Anda di halaman 1dari 7

Nama Salsabila Shinta

NIM 165100600111015
Kelas H
Kelompok H3

C. Hasil Percobaan Dan Pengamatan :


1. Uji Ninhidrin
a. Tuliskan data hasil uji Ninhidrin
No. Sampel Sebelum Pemanasan Sesudah Pemanasan Hasil uji
1 Susu Skim Putih susu sedikit bening Putih

2 MSG Ungu Ungu tua

+++

3 Aspartam Bening dan terdapat Ungu


endapan putih ++

4 Gelatin Putih keruh Ungu +

b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Ninhidrin dari beberapa sampel dalam
percobaan ini
Pada susu skim, sebelum pemanasan menunjukan warna putih susu sedikit bening
sedangkan setelah pemanasan menunjukan warna putih. Dapat disimpulkan bahwa susu
skim termasuk uji negatif. Pada MSG, warna sebelum pemanasan yaitu ungu dan setelah
pemanasan warnanya menjadi ungu yang lebih tua. Dapat diketahui bahwa MSG
menunjukan uji positif. Pada aspartam, warna sebelum pemanasan yaitu warna bening dan
terdapat endapan putih dan setelah pemanasan warna berubah menjadi ungu. Dapat
diketahui bahwa aspartam menunjukan uji positif. Pada sampel gelatin, warna sebelum
pemanasan yaitu putih keruh dan warna sesudah pemanasan yaitu ungu. Dapat diketahui
bahwa gelatin menunjukan uji positif. Berdasarkan urutan kepekatannya, MSG merupakan
sampel yang warna ungunya paling pekat, kemudian aspartam yang pekat, kemudian gelatin
yang agak pekat, dan susu skim yang tidak ada perubahan warna. Dapat disimpulkan bahwa
ada tiga sampel yang hasil ujinya positif yaitu MSG, aspartam, dan gelatin. Sedangkan
sampel yang hasil ujinya negatif yaitu susu skim.

2. Uji Biuret

a. Tuliskan data hasil uji Biuret


No. Sampel Sebelum ditambah reagen Sesudah ditambah Hasil uji
reagen
1 Susu skim Putih susu Kuning dan ada cincin
ungu +++

2 MSG Putih keruh Bening dan ada cincin


ungu +
Nama Salsabila Shinta
NIM 165100600111015
Kelas H
Kelompok H3

3 Gelatin Kuning bening Bening dan ada cincin


ungu
++

4 Aspartam Bening Bening dan ada cincin


biru -

b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Biuret dari beberapa sampel dalam percobaan
ini!
Berdasarkan data hasil praktikum, dapat diketahui bahwa warna pada sampel susu skim
sebelum ditambah reagen yaitu putih susu dan sesudah ditambahkan reagen yaitu berwarna
kuning dan terdapat cincin ungu. Dapat dibuat kesimpulan bahwa hasil uji dari susu skim
yaitu positif. Warna pada sampel MSG sebelum ditambahkan reagen yaitu putih keruh dan
setelah ditambah reagen, warnanya berubah menjadi bening dan terdapat cincin ungu.
Dapat dibuat kesimpulan bahwa hasil uji dari MSG yaitu positif. Warna pada sampel gelatin
sebelum ditambahkan reagen yaitu kuning bening dan setelah ditambahkan reagen,
warnanya berubah mendjadi bening dan terbentuk cincin ungu. Dapat dibuat kesimpulan
bahwa hasil uji dari gelatin yaitu positif. Warna pada sampel aspartam sebelum ditambahkan
reagen yaitu bening dan setelah ditambahkan reagen, warnanya berubah menjadi bening
dan terbentuk cincin biru. Dapat dibuat kesimpulan bahwa hasil uji dari susu skim yaitu
negatif. Berdasarkan kepekatan warna cincinnya, susu skim memiliki warna yang paling
pekat yang menandakan bahwa susu skim memiliki ikatan peptida yang banyak diikuti oleh
gelatin, MSG, dan aspartam. Dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga hasil uji positif yaitu
susu skim, MSG, dan gelatin. Serta terdapat satu hasil uji negative yaitu aspartam.
Nama Salsabila Shinta
NIM 165100600111015
Kelas H
Kelompok H3

