Anda di halaman 1dari 42

DAFTAR MASALAH

No Massalah Tanggal Keterangan No Masalah Tanggal Keterangan


aktif pasif
1 Ca Mammae 17/05/2017 Elektif
Dekstra

1
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. G
Umur : 53 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Berat Badan : 50 kg
Alamat : Semarang
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
Suku : Jawa
Diagnosis pre operasi : Ca Mammae Dekstra
Jenis pembedahan : Ca Mammae Dekstra Post Mstektomi
Jenis anestesi : General anestesi
Tanggal masuk : 12 Mei 2017
Tanggal operasi : 17 Mei 2017
No.Rekam medis : 52-50-xx

II. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama: terdapat benjolan di payudara kanan
2. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien merupakan pasien bedah dengan diagnosis Ca Memmae
dekstra. Pasien mengeluhkan terdapat benjolan pada payudara kanan sejak
1 tahun yang lalu, awalnya benjolan sebesar kelereng yang terletak di
payudara bagian bawah samping, semakin hari benjolan semakin
membesar dan, benjolan tidak dapat digerakkan dari dasar, pasien juga
mengaku jika benjolan dirasa nyeri, awalnya nyeri tidak terlalu
mengganggu pasien, namun semakin lama nyeri dirasakan semakin
memberat. Dari skala 1-10 nyeri dirasakan di skala 7. Nyeri dirasakan
hilanng timbul, pasien mengaku jika nyeri bertambah berat saat
beraktifitas atau kecapekan dan membaik saat istirahat, nyeri dirasa
mengganggu aktifitas pasien. Keluhan seperti sesak nafas, bau mulut,
demam, mual, muntah dan batuk disangkal. Pasien mengaku jika sudah
menjalani kemoterapi sebanyak 3x dan merasa mual dan mutah setelah
kemo. Pasien menyangkal adanya gigi goyang dan pemakaian gigi palsu.
Pasien sudah dipuasakan sebelum dilakukan operasi.

2
3. Riwayat Penyakit Dahulu:
- Riwayat keluhan serupa : disangkal
- Riwayat operasi : disangkal
- Riwayat penggunaan zat anestesi : disangkal
- Riwayat hipertensi : disangkal
- Riwayat diabetes mellitus : disangkal
- Riwayat sakit jantung : disangkal
- Riwayat TB paru : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
4. Riwayat Penyakit Keluarga:
- Riwayat hipertensi : disangkal
- Riwayat diabetes mellitus : disangkal
- Riwayat sakit jantung : disangkal
- Riwayat TB paru : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
5. Riwayat Pribadi:
- Riwayat merokok : disangkal
- Riwayat mengkonsumsi alkohol : disangkal
- Riwayat sering konsumsi micin : diakui

6. Riwayat Sosial Ekonomi:


Pasien adalah seorang ibu rumah tanggal yang tinggal bersama
kedua anak dan suaminya, Biaya pengobatan pasien ditanggung oleh
BPJS. Kesan ekonomi cukup.
III. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : compos mentis
3. Vital sign
- Tekanan darah : 130/88 mmHg
- Nadi : 98 x/menit
- Pernafasan : 22 x/menit
- Suhu : 36,5 C
4. Status gizi
- BB : 50 kg
- TB : 153
- IMT : 21,74 (normoweight)
5. Status generalis
- Kulit : sianosis (-), ikterik (-), kering (-)
- Kepala : normocephal

3
- Mata : conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat
isokor (+/+), refleks cahaya direk (+/+), refleks cahaya
indirek (+/+)
- Telinga : bentuk telinga normal, nyeri tekan preaurikula dan
retroaurikula (-/-), serumen (-/-), discharge (-/-), darah
(-/-), gangguan pendengaran (-/-).
- Hidung : bentuk hidung normal, septum deviasi (-), nafas cuping
hidung (-), secret (-/-), konka nasalis inferior dan media
edema (-/-), nyeri tekan sinus (-/-)
- Mulut : pernapasan mulut (-), bibir kering (-), sianosis (-), lidah
kotor (-), mukosa buccal hiperemis (-), tonsil T1/T1
hiperemis (-), kripte melebar (-), faring hiperemis (-), gigi
karies (-), missing (-)
- Leher : deviasi trakhea (-), pembesaran kelenjar tiroid (-),
pembesaran kelenjar getah bening (-), peningkatan JVP (-)
- Thorax
Paru-paru :
- Inspeksi : bentuk simetris, gerak pernafasan statis dan
dinamis simetris, retraksi sela iga (-)
- Palpasi : fremitus taktil simetris kanan-kiri, tidak teraba
massa
- Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru
- Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
Jantung :
- Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
- Palpasi : ictus cordis tidak teraba
- Perkusi :
Batas jantung kanan : ICS V linea sternalis dextra
Batas jantung kiri : ICS V 1 cm medial linea
midclavicularis sinistra
Pinggang jantung : ICS III linea parasternalis sinistra
Batas jantung atas : ICS II linea parasternalis sinistra
- Auskultasi: bunyi jantung I II murni, bising (-), gallop (-)
- Abdomen :
Inspeksi : perut cembung, supra pubik cembung, simetris, warna
sama dengan sekitar

4
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani seluruh lapang perut, regio supra pubik redup
(+), pekak hepar (+), pekak sisi (+), pekak alih (+)
Palpasi : nyeri tekan(-) , hepar : teraba 2 cm dibawah arcus
costae, tepi lancip, tidak berbenjol, konsistensi kenyal,
lien : tidak teraba, ginjal : tidak teraba.
- Ekstremitas
Superior Inferior
CRT <2 <2
Akral dingin (-/-) (-/-)
Edema (-/-) (-/-)
Massa (-/-) (-/-)
Hiperpigmentasi (-/-) (-/-)
Sianosis (-/-) (-/-)
Pucat (-/-) (-/-)
Pitting udem (-/-) (-/-)

2. Status Lokalis

IV. Status Lokalis


- Regio Mammae Dextra
Inspeksi : Payudara kiri dan kanan asimetris. Tampak benjolan di payudara
kanan pada kuadran caudo lateral, kulit payudara pada benjolan
kemerahan, tampak mengkilat dan tegang, retraksi papilla mammae ke
arah benjolan, tampak ulserasi, tampak tanda radang. Tampak perdarahan
pada ulserasi, tidak ada pus, kulit di sekitar ulserasi berlekuk, tampak
oedem, tidak ada gambaran Peau d Orange
Palpasi : Benjolan dengan diameter 5 cm pada kuadran caudo lateral.
Berbentuk bulat, konsistensi keras, batas tidak jelas, mobile, melekat
terfiksir pada kulit lepas dari dasar dinding dada, tidak ada nyeri tekan.
Dengan pemijitan pada papilla mamae tidak ada keluar cairan.
- Regio Mammae Sinistra

5
Inspeksi : tidak tampak benjolan, warna kulit sama dengan sekitar, tidak
ada retraksi papilla mammae, tidak ada ulserasi
Palpasi : Tidak teraba massa/benjolan.
Regio Aksila Dextra :
Inspeksi : Tidak tampak benjolan dan ulserasi.
Palpasi : Tidak teraba pembesaran kelenjar aksila dan tidak teraba
benjolan.
- Regio Aksila Sinistra :
Inspeksi : Tidak tampak benjolan dan ulserasi.
Palpasi : Tidak teraba pembesaran kelenjar aksila dan tidak teraba
benjolan.
- Regio supraklavikuler dextra dan sinistra
Inspeksi : Tidak tampak benjolan dan ulserasi.
Palpasi : Tidak teraba pembesaran kelenjar aksila dan tidak teraba
benjolan.

