Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN BRONHOPNEUMONIA DI RUANGAN THERESIA

RUMAH SAKIT ST. YUSUP

OLEH :

TUTHARIANTI ZACHAWERUS

30190116163

PROGRAM PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS

PADALARANG

2016
LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR MEDIS

1. Pengertian

Bronchopneumonia adalah salah jenis pneumonia yang mempunyai pola


penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronchi
dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya (Smeltzer dan Suzanne C,
2002)
Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola
penyebaran berbecak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisai di dalam bronchi
dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. (Lyndon, 2014).

Bronkopneumonia merupakan radang paru yang dipusatkan pada bronkiolus


dan menyebabkan produksi eksudat mukopurulen yang mengobstruksi beberapa jalan
nafas kecil yang menyebabkan konsolidasi bercak pada lobulus yang berdekatan
(Nelson, 2010).

Kesimpulannya bronchopneumonia adalah jenis infeksi paru yang disebabkan oleh


agen infeksius dan terdapat di daerah bronkus dan sekitar alveoli.

1. Anatomi dan fisiologi


Pernafasan merupakan proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam
jaringan atau pernafasan dalam dan di dalam paru-paru atau pernafasan luar.

Organ-organ sistem pernafasan yaitu:


a. Hidung
Hidung merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai alat pernafasan dan
indra penciuman. Bentuk dan struktur hidung menyerupai piramid atau kerucut
dengan alasanya pada prosesus palatinus os maksilaris dan pars horizontal os
palatum.
Rangka hidung bagain atas dibentuk oleh bagian-bagian berikut:
- Lamini kibrosa asis etmoidalis dan pars nasalis ossis frontalis
- Dinding lateral : oleh tulang keras dan tulang rawan
- Sekat hidung (septum nasi) oleh tulang karang dan tulang rawan

Bagian-bagian hidung terdiri Dari:

- Batang hidung : Dinding depan hidung yang disebut oleh ossa nasalis
- Cuping hidung : bagian bawah dari lateral hidung yang dibentuk oleh tulang
rawan
- Septum nasi : yang membatasi dua rongga hidung
- Dinding lateral rongga hidung (kavum nasi) terdiri atas dari empat buah konka
nasalis, empat buah meatus, dan antrum (lekuk bagian lateral kavum nasi di
depan konka nasalis dan meatus nasalis)

Pembuluh darah hidung terdiri dari:

- Arteri palatina
Bercabang dua yaitu arteri nasalis posterior lateralis dan arteri nasalis posterior
septi
- Arteri nasalis anterior
Berasal dari arteri oftalmika yang mempunyai cabang anteriores lateralis dan
anteriores nasalis anterior septi
- Vena hidung kribrosa
Jaringan pada daerah konka yang dikelilingi oleh serabut otot sirkuler dan
longitudinal, bermuara pada:

a) Pleksus venosus ptegoidues vena kanalis


b) Vena fasialis mengikuti cabang arteri alviolaris sup
c) Vena oftalmika

Fungsi hidung untuk menghangatkan udara: oleh permukaan koka dan


septum nasalis. Setelah melewati faring suhu udara 36 C, sejumlah udara
dilembabkan sebelum melewati hidung dan saat mencapai faring kelembapan
udara menjadi 75%

