Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan adalah suatu usaha yang bersifat sadar, sistematis, dan terarah
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Sehingga peserta
didik memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya untuk
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (UU No. 20 Sisdiknas 2003). Perubahan
sikap, keterampilan dan kemampuan berpikir siswa merupakan sebuah harapan
yang diidam-idamkan oleh berbagai pihak yang terkait dalam dunia pendidikan.
Berbagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa, mulai dari penyempurnaan
kurikulum, Istilah berpikir matematis memuat arti cara berpikir yang berkaitan dengan
karakteristik matematika. Oleh karena itu, pembahasan tentang berpikir matematis
berkaitan erat dengan hakikat matematika itu sendiri. Sumarmo (2005) mengemukakan
bahwa pendidikan matematika pada hakikatnya mempunyai dua arah
pengembangan yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa akan
datang. Kebutuhan masa kini adalah mengarahkan pembelajaran matematika untuk
pemahaman konsep dan ide matematika yang kemudian diperlukan untuk
menyelesaikan masalah matematika dan ilmu pengetahuan lainnya. Sedangkan
kebutuhan masa akan datang adalah pembelajaran matematika memberikan
kemampuan menalar yang logis, sistematik, kritis dan cermat, menumbuhkan rasa
percaya diri, dan rasa keindahan terhadap keteraturan sifat matematika, serta
mengembangkan sikap objektif dan terbuka. Kemampuan tersebut sangat diperlukan
dalam menghadapi masa depan yang senantiasa berubah.

Berdasarkan dua arah pengembangan tersebut maka matematika memegang


peran penting untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan masa akan datang. Sehingga
tidaklah mengherankan jika pada akhir-akhir ini banyak pakar matematika, baik
pendidik maupun peneliti yang tertarik untuk mendiskusikan dan meneliti kemampuan
berpikir matematis. Kemampuan matematis adalah kemampuan untuk menghadapi
permasalahan baik dalam matematika maupun kehidupan nyata. Kemampuan
matematis didefinisikan oleh NCTM (1999) sebagai, "Mathematical power includes the
ability to explore, conjecture, and reason logically; to solve non-routine problems; to
communicate about and melalui mathematics; and to connect ideas within mathematics
and between mathematics and other intellectual activity. Selanjutnya berdasarkan
tujuan pembelajaran matematika di Indonesia tersirat bahwa kemampuan matematis

1
meliputi: 1. Kemampuan pemecahan masalah (problem solving), 2. Kemampuan
berargumentasi (reasonning), 3. Kemampuan berkomunikasi (communication), 4.
Kemampuan membuat koneksi (connection), 5. Kemampuan representasi
(representation).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana komunikasi, penalaran, representasi, dan koneksi matematis?
2. Bagaimana peran komunikasi, penalaran, representasi, dan koneksi matematis?

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk menjelaskan dan mendeskripsikan komunikasi, penalaran, representasi, dan
koneksi matematis.
2. Untuk menjelaskan dan mendeskripsikan peran komunikasi, penalaran, representasi,
dan koneksi matematis.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. KOMUNIKASI MATEMATIS
1. Pengertian Komunikasi Matematis

Komunikasi (secara konseptual) yaitu memberitahukan dan menyebarkan berita,


pengetahuan, pikiran-pikiran dan nilai-nilai dengan maksud untuk menggugah
partisipasi agar hal-hal yang diberitahukan menjadi milik bersama. Secara umum
komunikasi mengandung pengertian memberikan informasi, pesan, gagasan, ide,
pikiran, perasaan kepada orang lain dengan maksud agar orang lain berpartisipasi,
yang pada akhirnya informasi, pesan, gagasan, ide, pikiran, perasaan tersebut
menjadi milik bersama antara komunikator (sumber) dan komunikan (penerima).

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan oleh sumber melalui saluran-

saluran tertentu kepada penerima atau receiver. Dalam setiap peristiwa


komunikasi terkandung sejumlah unsur diantaranya pesan yang disampaikan, pihak-
pihak yang terlibat dalam peristiwa komunikasi tersebut, serta cara penyampaian pesan
serta teknologi yang dijadikan sarana. Pesan dapat berbentuk lisan maupun tulisan,
bersifat verbal maupun non verbal, dalam arti bahwa simbol-simbol yang disepakati
tidak diucapkan tetapi disampaikan melalui cara/alat selain kata-kata dan mempunyai
makna yang dipahami oleh keduanya. Untuk mencapai interaksi dalam pembelajaran
perlu adanya komunikasi yang jelas antara guru dengan siswa. Sering
dijumpai kegagalan pembelajaran disebabkan lemahnya komunikasi antara guru dan
siswa. Jika para siswa hanya pasif dalam pembelajaran akan mengakibatkan guru
tidak dapat menetahui tingkat kesukaran yang dihadapi masing-masing peserta didik.
Untuk itulah guru perlu mengembangkan pola komunikasi yang efektif dalam proses
pembelajaran.

Komunikasi dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu peristiwa saling


dialog yang terjadi dalam suatu lingkungan kelas dimana terjadi pengalihan pesan dan

makna budaya. Pihak yang terlibat dalam komunikasi di kelas adalah guru dan siswa.
Komunikasi matematis adalah proses menyatakan dan menafsirkan gagasaan
matematika secara lisan, evaluasi, atau mendemonstrasikannya. Komunikasi secara
umum dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu pesan dari
pembawa pesan ke penerima pesan untuk memberitahu, pendapat, atau perilaku baik
langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media. Di dalam berkomunikasi

3
tersebut harus dipikirkan bagaimana caranya agar pesan yang disampaikan seseorang
itu dapat dipahami oleh orang lain. Untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi,
orang dapat menyampaikan dengan berbagai bahasa termasuk bahasa matematis.

