Anda di halaman 1dari 42

MODEL MULTIPLE INTELLIGENCES UNTUK

MENINGKATKAN KREATIVITAS BERPENDAPAT

SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH

DASAR

ABSTRAK

Fery Muhamad Firdaus

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keadaan siswa sekolah dasar (SD) yang diteliti yaitu

kurangnya kreativitas berpendapat siswa dalam proses pembelajaran IPS. Hasil observasi yang

dilakukan sebelum penelitian ini dilaksanakan menunjukkan bahwa akar permasalahannya yaitu

dari aspek guru yang masih menerapkan pola mengajar konvensional atau hanya dengan

menggunakan ceramah, dimana guru terlalu berperan aktif dalam proses pembelajaran,

sedangkan siswa tidak diberi kesempatan untuk aktif dalam memanfaatkan sumber belajar

yang ada. Padahal semua siswa mempunyai potensi dan kecerdasan yang harus

dikembangkan sesuai dengan karakteristik kebutuhan perkembangannya. Dari gambaran di

atas, maka penulis mencoba mencari alternatif pemecahan masalah dengan menerapkan

model multiple intelligences sebagai terobosan baru dalam meningkatkan kreativitas

berpendapat siswa pada pembelajaran IPS di SD. Model multiple intelligences berawal dari

adanya keyakinan bahwa semua anak memiliki kelebihan, sehingga perlu adanya sarana yang

dapat memberikan motivasi siswa untuk menggunakan kelebihan dan kecerdasan yang

dimilikinya dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang muncul dikehidupannya.


Berdasarkan data yang diperoleh dari tes kreativitas berpendapat, telah diketahui bahwa hasil

evaluasi kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS di SD dengan menggunakan

model multiple intelligences pada setiap siklus (dinyatakan dalam persen) adalah sebagai

berikut: siklus I sebesar 57,19% siklus II sebesar 65,2% dan siklus III sebesar 79,62%.

Sedangkan hasil rata-rata nilai kreativitas berpendapat siswa secara rincinya yaitu: (1) fluency

pada siklus I sebesar 70,44, siklus II sebesar 76,15, dan siklus III sebesar 88,7. (2) flexibility

pada siklus I sebesar 57,5, siklus II sebesar 66,35, dan siklus III sebesar 82,4. (3) originality

pada siklus I sebesar 54,5, siklus II sebesar 61,56, dan siklus III sebesar 78,55. (4) elaboration

pada siklus I sebesar 46,57, siklus II sebesar 57,75, dan siklus III sebesar 69,4. Selain itu, hasil

belajar siswa pada setiap siklus (dinyatakan dalam persen) adalah sebagai berikut: siklus I

sebesar 56,83% siklus II sebesar 65% dan siklus III sebesar 79,58%. Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa dalam pembelajaran IPS di SD dengan menggunakan model multiple

intelligences dapat meningkatkan kreativitas berpendapat dan hasil belajar siswa. Oleh karena

itu penulis merekomendasikan model multiple intelligences kepada para guru sebagai salah

satu alternatif dalam upaya meningkatkan kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran

IPS di SD.

A. Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu faktor utama dalam mempengaruhi kemajuan suatu negara,

karena pendidikan dituntut untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan sumber daya

manusia dalam suatu negara. Hal ini diperkuat dengan adanya penjelasan mengenai

pengertian pendidikan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003

(Tim Fokusmedia, 2009: 2) yang menyatakan bahwa:

Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Melalui program pendidikan akan mengubah sikap dan tata laku masyarakat menjadi sosok

manusia yang dewasa dalam menyelesaikan berbagai masalah, baik masalah pribadi, keluarga,

masyarakat maupun bangsa dan negara. Selain itu, berdasarkan Undang-undang Sistem

Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 4 (Tim Fokusmedia, 2009: 6) telah

dijelaskan bahwa Pendidikan diselenggarakan dengan memberikan keteladanan, membangun

kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang diharapkan, maka disusunlah suatu

kurikulum yang dapat dijadikan sebagai program pendidikan yang direncanakan secara

sistematik mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan para siswa. Kurikulum

pendidikan dasar dikembangkan sesuai dengan tingkat perkembangan dan minat serta

kebutuhan siswa sekolah dasar (SD). Dimana kurikulum pendidikan dasar ini harus dapat

menjadikan pendidikan sebagai wahana untuk meningkatkan kecerdasan dan potensi-potensi

yang dimiliki siswa SD. Isi kurikulum pendidikan dasar merupakan susunan bahan kajian dan

mata pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan dasar secara nasional (Sagala, 2009: 234).

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2008: 10), telah dijelaskan bahwa

salah satu mata pelajaran yang wajib dibelajarkan di sekolah dasar yaitu mata pelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial (IPS). Dimana pada hakikatnya,

IPS merupakan program pendidikan atau bidang studi dalam kurikulum sekolah yang

mempelajari kehidupan manusia dalam masyarakat serta perhubungan antar interaksi antara

manusia dan lingkungan baik sosial maupun phisik (Istianti et al. 2007: 47).

Oleh karena itu, IPS juga dapat dijadikan ilmu untuk mengatur pola perilaku manusia, baik

sebagai makhluk individu, maupun sebagai makhluk sosial yaitu sebagai anggota keluarga,

masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan yang menjadi tujuan pendidikan IPS yaitu untuk

menjadikan siswa sebagai warga negara yang memiliki pengetahuan, nilai, sikap dan
keterampilan-keterampilan yang dapat dikembangkan untuk berperan aktif dalam kehidupan

demokrasi (Istianti et al. 2007: 53).

Pembelajaran IPS akan lebih bermakna manakala guru menyajikan proses pembelajaran yang

menarik perhatian siswa untuk belajar dan senantiasa memperhatikan kebutuhan

perkembangan karakteristik siswa SD. Dimana Sumantri dan Syaodih (2007: 6.3)

mengemukakan bahwa karakteristik anak usia SD yaitu, Senang bermain, selalu bergerak,

bekerja atau bermain dalam kelompok, dan senantiasa ingin melakukan atau merasakan

sendiri. Oleh karena itu, guru seyogyanya membuat suatu proses pembelajaran IPS yang

dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan perkembangan siswanya.

Belen et al. (1996: 336-337), mengemukakan tujuan dari pembelajaran IPS yaitu untuk

mengembangkan tiga keterampilan yang dimiliki siswa. Keterampilan yang dimaksud adalah

keterampilan berpikir (intelektual), sosial dan psikomotor. Dimana keterampilan intelektual

merupakan suatu kemampuan siswa untuk berpikir logis dan sistematis dalam memecahkan

masalah-masalah kehidupan nyata di masyarakat. Keterampilan sosial merupakan

berkomunikasi dan bersosialisasi dengan sesama manusia di lingkungan masyarakat.

Sedangkan keterampilan psikomotor merupakan keterampilan praktis yang dibina dan

dikembangkan melalui keterampilan berbuat, berlatih, dan berkoordinasi indra serta anggota

badan. Keterampilan-keterampilan tersebut akan muncul dalam diri individu siswa manakala

pembelajaran IPS dapat dikembangkan dengan baik dan tepat sesuai dengan tujuan yang

diharapkan.

Dalam pembelajaran di SD, siswa diberikan pengalaman belajar yang dapat bermanfaat dalam

kehidupannya. Dimana belajar merupakan suatu perubahan sikap dan perilaku dari diri pribadi

siswa. Robert M. Gagne (Sagala, 2009: 22) mengemukakan bahwa tipe belajar yang paling

kompleks yaitu belajar memecahkan masalah. Oleh karena itu, belajar memecahkan masalah

ini sebaiknya diterapkan dalam pembelajaran di SD, karena masalah merupakan hal yang biasa
dihadapi siswa dalam kehidupan nyata. Sehingga pembelajaran dinyatakan berhasil sesuai

tujuan manakala siswa dapat mengimplementasikan hasil belajar dalam kehidupan nyata siswa.

Berdasarkan teori belajar Robert M. Gagne dan tujuan pembelajaran IPS yang dikembangkan

Belen et al. tersebut, maka belajar memecahkan masalah itu perlu diterapkan dalam proses

pembelajaran dan pendidikan IPS di SD. Dalam rangka mencapai tujuan belajar memecahkan

masalah yang baik, maka diperlukan potensi dan kemampuan siswa dalam memecahkan

masalah. Kemampuan tersebut dinamakan kecerdasan, oleh karena itu perlu adanya

pembelajaran yang dapat menstimulus kecerdasan siswa supaya dapat berkembang

sebagaimana mestinya. Dalam memecahkan masalah, setiap individu memiliki cara yang

berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk

dapat menciptakan pembelajaran yang mengembangkan berbagai potensi dan kemampuan

siswa dalam memecahkan masalah. Hal ini dimaksudkan supaya siswa dapat memecahkan

masalah sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.

Di dalam proses belajar memecahkan masalah, bukan potensi dan kecerdasan siswa saja yang

diperlukan. Akan tetapi, kreativitas berpendapat siswa pun sangatlah diperlukan dalam proses

belajar memecahkan masalah tersebut. Oleh karena itu, kreativitas berpendapat siswa perlu

dikembangkan oleh guru melalui proses pembelajaran IPS supaya siswa dapat memecahkan

masalah dan memahami materi yang telah dibelajarkan. Sehingga tujuan pendidikan dapat

tercapai sebagaimana mestinya, yaitu membentuk manusia dewasa yang dapat memecahkan

masalah-masalah dalam kehidupan.

Akan tetapi, yang terjadi di lapangan ternyata tidak seideal yang diharapkan. Hal ini didasari

dari pengalaman mengajar dan hasil observasi di kelas IV SD yang menunjukkan bahwa

kurangnya kreativitas berpendapat dalam individu siswa pada pembelajaran IPS. Hal ini

dibuktikan dengan banyaknya siswa yang tidak mau mengeluarkan pendapatnya mengenai

materi yang dibahas, tidak jelasnya pendapat yang diajukan siswa, ketidak sesuaian pendapat

siswa dengan topik yang dibahas, kurang tanggapnya siswa terhadap masalah yang dibahas,
kurang dapat memunculkan pendapat atau gagasan yang baru, dan lain sebagainya yang tidak

mencirikan bahwasanya siswa dapat mengeluarkan pendapat secara kreatif.