Reflek batuk merupakan cara paru-paru mempertahankan diri untuk


bebas dari benda asing. Bronkus dan trakea sangat sensitif sehingga setiap
benda asing atau penyebab iritasi lain akan merangsang refleks batuk. Impulas
aferen berasal dari jalan pernafasan melalui nervus fagus ke medula oblongata.
Proses rangsangan secara otomatis dicetuskan oleh sirkuit neuron medulla
oblongata yang menyebabkan:
a) Sekitar 2,5 liter udara diinspirasikan
b) Epiglotis dan pita suara menutup rapat udara di dalam paru-paru
c) Otot perut berkontraksi kuat mendorong diafragma
d) Pita suara dan epiglotis tiba-tiba terbuka lebar sehingga udara yang tertekan
dalam paru-paru dengan cepat keluar, biasanya udara yang bergerak cepat
membawa benda asing yang terdapat dalam bronkus dan trakhea
b. Faring
Terdiri dari nasofaring. Orofaring, laringo faring
1. Nasofaring
Bagian faring yang terdapat di dorsal kavum nasi dan berhubungan dengan
kavum nasi melalui konka dinding lateral yang dibentuk oleh:
o M. Tensor palatini
o M. Levator vili palatini membentuk palatum mole
o M. Konstruktor faringitis superior

Bagian lateral dinding nasofaring memiliki dua lubang.

a. Osteum faring yang terletak diantara nasofaring dengan orofaring yang


dibatasi oleh isthmus faringitis yaitu suatu penyempitan faring yang
dibentuk oleh permukaan kranial palatum mole, arkus faringeo palatinus
dan dinding belakang nasofaring ke bawah dengan orofaring.
b. Lubang medial (tuba faringeo timpanika eustakii). Pada dinding lateral
terdapat penonjolan melalui penonjolan ini terlihat suatu lipatan ke dalam
lumen faring. Otot ini dianggap sebagai begian dorsal M. Farongeo
palatinus. Pembesaran tonsil akan memperkecil konka sehingga
menganggu pernafasan melalui hidung dan dapat menyebabkan kehilangan
pendengaran.
2. Orofaring
Orofaring mempunyai 2 hubungan yaitu ventral dengan kavum oris
dan kaudal pada radiks lingua. Ventral dengan kavum oris batas fausium terdiri
atas palatum molle arkus glasopalatinus dekstra dan sinistra dorsum lingua. Di
antara kedua arkus ini terdapat jaringan limpoid disebut tonsil palatina
(mandel) yang terdapat dalam lekukan yang disebut fossa tonsilarus. Fossa ini
seluruhnya ditempati oleh tonsil untuk mencegah masuknya kuman melalui
rongga mulut ke faring.
Kaudal ada radiks lingua memiliki lubang merupakan batas antara
laring dan faring. Selain itu juga terdapat lipatan antara faring disebut epiglotis
yang merupakan batas antara oral dan laring.
3. Laringo faring
Bagian ini berhubungan dengan laring melalui mulut yaitu auditus laringues.
Dinding depan laringo faring memiliki plika laringisi epiglotika. Lekuk ini
mempunyai dinding medial dan lateral. Kedua dinding etrsebut bersatu di
daerah ventral yang dapat dilihat sebagai tonjolan yang disebut plika nervus
laringici. Septum para faringeal mempunyai hubungan ke ventrikel septum
sublingual dan submaksilaris. Antara arkus glassopalatinus dan arkus faringeo
palatinus terdapat tonsil palatine, sedangkan atap nasofaring berhadapan
dengan tonsil faringeal. Pada radiks lingua terdapat bangunan seperti lingkaran,
apabila tonsil palatine membesar makan akan memperkecil istmus fausium.

c. Trakea
Trakea atau batang tenggorokan adalah tabung berbentuk pipa seperti huruf C yang
dibentuk oleh tulang rawan disempurnakan oleh seplaput. Trakea terletak di antara
vertebra servikalis VI sampai ke tepi bawah kartilago krikoidea vertebra torakalis
V, penjangnya sekitar 13 xm dan diameternya 2,5 cm, selain itu juga dilapisi oleh
otot polos. Trakea mempunyai dinding fibroelastis yang tertanam dalam balok-
balok hialin yang berfungsi untuk mempertahankan trakea tetap terbuka. Ujung
bawah trakea terletak setinggi angulus sterni. Pada bagian bawah trakea torakalis
ke IV, trakea bercabang dua menjadi bronkus kiri dan bronkus kanan. Trakea
dibentuk oleh tulang-tulang rawan berbentuk cincin yang terdiri dari 15-20 cincin.
Diameter dari trakea berbeda pada seluruh bagian, pada daerah servikal agak
sempit sedangkan bagian pertengahan agak sedikit melebar dan mengecil dekat
peradangan bronkus. Bagian dalam trakea terdapat septum yang disebut karina
yang terletak agak ke kiri dari bidang median. Selain itu juga terdapat sel bersilia
yang berguna untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke jalan pernafasan.
d. Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea terletak pada ketinggian vertebra torakalis IV dan
V. Bronkus mempunyai struktur yang sama dengan trakea dan terletak mengarah
ke paru-paru
.

