Anda di halaman 1dari 9

PROSES PRODUKSI -AMILASE

Disusun Oleh :

Rima Puspitasari

2312162025

Jurusan Teknik Kimia

Universitas Jenderal Ahmad Yani

2017

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Alloh SWT, atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Proses Produksi -Amylase
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pengantar Teknologi Biokimia.

Penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada


pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini, sehingga
makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga apa yang telah
diberikan mendapat balasan dari Allah SWT.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kekurangan dan
kesalahan. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penyusun
meminta saran dan kritiknya yang bersifat mebangun demi perbaikan
makalah ini.

Penyusun berharap makalah ini dapat memenuhi tugas yang telah


ditentukan, dan semoga makalah ini dapat menambah wawasan bagi
pembaca. Terima kasih atas perhatiannya.

Bandung, Mei 2017

Penyusun
1. Pendahuluan
Amilase merupakan salah satu enzim industrial yang berperan 25% dalam
pasaran enzim meliputi beberapa proses industry seperti tekstil, kertas,
industry distilasi dan farmasi. Amilase berperan dalam proses konversi pati
menjadi gugus gula yang lain. Enzim yang banyak terlibat diantaranya -
amylase (1,4 -glucan glucaohydrolase, EC3.2.1.1), amylase (1,4
-glucan maltohydrolase, EC 3.2.1.2) and glucoamylase (1,4 -glucan
glucohydrolase, EC 3.2.1.3) (Boldon dan Effront, 2000). Walaupun amilase
dapat diperoleh dari tanaman, hewan dan mikrorrganisme, microbial amilase
merupakan yang paling banyak dipruduksi dan digunakan di industry karena
produktivitas dan kestabilan termalnya. Tidak seperti enzim amilase lainnya,
belum begitu banyak penelitian tentang amylase, terutama yang berasal
dari mikroorganisme. Bakteri yang biasa digunakan untuk memproduksi
amylase berasal dari jenis Bacillus, Pseudomonas, Clostridium; dan jamur
yang biasa digunakan yaitu jenis Rhizopus dan Volvariella volvacea.
Beberapa mikroorganisme bahkan dilaporkan telah mampu mengkonversi
limbah mengandung pati seperti limbah singkong, sekam padi, kentang dan
jagung sebagai substrat untuk proses produksi.
-Amylase umum digunakan dalam proses pembuatan maltosa. Sebagian
besar -Amylase dihasilkan oleh jamur, bakteri dan tanaman seperti
barley,gandum dan kacang kedelai. Pembuatan -Amylase dari tanaman
sudah dibatasi, berkaitan dengan krisis pangan yang terjadi secara global.
Sekitar tahun 1970, -Amylase berbahan dasar mikroorganisme mulai
dikenal meski pembuatannya masih dalam skala kecil.
2. Sejarah -Amylase

Enzim -amylase dinamai oleh Kuhn (1925) karena produk hidrolisisnya


berada pada konfigurasi alpha. Pada tahun 1930, Ohlsson menemukan
amilase lain yang menghasilkan -mannose dan akhirnya Ohlsson namai -
Amylase.
-Amylase pertama dimurnikan pada tahun 1940. Selanjutnya tahun
1948, Hopkins dan rekannya mulai mempelajari kinetika -Amylase. Sekitar
tahun 1960 dan 1970-an, teknik pemurnian (purifikasi) ubi -Amylase
dikembangakan. Enzimnya berhasil di immobilisasi pada agarose and
sepharose gel sekitar tahun 1970-an. Pada tahuhn 2001, pemurnian
sederhana menggunakan presipitasi afinitas dikembangkan. Pengaruh
guanidine hydrochloride dan peningkatan tekanan pada aktivitas enzim
diteliti pada tahun 2002.
3. Mekanisme Kerja
Beta-amilase akan memotong ikatan glikosidik pada
gugus amilosa, amilopektin, dan glikogen. Amilosa merupakan struktur rantai
lurus dari pati, sedangkan amilopektin merupakan struktur percabangan dari
pati. Hasil pemotongan oleh enzim ini akan didominasi oleh
molekul maltosa dan beta-limit dekstrin. Dalam industri pangan,
pembentukan senyawa beta-limit dektrin seringkali dihindari karena
membentuk viskositas atau kekentalan yang terlalu pekat.

4. Perbedaan -amylase dan -Amylase


5. Penggunaan enzim -Amylase
Penelitian struktur pati dan glikogen
Fermentasi pada pembuatan bir dan industri penyulingan
Sakarifikasi pati liquid : produksi sirup dengan kandungan maltosa
tinggi

a. Produksi sirup maltosa

Gambar 1 dan Tabel 1 menunjukkan hasil percobaan pembuatan


maltose dari pati liquid. Enzim microbial terlihat lebih unggul dibandingkan
dengan enzim barley ataupun gandum yang aktualnya banyak digunakan
pada pembuatan sirup maltose. Selain dapat menghasilkan sirup maltose
dalam jumlah banyak hanya dengan penggunaan sedikit enzim, resiko
kontaminasi mikroba selama relative lebih kecil karena temperature reaksi
yang tinggi. Enzim microbial -Amylase memiliki pH optimum reaksi netral,
yaitu sekitar 6, lebih cocok untuk liquifikasi pati. Berbeda dengan enzim dari
barley ataupun gandum yang memiliki pH reaksi optimum yang cenderung
asam.