Oleh karena itu, perlu dilaksanakannya sebuah penelitian yang dapat mengatasi permasalahan

tersebut supaya dapat teratasi dengan tepat, karena masalah tersebut dapat berpengaruh

terhadap prestasi belajar siswa dan tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secara efektif dan

efisien. Sebaliknya, apabila masalah tersebut dapat teratasi dengan baik dan tepat, maka hasil

belajar dan prestasi belajar siswa akan meningkat sehingga tujuan pendidikan nasional dapat

tercapai.

Kreativitas dalam berpendapat memiliki posisi dan peranan yang sangat penting dalam

keberlangsungan pembelajaran IPS. Karena dengan munculnya kreativitas dalam berpendapat

siswa, maka tujuan pembelajaran IPS mengenai keterampilan intelektual siswa dapat tercapai.

Dengan kreativitas berpendapat, siswa dapat secara bebas mengeluarkan solusi-solusi dalam

memecahkan masalah, sehingga keterampilan-keterampilan siswa akan berkembang dengan

baik.

Untuk mencari solusi terhadap permasalahan tersebut, maka perlu adanya analisis penyebab

muculnya permasalahan tersebut. Berdasarkan pengamatan yang telah dilaksanakan, penulis

meyakini bahwa salah satu penyebabnya dikarenakan guru belum mengembangkan model

pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas berpendapat siswa, serta guru masih

menerapkan pola mengajar konvensional atau hanya dengan menggunakan metode ceramah,

dimana guru terlalu berperan secara aktif dalam proses pembelajaran, dan siswa tidak diberi

kesempatan untuk aktif dalam memanfaatkan sumber belajar yang ada di lingkungan mereka.

Padahal semua siswa memiliki potensi dan kecerdasan yang harus dikembangkan sesuai

dengan karakteristik kebutuhan perkembangannya.

Dari permasalahan yang ditemukan pada saat mengajar dan melakukan observasi di kelas IV

tersebut, maka penulis berencana melakukan perbaikan-perbaikan di kelas tersebut. Perbaikan

tersebut meliputi perbaikan dalam proses pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi
dan kecerdasan siswa, serta dapat meningkatkan kreativitas berpendapat siswa dalam

pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran yang menarik perhatian siswa

dan memperhatikan kebutuhan karakteristik perkembangan anak usia SD. Selain itu, penulis

juga akan memanfaatkan media dan sumber belajar seoptimal mungkin.

Model pembelajaran yang akan diajukan sebagai alternatif pemecahan masalah tersebut

adalah model multiple intelligences. Dimana model ini lebih mengutamakan pembelajaran

sebagai wadah atau sarana dalam mengembangkan berbagai potensi dan kecerdasan yang

dimiliki siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupan siswa. Sehingga siswa akan

termotivasi untuk belajar lebih serius lagi, karena mereka belajar sesuai dengan minat dan

kebutuhan perkembangannya. Winataputra et al. (2008: 5.4) mengungkapkan pendapatnya

bahwa,

Multiple intelligences/intelegensi majemuk adalah kemampuan untuk memecahkan masalah

atau menciptakan suatu produk yang efektif atau bernilai dalam satu latar belakang budaya

tertentu. Artinya, setiap orang jika dihadapkan pada sutu masalah, ia memiliki sejumlah

kemampuan untuk memecahkan masalah yang berbeda sesuai dengan konteksnya.

Oleh karena itu, model multiple intelligences ini sangat cocok untuk memecahkan masalah-

masalah dalam kehidupan nyata. Dimana setiap kemampuan itu ditunjang oleh kecerdasan

yang menonjol dalam diri individu. Sehingga model multiple intelligences ini berfungsi untuk

mencari dan mengembangkan kecerdasan yang menonjol dalam diri individu untuk

memecahkan masalah di kehidupan nyata. Dalam penelitian ini, diharapkan model multiple

intelligences dapat meningkatkan kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS di

kelas IV sekolah dasar.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

Bagaimana meningkatkan kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS dengan

menggunakan model multiple intelligences di kelas IV SD. Dari rumusan masalah tersebut,

maka pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:


1. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan model multiple intelligences

dalam meningkatkan kreativitas berpendapat siswa pada pembelajaran IPS di kelas IV SD?

2. Bagaimana kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD

dengan menggunakan model multiple intelligences?

3. Bagaimana hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan

menggunakan model multiple intelligences?

B. Kajian Pustaka

1. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar

Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah yang dilakukan untuk menyampaikan

informasi mengenai materi belajar. Di dalam pembelajaran, guru berperan sebagai pendidik,

sedangkan peserta didik atau siswa berperan sebagai orang yang mengalami proses belajar.

Pembelajaran merupakan penentu dalam keberhasilan pendidikan yang diharapkan, karena

keberhasilan pendidikan ditentukan oleh kualitas pembelajaran yang dapat menghasilkan

kualitas hasil belajar yang diperoleh siswa.

Di Sekolah Dasar (SD) terdapat berbagai bidang studi yang harus diajarkan kepada siswa,

salah satunya yaitu bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dimana IPS ini memiliki peran

yang sangat penting dalam pendidikan di SD, karena pada hakikatnya

IPS merupakan pendidikan yang memiliki misi membantu siswa mengembangkan kompetensi-

kompetensi dirinya dalam menggali mengelola, dan mengembangkan sumber-sumber fisik dan

sosial yang ada di lingkungan sekitarnya, sehingga mereka dapat hidup selaras dengannya.

Selain itu IPS juga mempersiapkan siswa menyongsong kehidupannya dimasa depan dengan

penuh harapan dan kemampuan diri dalam memecahkan persoalan-persoalan sosial yang

dihadapi (Istianti et al., 2007:57).


Berdasarkan hakikat dan misi dari pendidikan IPS tersebut, maka sangatlah penting sekali

manakala pendidikan dan pembelajaran IPS dapat diimplementasikan secara efektif dan

efisien. Schuncke (1988: 4) mengungkapkan bahwa Social studies are concerned with the

study of humans as they relate to each other and the world, and withthe processes they use to

facilitate this relationship. Maksudnya bahwa IPS adalah ilmu yang mempelajari tentang

manusia, dimana ilmu ini mengatur pola berhubungan manusia satu samalainnya dengan dunia

yang ada disekitar manusia, serta mengalamisuatu proses untuk memudahkan hubungan

tersebut.

Selain itu, Muhammad Numan Somantri (Sapriya et al. 2006:7) juga mengungkapkan bahwa:

Pendidikan IPS adalah penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, ideologi negara dan disiplin

ilmu lainnya serta masalah-masalah sosial terkait yang diorganisasikan dan disajikan secara

ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Dari pandangan Schuncke dengan Muhammad Numan Somantri tersebut memiliki persamaan

yaitu bahwa pendidikan dan pembelajaran IPS itu pada hakikatnya berkaitan dengan disiplin

ilmu mengenai hubungan kemasyarakatan dalam pola kehidupan sosial agar dapat memenuhi

kebutuhan sosial dan memecahkan masalah sosial. Akan tetapi Muhammad Numan Somantri

lebih menekankan bahwa pembelajaran IPS itu bertujuan untuk membentuk suatu masyarakat

yang menjunjung tinggi norma yang berlaku dimasyarakat untuk memperkuat ideologi suatu

negara. Sedangkan Schuncke lebih menekankan IPS sebagai proses adanya pola hubungan

antara manusia satu sama lainnya dengan dunia nyata yang sedang dijalaninya.

Berdasarkan pemaparan mengenai pendidikan dan pembelajaran IPS menurut Schuncke dan

Muhammad Numan Somantri di atas, maka dapatdisimpulkan bahwa pada hakikatnya

pembelajaran IPS merupakan suatu proses pembentukan karakter manusia menjadi sosok

individu dewasa yang taat terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat dan negara,

serta IPS juga merupakan ilmu yang mengajarkan siswanya agar dapat mengembangkan
potensi, kecerdasan, dan keterampilan-keterampilan yang dimiliki guna menyelesaikan

permasalahan-permasalahan yang muncul dalam masyarakat.

Pembelajaran IPS sangatlah penting dibelajarkan pada proses pendidikan, terutama pendidikan

di sekolah dasar. Hal ini dikarenakan pembelajaran IPS mempunyai tujuan yang dapat

menunjang dan mendukung tujuan pendidikan nasional yang diharapkan. Adapun tujuan utama

pembelajaran IPS menurut Alma et al. (2010: 6) yaitu:

Untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di

masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi

dan terampil mengatasi masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya maupun

yang menimpa masyarakat.

Selain itu, Jarolimek (1977: 4-8) juga menjelaskan mengenai tujuan pembelajaran IPS di SD

yaitu Understandings as social studies goals, attituted and values as social studies goals, and

skill as social studies goals. Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS di SD

yaitu sebagai berikut:

1. Menumbuhkan pemahaman siswa mengenai informasi-informasi belajar tentang

kehidupan dan dunia nyata.

2. Menumbuhkan sikap dan nilai pribadi seorang siswa yang berkenaan dengan etika

dalam kehidupan bermasyarakat di dunia nyata.

3. Mengembangkan kemampuan dan keterampilan siswa dalam ilmu kemasyarakatan.

Misalnya: keterampilan sosial, keterampilan pendidikan dan kebiasaan, keterampilan kerja

kelompok, dan keterampilan intelektual.

Pada dasarnya, pendapat Alma et al. dengan Jarolimek itu memiliki persamaan bahwa

pembelajaran IPS bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang

dimiliki siswa. Tetapi pendapat Alma et al. lebih mengkhususkan bahwa kemampuan dan

keterampilan siswa itu digunakan untuk memecahkan masalah sosial. Sedangkan pendapat
Jarolimek lebih umum lagi bahwa pembelajaran IPS bertujuan untuk mengembangkan

pemahaman, sikap, nilai dan keterampilan yang dimiliki siswa.

Untuk lebih jelasnya lagi, Belen et al. (1996:336-337) berpendapat bahwa dengan pembelajaran

IPS diharapkan siswa dapat memiliki tiga keterampilan yang didapat melalui proses belajar.

Keterampilan-keterampilan itu adalah:

1. Keterampilan berpikir (intelektual) yang dikenal dengan keterampilan kognitif,

Keterampilan ini dikembangkan dalam IPS untuk melatih anak berpikir logis dan sistematis

dalam memecahkan persoalan yang nyata dalam kehidupan di masyarakat. Aktivitas yang

tampak dalam proses belajar ialah mengumpulkan, menunjukkan, memahami,

menerapkan, menganalisis dan menilai.

2. Keterampilan sosial, Pengembangan keterampilan sosial bertujuan agar anak mampu

berkomunikasi dengan sesama manusia dan lingkungannya di masyarakat secara baik.