Bronkus terdiri dari bagian-bagian berikut ini:


1) Bronkus prinsipalis dekstra
Panjangnya 2,5 cm masuk ke hilus pulmonalis. Paru-paru kanan bercabang
menjadi bronkus lobaris superior. Pada waktu masuk ke hilus akan bercabang
tiga yaitu bronkus lobaris mesius, bronkus lobaris inferior, dan bronkus lobaris
posterior, sedangkan di atasnya terdapat vena azigos dan di bawahnya terdapat
vena pulmonalis.
2) Bronkus prinsipalis sinistra
Lebih sempit dan lebih panjang dari pada bronkus kanan sekitar 5 cm berjalan
ke bawah ke aorta dan didepan esofagus masuk ke hilus pulmonalis sinistra
kemudian bercabang menjadi bronkus lobaris superior dan bronkus lobaris
inferior.
Bronkiolus lobaris (bronkiol=cabang-bronkus) merupakan cabang yang lebih
kecil dari bronkus prinsipalis. Pada ujung bronkioli terdapat gelembung paru atau
alveoli seperti yang telah dijelaskan di atas. Bronkus lobaris terdiri dari:

1) Bronkus lobaris superior dekstra


2) Bronkus lobaris media desktra
3) Bronkus lobaris inferior dekstra
4) Bronkus lobaris superior sinistra
5) Bronkus lobaris inferior sinistra

Struktur dalam bronkus berbeda dengan di luar bronkus. Seluruh gabungan


otot menekan bagian lumen yang lebih dalam dari submukosa. Ketegangan otot
tersebut mempengaruhi rangkaian mukosa dan rangsangan berlebihan akan
menghalangi perjalanan pernafasan melalui cabang-cabang tulang rawan yang
makin sempit dan makin kecil yang disebut bronkiolus. Dari tiap bronkiolus masuk
ke dalam lobus akan bercabang lebih banyak dengan dismeter 0,5 mm. Cabang
bronkus yang terakhir akan membangkitkan pernapasan dan melepaskan udara ke
paru-paru. Pernafasan bronkiolus terjadi dengan cara memperluas ruangan
pembuluh alveoli yang merupakan tempat terjadinya pertukaran udara antara
oksigen dan karbon dioksida.

e. Paru-paru
Paru-paru adalah salah satu organ sistem pernapasan yang berada di dalam
kantong yang dibentuk oleh pleura paretalis dan pleuran viseralis. Kedua paru-paru
sangat lunak, elastis, sifatnya ringan terapung di dalam air dan berada dalam
rongga torak. Paru-paru berwarna biru keabu-abuan dan berbintik-bintik karena
danya partikel-partikel debu yang masuk dimakan oleh fagosit. Hal ini terlihat
nyata pada pekerja tambang. Paru-paru terletal di samping mediatinum dan
melekat pada perantaraan radiks pulmonalis yang satu sama lainnya dipisahkan
oleh jantung, pembuluh darah besar, dan struktur lain dalam mediastinum.