Komunikasi matematis, Menurut schoen, dkk (ansari, 2003) adalah kemampuan


siswa dalam hal menjelaskan suatu algoritma dan cara unik untuk masalah pemecahan,
kemampuan siswa mengonstruksi dan menjelaskan sajian fenomena dunia nyata
secara grafik, kata-kata / kalimat, persamaan, tabel, dan sajian beroperasi fisik.
Pandangan lain datang dari greenes dan schulman (ansari, 2003) yang menyatakan
bahwa, komunikasi matematis adalah: kemampuan (1) ide menyatakan matematika
melalui ucapan, tulisan, demonstrasi, dan melukiskannya beroperasi visual yang dalam
tipe yang berbeda; (2) memahami, menafsirkan, dan menilai ide yang disajikan dalam
tulisan, lisan, atau dalam bentuk visual, dan (3) mengonstruk, menafsirkan, dan
menghubungkan bermacam-macam representasi ide dan hubungannya. Selanjutnya
sullivan & mousley (ansari, 2003) mempertegas bahwa komunikasi matematis bukan
hanya sekedar menyatakan ide melalui tulisan tetapi lebih luas lagi yaitu kemampuan
siswa dalam hal bercakap, menjelaskan, menggambarkan, mendengar, menanyakan,
klarifikasi, bekerja sama (sharing), menulis, dan akhirnya melaporkan apa yang telah
dipelajari.

2. Indikator Kemampuan Komunikasi Matematis

Menurut A. Olivares dalam buku Communication in Mathematics, K-12 and


Beyond (1996, diterbitkan oleh NCTM). Dalam subjudul Communication in Mathematics
for Students with Limited English Proficiency, atau semacam kelas bilingual, Rafael
menggambarkan bagan kemampuan komunikasi matematika. Dia menjelaskan bahwa
menurut Carolyn Kessler dalam Linking Mathematics and Second Language
Teaching, ada empat kemampuan yang dibutuhkan dalam komunikasi matematika,
yaitu
1. Grammatical competence (kemampuan tata bahasa)
Mengkomunikasikan ide-ide atau gagasan-gagasan matematika agar dapat
dipahami oleh orang lain bukan pekerjaan yang mudah. Menulis (writing in
mathematics) merupakan salah satu cara menyampaikan gagasan atau ide-ide
matematika yang berupa pemecahan masalah (problem solving), pembentukkan soal
(problem posing), keterkaitan (connection), pemahaman dan penalaran. Kemampuan
menulis itu antara lain diperlukan dalam menjawab masalah-masalah (soal),
mengerjakan tugas (proyek), membuat jurnal matematika, membuat refleksi dan
sebagainya.

4
2. discourse competence (kemampuan diskusi)
Kemampuan diskusi adalah salah satu kemampuan komunikasi matematika dimana
sesorang dituntut untuk dapat bekerjasama dengan orang lain dalam memecahkan
suatu permasalahan. Dalam diskusi, sesorang akan berlatih berani bernicara untuk
dapat meyampaikan pendapat di muka umum dengan mempertimbangkan dan
memikirkan pendapanya sesuai , benar atau tidaknya di muka umum.

3. sociolinguistic competence (kemampuan sosiolinguistik)


Kemampuan sosiolingustik adalah pembahasan dari bahasa sehubungan dengan
penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Sosiolinguistik mempelajari dan
membahas aspek-aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan-perbedaan
(variasi) yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor
kemasyarakatan (sosial).
4. strategic competence (kemampuan strategis).
Kemampuan strategis adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan keadaan
dimana secara umum, bisa dikatakan bahwa pembelajaran matematika hendaknya
dapat menumbuhkan kemampuan komunikasi matematika siswa. Sedangkan indikator
kemampuan siswa dalam komunikasi matematis pada pembelajaran matematika
menurut NCTM (1989 : 214) dapat dilihat dari :

(1) Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematika melalui lisan, tertulis, dan


mendemonstrasikannya serta menggambarkannya secara visual
(2) Kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide
Matematika baik secara lisan maupun dalam bentuk visual lainnya
(3) Kemampuan dalam menggunakan istilah-istilah, notasi-notasi Matematika dan
struktur-strukturnya untuk menyajikan ide, menggambarkan hubungan-hubungan
dan model-model situasi.

Indikator kemampuan komunikasi matematika adalah sebagai berikut :

a. Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide


matematika. Contohnya adalah peserta didik mampu memecahkan masalah
matematika yang sedang dihadapi melalui benda nyata yang terdapat
disekitarnya dan kaitannya dengan materi yang sedang dipelajari.

b. Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematika secara lisan atau tulisan,
dengan benda nyata, gambar, grafik, dan aljabar. Contohnya adalah peserta
didik dapat mengingat kembali pengalaman yang pernah dialaminya untuk
memecahkan permasalahan matematika yang sedang dihadapi dengan
menggunakan gambar.

5
c. Menyatakan peristiwa seharihari dalam bahasa/simbol matematika.
Contohnya adalah peserta didik dapat membuat soal cerita dengan kalimat
yang baik tentang kaitannya antara materi yang sedang dipelajari dengan
peristiwa di sekitarnya.

d. Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika. Contohnya adalah


peserta didik dapat menuliskan kembali dengan benar kesimpulan dari materi
yang telah dipelajari dengan menggunakan bahasa mereka sendiri.

e. Membaca presentasi matematika evaluasi dan menyusun pertanyaan yang


relevan. Contohnya adalah peserta didik dapat membuktikan permasalahan
matematika tentang materi yang sedang dipelajari.

f. Menyusun argumen, merumuskan definisi, dan generalisasi. Contohnya adalah


peserta didik dapat memberikan contoh permasalahan matematika yang
sedang terjadi di daerahnya dan berhubungan dengan materi yang telah
dipelajari kemudian menuliskannya dalam bentuk soal cerita.

