Anda di halaman 1dari 5

Studi Kasus :

Penipuan dalam Institusi Keuangan

Oleh:

Annisa Indrayanti

Sirojul Munir

Satria Maulana

Mohammad Fatoni

Nazar Ahmad Samjani

Kelas: 401 SK

Sistem Komputer
Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer
STI&K

Jakarta

2017

Penipuan adalah sebuah kebohongan yang dibuat untuk keuntungan pribadi tetapi
merugikan orang lain, meskipun ia memiliki arti hukum yang lebih dalam, detail jelasnya
bervariasi di berbagai wilayah hukum.

Tindakan yang dianggap penipuan kriminal termasuk:

bait and switch

trik cofidensi seperti penipuan biaya muka, tahanan Spanyol, dan permainan shell

pengiklanan palsu

pencurian identitas

tagihan palsu

pemalsuan dokumen atau tanda tangan

pembuatan perushaan palsu

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengimbau masyarakat agar waspada

dan berhati-hati terhadap upaya penipuan yang dilakukan oknum yang mengatasnamakan
instansi tertentu sehubungan dengan penawaran program-program pembangunan
infrastruktur daerah.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Yudi Pramadi dalam siaran pers
yang diterima di Jakarta, Jumat, menyebutkan Kemenkeu menemukan adanya satuan kerja
(satker) yang mengatasnamakan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perimbangan Keuangan di
Kotamobagu, Sulawesi Utara.

"Aktivitas yang dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut adalah dengan
menawarkan kepada pemerintah daerah setempat program-program pembangunan
infrastruktur daerah yang tidak dibiayai melalui mekanisme APBN atau non-APBN," sebut
Yudi Pramadi.

Ia menyebutkan Ditjen Perimbangan Keuangan merupakan unit eselon I di lingkungan


Kemenkeu yang tidak memiliki instansi vertikal (satuan kerja) di daerah dan hanya
mengelola dana APBN yaitu dana transfer ke daerah.

"Karena itu penggunaan nama Kemenkeu dan Ditjen Perimbangan Keuangan pada satker di
Kotamobagu dimaksud tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tegas Yudi.

Ia mengimbau jika masyarakat memperoleh informasi adanya indikasi penipuan terkait


penawaran serupa untuk menghubungi Kemenkeu untuk melakukan konfirmasi atau dapat
melaporkan perbuatan penipuan tersebut kepada penegak hukum.

Penipuan Berkedok Lokakarya Perbendaharaan

Pada bulan Agustus 2014 ini, telah beredar surat palsu mengatasnamakan Direktorat
Sistem Perbendaharaan, Kementerian Keuangan yang mengundang Bendaharawan Satuan
Kerja di seluruh Indonesia mengikuti Lokakarya Perbendaharaan Tahun Anggaran 2014 yang
diselenggarakan di Lemeredium Hotel Jakarta. Surat palsu tersebut dimaksudkan untuk
mengarahkan penerima surat agar mentransfer sejumlah uang kepada oknum yang tidak
bertanggungjawab.
Perlu ditegaskan bahwa Direktorat Jenderal Perbendaharaan tidak menyelenggarakan
kegiatan tersebut. Surat palsu yang beredar pun tidak sesuai dengan format surat dinas resmi
yang digunakan Kementerian Keuangan.
Kemenkeu menghimbau satuan kerja, khususnya bendaharawan, agar selalu waspada dan
berhati-hati terhadap upaya penipuan yang mengatasnamakan pejabat atau unit instansi
Direktorat Jenderal Perbendahaan maupun unit-unit eselon I lain di lingkungan Kementerian
Keuangan.
Untuk mengantisipasi modus penipuan serupa, pihak-pihak yang menerima surat atas
nama Direktorat Sistem Perbendaharaan dapat melaporkan atau melakukan konfirmasi ke
kantor Direktorat Sistem Perbendaharaan, Gedung Prijadi Praptosuhardjo III lantai 3 dan 4,
Jalan Budi Utomo Nomor 6 Jakarta 10710, Nomor telepon/faksimili (021) 3849670.

