itu, mempelajari vitamin merupakan hal yang wajib dilakukan
oleh setiap orang, guna untuk mengetahui berbagai macam jenis vitamin
beserta fungsinya dan dari bahan makanan apa yang merupakan sumber
vitamin serta gangguan atau penyakit apa yang dapat dialami jika kekurangan
asupan vitamin.

B. Rumusan Masalah

1
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini ialah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan vitamin?
2. Bagaimana penggolongan vitamin?
3. Bagaimana fungsi, sumber dan avitaminosis vitamin?
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam makalah ini ialah sebagai berikut :
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami yang dimaksud dengan
vitamin.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami penggolongan vitamin.
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami fungsi, sumber dan
avitaminosis vitamin.
D. Manfaat
Adapun manfaat dalam makalah ini ialah sebagai berikut :
1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa mengenai
vitamin.
2. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa mengenai
penggolongan vitamin.
3. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa mengenai
fungsi, sumber dan avitaminosis vitamin.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Vitamin
Pada tahun 1912, Funk adalah sarjana Biokimia bangsa Polandia yang
bekerja di London untuk pertama kali memperkenalkam istilah vitamin (amina
yang vital) yang kemudian terkenal dengan nama vitamin (Kartini, 2015).
Nama ini berasal dari gabungan kata bahasa Latin vital yang artinya "hidup"
dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang memiliki
atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian (Utami,
2010).
Vitamin adalah sekelompok senyawa organik amina berbobot molekul
kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme, yang
tidak dapat dihasilkan oleh tubuh. Vitamin merupakan suatu molekul organik
yang sangat diperlukan oleh tubuh untuk proses metabolisme dan
pertumbuhan yang normal. Vitamin-vitamin tidak dapat dibuat oleh tubuh
manusia dalam jumlah yang sangat cukup, oleh karena itu harus diperoleh dari
bahan panganan yang dikonsumsi (Ismawati, 2015).
Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat pula
memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak mencukupi,
tubuh dapat mengalami suatu penyakit. Tubuh hanya memerlukan vitamin
dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini diabaikan maka metabolisme di
dalam tubuh akan terganggu karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh
senyawa lain. Gangguan kesehatan ini dikenal dengan istilah avitaminosis
(Ismawati, 2015).
B. Penggolongan Vitamin
Secara garis besar, vitamin dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok
besar, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak.
Hanya terdapat 2 vitamin yang larut dalam air, yaitu B dan C, sedangkan
vitamin lainnya, yaitu vitamin A, D, E, dan K bersifat larut dalam lemak.
Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di dalam jaringan adiposa
(lemak) dan di dalam hati. Vitamin ini kemudian akan dikeluarkan dan
diedarkan ke seluruh tubuh saat dibutuhkan. Beberapa jenis vitamin hanya

3
dapat disimpan beberapa hari saja di dalam tubuh, sedangkan jenis vitamin
lain dapat bertahan hingga 6 bulan lamanya di dalam tubuh (Utami, 2010).
Berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, jenis vitamin larut dalam
air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera
hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh,
vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke
seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera
dibuang tubuh bersama urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan
asupan vitamin larut air secara terus-menerus (Utami, 2010).
C. Fungsi, Sumber dan Avitaminosis Vitamin
a. Vitamin yang Larut dalam Lemak
1. Vitamin A (Aseroftol/Antiseroftol/Retinol)
Vitamin A merupakan vitamin yang berperan dalam pembentukkan
indra penglihatan yang baik, dan sebagai salah satu komponen
penyusun pigmen mata di retina. Selain itu, vitamin ini juga berperan
penting dalam menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Vitamin ini
bersifat mudah rusak oleh paparan panas, cahaya matahari, dan udara
(Saihitua, 2014).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin A ialah sebagai berikut
(Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Memelihara jaringan epitel.
2) Regenerasi rodopsin di retina.
3) Membantu pertumbuhan tulang dan gigi.
4) Proses oksidasi dalam tubuh.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin A ialah mentega, hati, minyak
ikan, telur, susu, tumbuhan yang berwarna hijau dan kuning
(Hadisusanto, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin A dapat menyebabkan
gangguan sebagai berikut (Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Hemeralopia yang timbul karena menurunnya kemampuan sel
basilus pada waktu senja.
2) Bintik bitot (kerusakan pada retina).
3) Seroftalmia yaitu kornea mata mengering karena terganggunya
kelenjar air mata.
4) Keratomalasi yaitu kornea mata rusak sama sekali karena
berkurangnya produksi minyak meibom.

