Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Eklampsia yang dianggap sebagai komplikasi preeklamsia berat, umumnya
didefinisikansebagai onset baru dari aktivitas kejang tonik-klonik (grand mal seizure) yang dapat
disertai dengan koma selama kehamilan atau setelah melahirkan pada wanita yang sebelumnya
telah memiliki tanda-tanda atau gejala preeklampsia.1
Eklampsia sangat erat kaitannya dengan preeklampsia baik ringan maupun berat karena
eklampsia merupakan komplikasi dari preeklampsia. Preeklamsia itu sendiri adalah kelainan dari
fungsi endotel vaskular dan vasospasme yang luas yang terjadi setelah kehamilan 20 minggu dan
dapat berlangsung hingga 4-6 minggu masa nifas.1
Di Indonesia eklampsia, di samping perdarahan dan infeksi masih merupakan sebab utama
kematian ibu dan sebab kematian perinatal yang tinggi. Oleh karena itu diagnosis dini pre
eklampsia, yang merupakan tingkat pendahulu eklampsia serta penanganannya perlu segera
dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Perlu ditekankan bahwa sindroma
pre eklampsia ringan dengan hipertensi, edema dan proteinuria sering tidak diketahui atau tidak
diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan, sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat
timbul pre eklampsia berat.14
Frekuensi eklampsia bervariasi antara satu negara dengan negara lain. Frekuensi rendah
pada umumnya merupakan petunjuk tentang adanya pengawasan antenatal yang baik,
penyediaan tempat tidur antenatal yang cukup, dan penanganan pre-eklampsia yang sempurna.1
Di negara-negara yang sedang berkembang frekuensi dilaporkan berkisar antara 0,3% -
0,7%, sedang di negara-negara maju angka tersebut lebih kecil, yaitu 0,05% - 0,1% .15
Preeklampsia termasuk salah satu bagian dari terminologi hipertensi dalam kehamilan
(HDK). Hipertensi dalam kehamilan digunakan untuk menggambarkan spektrum yang luas dari
ibu hamil yang mengalami peningkatan tekanan darah yang ringan atau berat dengan berbagai
disfungsi organ. Sampai sekarang penyakit HDK masih merupakan masalah yang belum dapat
dipecahkan dengan tuntas.1,2

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Eklampsia


Eklampsia merupakan keadaan dimana ditemukan serangan kejang tiba- tiba yang dapat
disusul dengan koma pada wanita hamil, persalinan atau masa nifas yang menunjukan gejala
preeklampsia sebelumnya. Kejang disini bersifat grand mal dan bukan diakibatkan oleh kelainan
neurologis.Istilah eklampsia berasal dari bahasa Yunani yang berarti halilintar. Kata-kata tersebut
dipergunakan karena seolah-olah gejala eklampsia timbul dengan tiba-tiba tanpa didahului tanda-
tanda lain.1
Eklampsia dibedakan menjadi eklampsia gravidarum (antepartum), eklampsia
partuirentum (intrapartum), dan eklampsia puerperale (postpartum), berdasarkan saat timbulnya
serangan. Eklampsia banyak terjadi pada trimester terakhir dan semakin meningkat saat
mendekati kelahiran.Pada kasus yang jarang, eklampsia terjadi pada usia kehamilan kurang dari
20 minggu. Sektar 75% kejang eklampsia terjadi sebelum melahirkan, 50% saat 48 jam pertama
setelah melahirkan, tetapi kejang juga dapat timbul setelah 6 minggu postpartum.1
Sesuai dengan batasan dari National Institutes of Health (NIH) Working Group on Blood
Pressure in Pregnancy preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai dengan proteinuria
pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu atau segera setelah persalinan. 2Saat ini edema pada
wanita hamil dianggap sebagai hal yang biasa dan tidak spesifik dalam diagnosis preeklampsia.
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau tekanan
diastolik 90 mmHg. Proteinuria adalah adanya protein dalam urin dalam jumlah 300 mg/dl
dalam urin tampung 24 jam atau 30 mg/dl dari urin acak tengah yang tidak menunjukkan
tanda-tanda infeksi saluran kencing.3

2.2. Epidemiologi
Frekuensi eklampsia bervariasi antara satu negara dan yang lain. Frekuensi rendah pada
umumnya merupakan petunjuk tentang adanya pengawasan antenatal yang baik, penyediaan
tempat tidur antenatal yang cukup dan penanganan pre-eklampsia yang sempurna.15
Di negara-negara sedang berkembang frekuensi dilaporkan berkisar antara 0,3% - 0,7%,
sedang di negara-negara maju angka tersebut lebih kecil, yaiatu 0,05% - 0,1%.15
2.3. Faktor Risiko

