Anda di halaman 1dari 46

Arafah

Dari Jabir ra. bahwasanya,..


Rasulullah saw bersabda,...
"Shaum hari Arafah, aku mengharap Allah menghapuskan dengannya dosa satu tahun
sebelumnya dan dosa satu tahun sesudahnya."
(HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
:

-
..,Rasulullah saw bersabda
Tiada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah,
dan bahwa Dia dekat. Kemudian malaikat merasa bangga dengan mereka, mereka (malaikat)
....?berkata, Duhai apakah gerangan yang diinginkan mereka
(Hr. Muslim, Shahih Muslim, I : 472)
Abu Qatadah al-Anshari menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah ditanya tentang shaum hari
Arafah. Beliau bersabda, Shaum Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang
akan datang. (Muslim, hadits no. 1162)

:

. -
...,Abu Qatadah, ia berkata
..,Rasulullah saw. telah bersabda
Shaum Hari Arafah itu akan mengkifarati (menghapus dosa) dua tahun, yaitu setahun yang telah
lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum Asyura akan mengkifarati setahun yang lalu
(Hr. al-Jamaah kecuali al-Bukhari dan at-Tirmidzi)
Dari Hafshah, ia berkata,
:

Ada empat hal yang tidak pernah ditinggal Nabi shallallohu alaihi wasallam ; puasa pada hari
Asyura (tanggal 10 Muharram), puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, puasa tiga
hari setiap bulan dan shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh.
[Hr. an-Nasa'i (2371, 2416, 2417); Abu Daud (2437); Ahmad (5/271) (6/288, 423)]
Dari Hunaid bin Khalid dari istrinya dari salah seorang istri Nabi, ia berkata,



Rasulullah shallallohu alaihi wasallam selalu berpuasa sembilan hari bulan Dzulhijjah, hari
.Asyura, tiga hari setiap bulan, Senin pertama setiap bulan dan hari Kamis
(.Hr. Abu Daud, Ahmad, an-Nasai dan keduanya berkata, dan dua Kamis)
Dari Aisyah ia berkata,


Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan
.Dzulhijjah
[H.R. Muslim (1176)]
Dzulhijjah

: .

Pada malam awal bulan Dzulhijah itu dilahirkan Nabi Ibrahim, maka siapa yang shaum pada
siang harinya, hal itu merupakan kifarat dosa selama enam puluh tahun
(Lihat, Tadzkirrah al-Maudhuat, hal. 119)
Dalam riwayat lain dengan redaksi:
:


Pada malam awal bulan Dzulhijah itu dilahirkan Nabi Ibrahim, maka siapa yang shaum pada
hari itu, hal itu merupakan kifarat dosa selama delapan puluh tahun. Dan pada suatu riwayat
tujuh puluh tahun. Dan pada 9 Dzulhijjah Allah menurunkan taubat Nabi Daud, maka siapa yang
shaum pada hari itu, hal itu merupakan kifarat dosa selama enam puluh tahun Dan pada suatu
riwayat: Allah mengampuninya sebagaimana Dia mengampuni dosa Nabi Daud
(Hr. ad-Dailami, al-Firdaus bi Matsur al-Khitab, III:142, hadis No. 4381, II:21 No. 2136,
IV:386, No. 7122; Lihat pula Tanzih as-Syariah, II:165 No. 50; Maushuah al-Ahadits wal Atsar
ad-Dhaifah wal Maudhuah, VI:235 No. 14.953)
Dzulhijjah
Dari Ibnu Abbas ra.
Rasulullah saw bersabda,..
"Pada hari, di mana Allah mengampuni Nabi Adam as. adalah hari pertama bulan Dzulhijjah,
maka siapa shaum pada hari itu, Allah pasti mengampuni segala dosanya.
Pada hari kedua Allah mengabulkan do a Nabi Yunus as, hingga ia keluar dari dalam perut ikan
besar. Maka siapa shaum pada hari itu, adalah seperti beribadah setahun, bersih dari laku maksiat
dalam ibadahnya, tidak sekejap
netrapun ia berbuat dosa.
Pada hari ketiga, Allah mengabulkan do'a Nabi Zakaria, maka siapa berpuasa pada hari itu, pasti
do'anya dikabulkan oleh Allah Swt.
Dan pada hari keempat lahirnya Nabi Isa as, maka siapa berpuasa pada hari itu, Allah
melenyapkan kesusahan dan kefakirannya, dan kelak di hari Kiamat bersama dengan para
perantau yang baik lagi mulia/Safaratul Kiramil Bararah.
Dan pada hari kelima Nabi Musa as lahir, maka siapa berpuasa pada hari itu, terbebas dari sifat
nifak dan siksa kubur.
Pada hari keenam Allah Swt. membuka kebaikan bagi NabiNya, maka siapa berpuasa pada hari
itu, Allah memandangnya penuh rahmat, dan sesudah itu tidak disiksa selamanya,
Pada hari ketujuh semua pintu neraka Jahannam ditutup, tiada terbuka sampai habis sepuluh awal
bulan Dzulhijjah itu, maka siapa berpuasa pada hari itu Allah menghindarkan darinya 30 pintu
kesulitan, dan membukakan baginya 30 pintu
kemudahan.
Dan pada hari kedelapan dikenal dengan hari Tarwiyah, maka siapa berpuasa pada hari itu, diberi
pahala sebesar-besarnya, tiada yang tahu jumlahnya kecuali Allah Swt.
Pada hari kesembilan, dikenal dengan hari Arafah.
Maka barangsiapa yang berpuasa pada hari itu, berarti dapat menebus dosanya pada tahun
terdahulu dan tahun mendatang, dan pada hari itulah turunnya ayat terakhir menurut nomor urut
turunnya wahyu...
"Pada hari 'Arafah ini, Aku sempurnakan bagimuagamamu dan Aku cukupkan nikmatKu
untukmu, dan Aku ridhoi islam menjadi agamamu". (Al.Maidah 3)
Dan pada hari kesepuluh, adalah hari raya 'Idul Adha, siapa mendekat kepada Allah dengan
berkurban sesuatu/hewan kurban, maka mulai tetesan darah yang jatuh, Allah swt.
mengampuni dosa-dosanya dan keluarganya, maka siapa mmemberi makan orang mukmin atau
bersdekah dengan suatu pemberian, kelak di hari Kiamat ia dibangkitkan oleh Allah dalam
keadaan aman, papan timbangannya diberati/dimenangkan dengan amal baik yang berat,
melebihi gunung Uhud".
(Majalis - duratun nasihin hal 1077)
Dzulhijjah
Rasulullah saw, bersabda,...
"Tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah padanya daripada 10 hari Dzulhijjah.
Shaum setiap hari padanya sebanding dengan shaum setahun. Dan qiyamul lail setiap malam
padanya sebanding dengan qiyam lailatul qadr."
(Hr. at-Tirmidzi, III:131; Syarh as-Sunnah, II:292).
Dzulhijjah 3
Rasulullah SAW bersabda,...
"Hari-hari di dunia yang paling utama adalah sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijah)."
Para sahabat bertanya, "Hari-hari yang dipergunakan (jihad) di jalan Allah juga tidak
menandinginya?" Beliau menjawab, "Hari-hari yang dipergunakan di jalan Allah juga tidak
mampu menandinginya, kecuali seseorang yang wajahnya terjerembab di dalam debu (gugur di
medan jihad hingga wajahnya beralaskan tanah)."
(HR. Al-Bazzar dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)
Dzulhijjah 2





...,Dari Ibnu Abbas,berkata
,Rasulullah saw. bersabda
Tidak ada dalam hari-hari yang amal shalih padanya lebih dicintai Allah daripada hari-hari yang "
".sepuluh ini (di bulan Dzulhijjah)
"..?Para sahabat bertanya, "(apakah) jihad fi Sabilillah juga tidak termasuk
...,Rasul saw menjawab
Tidak, kecuali seseorang yang berkorban dengan jiwanya dan hartanya kemudian dia tidak"
".mengharapkan apa-apa darinya
(Hr. At-Tirmidzi,Tuhfah al-Ahwadzi, III: 463)
Dzulhijjah
Dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bersabda,
:



Tiada hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal kebaikan pada hari tersebut lebih dicintai "
oleh Allah, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah ini. Maka hendaklah kalian
".memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid
(HR. Ahmad)
Sakit
Allah berfirman dalam Al Quran, Ada hal yang ditetapkan bagimu yang tidak kamu sukai
padahal baik bagimu, dan ada hal yang kamu sukai padahal tidak baik bagimu. Sufi besar Imam
Ghazali ra, menjelaskan gagasan ini sebagai berikut, Sakit adalah salah satu bentuk pengalaman
yang membawa manusia sampai kepada pengetahuan tentang Tuhan; seperti dikatakan-Nya,
Sakit adalah pelayan-Ku yang Aku berikan kepada sahabat pilihan-Ku.
(Syaikh Hakim Abu Abdullah Muinuddin Chisyti)
Pengemis
Rasulullah SAW. bersabda,...
"Apabila datang seorang pengemis, maka jangan kamu putus (tolak) permintaannya sehingga
selesai permintaanya. Kemudian kamu jawab dengan sopan dan lunak, dengan memberi sedikit
atau penolakan yang baik, sebab ada kalanya yang datang kepadamu itu bukan manusia dan
bukan jin, hanya sekedar menguji kamu, bagaimana kamu berbuat terhadap nikmat yang telah
diberikan Allah kepadamu."
(Hr. Al Mardawaih)
Taklif dan Al-Balwa
Dituturkan pada zaman awal kenabian bahwa seseorang dari generasi awal (al-mutaqaddimun),
yang diturunkan wahyu kepada mereka, memikirkan taklif dan ujian (al-balwa). Belum tampak
baginya aspek hikmah dalam hal itu. Allah Taala memerintahkan kepadanya agar ia
merenungkanNya dan hamba-hambaNya.