4
5) Frinoderma yaitu kulit kaki dan tangan bersisik karena
pembentukan epitel kulit terganggu.
6) Pendarahan pada selaput usus, ginjal, dan paru-paru karena
rusaknya epitel organ.
7) Proses pertumbuhan terhenti.
2. Vitamin D (Kalsiferol/Ergosterol/Antirakhitis)
Vitamin D adalah grup vitamin yang larut dalam lemak prohormon.
Vitamin D dikenal juga dengan nama kalsiferol. Bagian tubuh yang
paling banyak dipengaruhi oleh vitamin ini adalah tulang (Kartini,
2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin D ialah sebagai berikut
(Purwianingsih, dkk, 2009) :
1) Mengatur kadar kapur dan fosfor.
2) Mempercepat penulangan.
3) Memengaruhi kerja kelenjar endokrin.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin D ialah susu, keju, mentega, ikan,
dan provitamin D pada kulit (Purwianingsih, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin D dapat menyebabkan
gangguan sebagai berikut (Purwianingsih, dkk, 2009) :
1) Penyakit rachitis.
2) Gangguan metabolisme zat kapur dan fosfor.
3) Osteomalasi.
3. Vitamin E (Tokoferol/Antisterilitas)
Pada tahun 1922, ditemukan suatu zat larut dalam lemak yang
dapat mencegah keguguran dan sterilisasi pada tikus. Semula zat ini
dinamakan faktor antisterilitas dan kemudian disebut vitamin E.
vitamin E kemudian pada tahun 1936 dapat diisolasi dari minyak
kecambah dan dinaakan tokoferol, berasal dari bahasa Yunani dari kata
tokos yang berarti kelainan dan pherein berarti yang menyebabkan
(Prawiranegara, 2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin E ialah sebagai berikut
(Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Menjalankan fungsi reproduksi.
2) Membentuk DNA, RNA, dan sel darah merah.
3) Mencegah pendarahan pada ibu hamil dan mencegah
keguguran.

5
4) Pembentukan protrombin.
5) Menjalankan fungsi hati.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin E ialah kecambah, kuning telur,
susu, lemak, daging, dan ragi (Hadisusanto, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin E dapat menyebabkan
gangguan sebagai berikut (Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Keguguran (abortus) dan mati embrio.
2) Kemandulan (sterilitas).
3) Kemunduran hipofisis dan kelenjar gondok.
4) Layu otot karena saraf rusak.
4. Vitamin K (Filoguinon/Antihemoragia)
Vitamin K ini ditemukan oleh Dam dan Schondeyder. Vitamin ini
sering disebut antihemoragia atau anti pendarahan.Vitamin K dapat
dibentuk oleh tubuh sendiri dengan bantuan bakteri usus besar,
Escherichia coli (Ismawati, 2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin K ialah sebagai berikut
(Purwianingsih, dkk, 2009) :
1) Pembekuan darah.
2) Pembentukan protombin.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin K ialah Dalam tubuh dapat
dibentuk oleh Escerichia coli, bayam, kol, daging, susu, keju,
mentega (Purwianingsih, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin D dapat menyebabkan
gangguan darah sukar membeku (Purwianingsih, dkk, 2009).
b. Vitamin yang Larut dalam Air
1. Vitamin B1 (Tiamin/Aneuritik/Antiberi-beri)
Vitamin B1 yang dikenal juga dengan nama Tiamin, merupakan
salah satu jenis vitamin yang memiliki fungsi penting dalam menjaga
kesehatan kulit dan membantu mengkonversi karbohidrat menjadi
energi yang diperlukan tubuh untuk rutinitas sehari-hari (Yuliawan,
dkk, 2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin B1 ialah sebagai berikut
(Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Pembuatan neurotransmitter.
2) Sebagai koenzim dalam metabolisme karbohidrat.