6
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium (12-05-2017)
Pemeriksaan Hasil Nilai normal Satuan
Hematologi
Lekosit 7.40 3,8-10,6 103/ul
Eritrosit 4,4 4,4-5,9 106/ul
Hemoglobin 13,30 13,2-17,3 g/dl
Hematokrit 40,80 40-52 %
MCV 80,80 80-100 fL
MCH 27,30 26-34 Pg
MCHC 33,80 32-36 g/dl
Trombosit 331 150-440 103/ul
RDW 13,00 11,5-14,5 %
PLCR 23,8 %
Diff Count
Eosinofil absolute 0,35 0,045-0,44 103/ul
Basofil absolute 0,02 0-0,2 103/ul
Netrofil absolute 4,68 1,8-8 103/ul
Limfosit absolute 4,41 0,9-5,2 103/ul
Monosit absolute 0,28 0,16-1 103/ul
Eosinofil 2,50 2-4 %
Basofil 0,10 0-1 %
Neutrofil 69,60 50-70 %
Limfosit 25,50 25-40 %
Monosit H 12,30 2-8 %

7
Pemeriksaan laboratorium (22 Februari 2017)
Pemeriksaan Hasil Nilai normal Satuan
Glukosa sewaktu 122 <125 mg/dL
SGPT 27 0-35 U/L
SGOT 34 0-35 U/L
Ureum 20,2 10.0-50.0 mg/dL
Kreatinin 0,62 0,60-0,90 mg/dL
Albumin 4.0 3,2-5,2 g/dL

Pemeriksaan Foto Thorax (12-05-2017)


Cor : CTR < 50% letak dan bentuk normal
Pulmo : Corakan vaskuler kasar
Bercak kesuraman (-)
Tak tampak coin lesion
Diafragma : baik
Sinus costophrenicu : kiri : lancip, kanan : tumpul

Kesan : Cor : normal


Pulmo : tak tampak nodul metastase
Reaksi pleura kanan
.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang,
maka:
Diagnosis pre operatif : Ca Mammae Dextra
Diagnosis post operatif : Ca Mammae post Mastektomi
Status operatif : ASA II E
Jenis operasi : MRM
Jenis anestesi : General anestesi

8
LAPORAN ANESTESI

A. Pre Operatif
Informed Consent (+)
Puasa (+) selama 5 jam
Tidak ada gigi goyang atau pemakaian gigi palsu
IV line terpasang dengan transfusi set dengan infus Voluven 500 ml
Keadaan Umum : Tampak baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital
- Tekanan darah : 130/88 mmHg
- Nadi : 98 x/menit
- Pernafasan : 22 x/menit
- Suhu : 36,5 C
A (Allergy) : Tidak ada riwayat alergi obat-obatan, makanan dan
cuaca.
M (Medication) : infus RL 20 tpm, inj., inj.
ceftriaxone 1gr 1x2,
P (Past Illnes) : Riwayat Hipertensi (-), DM (-), asma (-)
L (Last meal) : Penderita puasa mulai jam 11.00 WIB
E (Environment) :-

B. Premedikasi Anestesi
Sebelum dilakukan tindakan anestesi, pasien diberikan
Atropin 0,25 mg/1ml (IV)
Ondancetron 4 mg/2ml (IV)

C. Pemantauan Selama Anestesi


Melakukan monitoring terus menerus tentang keadaan pasien yaitu reaksi
pasien terhadap pemberian obat anestesi khususnya terhadap fungsi
pernapasan dan jantung.
Kardiovaskular : Nadi setiap 5 menit
Tekanan darah setiap 5 menit
Respirasi : Inspeksi pernapasan spontan pada pasien
Saturasi oksigen
Cairan : Monitoring input cairan

D. Monitoring Tindakan Operasi :

9
Jam Tindakan Tekanan Nadi Saturasi
Darah (x/menit) O2 (%)
(mmHg)
08.25 Pasien masuk ke kamar operasi, 130/88 94 99
dan dipindahkan ke meja
operasi
Pemasangan monitoring
tekanan darah, nadi, saturasi O2
Infus Voluven terpasang pada
tangan kanan
Premedikasi : Ondancetron 4
mg/2ml (IV), Atropin 0,25
mg/1ml (IV), Fentanyl 0,1mg/2
ml (IV)
08.30 Obat induksi dimasukkan 84/61 99 99
secara iv:
o Atracurium Besylate 25
mg/2,5 ml
o Propofol 100 mg/10 ml
Kemudian mengecek apakah
refleks bulu mata masih ada
atau sudah hilang.
Jika tidak ada, lalu dilakukan
tindakan face mask dengan
sungkup No.3, dan diberikan:
o O2
o N2O
o Sevofluran 1,5 vol %
08.40 Dilakukan tindakan 89/65 100 99
pemasangan endotracheal tube
No. 6,5 dengan bantuan
laringoskop, pastikan
endotracheal tube masuk ke
paru-paru kanan dan kiri,

10
kemudian fiksasi dan
diberikan:
o O2
o N2O
o Sevofluran 1,5 vol %
Diberikan Dexamethasone 10
mg/2 ml (IV)
08.45 Operasi dimulai 95/63 95 99
Kondisi terkontrol
09.15 Kondisi terkontrol 117/67 97 99
09.45 Kondisi terkontrol 135/70 92 99
Diberikan whole blood 200 cc
Dipasang blood warmer
10/10 Kondisi terkontrol 120/70 91 99
Diberikan Asam tranexamat 500
mg/5 ml (IV), Vitamin C 200
mg/2 ml (IV), Etamsilat 250 mg/2
ml (IV), Phytomenadione 10 mg/1
ml (IV), Tramadol HCl 100 mg/ 2
ml (IV), Ketorolac 30 mg/ 1 ml
(IV)
10.50 Operasi selesai 134/85 89 99
Melakukan ekstubasi
Memasang goedel (oral
airway), dilakukan suction,
dan pelepasan endotracheal
tube
Gas N2O dan sevofluran
dimatikan, dan gas O2
dinaikkan menjadi 5 vol %
(Oksigenisasi) dengan
menggunakan face mask
Pastikan pasien bernafas
spontan
Diberikan Neostigmine-
hameln 1,5 mg/3 ml (IV) dan

11
Atropine 0,25 mg/ 1 ml (IV)
10.55 Pasien dapat membuka mata 131/81 82 99
Gas O2 dihentikan
Pelepasan alat monitoring
(saturasi dan tensimeter).
Pasien dipindahkan ke ruang
recovery room. Selanjutnya
dilakukan pemasangan alat
monitoring di recovery room
Memonitoring keadaan pasien.

08.35 08.50 09.05 09.20 09.35 10.05 10.20 10.35 10.50


Jam 1 2 3 4
180

160

140

120

100

80

60

40

20

12
Keterangan :
: Tekanan darah
: Nadi
E. INTRAOPERATIF (22 Februari 2017)
Tindakan Operasi : Modified Radical Mastectomy
Tindakan Anestesi : General anestesi
Lama Operasi : 140 menit (08.30 10.55)
Lama Anestesi : 90 menit (16.15 17.45)
Jenis Anestesi : General anestesi dengan teknik Semi Close Circuit
System dengan ET No.6,5 menggunakan O2, N2O , dan
Sevofluran 1,5 Vol %
Posisi : Supine
Pernafasan : Spontan
Infus : Voluven pada tangan kanan 500 ml
Premedikasi : Atropin 0,25 mg/1ml (IV)
Ondancetron 4 mg/2ml (IV)
Fentanyl 0,1mg/2 ml (IV)
Induksi : Atracurium Besylate 25 mg/2,5 ml (IV)
Propofol 100 mg/10 ml (IV)
Rumatan : O2
N2O
Sevofluran 1,5 Vol %
Medikasi : Dexamethasone 10 mg/2 ml (IV)
Asam tranexamat 500 mg/5 ml (IV)
Vitamin C 200 mg/2 ml (IV)
Etamsilat 250 mg/2 ml (IV)
Phytomenadione 10 mg/1 ml (IV)
Tramadol HCl 100 mg/ 2 ml (IV)
Ketorolac 30 mg/ 1 ml (IV)
Neostigmine-hameln 1,5 mg/3 ml (IV)
Atropine 0,25 mg/ 1 ml (IV)
Intubasi : Laringoskop blade no 3
Endotracheal Tube No 6,5
Cairan : Cairan Masuk: Voluven 1000 ml, WB 200 cc,
cairan keluar : darah 200 cc ml.

