Anda di halaman 1dari 5

PESTISIDA

Pestisida berasal dari kata Pest = Hama dan Cida = Membunuh.

Pestisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk


mengendalikan, mencegah, membasmi, menangkis dan
mengurangi jasad pengganggu. Secara harfiah pestisida berarti
bahan pembunuh hama. Pengertian Pestisida kemudian
berkembang menjadi semua bahan yang digunakan untuk
membunuh, mencegah dan mengusir hama, juga dapat diartikan
sebagai sebagai bahan yang digunakan untuk merangsang dan
mengatur pertumbuhan tanaman. Selain itu, juga senyawa yang
dapat menggugurkan daun (defolin), senyawa yang dapat
mempercepat proses pengeringan (desikan) dan senyawa yang
dapat mempercepat pembungaan. Juga digunakan untuk
senyawa-senyawa yang dapat mengusir (Repellent), menarik
(Attractant) dan memandulkan serangga (Sterilant). Pestisida
mencakup: Insektisida (Racun Serangga), Akarisida (Racun
Tungau/Kutu), Termisida (Racun Rayap), Fungisida (Racun Jamur),
Herbisida (Racun Tanaman Pengganggu/Gulma) dan Rodentisida
(Racun Tikus). Pestisida paling banyak berupa Insektisida dan
Herbisida.

SEJARAH

Pada Zaman Romawi, Sulfur digunakan untuk membasmi


serangga. Pada abad ke 9, orang China menggunakan garam
Arsenat untuk membasmi serangga hama. Pada tahun 1690,
ekstrak daun tembakau telah digunakan sebagai insektisida
kontak. Pada awal abad ke 19, Piretrum dan Rotenon yang berasal
dari tanaman diketahui untuk membasmi jasad pengganggu
(hama). Pada tahun 1900, senyawa pemberantas gulma dan
serangga secara organic pertama kali dibuat. Berdasarkan cara
pembuatannya pestisida dapat digolongkan ke dalam:
1. Pestisida yanag dibuat dari bahan-bahan alamiah dan

[Type text] Page 1


2. Pestisida golongan Sintetik.
Contoh pestisida golongan alamiah adalah: akar tuba, tembakau,
bunga matahari, rotenone, pyrethrum, nikotin. Insektisida sintetik
pertama yang digunakan secara umum adalah senyawa-senyawa
dinitro dan tiosianat. Penemuan paling penting yang telah
mengawali era insektisida sintetik adalah penemuan DDT
(Dikhloro
Difenil Trikloro Etan) pada tahun 1874 (oleh Zeidler) namun sifat
insektisidanya baru diketahui pada tahun 1939 oleh Muller di
Swiss. Penggunaan pestisida DDT secara besar-besaran dimulai
pada tahun 1942.

PESTISIDA RUMAH TANGGA


Pestisida Rumah Tangga, selain digunakan untuk pertanian dan
perkebunan juga untuk perlindungan di dalam rumah. Pestisida
Rumah Tangga yang sering digunakan adalah: Insektisida,
Herbisida, Rodentisida dan Termisida.
Golongan Pestisida yang sering digunakan di Rumah Tangga
adalah:
1. Insektisida
a. Organokhlorin/Hidrokarbon Berkhlor
Mengandung atom karbon (karena itu disebut organo),
khlor dan hydrogen. Kadang-kadang mengandung 0 2.
Sering disebut Hidrogen Khlorinat, Khlorinat Organik atau
Khlorinat Sintesis. Misal: DDT, Aldrin, Khlordan, Dieldrin,
Toxapene. Dibagi menjadi 3 sub golongan utama, yaitu:
DDT, BHC dan Siklodien. Sifat kimianya hampir sama,
daya larutnya sangat rendah di dalam air dibandingkan
dengan daya larutnya dalam pelarut organic. Dalam
keadaan murni, berwarna putih atau sedikit kekuningan.
DDT berpengaruh terhadap pengikatan membran syaraf
yang menghasilkan gangguan pergerakan ion ke dalam
dan keluar akson. Keracunan insektisida golongan ini
dapat menyebabkan gangguan pada mekanisme
transmisi impuls syaraf.
[Type text] Page 2
DDT merupakan racun syaraf yang efeknya meningkat
dengan menurunnya suhu. Bekerjanya lambat dan tanda
keracunan yang pertama muncul adalah gerakan-gerakan
yang tidak terkoordinasi pada seluruh badan diikuti
dengan gemetar. DDT dapat menyebabkan meningkatnya
penyerapan kalium pada jaringan syaraf, menghambat
ATPase yang bertanggung jawab terhadap pengangkutan
ion-ion di dalam syaraf dan meningkatkan aktivitas enzim
dari mikrosoma. Juga dapat menghambat enzim karbonik
anhidrase yang bertanggung jawab di dalam membentuk
kulit burung.

