Anda di halaman 1dari 2

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejang adalah suatu manifestasi klinis sebagai akibat dari cetusan yang
berlebihan dan abnormal dari sel-sel neuron di otak. Manifestasi klinis ini berupa
suatu fenomena abnormal yang sementara dan mendadak, antara lain berupa
gangguan kesadaran, motorik, sensorik, otonom, atau psikis. Kejang dapat
disebabkan oleh kelainan di serebral maupun non serebral. Kelainan serebral
sendiri dapat dibedakan menjadi kelainan yang akut sesaat dan kronik berulang.
Sedangkan kelainan non serebral antara lain dapat disebabkan oleh tetanus
maupun keracunan (botulism).1,2
Kejang pada anak merupakan suatu keadaan gawat darurat dan harus
segera ditangani. Insidensi kejang pada anak di bawah 15 tahun di seluruh dunia
adalah sekitar 0.4% (di mana setengahnya merupakan kejang demam). 1,2
Kejang yang disebabkan kelainan pada serebral dapat disebabkan karena
adanya suatu lesi di otak, seperti abses serebri. Kejadian abses serebri pada anak-
anak dapat berhubungan dengan penyakit jantung bawaan (PJB) sianotik, salah
satunya pada kasus tetralogi fallot.1-3
Tetralogi fallot (TF) adalah PJB sianotik yang paling sering ditemukan (5-
8% dari seluruh PJB), merupakan sindrom yang terdiri dari empat kelainan
anatomi, yaitu defek septum ventrikel, stenosis pulmonal, overriding aorta, dan
hipertrofi ventrikel kanan. Manifestasi klinik dari TF sendiri adalah anak tampak
biru dengan napas cepat dan anak sering jongkok setelah beraktivitas. Pada pasien
TF sering terjadi abses serebri, disebabkan karena adanya embolus yang terinfeksi
(fokus infeksi jauh).1-3
Dalam penulisan ini akan dilaporkan seorang anak laki-laki usia 13 tahun
dengan observasi kejang tanpa demam, PJB sianotik suspek TF, observasi febris
hari ke-1, imbalans elektrolit, AKI stadium RISK, dan gizi baik perawakan
normal.

1.2 Tujuan
2

Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui cara


mendiagnosis dan mengelola pasien secara komprehensif dan holistik berdasarkan
data yang diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang serta kepustakaan.

1.3 Manfaat
Penulisan laporan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai media belajar
agar dapat mendiagnosis dan mengelola pasien dengan permasalahan seperti pada
pasien ini dengan tepat dan komprehensif.