13
F. POST OPERATIF
- Pasien masuk ruang pemulihan dan setelah itu dibawa ke Bangsal Dahlia
1
- Observasi tanda- tanda vital dalam batas normal
Kesadaran : Compos mentis
TD : 126/78 mmHg
Nadi : 94x/menit
RR : 20 x/menit
SpO2 : 99%
- Penilaian pemulihan kesadaran (Aldrette Score Modified)

Variabel Kriteria Skor Skor Pasien


Merah/ normal 2
Warna Kulit Pucat 1 1
Sianosis 0
Gerak empat anggota tubuh 2
Aktivitas Motorik Gerak dua anggota tubuh 1 2
Tidak ada gerak 0
Dapat dalam, batuk dan tangis kuat 2
Pernapasan Napas dangkal dan adekuat 1 2
Napas apneu/ napas tidak adekuat 0
Berbeda 20 mmHg dari pre OP 2
Tekanan Darah Berbeda 20-50 mmHg dari pre OP 1 2
Berbeda 50 mmHg dari pre OP 0
Sadar penuh mudah dipanggil 2
Kesadaran Bangun jika dipanggil 1 1
Tidak ada respon 0
Skor Total 8
9 : Pindah dari unit perawatan pasca anestesi
8 : Dipindahkan ke ruang perawatan bangsal
5 : dipindahkan ke ruang perawatan intensif (ICU)
Pada pasien ini didapatkan nilai aldrete skor 8, pasien dipindahkan ke
ruang perawatan bangsal untuk dilakukan observasi lebih lanjut.

14
Instruksi post operatif dengan general anestesi:
- Pengawasan : TD/ nadi/ RR/ suhu tiap 1/2 jam.
- Program cairan : infus RL 20 tpm.
- Program analgetik : Tramadol 3 x 100 mg drip mulai jam 00.00 WIB.
- Catatan lain:
Post operasi GA
O2 3 liter/ menit
Sadar penuh, mual (-), muntah (-), bising usus (+) latih minum

15
TINJAUAN PUSTAKA

I. ANESTESI UMUM
A. Definisi
Anestesi berasal dari Bahasa Yunani an yang berarti "tidak, tanpa" dan
aesthtos yang berarti "persepsi, kemampuan untuk merasa". Secarea umum,
anestesi merupakan suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika
melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan
rasa sakit pada tubuh. 1,7
Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr
pada tahun 1846. Obat yang digunakan dalam menimbulkan anesthesia
disebut sebagai anestetik, dan kelompok ini dibedakan dalam anestetik umum
dan anestetik lokal. Bergantung pada dalamnya pembiusan, anestetik umum
dapat memberikan efek analgesia yaitu hilangnya sensasi nyeri atau efek
anesthesia yaitu analgesia yang disertai hilangnya kesadaran, sedangkan
anestetik lokal hanya menimbulkan efek analgesia. Anestesi umum bekerja di
Susunan Saraf Pusat, sedangkan anestetik lokal bekerja langsung pada Serabut
Saraf di Perifer. 4
Anestesi umum (General Anesthesia) disebut juga Narkose Umum (NU).
Anastesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan bersifat reversible. Anestesi umum yang sempurna
menghasilkan ketidak sadaran, analgesia, relaksasi otot tanpa menimbulkan
resiko yang tidak diinginkan dari pasien. Dengan anestesi umum akan
diperoleh trias anestesia, yaitu: 5
Hipnotik (tidur)
Analgesia (bebas dari nyeri)
Relaksasi otot (mengurangi ketegangan tonus otot)
Untuk mecapai trias tersebut, dapat digunakan satu jenis obat, misalnya
eter atau dengan memberikan beberapa kombinasi obat yang mempunyai efek
khusus seperti tersebut di atas yaitu obat yang khusus sebagai hipnotik,
analgetik, dan obat pelumpuh otot. Agar anastesi umum dapat berjalan dengan
baik, pertimbangan utamanya adalah memiliki anestetika ideal. Pemilihan ini

16
didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu keadaan penderita, sifat
anastetika, jenis operasi yang dilakukan, dan peralatan serta obat yang
tersedia. Sifat anastetika yang ideal antara lain mudah didapat, murah, tidak
mudah terbakar, stabil, cepat dieliminasi, menghasilkan relaksasi otot yang
baik, kesadaran cepat kembali.1,7
B. Metode anestesi umum
I. Parenteral
Anestesia umum yang diberikan secara parenteral baik intravena
maupun intramuskular biasanya digunakan untuk tindakan yang
singkat atau untuk induksi anestesia.
II. Perektal
Metode ini sering digunakan pada anak, terutama untuk induksi
anestesia maupun tindakan singkat.
III. Perinhalasi
Yaitu menggunakan gas atau cairan anestetika yang mudah menguap
(volatile agent) dan diberikan dengan O2. Konsentrasi zat anestetika
tersebut tergantung dari tekanan parsialnya; zat anestetika disebut kuat
apabila dengan tekanan parsial yang rendah sudah mampu memberikan
anestesia yang adekuat.6
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi anestesi umum
1. Faktor Respirasi
Hal-hal yang mempengaruhi tekanan parsial zat anestetika dalam
alveolus adalah:6
a. Konsentrasi zat anestetika yang diinhalasi; semakin tinggi konsentrasi,
semakin cepat kenaikan tekanan parsial
b. Ventilasi alveolus; semakin tinggi ventilasi, semakin cepat kenaikan
tekanan parsial
2. Faktor Sirkulasi
Saat induksi, konsentrasi zat anestetika dalam darah arterial lebih
besar daripada darah vena. Faktor yang mempengaruhinya adalah:6

17
Perubahan tekanan parsial zat anestetika yang jenuh dalam alveolus
dan darah vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestetika diserap
jaringan dan sebagian kembali melalui vena.
Koefisien partisi darah/gas yaitu rasio konsentrasi zat anestetika dalam
darah terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya dalam keadaan
seimbang.
Aliran darah, yaitu aliran darah paru dan curah jantung.
3. Faktor Jaringan
Perbedaan tekanan parsial obat anestetika antara darah arteri dan
jaringan
Koefisien partisi jaringan/darah
Aliran darah dalam masing-masing 4 kelompok jaringan (jaringan
kaya pembuluh darah/JKPD, kelompok intermediate, lemak, dan
jaringan sedikit pembuluh darah/JSPD)
4. Faktor Zat Anestetika
Potensi dari berbagai macam obat anestetika ditentukan oleh MAC
(Minimal Alveolus Concentration), yaitu konsentrasi terendah zat
anestetika dalam udara alveolus yang mampu mencegah terjadinya
tanggapan (respon) terhadap rangsang rasa sakit. Semakin rendah nilai
MAC, semakin poten zat anestetika tersebut.6
5. Faktor Lain
Ventilasi, semakin besar ventilasi, semakin cepat pendalaman anestesi
Curah jantung, semakin tinggi curah jantung, semakin lambat induksi
dan pendalaman anestesia
Suhu, semakin turun suhu, semakin larut zat anestesia sehingga
pendalaman anestesia semakin cepat.6
D. Stadium Anestesi
Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter dalam 4 stadium yaitu: 6
a. Stadium I
Stadium I (analgesi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai
hilangnya kesadaran. Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti

18
perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit). Tindakan
pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar dapat
dilakukan pada stadium ini
b. Stadium II
Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi) dimulai dari hilangnya
kesadaran dan refleks bulu mata sampai pernapasan kembali teratur.
c. Stadium III
Stadium III (pembedahan) dimulai dengan tcraturnya pernapasan
sampai pernapasan spontan hilang. Stadium III dibagi menjadi 4 plana
yaitu:
Plana 1 : Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut seimbang,
terjadi gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak, pupil
midriasis, refleks cahaya ada, lakrimasi meningkat, refleks
faring dan muntah tidak ada, dan belum tercapai relaksasi otot
lurik yang sempurna. (tonus otot mulai menurun).
Plana 2 : Pernapasan teratur, spontan, perut-dada, volume tidak
menurun, frekuensi meningkat, bola mata tidak bergerak,
terfiksasi di tengah, pupil midriasis, refleks cahaya mulai
menurun, relaksasi otot sedang, dan refleks laring hilang
sehingga dikerjakan intubasi.
Plana 3 : Pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal
mulai paralisis, lakrimasi tidak ada, pupil midriasis dan sentral,
refleks laring dan peritoneum tidak ada, relaksasi otot lurik
hampir sempuma (tonus otot semakin menurun).
Plana 4 : Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot
interkostal paralisis total, pupil sangat midriasis, refleks cahaya
hilang, refleks sfmgter ani dan kelenjar air mata tidak ada,
relaksasi otot lurik sempuma (tonus otot sangat menurun).
d. Stadium IV
Stadium IV (paralisis medula oblongata) dimulai dengan melemahnya
pernapasan perut dibanding stadium III plana 4. pada stadium ini
tekanan darah tak dapat diukur, denyut jantung berhenti, dan akhirnya
terjadi kematian. Kelumpuhan pernapasan pada stadium ini tidak dapat
diatasi dengan pernapasan buatan.