Komunikasi dalam matematika dapat membantu mempertajam cara berpikir


siswa dan mempertajam kemampuan siswa dalam melihat berbagai keterkaitan materi
matematika dan dapat merefleksikan pemahaman matematika, dapat
mengorganisasikan dan mengkonsolidasikan pemikiran matematika para siswa, untuk
mengkontruksi pengetahuan matematika, pengembangan pemecahan masalah, dan
peningkatan penalaran, menumbuhkan rasa percaya diri, peningkatan ketrampilan
sosial, serta menjadi alat yang sangat bermakna untuk membentuk komunitas
matematika yang inklusif.

3. Peran komunikasi Matematis

Komunikasi merupakan bagian yang sangat penting dalam pembelajaran


matematika. Hal ini didukung dengan pendapat asikin (2002:496) bahwa peran
komunikasi dalam pembelajaran matematika adalah: (1) komunikasi matematis dapat
dieksploitasi dalam berbagai perspektif, membantu mempertajam cara berpikir siswa
dan mempertajam kemampuan siswa dalam melihat berbagai keterkaitan materi
matematika. (2) komunikasi merupakan alat untuk mengukur pertumbuhan
pemahaman dan merefleksikan pemahaman matematika para siswa. (3) melalui
komunikasi, siswa dapat mengorganisasikan dan mengkonsolidasikan pemikiran
matematika mereka. (4) komunikasi antar siswa dalam pembelajaran matematika
sangat penting untuk pengkonstruksian pengetahuan matematika, pengembangan
pemecahan masalah dan peningkatan penalaran, menumbuhkan rasa percaya diri,
serta peningkatan keterampilan sosial. (5) writing and talking dapat menjadikan alat
yang sangat bermakna (powerfull) untuk membentuk komunitas matematika yang
inklusif.

6
Baroody (ansari, 2003) menyebutkan sedikitnya ada dua alasan mengapa
pentingnya peran komunikasi dalam pembelajaran matematika. pertama, matematika
sebagai bahasa, artinya matematika tidak hanya sekedar alat bantu berpikir, alat untuk
review menemukan pola, menyelesaikan masalah atau mengambil kesimpulan, tetapi
matematika juga alat yang sangat berharga untuk berkomunikasi berbagai ide dengan
jelas, tepat, dan ringkas.Kedua, belajar matematika sebagai aktivitas sosial, artinya
sebagai aktivitas sosial dalam pembelajaran matematika, matematika juga sebagai
wahana interaksi antar siswa, dan juga komunikasi antara guru dan siswa. Hal ini
merupakan bagian penting untuk reviewmemelihara potensi matematika anak-anak.

B. PENALARAN MATEMATIS
1. Pengertian Penalaran Matematis

Salah satu tujuan mata pelajaran matematika adalah agar siswa mampu melakukan
penalaran. Menurut Russeffendi (dalam Suwangsih, 2006 : 3) matematika lebih
menekankan kegiatan dalam dunia rasio (penalaran), bukan menekankan dari hasil
eksperimen atau hasil observasi. Matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia
yang berhubungan dengan idea, proses, dan penalaran. Pada tahap awal matematika
terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Kemudian
pengalaman itu diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dengan penalaran di
dalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk konsep-konsep matematika. Menurut
Suriasumantri (1999 : 42) penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik
sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
Menurut Fadjar Shadiq (dalam Wardhani, 2008 : 11) penalaran adalah suatu proses
atau suatu aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau proses berpikir dalam
rangka membuat suatu pernyataan baru yang benar berdasarkan pada beberapa
pernyataan yang kebenarannya telah dibuktikan atau diasumsikan sebelumnya.
Materi matematika dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tidak dapat
dipisahkan. Materi matematika dipahami melalui penalaran, dan penalaran dipahami
dan dilatihkan melalui belajar matematika. Jadi pola pikir yang dikembangkan
matematika seperti yang dijelaskan di atas memang membutuhkan dan melibatkan
pemikiran kritis, sistematis, logis dan kreatif.
Penalaran berasal dari kata nalar yang mempunyai arti pertimbangan tentang baik
buruk, kekuatan pikir atau aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis.
Sedangkan penalaran yaitu cara menggunakan nalar atau proses mental dalam dalam
mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip. Istilah penalaran sebagai
terjemah dari bahasa Inggris reasoning menurut kamus The Random House Dictionary
berarti the act or process of a person who reasons (kegiatan atau proses seseorang
yang berpikir). Sedangkan reason berarti the mental powers concerned with forming
conclusions, judgements or inference (kekuatan mental yang berkaitan dengan

7
pembentukan kesimpulan dan penilaian). Menurut Fadjar Shodiq, penalaran adalah
suatu kegiatan berpikir khusus, dimana terjadi suatu penarikan kesimpulan, dimana
pernyataan disimpulkan dari beberapa premis.7 Matematika dan proses penalaran
merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Matematika dapat dipahami melalui proses penalaran, dan penalaran dapat dilatih
melalui belajar matematika. Menurut Tim Balai Pustaka (dalam Shofiah, 2007) istilah
penalaran mengandung tiga pengertian, di antaranya:
1) Cara (hal) menggunakan nalar, pemikir atau cara berpikir logis.
2) Hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan
dengan perasaan atau pengalaman.
3) Proses mental dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran
dari beberapa fakta atau prinsip.
Dalam ilmu kognitif menjelaskan bidang penelitian psikologi yang mengurusi proses
kognitif seperti perasaan, pengingatan, penalaran, pemutusan dan pemecahan
masalah. Dengan demikian, kemampuan penalaran termasuk dalam belajar kognitif.
Para ahli jiwa dari aliran kognitif berpendapat bahwa tingkah laku seseorang senantiasa
didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana
tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi
itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah.
Pada tahap berpikir operasional formal (11-15 tahun) yang disampaikan oleh Piaget
bahwa struktur kognitif menjadi matang secara kualitas dan anak akan mulai
menerapkan operasi secara konkret untuk semua masalah yang dihadapi di dalam
kelas. Berdasarkan ranah kognitif yang diungkapkan oleh Benyamin S. Bloom yaitu
ranah yang mencakup kegiatan mental (otak), terdapat enam jenjang proses berpikir
yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan
evaluasi. Selama proses berpikir analisis, kemampuan penalaran di sini sangat
diperlukan. Sebelum kegiatan analisis dilakukan, maka seseorang harus mampu
mengajukan dugaan.