2
1. Primigravida atau nulipara, terutama pada umur reproduksi ekstrem, yaitu 16 tahun
dan umur 35 tahun ke atas.
2. Multigravida dengan kondisi klinis:
a. Kehamilan ganda dan hidrops fetalis.
b. Penyakit vaskuler termasuk hipertensi esensial kronik dan diabetes melitus.
c. Penyakit-penyakit ginjal.
3. Hiperplasentosis, Molahidatidosa, kehamilan ganda, hidrops fetalis, bayi
besar,diabetes melitus.
4. Riwayat keluarga pernah pre-eklamsia atau eklampsia.
5. Obesitas dan hidramnion.
6. Gizi yang kurang dan anemia.
7. Kasus-kasus dengan kadar asam urat yang tinggi, defisiensi kalsium, defisiensi asam
lemak tidak jenuh, kurang antioksidan.4

2.4 Etiologi dan Patofisiologi Eklampsia


Patofisiologi kejang eklamptik belum diketahui secara pasti. Kejang eklamptik dapat
disebabkan oleh hipoksia karena vasokonstriksi lokal otak, dan fokus perdarahan di korteks otak.
Kejang juga sebagai manifestasi tekanan pada pusat motorik di daerah lobus frontalis.Beberapa
mekanisme yang diduga sebagai etiologi kejang adalah sebagai berikut :7
a) Edema serebral
b) Perdarahan serebral
c) Infark serebral
d) Vasospasme serebral
e) Pertukaran ion antara intra dan ekstra seluler
f) Koagulopati intravaskuler serebral
g) Ensefalopati hipertensi
Koma yang dijumpai pada kasus eklampsia dapat disebabkan oleh kerusakan dua organ vital :8
1) Kerusakan hepar yang berat : gangguan metabolisme-asidosis, tidak mampu mendetoksikasi
toksis material.
2) Kerusakan serebral : edema serebri, perdarahan dan nekrosis disekitar perdarahan, hernia
batang otak.

3
2.5. Gambaran Klinik Eklampsia

Seluruh kejang eklampsia didahului dengan preeklampsia. Preeklampsia dibagi menjdai ringan
dan berat. Penyakit digolongkan berat bila ada satu atau lebih tanda dibawah ini :5
1. Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih.
2. Proteinuria 5 gr dalam24 jam atau +3 atau +4 pada pemetiksaan kualitatif.
3. Oliguria (diuresis 400 ml atau kurang dalam 24 jam).
4. Keluhan serebral, gangguan penglihatan atau nyeri di daerah epigastrium.
5. Edema paru atau sianosis.
Pada umumnya serangan kejang didahului dengan memburuknya preeklampsia dan
terjadinya gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal, gangguan penglihatan, mual keras, nyeri
di daerah epigastrium, dan hiperrefleksia.Menurut Sibai terdapat beberapa perubahan klinis yang
memberikan peringatan gejala sebelum timbulnya kejang, adalah sakit kepala yang berat dan
menetap, perubahan mental sementara, pandangan kabur, fotofobia, iritabilitas, nyeri epigastrik,
mual, muntah. Namun, hanya sekitar 50% penderita yang mengalami gejala ini. Prosentase
gejala sebelum timbulnya kejang eklampsia adaah sakit.6
Nyeri kepala yang berat dan menetap (50-70%), gangguan penglihatan (20-30%), nyeri
epigastrium (20%), mual muntah (10-15%), perubahan mental sementara (5- 10%). Tanpa
memandang waktu dari onset kejang, gerakan kejang biasanya dimulai dari daerah mulut
sebagai bentuk kejang di daerah wajah. Beberapa saat kemuadian seluruh tubuh menjadi kaku
karena kontraksi otot yang menyeluruh, fase ini dapat berlangsung 10 sampai 15 detik. Pada
saat yang bersamaan rahang akan terbuka dan tertutup dengan keras, demikian juga hal ini akan
terjadi pada kelopak mata, otot-otot wajah yang lain dan akhirnya seluruh otot mengalami
kontraksi dan relaksasi secara bergantian dalam waktu yang cepat. Keadaan ini kadang-kadang
begitu hebatnya sehingga dapat mengakibatkan penderita terlempar dari tempat tidurnya, bila
tidak dijaga. Lidah penderita dapat tergigit oleh karena kejang otot-otot rahang. Fase ini dapat
berlangsung sampai satu menit, kemudian secara berangsur kontraksi otot menjadi semakin
lemah dan jarang dan pada akhirnya penderita tak bergerak.5
Setelah kejang diafragma menjadi kaku dan pernapasan berhenti. Selama beberapa detik
penderita seperti meninggal karena henti napas, namun kemudian penderita bernapas panjang
dan dalam, selanjutnya pernapasan kembali normal. Apabila tidak ditangani dengan baik,