Maka ia pun mulai bermunajat kepada Tuhannya, dalam khalwatnya dengan batin dan lisannya.
Ia berkata,..

Wahai Tuhanku, Engkau ciptakan aku, tetapi Engkau tidak berkonsultasi denganku. Kemudian,
Engkau matikan aku, tetapi Engkau tidak bermusyawarah denganku. Engkau memerintahku dan
melarangku, tetapi Engkau tidak mencenderungkanku. Engkau kuasakan atasku hawa nafsu
yang membinasakan dan setan yang menyesatkan. Engkau turutkan dalam diriku syahwat-
syahwat (keinginan) yang terpancang.

Engkau jadikan diantara kedua mataku dunia terhias. Kemudian, Engkau takutkan padaku, dan
Engkau merintangiku (untuk memperolehnya) dengan janji buruk dan ancaman. Engkau
katakan, ...dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu menyesatkanmu dari
jalanKu. Waspadailah setan agar jangan menyesatkanmu dan dunia agar jangan menipumu,
jauhilah syahwatmu agar ia tidak membinasakanmu, dan jauhilah angan-angan dan harapanmu
agar tidak melalaikanmu. Aku wasiatkan kepadamu tentang anak-anakmu; ajarilah mereka
tentang kehidupanmu; carilah yang halal. Engkau akan ditanya jika tidak men-carinya, dan
engkau akan ditanya jika menuntutnya dengan cara yang tidak selayaknya. Janganlah engkau
lupakan akhirat sebagaimana engkau tidak melupakan bagianmu di dunia ini. Berbuat baiklah
sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau mencari kerusakan di bumi.
Janganlah engkau berpaling dari akhirat, sehingga engkau akan kehilangan dunia dan akhirat.
Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Aku telah sampai, wahai Tuhanku,...


Pada perkara-perkara yang saling bertentangan,
Kekuasaan yang memiliki daya tarik dan kekuatan-kekuatan yang berlawanan.
Aku tidak tahu, bagaimana aku harus berbuat...
Aku tidak memperoleh petunjuk ihwal apa yang harus aku perbuat.
Aku menjadi bingung dalam urusan-urusanku.
Tolonglah aku, wahai Tuhanku...
Genggamlah tanganku....
Tunjukkan aku pada jalan keselamatanku.
Jika tidak, maka aku binasa!...

Maka Allah mewahyukan kepadanya,...

Wahai hambaKu,..
Tidaklah Aku memerintahkanmu dengan sesuatu agar engkau menolongKu,...
Dan Aku tidak melarangmu dari sesuatu, yang akan membahayakanKu jika engkau
melakukannya.
Akan tetapi,...
Aku memerintahkanmu, agar semata-mata engkau tahu bahwa engkau memiliki Rabb
(pemelihara);
Dialah yang menciptakanmu, yang memberimu rezeki, yang menjadi sembahanmu, dan yang
menjadikanmu. Dialah yang menjagamu. Dialah yang menemanimu, yang membantumu dan
menolongmu, agar engkau tahu bahwa engkau, dalam segala sesuatu yang Aku larang darimu,
memerlukan pemeliharaan, penjagaan dan perlindunganKu.
Di dalam seluruh tindakan dan ihwalmu dalam segenap waktumu, dari urusan dunia dan
akhiratmu, siang dan malam, engkau membutuhkanKu, Karena tidak terlewatkan bagiKu
urusan-urusanmu, baik yang besar maupun yang kecil, yang tersembunyi maupun yang terang-
terangan.
Juga agar jelas bagimu dan agar engkau tahu bahwa engkau berharap dan butuh kepadaKu.
Mestilah engkau berharap dariKu. Maka ketika itu engkau tidak berpaling dariKu, tidak
melalaikanKu, tidak melupakanKu, dan tidak disibukkan dengan selainKu.
Akan tetapi, dalam seluruh waktu engkau ingat kepadaKu;
dalam seluruh ihwal dan keperluanmu, engkau memohon kepadaKu;
dalam seluruh tindakanmu, engkau tujukan kepadaKu;
dalam segenap kesendirianmu, engkau bermunajat, bermusyahadah dan mengawasiKu.
Maka jadilah engkau terputus dari semua makhlukKu untuk sampai kepadaKu, dan lepas dari
mereka agar terpaut kepadaKu.

Engkau pun menjadi tahu bahwa Aku senantiasa bersamamu di mana saja engkau berada.
Aku melihatmu, meskipun engkau tidak melihatKu. Ketika engkau menginginkan hal ini semua
dan engkau yakin, hendaklah engkau memiliki hakikat ihwal apa yang engkau katakan, dan
kebenaran dari apa yang engkau sifatkan.

Engkau tinggalkan seluruh yang ada di belakangmu, dan engkau menghadap sendiri kepadaKu.
Ketika itu, Aku dekatkan engkau kepadaKu. Aku sampaikan engkau kepadaKu, dan Aku angkat
engkau di sisiKu. Maka jadilah engkau diantara para waliKu, para shafiKu dan penghuni
surgaKu, dalam kedekatan denganKu bersama para malaikatKu; engkau dimuliakan,
diutamakan, senang, bahagia, mendapat kenikmatan, mendapat kelezatan dan tenteram;
dikekalkan, dilanggengkan, abadi dan tetap selama-lamanya. Maka janganlah engkau
berprasangka buruk kepadaKu, wahai hambaKu, dengan prasangka yang buruk. Janganlah
engkau membayangkan-Ku selain dengan yang dituntut kemuliaan dan kemurahanKu. Ingatlah
nikmatKu kepadamu yang sudah berlalu,
kebaikanKu kepadamu yang terdahulu, keindahan keadaanKu kepadamu ketika Aku ciptakan
dirimu. Saat itu, engkau belum menjadi sesuatu yang disebut dan belum menjadi ciptaan yang
normal. Lalu aku jadikan bagimu pendengaran yang halus, penglihatan yang tajam, perasaan
yang lembut, hati yang cerdik, pemahaman yang cerdas, akal yang jernih, pemikiran yang
cemerlang, lidah yang fasih, pikiran yang teguh, anatomi yang sempurna, rupa yang bagus,
anggota-anggota tubuh yang sehat, sempurna dan patuh.
Kemudian Aku ilhamkan kepadamu kalam dan ucapan.
Aku beritahukan kepadamu manfaat dan mudharat;
tata cara melakukan aktivitas, tindakan dan perbuatan;
dan menyingkap tirai dari penglihatanmu.
Aku buka matamu untuk melihat kerajaanKu, maka engkau pun melihat pergantian siang dan
malam, perputaran tata surya dan peredaran planet-planet.
Aku ajarkan kepadamu perhitungan waktu, zaman dan bulan; windu, tahun dan hari. Aku
tundukkan kepadamu apa yang ada di daratan dan lautan berupa logam-logam, tumbuhan dan
binatang.
Engkau menggunakannya sebagai pemilik dan mengaturnya sebagai penata.