6
3) Keseimbangan air di dalam tubuh.
4) Penyerapan lemak oleh jonjot usus.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin B1 ialah ragi, kecambah, kulit ari
padi/beras, wortel, hati, telur, susu, ginjal, dan margarin
(Hadisusanto, dkk, 2009).

7
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin B1 dapat menyebabkan
gangguan sebagai berikut (Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Beri-beri.
2) Selera makan hilang.
3) Pertumbuhan terhenti.
4) Transpor cairan tubuh terganggu.
5) Metabolisme karbohidrat terganggu sehingga terjadi timbunan
asam piruvat dalam sel, yang akan menjadi racun dalam sel.
6) Kontraksi otot jantung dan sistem saraf pusat melemah.
2. Vitamin B2 (Riboflavin/Laktoflavin)
Vitamin B2 dikenal dengan Riboflavin. Dalam bentuk murni,
riboflavin adalah kristal kuning. Riboflavin larut dalam air, tahan
panas, oksidasi dan asam, tetapi tidak tahan alkali dan cahaya terutama
sinar ultraviolet. Dalam proses pemasakan tidak banyak yang rusak
(Prawiranegara, 2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin B2 ialah sebagai berikut
(Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Metabolisme gula dan protein.
2) Rangsang saraf mata.
3) Membantu pertumbuhan.
4) Pemeliharaan jaringan kulit sekitar mulut.
5) Merupakan enzim pada oksidasi dalam sel.
6) Menghasilkan energi dalam sel.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin B2 ialah ragi, telur, hati, daging,
ginjal, otak, dan jantung (Hadisusanto, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin B2 dapat menyebabkan
gangguan sebagai berikut (Hadisusanto, dkk, 2009) :

8
1) Keilosis yaitu luka pada sudut mulut.
2) Katarak yaitu lensa mata menjadi keruh.
3) Pertumbuhan terhenti.
4) Peradangan pada kornea mata sehingga pandangan kabur.
3. Vitamin B3 (Niacin/Asam nikotinat/Antipelagra)
Vitamin ini berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk
menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein. Berbagai jenis
senyawa racun dapat dinetralisir dengan bantuan vitamin ini (Saihitua,
2015)
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin B3 ialah sebagai berikut
(Purwianingsih, dkk, 2009) :
1) Pertumbuhan sel.
2) Pembentukan koenzim NAD dan NADP dalam transport
hidrogen.
3) Perombakan karbohidrat dan mencegah pellagra.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin B3 ialah hati, susu, kol, ragi,
bayam, tomat, kedelai (Purwianingsih, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin B3 dapat menyebabkan
gangguan sebagai berikut (Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Pellagra.
2) Dermatitis yaitu kulit pecah-pecah, eksim, dan mengelupas.
3) Diare
4) Dimensia yaitu kekacauan mental, pelupa, letih, dan suka
melamun.
5) Pendarahan usus dan gusi.

9
4. Vitamin B5 (Asam pantotenat)
Vitamin B5 (Asam Pantotenat) banyak terlibat dalam reaksi
enzimatik di dalam tubuh. vitamin B 5 berfungi besar dalam berbagai
jenis metabolisme, seperti dalam reaksi pemecahan nutrisi makanan,
terutama lemak (Yuliawan, dkk, 2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin B5 ialah sebagai berikut
(Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Membentuk koenzim A.
2) Sintesis hormon.
3) Kestabilan gula darah.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin B5 ialah hati, daging, ikan, ragi,
dan beras (Hadisusanto, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin B5 dapat menyebabkan
gangguan sebagai berikut (Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Dermatitis.
2) Insomnia.
3) Internitis.
4) Gangguan fungsi saraf.
5) Kelelahan.
5. Vitamin B6 (Piridoksin)
Vitamin B6 atau dikenal juga dengan istilah Piridoksin, merupakan
vitamin yang esensial bagi pertumbuhan tubuh (Yuliawan, dkk, 2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin B6 ialah sebagai berikut
(Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Metabolisme lemak.
2) Pembuatan sel darah merah dan kulit.
3) Penyusun enzim dekarboksilase dan transaminase.
4) Pertumbuhan.
5) Aktivitas urat saraf.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin B6 ialah hati, ikan, daging, dan
sayur (Hadisusanto, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin B6 dapat menyebabkan
gangguan sebagai berikut (Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Pellagra.
2) Anemia.
3) Obstipasi.
4) Kejang-kejang dan amat peka terhadap rangsang.

