Anda di halaman 1dari 3

Review Buku Moral Ekonomi Petani

Karya James C.Scott

Nama : Anggi Kurniawan


NPM : 606565234

Dalam Moral Ekonomi Petani: Pergerakan dan Subsistensi di Asia Tenggara, James C.
Scott mengemukakan pertama kali teorinya tentang bagaimana etika subsistensi (etika untuk
bertahan hidup dalam kondisi minimal) melandasi segala perilaku kaum tani dalam hubungan
sosial mereka di pedesaan, termasuk pembangkangan mereka terhadap inovasi yang datang dari
penguasa mereka. Itulah yang disebut sebagai moral ekonomi, yang membimbing mereka
sebagai warga desa dalam mengelola kelanjutan kehidupan kolektif dan hubungan sosial
resiprokal saat menghadapi tekanan-tekanan struktural dari hubungan kekuasaan baru yang
mencengkeram. Tekanan struktural dari pasar kapitalistik, pengorganisasian negara kolonial dan
pasca kolonial, dan proses modernisasi di Asia Tenggara mengacaukan moral ekonomi itu dan
menyebabkan kaum tani berontak.

James C. Scott menyatakan bahwa moral ekonomi petani di dasarkan atas norma
subsistensi dan norma resiprositas. Di mana ketika seorang petani mengalami suatu keadaan
yang menurut mereka dapat merugikan kelangsungan hidupnya, maka mereka akan menjual dan
menggadai harta benda mereka. Hal ini disebabkan oleh norma subsistensi. Sedangkan
resiprositas akan timbul apabila ada sebagian dari anggota masyarakat menghendaki adanya
bantuan dari anggota masyarakat yang lain. Hal ini akan menyebabkan berbagai etika dan
perilaku dari para petani. James C. Scott menambahkan bahwa para petani adalah manusia yang
terikat sangat statis dan aktivitas ekonominya. Mereka dalam aktivitasnya sangat tergantung pada
norma-norma yang ada.

Dalam masyarakat petani yang pra kapitalis, kekhawatiran akan mengalami


kekurangan pangan telah menyebabkan timbulnya apa yang disebut dengan etika subsistensi.
Etika yang terdapat pada kalangan petani Asia Teggara itu merupakan konsekuensi dari satu
kehidupan yang begitu dekat dengan garis batas. Satu panen yang buruk tidak hanya akan berarti
kurang makan. Agar dapat makan, orang mungkin akan terpaksa mengorbankan rasa harga
dirinya dan menjadi beban orang lain, atau menjual dari sebagian tanahnya atau ternaknya
sehingga memperkecil kemungkinan baginya untuk mencapai subsistensi yang memadai di tahun
berikutnya. Secara kasarnya dapat dikatakan bahwa masalah yang dihadapi keluarga petani
adalah bagaimana dapat menghasilkan beras yang cukup untuk makan sekeluarga, untuk
membeli barang kebutuhan seperti garam dan kain, dan untuk memenuhi tagihan-tagihan yang
tidak dapat ditawar-tawar lagi dari pihak-pihak luar.

Banyaknya padi yang dapat dihasilkan suatu keluarga untuk sebagian tergantung kepada
nasib, akan tetapi tradisi setempat yang mengenai soal jenis bibit, cara menanam, dan penetapan
waktu telah digariskan berdasarkan pengalaman selama berabad-abad, dengan tujuan
menghasilkan panen yang paling mantap dan paling dapat diandalkan. Itu semua merupakan
pengaturan-pengaturan teknis yang telah dikembangkan oleh petani untuk meratakan ombak-
ombak kecil yang dapat menenggelamkannya. Banyak pengaturan sosial yang memiliki tujuan
yang sama. Pola-pola resiprositas, kedermawanan tanah komunal, dan saling tolong menolong
dalam pekerjaan, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang tak terelakkan yang mungkin
dialami satu keluarga petani dan yang tanpa pengaturan-pengaturan itu dapat mengakibatkan
keluarga itu jatuh ke bawah tingkat subsistensi.