Maka ketika Aku melihat engkau melampaui batas, menganiaya, durhaka, berkhianat, zalim,
tiran dan melewati batas serta ukuran, maka Aku kenalkan kepadamu hukum dan hukuman, kias
dan ukuran, adil dan pertengahan, hak dan kebenaran, kebaikan dan kepatuhan, serta
perjalanan hidup yang seimbang agar kekal bagimu karunia dan kenikmatan serta dihindarkan
dari azab dan siksaan.
Aku sampaikan engkau pada sesuatu yang lebih baik dan lebih utama, lebih mulia, lebih agung,
dan lebih terhormat, serta lebih lezat dan lebih nikmat. Tetapi, kemudian engkau berprasangka
kepadaKu dengan prasangka yang buruk, dan membayangkanKu dengan selain kebenaran.
Wahai hambaKu,...
Jika engkau merasa sulit mengerjakan sesuatu yang Aku perintahkan kepadamu, ucapkanlah,...

laa haula wa laa quwata illa billahilaliyiladhim.

tiada daya dan upaya kecuali dengan (pertolongan) Allah yang Maha tinggi dan Mahaagung.
sebagaimana diucapkan oleh para pemikul Arsy ketika merasa berat memikulnya.

Jika suatu musibah menimpamu, ucapkanlah,..

sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepadaNyalah kami kembali. (Qs.
Al Baqarah 2:157) sebagaimana diucapkan oleh orang yang ikhlas kepadaKu dan mencintaiKu.

Jika kakimu tergelincir dalam ujianKu, ucapkanlah seperti apa yang diucapkan shafiKu, yakni
Adam dan istrinya;

Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak
mengampuni dan mengasihani kami, niscaya kami termasuk orang yang merugi. (Qs. Al Araaf
7:23)

Jika sesuatu menjadi sulit bagimu dan pikiran menyusahkanmu atau engkau menginginkan
petunjuk dan perkataan yang benar, maka ucapkan-lah seperti apa yang diucapkan kekasih-Ku,
Ibrahim as,..

Dia yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Dia yang
memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.
Dia Yang mematikan aku, kemudian akan menghidupkanku kembali. Dia yang amat kuinginkan
akan mengampuni kesala-hanku pada hari kiamat. Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah,
dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, jadikanlah aku buah tutur
yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang
yang mem-pusakai surga yang penuh kenikmatan. Ampunilah bapaku, karena sesungguh-nya dia
adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat. Janganlah Engkau hinakan aku pada hari
mereka dibangkit-kan, di hari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali yang menghadap
Allah dengan qalb yang salim. (Qs. Asy-Syuara, 26:78-89)

Apabila suatu musibah menimpamu, ucapkanlah seperti apa yang telah Aku ajarkan
kepadamu, yang telah Aku turunkan kepadamu dari ucapan Yaqub as,.. Sesungguhnya
hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari
Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Qs. Yusuf, 12:86)

Jika engkau melakukan kesalahan, ucapkanlah seperti apa yang diucapkan Musa as, Ini
adalah perbuatan setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata.
(Qs. Al Qashshah, 28:15)

Jika suatu kemaksiatan berlalu darimu, ucapkanlah seperti apa yang diucapkan Yusuf as atau
sahabatnya,

Dan aku tidak membesakan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada keburukan, kecuali nafs yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Yusuf, 12:53)

Jika Allah mengujimu dengan suatu ujian, maka lakukanlah apa yang disebutkan Allah
mengenai Dawud as, Maka dia meminta ampun kepada Tuhannya, lalu menyungkur sujud dan
bertaubat. (Qs. Shad, 38:42)

Jika engkau melihat orang-orang durhaka dari makhluk-makhluk Allah dan orang-orang yang
berbuat salah dari hamba-hamba Allah sementara engkau tidak tahu apa hukum Allah terhadap
mereka, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan Isa as,.. Jika Engkau menyiksa mereka,
maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu. Dan jika Engkau mengampuni mereka,
maka sesungguhnya Engkau Maha perkasa lagi Mahabijaksana. (Qs. Al Maidah, 5/;118)
Jika engkau memohonkan ampunan kepada Allah dan mencari maafNya, maka ucapkanlah
seperti diucapkan Muhammad saw dan para Ansharnya,..
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami
memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah maula kami,
maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (Qs. AL Baqarah, 2:286)

Jika engkau takut akan akibat suatu urusan, dan engkau tidak tahu apa kesudahannya bagimu,
maka ucapkanlah seperti yang diucapkan para ashfiya (orang-orang kepercayaan Allah),... Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau
beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena
sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk hari yang tak ada keraguan padanya.
Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (Qs. Ali Imran, 3:8-9)

Dari Wasiat Ibnu Arabi

Hujan di bumi
Abu Musa r.a berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang kubawa dari Allah taala bagaikan hujan deras yang
jatuh ke bumi. Ada diantaranya bumi yang menyerap air tersebut dan menyimpannya lalu
menumbuhkan tanaman yang banyak. Ada pula bumi yang keras, maka air tidak dapat terserap,
tetapi dengannya Allah taala menjadikan manusia dapat meminum airnya dan menggunakan
untuk bercocok tanam. Ada pula bumi yang tidak dapat menyerap air dan tidak menumbuhkan
tanaman.

- [Yang pertama] itulah orang yang memahami Diin Allah dan memanfaatkannya bagi dirinya
serta mengajarkan pada orang lain.
- [Yang kedua] orang yang tidak mendapatkan manfaat dari petunjuk Allah
(meskipun ilmu sudah ditangannya) tetapi orang lain yang memanfaatkannya.
- [Yang ketiga] orang yang sama sekali hatinya tidak dapat ditempati oleh petunjuk dan ilmu
dari Allah Taala.

(Hadits Riwayat Bukhari)

Nur Muhammad saw


Suatu hari Sayidina Ali, karamAllahu-wajhahu, bertanya kepada Nabi saw,...
"Wahai Muhammad, kedua orang tuaku akan menjadi jaminanku, mohon katakan padaku apa
yang diciptakan Allah Ta'ala sebelum semua makhluq ciptaan?..."

Berikut ini adalah jawabannya yang indah,..

"Sesungguhnya, sebelum Rabb-mu menciptakan lainnya, Dia menciptakan dari Nur-Nya -nur
Nabimu, dan Nur itu diistirahatkan -haithu-mashaAllah, dimana Allah menghendakinya untuk
istirahat. Dan pada waktu itu tidak ada hal lainnya yang hadir -tidak lauh al-mahfudz, tidak
Sang Pena, tidak Surga ataupun Neraka, tidak Malaikat Muqarabin, tidak langit ataupun dunia;
tiada matahari, tiada rembulan, tiada bintang, tiada jin atau manusia atau malaikat -belum ada
apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.
Kemudian Allah Swt dengan iradat-Nya menghendaki adanya ciptaan.

Dia kemudian membagi Nur ini menjadi empat bagian.


- dari bagian pertama Dia menciptakan Pena,
- dari bagian kedua lauh al-mahfudz,
- dari bagian ketiga Arsy.

Kini telah diketahui bahwa ketika Allah menciptakan lauh al-mahfudz dan Pena, pada Pena itu
terdapat seratus simpul, jarak antara kedua simpul adalah sejauh dua tahun perjalanan.
Allah Ta'ala kemudian memerintahkan Pena untuk menulis, dan Pena bertanya,
"Ya Allah, apa yang harus saya tulis?.."
Allah Ta'ala berkata,..
"Tulislah,..'la ilaha illAllah, MuhammadarRasulullah'"
Atas itu Pena berseru,..
"Oh, betapa sebuah nama yang indah, agung, Muhammad itu bahwa dia disebut bersama Asma
Mu yang Suci, ya Allah..."

Allah Ta'ala kemudian berkata,..


"Wahai Pena, jagalah kelakuan mu!..
Nama ini adalah nama Kekasih-Ku,
Dari Nurnya Aku menciptakan Arsy dan Pena,
Dan lauh al-mahfudz; kamu, juga diciptakan dari Nur nya.
Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun."

Ketika Allah Ta'ala telah mengatakan kalimat tersebut, Pena itu terbelah dua karena takutnya
akan Allah, dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup/terhalang,
sehingga sampai dengan hari ini ujung nya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak
menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiah yang agung. Maka, jangan seorangpun gagal dalam
memuliakan dan menghormati Nabi Suci, atau menjadi lalai dalam mengikuti contohnya (Nabi)
yang cemerlang, atau membangkang/meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada
kita.

Kemudian Allah memerintahkan Pena untuk menulis.


"Apa yang harus saya tulis, Ya Allah?.." bertanya Pena.
Kemudian Rabb al Alamin berkata,
"Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan."
Berkata Pena, "Ya Allah, apa yang harus saya mulai?.."
Berkata Allah,
"Kamu harus memulai dengan kata-kata ini,..
Bismillah al-Rahman al-Rahim..."

Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, kemudian Pena bersiap untuk menulis kata-kata
itu pada Kitab (lawh al-mahfoudh), dan dia menyelesaikan tulisan itu dalam 700 tahun. Ketika
Pena telah menulis kata-kata itu, Allah swt berbicara dan berkata,

"Telah memakan 700 tahun untuk kamu menulis tiga Nama Ku; Nama Keagungan Ku, Kasih
Sayang Ku dan Empati Ku. Tiga kata-kata yang penuh barakah ini saya buat sebagai sebuah
hadiah bagi ummat Kekasih Ku Muhammad. Dengan Keagungan-Ku Aku berjanji bahwa
bilamana abdi manapun dari ummat ini menyebutkan kata Bismillah dengan niat yang murni,
Aku akan menulis 700 tahun pahala yang tak terhitung untuk abdi tadi, dan 700 tahun dosa akan
Aku hapuskan."

Sekarang (selanjutnya), bagaian ke-empat dari Nur itu Aku bagi lagi menjadi empat bagian :
- Dari bagian pertama Aku ciptakan Malaikat Penyangga Singgasana (hamalat al-`Arsh);
- Dari bagian kedua Aku telah ciptakan Kursi, majelis Ilahiah (Langit atas yang menyangga
Singgasana Ilahiah, `Arsh);
- Dari bagian ketiga Aku ciptakan seluruh malaikat (makhluq) langit lainnya;

Dan bagian ke-empat Aku bagi lagi menjadi empat bagian,..


- dari bagian pertama Aku membuat semua langit,
- dari bagian kedua Aku membuat bumi-bumi ,
- dari bagian ketiga Aku membuat Jinn dan api.

Bagian keempat Aku bagi lagi menjadi empat bagian,..


- dari bagian pertama Aku membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman;
- dari bagian kedua Aku membuat cahaya di dalam jantung mereka, merendamnya dengan ilmu
ilahiah;
- dari bagian ketiga cahaya bagi lidah mereka yang adalah cahaya Tawhid (Hu Allahu Ahad),
- dan dari bagian keempat Aku membuat berbagai cahaya dari ruh Muhammad s.a.w..

Ruh yang cantik ini diciptakan 360,000 tahun sebelum penciptaan dunia ini, dan itu dibentuk
sangat (paling) cantik dan dibuat dari bahan yang tak terbandingkan.
- Kepalanya dibuat dari petunjuk,
- lehernya dibuat dari kerendahan hati,
- Matanya dari kesederhanaan dan kejujuran,
- Dahinya dari kedekatan (kepada Allah),
- Mulutnya dari kesabaran,
- Lidahnya dari kesungguhan,
- Pipinya dari cinta dan ke-hati-hati-an,
- Perutnya dari tirakat terhadap makanan dan hal-hal keduniaan,
- Kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus,
- Dan jantungnya yang mulia dipenuhi dengan rahman.
- Ruh yang penuh kemuliaan ini diajari dengan rahmat dan dilengkapi dengan adab semua
kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalahnya dan kualitas kenabiannya
dipasang. Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah dipasangkan pada kepalanya yang penuh
barokah, masyhur dan tinggi diatas semua lainnya, didekorasi dengan Ridha Ilahiah dan
diberi nama Habibullah (Kekasih Allah) yang murni dan suci.
Sesudah ini Allah Swt., menciptakan 12 tabir.
- Yang pertama dari itu adalah Tabir Kekuatan didalam mana Ruh Nabi saw. bermukim (tinggal)
selama 12,000 tahun, membaca Subhana rabbil-ala (Maha Suci Rabb-ku, Maha Tinggi).
- Yang kedua adalah Tabir Kebesaran dalam mana dia ditutupi selama 11,000 tahun, berkata,
Subhanal'Alim al-Hakim (Maha Suci Rabb-ku, Maha Tahu, Maha Bijak).
- Dia dipingit selama 10,000 tahun dalam Tabir Kebaikan, mengucapkan Subhana man huwa
daim, la yaqta (Maha Suci Rabb-ku Yang Abadi, Yang Tidak Berakhir).
- Tabir ke-empat adalah Tabir Rahman, disitu ruh mulia itu tinggal selama 9,000 tahun, memuja
Allah, berkata: Subhanarafi-al-`ala (Maha Suci Rabb ku Yang Ditinggikan, Maha Tinggi).
- Tabir kelima adalah Tabir Nikmat, dan di situ tinggal selama 8,000 tahun, mengagungkan
Allah dan berkata, Subhana man huwa qaimun la yanam. (Maha Suci Rabb-ku Yang
Selalu Ada, Yang Tidak Tidur).
- Tabir ke-enam adalah Tabir Kemurahan; dimana dia tinggal selama 7,000 tahun, memuja,
Subhana-man huwal-ghaniyu la yafqaru (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Kaya, Yang
Tidak Pernah Menjadi Miskin).
- Kemudian diikuti tabir ke tujuh, Tabir Kedudukan. Disini ruh tercerahkan itu tinggal selama
6,000 tahun, memuja Allah dan berkata : Subhana man huwal Khaliq-an-Nur (Maha Suci Rabb-
ku Maha Pencipta, Maha Cahaya).
- Berikutnya, Dia menyelimutinya dengan tabir ke delapan, Tabir Petunjuk dimana dia tinggal
selama 5,000 tahun, memuja Allah dan berkata, Subhana man lam yazil wa la yazal. (Maha
Suci Rabb-ku Yang Keberadaan Nya Tak Pernah Berhenti, Yang Tidak Musnah).
- Kemudian diikuti tabir ke sembilan, yaitu Tabir Kenabian dimana dia tinggal selama 4,000
tahun, mengagungkan Allah: 'Subhana man taqarrab bil-qudrati wal-baqa. (Maha Suci Rabb-
ku yang Mengajak Dekat dengan Maha Kuat dan Maha Langgeng).
- Kemudian datang Tabir Keunggulan, tabir ke sepuluh dimana ruh yang tercerahkan ini tinggal
selama 3,000 tahun, membaca pepujian untuk Pencipta dari Semua Sebab, berkata, 'Subhana
dhil-arshi amma yasifun (Maha Suci Rabb-ku Pemilik Singgasana Diatas Semua Karakter Yang
Dilekatkan KepadaNya).
- Tabir ke-sebelas adalah Tabir Cahaya. Disana dia tinggal selama 2,000 tahun, berdoa,
'Subhana dhil-Mulk walMalakut. (Maha Suci Rabb-ku Maha Raja semua Kerajaan Langit dan
Bumi).
- Tabir ke-dua belas adalah Tabir Intervensi (Syafaat), dan disana dia tinggal selama 1,000
tahun, berkata 'Subhanarabbil-azhim (Maha Suci Rabb-ku, Maha Agung).

Setelah itu Allah Ta'ala menciptakan sebuah pohon yang dikenal sebagai Pohon
Kepastian. Pohon ini memiliki empat cabang. Dia menempatkan ruh yang diberkahi tadi pada
salah satu cabang, dan dia terus menerus memuja Allah untuk 40,000 tahun, mengatakan,
'Allahu dhulJalali wal-Ikram. (Allah, Pemilik Keperkasaan dan Kebaikan).'

Setelah dia memuja Nya demikian itu dengan pepujian yang banyak dan beragam, Allah S.W.T.
menciptakan sebuah cermin,dan Dia meletakannya demikian hingga menghadapi
ruh Habibullah, dan memerintahkan ruh itu untuk memandangi cermin itu.

Ruh itu melihat ke dalam cermin dan melihat dirinya terpantul sebagai pemilik bentuk yang
paling cantik/ bagus dan sempurna. Dia kemudian membaca lima kali, 'Shukran lillahi taala
(terima
kasih kepada Allah, Maha Tinggi Dia), dan tersungkur dalam posisi sujud dihadapan Rabb-nya.
Dia tetap bersujud seperti itu selama 100 tahun, mengatakan,..
'Subhanal-aliyyul-azhim, wa la yajhalu. (Maha Suci Rabb ku Maha Tinggi Maha Anggun,
Yang Tidak Mengabaikan Apapun);
'Subhanal-halim alladhi la yuajjalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Toleran, Yang Tidak Tergesa-
gesa); 'Subhanal-jawad alladhi la yabkhalu. (Maha Suci Rabb ku Maha Pemurah Yang Tidak
Pelit).
Karena itulah Penyebab (Adanya) Makhluq mewajibkan ummat Muhammad s.a.w. untuk
melakukan sujud (sajda) lima kali dalam sehari lima shalat dalam jangka waktu siang
sampai malam, ini adalah sebuah hadiah kehormatan bagi ummat Muhammad s.a.w..