Dengan demikian keterampilan sosial merupakan penerapan IPS dalam kehidupan

bermasyarakat.

3. Keterampilan praktis yang lebih dikenal dengan keterampilan psikomotor, Keterampilan

ini dikembangkan dan dibina melalui keterampilan berbuat, berlatih, dan berkoordinasi

indera serta anggota badan. Dalam proses belajar-mengajar tampak dalam kegiatan

menggambar, menggaris, membuat peta, membuat model, menggunting dan sebagainya.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS bertujuan untuk

meningkatkan pemahaman, sikap, nilai serta potensi dan keterampilan-keterampilan yang

dimiliki siswa, baik keterampilan intelektual, keterampilan sosial, maupun keterampilan

psikomotor. Keterampilan-keterampilan tersebut dalam proses belajar-mengajar tidak dapat

dipisahkan satu dengan yang lainnya, dan harus merupakan kesatuan. Keterampilan-

keterampilan dalam IPS hanya dapat berkembang manakala guru menggunakan model dan

strategi mengajar yang tepat.


Pembelajaran dan pendidikan IPS yang ada dalam kurikulum di SD merupakan bahan

pembelajaran yang telah disederhanakan dari bagian-bagian pengetahuan sosial, dimana

tingkat kesukarannya telah disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan anak usia sekolah

dasar. Eded Tarmedi (Istiantiet al., 2007:61) mengemukakan bahwa prinsip-prinsip

pembelajaran IPS mendasarkan diri pada lima prinsip, kelima prinsip tersebut yaitu:

a. Pembelajaran akan efektif manakala pembelajaran itu bermakna (meaningfull),

b. Pembelajaran akan efektif manakala pembelajaran itu terpadu (integrative),

c. Pembelajaran akan efektif manakala pembelajaran itu berdasarkan pada nilai (value based),

d. Pembelajaran akan efektif manakala pembelajaran itu menantang (challenging),

e. Pembelajaran akan efektif manakala pembelajaran itu aktif (active).

Oleh karena itu, dalam mencapai tujuan dari pendidikan dan pembelajaran IPS di SD, maka

guru harus senantiasa memperhatikan kelima prinsip tersebut, dimana guru harus membuat

situasi pembelajaran yang bermakna, terpadu, bernilai, menantang dan membuat siswa aktif.

Hal ini dilakukan semata-mata hanya untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran IPS

secara efektif.

Dalam KTSP (Depdiknas, 2008: 163) telah dijelaskan bahwa ruang lingkup mata pelajaran IPS

di SD yaitu meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

1. Manusia, tempat, dan lingkungan

2. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan

3. Sistem sosial dan budaya

4. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.

Oleh karena itu, dalam mengembangkan pembelajaran IPS di SD, guru harus mengacu pada

KTSP yang dapat dijadikan pedoman dalam mencapai tujuan pembelajaran IPS di SD yang

diharapkan. Maka dalam mengajarkan IPS di SD itu harus mengacu pada aspek-aspek di atas,

yaitu mengenai manusia, tempat, lingkungan, waktu, keberlanjutan, perubahan, sistem sosial

dan budaya, serta perilaku ekonomi dan kesejahteraan. Jadi tujuan pembelajaran IPS di SD
dapat dikatakan berhasil manakala aspek-aspek tersebut dapat dikuasai dan dipahami oleh

siswa SD.

2. Model Multiple Intelligences pada Pembelajaran IPS

Model multiple intelligences merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan

pada proses pembelajaran berlangsung. Jasmine(2007: 11-12) mengungkapkan pandangannya

tentang teori multiple intelligences bahwa:

Teori multiple intelligencesadalah validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah

penting. Pemakaiannya dalam pendidikan sangat bergantung pada pengenalan, pengakuan,

dan penghargaan terhadap setiap atau berbagai cara siswa (pelajaran) belajar, disamping

pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing-masing

pembelajar. Teori multiple intelligencesbukan hanya mengakui perbedaan individual ini untuk

tujuan-tujuan praktis, seperti pengajaran dan penilaian, tetapi juga menganggap serta

menerimanya sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan menarik dan sangat berharga.

Untuk memperjelas tentang teori multiple intelligencesini, Winataputraet al. (2008: 5.4) juga

mengungkapkan pandangannya mengenai pengertian dari multiple intelligences itu sendiri,

dimana menurut beliau bahwa:

Multiple intelligences/intelegensi majemuk adalah kemampuan untuk memecahkan masalah

atau menciptakan suatu produk yang efektif atau bernilai dalam satu latar belakang budaya

tertentu. Artinya, setiap orang jika dihadapkan pada sutu masalah, ia memiliki sejumlah

kemampuan untuk memecahkan masalah yang berbeda sesuai dengan konteksnya.

Jika dicermati, maksud yang diinginkan oleh Jasmine dan Winataputra dalam definisi mereka

mengenai multiple intelligences yaitu bahwa setiap individu memiliki bakat, minat dan potensi

yang berbeda antara satu sama lainnya. Tetapi, Winataputraet al. lebih menekankan bahwa

multiple intelligences ini merupakan kemampuan-kemampuan yang berbeda-beda antara

individu dalam memecahkan suatu permasalahan.


Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model multiple

intelligencesmerupakan seperangkat pemikiran mengenai kegiatan mengajar yang

mengembangkan multi intelegensi/kecerdasan majemuk yang bertujuan untuk meningkatkan

kemampuan siswa untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang baru dan

bernilai dalam mencapai suatu solusi untuk permasalahan yang dihadapi. Salah satu

kemampuan yang dimaksud adalah kreativitas dalam berpendapat, dimana dalam kreativitas

berpendapat siswa diarahkan untuk mencari solusi dalam memecahkan permasalahan yang

muncul dalam kehidupannya.

Gardner (Campbellet al.,2005: 2-3), mengemukakan bahwa beberapa komponen kecerdasan

yang dimiliki setiap individu, diantaranya yaitu:

1. Linguistic Intelligence (kecerdasan linguistik) adalah kemampuan untuk berpikir dalam

bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai

makna yang kompleks.

2. Logical-mathematical intelligence (kecerdasan logika-matematika) merupakan

kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan

hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis.

3. Spatial intelligence (kecerdasan spasial) membangkitkan kapasitas untuk berpikir dalam

tiga cara dimensi. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk merasakan bayangan

eksternal dan internal, melukiskan kembali, merubah, atau memodifikasi bayangan,

mengemudikan diri sendiri dan objek melalui ruangan, dan menghasilkan atau menguraikan

informasi grafik.

4. Bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinestetik-tubuh) memungkinkan seseorang

untuk menggerakkan objek dan keterampilan-keterampilan fisik yang halus.

5. Musical intelligence (kecerdasan musik) jelas kelihatan pada seseorang yang memiliki

sensivitas pada pola titinada, melodi, ritme dan nada.


6. Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal) merupakan kemampuan untuk

memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif.

7. Intrapersonal intelligence (kecerdasan intrapersonal) merupakan kemampuan untuk

membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan

semacam itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang.

Teori multiple intelligences Gardner ini bergema sangat kuat di kalangan pendidik karena teoriini

telah menawarkan model untuk bertindak sesuai dengan keyakinan kita bahwa: semua anak

memiliki kelebihan.Tidak sedikit guru di lapangan yang diajari untuk berfokus pada kurikulum

ketika membuat rencana pelajaran dan pelaksanaan mengajar, serta mesti berkonsentrasi

untuk membantu siswa mengikuti kurikulum; padahal dilain pihak, multiple intelligences adalah

sebuah model yang mengutamakan siswa dan kurikulum sering dimodifikasi agar sesuai

dengan karakteristik, potensi, minat dan bakat siswa. Dalam pembelajaran tradisional, guru

hanya mengandalkan filter bahasa dan meminta menulis untuk menunjukkan pemahaman dan

pengetahuan yang dicapai siswa, padahal hal tersebut merupakan sesuatu yang membosankan

bagi siswa dalam belajar. Sedangkan guru yang menerapkan model multiple intelligences

dalam pembelajaran bisa mendorong siswa menggunakan kelebihan dan potensiyang dimiliki

siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari (Hoerr, 2007: 14-16).

Dalam menerapkan model multiple intelligencesgurudapat menyampaikan pengajaran bukan

hanya dengan ceramah saja. Akan tetapi, dapat dilakukan dengan cara memberikan

kesempatan bagi siswa untuk berbicara dalam menggunakan kecerdasan linguistik,

memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir logis dan menggunakan angka dalam

rangka mengembangkan kecerdasan logis-matematis, memberikan kesempatan siswa

mendapat informasi dari gambar dalam mengembangkan kecerdasan visual, memberikan

kesempatan siswa mengarang lagu dan menggunakan musik dalam menerima informasi untuk

mengembangkan kecerdasan musikal, memberi kesempatan siswa berakting dan pengalaman


fisik lainnya dalam mengembangkan kecerdasan kinestetik tubuh mereka, mengadakan refleksi

diri dan pengalaman sosial dalam rangka mengembangkan kecerdasan intrapersonal dan

interpersonal siswa. Serta dengan mengadakan kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat

mengembangkan kecerdasan majemuk siswa saat pembelajaran berlangsung.

Menerapkan model multiple intelligences dalam pembelajaran dan pengajaran suatu materi

tidak perlu menggunakan ketujuh komponen kecerdasan secara serentak. Akan tetapi, perlu

adanya pemilihan kecerdasan yang sesuai dengan konteks pembelajaran itu sendiri. Selain itu,

di dalam menerapkan model multiple intelligences ini, guru harus mengetahui perkembangan

siswa dan mengamati keunikan setiap siswa, sehingga pendidikan bisa diberikan sesuai

dengan kebutuhan dan keunikan siswa masing-masing.

Model multiple intelligences ini, mampu menjembatani proses pembelajaran yang

membosankan menjadi suatu pengalaman belajar yang menyenangkan dan siswa tidak hanya

dijejali materi dan teori-teori semata. Akan tetapi, dengan model multiple intelligences siswa

dihadapkan pada kenyataan bahwa materi dan teori-teori yang mereka terima memang dapat

mereka temui di dunia nyata dalam kehidupan mereka, serta materi dan teori-teori tersebut

dapat mereka alami sendiri sehingga memberikan kesan yang mendalam dalam kehidupan

mereka.