Tabel

Gambar

b. R
etrogradasi pada pati

Gambar 2 dan 3 menunujukkan pengaruh enzim pada penghambatan


retrogradasi pada kue beras. Kue beras yang mengandung enzim -Amylase tetap
lembut setelah disimpan pada suhu 15 C selama 3 hari. Pada penggunaanya,
kontaminasi enzim -amylase pada persiapan enzim dalam jumlah kecilpun
dapat menimbulkan masalah, contohnya kue beras menjadi lengket selama
penyimpanan. Tapi bakteri yang digunakan untuk memproduksi -Amylase
tidak mengandung -amylase sehingga tidak akan menimbulkan masalah
pada proses retrogradasi.

Tabel

Microbial -Amylase juga menunjukkan Gambar


kemampuan yang unik pada hidrolisis pati
mentah (Tabel 2). -Amylase yang berasal dari tanaman, termasuk yang
berasal dari kacang kedelai atau sejenisnya tidak dapat beroperasi pada pati
mentah dan tidak dapat beroperasi pada suhu dibawah suhu gelatinisasi pati
(60 C70 C). Lain halnya dengan microbial -Amylase yang aktif pada suhu
dibawah suhu gelatinisasi, hal ini merupakan potensi yang sangat besar
pada aplikasinya termasuk pada proses baking / pembakaran.

Gambar
6. Proses produksi beta amylase dari Bacillus polymyxa pada medium pati
ekstrak jagung

Beta amylase diproduksi pada fermentor stainless steel 20 liter (volume


kerja 10 l). Media inokulum (500 ml dalam 2,800 ml labu fernbach steril) dan
media pre inokulum (50 ml dalam labu erlenmeyer 300 ml) terdiri dari 0,3%
ekstrak daging sapi, 0,5% pepton, dan 0,5% glukosa. Pre inokulum disiapkan
dengan menginokulasi media steril NRRL B-367 dan menginkubasinya pada
30 C selama 24 jam pada rotary shaker dengan kecepatan 150 rpm. Isi labu
pre inokulum ditambahkan ke media inokulum steril, yang sudah diinkubasi
pada kondisi yang sama.
Kandungan media fermentor dapat dilihat pada Tabel 3

Tabel

Zat Konsentrasi
(g/L)
MgCl2. 2H2O 0,2
KCl 1
NaH2PO4 5,4
Na2HPO4.2H2O 7
CaCl2.2H2O 0,25
FeSO4.7H2O 0,005
MnSO4.5H2O 0,001
Soluble starch 20

Sumber nitrogen dites dengan medium diatas yang terdiri dari


peptone, Amber BYF-300, Vico D-300 dan hasil fermentasi ekstrak jagung
pada 1% basis kering. pH medium 6,8 dan medium disterilkan pada suhu
121C selama 25 menit. Fermentor diinokulasi dan diinkubasi selama 48 jam
pada suhu 35 C. Pengadukan dijaga konstan pada 300 rpm.
Setelah running selesai, sel dipindahkan dengan sentrifugasi dan hasil
fermentasi bebas sel digunkan sebagai sumber enzim. aktivitas enzim
ditentukan dengan mereaksikan 2 ml dari 0,2% amylosa atau substrat
dengan 0,2 ml enzim yang sudah diencerkan secukupnya pada pH 6,5.
setelah 1 jam pada suhu 40C , reaksi dihentikan dengan memanaskan
sample pada water bath selama 10 menit. Pengurangan kadar gula diukur
dengan instrumen analisa otomatis. Pengurangan kadar gula dikalkulasikan
sebagai maltosa. Aktivitas digambarkan sebagai jumlah beta amylase yang
dibutuhkan untuk memproduksi 1 mikro mol maltosa dalam 1 menit pada
kondisi diatas.
Pola perilaku NRRL B-367 dipelajari dengan menginkubasi crude enzim
dengan 0,5% amylopectin dengan periode hingga 3 hari pada pH 6,5 dan
suhu 40 C. Produk kemudian dikarakterisasi oleh gel permeation
chromatoghraphy dan oleh chromatoghraphy liquid bertekanan tinggi.
Yield beta amylase yang dihasilkan (mm maltosa yang dihasilkan per menit
per mililiter) dapat dilihat pada Tabel 4

Tabel
Sumber nitrogen Yield
Ekstrak jagung 3,01
Pepton 3,06
Amber BYF-300 3,30
Vico D-300 3,40

Hubungan konsentrasi ekstrak jagung dan yield Bacillus polymyxa NRRL B-


367 dapat dilihat pada Gambar 4

Gambar

DAFTAR PUSTAKA

Geesha, Difference Between Alpha and Beta Amylase,


http://pediaa.com/difference-between-alpha-and-beta-amylase/, diakses Mei
2017
Hensley dkk., Beta Amylase Production by Bacillus polymyxa on a Corn-
Steep-Starch-Salts Medium, United States Department of Agriculture, 1980
Olufunke, F.T., dan Azeez I.I, Purification and Characterization of Beta
Amylase of Bacillus subtilis Isolated from Kolanut Weevil, Ekiti State
University, 2013
www.amano-enzyme.co.jp/, diakses Mei 2017
http://worthington-biochem.com:8080/enzyme-manual/BA/, diakses Mei 2017