19
E. Keuntungan anestesi umum :
Mengurangi kesadaran pasien intraoperative
Memungkinkan relaksasi otot yang tepat untuk jangka waktu yang
lama
Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas, pernapasan, dan
sirkulasi
Dapat digunakan dalam kasus sensitivitas terhadap agen anestesi lokal
Dapat disesuaikan dengan mudah untuk prosedur durasi tak terduga
Dapat diberikan dengan cepa
Dapat diberikan pada pasien dalam posisi terlentang
F. Kekurangan anestesi umum :
Memerlukan beberapa derajat persiapan pra operasi pasien
Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual atau
muntah, sakit tenggorokan, sakit kepala, menggigil, dan memerlukan
masa untuk fungsi mental yang normal
Terkait dengan hipertermia di mana paparan beberapa (tetapi tidak
semua) agen anestesi umum menyebabkan kenaikan suhu akut dan
berpotensi mematikan, hiperkarbia, asidosis metabolik, dan
hiperkalemia.
G. Indikasi anestesi umum :
Infant dan anak usia muda
Dewasa yang memilih anestesi umum
Pembedahan luas
Penderita sakit mental
Pembedahan lama
Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan
Riwayat penderita toksik/alergi obat anestesi lokal
Penderita dengan pengobatan antikoagulan
H. Komplikasi Anestesi Umum
1. Komplikasi Kardiovaskular
Hipotensi : tekanan sistol kurang dari 70 mmHg atau turun 25% dari
sebelumnya.
Hipertensi : umumnya tekanan darah dapat meningkat pada periode
induksi dan pemulihan anestesia. Komplikasi ini dapat
membahayakan khususnya pada penyakit jantung, karena jantung
akan bekerja keras dengan kebutuhan O2 miokard yang meningkat,

20
bila tak tercukupi dapat timbul iskemia atau infark miokard. Namun
bila hipertensi karena tidak adekuat dapat dihilangkan dengan
menambah dosis anestetika.
Aritmia Jantung : anestesi ringan yang disertai maniplasi operasi
dapat merangsang saraf simpatiks, dapat menyebabkan aritmia.
Bradikardia yang terjadi dapat diobati dengan atropin
Gagal Jantung : mungkin terjadi bila pasien mendapat cairan IV
berlebihan.
2. Komplikasi Respirasi
Obstruksi jalan nafas
Batuk
Cekukan (hiccup)
Intubasi endobronkial
Apnoe
Atelektasis
Pneumotoraks
Muntah dan regurgitas
3. Komplikasi Mata
Laserasi kornea, menekan bola mata terlalu kuat
4. Komplikasi Neurologi
Konvulsi, terlambat sadar, cedera saraf tepi (perifer)
5. Perubahan Cairan Tubuh
Hipovolemia, Hipervolemia
6. Komplikasi Lain-Lain
Menggigil, gelisah setelah anestesi, mimpi buruk, sadar selama operasi,
kenaikan suhu tubuh.7

II. PROSEDUR ANESTESI UMUM


A. Persiapan pra anestesi umum
Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan baik elektif maupun
darurat harus dipersiapkan dengan baik karena keberhasilan anestesi dan
pembedahan sangat dipengaruhi oleh persiapan pra anestesi. Kunjungan pra
anestesi pada bedah elektif umumnya dilakukan 1-2 hari sebelumnya,
sedangkan pada bedah darurat waktu yang tersedia lebih singkat.6
Tujuan kunjungan pra anestesi:

21
Mempersiapkan mental dan fisik pasien secara optimal dengan
melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan
pemeriksaan lain.
Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai
keadaan fisik dan kehendak pasien. Dengan demikian, komplikasi
yang mungkin terjadi dapat ditekan seminimal mungkin.
Menentukan klasifikasi yang sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik,
dalam hal ini dipakai klasifikasi ASA (American Society of
Anesthesiology) sebagai gambaran prognosis pasien secara umum.
B. Persiapan pasien
a. Anamnesis
Anamnesis dapat diperoleh dari pasien sendiri (autoanamnesis) atau
melalui keluarga pasien (alloanamnesis). Dengan cara ini kita dapat
mengadakan pendekatan psikologis serta berkenalan dengan pasien.
Yang harus diperhatikan pada anamnesis:
Identifikasi pasien, missal: nama, umur, alamat, pekerjaan, dll.
Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang mungkin
dapat menjadi penyulit dalam anestesi, antara lain: penyakit alergi,
diabetes mellitus, penyakit paru-paru kronik (asma bronchial,
pneumonia, bronchitis), penyakit jantung dan hipertensi (infark
miokard, angina pectoris, dekompensasi kordis), penyakit hati, dan
penyakit ginjal.
Riwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan dan mungkin
menimbulkan interaksi dengan obat-obat anestetik. Misalnya
kortikosteroid, obat antihipertensi, obat-obat antidiabetik,
antibiotika golongan aminoglikosida, obat penyakit jantung seperti
digitalis, diuretika, obat anti alergi, tranquilizer, monoamino
oxidase inhibitor, bronkodilator.
Riwayat operasi dan anestesi yang pernah dialami diwaktu yang
lalu, berapa kali, dan selang waktunya. Apakah pasien mengalami
komplikasi saat itu seperti kesulitan pulih sadar, perawatan intensif
pasca bedah.

22
Kebiasaan buruk sehari-hari yang mungkin dapat mempengaruhi
jalannya anestesi seperti: merokok dan alkohol.1,7
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pemeriksaan keadaan gigi-geligi,
tindakan buka mulut, lidah relative besar sangat penting untuk diketahui
apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. Leher pendek
dan kaku juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi.
Pemeriksaan rutin lain secara sistematik tentang keadaan umum tentu
tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
semua sistem organ tubuh pasien.1,7
c. Pemeriksaan laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan
dugaan penyakit yang sedang dicurigai. Banyak fasilitas kesehatan yang
mengharuskan uji laboratorium secara rutin walaupun pada pasien sehat
untuk bedah minor, misalnya pemeriksaan darah kecil (Hb, lekosit, masa
perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada usia pasien di atas
50 tahun ada anjuran pemeriksaan EKG dan foto toraks. Praktek-praktek
semacam ini harus dikaji ulang mengingat biaya yang harus dikeluarkan
dan manfaat minimal uji-uji semacam ini.
Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
laboratorium, selanjutnya dibuat rencana mengenai obat dan teknik
anestesi yang akan digunakan. Misalnya pada diabetes mellitus, induksi
tidak menggunakan ketamin yang dapat menimbulkan hiperglikemia. Pada
penyakit paru kronik, mungkin operasi lebih baik dilakukan dengan teknik
analgesia regional daripada anestesi umum mengingat kemungkinan
komplikasi paru pasca bedah. Dengan perencanaan anestesi yang tepat,
kemungkinan terjadinya komplikasi sewaktu pembedahan dan pasca bedah
dapat dihindari. 1,7
d. Kebugaran untuk anestesi

23
Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk
menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi
cito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.7
e. Masukan oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anesthesia. Regurgitasi isi
lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko
utama pada pasien-pasien yang menjalani anesthesia. Untuk
meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk
operasi elektif dengan anestesia harus dipantangkan dari masukan oral
(puasa) selama periode tertentu sebelum induksi anestesia. Pada pasien
dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam dan pada bayi 3-4
jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi
anesthesia. Minuman bening, air putih, the manis sampai 3 jam dan untuk
keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam
sebelum induksi anesthesia.7
f. Klasifikasi status fisik
Skor ASA
ASA (American Society of Anaesthesiologist) adalah klasifikasi
yang lazim digunakan untuk menilai status fisik pasien pra-anestesi.
Klasifikasi ini berasal dari The American Society of Anesthesiologist
yang terdiri dari:6
Kelas Status fisik Contoh
I Pasien normal yang sehat Pasien bugar dengan
hernia inguinal
II Pasien dengan penyakit sistemik Hipertensi esensial,
ringan diabetes ringan
III Pasien dengan penyakit sistemik Angina, insufisiensi
berat yang tidak melemahkan pulmoner sedang
(incapacitating) sampai berat
IV Pasien dengan penyakit sistemik Penyakit paru
yang melemahkan dan merupakan stadium lanjut, gagal
ancaman konstan terhadap jantung
kehidupan