Dengan demikian, kemampuan mengajukan dugaan merupakan salah satu indikator


dari kemampuan penalaran. Kemampuan penalaran juga sangat diperlukan dalam
memahami suatu konsep materi pokok. Tanpa adanya kemampuan penalaran, maka
peserta didik akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
Dapat disimpulkan bahwa kemampuan penalaran adalah suatu penjelasan yang berasal
dari proses berpikir yang menghasilkan kesimpulan, baik sebuah konsep maupun
pengertian. Dengan kata lain, kemampuan penalaran ini terfokus terhadap kesimpulan
dari penyerapan ide-ide yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Dalam proses pembelajaran tertumpu pada dua macam penalaran, yaitu penalaran
induktif dan penalaran deduktif.

8
1) Penalaran induktif
Penalaran induktif yaitu suatu aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau
membuat suatu pernyataan baru yang bersifat umum (general) berdasarkan pada
beberapa pernyataan khusus yang diketahui benar.14 Pembelajaran diawali dengan
memberikan contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Dalam
kompetensi dasar tentang menentukan himpunan bagian, salah satu indikator
keberhasilannya adalah menentukan himpunan bagian dan menentukan banyak
himpunan bagian suatu himpunan. Dalam menentukan banyak himpunan bagian suatu
himpunan, peserta didik dikenalkan rumus tentang banyaknya himpunan bagian suatu
himpunan yang dikaitkan dengan banyaknya anggota dari himpunan itu. Rumus itu
dapat ditemukan sendiri oleh peserta didik dengan penalaran induktif.
2) Penalaran deduktif
Penalaran deduktif yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai
akibat logis dari kebenaran sebelumnya. Jacobs menyatakan bahwa penalaran deduktif
adalah suatu cara penarikan kesimpulan dari pernyataan atau fakta-fakta yang
dianggap benar dengan menggunakan logika. Jadi proses pembuktian secara deduktif
akan melibatkan teori atau rumus matematika lainnya yang sebelumnya sudah
dibuktikan kebenarannya secara deduktif juga. Peserta didik sering mengalami kesulitan
memahami makna matematika dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif. Hal
ini disebabkan peserta didik baru memahami konsep atau generalisasi setelah disajikan
berbagai contoh.

2. Indikator Kemampuan Penalaran Matematis

Kemampuan penalaran berpengaruh pada kurikulum pendidikan, sehingga


berkaitan dengan indikator pada setiap materi yang akan dibahas. Menurut Maulana
(2011), indikator dalam kemampuan penalaran matematik adalah sebagai berikut:

a. Menarik kesimpulan logis.

b. Memberi penjelasan dengan menggunakan model, fakta, sifat, dan hubungan.

c. Memperkirakan jawaban dan proses solusi.

d. Menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis situasi matematik.

e. Menyusun dan menguji konjektur.

f. Merumuskan lawan contoh.

g. Mengikuti aturan inferensi, memeriksa validitas argumen.

9
h. Menyusun argumen yang valid.

i. Menyusun pembuktian langsung, tak langsung, dan menggunakan induksi


matematik.

3. Peran Kemampuan Penalaran Matematis

Penalaran digunakan untuk memecahkan soal-soal matematik, dan memecahkan


masalah dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam maupun di luar sekolah. Kusumah,
Yaya S. (1986:2) penalaran merupakan pola pikir yang tepat, akurat, rasional, dan
objektif, serta kritis dalam logika matematika. NCTM (1991:97) mengemukakan peran
diberikannya kemampuan penalaran matematik adalah untuk memberikan keleluasaan
bagi siswa untuk mengambil kesimpulan dan menetapkan pernyataan berdasarkan
pemikiran siswa sendiri daripada hanya berdasarkan keterangan dari guru atau buku
sumber. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu berpikir kritis dan logis serta mampu
membuat kesimpulan logis berdasarkan premis-premis yang ada berupa fakta dan
sumber yang relevan.

C. RESPRESENTASI MATEMATIS
1. Pengertian Respresentasi Matematis

Menurut NCTM (dalam Teacher Professional Development and Classroom


Resaurces Across the Curriculum), representasi membantu menggambarkan,
menjelaskan, atau memperluas ide matematika dengan berfokus pada fitur-fitur
pentingnya. Representasi meliputi simbol, persamaan, kata-kata, gambar, table, grafik,
objek manipulatif, dan tindakan serta mental cara internal berpikir tentang ide
matematika. Representasi adalah alat berpikir yang kuat, namun bagi banyak siswa,
kekuatan ini tidak dapat diakses kecuali mereka menerima bimbingan terarah dalam
mengembangkan repertoar mereka.
Semakin banyak terlibat belajar matematika, siswa dapat memperluas pemahaman
ide matematika atau hubungan dengan berpindah dari satu jenis representasi ke
representasi yang berbeda dari hubungan yang sama. Ini adalah salah satu alasan
bahwa penting bagi siswa untuk menggunakan berbagai bahan manipulatif, yang
Terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para ahli berkenaan tentang representasi
yaitu:
1. Representasi merupakan cara yang digunakan seseorang untuk
mengkomunikasikan jawaban atau gagasan matematik yang bersangkutan (Cai,
Lane, & Jacabcsin dalam Fadillah).