2. Etiologi

Terjadinya bronchopneumonia bermula dari adanya peradangan paru yang


terjadi pada jaringan paru atau alveoli yang biasanya didahului oleh infeksi traktus
respiratorius bagian atas selama beberapa hari. Factor penyebab utama adalah bakteri,
virus, jamur, dan benda asing. Patofisiologi
Kuman penyebab bronchopneumonia masuk ke dalam jaringan paru-paru
melalui saluran pernafasan atas ke bronchiolus kemudian kuman masuk ke dalam
alveolus ke alveolus lainnya melalui poros kohn, sehingga terjadi peradangan pada
dinding bronchus atau bronchiolus dan alveolus sekitarnya.
Kemudian proses radang ini selalu dimulai pada hilus paru yang menyebar
secara progresif ke perifer sampai seluruh lobus.
Menurut sylvia Anderson Pearce (1995) proses peradangan ini dapat dibagi dalam
empat tahap, antara lain
a. Stadium kongesti (4-12 jam)
Lobus yang meradang tampak warna kemerahan, membengkak, pada perabaan
banyak mengandung cairan, pada irisan keluar cairan kemerahan (eksudat masuk
ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi)
b. Stadium hepatisasi (48 jam berikutnya)
Lobus paru tampak lebih padat dan bergranuler karena sel darah merah fibrinosa,
lecocit polimorfomuklear mengisi alveoli (pleura yang berdekatan mengandung
eksudat fibrinosa kekuningan).
c. Stadium hepatisasi kelabu (3-8 hari)
Paru-paru menjadi kelabu karena lecocit dan fibrinosa terjadi konsilidasi di dalam
alveolus yang terserang dan eksudat yang ada pada pleura masih ada bahkan dapat
berupa menjadi pus.
d. Stadium resolusi (7-11 hari)
Eksudat mengalami lisis dan reabsorbsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali
pada struktur semua.

3. Patofisiologi dan Pathway (terlampir)


Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan
oleh virus penyebab bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga
terjadi perdangan bronkus dan alveoli. Inflamasi bronkus ditandai adanya penumpukan
secret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila
penyebaran kuman sudah mencapai alveoli maka komplikasi yang terjadi adalah
kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyeimpitan hjalan nafas, sesak nafas,
dan nafa sronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan
produksi surfaktan sebagai pelumas yang berfungsi unutk menyebabkan rongga pleura.
Emfisema ( tertimbunnya cairan paru atau pus dalam rongga paru) adalah tindak lanjut
dari pembedahan. Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas,
hipoksemia, asidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan
yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas.

4. Tanda dan gejala


a. Biasanya didahului infeksi traktus respiratori atas
b. Demam (39-400C) kadang-kadang disertai kejang karena demam.
c. Anak sangat gelisah, dan adanya nyeri dada yang terasa ditusuk-tusuk, yang
dicetuskan oleh bernapas dan batuk.
d. Pernapasan cepat dan dangkal disertai pernapasan cuping hidung dan sianosis
sekitar hidung dan mulut.
e. Kadang-kadang disertai muntah dan diare
f. Adanya bunyi tambahan seperti ronchi dan wheezing
g. Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan hipoksia apabila infeksianya serius.
h. Ventilasi mungkin berkurang akibat penimbunan mokus yang menyebabkan
atelektasis absorbs.
(Nelson, 2010)

5. Komplikasi
a. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps
paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau reflex batuk hilang.
b. Abses paru adalah pengumpulan sputum dalam jaringan paru yang meradang
c. Episema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura
terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.

6. Tes diagnostik yang menunjang


a. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses
luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi
(bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia
mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
b. Pemeriksaan AGD (analisa gas darah) untuk mengetahui status kardiopulmoner.
c. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum,
untuk mengetahui mikroorganisme penyebab dan obat yang cocok untuk
menanganinya.
d. Pemeriksaan laboratorium didapati leukosit antara 15000 sampai 40000/mm3
(CMV) (Doenges, 1999).

