Anda di halaman 1dari 40

PRETEST

MASTOIDEKTOMI

Oleh :
Nila Santia Dewi

Pembimbing :
Dr. Jogjahartono, Sp.THT-KL (K)

BAGIAN IK THT-KL FK UNDIP / SMF K THT-KL RS Dr.KARIADI


SEMARANG
2016

PENDAHULUAN
Mastoidektomi adalah tindakan operasi pengambilan/ pembersihan

0
jaringan patologis pada telinga tengah dan sel-sel mastoid untuk
menghentikan proses selanjutnya. 1-3
Tindakan ini dimaksudkan untuk menghilangkan proses
peradangan dan komplikasi yang membahayakan kehidupan penderita
atau mengancam jiwa penderita sehingga operasi ini dianggap sebagai
tindakan penyelamatan jiwa penderita (life saving operation). 1,2,4.
Sebelum ditemukannya antibiotik yang tepat sesuai dengan
sensitivity test, mastoidektomi sering hasilnya kurang memuaskan, sebab
infeksi pasca bedah atau indikasi yang kurang tepat, seperti terlalu cepat
dilakukannya mastoidektomi, ataupun mastoidektomi dikerjakan pada
kausa alergi dan lain-lain. Sekarang setelah pengetahuan mengenai
obat-obatan dan tehnik operasi mastidektomi meningkat, akibat buruk
yang ditimbulkan oleh operasi ini jauh berkurang.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana melakukan operasi ini,
sehingga akibat buruk yang ditimbulkan dapat dihindari.
Tujuan penulisan agar dalam melakukan operasi ini tidak terjadi
komplikasi yang tidak diinginkan.

TINJAUAN PUSTAKA
1. ANATOMI TELINGA
Telinga dibagi atas 3 bagian besar yaitu: telinga luar, tengah dan
dalam.

1
a.Telinga luar
Terdiri dari : 1,2,6,7
-Daun telinga yang terdiri dari rangka rawan yang membentuk daun
telinga.
-Saluran telinga luar, terdiri dari rangka rawan di bagian 1/3 luar
dan rangka tulang 2/3 bagian dalam.
-Membrana timpani dengan rangka luar dari annulus tympanikum dan
ditengah ditunjang oleh maleus.
Semuanya terlindung oleh kulit. Antara daun telinga dengan
saluran telinga bagian rawan terdapat suatu celah yang disebut incisura
terminalis sedangkan penghubungnya disebut isthmus. Rawan Canalis
Acusticus Externus ini berbentuk lingkaran terbuka dibagian postero
superiornya, kulit di bagian ini mengandung rambut, kelenjar seruminosa
dan sebasea, yang menghilang makin ke dalam mendekati membrana
tympani. 6-7

2
Gambar Telinga

Peredaran darah diperoleh dari arteri temporalis superfisialis dan


aurikularis posterior, sedangkan arteri aurikularis profunda memberi
darah ke membrana tympani. Pembuluh baliknya mengikuti arteri-
arterinya antara lain terus ke vena jugularis externa, vena maxillaris
interna dan plexus pterygoideus.
Pembuluh lympe menuju kelenjar lympe aurikularis anterior dan
parotis, aurikularis posterior dan jugularis externa. 7
Persarafan diperoleh dari nervus aurikularis manus, nervus
aurikulotemporalis, nervus ossipitalis minores, cabang aurikularis nervus
vagus.

b.Telinga tengah
Terdiri dari rongga tympani dan tuba Eustachii dengan antrum
mastoid dan sel-sel udara mastoidnya, membrana tympani bagian dalam

3
juga merupakan bagiannya. Rongga tympani ini juga berisi tulang-tulang
pendengaran maleus, inkus dan stapes, selain ini juga terdapat otot-otot,
ligamen-ligamen dan saraf-saraf.
Kavum tympani merupakan rongga yang tidak teratur, sempit dan
letaknya miring, terdapat dalam os temporal diantara telinga luar dan
telinga dalam. Ukuran aksis vertikal dan anteroposterior kira-kira 15 mm
sedangkan tranversal berjarak pendek kira-kira 2 mm dan jarak
terpanjang 6 mm yang terdapat di bagian atas dan dibagian bawah
berukuran 4 mm. Karenanya kavum tympani dibagi menjadi 3 ruangan,
antara lain :
- Epitympanum atau attic space atau rongga atap.
- Mesotympanum atau kavum tympani yang terdapat setinggi pars
tensa.
- Hypotympanum rongga terdapat di bawah batas bawah pars tensa.
Selain dari rongga tersebut di atas, masih didapatkan rongga kecil
yang terbentuk oleh lipatan-lipatan mukosa yang menutupi dinding
kavum tympani yang tidak teratur bentuknya, antara lain :
- Rongga dari Prussak setinggi pars flaccida membrana tympani.
- Rongga Troltsch antara membrana tympani lipatan maleus.
b.1. Kavum tympani :
mempunyai batas-batas/dinding sebagai berikut :
Dinding atas : sering disebut sebagai tegmen, berupa tulang tipis
yang membatasi dura dari epitympanum. Sutura petrosquamosa terdapat
pada segmen ini dan pada anak-anak tidak mengalami penulangan yang
dapat merupakan port dentre kuman dari kavum tympani ke rongga
kranium. Sedangkan pada dewasa (kira-kira 50 %) terdapat vena yang
menembus sutura ini menuju ke sinus petro-squamosa dan sinus
kranialis.
1. Lantai : terletak sedikit di bawah permukaan dasar meatus,
merupakan dinding tipis yang memisahkan kavum tympani dari vena
jugularis interna. Bila bulbus jugularis ini kecil, maka dinding lantai

4
ini dapat mencapai ketebalan 1 cm dan mengandung hypotympanic
air cells, dan sebaliknya bila bulbus jugularis besar, dinding lantai
akan sangat tipis sekali dan menonjol ke kavum tympani.
2. Dinding depan : bagian bawah dari dinding ini merupakan lempeng
tipis yang memisahkan dengan arteri karotikus interna (kanalis
karotikus), kadang-kadang disini terdapat sel-sel udara rudimenter.
Di atas terdapat semikanal muskulus tensortympani dan dibawahnya
terdapat semikanal tuba auditorius dan diantara kedua semikanal
membrana/septum kanalis muskulo-tubarius.
3. Dinding belakang : Dinding ini dibagian atasnya terdapat lubang ke
arah antrum mastoidea yang disebut additus. Di bawah lubang ini
terdapat dinding yang tipis yang berisi sel-sel udara dari prosesus
mastoideus. Pada dinding ini terdapat penonjolan eminentia
pyramidalis yang apeksnya mengirimkan tendon muskulus
stapedeus, kemudian di supero-posterior basis eminentia pyramidalis
ini nervus fasialis yang dari dinding medial membelok ke arah bawah.
Dari nervus fascialis keluarlah cabang chorda tympani pada daerah
ini melalui apertura tympanica kanalikula.
4. Dinding medial : merupakan pars petrosa ossis temporalis, yang
membatasi telinga tengah dengan telinga dalam. Pada dinding
medial ini terdapat bagian bagian penting yang perlu kita
ketahui :
Ujung depan canalis semisirkularis lateralis yang
merupakan penonjolan yang luas di atas dan agak
kebelakang.
Penonjolan kanalis fascialis dari Fallopii yang terdapat di
bawah dan sedikit kedepan dari tonjolan di atas.
Prosesus cochleriformis yang dibentuk semikanal
muskulotubarius terdapat di depan tonjolan fascialis tadi,
mengirimkan tendon m.tensor tympani.