10
2. Representasi didefinisikan sebagai aktivitas atau hubungan dimana satu hal
mewakili hal lain sampai pada suatu level tertentu untuk tujuan tertentu dan yang
kedua oleh subjek atau interpretasi pikiran. Representasi menggantikan atau
mengenai penggantian suatu obyek, penginterpretasian pikiran tentang
pengetahuan yang diperoleh dari suatu obyek, yang diperoleh dari pengalaman
tentang tanda representasi (Parmentier dalam Fadillah).
3. Representasi merupakan proses pengembangan mental yang sudah dimiliki
seseorang, yang terungkap dan divisualisasikan dalam berbagai model
matematika, yakni: verbal, gambar, benda konkret, tabel, model-model
manipulatif atau kombinasi dari semuanya (Steffe, Weigel, Schultz, Waters,
Joijner, & Reijs dalam Syarifa Fadillah).
4. Dalam psikologi umum, representasi berarti proses membuat model konkret
dalam dunia nyata ke dalam konsep abstrak atau simbol. Dalam psikologi
matematika, representasi bermakna deskripsi hubungan antara objek dengan
simbol (Hwang, Chen, Dung, & Yang dalam Fadillah).
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa representasi adalah
ungkapan-ungkapan dari ide matematika yang ditampilkan siswa sebagai model atau
bentuk pengganti dari suatu situasi masalah yang digunakan untuk menemukan solusi
dari masalah yang sedang dihadapinya sebagai hasil dari interpretasi pikirannya. Suatu
masalah dapat direpresentasikan melalui gambar, kata-kata (verbal), tabel, benda
konkrit, atau simbol matematika. selanjutnya berkaitan dengan metode untuk
memecahkan masalah.

11
2. Indikator Kemampuan Representasi Matematis
4. Dalam meningkatkan kempuan representasi matematis yang akan
melatih siswa dalam berkomunikasi matematis maka kami menilai bahwa perlu
diadakannya suatu penelitian terhadap kempuan representasi matematis. Ada beberapa
indikator mengenail representasi matematis namun kami memilih indikator yang
dikemukakan pada (Mudzakir, 2006) kami menilai bahwa indikator yang dikemukan
sudah sangat baik dan sesuai dengan konsep yang kami usung dengan tujuan untuk
meningkatkan kempuan representasi matematis. Adapun idkator yang menunjukan
kemampuan representasi matmatis (Mudzakir, 2006) yakni :
5. 1. Menyajikan kembali data atau informasi dari suatu representasi ke
representasi diagram, grafik, atau tabel.
6. 2. Membuat persamaan atau model matematis dari representasi lain yang
diberikan.
7. 3. Membuat suatu representasi ke representasi diagram, grafik, atau table
untuk memperjelas masalah dan memfasilitasi penyelesaiannya.
8. Indikator kemampuan koneksi matematis yang dikemukakan oleh kusuma (2008)
adalah:

1. Memahami representasi ekuivalen dari concept yang sama.


2. Mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke Prosedur
representasi yang ekuivalen.
3. Menggunakan dan menilai keterkaitan antar topik matematika dan Keterkaitan di
luar matematika.
4. Menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

9. Sedangkan indikator kemampuan koneksi * menurut nctm (dalam Hardianty, 2012)


adalah:

1. Sebuah. Mengenal dan menggunakan keterhubungan diantara ide-ide


Matematika.
2. Memahami bagaimana ide-ide matematika dihubungkan dan dibangun Satu
sama lain sehingga beroperasi lengkap bertalian.
3. Mengenal dan menggunakan metamatika dalam konteks di luar Matematika.

10.
3. Peran Kemampuan Representasi Matematis
11. Vergnaud (dalam Syarifah Fadillah) menyatakan representasi merupakan
unsur yang penting dalam teori belajar mengajar matematika, tidak hanya karena
pemakaian sistem simbol yang juga penting dalam matematik dan kaya akan kalimat
dan kata, beragam dan universal, tetapi juga untuk dua alasan penting yakni:
12. 1. matematika mempunyai peranan penting dalam mengkonseptualisasi
dunia nyata
13. 2. matematika membuat homomorphis yang luas yang merupakan
penurunan dari struktur hal-hal lain yang pokok.

12
14. Penjelasan kedua alasan di atas yakni matematika merupakan hal yang
abstrak, maka untuk mempermudah dan memperjelas dalam penyelesaian masalah
matematika, representasi sangat berperan, yaitu untuk mengubah ide abstrak menjadi
konsep yang nyata, misalkan dengan gambar, simbol, kata-kata, grafik dan lain-lain.
15. Selain itu matematika memberikan gambaran yang luas dalam hal analogi
konsep dari berbagai topik yang ada. Dengan demikian diharapkan bahwa bilamana
siswa memiliki akses ke representasi-representasi dan gagasan-gagasan yang mereka
tampilkan, maka mereka memiliki sekumpulan alat yang secara signifikan siap
memperluas kapasitas mereka dalam berpikir secara matematis (NCTM, 2000).
16.
D. KONEKSI MATEMATIS
1. Pengertian Koneksi Matematis

17. Koneksi matematika merupakan dua kata yang berasal dari


Mathematical Connection yang dipopulerkan oleh NCTM dan dijadikan sebagai standar
kurikulum pembelajaran matematika sekolah dasar dan menengah. Untuk dapat
melakukan koneksi terlebih dahulu harus mengerti dengan permasalahannya dan
untuk dapat mengerti permasalahan harus mampu membuat koneksi dengan topik-
topik yang terkait. Koneksi matematika adalah bagian dari jaringan yang saling
berhubungan dari paket pengetahuan yang saling berhubungan dari paket
pengetahuan yang terdiri dari konsep-konsep kunci untuk memahami dan
mengembangkan hubungan antara ide-ide matematika, konsep, dan prosedur.