PEMBAHASAN
a. Uji Ninhidrin
1) Analisa Prosedur
Hal pertama yang dilakukan pada uji ninhidrin yaitu menyiapkan alat dan
bahan yang diperlukan dalam praktikum. Alat yang digunakan yaitu tabung reaksi,
pipet ukur, gelas ukur, bulb, gelas ukur, dan pemanas air. Bahan yang diperlukan
yaitu sampel susu skim, sampel MSG, sampel aspartam, sampel gelatin, dan reagen
ninhidrin. Setelah alat dan bahan disiapkan, ukur sampel susu skim dan aspartam
sebanyak 2 ml menggunakan gelas ukur. Kemudian tuang sampel kedalam tabung
reaksi. Tuang juga sampel gelatin dan MSG sebanyak 2 ml menggunakan pipet ukur
yang telah dipasangkan bulb ke tabung reaksi. Setelah itu, masukkan reagen
ninhidrin kedalam semua tabung reaksi masing-masing sebanyak 2 ml. Lalu
panaskan tabung reaksi dengan cara memasukan tabung kedalam air mendidih
masing masing selama 25 detik. Kemudian amati perubahan yang terjadi pada
sampel kemudian catat hasil penelitian pada DHP yang telah disediakan.

2) Analisa Hasil
Tujuan dari uji ninhidrin adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya asam
amino pada sampel dengan prinsipnya yaitu menguji ada atau tidaknya protein dalam
suatu sampel dengan penambahan reagen ninhidrin untuk mengetahui asam amino
bebas, dimana asam amino bebas akan bereaksi dengan reagen ninhidrin
membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Mekanisme kerjanya yaitu reaksi
yang menginisiasi terjadinya warna biru pekat hingga ungu adalah proses reduksi
reagen oleh asam amino. Kemudian asam amino akan terpecah karena reduksi
asam amino dan terbentuk ninhidrin tereduksi, aldehid, NH3, dan terlepasnya gas
CO2. Kemudian terjadi reaksi antara ninhidrin tereduksi dengan amonia dan ninhidrin
lain sehingga akan terjadi proses kondensasi yang melepaskan 3 molekul H 2O dan
garam diketohirilhalida yang membawa warna ungu (Suryana, 2012).

Pada sampel susu skim, diketahui bahwa menunjukan uji negatif karena tidak
terjadinya perubahan warna setelah dilakukan uji. Warna sampel susu skim sebelum
pemanasan yaitu putih susu sedikit bening dan warna setelah pemanasan yaitu tetap
berwarna putih. Hal ini sudah sesuai dengan literatur bahwa susu skim tidak
mengandung asam amino bebas sehingga susu skim dan reagen ninhidrin tidak akan
terbentuk reaksi dan tidak berubah warna (Ayustaningwarno, 2012).
Pada sampel MSG, warna awal sebelum pemanasan yaitu warna ungu
sedangkan warna yang muncul setelah dilakukan pemanasan yaitu ungu tua. Dapat
disimpulkan bahwa pada sampel MSG terbentuk uji positif yang menandakan bahwa
terdapat asam amino bebas pada sampel MSG. Dari semua sampel positif, MSG
memiliki warna yang paling pekat yang menandakan bahwa jumlah asam amino
bebas pada MSG paling banyak dibanding sampel lainnya. Hal ini sudah sesuai
dengan literatur bahwa MSG akan menunjukan hasil tes positif karena MSG memiliki
gugus asam amino bebas yaitu glutamat yang dapat bereaksi dengan ninhidrin
membentuk warna ungu (Ayustaningwarno, 2012).
Pada sampel aspartam warna awal sebelum dipanaskan yaitu bening dan
terdapat endapan berwarna putih, setelah panaskan, warna berubah menjadi warna
ungu. Hal ini menunjukan bahwa aspartam menunjukan hasil uji positif dan memiliki
asam amino bebas. Dari semua sampel positif, aspartam memiliki warna yang agak
Nama Salsabila Shinta
NIM 165100600111015
Kelas H
Kelompok H3