5
Fenestra ovalis terdapat tepat di bawah canalis fascialis
yang ditutupi oleh dasar stapes.
Promontorium dibentuk oleh kelokan cochlea yang terdapat
di bawah fenestra ovalis / vestibularis.
Fenestra rotundum terdapat di bawah dan belakang
promontorium, sedangkan diatasnya terdapat tonjolan
lekukan dari fosulacohlea yang kadang-kadang
melindunginya (niche round window).
Sinus tympanikus terdapat di posterior promontorium dan
medialeminentia pyramidalis yang merupakan cekungan
(recessus) tympanikus subcanalis Fallopii.
5. Dinding lateral : Di bagian atas dari membrana tympani terdapat
rongga attic/ atap atau recessus epitympanicus yang menjorok ke
lateral dan berada di atas meatus, maka pars squamosa ossis
temporalis disini merupakan dinding lateral dari telinga tengah
bagian atap. Dibawahnya baru membrana tympani dan annulus
tympanikus merupakan dinding lateral tympanum.
Membrana tympani pada anak-anak bayi letaknya hampir
horizontal dan pada dewasa agak menghadap ke arah depan dan
membentuk sudut 40 o dengan dasar meatus. Bundarannya merupakan
discus clips yang menempel pada jaringan fibrocartilago yang terdapat
pada sulcus tympanikus yang disebut annulus tympani. Pada bagian
antero superior dari annulus ini terdapat celah tympani (tympani notch)
selebar kira-kira 5 mm (Rivinus notch).
Dari kedua ujung notch ini merentang ligament ke arah maleus
disebut plika maleolus anterior dan plika melaolus posterior. Maka
terbentuklah segitiga kecil oleh kedua plika ini yang membatasi segitiga
pars flacida dari Sharpnell yang melekat langsung pada os petrosus.
Sisanya dari membrana tympani yang terdapat dibawahnya dan
merupakan yang terluas disebut pars tensa, karena membrana ini sangat

6
tegang.
Pars tensa terdiri dari tiga lapisan: Bagian luar dilapisi kulit
kelanjutan kulit kanalis akustikus eksternus yang tidak mengandung
rambut dan kelenjar (stratum kutaneum). Membrana propia terdapat di
bawah kulit yang terdiri dari: serabut radier yang mengarah ke perifer
melekat di manubrium dan anulus tympanikus, serat sirkuler yang
terdapat pada daerah dalam. Paling dalam berupa mukosa kuboid
sebagi kelanjutan mukosa tympanum yang disebut stratum mukosum
yang mempunyai jaringan submukosa yang tipis.
Pars flacida, terdiri dari dua lapisan besar, walaupun akhir-akhir ini
diketemukan lapisan propia yang tipis sekali, yaitu stratum cutaneus, seperti
membrana tensa. Stratum mukosum. Diantara kedua lapisan tersebut
terdapat lapisan jaringan ikat tipis sekali. Membrana flacida ini tidak
terentang tegang.
Klinis membrana timpani secara keseluruhan dibagi dalam kwadran:
anterior-superior, antero-inferior, potero-superior, postero-inferior. Titik
tengahnya umbo dengan dua garis yang saling memotong tegak lurus
melalui aksis prosesus brevis maleus-umbo.
b. 2. Isi kavum timpani
Di dalam kavum tipani terdapat: tulang-tulang pendengaran, otot-otot,
plika, ligamen dan rongga-rongga, pembuluh darah dan saraf.
Ad. A. Tulang pendengaran.
Biasa disebut sebagai 'ossicles'. Terdiri dari 3 buah tulang yang
berantai satu dengan lainnya sehingga rantaian ini lazim disebut
"ossicular chain" (rantaian tulang").
Maleus : adalah tulang terbesar dari ketiga ossicula ini. Kepalanya
terdapat dalam rongga epitympanum, sedangkan manubrium dan
prosesus lateralisnya (yang pendek) melekat pada membrana tympani.
Antara manubrium dan kepala terdapat lekukan yang disebut leher
maleus. Sedangkan prosesus anteriornya (yang panjang) menjorok
secara langsung dari lehernya menuju ke bawah miring ke arah fisura

7
petrotympani, yang pada usia dewasa berubah menjadi jaringan ikat
ligamentum meleolaris anterior ujungnya, sedangkan bagian tulangnya
jadi pendek.
Incus : mempunyai badan dan dua tangkai (yang panjang dan pendek).
Badan incus ini menempel dengan kepala maleus yang juga terdapat di
resesus epitympani. Prosesus brevis (pendek) menuju ke arah fosa
incudis yang terletak pada basis resesus epitympani yang menuju ke
aditus tadi, dibawah tonjolan semi sirkularis lateralis. Prosesus
longusnya (yang panjang) menuju ke bawah dan sejajar dengan
manubrium, dimana ujungnya membelok hampir tegak lurus ke medial
yang berartikulasi dengan stapes, dimana artikulasi ini sering disebut
sebagai artikulasi diarthroidal.
Stapes : merupakan tulang terkecil dari ossikula ini. Terdiri dari kepala
yang menempel pada incus, leher dan crura dua buah dengan dasar
stapes menutupi fenesta ovale. Pinggiran basis stapes ini diliputi
ligamentum annulare yang elastis, sehingga stapes dapat bergerak dan
menutupi rongga antara footplate dan pinggiran fenesta ovale tadi.
Ad.b. Otot-otot
Otot-otot pendengaran yang terdiri dari :
Muskulus stapedius : membentang antara stapes dan yang tendonnya
menembus pada apexnya, dan membelok ke bawah agak lancip untuk
kemudian melekat pada leher stapes. Otot ini mendapat inervasi dari
cabang nervus facialis yang keluar dari Fallopian canal setinggi otot ini.
Diduga otot ini mempunyai fungsi proteksi terhadap fenestra ovale dari
getaran suara yang terlalu kuat, sehingga menarik stapes ke arah lateral.
Muskulus tensor timpani : memasuki kavum timpani melalui saluran
tulang semikanal tensor timpani. Origo m. tensor timpani terletak di luar
tengkorak, yaitu pada permukaan atas tuba Eustachii pars cartilagenosa.
Setelah keluar dari semikanal tensortimpani, maka membelok secara
tajam ke lateral menyilang kavum timpani untuk kemudian melekat pada
manubrium malei dekat lehernya. Inervensi otot ini berasal dari cabang

8
nervus mandibularis.
Ad.c. Plika-plika di telinga tengah
Di telinga tengah terdapat plika-plika antara lain :
Plika tensor
Berjalan ke depan dari tensor timpani sepanjang ligamentum
maleolaris anterior dan semikanal tensor timpani, secara sempurna
memisahkan atik bagian anterior dengan mesotimpanum bagian anterior.
Plika ini biasanya mencegah kolesteatom atik masuk ke mesotimpanum
anterior.
Plika maleolaris superior
Berjalan tranversal melalui ligamentum maleolaris superior,
memisahkan atik atas rongga anterior dan posterior.
Plika inkudal lateralis
Berjalan antara pinggir inferior inkus dengan dinding lateral atik. Plika ini
mungkin mencegah perluasan epitel skuamosa dari pinggir posterior-
superior kedalam atik.
Plika maleolaris posterior
Merupakan lipatan mukosa dari leher maleus ke tepi posterior
superior sulkus timpani.

Ligamentum di telinga tengah


Ligamentum anulare
Menghubungkan kaki stapes ke tepi fenesta ovalis.
Ligamentum maleolaris anterior dan posterior
Mengelilingi leher maleus dan kemudian bersatu membentuk
sumbu ligamen, melekat ke ujung anterior dan posterior notch of
Rivinus
Ligamentum incudal posterior
Menghubungkan prosesus brevis inkus ke fosa inkudis di aditus.
Ligamentum maleolaris superior
Mengubungkan kaput maleus dan korpus inkus ke puncak atik.

9
Rongga-rongga di telinga tengah.
Ruang von Troltsch oleh manubrium malei dibagi menjadi rongga
anterior dan posterior. Ruang anterior mempunyai batas lateral oleh pars
tensa membran timpani, medial dengan plika maleolaris anterior, sebelah
posterior dengan manubrium malei. Ruang posterior mempunyai batas
lateral oleh pars tensa membran timpani, medial dengan plika maleolaris
posterior, medial dengan manubrium malei.
Ruang Prussak terletak sebelah lateral leher maleus antara
ligamentum maleolaris lateralis dan Sharpnells membrane.
Ad.d. Pembuluh darah
Kavum timpani mendapat darah dari arteri karotis eksterna dan interna.
Cabang yang paling banyak mendarahi telinga adalah arteri timpanika
anterior dan arteri stilomastoid.