18. Hubungan antar konsep dalam matematika tersebut merupakan hubungan


bersama-sama konsep-konsep kunci yang mendasari ide matematika matematika
tertentu. Marshall menjelaskan bahwa koneksi matematika juga dapat digambarkan
sebagai komponen dari skema atau kelompok terhubung dari skema dalam jaringan
mental. Skema adalah struktur memori yang berkembang dari pengalaman individu dan
panduan respon individu terhadap lingkungan. Hal ini berarti bahwa suatu ciri khas
skema dalam pikiran adalah adanya koneksi. Kekuatan dan kekompakkan skema
sangat tergantung pada konektivitas komponen dalam skema atau antar kelompok
semata. Siswa belajar matematika melalui asimilasi atau menghubungkan informasi
baru kedalam jaringan mental mereka, membentuk sambungan baru antara
komponen pengetahuan yang ada dengan mengakomodasi untuk mengatasi
gangguan dalam struktur pengetahuan mereka dan untuk memperbaiki
kesalahpahaman.

19. Matematika terdiri dari different topik yang saling berkaitan satu sama Lain.
Keterkaitan tersebut tidak hanya antartopik dalam matematika saja, tetapi Juga

13
keterkaitan antara matematika dengan disiplin ilmu lain dan keterkaitan Matematika
dengan kehidupan sehari-hari.

20. Kemampuan koneksi matematis. Sesuai dengan pendapat kusuma (2008)


yang Menyatakan bahwa kemampuan koneksi matematis adalah kemampuan
seseorang Dan dalam memperlihatkan hubungan internal yang eksternal matematika,
yang Meliputi: koneksi antar topik matematika, koneksi dengan disiplin ilmu lain, dan
Koneksi dengan kehidupan sehari-hari. Pembagian penyanyi diperkuat lagi oleh
pendapat Mikovch dan monroe (dalam ruspiani, 2000), Dalam matematika, setidaknya
tiga Jenis koneksi yang sangat bermanfaat: koneksi dalam matematika, Lintas
kurikulum, dan dengan konteks dunia nyata. "

21. Kemampuan koneksi matematis diperlukan oleh siswa dalam mempelajari


Topik matematika yang saling berlangganan. * menurut ruspiani (2000), jika suatu topik
Diberikan beroperasi tersendiri, pembelajaran akan kehilangan satu momen dalam
Usaha meningkatkan prestasi belajar siswa dalam matematika beroperasi sales
manager. Tanpa kemampuan koneksi matematis, siswa akan mengalami kesulitan
Mempelajari matematika. menurut sarbani (2008) koneksi matematik merupakan
aktifitas yang Meliputi:

22. A. Mencari hubungan antara different representasi concept dan prosedur


pengajian.

23. B. Memahami hubungan antar topik matematik.

24. C. Menggunakan matematika dalam bidang studi lain atau kehidupan Sehari-
hari.

25. D. Memahami representasi ekuivalen concept yang sama.

26. E. Mencari koneksi satu prosedur pengajian lain dalam representasi yang
ekuivalen.

27. F. Mengajukan koneksi antar topik matematika, dan antar topik Matematika
dengan topik lain.

28. Koneksi matematis adalah jembatan dimana pengetahuan sebelumnya atau


pegetahuan baru digunakan untuk membangun atau memperkuat pemahaman tentang
hubungan antara ide-ide matematika, konsep, alur, atau representasi. Koneksi antara
aljabar dan geometri memiliki hubungan sejarah yang kuat. Menurut
Schoenfeld penggunaan simbol dalam bentuk variabel, konstanta, label, parameter dan

14
sebagainya berlimpah dalam aljabar dan geometri. Siswa bekerja dengan
menggunakan variabel dalam aljabar untuk membuat pernyataan umum, karakteristik
dari prosedur umum, dan menyelidiki generalisasi masalah matematika. Ide variable
juga digunakan dalam geometri sebagai simbol yang melibatkan titik pelabelan, sisi,
sudut dan angka. Beberapa penelitian berikut membahas dan menjelaskan
tentang pengertian dan contoh koneksi matematika. Koneksi antara alajabar dengan
geometri menurut Hodgos (1995) dicontohkan pada proses mencari solusi atau
himpunan penyelesaian dari masalah linier. Garis y = x-1 direpretansikan dalam
Gambar 2.1 berikut:

29.

30. Gambar 2.1

31. Grafik y = x-1

32. Penulisan persamaan garis sebagai y = x-1 merupakan representasi dalam


mode tulisan. Selanjutnya persamaan garis y = x-1 direpresantikan kedalam grafik dan
gambar. Jadi koneksi matematika yang terjadi adalah mengubah mode aljabar
menjadi mode geometri. Titik-titik potong pada bidang datar gambar 2.1 merupakan
solusi dari persamaan garis y = x-1. Jadi koneksi matematika merupakan keterkaitan
antar konsep matematika yang dimulai dari informasi awal, diperoleh konsep-
konsep yang relevan kemudian diubah mode representasinya untuk mendapatkan
konsep II, III dan seterusnya sampai diperoleh konsep baru berupa rekontruksi
pengetahuan atau pengetahuan baru. Koneksi matematika dapat disajikan dalam
Gambar 2.2 berikut:

33.