Berikutnya Allah menciptakan sebuah lampu jamrut hijau dari Cahaya, dan dilekatkan pada
pohon itu melalui seuntai rantai cahaya. Kemudian Dia menempatkan ruh Muhammad s.a.w. di
dalam
lampu itu dan memerintahkannya untuk memuja Dia dengan Nama Paling Indah (Asma al-
Husna). Itu dilakukannya, dan dia mulai membaca setiap satu dari Nama itu selama 1,000
tahun. Ketika dia sampai kepada Nama arRahman (Maha Kasih), pandangan ar-Rahman jatuh
kepadanya dan ruh itu mulai berkeringat karena kerendahan hatinya. Tetesan keringat jatuh
dari padanya, sebanyak yang jatuh itu menjadi nabi dan rasul, setiap tetes keringat beraroma
mawar berubah menjadi ruh seorang nabi.
Mereka semua berkumpul di sekitar lampu di pohon itu, dan Azza wa Jala berkata kepada Nabi
Muhammad s.a.w., "Lihatlah ini sejumlah besar nabi yang Aku ciptakan dari tetesan keringatmu
yang menyerupai mutiara."

Mematuhi perintah ini, dia memandangi mereka itu, dan ketika cahaya mata itu menyentuh
menyinari objek itu, maka ruh para nabi itu sekonyong konyong tenggelam dalam Nur
Muhammad
s.a.w., dan mereka berteriak, "Ya Allah, siapa yang menyelimuti kami dengan cahaya?.."

Allah Ta'ala menjawab mereka,


"Ini adalah Cahaya dari Muhammad, KekasihKu,
dan kalau kamu akan beriman kepadanya dan menegaskan risalah kenabiannya, Aku akan
menghadiahkan kepada kamu kehormatan berupa kenabian."

Dengan itu semua ruh para nabi itu menyatakan iman mereka kepada kenabiannya, dan Allah
berkata, "Aku menjadi saksi terhadap pengakuanmu ini." dan mereka semua
setuju. Sebagaimana disebutkan di dalam al Quran yang Suci:

"Dan ketika Allah bersepakat dengan para nabi itu, Bahwa Aku telah memberi kamu Kitab dan
Kebijakan; kemudian akan datang kepadamu seorang Rasul yang menegaskan kembali apa-apa
yang telah apa padamu kamu akan beriman kepadanya dan kamu akan membantunya; apa
kamu setuju? Dia berkata. Dan apakah kamu menerima beban Ku kepadamu dengan syarat
seperti itu. Mereka berkata, "Benar kami setuju." Allah berkata, "Bersaksilah demikian, dan Aku
akan bersama kamu diantara para saksi." (Qs. Ali Imran, 3:75-76)

Kemudian ruh yang murni dan suci itu kembali melanjutkan bacaan Asma ul Husna lagi. Ketika
dia sampai kepada Nama al-Qahhar, kepalanya mulai berkeringat sekali lagi karena intensitas
dari al Qahhar itu, dan dari butiran keringat itu Allah menciptakan ruh para malaikat yang
diberkati.
- Dari keringat pada mukanya, Allah menciptakan Singgasana dan Hadhirat Ilahiah, Kitab
Induk dan Pena, matahari, rembulan dan bintang -bintang.
- Dari keringat di dadanya Dia menciptakan para ulama, para syuhada dan para mutaqin.
- Dari keringat pada punggungnya dibuatlah Bayt-al-Mamur (rumah surgawi), Kabatullah
(Kaba), dan Bayt-al-Muqaddas (Haram Jerusalem), dan Rauda-i-Mutahhara (kuburan Nabi
Suci s.a.w.di Madinah), begitu juga semua mesjid di dunia ini.
- Dari keringat pada alisnya dibuat semua ruh kaum beriman, dan dari keringat punggung
bagian bawahnya dibuatlah semua ruh kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung.
- Dari keringat di kakinya dibuatlah semua tanah dari timur ke barat, dan semua apa-apa yang
berada didalamnya.

Dari setiap tetes keringatlah, ruh seorang beriman atau tak-beriman dibuatnya. Itulah sebabnya
Nabi Suci s.a.w.disebut juga sebagai 'Abu Arwah', 'Ayah para Ruh'. Semua ruh ini berkumpul
mengelilingi ruh Muhammad s.a.w., berputar mengelilinginya dengan pepujian dan
pengagungannya selama 1,000 tahun; kemudian Allah memerintahkan para ruh itu untuk
memandang ruh Muhammad
s.a.w.. Para ruh pun mematuhi.

- Di antara mereka yang pandangannya jatuh kepada kepalanya ditakdirkan menjadi raja dan
kepala negara di dunia ini.
- Mereka yang memandang kepada dahinya menjadi pemimpin yang adil.
- Mereka yang memandang matanya akan menjadi hafiz Kalimat Allah (yaitu seorang yang
memegangnya kedalam ingatannya).
- Mereka yang memandang alisnya akan menjadi pelukis dan artist.
- Mereka yang memandang telinganya akan menjadi mereka yang menerima peringatan dan
nasehat.
- Mereka yang melihat pipinya yang penuh barakah menjadi pelaksana karya yang bagus
dan pantas.
- Mereka yang melihat mukanya menjadi hakim dan pembuat wewangian,
- dan mereka yang melihat bibirnya yang penuh barokah menjadi menteri.
- Barang siapa melihat mulutnya akan menjadi mereka yang banyak berpuasa.
- Barangsiapa yang melihat giginya akan menjadi kelihatan bagus/cantik,
- dan siapa yang melihat lidahnya akan menjadi utusan /duta raja-raja.
- Barang siapa melihat tenggorokannya yang penuh barokah akan menjadi khatib dan
muadhdhin (yang mengumandangkan adhan).
- Barang siapa memandang janggutnya akan menjadi pejuang di jalan Allah.
- Barang siapa memandang lengan atasnya akan menjadi seorang pemanah atau pengemudi
kapal laut,
- dan barang siapa melihat lehernya akan menjadi usahawan dan pedagang.
- Siapa yang melihat tangan kanannya akan menjadi seorang pemimpin,
- dan siapa yang melihat tangan kirinya akan menjadi seorang pembagi (yang
menguasai timbangan dan mengukur jatah kebutuhan hidup).
- Siapa yang melihat telapak tangannya menjadi seorang yang gemar memberi;
- Siapa yang melihat belakang tangannya akan menjadi kolektor.
- Siapa yang melihat bagian dalam dari tangan kanannya menjadi seorang pelukis;
- Siapa yang melihat ujung jari tangan kanannya akan menjadi seorang kalligrapher,
- dan siapa yang melihat ujung jari tangan kirinya akan menjadi seorang pandai besi.
- Siapa yang melihat dadanya yang penuh baraokah akan menjadi seorang terpelajar,
meninggalkan keduniaan (ascetic) dan berilmu.
- Siapa yang melihat punggungnya akan menjadi seorang yang rendah hati dan patuh
pada hukum Sharia.
- Siapa yang melihat sisi badannya yang penuh barokah akan menjadi seorang pejuang.
- Siapa yang melihat perutnya akan menjadi orang yang puas,
- dan siapa yang melihat lutut kanannya akan menjadi mereka yang melaksanakan ruk'u dan
sujud.
- Siapa yang melihat kakinya yang penuh barokah akan menjadi seorang pemburu,
- dan siapa yang melihat telapak kakinya menjadi mereka yang suka bepergian.
- Siapa yang melihat bayangannya akan mejadi penyanyi dan pemain saz (lute).
- Semua yang memandang tetapi tidak melihat apa-apa akan menjadi kaum tak beriman, pemuja
api dan pemuja patung.
- Mereka yang tidak memandang sama sekali akan menjadi mereka akan menyatakan bahwa
dirinya adalah tuhan, seperti Nimrod, Fir'aun dan sejenisnya.
Kini semua ruh itu diatur dalam empat baris.
- Di baris pertama berdiri ruh para nabi dan rasul, as.;
- Di baris kedua ditempatkan ruh para orang suci, para sahabat Allah;
- Di baris ketiga berdiri ruh kaum beriman, laki dan perempuan;
- Di baris ke empat berdiri ruh kaum tak-beriman.

Semua ruh ini tetap berada dalam dunia ruh di hadhirat Allah Swt. sampai waktu mereka tiba
untuk dikirim ke dunia fisik. Tidak seorang pun tahu kecuali Allah Swt.. yang tahu berapa
selang waktu dari waktu diciptakannya ruh penuh barokah Nabi Muhammad sampai
diturunkannya dia dari dunia ruh ke bentuk fisiknya itu.

Diceritakan bahwa Nabi Suci Muhammad saw. bertanya kepada malaikat Jibril,...
"Berapa lama sejak engkau diciptakan?..."
Malaikat itu menjawab,...
"Ya Rasulullah, saya tidak tahu jumlah tahunnya, yang saya tahu bahwa setiap 70,000
tahun seberkas cahaya gilang gemilang menyorot keluar dari belakang kubah Singgasana
Ilahiah; sejak waktu saya diciptakan cahaya ini muncul 12,000 kali."
"Apakah engkau tahu apakah cahaya itu?.." bertanya Rasulullah Muhammad saw.
"Tidak, saya tidak tahu," berkata malaikat itu.
"Itu adalah Nur ruhku dalam dunia ruh." jawab Nabi Suci saw.