A. Timpanika anterior
Merupakan cabang arteri maksilaris interna mendarahi bagian
anterior kavum timpani, maleus dan inkus.
A. Stilomastoid
Merupakan cabang arteri aurikularis posterior mengikuti nervus VII
secara retrograd di dalam kanalis fascialis, kemudian memberi cabang
mastoid yang mendarahi sel-sel mastoid. Setelah meninggalkan kanalis
fascialis dan korda timpani masuk ke cavum timpani dan mendarahi
kavum timpani bagian posterior, muskulus stapedius, promontotium dan
sebagian dasar dinding medial kavum timpani.
A. Meningea media
Berasal dari arteri maksilaris interna. kemudian bercabang dua ke
kavum timpani yaitu arteri petrosal superfisialis dan mendarahi atap
mastoid dan atap epitimpanum dan arteri timpanika superior yang masuk
ke kavum timpani melalui fisura petroskuamosa dan mendarahi maleus,
inkus, dan muskulus tensor timpani.

10
A. Timpanika inferior
Berasal dari arteri faringeal ascenden, berjalan bersama cabang
timpani nervus IX yang masuk ke kavum timpani bagian inferornya dan
mendarahi mesotimpanum.Cabang arteri kanalis pterigoideus Mendarahi
mesotimpanum dan hipotimpanum.
A. Karotiko timpanikus
Berasal dari arteri karotis interna, masuk ke cavum timpani
mendarahi hipotimpanum bagian anterior.
Ad.e. Persarafan
Terdapat 2 saraf di telinga tengah, yaitu :
Nervus korda timpani
Cabang nervus Fascialis masuk ke kavum timpani dari kanalis
posterior pada persambungan dinding lateral dan posterior kavum
timpani yang kemudian menyeberang dipermukaan medial membran
timpani antara mukosa dan lapisan fibrosa berjalan medial bagian atas
manubrium malei, terus ke arah depan meninggalkan kanalukili anterior,
terus ke fisura petro timpanika, keluar dari kavum timpani melalui kanalis
Huguier.
Pleksus timpanikus
Dibentuk oleh cabang timpani nervus glossofaringeus dan nervus
karotiko-timpanikus yang berasal dari pleksus simpatis sekitar arteri
karotis interna, saraf ini membuat pleksus di promontorium, yang
kemudian memberikan:
Cabang untuk mukosa di kavum timpani, tuba eustikii, antrum dan sel-sel
udara mastoid.
Cabang yang bersatu dengan nervus petrosus superfisialis mayor.
Nervus Petrosus superfisisalis minor yang mengandung serabut
parasimpatis nervus glosofaringeus. Persarafan sensoris telinga tengah
berasal dari pleksus timpanikus yang mensarafi mukosa kavum timpani,
tuba eustakii antrum mastoid dan sel udara mastoid.
Persarafan motorik telinga tengah dari cabang mendibular nervus

11
trigeminus untuk muskulus tensor timpani dan cabang stapedius nervus
fascialis untuk muskulus stapedius.
Pembuluh darah balik dan limpe.
Peredaran darah balik atau pembuluh vena berjalan paralel
dengan arteri yang menuju sinus petrosus superior mellaui pleksus
pterigoideus. Pada tegmen timpani ini terdapat komunikasi vena dan
duramataer pada beberapa kasus.
Pembuluh limpe menuju ke limponoduli retrofaringeal dan parotidea.

b.2. TUBA EUSTAKII


Tuba eustakiimerupakan suatu saluran yang menguhubungkan
kavum timpani dengan nasofaring, mempunyai panjang 36 mm,
mengarah ke inferior-anterior-medial. Sepertiga bagian atas lateral
adalah bagian tulang yang terletak anterolateral kanalis karotikus,
sedangkan dua pertiga bagian bawah medial terdiri dari kartilago.Tuba
terletak dicelah yang sempit antara ala mayor os spenoid dan pars
petrosa os tempolralis. Muara tuba terdapat di dinding anterior kavum
timpani dan di dinding latero posterior nasofaring sebelah kauda konkha
inferior. Letak ostium timpanika lebih tinggi dari ostium faringeal, dimana
pada orang dewasa kira-kira 2,0 - 2,5 cm bedanya, sedangkan pada
anak-anak, biasanya hampir sama tinggi. Dalam keadaan terbuka ostium
di faring berukuran kira-kira 1 1,25 cm.Pada dewasa biasanya
berbentuk huruf S dengan diameter lebih sempit dari pada anak-anak.
Pada anak-anak disamping lurus tuba ini juga mempunyai diameter lebih
luas, sehingga memberikan drainase kavum timpani yang baik.Tuba ini
dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu :
Tuba Eustakii para osseus
Terdapat dibagian lateral yang mempunyai ukuran panjang
setengah dari pars kartilagenous dan bagian ini selalu terbuka. Makin
dekat keterbatasannya (isthmus) diameternya semakin sempit.

12
Tuba Eustakii pars kartilagenous
Terdapat di bagian medial yang mempunyai dinding dari jaringan
ikat yang disebut lamina membranasea. Hal ini menyebabkan tertutup
(merupakan rongga gepeng) pada saat istirahat, sedangkan pada saat
mengunyah menelan dan menguap dapat terbuka. Ini dikarenakan
kontraksi dari m. tensor vili palatini yang melekat di anterior pars
katilagoneus membuat kartilago tuba bentuknya lebih silindris dan jadi
terbuka.Pinggir belakangh dan atas ostium tuba terdapat suatu tonjolan
tulang rawan asesorius yang disebut torus tubaris. Di belakang torus
tubaris terdapat suatu parit atau resesus faring yang disebut fosa
Rosenmulleri.
Di sekitar ostium nasofaring terdapat lingkaran jaringan limpoid pada
mukosa yang disebut tonsil tuba dari Gerlach. Penyempitan terdapat
antara bagian kartilago dan bagian tulang, disini lumen menyempit,
disebut sebagai ismus dengan diameter 1 2 mm. Ismus yang sempit ini
mudah tertutup oleh pembengkakan mukosa dan akibat infeksi yang
lama sehingga terbentuk sikatriks yang menyebabkan penutupan
permanen dari tuba.
Diatas tuba terdapat semikanal m. tensor timpani dan dibagian
mediaoinferiornya terdapat kanalis karotikus.
Pada anak-anak tuba relatif lebih pendek, lebih horisontal dan lebih
lebar bila dibandingkan dengan orang dewasa sehingga infeksi dari
nasofaring dapat masuk ke kavum timpani.Tuba eustakii mendapat
pendarahan dari cabang : a. maksilaris interna, a. maksilaris
interna/palatina asenden, a. faringeal desenden pembuluh darah vena,
sejajar dengan arterinya, menuju kepleksus venosus pterigoideus, dan
pembuluh limpenya mengalir kelimponoduli retrofaringeal dan servikal
profunda.Persarafan dari saraf sensoris pleksus timpanikus cabang dari
nervus glosofaringeal, sedangkan ostium faringeal 50 % diurus oloeh
serabut-serabut ganglion spenopalatina, nervus V.

13
B.3. ANTRUM MASTOID SERTA SEL UDARA MASTOID
Bangunan ini terdapat di dalam tulang mastoid, merupsksn suatu
ruangan di dalam tulang mastoid yang berhubungan dengan kavum
timpani melalui aditus ad antrum. Antrum mastoid sudah terbentuk sejak
lahir, pada orang dewasa mempunyai ukuran anteroposterior 14 mm,
superoinferior 9 mm, dan 7 mm medio lateral dan terbentuk sebagai
akibat penyatuan prosesus skuamosa dengan pars petrosa os
temporalis.
Prosesus mastoid terbentuk pada umur 2 tahun, sedangkan
mastoid tip baru jelas terlihat pada waktu bayi dapat menegakkan kepala
dan ini ada hubungannya dengan perkembangan fungsi muskulus
sternokleidomastoideus. Pada bayi, prosesus mastoid belum terbentuk,
maka nervus fascialis yang keluar dari foramen stilonmastoid terletak
langsung pada permukaan lateral tengkorak. Karena itu incisi abses
pada bayi hendaknya dilakukan lebih horisontal untuk menghindari
terpotongnya nervus fasalis ini.
Proses pneumatisasi tulang mastoid normal terjadi sejak lahir dan
sempurna biasanya pada usia 4 6 tahun. Derajat pneumatisasi
tergantung pada keadaan faktor turunan dan infeksi telinga tengah
sewaktu neonatus atau segera sesudahnya, sehingga terlihat
pneumatisasi sempurna, ringan, bahkan tidak terbentuk sama sekali. Bila
proses pneumatisasi sempurna disebut tipe pneumatik, bila pneumatisasi
sebagian disebut tipe diploik dan bila tidak terjadi pneumatisasi disebut
tipe sklerotik.