pekat yang menandakan bahwa jumlah asam amino bebas pada aspartam lebih
sedikit jika dibandingkan dengan asam amino pada MSG. Hal ini sudah sesuai
dengan literatur bahwa spartam dapat menunjukan hasil tes positif karena aspartame
memiliki fenilalanin yang merupakan asam amino yang memiliki gugus asam amino
bebas sehingga terbentuk warna ungu (Brown, 2015).
Pada sampel gelatin, warna awal sebelum pemanasan yaitu putih keruh dan
setelah dilakukannya uji pemanasan warna berubah menjadi ungu. Hal ini
menunjukan bahwa gelatin menunjukan hasil uji positif dan memiliki asam amino
bebas. Dari semua sampel positif, gelatin memiliki warna yang pekat yang
menandakan bahwa jumlah asam amino bebas pada gelatin lebih sedikit jika
dibandingkan dengan asam amino pada MSG dan aspartam. Hal ini tidak sesuai
dengan literatur. Menurut literatur, gelatin tidak memiliki asam amino bebas karena
memiliki struktur yang kompleks sehingga seharusnya tidak terjadi perubahan warna
pada sampel gelatin. Kesalahan pada praktikum dapat terjadi karena adanya faktor
kondisi sampel yang kurang baik, kondisi reagen yang kurang baik, dan
tercampurnya sampel sehingga terdapat asam amino pada sampel (Brown, 2015).

b. Uji Biuret
a. Analisa Prosedur
Hal pertama yang dilakukan pada uji biuret yaitu menyiapkan alat dan bahan
yang diperlukan dalam praktikum. Alat yang digunakan yaitu tabung reaksi, pipet
tetes, pipet ukur, gelas ukur, bulb, gelas ukur, dan pengaduk kaca. Bahan yang
diperlukan yaitu sampel susu skim, sampel MSG, sampel aspartam, sampel gelatin,
larutan NaOH 10%, dan larutan CuSO 4. Setelah alat dan bahan disiapkan, ukur
sampel susu skim dan aspartam sebanyak 3 ml menggunakan gelas ukur. Kemudian
tuang sampel kedalam tabung reaksi. Tuang juga sampel gelatin dan MSG sebanyak
3 ml menggunakan pipet ukur ke tabung reaksi. Setelah itu, masukkan larutan NaOH
10% sebanyak 1 ml ke tabung reaksi yang berisi sampel. Fungsi menambahkan
NaOH adalah agar sampel bersuasana basa sehingga reagen lainnya dapat bekerja.
Kemudian aduk tabung reaksi berisi sampel dan larutan NaOH menggunakan
pengaduk kaca. Lalu masukkan 3 tetes larutan CuSO 4 ke tabung reaksi. Kemudian
amati perubahan yang terjadi pada sampel kemudian catat hasil penelitian pada DHP
yang telah disediakan.