4
kejang pertama ini akan diikuti dengan kejang-kejang berikutnya yang bervariasi dari kejang
yang ringan sampai kejang yang berkelanjutan yang disebut status epileptikus.Setelah kejang
berhenti, penderita mengalami koma selama beberapa saat. Lamanya koma setelah kejang
eklampsia bervariasi. Apabila kejang yang terjadijarang, penderita biasanya segera pulih
kesadarannya segera setelah kejang. Namun, pada kasus-kasus yang berat, keadaan koma
belangsung lama, bahkan penderita dapat mengalami kematian tanpa sempat pulih
kesadarannya. Pada kasus yang jarang, kejang yang terjadi hanya sekali namun dapat diikuti
dengan koma yang lama bahkan kematian.5
Frekuensi pernapasan biasanya meningkat setelah kejang eklampsia dan dapat mencapai
50 kali per menit. Hal ini dapat menyebabkan hiperkarbia sampai asidosis laktat, tergantung
derajat hipoksianya. Pada kasus yang berat ditemukan sianosis. Demam tinggi merupakan
keadaan yang jarang terjadi, apabila hal tersebut terjadi maka penyebabnya adalah perdarahan
pada susunan saraf pusat.5
Proteinuria hampir selalu didapatkan, produksi urin berkurang, bahkan kadang kadang

sampai anuria dan pada umumnya terdapat hemoglobinuria. Setelah persalinan urin output akan

meningkat dan ini merupakan tanda awal perbaikan kondisi penderita. Proteinuria dan edema

menghilang dalam waktu beberapa hari sampai dua minggu setelah persalinan apabila keadaan

hipertensi menetap setelah persalinan maka hal ini merupakan akibat penyakit vaskuler kronis.5

2.6 Penatalaksanaan Eklampsia


Prinsip penatalaksanaan eklampsia sama dengan PEB. Tujuan utamanya ialah menghentikan
berulangnya serangan konvulsi dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang aman
setelah keadaan ibu mengizinkan. Pada dasarnya pengobatan eklampsia terdiri pengobatan
medikamentosa dan obstetrik. Namun, pengobatan hanya dapat dilakukan secara simptomatis
karena penyebab eklampsia belum diketahui dengan pasti. 10
Tujuan dasar dari penatalaksanaan preeklampsia/eklampsia adalah
1.Terminasi kehamilan dengan kemungkinan setidaknya terdapat trauma pada ibu maupun janin
2.kelahiran bayi yang dapat bertahan
3. pemulihan kesehatan lengkap pada ibu
5
Persalinan merupakan pengobatan untuk preeklampsia/eklampsia. Jika diketahui atau
diperkirakan janin memiliki usia gestasi preterm, kecenderungannya adalah mempertahankan
sementara janin di dalam uterus selama beberapa minggu untuk menurunkan risiko kematian
neonatus.
Perawatan dasar eklampsia yang utama ialah terapi suportif untuk stabilisasi fungsi vital,
yang harus selalu diingat Airway, Breathing, Circulation (ABC), mengatasi dan mencegah
kejang, mengendalikan hipoksemia dan asidemia. Mencegah trauma pada waktu kejang,
mengendalikan tekanan darah, khususnya pada waktu krisis hipertensi, melahirkan janin pada
waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat.12

Adapun terapi medikamentosa yang diberikan pada pasien dengan PEB dan Eklampsia
antara lain adalah:

a. tirah baring
b. oksigen
c. kateter menetap
d. cairan intravena. Cairan intravena yang dapat diberikan dapat berupa kristaloid maupun koloid
dengan jumlah input cairan 1500 ml/24 jam dan berpedoman pada diuresis, insensible water loss
, dan central venous pressure (CVP). Balans cairan ini harus selalu diawasi.