Adapun keunggulan dan manfaat penerapan model multiple intelligences dalam proses

pembelajaran dan pendidikan di sekolah yaitu sebagai berikut:

1. Guru dapat menggunakan kerangka multiple intelligences dalam melaksanakan proses

pengajaran secara luas. Aktivitas yang bisa dilakukan seperti menggambar, menciptakan

lagu, mendengarkan musik, melihat suatu pertunjukkan dapat menjadi pintu masuk yang

vital terhadap proses belajar. Bahkan siswa yang penampilannya kurang baik pada saat

proses belajar menggunakan pola tradisional (menekankan bahasa dan logika), jika

aktivitas ini dilakukan akan memunculkan semangat mereka untuk belajar.


2. Dengan menggunakan model multiple intelligences, gurumenyediakan kesempatan bagi

siswa untuk belajar sesuai dengan kebutuhan, minat, dan talentanya.

3. Peran serta orang tua dan masyarakat akan semakin meningkat di dalam mendukung

proses belajar mengajar. Hal ini bisa terjadi karena setiap aktivitas siswa di dalam proses

belajar akan melibatkan anggota masyarakat.

4. Siswa akan mampu menunjukkan dan berbagi tentang kelebihan yang dimilikinya.

Membangun kelebihan yang dimiliki akan memberikan suatu motivasi untuk menjadikan

siswa sebagai seorang spesialis.

5. Pada saat guru mengajar untuk memahami, siswa akan mendapatkan pengalaman

belajar yang positif dan meningkatkan kemampuan untuk mencari solusi dalam

memecahkan persoalan yang dihadapinya. (Susanto, http:

//www.bpkpenabur.or.id./files/Hal.67-75%20Penera pan%20Multiple%20Intelligences

%20dalam%20%20Sistem%20Pembelajaran.pdf)

Dari penjelasan di atas mengenai manfaat penerapan model multiple intelligences, makasangat

baik sekali manakala model ini dapat diterapkan dalam pembelajaran dan pendidikan di

sekolah. Hal ini dikarenakan manfaat yang sangat luar biasa sekali dari penerapan model

multiple intelligences ini, dari mulai membangkitkan motivasi belajar, menyediakan siswa untuk

belajar sesuai dengan minat, bakat dan talentanya, meningkatkan kemampuan siswa dalam

bidang yang mereka sukai, sampai pada memberikan pengaruh positif dalam belajar siswa

untuk memecahkan masalah.

Dalam penerapan model multiple intelligences di sekolah, Mikarsa et al.(2007:7.29-7.30)

menjelaskan bahwa terdapat tujuh langkah-langkah yang harus ditempuh untuk

mengembangkan kurikulum yang menggunakan model multiple intelligences ini, ketujuh

langkah-langkah tersebutyaitu sebagai berikut:


1. Fokuskan topik atau tujuan khusus; tetapkan apakah tujuan berskala besar (untuk

jangka panjang) atau bertujuan khusus (mendorong rencana pendidikan siswa secara

individual). Tujuan harus dinyatakan secara jelas dan singkat.

2. Munculkan pertanyaan multiple intelligences, misalnya bagaimana menggunakan lisan

atau kata, bagamana cara menggunakan alat visual, warna, metafora, bagaimana saya

terlibat secara fisik dan berbagai pengalaman, bagaimana saya melibatkan siswa dengan

rekan sebaya.

3. Pertimbangkan segala kemungkinan, pikirkanlah metode dan materi yang tepat bahkan

juga yang tidak tepat.

4. Curah pendapat; kemukakan segala gagasan yang ada dalam pikiran dan usahakan

satu ide untuk satu kecerdasan kemudian konsultasikan dengan kolega untuk membantu

menstimulasi pikiran.

5. Pilihlah aktivitas yang cocok, setelah semua gagasan lengkap maka tentukan

pendekatan yang benar-benar operasional dalam adegan pendidikan.

6. Kembangkan urutan tindakan, dengan menggunakan pendekatan yang telah dipilih,

rancanglah rencana pelajaran dan tetapkan alokasi waktu untuk setiap hari pelajaran.

7. Implementasikan rencana, kumpulkan materi yang dibutuhkan, pilihlah waktu yang

tepat, kemudian laksanakan rencana belajar. Modifikasi dapat dilakukan selama proses

implementasi strategi.

Dari penjelasan Mikarsa et al. mengenai langkah-langkah pengembangan kurikulum dengan

menggunakan model multiple intelligences tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dalam

pembelajaran dengan menggunakan model multiple intelligences ini harus mencakup dari

langkah-langkah di atas, baik itu memunculkan pertanyaan multiple intelligences, mengadakan

curah pendapat, maupun mengembangkan aktivitas belajar. Langkah-langkah ini

diimplementasikan pada proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Untuk lebih jelasnya
lagi, Richards dan Rodgers (2001: 118) mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan

model multiple intelligences pada proses pembelajaran. Tahapan yang dimaksud yaitu sebagai

berikut:

1. Stage 1: Awaken the Intelligence. Through multisensory experiences touching, smelling,

tasting, seeing, and soon- learners can besensitized to the many-faceted properties of

objects and events in the world that surrounds them.

2. Stage 2: Amplify the Intelligence. Students strengthen and improve the intelligence by

volunteering objects and events of their own choosing and defining with others, the

properties and contexts of experience of these objects and events.

3. Stage 3: Teach with/for the Intelligence. At this stagethe intelligence is linkedto the focus

of the class, that is, to some aspect of language learning. This is done via worksheets and

small-group projects and discussion.

4. Stage 4: Transfer of the Intelligence. Students reflect on the learning experiences of the

previous three stages and relate these to issues and challenges in the out of class world.

Dari penjelasan mengenai tahapan model multiple intelligences yang dikembangkan oleh

Richards dan Rodgers tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan

menggunakan model multiple intelligences yaitu terdiri dari empat tahap pula, yaitu sebagai

berikut:

1. Tahap membangkitkan intelligence. Tahap ini merupakan suatu proses pengalaman

belajar melalui pengalaman multiindrawi yaitu dengan menyentuh, mencium, mencicipi,

melihat, dan juga siswa dapat peka untuk memahami banyak segi sifat benda dan kegiatan

di dunia yang mengelilingi mereka.

2. Tahap memperkuat intelligence, yaitu tahap dimana siswa memperkuat dan

meningkatkan kecerdasan secara sukarela mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa


yang mereka pilih sendiri dan mendefinisikan dengan orang lain, sifat dan konteks

pengalaman benda-benda dan peristiwa-peristiwa.

3. Tahap mengajar dengan/untuk intelligence. Pada tahap ini terhubung tingkatan

kecerdasan itu untuk fokus terhadap kelas. Ini dilakukan melalui lembar kerja dan proyek-

proyek kelompok kecil dan diskusi dalam aktivitas belajar siswa.

4. Tahap transfer dari intelligencesiswa. Tahap ini bercermin pada pengalaman belajar tiga

tahap sebelumnya dan berkaitan dengan isu-isu ini dan tantangan di luar kelas atau dunia

nyata.

Berdasarkan pemaparan mengenai langkah-langkah model multiple intelligences yang

dikembangkan oleh Mikarsa et al. dengan tahapan yang dikembangkan oleh Richards dan

Rodgers, maka dapat disimpulkanbahwa dalam pembelajaran dengan model multiple

intelligences ini dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran yang mengkombinasikan

langkah-langkah dan tahapan tersebut. Sehingga langkah-langkah yang dikembangkan oleh

Mikarsa et al. pun dapat tersirat pada keempat tahapan yang dikemukakan Richards dan

Rodgers tersebut yaitu tahap membangkitkan intelligence, memperkuat intellingence, mengajar

dengan/untuk intelligence, dan tahap transfer dari intelligence siswa.

Dalam pemaparan mengenai model multiple intelligences di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa model multiple intelligences ini lebih menekankan pada proses pengembangan potensi

dan talenta siswa dalam memecahkan masalah. Sehingga model multiple intelligences ini

sangatlah cocok manakala diterapkan pada pembelajaran IPS, karena tujuan utama

pembelajaran IPS itu sendiri yaitu untuk mengembangkan potensi siswa agar peka terhadap

masalah sosial dan dapat menyelesaikannya. Oleh karena itu, model multiple intelligences ini

berfungsi sebagai cara untuk mengembangkan potensi dan kemampuan siswa untuk

menyelesaikan masalah sosial yang muncul dalam kehidupan bermasyarakat.

3. Model Multiple Intelligences dalam Kreativiyas Berpendapat


Kreativitas merupakan suatu kemampuan seseorang untuk menghasilkan suatu pemikiran yang

baru. Selain itu, Al-Khalili (2005: 35) juga menjelaskan tentang definisi kreativitas anak yaitu:

Kemampuan untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang asli, tidak biasa, dan sangat

fleksibel dalam merespon dan mengembangkan pemikiran dan aktivitas. Kreativitas ini juga

dimiliki oleh mayoritas anak-anak. Akan tetapi, kreativitas ini berbeda antara satu anak dengan

yang lainnya. Karena itu, kreativitas anak-anak sebenarnya adalah suatu pemikiran yang

memiliki hasil cipta, bukan rutinitas atau sekedar mengikuti mode.

Sedangkan Hurlock (Basuki, http://www.google.co.id/search?hl=id

&client=firefoxa&hs=Tr3&channel=s&q=pengembangan+kreativitas+oleh+heru+basuki&meta=&

aq=f&aqi=&aql=&oq.html) mengungkapkan bahwa, Kreativitas adalah suatu proses yang

menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk

atau susunan yang baru.

Jika dicermati, Al-Khalili lebih menekankan bahwa kreativitas itu suatu kemampuan untuk

menghasilkan pemikiran yang asli hasil karya sendiri dan tidak biasa dimiliki orang lain,

sedangkan Hurlock menjelaskan bahwa kreativitas itu merupakan kemampuan untuk

menghasilkan pemikiran yang baru. Hal tersebut sebenarnya bukan merupakan perbedaan

yang mendasar, akan tetapi keduanya saling melengkapi dan memperjelas akan pengertian

kreativitas yang lebih kompleks yaitu sebagai kemampuan untuk menghasilkan pemikiran yang

baru, asli serta fleksibel dalam merespon dan mengembangkan suatu pemikiran.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kreativitas berpendapat merupakan suatu

kemampuan seseorang dalam menghasilkan suatu pemikiran atau gagasan yang baru untuk

dibuat suatu garis besar yang dapat dijadikan bahan sebagai solusi untuk memecahkan suatu

masalah.