10
5) Pertumbuhan terhambat.
6. Vitamin B7 (Biotin/Vitamin H)
Vitamin ini memiliki peranan yang sangat besar dalam reaksi
biokimia di dalam tubuh, seperti dalam transfer karbon dioksida dan
metabolisme karbohidrat dan lemak. Tidak seperti kebanyakan vitamin
lainnya, biotin merupakan salah satu jenis vitamin yang cukup stabil
diberbagai kondisi lingkungan, seperti panas, paparan cahaya matahari,
dan oksigen (Saihitua, 2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin B7 ialah untuk respirasi aerob dan
metabolisme lemak (Hadisusanto, dkk, 2009).
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin B7 ialah ragi, beras, sayuran, dan
buah-buahan (Hadisusanto, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin B7 dapat menyebabkan
gangguan yaitu dermatitis (Hadisusanto, dkk, 2009).

11
7. Vitamin B9 (Asam folat)
Vitamin ini terutama penting pada periode pembelahan dan
pertumbuhan sel. Anak-anak dan orang dewasa memerlukan Asam
Folat untuk memproduksi sel darah merah dan mencegah anemia
(Saihitua, 2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin B9 ialah sebagai berikut
(Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Pembentukan sel darah merah.
2) Metabolisme kelompok metil.
3) Sintesis DNA dan RNA yang berperan dalam pembelahan sel.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin B9 ialah hati, ginjal, sayuran,
daging sapi, pisang, polongan, biji gandum, dan ragi (Hadisusanto,
dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin B9 dapat menyebabkan
gangguan sebagai berikut (Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Anemia pernisiosa.
2) Peradangan lidah.
3) Diare.
8. Vitamin B12 (Sianokobalamin/Anti anemia pernisiosa)
Vitamin B12 adalah kristal merah yag larut dalam air. Warna merah
karena kehadiran kobal. Vitamin B12 secara perlahan rusak oleh asam
encer, alkali, cahaya dan bahan-bahan pengoksidasi dan pereduksi.
Pada pemasakan, kurang lebih 70% vitamin B 12 dapat dipertahankan.
Sianokobalamin adalah bentuk paling stabil karena itu diproduksi
secara komersial dari fermentasi bakteri (Prawiranegara, 2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin B12 ialah sebagai berikut
(Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Sintesis asam amino.
2) Pembentukan sel darah.
3) Metabolisme sel dalam pertumbuhan.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin B12 ialah hati, ikan, susu, telur,
udang, kerang, dan keju (Hadisusanto, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan
gangguan yaitu anemia pernisiosa (Hadisusanto, dkk, 2009).
9. Kolin

12
Kolin merupakan salah satu senyawa yang termasuk dalam
golongan senyawa serupa vitamin. Senyawa ini dapat ditemukan di
setiap sel mahluk hidup dan berperan dalam pengaturan sistem saraf
yang baik dan beberapa metabolisme sel (Utami, 2010).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari kolin ialah pertumbuhan kulit dan
metabolisme lemak (Hadisusanto, dkk, 2009).
b) Sumber
Adapun sumber dari kolin ialah beras dan hati (Hadisusanto,
dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan kolin dapat menyebabkan gangguan
sebagai berikut (Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Gangguan pada kulit dan ginjal.
2) Timbunan lemak di sekitar hati.
10. Para amino asam benzoat
Contoh lain dari senyawa serupa vitamin ini adalah asam para-
aminobenzoat (4-aminobenzoic acid, PABA) yang berperan sebagai
senyawa antioksidan dan penyusun sel darah merah (Utami, 2010).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari para amino asam benzoat ialah
pertumbuhan rambut (Hadisusanto, dkk, 2009).