Batas-batas mastoid.
Batas lateral
Dinding lateral mastoid merupakan pars skuamosa os temporalis yang
pada orang dewasa berhubungan dengan segi tiga suprameatal Mac
Ewens pada permukaan luar tengkorak, dimana dapat diraba dan
dipertegas oleh supramastoid crest.

14
Batas superior
Dinding superior mastoid dibentuk oleh bagian dasar fosa kranii media
atau tegmen, yang memisahkan antrum dari lobus temporalis otak.
Batas posterior
Batas posterior dibentuk oleh tulang yang menutupi sinus sigmoid. Batas
atas dinding posterior dengan tegmen mastoid membentuk sudut disebut
sinodural angle.
Batas inferior
Di bagian inferior tip mastoid membentuk dinding superfisial dengan
cekungan alur digastrik sebelah medialnya.
Batas anterior
Dinding anterior mastoid adalah dinding posterior kanalis akustikus
eksternus dan segmen vertikal nervus fasialis.
Batas medial
Dinding medial mastoid membentuk beberapa land mark. Segitiga
antara tonjolan keluar kanalis semisirkularis dengan sudut posterior
superior mastoid disebut Trautmans triangle , disini sel udara grup
antral memasuki os petrosum lebih dalam ke regio kanalis auditorius
internus. Korner septum adalah suatu dataran tulang yang terbentuk
sebagai fusi prosesus antralis os petrosus dengan prosesus timpani os
squamosa yang memisahkan sel antral sebelah dalam dan sel mastoid
sebelah luar. Antrum tidak akan tercapai sebelum korner septum
dibuang.
Land mark untuk mencapai planum mastoid.
Land mark yang diperlukan sbg petunjuk dalam operasi mastoid
adalah :
Spina suprameatus dari Henle pada sudut posterior superior meatus.
Fosa mastoidea atau area kribiformis suatu daerah yang berlekuk dan
dangkal, dimana ada perforasi kortek yang dilalui pembuluh darah pada
bayi dan anak-anak, kira-kira 1 cm dibelakang spina suprameatus.
Linea temporalis merupakan pinggir inferior insersi muskulus temporalis,

15
sebagai petunjuk batas fosa media dura. Terdapat dibelakang radiks
posterior prosesus zigomatikus horizontalis.
Foramen mastoid berisi vena emisaria mastoid yang berjalan dari kulit
kepala ke sinus sigmoid.
Land mark untuk mencapai antrum
Ada beberapa jalan untuk mencapai antrum, yaitu :
Melalui eksplorasi dari epitimpanum ke aditus ad antrum dan terus ke
antrum mastoid.
Langsung mencapai antrum melalui penatahan dari planum mastoid .
Dengan sondase kanalis akustikus eksternus ke arah aditus dan
dikerjakan dengan hati-hati karena dapat merusak rantai tulang
pendengaran. Cara ini dikerjakan bila cara di atas tidak dapat dipakai.
Antrum mastoid perlu ditemukan segera, karena dari sinilah kita memulai
mengeksplorasi sel-sel mastoid sesuai dengan perkembangannya.

HISTOLOGI TELINGA TENGAH


Kavum timpani diliputi oleh mukosa seperti mukosa respirasi yang
mengandung silia pada permukaannya dan mempunyai kemampuan
mensekresi mukus. Di atas nervus fasialis yaitu di epitimpanum dan
mastoid, epitelnya gepeng tidak bersilia yang biasdanya tidak
mensekresi mukus. Sel-sel goblet yang menghasilkan mukus, bila ada
biasanya terletak dekat orifisium tuba eustakii.
Mukosa kavum timpani ke anterior menjadi mukosa tuba eustakii.
Pada tuba bagian tulang ditutupi oleh mukosa low columnar ciliated
epithelium yang melekat erat pada periostium, sedangkan pada bagian
kartilago ditutupi oleh mukosa pseudo stratified cell yang bersilia.
Bagian kartilago tuba elastis karena mengandung serabut-serabut elastis
kecuali pada daerah ismus dimana serabutnya mengandung hialin. Dekat
ostium faring tuba, banyak sel goblet dan kelenjar tubo-alveolar yang
menghasilkan skret mukus ke lumen tuba.
Mukosa timpani melanjutkan diri keposterior menjadi mukosa antrum

16
dan sel-sel udara mastoid dengan epitel yang lebih gepeng dengan
jaringan submukosa yang tipis.

FISIOLOGI TELINGA TENGAH


Gelombang suara yang diterima oleh aurikula akan dilanjutkan
kekanalis aurikularis eksternus ke membrana timpani dan energi akustik
yang terjadi akan disalurkan ke kohlea.
Fungsi membran timpani
Getaran-getaran suara dari luar akan diteruskan ke kanalis
aurikularis eksternus dan ditampung oleh membran timpani, yang bekerja
sebagai fibrator dan menjaga agar getaran suara tidak langsung
mengenai fenestra ovalis.
Menurut Von Bekesy, pada frekuensi sampai 2400 Hz membran
timpani bergerak menyerupai gerakan piston, dimana pinggir atas dari
membran timpani dekat sulkus timpani, berperan sebagai engsel sumbu
putar dan pinggir bawah melakukan gerakan yang paling besar
mengelilingi sumbu putar dan pinggir bawah melakukan gerakan yang
paling besar mengelilingi sumbu putar. Kira-kira 60 - 72 % luas
permukaan anatomi membran timpani ikut ambil bagian dalam proses ini
atau 5 mm2.
Pada frekuensi lebih 2400 Hz, membran timpani kehilangan
kekakuannya dan gerakannya menjadi segmental.
Fungsi tulang pendengaran
Tulang pendengaran merupakan transformer mekanik energi suara,
yang menyalurkan getaran suara dari membran timpani ke kohlea.
Adanya mekanisme lever atau pengungkit tulang pendengaran yang
menurut Diahmant besarnya 1,3 kali dan perbandingan efektif membran
timpani dan dataran kaki stapes pada foramen ovale kira-kira 55 : 3,2.
Secara teoritis penambahan transformasi adalah 22 kali. Dalam proses
ini energi akustik suara di udara dirubah menjadi energi fibrasi dalam
cairan perilimp kohlea. Tanpa adanya perubahan ini, hanya sebagian

17
kecil dari energi suara yang akan sampai di kohlea. Bila terjadi
kerusakan tulang pendengaran atau kekakuan akan menyebabkan
gangguan pendengaran karena suara masuk ke kohlea langsung melalui
fenestra rotundum atau langsung kekohlea.
Fungsi otot M. Tensor timpani dan m. Stapedeus memegang peranan
penting sebagai proteksi telinga akan suara-suara yang keras dari luar,
dimana m. stapedius lebih protektif dibandingkan m. tensor timpani.
Suara yang datang secara tiba-tiba dan tidak dikehendaki tidak dapat
dilindungi oleh otot-otot ini, karena suara sudah efektif sebelum timbul
reflek kontraksi otot tersebut. Demikian pula pada stimulasi yang lama
akan menyebabkan otot menjadi lelah dan efek protektifnya menjadi
berkurang.
Fungsi tuba eustakii
Fungsi tuba eustakii adalah mengatur tekanan udara di dalam kavum
timpani supaya sama dengan tekanan udara di luar, sehingga sistim
timpano osikuler dapat berfungsi dengan baik melindungi telinga dari
perubahan tekanan yang besar dan mendadak. Fungsi lain adalah
mengalirkan sekret dari kavum timpani ke nasofaring. Dalam keadaan
normal bagian kartilago tuba tertutup atau kolap, karena banyak
mengandung serabut elastis. Bila mengunyah, menguap dan menelan
akan menyebabkan tuba terbuka buat sementara. Terbukanya tuba ini
dipengaruhi oleh m. Tensor vili palatini yang disarafi oleh cabang
mandibula nervus trigeminus, muskulus levator palatini oleh nervus
fasialis, nervus vagus dan pleksus faringeus dan muskulus
salfingofaringeus oleh fleksus faringeus. Yang memegang peranan
penting adalah muskulus Tensor vili palatini. Pada gangguan fungsi tuba
menyebabkan bakteri dinasofaring mudah masuk kekavum timpani dan
merupakan salah satu penyebab kronisitas radang telinga tengah.
Fungsi antrum dan sel udara mastoid .
Sampai sekarang belum diketahui fungsi antrum dan sel udara mastoid
secara pasti. Menurut Diamant tahun 1962 mengemukakan hipotesa