Pertimbangkan kemudian, berapa besar jumlah itu, jika 70,000 dikalikan 12,000...

Debu kaki Muhammad saw.


Abu Yazid Al-Busthami ra. berkisah,...

"Dengan tatapan yang pasti aku memandang Allah setelah Dia membebaskan diriku dari semua
makhluq-Nya, menerangi diriku dengan Cahaya-Nya, membukakan keajaiban-keajaiban
rahasiaNya dan menunjukkan kebesaranNya kepadaku.

Setelah menatapNya akupun memandang diriku sendiri dan merenungi rahasia serta hakekat diri
ini. Cahaya diriku adalah kegelapan jika dibandingkan dengan CahayaNya, kebesaran diriku
sangat kecil jika dibandingkan dengan kebesaranNya, kemuliaan diriku hanyalah kesombongan
yang sia-sia jika dibandingkan dengan kemuliaanNya. Di dalamNya segalanya suci sedang
didalam diriku segalanya kotor dan cemar.

Bila kurenungi kembali,


maka tahulah aku bahwa aku hidup karena cahaya Allah.
Aku menyadari kemuliaan diriku bersumber dari kemuliaan dan kebesaranNya.
Apapun yang telah kulakukan, hanya karena kemahakuasaanNya. Apapun yang telah terlihat
oleh mata lahirku, sebenarnya melalui Dia. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas.
Segala kebaktianku bersumber dariNya, bukan dari diriku sendiri, sedang selama ini aku
beranggapan bahwa akulah yang berbakti kepadaNya.

Aku bertanya, "Ya Allah, apakah ini?..."


Dia menjawab, "Semuanya adalah Aku, tidak ada sesuatupun juga kecuali Aku. Dan
sesungguhnya tidak ada wujud selain wujudKu."

Kemudian Ia menjahit mataku sehingga aku tidak dapat melihat.


Dia menyuruhku untuk merenungi akar permasalahan, yaitu diriNya sendiri.
Dia meniadakan aku dari kehidupanNya sendiri, dan Ia memuliakan diriku.

Kepadaku dibukakanNya rahasia diriNya sendiri, sedikitpun tidak tergoyahkan oleh karena
adaku. Demikianlah Allah, Kebenaran Yang Tunggal menambahkan realitas kedalam diriku.
Melalui Allah aku memandang Allah, dan kulihat Allah didalam realitasNya.

Di sana aku berdiam dan beristirahat untuk beberapa saat lamanya.


Kututup telinga dari derap perjuangan. Lidah yang meminta-minta kutelan ke dalam tenggorokan
keputusasaan. Kucampakkan pengetahuan yang telah kutuntut dan kubungkamkan kata hati yang
menggoda kepada perbuatan-perbuatan aniaya. Di sana aku berdiam dengan tenang. Dengan
karunia Allah aku membuang kemewahan-kemewahan dari jalan yang menuju prinsip-prinsip
dasar.
Allah Ta'ala menaruh belas kasih kepadaku. Ia memberkahiku dengan pengetahuan abadi dan
menanam lidah kebajikanNya ke dalam tenggorokanku. Untuk diciptakanNya sebuah mata dari
cahayaNya, semua makhluk kulihat melalui Dia. Dengan lidah kebajikan itu aku berkata-kata
kepadaNya, dengan pengetahuanNya kuperoleh sebuah pengetahuan, dan dengan cahaya Allah
aku menatap kepadaNya.

Allah Ta'ala berkata kepadaku,...


"Wahai engkau yang tak memiliki sesuatupun jua namun telah memperoleh segalanya, yang tak
memiliki perbekalan namun telah memiliki kekayaan".

"Ya Allah" jawabku, "Jangan biarkan diriku terperdaya oleh semua itu. Jangan biarkan aku
puas dengan diriku sendiri tanpa mendambakan diri-Mu. Adalah lebih baik jika Engkau menjadi
milikku tanpa aku, daripada aku menjadi milikku sendiri tanpa Engkau. Lebih baik jika aku
berkata-kata kepadaMu melalui Engkau, daripada aku berkata-kata kepada diriku sendiri tanpa
Engkau".

Allah Ta'ala berkata,...


"Oleh karena itu perhatikanlah hukumKu dan janganlah engkau melanggar perintah serta
laranganKu, agar Kami berterima kasih akan segala jerih payahmu.

"Aku telah membuktikan imanku kepadaMu dan aku benar-benar yakin bahwa sesungguhnya
Engkau lebih pantas untuk berterimakasih kepada diriMu sendiri dari pada kepada hambaMu.
Bahkan seandainya Engkau mengutuk diriku ini, Engkau bebas dari segala perbuatan aniaya."

"Dari siapakah engkau belajar?..", tanya Allah Ta'ala.

"Ia Yang Bertanya lebih tahu dari ia yang ditanya...",jawabku, "Karena Ia adalah Yang
Dihasratkan dan Yang Menghasratkan, Yang Dijawab dan Yang Menjawab, Yang Dirasakan dan
Yang Merasakan, Yang Ditanya dan Yang Bertanya".
Setelah Dia menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar seruan puas dari Allah.
Dia mencap diriku dengan cap kepuasanNya. Dia menerangi diriku, menyelamatkan diriku dari
kegelapan hawa nafsu dan kecemaran jasmani. Aku tahu bahwa melalui Dialah aku hidup dan
karena kelimpahanNya-lah aku bisa menghamparkan permadani kebahagiaan di dalam hatiku.

"Mintalah kepadaKu segala sesuatu yang engkau kehendaki..", kata Allah.


"Engkaulah yang kuinginkan...",jawabku, "Karena Engkau lebih dari kemurahan dan melalui
Engkau telah kudapatkan kepuasan di dalam Engkau. Karena Engkau adalah milikku, telah
kugulung catatan-catatan kelimpahan dan kemurahan. Janganlah Engkau jauhkan aku dari
diriMu dan janganlah Engkau berikan kepadaku sesuatu yang lebih rendah daripada Engkau".

Beberapa lama Dia tak menjawab.


Kemudian sambil meletakkan mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku, berkatalah Dia,:
"Kebenaranlah yang engkau ucapkan dan realitaslah yang engkau cari,
karena itu engkau menyaksikan dan mendengarkan kebenaran."

"Jika aku telah melihat".,kataku pula, "Melalui Engkau-lah aku melihat, dan jika aku telah
mendengar, melalui Engkaulah aku mendengar. Setelah Engkau, barulah aku mendengar".

Kemudian ku ucapkan berbagai pujian kepadaNya. Karena itu Ia hadiahkan kepadaku sayap
keagungan, sehingga aku dapat melayang-layang memandangi alam kebesaranNya dan hal-hal
menakjubkan dari ciptaanNya. Karena mengetahui kelemahanku dan apa-apa yang kubutuhkan,
maka Ia menguatkan diriku dengan perhiasan-perhiasanNya sendiri.

Ia menaruh mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan membuka pintu istana ketauhidan
untukku. Setelah Ia melihat betapa sifat-sifatku tauhid ke dalam sifat-sifatNya, dihadiahkanNya
kepadaku sebuah nama dari hadiratNya sendiri dan berkata-kata kepadaku dalam wujudNya
sendiri. Maka terciptalah Tauhid Dzat dan punahlah perpisahan.

"Kepuasan Kami adalah kepuasanmu..." kataNya, "Dan kepuasanmu adalah kepuasan Kami.
Ucapan-ucapanmu tak mengandung kecemaran dan tak seorangpun akan menghukummu karena
ke-aku-anmu".

Kemudian Dia menyuruhku untuk merasakan hunjaman rasa cemburu dan setelah itu Ia
menghidupkan aku kembali. Dari dalam api pengujian itu aku keluar dalam keadaan suci bersih.
Kemudian Dia bertanya,..
"Siapakah yang memiliki kerajaan ini?..."
"Engkau", jawabku
"Siapakah yang memiliki kekuasaan?..."
"Engkau", jawabku
"Siapakah yang memiliki kehendak?..."
"Engkau", jawabku

Karena jawaban-jawabanku itu persis seperti yang didengarkan pada awal penciptaan, maka
ditunjukkanNya kepadaku betapa jika bukan karena belas kasihNya, alam semesta tidak akan
pernah tenang, dan jika bukan karena cintaNya segala sesuatu telah dibinasakan oleh
keMahaPerkasaanNya. Dia memandangku dengan mata Yang Maha Melihat melalui medium
Yang Maha memaksa, dan segala sesuatu mengenai diriku sirna tak terlihat.