Anti konvulsant
Magnesium sulfat merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang pada
preeklampsia dan eklampsia. Alternatif lain adalah Diazepam, dengan risiko terjadinya depresi
neonatal.9
Magnesium sulfat (MgSO4). Obat ini diberikan dengan dosis 20 cc MgSO4 20% secara
intravena loading dose dalam 4-5 menit. Kemudian dilanjutkan dengan MgSO4 40% sebanyak
30 cc dalam 500 cc ringer laktat (RL) atau sekitar 14 tetes/menit. 9
Magnesium sulfat ini diberikan dengan beberapa syarat, yaitu:
1.refleks patella normal
2.frekuensi respirasi >16x per menit
3.produksi urin dalam 4 jam sebelumnya >100cc atau 0.5 cc/kgBB/jam

6
4.disiapkannya kalsium glukonas 10% dalam 10 cc sebagai antidotum. Bila nantinya ditemukan
gejala dan tanda intoksikasi maka kalsium glukonas tersebut diberikan dalam tiga menit.
Antihipertensi
Antihipertensi diberikan jika tekanan darah diastolik >110 mmHg. Pilihan antihipertensi yang
dapat diberikan adalah nifedipin 10 mg. Setelah 1 jam, jika tekanan darah masih tinggi dapat
diberikan nifedipin ulangan 10 mg dengan interval satujam, dua jam, atau tiga jam sesuai
kebutuhan. Penurunan tekanan darah pada PEB tidak boleh terlalu agresifyaitu tekanan darah
diastol tidak kurang dari 90 mmHg atau maksimal 30%. Penggunaan nifedipin ini sangat
dianjurkan karena harganya murah, mudah didapat, dan mudah mengatur dosisnya dengan
efektifitas yang cukup baik.9
Kortikosteroid
Penggunaan kortikosteroid direkomendasikan pada semua wanita usia kehamilan 24-34
minggu yang berisiko melahirkan prematur, termasuk pasiendengan PEB. Preeklampsia sendiri
merupakan penyebab 15% dari seluruh kelahiran prematur. Ada pendapat bahwa janin penderita
preeklampsia berada dalam keadaan stressehingga mengalami percepatan pematangan paru.Akan
tetapi menurut Schiff dkk, tidak terjadi pematangan paru pada penderita preeklampsia.9

2.8 Komplikasi Eklampsia


1. Paru
Edema paru adalah tanda prognostik yang buruk yang menyertai eklampsia. Faktor

penyebab atau sumber terjadinya edema adalah : (1) pneumonitis aspirasi setelah inhalasi isi

lambung jika terjadi muntah pada saat kejang; (2) kegagalan fungsi jantung yang mungkin

sebagai akibat hipertensi akibat berat dan pemberian cairan intravena yang berlebihan.11

2. Otak
Pada preeklampsia, kematian yang tiba-tiba terjadi bersamaan dengan kejang atau
segera setelahnya sebagai akibat perdarahan otak yang hebat. Hemipelgia terjadi pada
perdarahan otak yang sublethal. Perdarahan otak cenderung terjadi pada wanita usia tua
dengan hipertensi kronik. Yang jarang adalah sebagai akibat pecahnya aneurisma arteri atau

7
kelainan vasa otak (acute vascular accident, stroke). Koma atau penurunan kesadaran yang
terjadi setelah kejang, atau menyertai preeklampsia yang tanpa kejang adalah sebagai akibat
edema otak yang luas. Herniasi batang otak juga dapat menyebabkan kematian. Bila tidak
ada perdarahan otak yang menyebabkan koma dan dengan pemberian terapi suportif yang
tepat sampai penderita kembali sadar umumnya prognosis pada penderita adalah baik.11
3. MataKebuataan dapat terjadi setelah kejang atau dapat terjadi spontan bersama dengan
preeklampsia. Ada dua penyebab kebutaan, yaitu :
a. Ablasio retina, yaitu lepasnya retina yang ringan sampai berat.
b. Iskemia atau infark pada lobus oksipitalis.
4. Psikosis
Eklampsia dapat diikuti keadaan psikosis dan mengamuk, tapi keadaan ini jarang
terjadi. Biasanya berlangsung selama beberapa hari sampai dua minggu, tetapi prognosis
untuk kembali normal umumnya baik, selama tidak ada kelainan mental sebelumnya.
5. Sistem hematologi
Plasma darah menurun, viskositas darah meningkat, hemokonsentrasi, gangguan
pembekuan darah, disseminated intravascular coagulation (DIC), sindroma HELLP.
6. Filtrasi glomerulusginjal menurun, aliran plasma ke ginjal meningkat, klirens asam urat
menurun yang dapat mengakibatkan gagal ginjal akut.
7. Hepar
Nekrosis periportal, gangguan sel liver, perdarahan subkapsuler.
Uterus
8.