24
V Pasien sekarat yang diperkirakan Ruptur aneurisma
tidak bertahan selama 24 jam aorta, emboli paru
dengan atau tanpa operasi massif
E Kasus-ksus emergensi diberi
tambahan hurup E ke angka.
Tabel 1. Klasifikasi ASA dari status fisik
1. Premedikasi
Golongan antikolinergik
Sulfas Atropin
Premedikasi
Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah, antimual dan
muntah, melemaskan tonus otot polos organ organ dan menurunkan
spasme gastrointestinal. Dosis dewasa 0,01 mg/ kgBB IM bekerja
setelah 10 15 menit.
Mekanisme kerja
Menghambat aksi asetilkolin pada bagian parasimpatik otot halus,
kelenjar sekresi dan SSP, menurunkan tonus vagal, meningkatkan
output jantung, memperbaiki sistim konduksi Atrioventrikuler,
mengeringkan sekresi, mengantagonis histamin dan serotonin.
Indikasi
Asistole atau PEA lambat (kelas II B), bradikardi (kelas II A) selain AV
blok derajat II tipe 2 atau derajat III (hati-hati pemberian atropine pada
bradikardi dengan iskemi atau infark miokard), keracunan organopospat
(atropinisasi), meringankan gejala gangguan pada gastrointestinal yang
ditandai dengan spasme otot polos (antispasmodic), mydriasis dan
cyclopedia pada mata, premedikasi untuk mengeringkan sekret
bronchus dan saliva yang bertambah pada intubasi dan anestesia
inhalasi, mengembalikan bradikardi yang berlebihan, bersama dengan
neostigmin untuk mengembalikan penghambatan non-depolarising
neuromuscular.
Kontraindikasi
Bradikardi dengan irama EKG AV blok derajat II tipe 2 atau derajat III,
antimuscarinic kontraindikasi pada angle-closure glaucoma (glaukoma
sudut sempit), myasthenia gravis ( tetapi dapat digunakan untuk

25
menurunkan efek samping muskarinik dari antikolinesterase), paralytic
ileus, pyloric stenosis, pembesaran prostat.
Efek samping obat
Efek samping antimuskarinik termasuk kontipasi, transient (sementara)
bradycardia (diikuti dengan takikardi, palpitasi, dan aritmia), penurunan
sekret bronkial, retensi urin, dilatasi pupil dengan kehilangan
akomodasi , fotophobia, mulut kering; kulit kering dan kemerahan.
Efek samping yang terjadi kadang-kadang : kebingungan (biasanya
pada usia lanjut) , mual, muntah dan pusing.
Dosis
Dosis 1 mg IV bolus dapat diulang dalam 3-5 menit sampai dosis total
0,03-0,04 mg/kg BB, untuk bradikardi 0,5 mg IV bolus setiap 3-5 menit
maksimal 3 mg. Dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan
dosis 22,5 kali dosis intra vena diencerkan menjadi 10 cc

Golongan antiemetik
Ondansetron
Mekanisme kerja
Ondansetron adalah suatu antagonis reseptor 5HT3 yang bekerja secara
selektif dan kompetitif dalam mencegah maupun mengatasi mual dan
muntah akibat pengobatan dengan sitostatika dan radioterapi.
Indikasi
Mual dan muntah akibat kemoterapi dan radioterapi, pencegahan mual
dan muntah pasca operasi.
Kontraindikasi
Hipersensitivitas, sindroma perpanjangan interval QT bawaan.
Efek samping obat
Sangat umum: sakit kepala; umum: sensasi hangat atau kemerahan,
konstipasi, reaksi lokasi injeksi, tidak umum: kejang, gangguan gerakan
(termasuk reaksi ekstrap iramidal seperti reaksi distoni, oculogyric
crisis, diskinesia), aritmia, nyeri dada dengan atau tanpa depresi segmen
ST, bradikardi, cegukan, peningkatan uji fungsi hati tanpa gejala;

26
jarang: reaksi hipersensitivitas yang terjadi segera dan kadang berat
termasuk anafilaksis, pusing saat pemberian intravena secara cepat,
gangguan penglihatan sepintas (pandangan kabur) setelah mendapat
obat intravena; sangat jarang: kebutaan sementara selama pemberian
intravena.
Dosis
Pencegahan mual dan muntah setelah pembedahan: oral: 8 mg 1 jam
sebelum anestesi diikuti dengan 8 mg interval 4 jam untuk 2 dosis
berikutnya atau injeksi injeksi intravena lambat atau intramuskular 4
mg induksi pada anestesi, pengobatan mual dan muntah setelah
pembedahan: injeksi intramuskular atau intravena lambat: 4 mg dosis
tunggal sewaktu induksi anestesi
Golongan opoid sintetik
Fentanyl
Mekanisme kerja
Fentanyl mengikat reseptor protein G yang akan menginhibisi
neurotransmitter nyeri dengan mengurangi level Ca2+ di intraseluler.
Indikasi
Suplemen analgesik narkotik pada anestesi regional atau general.
Kontraindikasi
Depresi pernapasan. Cedera kepala. Alkoholisme akut. Serangan asma
akut. Intoleransi. Hamil, laktasi.
Efek samping obat
Depresi nafas, kekakuan otot, hipotensi, bradikardia, laringospasme,
mual & muntah. Menggigil, tidak bisa istirahat, halusinasi pasca op,
gejala ekstrapiramidal bila digunakan dengan trankuilizer seperti
droperidol. Pergerakan mioklonik, pusing, apnea, reaksi alergi.
Dosis
Premedikasi 100 mcg IM 30-60 mnt sblm op. Tambahan pada anestesi
regional 50-100 mcg IM/IV lambat selama 1-2 mnt bila tambahan

27
analgesia diperlukan. Pasca op (ruang pemulihan) 50-100 mcg IM,
dapat diulangi dalam 1-2 jam bila perlu. Sbg analgesik tambahan
terhadap anestesi umum: Dosis rendah: 2 mcg/kg BB, Dosis sedang: 2-
20 mcg/kg BB; Dosis tinggi: 20-50 mcg/kg BB. Sbg zat anestesi: 50-
100 mcg/kg BB.
2. Induksi
Propofol (diprifan, rekofol)
Mekanisme kerja
Kinerja hipnosis propofol adalah dengan potensiasi -aminobutiric acid
(GABA)-induced chloride current, dengan berikatan pada subunit dari
reseptor GABAA. Subunit 1 (M286), 2 (M286), 3 (M286) pada
domain transmembran merupakan area kritis aksi hipnotik propofol.
Melalui mekanisme pada reseptor GABAA di hippocampus, propofol
menghambat pelepasan acethylcholine pada hippocampus dan kortek
prefrontal. Aksi ini sangat penting untuk efek sedasi propofol. Propofol
disebutkan juga menghambat reseptor glutamate subtype N-methyl-D-
aspartate (NMDA) melalui mekanisme modulasi sodium channel.
Propofol juga mendepresi neuron kornu posterior medulla spinalis
melalui reseptor GABAA dan glysine.
Indikasi
Propofol digunakan untuk induksi anestesi dan dukungan lanjut anestesi
umum. Obat yang diresepkan sebagai obat penenang obat untuk
melakukan berbagai prosedur bedah diagnostik dan serta dalam
perawatan intensif dan ventilator (ventilasi mekanik).
Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap propofol atau bahan lain dari formulasi;
kehamilan , kecuali untuk operasi pengakhiran (jika diindikasikan); usia
1 bulan; usia hingga 16 tahun (sebagai agen untuk perawatan intensif
dan ventilasi mekanik ).
Efek samping obat