18
mengenai fungsi sel udara mastoid sebagai berikut :
Pada burung mempunyai efek mengurangi berat badan
Mempunyai efek khusus terhadap perbedaan musim.
Mempunyai efek khusus bila volume udara telinga tengah bertambah
dapat memberikan perbedaan tekanan terhadap sekitarnya.
Mempunyai efek pengurangan suara, sehingga memberikan
perlindungan sel saraf telinga dalan terhadap kerusakan akibat bunyi
yang keras.

PERSIAPAN OPERASI
Terdiri atas :
Persiapan operator
Persiapan penderita
Persiapan alat

Persiapan operator
Terdiri atas :
Operator dan asistennya
Ahli anestesi
Asisten peralatan
Khusus bagi operator :
Harus menguasai anatomi dan fisiologi serta patologi telinga.
Harus mengerti indikasi, kontra indikasi, komplikasi serta
penanggulangannya pada operasi telinga tengah.
Harus mempunyai ketrampilan yang baik dalam melakukan operasi
telinga tengah.
Persiapan penderita
Dilakukan pendekatan pada penderita dan keluarganya tentang :
Apa yang akan dikerjakan, maksud dan tujuan.
Persetujuan operasi.
Pemeriksaan labolatorium; Laboratorium darah dan urine rutin

19
Kultur dan sensitivity test.
Pemeriksaan penunjang lainnya: Rongen mastoid schuller dan
lateral, Test fungsi tuba.
Persiapan lainnya; Cukur rambut daerah operasi sehari sebelum
operasi dilaksanakan, dicuci dengan alkohol.
Persiapan alat dan prasarana lain
Prasarana :
ruang operasi dan meja operasi
ruang pemulihan
ruang perawatan dan
Persiapan alat
Bur lengkap dengan semua macam mata bur : 1 set
Skalpel (tangkai dan mata pisau) : 1 buah
Spuit 2 ml dan 5 ml dengan jarum : 1 buah
Spoon (karet) dari lampert dan volkman : 5 buah
Wullstein mastoid retraktor gigi 2 dan 3 : 2 buah
Resparator bengkok dan lurus : 2 buah
Hajek bone punch kecil, sedang, besar : 3 buah
Chissel kecil dan besar (lurus, lengkung dan
tumpul) : 2 buah
Gauge besar dan kecil : 2 buah
Tatah tumpul : 1 buah
Hammer : 1 buah
Spekulum telinga : 3 buah
Aligator kecil (Ear Forcep Hartman) : 2 buah
Arteri klem kecil, bengkok dan lurus : 8 buah
Pinset anatomis dan sirurgis : 2 buah
Elevator freer : 1 buah
Needle holder dan jarum : 1 buah
Tampon forsep : 1 buah
Suction tip Ferguson kecil dan besar : 2 buah

20
Mikroskop : 1 set

OPERASI MASTOIKDETOMI
Definisi : mastoidektomi merupakan tindakan operasi terhadap
prosesus mastoideus beserta organ-organ yang ada di dalam dan di
sekitarnya dengan maksud mengangkat jaringan-jaringan yang telah
mengalami kerusakan sebagaio akibat proses radang sehingga proses
peradangan tersebut dapat dihentikan.
Prosedur mastoidektomi
Untuk pembedahan biasanya selalu kita memberikan rasa yang enak
terhadap penderita-penderita pada saat pembedahan ataupun sesudah
pembedahan. Untuk ini perlu ditempuh metode mematikan rasa/anestesi
terhadap penderita-penderita yang akan dioperasi. Demikian pula pada
mastoidektomi.
Anestesi:
Ada dua macam anestesia yaitu : lokal dan umum
Lokal anestesi :
Disini penderita diusahakan dalam keadaan sadar selama pembedahan,
tetapi dihilang rasakan terhadap tindakan-tindakan pembedahannya. Hal
ini penting terutama bila test-test pendengaran diperlukan selama atau
sesudah operasi tersebut.
Caranya :
Pemberian sedatif pre operatif : penderita diberi sedatif untuk
menenangkan, tapi tidak mendepresi pernafasan maupun tekanan
darahnya. Satu setengah jam pra bedah diberikan lagi Nembutal 200mg.
Setengah jam pra bedah diberikan lagi setengah dosis dan ditambah 50
mg Therazine (i.m). 15 mghr morphine sulfas (sub cutan). Bila ternyata
penderita masih kelihatan gelisah saja, maka Therazine dapat diberikan
lagi setengah dosis (25 mg). Pemberian morphine tak boleh diberikan
lagi bila operasi sudah hampir selesai. Bila hal ini perlu diberikan, maka

21
perhatian harus ditujukan pada perawatan paska bedah, yang dapat
memberikan gejala-gejala depresi pernafasan. Pemberian novocain:
anestesi yang biasa dipakai adalah novokain ditambah adrenalin 1/1000
4 13 tetes tiap 10 cc novocain 2 %.2 cc diberikan pada tetes batass
pars osseous-cartilagenous meatus untuk memati rasakan n. auriculko
temporalis cabang timpani, untuk membrana timpani dan saluran telinga
luar depan.1 cc diberikan pada periost insura terminalis mengarah ke
atas ditiga tempat berdekatan, untuk mematirasakan n. aurikulo
temporalis cabang aurikula yang mensarafi bagian atas aurikula dan atas
saluran telinga luar.1 cc diberikan di belakang aurikula mulai mastoid tip
sampai ata aurikula kira-kira ditiga tempat, utnuk mematirasakan n.
aurikularis magnus (C.3), yang mensarafi telinga/aurikiula bagian
belakang dan depan atas.1 cc diberikan pada periost depan mastoid
proses dan kulit dasar saluran telinga luar, untuk mematirasakan n.
vagus cabang aurikula, yang menuju saluran telinga luar. Beberapa tetes
Xylokain 4 % diberikan secara topikal ke dalam kavum tympani,
opytympani, antrum dan lain-lain sesuai dengan kebutuhannya,
kemudian diisap lagi setelah beberapa menit (2-3 menit).
Lokal anestesi pada approach endo aural :
Disini lokal anestesi lebih sederhana lagi, mengingat insisi kulit
dilakukan melalui kulit meatus, misalnya pada stapes mobilisasi.
Caranya : bahan anestesi Novocain 2 % 6 bagian dengan adrenalin satu
bagian, kemudian disuntikkan keperbatasan pars cartilaginous-pars
osseous, ke arah periosnya, masing-masing sebanyak 0,2 cc pada
dinding meatus inferior, superior dan anterior, 0,4 cc pada dinding
posterior meatus. Jadi jumlahnya kira-kira 1 cc saja, hal ini tidak akan
menimbulkan benjolan yang menghalangi pandangan ke meatus.

Anestesi umum :
Disini dapat dipakai obat-obatan inhalan atau yang disuntikkan (pentotal

22
valium, pathidine, dll)Inhalan diberikan secara endotrakeal
(nasotrakeal/orotrakeal). Premedikasi biasa diberikan Sulfas atropin dan
phenergan atau pethidin setengah jam sebelum operasi. Inhalan yang
diberikan dapat ether, fluotene atau nitrous exydes.