Solusio plasenta yang dapat menyebabkan perdarahan pascapartum. Abrutio plasenta


yang dapat menyebabkan DIC.
Kardiovaskular
9.

Cardiac arrest
, acute decompensatio cordis, spasme vaskular menurun, tahanan
pembuluh darah tepi meningkat, indeks kerja ventrikel kiri naik, tekanan vena sentral
menurun, tekanan paru menurun.
10. Perubahan Metabolisme Umum
Asidosis metabolik, gangguan pernapasan maternal.

8
11. Perdarahan
Perdarahan antepartum merupakan perdarahan dari uterus dan terjadi sebelum
melahirkan. Perdarahan antepartum dapat terjadi karena robeknya plasenta yang melekat
didekat kanalis servikalis yang dikenal dengan plasenta previa atau karena robeknya
plasenta yang terletak di tempat lain di dalam rongga uterus atau yang dikenal dengan
solusio plasenta. Eklampsia merupakan faktor predisposisi terjadinya solusio plasenta
walaupun lebih banyak terjadi pada kasus hipertensi kronik.
Perdarahan postpartum didefinisikan sebagai hilangnya 500ml atau lebih darah pada
persalinan pervaginam, 1000 ml pada seksio sesaria, 1400 ml pada histerektomi secara
elektif atau 3000 sampai 3500 ml pada histerektomi saesarea darurat, setelah kala tiga
persalinan selesai. Pada eklampsia sering didapat adanya hemokonsentrasi atau tidak
terjadinya hipervolemia seperti pada kehamilan normal. Hal tersebut membuat ibu hamil
pada kasus eklampsia jauh lebih rentan terhadap kehilangan darah dibandingkan ibu
normotensif.
12. Kematian Maternal
Kematian maternal adalah kematian setiap ibu dalam kehamilan, persalinan, masa
nifas sampai batas waktu 42 hari setelah persalinan, tidak tergantung usia dan tempat
kehamilan serta tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan tersebut dan bukan
disebabkan oleh kecelakaan.Kematian maternal pada eklampsia disebabkan karena
beberapa hal antara lain karena perdarahan otak, kelinan perfusi otak, infeksi, perdarahan
dan sindroma HELLP.
13. Perinatal
Saat kejang terjadi peningkatan frekuensi kontraksi uterus sehingga tonus otot uterus
meningkat. Peningkatan tersebut menyebabkan vasospasme arterioli pada miometrium
makin terjepit. Aliran darah menuju retroplasenter makin berkurang sehingga dampaknya
pada denyut jantung janin (DJJ) seperti terjadi takikardi, kompensasi takikardi dan
selanjutnya diikuti bradikardi. Komplikasi neonatal pada kasus eklampsia seperti asfiksia
neonatorum (26%), prematuritas (17%), aspirasi mekoneum (31%), sepsis (4%), ikterus
(22%).Sebanyak 64,1% bayi dilaporkan harus mendapatkan perawatan di Special Care
Baby Unit dengan indikasi prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, asfiksia neonatorum
berat (skor Apgar 5 menit <7), ikterus neonatal, sepsis neonatal. Angka kematian perinatal