34. Gambar 2.2

15
35. Skema koneksi matematika

36. Kemampuan koneksi matematika adalah kemampuan siswa dalam


mencari hubungan suatu representasi konsep dan prosedur, memahami antar topik
matematika, mengaitkan ide-ide matematika dan kemampuan siswa mengaplikasikan
konsep matematika dalam bidang lain atau dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan
hal tersebut, koneksi matematika tidak hanya menghubungkan antar topik dalam
matematika, tetapi juga menghubungkan matematika dengan berbagai ilmu lain dan
dengan kehidupan. Menurut kusuma kemampuan koneksi matematika adalah
kemampuan seseorang dalam memperlihatkan hubungan internal dan eksternal
matematika, yang meliputi koneksi antar topik matematika, koneksi dengan
disiplin ilmu lain, dan koneksi dengan kehidupan sehari-hari.

2. Indikator Kemampuan Koneksi Matematika

37. Koneksi adalah hubungan yang dapat mempermudah segala


kegiatan. Kemampuan koneksi matematika (mathematical connection) dapat
diartikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan ide-ide matematika. NCTM
menguraikan indikator koneksi matematika, antara lain:

a. Saling menghubungkan berbagai representasi dari konsep-konsep atau


prosedural (link conceptual and prosedural knowladge).
b. Menyadari hubungan antara topik dalam matematika (recognize
relationship among different topics in mathematics)
c. Menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari (use mathematic in
their daily lives)
d. Memandang matematika sebagai suatu kesatuan yang utuh.
e. Menggunakan ide-ide matematis untuk memahami ide matematik lain yang lebih
jauh (relate various representations of condepts or prosedures to one another)
f. Menyadari representasi yang ekuivalen dari konsep yang sama.

38. Lebih lanjut, Ulep menguraikan indikator kemampuan koneksi


matematika, sebagai berikut :

a. Menyelesaikan masalah dengan menggunakan grafik, hitungan numerik,


aljabar, dan representasi verbal.
b. Menerapkan konsep dan prosedur yang telah diperoleh pada situasi baru.
c. Menyadari hubungan antar topik dalam matematika.
d. Memperluas ide-ide matematika.
39.

40. Menurut Sumarmo Indikator untuk kemampuan koneksi matematika siswa antara
lain:

16
a. Mengenali representasi hubungan yang ekuivalen dari konsep yang sama.
b. Mengenali hubungan prosedur satu representasi ke prosedur representasi yang
ekuivalen
c. Menggunakan dan menilai koneksi beberapa topik matematika
d. Menggunakan dan menilai koneksi matematika dan disiplin ilmu lain.

41. Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti menggunakan indikator kemampuan


matematika siswa dalam menyelesaikan masalah sebagai berikut:

a. Saling menghubungkan berbagai representasi dari konsep-konsep atau prosedural


(link conceptual and prosedural knowladge).
b. Menyadari hubungan antara topik dalam matematika (recognize relationship
among different topics in mathematics)
c. Menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari (use mathematic in
their daily lives)
d. Menggunakan ide-ide matematika untuk memahami ide matematika lain
yang lebih jauh (relate various representations of condepts or prosedures to one
another).
3. Peran Koneksi Matematis
42. Bell (1978: 145) menyatakan bahwa tidak hanya koneksi matematik yang
penting namun kesadaran perlunya koneksi dalam belajar matematika juga penting.
Apabila ditelaah tidak ada topic dalam matematika yang berdiri sendiri tanpa adanya
koneksi dengan topic lainnya. Koneksi antar topic dalam matematika dapat dipahami
oleh siswa apabila siswa mengalami pembelajaran yang melatih kemampuan
koneksinya, salah satunya adalah melalui pembelajaran yang bermakna. Koneksi
diantara proses-proses dan konsep-konsep dalam matematika merupakan objek
abstrak artinya koneksi ini terjadi dalam pikiran siswa, misalkan siswa menggunakan
pikirannya pada saat menkoneksikan antara symbol dengan representasinya (Hodgson,
1995:14). Dengan koneksi matematis maka pelajaran matematika terasa menjadi lebih
bermakna.
43. Untuk memberi kesan kepada siswa bahwa matematika adalah ilmu yang
dinamis maka perlu dibuat koneksi antara pelajaran matematika dengan apa yang saat
ini dilakukan matematikawan atau dengan memecahkan masalah kehidupan (breathe
life) ke dalam pelajaran matematika (Swetz, 1984 dalam Johnson dan Litynsky, 1995:
225). NCTM (2000:64) merumuskan bahwa ketika siswa mampu mengkoneksikan ide
matematik, pemahamannya terhadap matematika menjadi lebih mendalam dan tahan
lama. Siswa dapat melibatkan bahwa koneksi matematis sangat berperan pada topic-
topik dalam matematika, dalam konteks yang menghubungkan matematika dan
pelajaran lain dan dalam kehidupannya.melalui pembelajaran yang menekankan
keterhubungan ide-ide dalam matematika, siswa tidak hanya belajar matematika tapi
siswa juga belajar menggunakan matematika.

17
44. Ada dua tipe umum koneksi matematis menurut NCTM (1989), yaitu
modeling connections dan mathematical connections . modeling connections
merupakan hubungan antara situasi masalah yang muncul di dalam dunia nyata atau
dalam disiplin ilmu lain dengan representasi matematikanya, sedangkan mathematical
connections adalah hubungan antara dua representasi yang ekuivalen, dan antara
proses penyelesaian dari masing-masing representasi. Keterangan NCTM tersebut
mengindikasi bahwa koneksi matematis terbagi dalam tiga aspeek kelompok koneksi
yaitu:
a. Aspek koneksi antar topic matematika
b. Aspek koneksi dengan disiplin ilmu lain, dan
c. Aspek koneksi dengan dunia nyata siswa/koneksi dengan kehidupan sehari-
hari.