28
Selama induksi anestesi mungkin: pendek apnea , pengembangan
bradikardia, menurunkan tekanan darah. Reaksi lokal sering terjadi
trombosis dan flebitis. Cukup jarang mengamati reaksi berikut:
opisthotonus , kram , edema paru .Selama keluar anestesi mungkin
mual , sakit kepala , muntah .Dalam beberapa kasus mengalami demam
pasca operasi .melaporkan kasus terisolasi dari bronkospasme,
angioedema , rasa malu seksual dan eritema. Pada dosis lebih dari 4
mg / kg / h tercatat beberapa kasus pembentukan rhabdomyolysis .
Dosis
Induksi : 2,0 sampai 2.5 mg/kg IV, sedasi : 25 to 75 g/kg/min dengan
I.V infuse, dosis pemeliharaan pada anastesi umum : 100 150
g/kg/min IV (titrate to effect).
Atracurium besylate
Mekanisme kerja
Atracurium merupakan neuromuscular blocking agent yang sangat
selektif dan kompetitif (non-depolarising) dengan lama kerja sedang.
Non-depolarising agent bekerja antagonis terhadap neurotransmitter
asetilkolin melalui ikatan reseptor site pada motor-end-plate.
Atracurium dapat digunakan pada berbagai tindakan bedah dan untuk
memfasilitasi ventilasi terkendali. Atracurium tidak mempunyai efek
langsung terhadap tekanan intraocular, dan karena itu dapat digunakan
pada bedah opthalmik.
Indikasi
Sebagai adjuvant terhadap anestesi umum agar intubasi trakea dapat
dilakukan dan untuk relaksasi otot rangka selama proses pembedahan
atau ventilasi terkendali, serta untuk memfasilitasi ventilasi mekanik
pada pasien Intensive Care Unit (ICU).
Kontraindikasi
Penderita yang hipersensitif terhadap obat ini.
Efek samping obat

29
Bronkhospasme, takhikardia, muka kemerahan, reaksi kulit, dan reaksi
alergika
Dosis
Diawali dengan 0,4-0,5 mg/kg berat badan sebagai injeksi bolus
intravena (IV). Selama prosedur pembedahan jangka panjang :
pemeliharaan : 0,08-0,1 mg/kg berat badan sebagai injeksi IV
intermiten. Akan memberikan relaksasi yang memadai selama 15-35
menit. Intubasi endotrakea biasanya sudah dapat dilakukan dalam 90
detik setelah injeksi intravena 0,5-0,6 mg/kg.
Blokade penuh dapat diperpanjang dengan dosis tambahan sebesar
0,1-0,2 mg/kg sesuai kebutuhan. Pemberian dosis tambahan secara
berturut-turut tidak meningkatkan akumulasi efek blokade
neuromuskuler. Pemulihan spontan sejak akhir blokade penuh terjadi
dalam waktu sekitar 35 menit diukur dari respon pemulihan tetanik
sebesar 95% fungsi neuromuscular normal.
3. Obat anestetik inhalasi
Nitrogen Oksida (N2O)
Gas yang berbau, berpotensi rendah (MAC 104%), tidak mudah
terbakar dan relatif tidak larut dalam darah.
Efek:
Analgesik sangat kuat setara morfin
Hipnotik sangat lemah
Tidak ada sifa relaksasi sama sekali
Pemberian anestesia dengan N2O harus disertai O2 minimal 25%.
Bila murni N2O = depresi dan dilatasi jantung serta merusak SSP
Jarang digunakan sendirian tetapi dikombinasi dengan salah satu cairan
anestetik lain seperti halotan dan sebagainya.
Sevofluran
Mekanisme kerja

30
Koefisian partisi darah / gas pada 37 C adalah 0,59, kelarutan yang
menengah dalam darah ini menimbulkan induksi anestesia yang cepat.
Sevoflurane kurang bersifat iritan terhadap saluran pernafasan bagian atas
dibanding desfluran, pada induksi menyebabkan lebih sedikit batuk dan
laringospasme. Setelah pemberian 30 menit, ratio konsentrasi alveolar
terhadap konsentrasi yang diinspirasi adalah 0,85 dibandingkan dengan
0,99 untuk oksida nitrosa dan 0,73 untuk isoflurane.
Indikasi
Digunakan untuk induksi dan maintenance pada anestesi umum.
Kontraindikasi
Pasien yang diketahui sensitive terhadap sevoflurane, pasien yang
diketahui atau dicurigai secara genetik mudah menderita demam yang
hebat ( malignant hipertrofi ), pasien dengan hipovolemia yang berat dan
pasien dengan hipertensi intracranial
Efek samping obat
Dapat menimbulkan depresi system cardiovaskuler dan respirasi seperti
obat-obatan anestesi halogen yang lain. Menimbulkan rasa mual dan
muntah pada masa pasca bedah/anestesi sama seperti obat anestesi inhalasi
lain. Pada anak-anak sering terjadi hypotensi. Pada orang tua dapat terjadi
hypotensi dan bradikardi. Dapat terjadi tetapi jarang: somnolen,
menggigil, rasa pusing, bradikardi, salivasi meningkat, gangguan respirasi,
hypertensi tachycardia, laringismus, demam, sakit kepala, hypothermia.
Dosis
Dosis untuk induksi
Sevoflurane dapat diberikan pada anak atau orang dewasa dengan
dosis disesuakan dengan individu pasien Baik dari segi umur maupun
status fisik pasien,alternatif lain bisa dengan pemberian obat barbiturat
yang bekerja cepat atau obat intravena lain kemudian dilanjutkan dengan
inhalasi sevoflurane,jika induksi langsung diberikan dengan sevoflurane
maka dapat dilakukan dengan campuran oxygen saja atau dengan
campuran oxygen dan N2O, pada pasien dewasa yang diberi sevoflurane

31
sampai 5% akan masuk pada stadium bedah dalam waktu 2 menit, sedang
pada anak anak sevoflurane dengan konsentrasi 7% akan masuk ke
stadium bedah dalam waktu kurang dari 2 menit sedangkan pasien yang
tidak mendapat premedikasi dapat diberikan sevoflurane untuk induksi
sampai 8 %.
Dosis untuk maintenance
Setelah dicapai stadium bedah konsentrasi sevoflurane diturunkan
untuk mempertahankan stadium anestesi,dengan konsentrasi antara 0,5
3,00 % dalam oxygen dan N2O.
4. Medikasi
Dexamethason
Mekanisme kerja
Deksamethasone adalah glukokortikoid sintetik dengan aktivitas
imunosupresan dan anti-inflamasi. Sebagai imunosupresan
Deksamethasone bekerja dengan menurunkan respon imun tubuh
terhadap stimulasi rangsang. Aktivitas anti-inflamasi Deksamethasone
dengan jalan menekan atau mencegah respon jaringan terhadap proses
inflamasi dan menghambat akumulasi sel yang mengalami inflamasi,
termasuk makrofag dan leukosit pada tempat inflamasi.
Indikasi
o Deksamethasone digunakan sebagai imunosupresan/ antialergi,
anti-inflamasi pada keadaan-keadaan yang memerlukan terapi
dengan glukokortikoid : Reaksi alergi, seperti asma bronkial,
dermatitis atopik, alergi obat, rinitis alergi.
o Gangguan kolagen, seperti reumatik, karditis akut, lupus
eritematosus sistemik.
o Reumatik, seperti rematoid arthritis, ankilosing spondilitis, arthritis
gout akut. Gangguan dermatologik, seperti eksim, neurodermatitis,
pemfigus.

32
o Alergi dan inflamasi akut dan kronik pada mata, seperti
konjungtivitis, keratitis, neuritis optik.
o Gangguan pernafasan, seperti gejala-gejala sarkoidosis,
pneumonitis. Gangguan hematologik, seperti trombositopenia,
eritoblastopenia.
o Gangguan neoplastik, seperti leukemia, limfoma.
o Gangguan gastrointestinal, seperti kolitis, enteritis.
o Edema serebral.
Kontraindikasi
o Dexamethasone tidak boleh diberikan pada penderita herpes
simplex pada mata; tuberkulose aktif, peptio ulcer aktif atau
psikosis kecuali dapat menguntungkan penderita.
o Jangan diberikan pada wanita hamil karena akan terjadi
hypoadrenalism pada bayi yang dikandungnya atau diberikan
dengan dosis yang serendah-rendahnya.
Efek samping obat
o Pengobatan yang berkepanjangan dapat mengakibatkan efek
katabolik steroid seperti kehabisan protein, osteoporosis dan
penghambatan pertumbuhan anak.
o Penimbunan garam, air dan kehilangan potassium jarang terjadi
bila dibandingkan dengan beberapa glucocorticoid lainnya.
o Penambahan nafsu makan dan berat badan lebih sering terjadi.
Dosis
o Dewasa : 0,5 mg 10 mg per hari.
o Anak-anak : 0,08 mg 0,3 mg/kg berat badan per hari dibagi dalam
3 atau 4 dosis.
Tramadol HCl
Mekanisme kerja
Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat.
Tramadol mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem syaraf