Scott memulai dari karakteristik ekonomi petani subsisten yang mempunyai keperluan
mendasar dalam mengurangi resiko dan untuk tidak menemui resiko atau mencegahnya secara
bersama-sama. Hal ini merupakan hasrat sekuritas subsisten atau dengan kata lain rasa takut
akan kelangkaan dari petani. Pengaturan sosial dari institusi-institusi dalam kehidupan petani
atau yang disebut dengan pola-pola resiprositas, juga menggiring mereka ke garis batas di bawah
kehidupan subsisten. Dalam hal ini Scott juga membantah pandangan bahwa kehidupan
masyarakat desa penuh dengan harmoni dan kasih sayang serta berimplikasi pada relasi sosial
egalitarianisme, meski ia juga menekankan pada resiprositas, kerjasama, nilai-nilai bersama,
redistribusi, kasih sayang kesejahteraan, paternalisme, anti transaksi pasar. Menurut Scott,
kekuatan yang lebih besar memaksa para petani miskin dan penyewa yang berpemasukan
rendah, tanah sedikit dan keluarga besar, mempunyai kesempatan akses yang sangat sedikit jika
dibandingkan dengan para petani kaya.

Dalam buku ini Scott menggambarkan beberapa tampilan penting dari kehidupan
ekonomi sosial dan organisasi kultural, khususnya yang berkenaan dengan orang miskin, dan ia
menyoroti respon-respon mereka terhadap penetrasi negara dan pasar selama periode kolonial.
Scott juga melihat kontrol negara dalam bentuk pajak yang telah ditetapkan (khususnya pajak
per-kepala), naik turunnya harga untuk komoditas-komoditas utama (khususnya beras), registrasi
tanah dan komodifikasinya, kepemilikan tanah, spesialisasi ekonomi dan individualisme serta
polarisassi kelas. Scott menggambarkan transformasi tanah menjadi komoditas yang dijual telah
mempunyai efek yang sangat mendalam. Kontrol terhadap tanah semakin terlepas dari tangan-
tangan orang desa, petani secara progresif kehilangan hak-hak kebebasan hak guna hasil dan
menjadi penyewa atau petani pekerja berupah, dan nilai-nilai yang diproduksi semakin diukur
dengan fluktuasi pasar yang bersifat impersonal. Negara sendiri menjadi agen yang
mengeksploitasi sumber daya petani. Berbagai bentuk administrasinya dilakukan dengan cara
menghitung serta mensurvei para petani dadan tanah hanya bertujuan untuk pajak.

Buku Moral Ekonomi Petani karya James C. Scott ini melukiskan apa arti etika
subsistensi secara analitis bagi ilmu ekonomi petani. Selain itu juga mejelaskan tentang
penerapan prinsip dahulukan selamat dalam pembuatan keputusan terhadap kaum tani di Asia
Tenggara. Menunjukkan bahwa etika subsistensi tidak hanya merupakan satu fakta dalam ilmu
ekonomi petani, tetapi juga mempunyai dimensi normatif atau moral. Hal ini bisa dilihat pada
struktur resiprositas desa, pilihan-pilihan sosial, sistem-sistem sosial yang disukai, dan sikap-
sikap terhadap pajak. Scott juga membedakan sistem-sistem sewa atau pajak yang paling
eksploitatif dilihat dari perspektif keterjaminan subsistensi dan untuk membuktikan bahwa
perspektif ini sesuai dengan petani. Analisa tentang bagaimana perubahan struktural dalam
perekonomian kolonial tidak hanya mempersempit batas subsistensi banyak petani, akan tetapi
juga menghadapkan mereka pada resiko-resiko krisis subsistensi yang baru dan lebih besar.
Menyajikan tentang perkembangan kegiatan ekonomi kolonial dengan menerapkan pungutan
pajak pada para petani dan kegiatan politik petani di Asia Tenggara, khususnya Burma dan
Vietnam. Dua pemberontakan besar di Vietnam dan Burma yang ditelaah berdasarkan etika
subsistensi dan prinsip dahulukan selamat. Usaha yang lebih bersifat umum untuk
menerapkan ekonomi politik dari etika subsistensi kepada kegiatan politik petani dan untuk
merumuskan satu konsep operasional tentang eksploitasi. Juga dibahas tentang kondisi-kondisi
yang apabila digabungkan dengan eksploitasi nampaknya merupakan penyebab pemberontakan.