b. Organofosfat

Terdapat lebih kurang 100 senyawa yang diperdagangkan


sebagai insektisida. Contoh Malation, DDVP (Dimetil
Dikhloro Vinil Posfat). Pertama kali ditemukan oleh Dr.
Gerhard Schrader (Jerman). Merupakan senyawa yang
tidak stabil (mudah terurai). Lebih toksik terhadap hewan-
hewan bertulang belakang dibandingkan dengan
Organokhlorin.

Insektisida golongan ini mengikat atau menghambat


aktivitas enzim Kolinesterase (EH). Pada semua system
syaraf vertebrata dan serangga terdapat pusat-pusat
penghubung elektrik atau sinaps dimana sinyal-sinyal
akan dialirkan dari tempat ini ke otot atau serabut syaraf
oleh senyawa kimia yang disebut ASETILKOLIN (Ach).
ASETILKOLIN (Ach) ini bertindak sebagai pembawa sinyal
dan jika sudah tidak ada lagi sinyal-sinyal yang akan
dibawa maka enzim Kolinesterase akan memberikan
pengaruh kepada Ach. Prosesnya adalah sbb:

EH + Ach EH,Ach EA EH + AOH

ChH HOH

[Type text] Page 3


Penjelasan:

Pada mulanya enzim Kolinesterase(EH) bersenyawa


dengan ASETILKOLIN (Ach) membentuk senyawa
kompleks yang dapat memberi rangsangan secara bolak
balik (EH,Ach). Senyawa kompleks ini akan melepaskan
Kolin (ChH). Dengan penambahan air, Kompleks EA akan
melepaskan enzim kolinesterase (EH) dan Asam Asetat
(AOH).

Ikatan P = = O pada senyawa Organofosfat mempunyai


daya tarik yang sangat kuat terhadap gugus Hidroksil dari
enzim Kolinesterase, akibatnya enzim ini tidak dapat
mempengaruhi ASETILKOLIN (Ach) yang menyebabkan
ASETILKOLIN akan berkumpul di Sinaps. Pengaliran sinyal-
sinyal akan terganggu, meskipun ASETILKOLIN terus
berfungsi. Pada serangga menjadi hiperaktif,
menggelepar, lumpuh lalu mati. Dengan demikian,
potensi dan toksisitas selektif insektisida organofosfat
pada dasarnya dikaitkan dengan ketidakaktifan enzim
Kolinesterase ( EH atau Ch.E). Enzim ini memutuskan
neurotransmitter (penghantar syaraf Asetilkolin (Ach)
pada sinaps segera setelah fungsinya selesai>

Keracunan Organofosfat pada mamalia ditandai dengan:


kekejangan otot, bergetar, mata berkeriput, urinasi (air
seni berlebihan), lakrimasi, dan mengalami kematian.
Pada manusia/pekerja akan mengakibatkan letih tidak
bertenaga, susah tidur, mudah lupa.

c. Karbamat
Sangat banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sifatnya tidak banyak berbeda dengan senyawa
organofosfat baik dari segi aktivitas, aksi toksiknya
maupun daya racunnya. Residunya tidak dapat bertahan
lama di alam (mudah terurai). Senyawa Karbamat

[Type text] Page 4


merupakan turunan dari asam karbamik (HO-CO-NH 2).
Pertama kali diperkenalkan oleh Ciba Geigy dari Swiss
tahun 1951. Contoh insektisida Propuksur yang sangat
efektif untuk membasmi lipas yang resisten terhadap
senyawa-senyawa Organokhlorin dan Organofosfat.

2. Rodentisida
Cara kerja racun tikus (Rodentisida) adalah:
a. Menghambat pembentukan protrombin, yaitu bahan
yang berperan dalam proses pembekuan darah
sehingga darah sukar membeku.
b. Merusak serabut kapiler dalam jaringan yang akan
menyebabkan pendarahan dalam jaringan-jaringan
tubuh tikus yang mengalami keracunan.

[Type text] Page 5