33
pusat sehingga memblok sensasi rasa nyeri dan respon terhadap nyeri.
Disamping itu tramadol menghambat pelepasan neurotransmitter dari
syaraf aferen yang sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri
terhambat.
Indikasi
Untuk mengobati dan mencegah nyeri yang sedang hingga berat, seperti
nyeri akut dan kronik yang berat dan nyeri pasca bedah.
Kontraindikasi
Pasien dengan hipersensitivitas,depresi napas akut,peningkatan tekanan
kranial atau cedera kepala. Keracunan akut oleh alkohol, hipnotik,
analgesik atau obat-obat yang mempengaruhi SSP lainnya. Penderita
yang mendapat pengobatan penghambat monoamin oksidase (MAO).
Penderita yang hipersensitif terhadap tramadol.
Efek samping obat
Sistem saraf : pusing, vertigo (paling sering terjadi, > 26% pasien),
stimulasi SSP: anxietas, agitasi, tremor, gangguan, koordinasi,
gangguan tidur, eforia dll (>7% pasien), Pencernaan : konstipasi, mual
(>24% pasien), muntah (>9% pasien), nyeri perut, anore
Dosis
Dosis umum:
Dosis tunggal 50 mg. Dosis tersebut biasanya cukup untuk
meredakan nyeri, apabila masih terasa nyeri dapat ditambahkan 50 mg
setelah selang waktu 30-60 menit.
Dosis maksimum:
400 mg sehari. Dosis sangat tergantung pada intensitas rasa nyeri
yang diderita. Penderita gangguan hati dan ginjal dengan "creatinine
clearances" <30 ml/menit: 50-100 mg setiap 12 jam, maksimum 200
mg sehari.
Asam Tranexamat
Mekanisme kerja

34
Asam traneksamat bekerja dengan cara memblok ikatan plasminogen
dan plasmin terhadap fibrin ; inhibisi terhadap plasmin ini sangat
terbatas pada tingkat tertentu. Asam traneksamat secara kompetitif
menghambat aktivasi plasminogen (melalui mengikat domain kringle),
sehingga mengurangi konversi plasminogen menjadi plasmin
(fibrinolisin), enzim yang mendegradasi pembekuan fibrin, fibrinogen,
dan protein plasma lainnya, termasuk faktor-faktor prokoagulan V dan
VIII. Asam traneksamat juga langsung menghambat aktivitas plasmin,
tetapi dosis yang lebih tinggi diperlukan daripada yang dibutuhkan
untuk mengurangi pembentukan plasmin.
Indikasi
Asam traneksamat adalah obat antifibrinolitik yang menghambat
pemutusan benang fibrin. Asam traneksamat digunakan untuk
profilaksis dan pengobatan pendarahan yang disebabkan fibrinolysis
yang berlebihan dan angiodema hereditas.
Untuk digunakan pada pasien dengan hemofilia untuk penggunaan
jangka pendek (2-8 hari) untuk mengurangi atau mencegah perdarahan
dan mengurangi kebutuhan untuk terapi penggantian selama dan setelah
pencabutan gigi. Hal ini juga dapat digunakan untuk perdarahan yang
berlebihan dalam kasus menstruasi, operasi, atau trauma.
Kontraindikasi
Pasien tromboembolik.
Efek samping obat
Mual, muntah, diare, pusing dan rash.
Dosis
Dosis injeksi intravena perlahan : 0.5 -1 g (atau 10 mg/kg) 3 kali
sehari.
Dosis infus kontinyu : 25-50 mg/kg setiap hari.
Dosis anak : 25 kg/mg melalui oral atau 10 mg/kg melalui intra vena
setiap 2 atau 3 kali sehari.

35
Vitamin C
Mekanisme kerja
Mekanisme Aksi Tidak dimengerti dengan jelas; dibutuhkan untuk
pembentukan kolagen dan perbaikan jaringan; terlibat dalam beberapa
reaksi oksidasi-reduksi seperti jalur metabolik lain, seperti sintesis
karnitin, steroid, dan katekolamin dan konversi asam folat menjadi
asam folinik.
Indikasi
Vitamin C di indikasikan untuk pencegahan dan pengobatan scurvy.
Vitamin C digunakan untuk berbagai penyakit yang tidak ada
hubungannya dengan defisiensi vitamin C. Karena sifat reduktornya
vit.C digunakan untuk mengatasi methemoglobinemia idiopatik,
meskipun kurang efektif dibandingkan biru metilen. Dosis yang
dianjurkan minimal 150 mg.
Kontraindikasi
Vitamin C megadosis yang dipakai bersama-sama aspirin atau
sulfonamide dapat mengakibatkan pembentukan kristal dalam urin
(kristaluria). Vitamin C dalam dosis berlebihan dapat menimbulkan
hasil yang negatif palsu dari pemeriksaan occult blood dalam feses dan
positif palsu dari pemeriksaan gula dalam urin jika memakai metode
Clinitest. Jika dosis besar dari megativamin dihentikan, penurunan
dosis yang bertahap perlu dilakukan untuk mencegah defisiensi vitamin.
Efek samping obat
Vitamin C dengan dosis lebih dari 1g/hari dapat menyebabkan diare,
meningkatkan bahaya terbantuknya batu ginjal. Penggunaan kronik
dosis besar menyebabkan ketergantungan, dimana penurunan mendadak
kadar vitamin C dapat menimbulkan rebound scurvy. Vitamin C mega
dosis parenteral dapat menyebabkan oksalosis yang meluas, aritmia
jantung dan kerusakan ginjal berat
Dosis

36
Vitamin C 60 90 mg/hari.
Etamsilat
Mekanisme kerja
Memperbaiki adhesi trombosit yang abnormal.
Indikasi
Perdarahan efusi (pencegahan dan pengobatan pada bedah umum,
bedah saraf, THT, mata, dan rongga mulut), pengobatan internal
(perdarahan pada pencernaan, mimisan) dan kandungan, pengobatan
kerapuhan pembuluh kapiler.
Kontraindikasi
Porfiria.
Efek samping obat
Mual, sakit kepala, kemerahan pada kulit, penurunan tekanan darah
yang bersifat sementara setelah pemberian melalui intravena.
Dosis
Oral, pengobatan jangka pendek kehilangan darah pada menoragia, 500
mg 4 kali sehari selama menstruasi Injeksi intramuskuler atau
intravena, profilaksis dan pengobatan pendarahan periventrikel pada
bayi bobot lahir rendah, 12,5 mg/kg bb setiap 6 jam.
Phytomenadion
Mekanisme kerja
Berguna untuk meningkatkan biosintesis beberapa faktor
pembekuan darah yaitu protrombin, faktor VII (prokonvertin),
farktor IX (faktor Christmas) dan faktor X (faktor Stuart) yang
berlangsung di hati.
Indikasi
Penyakit kardiovaskuler, pengedapan kolesterol dalam arteri,
thrombosis, stroke, gangguan kesuburan, kelelahan,
kelemahan otot, memperlambat proses penuaan.
Kontraindikasi

37
Vitamin K peranteral harus diberikan dengan kewaspadaan
pada bayi dengan bayi berat kurang dari 2,5 kg karena
peningkatan resiko kernikterus.
Efek samping obat
Vitamin K oral secara umum ditoleransi baik tetapi mungkin
menyebabkan mual, sakit kepala, atau flushing. Pada gagal
hati fungsi hati akan terus terdepresi.
Dosis
o Dosis anak-anak: 1-3 tahun : 30 mcg/hari, 4-8 tahun: 55mcg/hari,
9-13 tahun: 60mcg/hari, 14-18 tahun: 75mcg/hari
o Dosis dewasa pada pria : 120 mcg/ hari, Dosis dewasa pada
wanita : 90 mcg/hari
o Dosis melalui injeksi : 1 mg/dosis/ hari, dosis lebih tinggi
diperlukan jika ibu sudah menerima antikoagulan oral
o Sediaannya Tablet salut 10 mg, injeksi 10 mg/ml dalam ampul
dalam 1 ml.
Ketorolac
Mekanisme kerja
Ketorolac tromethamine merupakan suatu analgesik non-narkotik. Obat
ini merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang menunjukkan
aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi. Ketorolac
tromethamine menghambat sintesis prostaglandin dan dapat dianggap
sebagai analgesik yang bekerja perifer karena tidak mempunyai efek
terhadap reseptor opiat.
Indikasi
Ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap
nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur bedah. Durasi total
Ketorolac tidak boleh lebih dari lima hari. Ketorolac secara parenteral
dianjurkan diberikan segera setelah operasi. Harus diganti ke analgesik
alternatif sesegera mungkin, asalkan terapi Ketorolac tidak melebihi 5
hari. Ketorolac tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai obat prabedah