Jaringan penipu instansi negara yang dibongkar polisi, ternyata memiliki pengaturan
kerja yang rapi. Para pimpinan membatasi hubungan para anak buahnya. Serta para pimpinan
tak melakukan pekerjaan kotor seperti membuat dokumen palsu atau menarik uang hasil
penipuan di ATM.
Pekerjaan seperti itu diserahkan ke anak buahnya yang juga tak terlalu mengenal
pimpinannya, bahkan tak memiliki nomor ponsel pimpinannya. Polisi membongkar
kelompok ini pada Senin (15/6/2015). Sebanyak 8 anggota komplotan diringkus di dua lokasi
terpisah.
Kelompok yang dibongkar ini memiliki tiga tim didalamnya. Masing-masing tim
memiliki tugasnya sendiri. Dan tiap tim memiliki satu pimpinan.
Namun masing-masing anggota tim dari tiga tim itu tak saling kenal. Tetapi hanya para
pimpinannya saja yang saling kenal.
Kanit II Subdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris
Teuku Arsya Khadafi, menjelaskan, tim pertama tugasnya menarik uang tunai yang dikirim
korban di ATM.
Kemudian, ucap Arsya, tim kedua tugasnya membuat dokumen palsu, baik Kartu
Keluarga, KTP, maupun rekening bank.
Sedangkan tim ketiga, kata Arsya, diduga dihuni oleh para bos komplotan. Ini adalah tim
yang bertugas melobi atau memperdaya para bendahara Instansi Negara agar percaya bahwa
penelepon adalah pimpinannya. Sehingga akhirnya mau mentransfer uang yang diminta.
Lebih lanjut, Arsya mengatakan, tim ketiga ini juga punya peran mempelajari profil calon
korbannya. Mereka membaca segala berita soal calon korbannya sampai tahu betul apa yang
kini tengah dilakukan calon korbannya.
Misalnya, apabila calon korbannya adalah pejabat yang baru saja menjabat, maka tim
ketiga ini akan memperdaya bendahara di Instansi Negara si korban bekerja dengan cara
meminta transfer uang untuk acara lepas-sambut atau apapun yang berkaitan dengan
perpisahan. Diketahui pula, para anak buah tak mendapat pembagian merata dari hasil
penipuan. Para anak buah di tim penarik uang dan tim pembuat dokumen hanya diberi upah
per beraksi menarik uang atau per satu dokumen yang berhasil dibuat. Dan upahnya tak lebih
dari Rp 200.000.

Komplotan penipu seringkali mencari seribu cara untuk mengelabui mangsanya dan
mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan untuk mendapatkan keuntungan dari orang
orang yang menjadi korban nya. Oknum oknum tidak bertanggung jawab tersebut pandai
melihat situasi korban korban nya sehingga para korban yang dalam keadaan terdesak dan
merasa membutuhkan bantuan dari sang penipu tersebut biasanya tidak pikir panjang untuk
menerima tawaran dari sang pelaku. Hal ini lah yang membuat para korban tersebut mudah
untuk dijadikan objek penipuan. Seperti yang terjadi di Kota Palu, akhir-akhir ini Kepolisian
Resor Palu banyak menerima laporan dari masyarakat dimana beberapa masyarakat
mendapat tawaran dari oknun-oknum komplotan penipu yang mengatasnamakan pihak
Kepolisian dan meninta uang damai jika salah satu dari masyarakat ada yang mempunyai
keluarga atau rekan yang sedang ditahan oleh pihak Kepolisian dikarenakan terlibat salah
satu kasus seperti pencurian, narkoba, pembunuhan dan tindak pidana yang lain. Korban
memberikan informasi bahwa nomor handphone oknum yang sering berusaha untuk
melakukan penipuan tersebut adalah 082367624227 dan diharap masyarakat untuk selalu
waspada terhadap kejadian-kejadian yang akan mengancam. Oknum penipu tersebut
mencoba menawarkan jika permasalahan hukum dari keluarga atau rekan yang ditangani
pihak kepolisian bisa segera diselesaikan. Belajar dari pengalaman yang terjadi sebelum hal
ini menimpa salah satu dari kita, baik nya para masyarakat untuk selalu berpikir panjang
sebelum menerima tawaran dari oknum-oknum penipu. Pihak Kepolisian sendiri tidak
membenarkan adanya uang damai terhadap permasalahan permasalahan tindak pidana yang
sedang dalam proses penyidikan. Semua nya dikerjakan dan dilaksanakan menurut ketentuan
hukum yang berlaku. Jadi jika ada oknum oknum yang mencoba menipu seperti modus
diatas, itu adalah suatu kebohongan besar yang sangat merugikan. Dengan kewaspadaan
yang tinggi, maka hal-hal tersebut dapat diminimalisir agar tidak menimpa diri kita.