7. Penatalaksanaan
Adapun penatalaksanaan pada klien anak dengan bronchopneumonia adalah sebagai
berikut:
1. Oksigen 2 liter/menit
2. IVFD (Intra Vena Fluid Drip)
a. Jenis cairan adalah 2A-K CL (1-2 mek/kg BB/24 jam atau KCL 6 mek/500 ml)
b. Kebutuhan cairannya adalah sebagai berikut

Kg BB Kebutuhan (ml/kg BB/hari)

3-10 105
11-11 85
Lebih dari 15 65

Apabila ada kenaikan suhu tubuh, maka setiap kenaikan suhu 1 C


kebutuhan cairan di tambah 12%
c. Tetesan dibagi rasa dalam 24 jam
3. Pengobatan
a. Farmakologi
Pemeberian antibiotik misalnya penicillin G, Sterptomisin, ampicillin
gentamisin. Pemilihan antibiotic didasarkan atas umur, keadaan umum
penderita, dan dugaan kuman penyebab:
1. Umur 3 bulan- 5 tahun, bila toksis disebabkan oleh streptokokus pneumonia,
He ofilus influenza atau stafilokokud. Pada umumnya tidak diketahui
penyebabnya, maka secara praktis dipakai. Kombinasi : penisilin prokain
50.000-100.000 KI/kg/24 jam IM, 1-2x sehari dan kloramfenikol 50-100
mg/kg/24jam IV/oral, 4 kali sehari. Atau kombinasi Ampisilin 50-100
mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari dan kloksasilin 50 mg/kg/24jam IM/IV, 4
kali sehari atau kombinasi Eritromisin 50mg/kg/24 jam, oral 4 kali sehari dan
Kloramfenikol ( dosis sama dengan yang diatas).
2. Anak-anak <5 tahun, yang non toksis, biasanya disebabkan oleh :
Streptokokus pneumonia : Penisiilin prokain IM atau Fenoksimetilpenisilin
25.000-50.000 KI/24 jam oral, 4 kali sehari. Oksigen 1-2L/menit. IVFD
dekstrose 5% setengah NaCL 0,225% 350cc/24jam. ASI/PASI 8x20cc per
sonde.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas
Brochopneumoni lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak, terbanyak pada
umur di bawah tiga tahun dan kematian terbanyak pada bayi kurang dari dua bulan.
b. Keluhan utama
Sesak nafas
c. Riwayat penyakit
d. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi
Perlu kita perhatikan adanya tachypnea, dyspnea, cyanosis sirkumoral
pernafasan cuping hidung, sistensi abdomen, batuk semua non-produktif
menjadi produktif, dan nyeri dada pada waktu menarik nafas. Berdasarkan
MTBS (2008), batasan tachipnea pada anak 2-12 bulan adalah 50 kali per
menit atau lebih. Usia 12 bulan sampai 5 tahun adalah 40 kali per menit atau
lebih. Perlu kita perhatikan adanya tarikan dinding dada ke dalam saat fase
inspirasi.
2) Palpasi
Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membesar, fremitus raba
mungkin meningkat pada sisi yang sakit. Nadi kemungkinan mengalami
peningkatan (takikardi)
3) Perkusi
Suara redup pada sisi yang sakit
4) Auskultasi
Auskultasi sederhan dapat dilakukan dengan cara mendekatkan telinga ke
hidung. Mulut bayi. Pada anak yang bronchopneumoni biasanya terdengar
ronchi. Ronchi halus pada sisi yang sakit, ronchi basah pada masa resolusi.
Pernafasan bronchial, dan kadang-kadang terdengar bising gesek pleura.
e. Pemeriksaan penunjang
1) Laboratium
- Leukosit 18.000-40.000 /mm3
- Hitung jenis didapatkan geseran ke kiri
- LED meningkat
2) Sinar X dada
Terdapat bercak-bercak atau meliputi satu/sebagian besar lobus/lobuler