38
obstetri atau untuk analgesia obstetri karena belum diadakan penelitian
yang adekuat mengenai hal ini dan karena diketahui mempunyai efek
menghambat biosintesis prostaglandin atau kontraksi rahim dan
sirkulasi fetus.
Kontraindikasi
o Pasien yang sebelumnya pernah mengalami alergi dengan obat ini,
karena ada kemungkinan sensitivitas silang.
o Pasien yang menunjukkan manifestasi alergi serius akibat
pemberian Asetosal atau obat anti-inflamasi nonsteroid lain.
o Pasien yang menderita ulkus peptikum aktif.
o Penyakit serebrovaskular yang dicurigai maupun yang sudah pasti.
o Diatesis hemoragik termasuk gangguan koagulasi.
o Sindrom polip nasal lengkap atau parsial, angioedema atau
bronkospasme.
o Terapi bersamaan dengan ASA dan NSAID lain.
o Hipovolemia akibat dehidrasi atau sebab lain.
o Gangguan ginjal derajat sedang sampai berat (kreatinin serum >160
mmol/L).
o Riwayat asma.
o Pasien pasca operasi dengan risiko tinggi terjadi perdarahan atau
hemostasis inkomplit, pasien dengan antikoagulan termasuk
Heparin dosis rendah (2.5005.000 unit setiap 12 jam).
o Terapi bersamaan dengan Ospentyfilline, Probenecid atau garam
lithium.
o Selama kehamilan, persalinan, melahirkan atau laktasi.
o Anak < 16 tahun.
o Pasien yang mempunyai riwayat sindrom Steven-Johnson atau
ruam vesikulobulosa.
o Pemberian neuraksial (epidural atau intratekal).

39
o Pemberian profilaksis sebelum bedah mayor atau intra-operatif jika
hemostasis benar-benar dibutuhkan karena tingginya risiko
perdarahan.
Efek samping obat
Efek samping di bawah ini terjadi pada uji klinis dengan Ketorolac IM
20 dosis dalam 5 hari. Insiden antara 1 hingga 9% :
Saluran cerna : diare, dispepsia, nyeri gastrointestinal, nausea.
Susunan Saraf Pusat : sakit kepala, pusing, mengantuk, berkeringat.
Dosis
Dosis awal Ketorolac yang dianjurkan adalah 10 mg diikuti dengan 10
30 mg tiap 4 6 jam bila diperlukan. Harus diberikan dosis efektif
terendah. Dosis harian total tidak boleh lebih dari 90mg untuk orang
dewasa dan 60 mg untuk orang lanjut usia, pasien gangguan ginjal dan
pasien yang BB nya kurang dari 50 kg. Lamanya terapi tidak boleh
lebih dari hari. Pada seluruh populasi, gunakan dosis efektif terendah
dan sesingkat mungkin. Untuk pasien yang diberi Ketorolac ampul,
dosis harian total kombinasi tidak boleh lebih dari 90mg (60mg untuk
pasien lansia, gangguan ginjal dan pasien yang berat badannya kurang
dari 50kg).
5. Refresh
Neostigmin
Mekanisme kerja
Dengan menghambat proses pemecahan asetilkolin, obat ini secara
tidak langsung menstimulasi baik reseptor muskarinik maupun reseptor
nikotinik. Tidak seperti fi sostigmin, neostigmin merupakan senyawa
nitrogen kuartener sehingga lebih polar dan tidak masuk ke susunan
saraf pusat. Efek obat ini terhadap otot rangka lebih besar daripada efek
fisostigmin, dapat menstimulasi kontraksi otot bahkan sebelum lumpuh.
Neostigmin mempunyai durasi kerja singkat, biasanya 30 menit sampai
2 jam. Neostigmin berikatan dengan sisi anionik asetilkolinesterase.

40
Obat ini memblok tempat aktif asetilkolinesterase sehingga enzim ini
tidak dapat merusak molekul asetilkolin. Kejadian ini mengakibatkan
ambang rangsang lebih cepat tercapai untuk membentuk impuls baru.
Indikasi
Obat ini dapat pula digunakan pada kasus retensi urin pasca anestesi
umum, ileus paralitik, dan pengobatan keracunan obat kurariformis.
Indikasi lain obat ini adalah Sindrom Ogilvie penyakit
pseudoobstruksi kolon pada pasien kritis.
Kontraindikasi
Hiperkinesis, epilepsi, fibrilasi bradikardi, vagotomy, asma, penyakit
jantung iskemik, aterosklerosis, ulkus lambung dan duodenum,
tirotoksikosis, peritonitis, obstruksi saluran cerna, BPH, sensitif
terhadap neostigmin.
Efek samping obat
Mual, muntah, inkontinensia alvi, perpanjangan waktu pemulihan dan
bradikardi-resistenatropin pada dosis lebih tinggi (200 g). Neostigmin
dapat memicu efek samping okuler meliputi nyeri kepala, pandangan
kabur, fakodonesis, injeksi perikornea, iritis kongestif, reaksi alergi, dan
kerusakan retina (sangat jarang). Neostigmin juga menyebabkan
bradikardia sehingga biasanya digunakan bersamaan dengan obat-obat
parasimpatolitik, seperti atropin dan glikopirolat.
Dosis
Neostigmin (0,04 mL/kgBB) umumnya muncul dalam 5-10 menit,
puncaknya pada 10 menit dan berlangsung lebih dari 1 jam. Jika
pemulihan tidak muncul 10 menit setelah pemberian 0,08 mL/kgBB,
fungsi kontraksi selanjutnya dipengaruhi oleh pemberian pelumpuh otot
sebelumnya dan intensitas blokade. Dosis rekomendasi maksimal
neostigmin ialah 0,08 mg/kgBB (pada dewasa dapat sampai di atas 5
mg). Atropine dan neostigmin aman dalam bentuk kombinasi dengan
dosis atropine 0,06 mg/kg dan neostigmin 0,07 mg/kg.

41
DAFTAR PUSTAKA

1. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. 2009. Petunjuk Praktis Anestesiologi
Edisi Kedua. Penerbit Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI: Jakarta.
2. Baugh RF et al. Clinical Practice Guideline: Tonsillectomy in Children.
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2011; 144 (15):1-30.
3. Muhardi, M, dkk. (1989). Anestesiologi, Bagian Anastesiologi dan Terapi
Intensif, FKUI. CV Infomedia: Jakarta.
4. Burton MJ, Towler B, Glasziou P. Tonsillectomy versus non-surgical treatment
for chronic/recurrent acute tonsillitis (Cochrane Review). In: The Cochrane
Library, Issue 3, 2004. Chichester, UK: John Wiley & Sons, Ltd.
5. Larizgoita I. Tonsillectomy: scientific evidence, clinical practice and
uncertainties. Barcelona: CAHTA 1999.
6. Pasternak LR, Arens JF, Caplan RA, Connis RT, Fleisher LA, Flowerdew R, et
al. Practice advisory for preanesthetic evaluation. A report by the American
Society of Anesthesiologists Task Force on Preanesthesia Evaluation 2003.
7. Mangku, Gde dan Tjokorda Gde Agung S. 2010. Buku Ajar Ilmu Anastesi dan
Reanimasi. Indeks : Jakarta.
8. Drake A. Tonsillectomy. http://www.emedicine.com/ent/topic315.htm/emed-
tonsilektomi diakses tanggal 21 Juni 2014.
9. Dobson, M.B.,ed. Dharma A., Penuntun Praktis Anestesi. EGC, Jakarta , 1994
10. Ganiswara, Silistia G. Farmakologi dan Terapi (Basic Therapy
Pharmacology). Alih Bahasa: Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta, 1995
11. Wrobel M, Werth M.2009. Pokok-pokok Anestesi. Edisi pertama. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
12. Omoigui S. 2012.Obat-obatan Anestesia. Edisi kedua. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
13. .Syarif,Amir,et al. 2009.Farmakologi dan Terapi Edisi Kelima. Departemen
Farmakologi dan Terapeutik FKUI: Jakarta.

42