Peran kreativitas di dalam pendidikan sangatlah penting. Hal ini dikarenakan pendidikan

merupakan sarana pembelajaran dan pelatihan tata cara berpindah dari suatu kebiasaan

menuju pengembangan dan penemuan kreativitas itu sendiri.


Williams (Al-Khalili, 2005:29) menyatakan bahwa kreativitas memiliki beberapa aspek mendasar

yang menjadi unsur penyusunnya, yaitu:

1. Ketangkasan; yaitu kemampuan untuk menghasilkan pemikiran atau pertanyaan dalam

jumlah yang banyak,

2. Fleksibilitas; yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak macam pemikiran, dan

mudah berpindah dari jenis pemikiran tertentu kepada jenis pemikiran lainnya,

3. Orisinalitas; yaitu kemampuan untuk berpikir dengan cara yang baru atau dengan

ungkapan yang unik, dan kemampuan untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran jenius

yang lebih banyak daripada pemikiran yang telah menyebar atau telah jelas diketahui,

4. Elaborasi; yaitu kemampuan untuk menambah hal-hal yang detil dan baru atas

pemikiran-pemikiran atau suatu hasil produk tertentu.

Untuk memperjelas aspek-aspek mendasar yang menjadi unsur penyusun suatu kreativitas,

maka Munandar dan Ghufron (Nurhayati, 2007: 22-23) menjelaskan lebih rinci mengenai ciri-ciri

dari setiap aspek kreativitas tersebut. Adapun ciri-cirinya yaitu sebagai berikut:

1. Fluency (kelancaran), ditandai oleh:

a. Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau pertanyaan,

b. Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal,

c. Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban,

d. Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada anak-anak lain.

2. Flexibility (keluwesan), ditandai oleh:

a. Menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi,

b. Dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda,

c. Mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda,

d. Mampu mengubah cara pendekatan atau pemikiran.

3. Originality (keaslian), ditandai oleh:


a. Mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik,

b. Memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri,

c. Mampu mengungkapkan kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau

unsur-unsur,

d. Menggunakan kata-kata atau istilah yang tidak lazim, dan isi jawaban bersifat konseptual.

4. Elaboration (penguraian), ditandai oleh:

a. Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk,

b. Menambah atau merinci detil-detil dari suatu objek, gagasan, atau situasi sehingga menjadi

lebih menarik,

c. Setiap jawaban disertai contoh,

d. Uraian jawaban tidak sekedar bersifat garis besar dan pengungkapan gagasan

menggunakan kalimat lengkap.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkanbahwa di dalam kreativitas

berpendapat pun mempunyai empat aspek yang menjadi indikator dari kreativitas berpendapat.

Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai ke empat aspek tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Fluency (ketangkasan atau kelancaran) merupakan suatu kemampuan untuk menghasilkan

gagasan-gagasan dalam jumlah yang banyak untuk dijadikan bahan dalam mengeluarkan

pendapat. Jadi dengan kemampuan ini seseorang mempunyai banyak ide-ide di dalam

pikirannya untuk dijadikan suatu gagasan atau pendapat yang dapat dikemukakan.

Kemampuan ini ditandai dengan:

a. Mencetuskan banyak pendapat/gagasan,

b. Memberikan banyak cara atau saran dalam mengeluarkan pendapat,

c. Selalu memikirkan lebih dari satu pendapat,

d. Responsif terhadap masalah yangdiajukan.

2. Flexibility (keluwesan) merupakan suatu kemampuan untuk mengemukakan bermacam-

macam pemecahan terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi atau yang sedang
dibahas. Jadi dengan kemampuan ini seseorang dapat mengemukakan pendapatnya mengenai

berbagai solusi dalam memecahkan suatu masalah. Adapun ciri-ciri dari kemampuan ini yaitu:

a. Menghasilkan pendapat yang bervariasi,

b. Dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda,

c. Fleksibel dalam berpendapat,

d. Kritis terhadap permasalahan yang dibahas.

3. Originality (keaslian) merupakan kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara

yang asli dari pendapat sendiri dan tidak meniru gagasan orang lain. Jadi untuk memiliki

kemampuan ini sangat diperlukan keterampilan-keterampilan khusus seseorang dalam

memecahkan masalah. Kemampuan ini ditandai dengan:

a. Mampu memunculkan pendapat/gagasan yang baru,

b. Menggunakan kata-kata atau istilah-istilah yang tidak lazim dalam mengeluarkan pendapat,

c. Mengungkapkan pendapat yang riil,

d. Mengeluarkan pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan.

4. Elaboration (penguraian) merupakan kemampuan untuk menjelaskan dan menguraikan lebih

rinci atau detil mengenai pendapat yang diajukan. Jadi kemampuan ini menitikberatkan kepada

bagaimana seseorang memberikan penjelasan atau penguraian mengenai pendapat yang

diajukan supaya semua orang paham atas pendapat yang diajukannya. Adapun ciri-ciri dari

kemapuan ini yaitu sebagai berikut:

a. Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu pendapat/gagasan,

b. Menambah atau merinci detil-detil dari suatu pendapat sehingga menjadi lebih menarik,

c. Mengungkapkan contoh dari setiap pendapat,

d. Pengungkapan pendapat menggunakan kalimat lengkap.

Kreativitas sangatlah perlu sekali dikembangkan dalam proses pembelajaran dan pendidikan di

sekolah. Hal ini dilatarbelakangi dengan adanya hubungan yang sangat erat dan kuat antara

kecerdasan dengan kreativitas. Dimana kreativitas merupakan salah satu bentuk kecerdasan,
dan dapat pula dijadikan pengantar dalam meraih kecerdasan. Selain itu, kecerdasan ini

tersusun dari empat macam kemampuan, yaitu; pemahaman, kreativitas, kritik, dan

kemampuan untuk mengarahkan pemikiran dalam suatu arah tertentu, dan kelanggengan

dalam arah tersebut sebelum pelaksanaan beberapa perintah yang berturut-turut satu dengan

yang lainnya. Hal ini diperkuat juga oleh hasil penelitian Utami Munandar (Mikarsa et al. 2007:

3.28) yang menunjukkan bahwa:

Hasil studi korelasi dan analisis faktor membuktikan tes kreativitas sebagai dimensi fungsi

kognitif yang relatif bersatu yang dapat dibedakan dari tes intelegensia (kecerdasan), tetapi

berpikir divergen (kreativitas) juga menunjukkan hubungan yang bermakna dengan berpikir

konvergen (intelegensia/kecerdasan).

Selain itu, hasil penelitian Munandar (2009: 9) terhadap siswa SD dan SMP menunjukkan

bahwa:

Kreativitas sama absahnya seperti inteligensi sebagai prediktor prestasi sekolah. Jika efek dari

inteligensi dieliminasi, hubungan antara kreativitas dengan prestasi sekolah tetap substansial.

Adapun kombinasi dari inteligensi dan kreativitas lebih efektif lagi sebagai prediktor prestasi

sekolah daripada masing-masing ukuran sendiri. Implikasi terhadap pendidikan ialah bahwa

untuk tujuan seleksi dan identifikasi bakat sebaiknya menggunakan kombinasi dari tes

inteligensi dan tes kreativitas.

Berdasarkan pemaparan di atas mengenai pentingnya kreativitas dalam pembelajaran dan

pendidikan di sekolah, serta menjelaskan hubungan antara kreativitas, kecerdasan, dan

prestasi sekolah. Maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas berpendapat pun sangatlah

penting. Hal ini mengingat bahwa kreativitas berpendapat itu adalah bagian dari kreativitas

siswa yang harus ditingkatkan dalam proses pembelajaran supaya kecerdasan dan

pengetahuan siswa mengenai bahan ajar dapat terkuasai dengan baik. Maka secara tidak

langsung akan terimplikasi pula terhadap peningkatan prestasi sekolah siswa, sehingga yang
menjadi tujuan dari pembelajaran dan pendidikan di sekolah dapat tercapai sebagaimana

mestinya.

Di dalam kreativitas berpendapat, siswa dituntut untuk dapat memunculkan suatu pemikiran

atau pendapat yang baru dan inovasi dalam penyelesaian masalah yang mucul dalam

pembelajaran. Sehingga pemahaman dan aktivitas belajar siswa dapat meningkat, dan akan

berpengaruh pula kepada hasil belajar siswa menuju kearah kebaikan. Hal tersebut merupakan

suatu upaya dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikanyang diharapkan.

Dalam upaya meningkatkan kreativitas berpendapat siswa, maka guru dituntut untuk dapat

menciptakan suatu proses pembelajaran yang memunculkan suatu permasalahan dan

memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeluarkan pendapatnya. Oleh karena itu,

guru seyogyanya memilih dan mengaplikasikan model, strategi pembelajaran, pendekatan,

metode, media, dan bahan ajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, yaitu

meningkatkan kreativitas berpendapat dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan.

Oleh karena itu, model multiple intelligences hadir sebagai alternatif dalam meningkatkan

kreativitas berpendapat, karena model multiple intelligences ini dapat mengembangkan potensi

dan talenta siswa yang salah satunya yaitu kreativitas berpendapat. Dalam model multiple

intelligences ini, kreativitas berpendapat siswa lebih difokuskan pada proses pemecahan

masalah yang mucul dalam kehidupan nyata siswa.

C. Metode Penelitian

1. Metode

Terdapat beberapa macam metode penelitian yang bisa dilakukan pada saat penelitian. Adapun

pada penelitian kali ini yaitu dengan menggunakan pendekatan kualitatif metode Penelitian

Tindakan Kelas (PTK). Dimana Hopkins (Muslich, 2009: 8) menjelaskan bahwa,


PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif, yang dilakukan oleh pelaku pendidikan

untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakannya dalam melaksanakan

tugas dan memperdalam pemahaman terhadap kondisi dalam praktik pembelajaran.

Sedangkan Susilo et al. (2008: 1) juga mengemukakan pandangannya mengenai definisi PTK

yaitu bahwa,

PTK dapat didefinisikan sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang dan

bersifat reflektif mandiri yang dilakukan oleh guru/calon guru yang memiliki tujuan untuk

melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau

situasi pembelajaran.