Keuntungan dengan anestesi lokal :


Perdarahan yang kurang terutama pada stapedektomi atau stapes
mobilisasi.
Lokal anestesi lebih aman pada penderita daripada anestesi umum.
Terhindarnya kerusakan laryng/trakea yang ringan dapat dihindarkan
pada lokal anestesi.
Paska bedah rasa mual dan muntah-muntah tak terdapat pada lokal
anestesi dan mobilisasi dapat lebih cepat dilaksanakan.
Test-test pendengaran dapat dikerjakan pada lokal anestesi, terutama
pada pembedahan tympanoplasty dan stapes mobilisasi.

Insisi kulit
Untuk mencapai tulang temporal diperlukan membuka kulit yang terdapat
di atasnya. Yang paling klasik adalah membuka kulit di belakang aurikula
(insisi Widle, 1953)/retroaurikular insisi, tujuannya untuk mencapai
antrum mastoid. Tapi kemudian para sarjana mencari jalan paling dekat
ke sumber peradangan, yang saat itu dianggap di tympanum, maka
mereka mencari jalan paling dekat ke tympanum, yaitu insisi endoaural
(insisi Theis, 1970).
Macam-macam insisi kulit :
a.Insisi retroaurikuler atau insisi post aurikuler.
b.1.Endoaural biasa.
2.Insisi endoaural di dalam meatus/kanalis akustikus.

Ad.a. Insisi retroaurikuler :


Dibuat sayatan tajam dari kulit, subkutis dan periosteum secara

23
bertahap, tidak sekaligus. Hal ini terutama apabila diduga planum
mastoid telah rusak. Letak sayatan antara 0,5 0,8 cm dari insertia
aurikula, dimulai dari atas dekat ujung insersi aurikula ke bawah sejajar
sampai mendekati tip mastoid, kira-kira antara 5 7 cm. Untuk
mencegah perdarahan yang berlebihan, terutama metoda anestesi
umum, sebaiknya diinfiltrasikan dahulu Nacl cum adrenalin di daerah
yang akan di insisi tadi, sampai tampak kulitnya menguning. Sayatan
dilakukan lapis demi lapis mulai kulit sampai periost. Setelah itu periost
dilepaskan dan planum mastoid dibersihkan, kulit dan subcutis meatus
dibebaskan dari os timpani.
Insisi fossa aural biasanya pada anak-anak agak mendatar tidak
diarahkan ke mastoid tip, terutama pada anak-anak di bawah 2 tahun. Ini
perlu diketahui agar n. fasialis tidak terkerat.

Ad.b.1. Insisi endoaural biasa


Insisi ini mempunyai dua tahapan :
Pertama : Insisi utama dimulai di kanalis auditorius eksternus pars
kartilaginosa pada posis jam 12.00, dinding superior kira-kira 1 cm ke
dalam meatus, sayatan pada dinding posterior menuju dinding inferior
pada posisi jam 06.00. Dari sini insisi belok ke arah konka kira-kira 3
mm. Ini insisi kulitnya kemudian insisi subkutis sampai periosteum.
Kedua : Insisi kulit dimulai lagi dari posisi jam 12.00 menuju ke arah
tengah-tengah antara aurikula dan tragus di dalam incisura terminalis.
Bila masih diperlukan diperlebar, maka dapat terus ke arah m. temporalis
tanpa merusak struktur aurikula kecuali arteri dan vena temporalis
superfisialis yang terkerat. Sayatan kedua ini disebut sebagai sayatan
pembantu bila sayatan pertama kurang memberikan lapangan yang
cukup luas. Untuk menghilangkan tegangan fascia, maka dibuat sayatan
eksisi segitiga dari ujung fascia, maka retraktos akan lebih mudah
terpasang. Periosteum disisihkan ke arah depan dan belakang sampai
akar zygoma, dimana fascia di daerah zygoma ini dibuat seperti di atas.

24
Ad.b.2. Insisi endoaural dalam meatus :
Insisi ini lebih ke arah dalam meatus sehingga sering disebut sebagai
insisi endoaural. Cara insisi ini dipakai Lempert untuk
timpanosimpatektomi dan Rosen memakai cara ini untuk operasi
approachstapes.
Caranya : Pada posisi jam 6.00 dekat pada anulus timpanikus sayatan
diarahkan kebelakang sampai pada posisi jam 09.00 sejarak 6 9 mm
dari anulus untuk telinga kanan, atau posisi jam 03.00 untuk telinga kiri.
Insisi dilanjutkan sampai kira-kira 2 mm prosessus brevis maleus ke arah
atas. Pisau yang dipakai adalah angular-knive, yaitu pisau yang
membentuk sudut dengan gagangnya. Maka disayat dengan pisau yang
sama sedangkan kulit yang tebalnya digunting dengan aligator. Untuk
selanjutnya timpanum dapat dicapai dengan mengangkat anulus
membran timpani disisihkan.

OPERASI MASTOIDEKTOMI
Setelah mengetahui prosedur-prosedur di atas, maka selanjutnya kita
akan membuka prosessus mastoideus untuk mencari proses radang dan
menghilangkannya, atau untuk mengeksplorasi antrum, sel-sel mastoid,

25
kavum timpani dan organ-organ sekitarnya.
Kita mengenal beberapa jenis mastoidektomi :
Timpanotomi anterior
Mastoidektomi Simpel
Mastoidektomi Radikal
Mastoidektomi modifikasi radikal = Atiko antrostomiCombined
approach mastoidectomy atau antact wall canal mastoidectomy

TIMPANOTOMI ANTERIOR
Definisi : suatu tindakan bedah membuka kavum timpani untuk
diagnostik dengan melihat, dan merupakan bagian dari tindakan bedah
telinga tengah yang lain.
Indikasi :
Diagnostik
Mencari sebab CHL yang tak dapat diketahui tanpa membuka telinga
tengah.
Membedakan otosklerosis atau otitis adhesiva
Memastikan adanya tumor seperti tumor glamus jugulare.
Drainase efusi telinga tengah yang kental.
Komplikasi : otitis media

Teknik operasi .
Insisi endomeatal, dilanjutkan dengan elevasi flap timpanomeatal.
Kemudian setelah inspeksi dan dilakukan tindakan kavum timpani, maka
membran timpani dan flap kulit dikembalikan. Meatus harus dijaga
supaya tidak kemasukan air dan debu. Meatus ditutup dengan tampon
kotton wool selama dua minggu.

SIMPLE MASTOIDEKTOMI
Dikenal sebagai pembedahan Schwartze, mastoidektomi kortikalis,
mastoidektomi konservatif. Secara klasik pertama kali dikerjakan

26
Ambrose Pare yaitu kira-kira 4 abad yang lalu. Pernah menganjurkan
untuk membedah raja Charles II dari Perancis, tapi ditolak ibu suri dan
mati.
Definisi : suatu tindakan bedah untuk mengambil selule mastoid dengan
merusak sekat-sekat selule hingga menjadi suatu ruangan besar tanpa
merusak isi telinga tengah.
Indikasi :
Otitis media akut supuratif yang tidak mau sembuh dengan pengobatan
antibiotika atau terapi konservatif dan menuju kearah mastoiditis
koalesen. Disini dilakukan pengeluaran nanah yang tertahan,t idak ada
bone necrotic.
Otitis media akut dengan permulaan komplikasi dari penyebaran osteo-
trombopleibitis.
Otitis media akut yang tak terobati dan berlangsung lebih dari 2 minggu,
akan mengalami erosi tulang.
Otitis media kronik dengan komplikasi mastoditis kronik tanpa
pembentukan kolesteatom.
Komplikasi :
Kerusakan n. VII terutama waktu membersihkan seluruh retrofasial.
Dislokasi prosesus brevis inkudis sewaktu membuka antrum.
Penetrasi pada sinus venosa lateralis.
Duramater fosa medialis terbuka, terutama bila mengebor terlalu
tinggi.
Hematom post operasi.
Post operasi terdapat pengumpulan nanah bila masih ada selule yang
supuratif.
Trauma pada kohlea, bor terkontak dengan prosesus brevis inkudis.