45.

46.

47.

48.

49.

50.

51.

52.

53.

54.

55.

56.

57.

58. BAB III

59. PENUTUP

A. KESIMPULAN

18
60. Kemampuan matematis adalah kemampuan untuk menghadapi
permasalahan baik dalam matematika maupun kehidupan nyata. Berdasarkan tujuan
pembelajaran matematika di indonesia tersirat bahwa kemampuan matematis meliputi:
1. Kemampuan pemecahan masalah (problem solving), 2. Kemampuan berargumentasi
(reasonning), 3. Kemampuan berkomunikasi (communication), 4. Kemampuan
membuat koneksi (connection), 5. Kemampuan representasi (representation).
61. Komunikasi matematis adalah proses menyatakan dan menafsirkan
gagasaan matematika secara lisan, evaluasi, atau mendemonstrasikannya. Komunikasi
secara umum dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu pesan dari
pembawa pesan ke penerima pesan untuk memberitahu, pendapat, atau perilaku baik
langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media. Baroody (ansari, 2003)
menyebutkan sedikitnya ada dua alasan mengapa pentingnya peran komunikasi dalam
pembelajaran matematika. 1) matematika sebagai bahasa, 2) belajar matematika
sebagai aktivitas social.
62. Penalaran matematis adalah salah satu proses berpikir yang dilakukan
dengan cara menarik suatu kesimpulan (nurahman: 2011). Penalaran matematika
merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui dan mengerjakan permasalahan
matematika. Secara umum terdapat dua model penalaran matematika , yakni penalaran
induktif dan penalaran deduktif (bapak nurahman: 2011). NCTM (1991:97)
mengemukakan peran diberikannya kemampuan penalaran matematik adalah untuk
memberikan keleluasaan bagi siswa untuk mengambil kesimpulan dan menetapkan
pernyataan berdasarkan pemikiran siswa sendiri daripada hanya berdasarkan
keterangan dari guru atau buku sumber.
63. Representasi matematis merupakan penggambaran, penerjemahan,
pengungkapan, penunjukkan kembali, pelambangan, atau pemodelan, gagasan konsep
dalam matematika, dan hubungan diantaranyayang termasuk dalam suatu konfigurasi,
konstruksi, atau situasi tertentu yang ditampilkan siswadalam berbagai bentuk sebagai
upaya memperoleh kejelasan makna, menunjukkan pemahamannya atau mencari
solusi dari masalah yang dihadapinya. representasi sangat berperan, yaitu untuk
mengubah ide abstrak menjadi konsep yang nyata, misalkan dengan gambar, simbol,
kata-kata, grafik dan lain-lain. Selain itu matematika memberikan gambaran yang luas
dalam hal analogi konsep dari berbagai topik yang ada.
64. Koneksi matematis adalah jembatan dimana pengetahuan sebelumnya
atau pegetahuan baru digunakan untuk membangun atau memperkuat pemahaman
tentang hubungan antara ide-ide matematika, konsep, alur, atau representasi. Koneksi
matematika sangat berperan untuk memberi kesan kepada siswa bahwa matematika
adalah ilmu yang dinamis maka perlu dibuat koneksi antara pelajaran matematika
dengan apa yang saat ini dilakukan matematikawan atau dengan memecahkan

19
masalah kehidupan (breathe life) ke dalam pelajaran matematika (Swetz, 1984 dalam
Johnson dan Litynsky, 1995: 225).
65.

B. SARAN

66. Dunia pendidikan dituntut untuk peka terhadap perubahan dan


perkembangan sekecil apa pun dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam
konteks ini peran guru tidaklah kecil. Guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan
terdepan dituntut untuk terus mengembangkan pengetahuan, kemampuan serta
keterampilannya. Oleh karena itu disaran kepada semua yang berhubungan dengan
dunia pendidikan dan khususnya guru dapat membaca dan memahami tentang
kemampuan berpikir matematis yaitu: komunikasi, penalaran, representasi dan koneksi
matematis.
67.

68.

69.

70.

71.

72.

73.

74.

75.

76.

77.

78.

79.

80. DAFTAR PUSTAKA

20
81. Gunawan, Ridwan. 2013.
http://proposalmatematika23.blogspot.co.id/2013/05/kemampuan-penalaran-
matematika/Diakses pada tanggal 28 Maret 2016.

82. Kramarski, B., & Mizrachi, N. (2006). Online d i s c u s s i o n a n d s e l f - r e g u


l a t e d learning: Effects of instructional methods on mathematical literacy. The
Journal of Educational Research, 99(4),218230.

83. Rayani, Sri. 2015. https://srirayani.wordpress.com/2015/05/18/kemampuan-koneksi-


matematika-dalam-pembelajaran-matematika/Diakses pada tanggal 28 Maret 2016.

84. Santoso, Erik. 2013. http://serbaserbikangerik.blogspot.co.id/2013/06/kompetensi-


matematis/Diaksespada tanggal 28 Maret 2016.

85. Trisniawati. 2013. http://trisniawati87.blogspot.co.id/2013/01/makalah-representasi-


matematis/Diakses pada tanggal 28 Maret 2016.

86. Trisniawati. 2013. http://trisniawati87.blogspot.co.id/2013/01/makalah-komunikasi-


matematis/Diakses pada tanggal 28 Maret 2016.

87. .http://pendidikanmatematikaunkh.blogspot.co.id/2015/12/kemampuan-representasi-
matematis/Diakses pada tanggal 28 Maret 2016.

88.

89.

90.

21