Jika dicermati, Hopkins dengan Susilo et al. mempunyai pandangan yang sama bahwa PTK ini

merupakan suatu penyelidikan dan perbaikan-perbaikan dari pelaksanaan praktek

pembelajaran. Akan tetapi, Susilo et al. lebih menekankan bahwa perbaikan praktek

pembelajaran itu dilakukan dengan mengadakan proses investigasi oleh guru/calon guru yang

berdaur ulang dalam rangka perbaikan-perbaikan tersebut. Sedangkan Hopkins lebih

menekankan bahwa PTK itu dilakukan untuk memantapkan rasional para pelaku pendidikan

dalam setiap tindakan praktek pembelajaran. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa

penelitian tindakan kelas merupakan suatu upaya yang dilakukan pendidik dalam rangka

memperbaiki praktek pembelajaran di kelas. Perbaikan tersebut dapat dilakukan terhadap

sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi pembelajaran.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa PTK itu sangatlah perlu

dilaksanakan oleh para pelaku pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan

meminimalisir masalah yang muncul pada saat praktek pembelajaran. Selain itu, Susilo et al.

(2008: 27) juga mengungkapkan akan alasan perlunya PTK yaitu:

Karena PTK membuat guru dan siswa mampu membangun cara-cara yang berbeda untuk

menyelesaikan atau menyempurnakan tugas-tugas membelajarkan/belajar memperbaiki praktik


pembelajaran dan tingkah laku belajar dalam kelas, serta mampu mengerjakan kegiatan belajar

dan membelajarkan yang efektif untuk semuanya.

Adapun tujuan dilaksanakan atau dilakukannya PTK adalah untuk: 1) perbaikan dan

peningkatan proses pembelajaran yang dilakukan secara bertahap selama proses penelitian. 2)

meminimalisir masalah-masalah yang dapat menghambat proses pencapaian tujuan

pendidikan, 3) peningkatan layanan profesional guru dalam mengorganisir proses pembelajaran

di lapangan supaya tercapainya tujuan pendidikan yang efektif dan efisien.

Tujuan-tujuan yang dipaparkan di atas dapat dicapai manakala dilakukannya tindakan-tindakan

yang dapat menjadi alternatif dalam memecahkan masalah-masalah yang muncul pada saat

proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu fokus penelitian tindakan kelas adalah terletak

pada kualitas proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Sehingga perlu adanya alternatif

tindakan yang direncanakan oleh guru dalam pemecahan masalah, setelah merencanakan

alternatif pemecahan masalah, kemudian alternatif pemecahan masalah tersebut diuji cobakan

dan dievaluasi akan keberhasilannya.

2. Subyek Penelitian

Untuk penelitian ini, akan dilaksanakan di SDN Sukahaji I Kecamatan Cileunyi Kabupaten

Bandung. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Sukahaji I semester II tahun

pelajaran 2009/2010 sebanyak 30 orang, yang terdiri dari 17 orang siswa laki-laki dan 13 orang

siswa perempuan.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data akan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan teknik

pengumpulan data kualitatif melalui pendeskripsian data yang telah dianalisis. Teknik

pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

a. Observasi

b. Wawancara

c. Pembuatan Catatan Lapangan


d. Membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS)

e. Membagikan Lembar Evaluasi Kreativitas Berpendapat

f. Pengambilan Gambar (Dokumentasi)

4. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian tindakan kelas ini, analisis data diarahkan untuk mencari dan menemukan

upaya yang dilakukan guru dalam meningkatkan kualitas proses belajar siswa. Dengan

demikian, analisis data dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan analisis kualitatif, dimana

analisis kualitatif digunakan untuk menentukan peningkatan proses belajar khususnya berbagai

tindakan yang dilakukan guru.

Data yang diperoleh akan dianalisis pada setiap kegiatan sebagai penguji terhadap hipotesis

tindakan. Teknik analisis data dapat dilakukan secara bertahap. Adapun tahap-tahapnya yaitu

sebagai berikut:

1. Menyeleksi dan mengelompokkan, dalam tahap ini data-data yang telah terkumpul

diseleksi sesuai dengan fokus masalah, kemudian data diorganisasikan sesuai dengan

hipotesis atau pertanyaan penelitian yang ingin dicari jawabannya. Dalam tahap ini, peneliti

mengumpulkan semua instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data

kemudian dikelompokkan berdasarkan fokus masalah atau hipotesis. Untuk memperoleh

data mengenai proses pembelajaran dengan menggunakan model multiple intelligences

dalam meningkatkan kreativitas berpendapat siswa pada pembelajaran IPS yaitu dapat

dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis instrumen-instrumen berupa lembar

observasi, catatan lapangan, lembar wawancara, dan hasil dokumentasi. Sedangkan dalam

rangka memperoleh data mengenai kreativitas berpendapat dan hasil belajar siswa dalam

pembelajaran IPS dengan menggunakan model multiple intelligences dapat diperoleh

melalui pengumpulan dan proses analisis instrumen-instrumen berupa lembar wawancara,

lembar kerja siswa, lembar evaluasi kreativitas berpendapat dan hasil dokumentasi.
2. Memaparkan atau mendeskripsikan data, dalam tahap ini data yang telah

terorganisasikan, kemudian dideskripsikan sehingga data tersebut menjadi bermakna.

Mendeskripsikan data tersebut dapat dilakukan dalam bentuk narasi, membuat grafik,

maupun menyusunnya dalam bentuk tabel.

3. Menyimpulkan atau memberi makna, dalam tahap ini merupakan penarikan kesimpulan

yang didapat berdasarkan paparan atau deskripsi yang telah dibuat pada tahap

sebelumnya. Kesimpulan ini dibuat dalam bentuk pernyataan atau formula singkat yang

dapat menjawab semua pertanyaan di dalam rumusan masalah penelitian.

D. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang tealh dilaksanakan, telah diperoleh berbagai temuan-temuan yang

akan dibahas pada uraian di bawah ini:

1. Siklus I

Pada siklus I ini terdiri dari dua tindakan, yaitu tindakan 1 membahas mengenai perilaku tidak

disiplin dan tindakan 2 membahas tindak kejahatan yang ada di masyarakat. Pembelajaran

dengan menerapkan model multiple intelligences ini diperlukan peran guru yang kreatif dalam

mengemas proses pembelajaran yang dapat mengembangkan berbagai kecerdasan yang

dimiliki siswa. Oleh karena itu, guru membuat aktivitas pembelajaran yang disukai siswa dan

menerapkan prinsip multi metode, multi media dan multi sumber. Hal ini dimaksudkan untuk

menstimulus dan mengembangkan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa.

Pembelajaran dengan menggunakan model multiple intelligences ini dilakukan dengan empat

tahap yang dikemukakan oleh Richards dan Rodgers (2001: 118) yaitu tahap membangkitkan

intelligence, memperkuat intelligence, mengajar dengan/untuk intelligence, serta tahap transfer

dari intelligence siswa. Akan tetapi pada pembelajaran siklus I ini masih terdapat kekurangan
dan kendala yang dihadapi guru dalam meningkatkan kreativitas berpendapat siswa pada

proses pembelajaran.

Untuk memperjelas mengenai pembahasan siklus I yang dikaitkan dengan pertanyaan-

pertanyaan penelitian, maka diperlukan suatu temuan esensial mengenai pertanyaan penelitian

tersebut pada proses penelitian siklus I. Adapun temuan esensial pada siklus I dapat dilihat

pada tabel 4.19. berikut.

Tabel 4.19. : Temuan Esensial Siklus I

Tindakan/ Hari/Tanggal Materi Pembelajaran Temuan Esensial

Rabu, 31-3-10 Perilaku tidak disiplin a. Proses pembelajaran dengan menggunakan model

multiple intelligences dalam meningkatkan kreativitas berpendapat siswa pada pembelajaran

IPS di kelas IV SD ini masih belum optimal. Hal ini dikarenakan guru kurang mampu

menfasilitasi siswa dalam mengembangkan kecerdasan yang dimiliki siswa, selain itu guru juga

kurang mengoptimalkan keterampilan-keterampilan mengajar pada proses pembelajaran.

b. Kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan

model multiple intelligences masih kurang baik. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya siswa

yang tidak mau mengeluarkan pendapat pada proses pembelajaran dan nilai rata-rata

kreativitas berpendapat siswa yang hanya mencapai 53,42.

c. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan model

multiple intelligences masih kurang baik, karena nilai rata-rata hasil belajar siswa hanya

mencapai 53,17, serta semua siswa belum dapat dinyatakan tuntas belajar karena nilainya

dibawah standar mastery learning yang berkisar di angka 75.

Senin, 5-4-10 Tindak kejahatan a. Proses pembelajaran dengan menggunakan model multiple

intelligences dalam meningkatkan kreativitas berpendapat siswa pada pembelajaran IPS di

kelas IV SD ini sudah sesuai dengan tahapan yang harus dicapai. Akan tetapi, guru masih
belum bisa mengembangkan keterampilan menjelaskan, memberikan penguatan, mengadakan

variasi dan keterampilan membimbing diskusi kelompok.

b. Kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan

model multiple intelligences sudah mulai muncul cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan semakin

berkurangnya siswa yang tidak berani mengeluarkan pendapat pada proses pembelajaran, nilai

rata-rata kreativitas berpendapat siswa yang mencapai 60,96, serta mengalami peningkatan

dari pembelajaran sebelumnya.

c. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan model

multiple intelligences sudah cukup baik dan mengalami peningkatan, karena nilai rata-rata hasil

belajar siswa telah mencapai 60,5, tetapi hanya satu siswa saja yang dapat dinyatakan tuntas

belajar, sedangkan 29 siswa lainnya belum dapat dinyatakan tuntas belajar karena nilainya

dibawah standar mastery learning yang berkisar di angka 75.

Berdasarkan temuan esensial di atas, maka menunjukkan bahwa pada tindakan pertama

Proses pembelajaran dengan menggunakan model multiple intelligences masih belum optimal,

sehingga kreativitas berpendapat siswa pun belum muncul dengan baik, dimana siswa masih

kurang keberanian untuk mengeluarkan pendapat pada saat aktivitas tanya jawab dengan guru,

sehingga guru harus lebih memperhatikan dan memotivasi siswa yang belum nampak

keberanian tersebut. Selain itu, hasil rata-rata nilai kreativitas berpendapat siswa yang kurang

baik yaitu sebesar 53,42, dan nilai rata-rata hasil belajar siswa pun kurang baik karena dibawah

standar mastery learning yang berkisar pada nilai 75 (75%), serta semua siswa belum dapat

dinyatakan tuntas belajar karena nilai semua siswa berada dibawah standar mastery learning

tersebut.