Tahapan Simpel Mastoidectomy

27
Tehnik operasi :
Insisi standar adalah post aurikular bila ujung tip terbentuk sempurna,
insisi ke belakang dan kebawah pada ujung mastoid. Bila ujung mastoid
tak terbentuk, insisi dilakukan keatas belakang.
Tahap pertama .
Membuka tonjolan mastoid, insisi sampai ke perios, kemudian lakukan
elevasi periostum untuk mencapai segi tiga Mac Ewen Spina Henle, tepi
posterior meatus. Jaringan lunak dipisahkan dengan retraktor.
Tahap kedua .
Permulaan membuka dan membersihkan selule, kortek mastoid pada
daerah landmark antrum dibersihkan, kemudian dengan bor dibuat uang
sampai ke antrum. Kanalis semisirkularis lateralis di indentifikasikan dan

28
daerah pengeboran sampai dan daerah pengeboran sampai baas
segitiga Mac Ewen :
Atas : tulang yang menutupi daerah fosa medialis.
Belakang : tulang yang menutupi sinus lateralis.
Depan : dinding posterior meatus dan ad antrum.
Tahap ketiga .
Membersihkan selule yang sisa dan seluruh selule tip mastoid
dibersihkan. Pada mastoid yang pneumotisasi perluasan ini berarti
membersihkan kortek ke belakang sampai akar zygomatik Tip
dibersihkan sampai serabut otot digastrik venterposterior tampak.
Tahap keempat .
Penutupan luka dengan menjahit berselang seling, bila terjadi
pendarahan, dipasang drain sampai atau selama 24 jam.

Kesulitan mencari antrum mastoid terjadi karena :


Penatahan dilakukan terlalu rendah atau jauh linea temporalis.
Antrum letaknya belakang dinding posterior saluran telinga luar,
lateral dari anulus timpanikus.
Spina supra meatus yang sudah tak kelihatan atau hancur.
Melupakan adanya septum korner pada beberapa kasus yang disebut
sebagai lamina petro skuamosa.
Tulang mastoid diploic atau sklerotik yang sering disertai dengan
penurunan letak tegmen dan sinus sig moideus ke depan.

MASTOIDEKTOMI RADIKAL
Definisi : adalah suatu operasi untuk membersihkan proses penyakit di
kavum timpani, antrum mastoid dengan menyatukan kedua ruangan
tersebut menjadi satu, sehingga mudah dimasuki, dinding menjadi rata
dan bebas berhubungan dengan orifisium meatus akustikus eksternus.
Pada tindakan ini, membrana timpani, maleus, inkus, korda timpani dan

29
mukoperiosteum diambil. Dikenal sebagai operasi operasi Stacke atau
operasi Zaufal dimana para sarjana ini telah membuat diskripsi dari cara-
cara pembedahan dan indikasi pembedahan. Sebagai kelanjutan dari
mastoidektomi ini dilakukan pembedahan rekonstruksi pendengaran oleh
Zollner dan Wullstein pada tahun 1950.
Indikasi :
Pada otitis media kronik dengan pembentukan kolesteatoma di kavum
timpani ataupun di antrum mastoid.
Pada otitis media kronik dengan proses osteitis tanpa pembentukan
kolesteatoma atau osteomeilitis luas.
Pada proses keganasan di telinga yang memerlukan eksplorasi dari
tympanum, hypotympanum, peritubal, epitympanum dan antrum
mastoid, dimana terdapat pandangan luas pada :
Labirinectomi
Tumor glomus Jugulare
Karsinoma telinga stadium dini (eksterpasi radikal).
Komplikasi :
Kerusakan n. fasilis
Labirintitis supuratif. Infeksi masuk ke vestibulum karena
pergeseran stapes
Tuli konduktif ditambah berat karena ossikuler chain
dihilangkan. Kadang-kadang tuli sensorineural dapat terjadi
apabila terjadi fistula labirin
Perdarahan.
Bulbus jugularis terdapat di hipotimpanum dalam keadaan tak
tertutup oleh tulang atau tertutup oleh tulang tipis maka pada
eksplorasi hipotimpanum harus diperhatikan. Pendarahan ini
dapat dihentikan dengan tampon spongostan atau otot yang
ditanamkan dengan tekanan.
Kanalis semisirkularis horisontal sering letaknya lebih rendah dari
kanalis fasialis, normal lebih tinggi. Ini terdapat pada fistula

30
semisirkularis karena kolesteatoma. Bila ada kolesteatoma jangan
diganggu agar tidak bocor, untuk mencegah terjadinya tuli
sensorineural (dead ear).Pendarahan yang difus dapat diatasi
dengan :Spongostan yang dicelup dengan epineprin yang
ditekankan dengan pertolongan gas untuk beberapa menit.Dengan
polishing bor untuk pendarahan dari tulang dengan kecepatan
rendah atau cutting bor pada pendarahan dari
granulasi.Pemakaian bone-wax yang tipis, bila cara diatas tidak
berhasil. Pemakaian wax ini sebaiknya dihindarkan untuk
mencegah terjadinya emboli benda asing.Tehnik operasi. Insisi
dapat retroaurikuler atau endoaural. Insisi endoaural banyak
dipakai berdasarkan keuntungannya antara lain :pandangan lebih
jelas ke timpanum dan epitimpanumtrauma jaringan lunak lebih
sedikit lubang-lubang tulang dapat dibuat kolesteatoma atau
kontrol paska bedah kortek lebih luas dapat dilihat mulai dari akar
prosesus zygomatikus sampai kelubang meatus dan spina Henle
Tahap pertama : Membuka daerah mastoid

31
Tahap kedua : Identifikasi antrum mastoid Kortek
mastoid dibuat lubang dengan bor
pada trigonum Mx Ewen
Tahap ketiga : Identifikasi tegmen antrum dan
kanalis semisirkularis lateralis. Bila
tidak dapat diidentifikasi, kita
mencoba memasuki telinga tengah
dari belakang, tapi hal ini berbahaya.
Tegmen merupakan pegangan untuk
identifikasi letak diatas n. fasialis,
sedangkan kanalis semisirkularis
menunjukkan letak setinggi
n.fasialis.
Tahap keempat : Penipisan bagian posterior meatus dan
pengangkatan bridge. Bagian
dinding yang terletak antara meatus
eksternus dan antrum ditipiskan
sehingga tersisa bagian tulang tipis
yang disebut bridge, kemudian
bridge diangkat untuk melihat
inkus. Sisa dinding luar atik diangkat
juga dan disisakan tulang yang
melindungi n. fasialis secukupnya.
Kavum timpani dan antrum sekarang
jadi satu.
Tahap kelima : membuang isi telinga tengah
Dibawah mikroskop membrana
timpani, maleus, inkus dan stapes
serta mukoperios yan melapisi kavum
timpani diangkat.
Tahap keenam : Membersihkan kavum timpani dan

32
menutup luka operasi. Untuk
mempercepat penyembuhan dan
epitelisasi dapat diisi graft.
Ada dua macam graft yaitu :
Free graft : thiersch atau fasia m. Temporalis
pedicle graft : m.temporalis

Perawatan post operasi :Tampon dan jahitan dilepas pada hari keenam
lalu tampon diganti tiap minggu atau kavitas tidak usah ditampon tetapi
dibersihkan teratur hingga epitelisasi sempurna.

5.mengikat flaps 8.menutup/ closure

6.skin grafting 9.muscle grafting

33
7.skin grafting 10-11 dissection of
flaps

MASTOIDEKTOMI MODIFIKASI RADIKAL = ATIKO ANTROSTOMI


Definisi :Tindakan bedah untuk membersihkan penyakit di atik atau
epitmpanum dan antrum mastoid, dimana dinding tulang yang membagi
meatus dari antrum dan atik diangkat.