9
pada kasus eklampsia adalah 5411,1 per 1000 kelahiran hidup diaman 51,4% kematian
intrauterin dan 48,6% kematian neonatal. Penyebab kematian perinatal terbanyak adalah
asfiksia (33,3%), sindrom distress respirasi (22,2%), dan prematuritas (22,2%).
14. Dismaturitas
Dismaturitas adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya tidak sesuai dengan
berat badan seharusnya untuk masa gestasi. Berat lahir kurang dibawah beratlahir yang
seharusnya untuk masa gestasi tertentu atau kecil untuk masa kehamilan (KMK) yaitu
kalau berat lahirnya dibawah presentil ke-10 menurut kurva pertumbuhan intrauterin
Lubhenco atau dibawah 2 SD menurut kurva pertumbuhan intrauterin.
Pada preeklampsia atau eklampsia terdapat spasmus arteriola spiralis desidua dengan
akibat menurunnya aliran darah ke plasenta. Perubahan plasenta normal sebagai akibatnya
kehamilan, seperti menipisnya sinsitium, menebalnya dinding pembuluh darah dalam villi
karena fibrosis dan konversi mesoderm menjadijaringan fobrotik, dipercepat dprosesnya
pada preeklampsia atau eklampsia dan hipertensi. Menurunnya alrand arah ke plasenta
mengakibatkan gangguan fungdi plasenta. Pada hipertensi yang agak lama pertumbuhan
janin terganggu sehingga menimbulkan dismaturitas, sedangkan pada hipertensi yang lebih
pendek terjadi gawat janin sampai kematiannya karena kekurangan oksigenasi.
15. Trombositopenia
Trombositopenia pada bayi baru lahir dapat merupakan penyakit sistemik primer
sistem hemopoetik atau suatu transfer faktor-faktor yang abnormal ibu. Kurang lebih 25-
50% bayi yang dilahirkan dari ibu dengan trombositopenia juga mempunyai jumlah
trombosit kurang dari 150.000/mm3 waktu lahir, tapi jumlah ini dapat segera menjaadi
normal.
16. Hipermagnesemia
Disebut hipermagnesemia bila kadar magnesium serum darah lebih besar atau sama
dengan 15 mEq/l. Hal ini dapat terjadi pada bayi baru lahir dari ibu eklampsia dengan
pengobatan magnesium. Pada keadaan ini dapat terjadi depresi sususan saraf pusat,
paralisis otot-otot skeletal sehingga memerlukan pernapasan buatan.
17. Neutropenia
Bayi yang dilahirkan dari ibu dengan preeklampsia dan terutama dengan sindroma

10
HELLP dapat ditemukan neutropenia. Penyebabnya tidak jelas, mungkin mempunyai

hubungan dengan agent yang menyebabkan kerusakan endotel pembuluh darah ibu

melewati plasenta janin.

18. Kematian Perinatal


Kematian perinatal terjadi karena asfiksia nonatorum berat, trauma saat kejang
intrapartum, dismaturitas yang berat. Beberapa kasus ditemukan bayi meninggal
intrauterin.11

2.9 Pencegahan Eklampsia


Pada umumnya timbulnya eklampsia dapat dicegah, atau frekuensinya dikurangi. Usaha-
usaha untuk menurunkan frekuensi eklampsia terdiri dari:
a. Meningkatkan jumlah balai pemeriksaan antenatal dan mengusahakan agar semua wanita
hamil memeriksakan diri sejak hamil muda.
b. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tanda pre-eklampsia dan mengobatinya segera apabila
ditemukan
c. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah
dirawat tanda-tanda pre-eklampsia tidak juga dapat dihilangkan.12

2.10 Prognosis Eklampsia


Kriteria Eden adalah kriteria untuk menentukan prognosis
eklampsia. Kriteria Eden antara lain:
1. koma yang lama (prolonged coma)
2.nadi diatas 120
3.suhu 39,4C atau lebih
4.tekanan darah di atas 200 mmHg
5.konvulsi lebih dari 10 kali
6.proteinuria 10 g atau lebih
7.tidak ada edema, edema menghilang
Bila tidak ada atau hanya satu kriteria di atas, eklampsia masuk ke kelas ringan; bila
dijumpai 2 atau lebih masuk ke kelas berat dan prognosis akan lebih buruk. Tingginya

11
kematian ibu dan bayi di negara-negara berkembang disebabkan oleh kurang sempurnanya
pengawasan masa antenatal dan natal. Penderita eklampsia sering datang terlambat sehingga
terlambat memperoleh pengobatan yang tepat dan cepat. Biasanya preeklampsia dan
eklampsia murni tidak menyebabkan hipertensi menahun.9

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny.D
Umur : 19 Tahun
Agama : Islam
Suku : Melayu
Pekerjaan : IRT
Alamat : Dusun II Sei Apung Jaya
Pendidikan : SMA

Nama suami : Tn.T


Umur : 19 tahun
Agama : Islam
Suku : Melayu
Pekerjaan : Nelayan
Alamat : Dusun II Sei Apung Jaya
Pendidikan : SMA
No RM :-
Tanggal masuk : Selasa, 6 September 2016
Pukul : 14.00 WIB

3.2. ANAMNESA
Ny. D, 19 tahun, G1P0A0, Melayu, Islam, SMA, istri dari Tn. T, 19 tahun, Melayu, Islam, SMA,
Nelyan, datang ke RSUD dr.Tengku Mansyur pada tanggal 6 September 2016, pukul 14.00 WIB.