b. Analisa Hasil
Tujuan dari uji biuret yaitu mengidentifikasi adanya ikatan peptida. Prinsip dari
uji biuret yaitu menentukan ada atau tidaknya ikatan peptida dengan penambahan
NaOH dan CuSO4 dalam suasana basa. Kemudian ion Cu2+ akan bereaksi dengan
ikatan peptide membentuk kompleks warna ungu. Penambahan NaOH dilakukan
karena CuSO4 hanya dapat bereaksi dalam kondisi basa. Pada uji biuret, hasil
dikatakan positif apabilasampel memiliki minimal dua buah ikatan peptida. Hasil
negatif terjadi apabila sampel hanya memiliki satu ikatan peptida. Ikatan peptida yaitu
ikatan yang mengikat asam amino yang terdiri dari gugus karboksil dan gugus amina.
Pada sampel susu skim, warna dari sampel sebelum ditambahkan reagen
biuret yaitu berwarna putih susu. Setelah ditambahkan reagen biuret, warna dari
sampel berubah menjadi kuning dan terdapat cincin ungu dipermukaan sampel.
Warna cincin ungu dari susu skim merupakan warna yang paling pekat jika
Nama Salsabila Shinta
NIM 165100600111015
Kelas H
Kelompok H3

dibandingkan dengan sampel positif lainnya. Hal ini menunjukan bahwa susu skim
memiliki banyak ikatan peptida. Hal ini sudah sesuai dengan literatur yang ada.
Menurut literatur, susu skim menunjukan hasil uji biuret positif karena susu skim
memiliki struktur protein yang kompleks dan terdiri dari ikatan peptida yang akan
bereaksi dengan reagen biuret (Cotton, 2007).
Pada sampel MSG, warna dari sampel sebelum ditambahkan reagen biuret
yaitu berwarna putih keruh. Setelah ditambahkan reagen biuret, warna dari sampel
berubah menjadi bening dan terdapat cincin ungu dipermukaan sampel. Warna cincin
ungu dari MSG merupakan warna yang paling muda/terang jika dibandingkan dengan
sampel positif lainnya. Hal ini menunjukan bahwa MSG memiliki sedikit ikatan
peptida. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang ada. Menurut literature, MSG
menandakan hasil uji negatif. MSG tidak memiliki ikatan peptida sehingga tidak akan
terjadi perubahan warna pada sampel. Hal ini dapat terjadi karena kondisi sampel
yang sudah tercampur dengan sampel lain dan tabung reaksi atau pipet yang tidak
bersih (Cotton, 2007).
Pada sampel gelatin, warna dari sampel sebelum ditambahkan reagen biuret
yaitu berwarna kuning bening. Setelah ditambahkan reagen biuret, warna dari sampel
berubah menjadi bening dan terdapat cincin ungu dipermukaan sampel. Warna cincin
ungu dari gelatin merupakan warna yang kurang pekat jika dibandingkan dengan
susu skim dan lebih pekat jika dibandingkan dnegan MSG. Hal ini menunjukan
bahwa gelatin memiliki ikatan peptida yang lebih banyak dibandingkan MSG namun
lebih sedikit dibandingkan susu skim. Hal ini sudah sesuai dengan literature bahwa
gelatin memiliki struktur protein yang kompleks yang terdiri dari ikatan peptida
sehingga akan bereaksi dengan biuret membentuk kompleks warna ungu (Cotton,
2007).
Pada sampel aspartam, warna dari sampel sebelum ditambahkan reagen
biuret yaitu berwarna bening. Setelah ditambahkan reagen biuret, warna dari sampel
berubah menjadi bening dan terdapat cincin biru dipermukaan sampel. Hal ini
menunjukan bahwa aspartam memiliki hasil uji negative dan aspartame tidak memiliki
ikatan peptida. Hal ini sudah sesuai dengan literature bahwa aspartame tidak
memiliki ikatan peptida sehingga tidak akan bereaksi dengan reagen biuret (Cotton,
2007).

PERTANYAAN
Nama Salsabila Shinta
NIM 165100600111015
Kelas H
Kelompok H3

1. Bagaimana mengidentifikasi adanya gugus amino pada sampel dengan menggunakan uji
Ninhidrin?
Cara mengidentifikasi adanya gugus amino pada sampel dengan uji Ninhidrin, yaitu
dengan mereaksikan sampel dengan reagen Ninhidrin lalu dipanaskan pada air mendidih
selama 25 detik. Asam amino bebas yang terdapat pada sampel akan berikatan dengan
reagen ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Jika sampel yang
sudah dicampur dengan ninhidrin dan dipanaskan kemudian tidak terjadi perubahan
warna, maka sampel tersebut dinyatakan uji negatif dan tidak mengandung asam amino
bebas. Jika terdapat perubahan warna pada sampel setelah dicampur dengan ninhidrin
dan dipanaskan, maka sampel tersebut dinyatakan uji sampel positif dan memiliki asam
amino bebas (Nigam, 2008).