Sedangkan temuan esensial yang diperoleh pada tindakan kedua telah mengalami peningkatan

dibandingkan dengan tindakan sebelumnya, hal ini ditunjukkan dengan peningkatan kreativitas

berpendapat siswa yang mencapai rata-rata 60,96 dan hasil belajar siswa mencapai rata-rata

sebesar 60,5, serta hanya satu siswa saja yang dapat dinyatakan tuntas belajar, sedangkan 29
siswa lagi belum dapat dinyatakan tuntas belajar karena mendapat nilai dibawah standar

mastery learning. Selain itu, sudah nampak pula usaha guru untuk menerapkan model multiple

intelligences yang sesuai dengan keempat tahapan model tersebut. Akan tetapi, guru masih

belum bisa mengembangkan keterampilan menjelaskan, memberikan penguatan, mengadakan

variasi dan keterampilan membimbing diskusi kelompok.

Rincian hasil kreativitas berpendapat pada setiap tindakan di atas, maka menunjukkan bahwa

rincian kreativitas berpendapat pada siklus I yaitu (1) fluancy sebesar 70,44. (2) flexibility

sebesar 57,5. (3) originality sebesar 54,5. (4) elaboration sebesar 46,75.

Pada siklus I ini, kreativitas dan keberanian siswa mengeluarkan pendapat masih kurang

muncul dengan baik, hal ini ditandai dengan nilai rata-rata kreativitas berpendapat yang hanya

mencapai rata-rata 57,19. Hasil kreativitas berpendapat tersebut juga berpengaruh terdapat

hasil belajar yang diperoleh siswa, hal ini dikarenakan tes evaluasi kreativitas berpendapat ini

merupakan salah satu evaluasi hasil belajar yang digunakan pada pembelajaran siklus I ini.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka guru harus lebih baik lagi dalam mengemas

aktivitas pembelajaran supaya siswa dapat terfasilitasi dalam mengembangkan berbagai

kecerdasan yang dimilikinya, sehingga kreativitas berpendapat siswa pun dapat berkembang

dengan baik.

Selain itu, guru harus meningkatkan keterampilan-keterampilan mengajar yang dimiliki supaya

siswa dapat mengkonstruk pengetahuan mengenai materi yang dibahas secara baik.

Keterampilan-keterampilan yang dimaksud yaitu keterampilan membuka pembelajaran,

menutup pembelajaran, menjelaskan, mengadakan variasi, bertanya dasar, bertanya lanjut,

memberi penguatan, membimbing diskusi kelompok kecil, mengajar kelompok kecil dan

perorangan, serta keterampilan mengelola kelas.

2. Siklus II

Pada siklus II ini terdiri dari dua tindakan, yaitu tindakan 1 membahas mengenai masalah

pemborosan energi dan tindakan 2 masalah kependudukan yang ada di masyarakat. Dalam
pembelajaran yang menggunakan model multiple intelligences dengan menerapkan empat

tahap yang dikemukakan oleh Richards dan Rodgers, maka diperlukan kreativitas guru dalam

melaksanakan pembelajaran yang multi metode, multi media dan multi sumber, serta guru juga

harus mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar mengajar.

Pembelajaran pada siklus II ini masih terdapat kekurangan dan kendala-kendala yang dihadapi

guru pada saat proses pembelajaran berlangsung. Kekurangan dan kendala tersebut dapat

terlihat dari temuan esensial siklus II pada tabel 4.20. berikut ini.

Tabel 4.20. : Temuan Esensial Siklus II

Tindakan/ Hari/Tanggal Materi Pembelajaran Temuan Esensial

Kamis, 8-4-10 Pemborosan energi a. Proses pembelajaran dengan menggunakan model

multiple intelligences dalam meningkatkan kreativitas berpendapat siswa pada pembelajaran

IPS di kelas IV SD ini sudah cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan mulai adanya usaha guru

dalam rangka mengembangkan kecerdasan yang dimiliki siswa dengan mengadakan aktivitas

permainan Pusat Teka-teki yang membangkitkan motivasi siswa untuk belajar. Akan tetapi,

guru belum mampu mengembangkan keterampilan menjelaskan dan mengelola kelas pada

saat pembelajaran.

b. Kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan

model multiple intelligences sudah mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini dibuktikan

dengan semakin berkurangnya siswa yang tidak mau mengeluarkan pendapat pada proses

pembelajaran dan nilai rata-rata kreativitas berpendapat siswa yang sudah mencapai 63,71.

c. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan model

multiple intelligences sudah cukup baik dan mengalami peningkatan, karena nilai rata-rata hasil

belajar siswa telah mencapai 63,17, tetapi hanya satu siswa saja yang dapat dinyatakan tuntas

belajar, sedangkan 29 siswa lainnya belum dapat dinyatakan tuntas belajar karena nilainya

dibawah standar mastery learning yang berkisar di angka 75.


2

Sabtu, 10-4-10 Masalah kependudukan a. Proses pembelajaran dengan menggunakan model

multiple intelligences dalam meningkatkan kreativitas berpendapat siswa pada pembelajaran

IPS di kelas IV SD ini sudah berjalan cukup baik. Hal ini dikarenakan guru sudah berusaha

mengadakan aktivitas yang disukai siswa yaitu mendemontrasikan puisi. Akan tetapi, guru

masih belum bisa mengembangkan kecerdasan interpersonal siswa karena masih ada siswa

yang menertawakan puisi yang bermakna sendu.

b. Kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan

model multiple intelligences sudah muncul cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan semakin

banyaknya siswa yang mulai muncul keberanian dan kreativitas dalam berpendapat pada

proses pembelajaran berlangsung, selain itu nilai rata-rata kreativitas berpendapat siswa juga

mengalami peningkatan menjadi 66,87.

c. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan model

multiple intelligences sudah cukup baik dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan,

karena nilai rata-rata hasil belajar siswa telah mencapai 66,83, tetapi hanya dua siswa saja

yang dapat dinyatakan tuntas belajar, sedangkan 28 siswa lainnya belum dapat dinyatakan

tuntas belajar karena nilainya dibawah standar mastery learning yang berkisar di angka 75.

Berdasarkan tabel 4.14 di atas, temuan esensial yang diperoleh pada siklus II merupakan salah

satu hal yang dapat dijadikan bukti keberhasilan penelitian ataupun kekurangan dalam

pembelajaran yang perlu diperbaiki lagi pada siklus berikutnya. Pada tindakan pertama siklus II

Proses pembelajaran dengan menggunakan model multiple intelligences sudah cukup baik,

sehingga kreativitas berpendapat siswa pun sudah muncul cukup baik, dimana semakin

berkurangnya siswa yang tidak mempunyai keberanian untuk mengeluarkan pendapat pada

saat proses pembelajaran. Selain itu, nilai rata-rata kreativitas berpendapat siswa pun sudah

mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya, akan tetapi nilai rata-rata 63,71 merupakan

nilai yang kurang maksimal.


Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa mencapai 63,17, hal ini menunjukkan bahwa pada

pembelajaran ini nilai rata-rata hasil belajar siswa masih dibawah standar mastery learning dan

hanya satu siswa saja yang dapat dinyatakan tuntas belajar, sedangkan 29 siswa lainnya belum

dapat dinyatakan tuntas belajar karena mendapat nilai dibawah standar mastery learning

tersebut. Oleh karena itu, guru harus lebih berusaha lagi dalam menerapkan model multiple

intelligences dan mengembangkan keterampilan menjelaskan serta keterampilan mengelola

kelas dengan tujuan untuk meningkatkan kreativitas berpendapat dan hasil belajar siswa

menjadi lebih baik lagi.

Temuan esensial yang diperoleh pada tindakan kedua siklus II juga telah mengalami

peningkatan yang cukup signifikan. hal ini ditunjukkan dengan peningkatan kreativitas

berpendapat siswa yang mencapai rata-rata 66,87. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa

mencapai 66,83, hal ini membuktikan bahwa nilai tersebut masih kurang maksimal karena

masih dibawah standar mastery learning, serta hanya dua siswa saja yang dapat dinyatakan

tuntas belajar, sedangkan 28 siswa lainnya belum dapat dinyatakan tuntas belajar karena

mendapat nilai dibawah standar masteri learning tersebut. Selain itu, guru sudah berusaha

mungkin untuk mengadakan aktivitas yang disukai siswa yaitu dengan mendemontrasikan puisi

dan memanfaatkan multi media. Akan tetapi, permasalahan yang muncul yaitu guru masih

belum bisa mengembangkan kecerdasan interpersonal siswa pada proses pembelajaran

berlangsung, hal ini ditandai dengan adanya siswa yang menertawakan puisi yang bermakna

sendu.

Rincian hasil kreativitas berpendapat pada setiap tindakan di atas, maka menunjukkan bahwa

rincian kreativitas berpendapat pada siklus II yaitu (1) fluancy sebesar 76,15. (2) flexibility

sebesar 66,35. (3) originality sebesar 61,56. (4) elaboration sebesar 57,75.

Pada siklus II ini, kreativitas berpendapat siswa sudah muncul cukup baik dengan nilai rata-rata

yang mencapai 65,29. Walaupun adanya peningkatan sebesar 8,1 dari siklus I, akan tetapi hal
ini masih belum menunjukkan hasil yang maksimal karena kreativitas berpendapat ini sangatlah

diperlukan untuk memecahkan masalah mengenai materi yang sedang dibahas.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka guru harus terus membangkitkan motivasi dan

semangat belajar siswa dengan cara melakukan aktivitas belajar yang disukai mereka serta

dapat mengembangkan berbagai kecerdasan yang dimiliki siswa untuk memecahkan

permasalahan yang sering muncul di kehidupan nyata.

Dalam memecahkan masalah tersebut, siswa harus mampu mempunyai kreativitas

berpendapat secara individu, oleh karena itu guru harus mampu mengembangkan kecerdasan-

kecerdasan yang dimiliki siswa dalam menghadapi permasalahan. Hal ini menunjukkan bahwa

guru harus dapat menjadi fasilitator siswa dalam mengembangkan kecerdasan-kecerdasan

yang dimilikinya untuk memecahkan permasalahan yang muncul dikehidupan sehari-hari.

3. Siklus III

Pada siklus III ini terdiri dari dua tindakan pula, yaitu tindakan 1 membahas mengenai masalah

lingkungan dan tindakan 2 membahas masalah kemiskinan yang ada di masyarakat.

Pembelajaran pada siklus III ini masih menggunakan model multiple intelligences dengan

menerapkan empat tahap yang dikemukakan oleh Richards dan Rodgers dalam proses

pembelajaran. Akan tetapi pada siklus ini, guru mencoba mengecek kecerdasan yang menonjol

siswa dan mengembangkan kecerdasan intrapersonal siswa dalam memecahkan masalah. Hal

ini bertujuan supaya siswa mampu memecahkan masalah dengan menggunakan kecerdasan

yang menonjol dan kecerdasan intrapersonal yang mereka miliki.