b) Sumber
Adapun sumber dari para amino asam benzoat ialah ragi dan
hati (Hadisusanto, dkk, 2009).
c. Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan para amino asam benzoat dapat
menyebabkan gangguan yaitu rambut rontok dan uban
(Hadisusanto, dkk, 2009).
11. Vitamin C (Asam askorbat/Antiskorbut)
Vitamin C adalah kristal putih yang mudah larut dalam air. Dalam
keadaan kering vitamin C cukup stabil, tetapi dalam keadaan larut,
vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi)
terutama bila terkena panas. Oksidasi dipercepat dengan kehadiran
tembaga dan besi. Vitamin C stabil dalam larutan alkali, tetapi cukup

13
stabil dalam larutan asam. Vitamin C adlaah vitamin yang paling labil
(Prawiranegara, 2015).
a) Fungsi
Adapun fungsi dari vitamin C ialah sebagai berikut
(Hadisusanto, dkk, 2009) :
1) Metabolisme lemak.
2) Pembentukan jaringan ikat (kolagen).
3) Kesehatan gusi.
4) Aktivator enzim (koenzim).
5) Oksidasi dan dehidrasi dalam sel.
6) Pembentukan trombosit.
b) Sumber
Adapun sumber dari vitamin C ialah sayur, buah segar, hati,
dan ginjal (Hadisusanto, dkk, 2009).
c) Avitaminosis
Adapun akibat kekurangan vitamin C dapat menyebabkan
gangguan yaitu skorbut yaitu pendarahan gusi, pendarahan kulit,
kerusakan sendi, menurunnya permeabilitas sel kapiler darah dan
pendarahan dalam sumsum tulang (Hadisusanto, dkk, 2009).

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari makalah ini ialah sebagai berikut :
1. Vitamin merupakan senyawa organik esensial yang dibutuhkan oleh tubuh
manusia dalam jumlah yang sedikit (mikronutrien), tidak menghasilkan
energi dan berperan sebagai zat pengatur dalam tubuh.
2. Penggolongan vitamin didasari oleh sifat kelarutannya. Vitamin yang larut
dalam lemak ialah vitamin A, D, E dan K. Sedangkan vitamin yang larut
dalam air ialah vitamin B kompleks dan C.
3. Setiap vitamin memiliki fungsinya masing-masing dalam mengatur fungsi
fisiologis tubuh. Sumber vitamin terdapat pada semua bahan makanan baik
itu makanan pokok, lauk pauk, sayur mayur, buah-buahan dan susu. Akibat
avitaminosis pada vitamin A ialah gangguan pada penglihatan, pada
vitamin B ialah gangguan kulit, pada vitamin C ialah gangguan saluran
cerna (mulut), pada vitamin D ialah gangguan tulang, pada vitamin E ialah
gangguan kesuburan dan pada vitamin K ialah gangguan pembekuan
darah.

14
B. Saran
Saran yang dapat disampaikan kepada pihak kampus ialah untuk perlu
menyediakan kantin bersih dan sehat yang dapat menjamin dan memenuhi
kebutuhan nutrisi baik itu kebutuhan akan karbohidrat, protein, lemak, vitamin
serta mineral untuk seluruh warga kampus baik itu mahasiswa maupun dosen.

15
DAFTAR PUSTAKA

Hadisusanto, Suwarno., Trijoko., Sudjino., dan Purnomo. 2009. Biologi Kelas


XI : Untuk SMA dan MA. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional :
Jakarta

Ismawati. 2015. Vitamin dan Mineral. Universitas Wahid Hasyim. Semarang

Kartini, Sapril. 2015. Metabolisme Vitamin. Universitas Halu Oleo. Kendari

Prawiranegara, Fadh Akbar. 2015. Vitamin. Universitas Islam Sumatera Utara.


Medan

Purwianingsih, Widi., Eva L. H., Tintin A., Ida H., Riana Y., dan Diana P. 2009.
Biologi 2 Kelas XI SMA dan MA. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional : Jakarta

Saihitua, Fadilla. 2014. Vitamin dan Mineral. Universitas Darussalam Ambon.


Maluku

Utami, Rizki. 2010. Vitamin. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh

Yuliawan, M. Tri., Hendy H. S., Ratri A., Luthfi M. F., dan Satria H. R. 2015.
Sifat Dan Peranan Vitamin Dan Mineral Bagi Makhluk Hidup. Universitas
Padjadjaran. Jawa Barat

16