2. Bagaimana reaksi yang terjadi antara sampel dengan reagen pada uji Biuret?
Sampel pada uji biuret harus dalam suasana basa agar ikatan peptida pada sampel
dapat bereaksi dengan Cu2+. Karena itu, ada dilakukan penambahan NaOH untuk
membuat suasana basa. Kemudian ion Cu2+ yang berasal dari CuSO4 akan berikatan
dengan ikatan peptida sehingga membentuk warna ungu. Warna ungu yang dihasilkan
berasal dari ikatan koordinasi antara ion Cu2+ dengan pasangan elektron bebas dari N
yang berasal dari protein dan pasangan elektron bebas dari O yang berasal dari air. Uji
dikatakan positif apabila pada sampel terbentuk cincin ungu dan syarat dari uji positif
yaitu memiliki minimal dua ikatan peptida (Hart, 2008).

KESIMPULAN
Nama Salsabila Shinta
NIM 165100600111015
Kelas H
Kelompok H3

Tujuan dari praktikum uji kualitatif protein yaitu untuk mengetahui prinsip dasar uji kualitatif
protein dan mengetahui perbedaan prinsip dari masing masing metode. Prinsip dari uji
ninhidrin yaitu menguji ada atau tidaknya protein dalam suatu sampel dengan penambahan
reagen ninhidrin untuk mengetahui asam amino bebas, dimana asam amino bebas akan
bereaksi dengan reagen ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Prinsip
dari uji biuret adalah untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya ikatan peptida dengan
penambahan NaOH dan CuSO4 dalam keadaan basa. Cu2+ akan bereaksi dengan ikatan
peptida sehingga membentuk kompleks warna ungu. Pada uji ninhidrin, Pada sampel susu
skim, sebelum pemanasan menunjukan warna putih susu sedikit bening sedangkan setelah
pemanasan menunjukan warna putih. Pada MSG, warna sebelum pemanasan yaitu ungu
dan setelah pemanasan warnanya menjadi ungu yang lebih tua. Pada aspartam, warna
sebelum pemanasan yaitu warna bening dan terdapat endapan putih dan setelah
pemanasan warna berubah menjadi ungu. Pada sampel gelatin, warna sebelum pemanasan
yaitu putih keruh dan warna sesudah pemanasan yaitu ungu. Dapat diketahui bahwa
terdapat satu uji negatif yaitu susu skim dan tiga uji positif yaitu MSG, aspartam, dan gelatin.
Pada uji biuret dapat diketahui bahwa warna pada sampel susu skim sebelum ditambah
reagen yaitu putih susu dan sesudah ditambahkan reagen yaitu berwarna kuning dan
terdapat cincin ungu. Warna pada sampel MSG sebelum ditambahkan reagen yaitu putih
keruh dan setelah ditambah reagen, warnanya berubah menjadi bening dan terdapat cincin
ungu. Warna pada sampel gelatin sebelum ditambahkan reagen yaitu kuning bening dan
setelah ditambahkan reagen, warnanya berubah mendjadi bening dan terbentuk cincin ungu.
Warna pada sampel aspartam sebelum ditambahkan reagen yaitu bening dan setelah
ditambahkan reagen, warnanya berubah menjadi bening dan terbentuk cincin biru. Dapat
disimpulkan bahwa terdapat tiga hasil uji positif yaitu susu skim, MSG, dan gelatin. Serta
terdapat satu hasil uji negative yaitu aspartam.