Bondy tahun 1910 memberikan persyaratan untuk operasi ini antara lain
:
Kolesteatoma terbatas pada epitimpanum saja, belum menyebar ke
antrum timpani
Membrana timpani pars tensa masih utuh
Rangkaian tulang pendengaran masih baik
Indikasi Operasi :
Kolesteatoma epidermoid
Otitis media kronik lokalis
Untuk persiapan operasi lain
Komplikasi :
Penyakitnya sering kambuh
Fasial palsy
Kavitas yang tidak sembuh-sembuh
Tehnik operasi :

34
Insisi dapat retroaurikuler atau dapat pula endoaural. Paling sering
modified radikal mastoidektomi ini dengan insisi endoaural kaena
kelainannya terletak di epitimpanum maka insisi endoaural ini akan lebih
dekat ke epitimpanum. Demikian pula keuntungan-keuntungan lainnya
sama seperti pada mastoidektomi. Prinsip pembedahan ini lebih banyak
bekerja di epitimpani, dimana sumber peradangan atau kolesteatom
terdapat disana. Sedangkan antrum timpani beserta ossikel dan
mukosanya tidak kita ganggu, keutuhan rantai osikel dipertahankan.
Prinsip operasi ini sama dengan radikal mastoidektomi klasik dimana
daerah patologisnya dibuka ke meatus secara tetap dengan cara
mengangkat dinding belakang dan depan dari meatus bagian tulang,
kemudian dipasang meatal flap. Perbedaannya adalah membrana
timpani pars tensa dipertahankan atau dibiarkan, osikel dan mukosa
timpani dibiarkan.

Caranya operasi :
Tahap I IV : Sama seperti mastoidektomi aurikuler.
Atiko antrostomi : Membuka atik dan antrum lebih
menguntungkan, bila berturut-turut dibuang dinding terluar atik dan
sebagian dinding antrum atau meatus, yang dimulai pada tepi postero-
superior ring timpaini.
Tahap kelima : Pengambilan hanya jaringan yang sakit.
Osikula dipertahankan bila mungkin. Bila inkus rusak, dibuang bersama-
sama dengan kaput malei karena akan menghalangi drainase.
Tahap keenam : Menghaluskan kavitas dan menutup luka,
seperti pada mastoidektomi radikal.

Pembedahan Bondy :
Disini kolesteatoma betul-betul terlokalisir di epititampanum saja dan
osikel masih baik atau utuh sehingga dilakukan pengangkatan secara
keseluruhan dari kolesteatom intoto. Antrum timpani tak diganggu dan

35
meatal flap seperti diatas ditutupkan keatas perforasinya, keeptimpanum
dan ke antrum mastoid.Bila ternyata kolesteatoma menempel diatas
osikel tapi tidak menimbulkan kerusakan rantai osikel, maka operasi
Bondy masih dapat dipakai, tapi bila telah terjadi kerusakan rantai osikel,
maka modified radical mastoidektomi dapat dikerjakan dengan
mengangkat maleus dan inkus, tetapi stapes dibiarkan dan membrana
timpani ditempelkan langsung pada stapesnya.
Perawatan pasca operasi: Perawatan sama seperti pada jenis
mastoidektomi lainnya.

MASTOIDECTOMY COMBINED APPROACH atau INTACT WALL


CANAL MASTOIDECTOMY
Definisi : Adalah suatu tindakan bedah dengan membuka dan
membersihkan penyakit dari telinga tengah dengan mempertahankan
dinding posterior meatus untuk persiapan timpanopasti.
Keuntungan :mencegah kavitas terbuka memperbaiki fungsi
(dibandingkan dengan radikal mastoidektomi)
Kerugiannya :
.Pada kolesteatoma yang besar, lapang pandang operasi kurang
memadai.
.Memerlukan seleksi lebih ketat dan follow up yang teliti.
.Memerlukan lapangan pandang yang luas dan lebih banyak jaringan
sehat yang dibuang.
Indikasi operasi :Otitis media kronik unsafe-kolesteatoma
Kontra indikasi operasi :
Penyakit telinga tengah : - dengan komplikasi
- dalam pengobatan
Keganasan
Penderita yang tidak dapat di follow up dan menolak operasi ulang
Komplikasi :
Infeksi berulang

36
Kolesteatoma berulang terutama pada anak kecil
Tehnik operasi :
Tahap pertama : Timpanostomi anterior
Jaringan sakit dibersihkan kemudian dilanjutkan dengan
Tahap kedua : Timpanostomi posterior
Insisi standard : post aurikuler yang diperluas. Pembukaan daerah
mastoid dan meatus eksterna dengan timpanotomi anterior
mastoidektomi kortikalis yang diperluas ke attik (perluasan Schwartze).
Dinding posterior meatus dibuat setipis mungkin tetapi jangan sampai
merusak. Dilakukan pengangkatan tulang bagian posterior yang
kelateral sinus sehingga terdapat sudut yang lebih luas untuk pandangan
kearah telinga tengah. Timpanotomi posterior ini merupakan bagian
yang paling sulit. Dengan mengangkat sebagian tulang antrum, n.
fasialis sering rusak. Semua jaringan diangkat dengan combined
approach, harus dapat diekspose sebaik-baiknya seperti pada
mastoidektomi radikal akan menyelamatkan dinding belakang meatus
dan tidak lancarnya jalan masuk ke sinus timpanika. Bila ada kesukaran
mengeluarkan jaringan sakit pada resesus fasialis, maka dapat
dilanjutkan dengan tindakan mastoidektomi radikal.
Tahap ketiga : Miringoplasti dan osikuloplasti
Bilamana semua jaringan sakit telah diangkat, kemudian dilakukan
miringoplasti fasial graft pada telinga sehat, aerasi oleh tuba baik dan
terlindung terhadap infeksi sekunder dari meatus.Pada kasus dimana
kolesteatoma sudah bersih dapat dilakukan osikuloplasti. Osikuloplasti
dikerjakan pada kasus-kasus dimana stapes dan tendo stapedus intak
atau utuh.

37
DAFTAR PUSTAKA

1. Goodhill V. Basic otosurgicalprosedures, In : Ear disease deafness


and
dizzines, Harper and Row, Hagerstown Maryland, New York, San
Fransisco, London. 1979 : 294 354.
2. Schambaugh GE, Glasscock ME. Surgery of the ear. 3 rd ed.,
Philadelphia, WB Saunders 1980 : 5 51; 210 219; 289 346.
3. Ballenger JJ. Disease of the nose, throat, ear, head and neck. 14 th
ed., Lea and Febiger, Philadelphia 1991 : 922 33.
4. Boies LR. Fundamentals of otolaryngology. A text book of ear, nose
and throt disease. 5 th ed., Philadelphia : WB Saunders 1978 : 149
77; 195-227.
5. Hollinshead HW. Anatomy for surgeon. The head and neck. 1 st ed.
Harper and Row, New York 1954 : 175 194.
6. Donaldson JA, Miller JM. Anatomy of the ear. In : Paparella and
Shumricks Otolaryngology. WB Saunders 1966 : 75 91.
7. Kirikae I. Physiology of the ear. In : Paparella and Shumricks
Otolaryngology. WB Saunders 1975 : 261 274.
8. Shenon PM. Management of chronic suppurativa otitis media. In :

38
Scott Browns Otolaryngology. 5 th ed. Otology. Butterworh 1987 : 215
37.
9. Wright A. Anatomy and ultrastructure of the human ear. In : Scott-
Brown Otolaryngology. 5 th ed. Basic sciences. Butterworh 1987 : 1
46.
10.Diamant M. Mastoid Pneumatization and its function, Arch
Otolaryngol; 76 1962 : 14 21.
11. Ballantyne JC et al. A synopsis of Otolaryngology. 3 rd ed. John Wright
and Son Ltd 1978 : 9 12.
12.Jackson and Jackson. The ear. Disease of nose, throat and ear. 2 nd
ed. Philadelphia : Wb Saunders Co. 1959 : 291 311.
13.Mawson SR. Disease of the ear. 4 th ed. 1978 : 530 46.
14.Soepardjo H. Kumpulan Kuliah THT. Naskah dipakai untuk kalangan
sendiri : Anatomi telinga, Fisiologi telinga tengah, Mikroanatomi
telinga tenga, Tuba Eustachius, Petunjuk operasi telinga tengah.

39