Di dalam kemabukan itu setiap lembah kuterjuni.


Kulumatkan tubuhku ke dalam setiap wadah gejolak api cemburu.
Kupacu kuda pemburuan di dalam hutan belantara yang luas.
Kutemukan bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada kepapaan dan tidak ada yang lebih baik
dari ketidak berdayaan.
Tiada pelita yang lebih terang dari pada keheningan,
Dan tiada kata-kata yang lebih merdu dari pada kebisuan.
Dan tiada pula gerak yang lebih sempurna dari pada diam.
Aku menghuni istana keheningan, aku mengenakan pakaian ketabahan, sehingga segala masalah
terlihat sampai keakar-akarnya. Dia melihat betapa jasmani dan ruhaniku bersih dari kilasan
hawa nafsu, kemudian dibukakanNya pintu kedamaian di dalam dadaku yang kelam dan
diberikanNya kepadaku lidah keselamatan dan ketauhidan.
Kini telah kumiliki sebuah lidah rahmat nan abadi, sebuah hati yang memancarkan nur ilahi, dan
mata yang ditempa oleh tanganNya sendiri. Karena Dia-lah aku berbicara dan dengan
kekuasaanNya-lah aku
memegang. Karena melalui Dia aku hidup, karena Dia-lah Dzat Yang Maha Hidup dan Maha
Menghidupi, maka aku tidak akan pernah mati. Karena telah mencapai tingkat keluhuran ini,
maka isyaratku adalah abadi, ucapanku berlaku untuk selama-lamanya, lidahku adalah lidah
tauhid dan ruhku adalah ruh keselamatan, ruh Islam. Aku tidak berbicara mengenai diriku sendiri
sebagai seorang pemberi peringatan. Dia-lah yang menggerakkan lidahku sesuai dengan
kehendakNya, sedang aku hanyalah seseorang yang menyampaikan. Sebenarnya yang berkata-
kata ini adalah Dia, bukan aku.

Setelah memuliakan diriku Dia berkata,...


"Hamba-hambaKu ingin bertemu denganmu."
"Bukanlah keinginanku untuk menemui mereka", jawabku.
"Tetapi jika Engkau menghendakiku untuk menemui mereka, maka aku tidak akan menentang
kehendakMu. Hiaslah diriku dengan ke-esaanMu, sehingga apabila hamba-hambaMu
memandangku yang terpandang oleh mereka adalah ciptaanMu. Dan mereka akan melihat Sang
Pencipta semata-mata, bukan diriku ini."

Keinginanku ini dikabulkanNya. DitaruhNya mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan Ia
membantuku mengalahkan jasmaniku.

Setelah itu Dia berkata,...


"Temuilah hamba-hambaKu itu."
Akupun berjalan selangkah menjauhi hadiratNya.
Tetapi pada langkah yang kedua aku jatuh terjerumus.
Terdengarlah seruan,:
"Bawalah kembali kekasihKu kemari.
Ia tidak dapat hidup tanpa Aku dan tidak ada satu jalanpun yang diketahuinya kecuali jalan
yang menuju Aku".
Setelah aku mencapai taraf tauhid Dzat-itulah saat pertama aku menatap Yang Esa, bertahun-
tahun lamanya aku mengelana di dalam lembah yang berada dikaki bukit pemahaman. Akhirnya
aku menjadi seekor burung dengan tubuh yang berasal dari ke-esa-an dan dengan sayap
keabadian. Terus menerus aku melayang-layang di angkasa kemutlakan. Setelah terlepas dari
segala sesuatu yang diciptakanNya, akupun berkata,
"Aku telah sampai kepada Sang Pencipta. Aku telah kembali kepadaNya".

Kemudian kutengadahkan kepalaku dari lembah kemuliaan. Dahagaku kupuaskan seperti yang
tak pernah terulang di sepanjang zaman. Kemudian selama tiga puluh ribu tahun aku terbang di
dalam sifatNya yang luas, tigapuluh ribu tahun di dalam kemuliaan perbuatanNya, dan selama
tiga puluh ribu tahun di dalam keesaan DzatNya. Setelah berakhir masa sembilan puluh ribu
tahun, terlihat olehku Abu Yazid, dan segala yang terpandang olehku adalah aku sendiri.

Kemudian aku jelajahi empat ribu padang belantara. Ketika sampai diakhir penjelajahan itu
terlihat olehku bahwa aku masih berada pada tahap awal kenabian. Maka kulanjutkan pula
pengembaraan yang tak berkesudahan di lautan tanpa tepi itu untuk beberapa lama, aku
katakan, "Tidak ada seorang manusia pun yang pernah mencapai kemuliaan yang lebih tinggi
daripada yang telah kucapai ini. Tidak mungkin ada tingkatan yang lebih tinggi daripada ini."

Tetapi ketika kutajamkan pandangan ternyata kepalaku masih berada di tapak kaki seorang Nabi.
Maka sadarlah aku bahwa tingkat terakhir yang dapat dicapai oleh manusia-manusia suci
hanyalah sebagai
tingkatan awal dari kenabian. Mengenai tingkat terakhir dari kenabian tidak dapat kubayangkan.

Kemudian ruhku menembus segala penjuru di dalam kerajaanNya. Surga dan neraka ditunjukkan
kepada ruhku itu tetapi ia tidak peduli. Apakah yang dapat menghadang dan membuatnya
peduli?... Semua sukma yang bukan Nabi yang ditemuinya tidak dipedulikannya.
Ketika ruhku mencapai sukma manusia kesayanganNya, yaitu Nabi Muhammad saw. terlihatlah
olehku seratus ribu lautan api yang tiada bertepi dan seribu tirai cahaya. Seandainya kujejakkan
kaki ke dalam lautan api yang pertama itu, niscaya aku hangus binasa. Aku sedemikian gentar
dan bingung sehingga aku menjadi sirna. Tetapi betapapun besar keinginanku, aku tidak berani
memandang tiang perkemahan Muhammad saw. Walaupun aku telah berjumpa dengan Allah
Ta'ala, tetapi aku tidak berani berjumpa dengan Muhammad saw.

Kemudian Abu Yazid berkata,...


"Ya Allah,... segala sesuatu yang telah terlihat olehku adalah aku sendiri.
Bagiku tiada jalan yang menuju kepadaMu selama aku ini masih ada.
Aku tidak dapat menembus keakuan ini, apakah yang harus kulakukan?..."

Maka terdengarlah perintah,...


"Untuk melepas keakuanmu itu ikutilah kekasih Kami, Muhammad, si orang Arab.
Usaplah matamu dengan debu kakinya dan ikutilah jejaknya."

Maka terjunlah aku ke dalam lautan api yang tak bertepi dan kutenggelamkan diriku kedalam
tirai-tirai cahaya yang mengelilingi Muhammad. Dan kemudian tak kulihat diriku sendiri, yang
kulihat Muhammad. Aku terdampar dan kulihat Abu Yazid berkata,...
"Aku adalah debu kaki Muhammad, maka aku akan mengikuti jejak Muhammad."

Allahumma shali ala sayidina Muhammad, wa ala ali sayidina Muhammad...

Rahasia Sang Maha Kuasa


Dikisahkan ada seorang Nabi melakukan pengabdian kepada Allah Ta'ala di sebuah gunung yang
berdekatan dengan sebuah mata air. Kemudian lewatlah seorang penunggang kuda dan singgah
sebentar untuk minum dari mata air tersebut. Kemudian karena terburu-buru, kantung uangnya
yang berisi seribu dinar tertinggal disitu.

Tidak lama berselang datanglah orang lain lagi untuk minum di mata air tersebut, lalu ia
mendapati kantung uang si penunggang kuda itu dan kemudian membawanya pergi.

Berikutnya, tibalah seorang lelaki miskin yang memikul seikat kayu bakar. Ia minum di mata air
tersebut, dan setelahnya ia berbaring untuk melepaskan lelah.
Tiba-tiba datanglah si penunggang kuda untuk mengambil kantung uangnya yang tertinggal
namun ia tidak mendapati kantung uangnya disitu. Karena tidak menemukan uangnya, sementara
yang masih ada didekatnya adalah si miskin tersebut, si penunggang kuda menuduh dan
menuntutnya untuk mengembalikan uangnya, ia terus memeriksa dan menyiksanya, namun
demikian ia tetap tidak mendapatkan uangnya, akhirnya si pembawa kayu bakar itupun
dibunuhnya.