Pada siklus III ini, guru mengetahui bahwa kecerdasan yang menonjol rata-rata siswa yaitu

kecerdasan spasial (spatial intelligence). Oleh karena itu, pada siklus ini guru mencoba

memperbanyak aktivitas pembelajaran yang berhubungan dengan gambar sebagai media

pembelajaran, serta mengadakan refleksi diri supaya kecerdasan intrapersonal (intrapersonal

intelligence) siswa dapat berkembang dengan baik. Akan tetapi, pembelajaran pada siklus III
masih terdapat kekurangan dan kendala yang dihadapi guru pada saat proses pembelajaran

berlangsung.

Kekurangan dan kendala-kendala yang muncul pada pembelajaran yang telah dilaksanakan

dapat terlihat dari temuan esensial siklus III pada tabel 4.21. berikut ini.

Tabel 4.21. : Temuan Esensial Siklus III

Tindakan/ Hari/Tanggal Materi Pembelajaran Temuan Esensial

Senin, 12-4-10 Masalah lingkungan a. Penggunaan model multiple intelligences dalam

meningkatkan kreativitas berpendapat siswa pada pembelajaran IPS di kelas IV SD ini sudah

berjalan dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya usaha guru dalam rangka

mengembangkan berbagai kecerdasan yang dimiliki siswa. Akan tetapi, guru belum mampu

mengelola kelas dan mengatur waktu pada saat pembelajaran.

b. Kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan

model multiple intelligences sudah mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dibuktikan

dengan sudah banyaknya siswa yang berani mengeluarkan pendapat pada proses

pembelajaran dan mendapat nilai kreativitas berpendapat yang baik. Selain itu, nilai rata-rata

kreativitas berpendapat siswa juga mencapai nilai yang baik yaitu 75.

c. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan model

multiple intelligences sudah baik dan mengalami peningkatan yang signifikan, karena nilai rata-

rata hasil belajar siswa telah mencapai 75,17, selain itu telah terdapat 12 siswa yang dapat

dinyatakan tuntas belajar, sedangkan 18 siswa lainnya belum dapat dinyatakan tuntas belajar

karena nilainya dibawah standar mastery learning yang berkisar di angka 75.

2
Kamis, 15-4-10 Masalah kemiskinan a. Penggunaan model multiple intelligences dalam

meningkatkan kreativitas berpendapat siswa pada pembelajaran IPS di kelas IV SD ini sudah

berjalan dengan sangat baik. Hal ini ditunjukkan oleh guru dengan memberikan kesempatan

kepada siswa untuk mengembangkan kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan yang menonjol

pada diri siswa.

b. Kreativitas berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan

model multiple intelligences sudah muncul sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan munculnya

keberanian yang merata antara siswa dalam mengeluarkan pendapat yang kreatif pada proses

pembelajaran berlangsung, selain itu nilai rata-rata kreativitas berpendapat siswa juga

mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu sebesar 9,25 dan memperoleh nilai rata-

rata yang sangat baik yaitu 84,25.

c. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD dengan menggunakan model

multiple intelligences sudah baik dan mengalami peningkatan yang sangat signifikan, karena

nilai rata-rata hasil belajar siswa telah mencapai 84, selain itu telah terdapat 100% siswa yang

dapat dinyatakan tuntas belajar karena nilainya diatas standar mastery learning yang berkisar di

angka 75.

Berdasarkan temuan esensial yang diperoleh pada siklus III yaitu pada tindakan pertama

terdapat peningkatan yang signifikan, baik dalam aspek penggunaan model multiple

intelligences, maupun dari aspek kreativitas berpendapat siswa mengenai materi yang sedang

dibahas. Peningkatan dari aspek penggunaan model multiple intelligences dapat dilihat dari

temuan yang menunjukkan guru sudah mampu menfasilitasi siswa dalam mengembangkan

berbagai kecerdasan yang dimiliki siswa, dan memberikan tugas yang sesuai dengan

kegemaran mereka. Kemudian peningkatan dari aspek kreativitas berpendapat siswa mengenai

materi pembelajaran pun dapat dilihat dari nilai rata-rata kreativitas berpendapat yang baik yaitu

sebesar 75, serta telah mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya. Selain itu, telah

mengalami peningkatan yang signifikan dari aspek hasil belajar, dimana terdapat 12 siswa yang
telah dapat dinyatakan tuntas belajar karena telah mencapai nilai diatas standar mastery

learning dan nilai rata-rata pun sudah mencapai 75,17.

Temuan esensial yang diperoleh pada tindakan kedua siklus III ini telah mengalami peningkatan

yang sangat signifikan. hal ini ditunjukkan dengan peningkatan kreativitas berpendapat siswa

yang mencapai 9,25, sehingga nilai rata-rata kreativitas berpendapat siswa menjadi 84,25.

Serta nilai rata-rata hasil belajar pun sudah sangat baik dengan nilai 84, hal ini menunjukkan

bahwa nilai rata-ratanya diatas standar mastery learning dan senua (100%) siswa telah dapat

dinyatakan tuntas belajar karena mendapat nilai diatas standar mastery learning tersebut.

Selain itu, guru telah dapat menfasilitasi siswa dalam mengembangkan berbagai kecerdasan

yang dimilikinya, terutama kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan yang menonjol dalam

dirinya.

Rincian hasil kreativitas berpendapat pada setiap tindakan di atas, maka menunjukkan bahwa

rincian kreativitas berpendapat pada siklus III yaitu (1) fluancy sebesar 88,85. (2) flexibility

sebesar 82,5. (3) originality sebesar 78,6. (4) elaboration sebesar 69,45.

Berdasarkan hasil evaluasi kreativitas berpendapat siswa pada siklus III ini, maka menunjukkan

bahwa kreativitas berpendapat siswa akan muncul dengan baik manakala siswa dapat

mengembangkan kecerdasan yang menonjol dan kecerdasan intrapersonal dalam rangka

memecahkan masalah. Oleh karena itu, sebaiknya guru harus mengetahui dan memahami

kecerdasan yang menonjol dari setiap siswa, sehingga guru dapat melaksanakan aktivitas

pembelajaran sesuai dengan kecerdasan yang menonjol siswa, supaya kreativitas berpendapat

siswa dalam memecahkan masalah dapat muncul dengan baik.

Dalam rangka mengecek keabsahan hasil penelitian ini, maka dilakukan proses pengujian

validitas. Adapun pengujian validitas tersebut dilakukan dengan empat tahap. Pertama,

mengadakan saturation yaitu dengan mengecek data secara berulang-ulang sehingga

mencapai tingkat kebenaran atau kepercayaan yang tinggi. Kedua, mengadakan triangulasi

yaitu dengan mengecek kebenaran data kepada guru sejawat dan kepala sekolah sebagai
orang ketiga dari penelitian ini. Ketiga, mengadakan audit trail yaitu dengan mengecek

kesahihan prosedur dan hasil penelitian kepada teman mahasiswa seperjuangan. Dan

keempat, mengadakan expert opinion yaitu dengan mengadakan pemeriksaan terakhir

terhadap kesahihan temuan-temuan penelitian kepada para pembimbing penelitian sebagai

para pakar profesional dalam mengadakan penelitian.

E. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, serta sintesis dan konfirmasi mengenai

penggunaan model multiple intelligences terhadap kreativitas berpendapat siswa dalam

pembelajaran IPS di kelas IV sekolah dasar sungguh mengalami proses perubahan yang

signifikan. Hal tersebut tergambarkan dalam suasana belajar yang dirasakan pada saat

penelitian, dimana terdapat perbedaan yang begitu kontras antara pembelajaran konvensional

dengan pembelajaran multiple intelligences ini. Ternyata pemberian kesempatan kepada siswa

untuk mengembangkan berbagai kecerdasannya dapat memunculkan dan meningkatkan

kreativitas berpendapat siswa dalam menyelesaikan masalah dibandingkan dengan

pembelajaran konvensional yang membuat siswa pasif dan tidak dapat mengembangkan

potensi dan kemampuan yang ada di dalam dirinya.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan penelitian selesai dilaksanakan, maka kreativitas

berpendapat siswa dalam pembelajaran IPS di kelas terlihat mengalami peningkatan secara

signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kreativitas berpendapat siswa yang mengalami

peningkatan pada setiap tindakannya. Pada pelaksanaan siklus I, hasil evaluasi kreativitas

berpendapat siswa memperoleh rata-rata nilai evaluasi kreativitas berpendapat yang kurang

baik yaitu 57,19. Pada pelaksanaan siklus II, mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari

pelaksanaan siklus I yaitu sebesar 8,01%, karena nilai rata-rata evaluasi kreativitas

berpendapat pada siklus II yaitu sebesar 65,2. Pada siklus III terjadi peningkatan yang
signifikan dari siklus II yaitu sebesar 14,42%, dimana nilai rata-rata kreativitas berpendapat

siswa pada siklus III yaitu sebesar 79,62.

Peningkatan kreativitas berpendapat juga dapat dilihat dari hasil rata-rata nilai siswa secara

rincinya yaitu: (1) fluency pada siklus I sebesar 70,44, siklus II sebesar 76,15, dan siklus III

sebesar 88,7. (2) flexibility pada siklus I sebesar 57,5, siklus II sebesar 66,35, dan siklus III

sebesar 82,4. (3) originality pada siklus I sebesar 54,5, siklus II sebesar 61,56, dan siklus III

sebesar 78,55. (4) elaboration pada siklus I sebesar 46,57, siklus II sebesar 57,75, dan siklus III

sebesar 69,4. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan yang signifikan mengenai

aspek kreativitas berpendapat siswa dari siklus I sampai siklus III.

Selain peningkatan kreativitas berpendapat yang telah muncul dari siklus I sampai siklus III,

maka hasil belajar siswa pun telah mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dimana nilai

rata-rata hasil belajar siswa pada setiap siklus (dinyatakan dalam persen) adalah sebagai

berikut: siklus I sebesar 56,83%, siklus II sebesar 65%, dan siklus III sebesar 79,58%.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka model multiple intelligences dapat digunakan sebagai

salah satu alternatif dalam meningkatkan kreativitas berpendapat dan hasil belajar siswa pada

pembelajaran IPS di sekolah dasar.