12
Keluhan Utama : Kejang
Telaah : Hal ini dirasakan Os 3 Jam sebelum masuk RS. Kejang seluruh tubuh.
Frekuensi 1x. Lama kejang 1 menit. Setelah kejang os sadar. Os juga
kejang 1x setelah sampai di IGD. Awalnya pasien mengeluh sakit
kepala.Os juga mengeluhkan mual dan muntah . Demam(-), Pasien juga
mengalami hal yang sama 1 minggu yang lalu.Riwayat Tekanan darah
tinggi sebelum dan selama hamil tidak dijumpai. Riwayat kaki bengkak
tidak dijumpai.
RPT :-
RPO :-
Riwayat Alergi Obat :-
Hari pertama Haid Terakhir : ? 02 - 2016
Taksiran Tanggal Persalinan : ? - 11 2016
Usia kehamilan : 28 - 30 minggu
ANC : Bidan 1x

3.3. RIWAYAT PERSALINAN


1 Hamil ini.
3.4. RIWAYAT OPERASI : tidak pernah

3.5. STATUS PRESENT


Sens : Compos mentis Anemis : (-/-)
TD : 160/100 mmHg Ikterik : (-/-)
Pulse : 80 x/i Dyspnoe : (-)
RR : 20 x/i Sianosis : (-)
T : 36,70 C Oedem : (-)
TB : 145 cm
BB : 54 kg

3.6. STATUS GENERALISATA

13
Mata : konjungtiva palpebra inferior anemis -/-, sklera ikterik -/-
Leher : KGB tidak teraba, JVP tidak meningkat
Dada : Cor : Bunyi jantung normal, reguler, bunyi tambahan (-)
Pulmo : Suara pernapasan vesikuler, suara tambahan (-)
Abdomen : Distensi (-), BU (+) Normal, hepar tidak teraba, lien tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat (+), edema (-/-)

3.7. STATUS OBSTETRI


Abdomen : membesar asimetris
TFU : 3 Jari di atas Pusat (21 cm)
Bagian Teregang : Punggung Kanan
Bagian Terbawah : Kepala
Gerak janin : (+)
HIS : (-)
DJJ : 154 x/i, reguler
EBW : 1240 gram
Inspeculo : tidak dilakukan pemeriksaan
VT : cervix tertutup, selaput ketuban (-)
ST : lendir bercampur darah (-), selaput ketuban (-)

3.8. PEMERIKSAAN PENUNJANG


HASIL LAB Tanggal 29/08/2016
Hematologi
Darah rutin Nilai Nilai Rujukan satuan
Hb 9,7 12 16 g/dl
Hematokrit 35 36-47 %
eritrosit 4,0 3,9 - 5,6 10*5/l
Leukosit 11.800 4,000- 11,000 /l
Trombosit 543.000 150,000-450,000 /l

Index eritrosit

14
MCV 87 80 96 fL
MCH 24 27 31 pg
MCHC 27 30 34 %

3.9. DIAGNOSIS KERJA


G1P0A0 + Eklampsia + KDR (28-30minggu) +AH
3.10. PENATALAKSANAAN
- IVFD RL + MgSo4 40% 30 cc 15 gtt/i
- Nifedipin tab 10 mg 3x1

3.11. FOLLOW UP
Tanggal : 7 /9/ 2016, jam : 08.00 WIB
S : Kejang (-), Mual(+), Muntah (-), sakit kepala (+),
O : Sensorium : Compos Mentis Anemis : -/-
TD : 130/90 mmHg
DJJ : 156x/i Ikterik : -/-
HR : 80x/menit Dyspnoe :-
RR : 22x/menit Sianosis :-
T : 36C Oedem :-
Diagnosa : G1P0A0 + Eklampsia + KDR (28-30minggu) +AH
Terapi : - IVFD RL + MgSo4 40% 30 cc 15 gtt/i
- Nifedipin Tab 10 mg 3x1
- Calcium 1x1

FOLLOW UP
Tanggal 8/9/2016 Jam : 08.30WIB
S : Kejang (-), Mual(+), Muntah (-), sakit kepala (+)
O : Sensorium : Compos Mentis Anemis : -/-
TD : 150/100 mmHg
DJJ : 154x/i Ikterik : -/-