2. Diagnosa keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan Inflamasi trakeobronkial,
pembentukan oedema, peningkatan produksi sputum, Nyeri pleuritik, Penurunan
energi, kelemahan
b. Hipertermi bd proses inflamasi
c. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskular, hiperplasia
dinding bronkus, obstruksi jalan nafas: adanya nafas buatan, adanya benda asing di
jalan nafas
d. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan Inflamasi trakeobronkial,
pembentukan oedema, peningkatan produksi sputum, Nyeri pleuritik, Penurunan
energi, kelemahan
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpanjannya informasi
f. Resiko aspirasi
g. PK : syok septik
h. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd metabolic sekunder
terhadap demam dan proses infeksi.
3. Perencanaan keperawatan

No Diagnosa NOC NIC


Keperawatan

1 Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi TTV


Bersihan jalan nafas keperawatan 3x24 jam klien terutama RR tiap 4
tidak efektif diharapkan mampu bernafas jam.
berhubungan dengan dengan normal dengan kriteria
peningkatan hasil : R/: pemantauan
produksi sputum TTV menentukan
Suara nafas bersih , tidak perkembangan
ada suara nafas , RR dalam
batas normal, bunyi nafas klien.
normal dan tidak ada bunyi
nafas tambahan. 2. Jelaskan sesak
nafas pada orang
tua.

R/: Orang tua


mampu mengerti
penyebab sesak agar
tidak ada ansietas.

3. Kaji keadaan
anak, RR, respon
batuk irama dan
frekuensi bernafas

R/ dengan mengkaji
dapat mengetahui
keadaan pasien
sehingga dapat
melakukan tindakan
keperawatan

4.Memberikan
posisi yang nyaman
untuk anak.

R/ : posisi yang
nyaman akan
membuat anak
merasa tenang dan
dapat bernafas
dengan baik

5. Dilakukan
pengisapan lendir
atau suction bila
perlu

R: suction
dilakukan untuk
mengisap sputum
atau lendir yang ada
di dalam rongga
paru-paru yang bisa
dihisap melaui
hidung dan mulut.
Dengan suction
akan dapat
mengurangi
penumpukan sekret.

6. Kolaborasi dalam
pemberian obat
antibiotika dan
kortikosteroid

R/ :antibiotik untuk
mengurangi
perkembangan
kuman dan
kortikosteroid
mengurangi
penumpukan sekret

2 Hipertermi Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi TTV


berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam terutama suhu tiap 4
proses inflamasi diharapkan suhu tubuh normal jam.
36,5-37,5 oc
R/: pemantauan
TTV menentukan
perkembangan
klien.

2. Beritahukan
Orang tua untuk
kompres hangat.

R/: perpindahan
panas secara
konduktif.

3. Longgarkan
pakaian berikan
pakain tipis yang
menyerap keringat.
R : Proses konveksi
akan terhalang oleh
pakaian ketat dan
menyerap keringat.

4. Pantau suhu
lingkungan.

R/ : Suhu ruangan
harus diubah untuk
mempertahankan
suhu.

5. Beri ekstra cairan


( air susu, susu dan
sari buah).

R/ :saat demam
kebutuhan cairan
pada anak
meningkat.

6. Kolaborasi dalam
pemberian
antibiotic dan
antipiretik.

R/ : menurunkan
panas pada anak.

4. Implementasi keperawatan
Tindakan keperawatan dilakukan Sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan
disesuaikan pula dengan situasi dan kondisi yang ada

5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi dilakukan untuk menilai masalah sudah terasi, teratasi sebagian atau belum
teratasi.
DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Richard E.( 2010). Esensi Pediatri Nelson. Ed. 4. Jakarta. EGC

Doenges, Marilynn.(2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakata : EGC.

Saputra Lyndon. Patofisiologi Penyakit. (2014). Tangerang: Binarupa Aksara.

Smeltzer, Suzanne C. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Ed. 8.


Jakarta. EGC