15
HR : 80x/menit Dyspnoe :-
RR : 22x/menit Sianosis :-
T : 36C Oedem :-
Diagnosa : G1P0A0 + Eklampsia + KDR (28-30minggu) +AH
Terapi : - IVFD RL + MgSo4 40% 30 cc 15 gtt/i
- Nifedipin Tab 10 mg 3x1
- Calcium 1x1

Tanggal 9/9/2016 Jam : 08.30WIB


S : Kejang (-), Mual(+), Muntah (-), sakit kepala (+)
O : Sensorium : Compos Mentis Anemis : -/-
TD : 130/90 mmHg
DJJ : 150 x/i Ikterik : -/-
HR : 76x/menit Dyspnoe :-
RR : 22x/menit Sianosis :-
T : 36C Oedem :-
Diagnosa : G1P0A0 + Eklampsia + KDR (28-30minggu) +AH
Terapi : - IVFD RL + MgSo4 40% 30 cc 15 gtt/iAaf infus
- Nifedipin Tab 10 mg 3x1
- Calcium 1x1
- As.Folat 3x1
Pasien Berobat Jalan

16
BAB IV
DISKUSI KASUS
Pada kasus ini,perempuan usia19tahun didiagnosaeklampsiyang ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang disesuaikan dengan literatur.
Dari anamnesa didapatkan pasien datang ke IGD RSUD Tengku Mansyur dengan
keluhanKejang seluruh tubuh. Frekuensi 1x. Lama kejang 1 menit. Setelah kejang os sadar. Os
juga kejang 1x setelah sampai di IGD. Os juga mengeluh sakit kepala, mual dan muntah. Pada
pemeriksaan tanda vital didapati tekanan darah 160/100 mmHg.Penatalaksanaan pada pasien ini
adalah dilakukan terapi simptomatik dan diberi anti convulsant yaitu MgSO4 40% dan dilakukan
pemeriksaan proteinuria.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo, S. Pre Eklampsia dan Eklampsia. Dalam : Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina
pustaka Prawirohardjo, Jakarta. 2010.
2. Lindheimer MD., Taler SJ, Cunningham FG. Hipertension in pregnancy. In: Journal of the
American Society of Hypertension. 2008.
3. Angsar MD,dkk. Pedoman Pengelolaan Hipertensi Dalam Kehamilan Di Indonesia edisi
kedua. Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI. 2005.
4. Amiruddin R, dkk. Issu Mutakhir tentang Komplikasi Kehamilan (preeklampsia dan
eklampsia). Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS. 2007.
5. Cunningham, F.G.et al. Hipertensive Disorder in Pregnancy. In: Williams Obstetrics-22 nd
Edition. USA: Mc Graw Hill co. 2005.
6. Rachman, M. Kedaruratan Pada Kehamilan Lanjut. Dalam: Buku Saku Penatalaksanaan
Dalam Ilmu Kebidanan Dan Bayi Baru Lahir. Edisi I. Jakarta: Kelompok Minat Penulisan
Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Salemba. 2000. Hal: 44-45.
7. Galan, H. et al. Obstetrics Normal and Problem Pregnancies. USA: Elsevier. 2007.
8. JNPK-KR. Buku Acuan Pelatihan Klinik Pelayanan Obstetri Emergensi Dasar. Jakarta.
2008.
9. Siahaan.H. 2011. Luaran Ibu Dan Bayi Pada Penderita Preeklampsia Berat Usia
Kehamilan< 37 Minggu Dengan Penanganan Secara Ekspektatif Dan Aktif. Diakses:
10/9/2016. Dikutip dari : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30230/4/Chapter
%20II
10. Greer IA, Walters B, Nelson C. Maternal Medicine. London: Elsevier. 2007
11. Pokharel SM, Chattopadhyay SK. HELLP Syndrome a pregnancy disorder with poor
diagnosis. 2008.

18
12. Prawirohardjo, Sarwono. Pre-eklampsia dan Eklampsia. Dalam: Ilmu Kebidanan. Edisi
ketiga. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2005. hal: 295-300.
13. Manuaba, Ida Bagus Gde. Preeklampsia dan eklampsia. Dalam: penuntun kepaniteraan
klinik obstetri & ginekologi. Edisi 2. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC. 2004. Hal:
101-105.

14. Wagner, L.K. Diagnosis & Management of Pre Eklampsia. American Academy of Family
Physicians Journal. Vol 70/no 12) 2004. http ://www.nhlbi.nib.gov/healthy/prof/heart/hbp
preg.pdf.
15. Morris, S C. Pregnancy, Eklampsia. 2006. http;//www. Emedicine.com

19