Menyaksikan peristiwa tersebut, Nabi yang sedang melakukan ibadat itu berseru kepada Allah
Taala, Wahai Rabbku, ada apa ini?... Yang mengambil kantung uang seribu dinar adalah
orang lain. Namun mengapa Engkau menjadikan si penunggang kuda itu menzalimi si miskin
tersebut hingga ia membunuhnya.

Lalu Allah Taala menurunkan wahyu kepadanya,

Bersibuk-sibuklah kamu dengan pengabdianmu!...


Mengetahui rahasia-rahasia Sang Maha Penguasa itu bukanlah urusanmu;
(Adapun) si miskin pembawa kayu bakar itu telah membunuh ayah si penunggang kuda,
karenanya Aku menempatkannya untuk mendapat qishash [balasan] daripadanya.
Sedangkan ayah si penunggang kuda itu telah mengambil seribu dinar dari dari harta milik
orangtua dari yang mengambil kantung uang itu dan Aku mengembalikannya sebagai
warisannya.

Jubah Kehormatan
Malaikat Hafadzah yang biasanya berjalan tak kelihatan di muka dan dibelakangnya, kini
kelihatan seperti polisi. Mereka menyeret dan memukulnya dengan tongkat sambil
membentak, "Pergi kau, O Anjing, ke kandangmu!!!..."

Dia berpaling ke Hadirat Yang Maha Suci, air matanya bercucuran bagai hujan musim gugur.
Selain harapan, apalagi yang dia miliki ?...
Kemudian dari Tuhan di kerajaan Cahaya datanglah titah...
"Katakan kepadanya: "Inilah imbalan bagi orang yang tak pernah berbuat kebajikan, Kau telah
melihat catatan hitam perbuatan dosa-dosamu. Apalagi yang kau inginkan?... Mengapa engkau
tetap tinggal disitu dalam kesia-siaan?..."

Dia menjawab,...
"Tuhan,... Engkau lebih mengetahui aku ratusan kali lebih buruk daripada yang telah engkau
nyatakan; Namun dibalik upaya dan tindakanku, dibalik kebaikan dan kejahatanku, serta dibalik
iman dan kufurku, bahkan dibalik hidupku yang lurus maupun menyimpang... sungguh kumohon
akan Kasih SayangMu. Kembali kupalingkan diriku pada Karunia Suci, tak kuperhatikan
seluruh amal diriku. Engkau memberiku wujud sebagai jubah kehormatanku... aku selalu
menyadarkan diri pada kasih sayang itu."

Ketika dia mengakui semua dosanya, Tuhan berfirman kepada Malaikat,...


"Bawa dia kembali, karena dia tidak pernah kehilangan harapan pada-Ku.
Sebagai Dzat yang memperdulikan kesia-kesiaan, Aku akan membebaskannya dan
menghapuskan seluruh pelanggarannya. Aku akan nyalakan api Rahmat yang setidak-tidaknya
percikannya saja dapat menghabiskan seluruh dosa dan beban serta kemauan bebasnya. Aku
akan meletakkan api di rumah manusia dan membuat duri-durinya bagai kuntum bunga
mawar,...

Katakanlah: "Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Az-Zumar
53)

Nasehat Nabi Khidr as,


Sebelum Nabi Khidir berpisah dengan Nabi Musa as yang tidak sabaran, beliau berpesan,...

"Wahai Musa, sesungguhnya orang yang selalu memberi nasihat itu tidak pernah merasa jemu
seperti kejemuan orang-orang yang mendengarkannya. Maka janganlah kamu berlama-lama
dalam menasihati kaummu. Dan ketahuilah bahwa hatimu itu ibarat sebuah bejana yang kamu
rawat dan pelihara dari hal-hal yang memecahkannya. Kurangilah usaha-usaha duniawimu dan
buanglah jauh-jauh di belakangmu, karena dunia ini bukanlah alam yang akan kamu tempati
selamanya. Kamu diciptakan adalah untuk mencari tabungan pahala-pahala akhirat nanti.
Bersikap ikhlaslah dan bersabar hati menghadapi kemaksiatan yang dilakukan kaummu.

Wahai Musa, tumpahkanlah seluruh pengetahuan (ilmu)-mu, karena tempat yang kosong akan
terisi oleh ilmu yang lain. Janganlah kamu banyak membicarakan ilmumu karena kamu akan
dipisahkan oleh kaum ulama. Maka bersikaplah sederhana saja, sebab sederhana itu akan
menghalangi aibmu dan akan membukakan taufik hidayah Allah untukmu.

Berantaslah kejahilan kamu dengan cara membuang sikap masa bodohmu (ketidakpedulian)-mu
yang selama ini menyelimuti dirimu. Itulah sifat orang-orang arif lagi bijaksana, menjadi rahmat
bagi semuanya.
Apabila orang bodoh datang kepadamu dan mencarimu, redamlah ia dengan penuh kedewasaan
serta keteguhan hatimu.

Wahai putera Imran, tidaklah kamu sadari bahwa ilmu Allah yang kamu miliki hanya sedikit
saja. Sesungguhnya menutup-nutupi kekurangan yang ada pada dirimu atau bersikap sewenang-
wenang adalah menyiksa dirimu sendiri. Janganlah kamu buka pintu ini jika kamu tidak bisa
menguncinya. Jangan pula kamu kunci pintu ilmu ini jika kamu tidak tahu bagaimana
membukanya,

Wahai putera Imran. Barang siapa suka menumpuk-numpuk harta benda, dia sendiri bakal mati
tertimbun dengannya hingga dia merasakan akibat dari kekuasaannya. Namun, semua hamba
yang mensyukuri semua karunia Allah serta memohon kesabaran atas ketentuan-ketentuanNya,
dialah hamba yang zuhud dan patut diteladani. Bukankah orang seperti itu mampu mengalahkan
nafsu syahwatnya dan dapat memerangi bujuk rayu setan?.. Dan dia pula orang yang mengetahui
buah dari ilmu yang selama ini dicarinya. Segala amal kebajkikannya akan dibalas dengan pahala
di akhirat. Sedangkan kehidupan dunianya akan tenteram di tengah-tengah masyarakat yang
merasakan jasa-jasanya.

Wahai Musa, pelajarilah olehmu ilmu-ilmu pengetahuan agar kamu dapat mengetahui segala
yang belum kamu ketahui, misalnya masalah-masalah yang tidak bisa dibicarakan atau dijadikan
bahan pembicaraan saja. Itulah pemimpin jalanmu dan orang-orang akan disejukkan hatinya.

Wahai Musa, putera Imran, jadikanlah pakaianmu bersumber dari dzikir dan fikir, serta
perbanyaklah amal kebajikan. Suatu hari kamu tidak akan mampu mengelak dari kesalahan,
maka pintalah keridlaan Allah dengan berbuat kebajikan, karena saat-saat tertentu akalmu pasti
akan melanggar aturan-Nya.

Sekarang telah kupenuhi kehendakmu untuk memberi pesan-pesan kepadamu.


Pembicaraanku ini tidak akan sia-sia bila kamu menurutinya."

Tidak aman dari tipu daya Allah


Diriwayatkan,...
Sesungguhnya nama iblis di langit pertama adalah Al-Abid (ahli ibadah),
dalam langit kedua adalah Az-Zahid (ahli zuhud),
di langit ketiga adalah Al-Arif (ahli makrifat),
di langit keempat adalah Al-Wali (kekasih),
di langit kelima adalah At-Taqi (ahli taqwa),
di langit ke enam Al-Khazim,
dan di langit ketujuh Azazil,
serta dalam Lauh Mahfudz adalah iblis.
Dia lupa akibat urusannya.
Maka Allah memerintahnya untuk bersujud kepada Adam,
Ia berkata,... "Adakah Engkau mengutamakannya atas aku, sedang aku lebih baik darinya.
Engkau jadikan aku dari api dan Engkau jadikan dia dari tanah."
Berfirman Allah Swt,... "Aku berbuat apapun yang Aku kehendaki."
Iblis melihat dirinya memiliki keagungan, maka dia memunggungi Adam, karena
membanggakan diri dan sombong. Dia berdiri tegak sampai saatnya para malaikat bersujud
dalam waktu yang lama. Ketika mereka (malaikat) mengangkat kepalanya dan melihat iblis tidak
bersujud sementara mereka telah berhenti dari sujud, mereka kembali bersujud untuk kedua
kalinya karena bersyukur. Dia (iblis) masih saja berdiri tegak, dan terlihat berpaling dari para
malaikat itu, dengan sikap tidak ingin mengikuti dan tidak pula menyesal atas
pembangkangannya itu.

Lalu Allah Ta'ala merubah bentuknya yang indah cemerlang dan menjadi seperti babi hutan,
menjadikan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti punuk (daging menonjol di atas
punggung) unta besar, wajah yang ada di antara kepala dan dada itu seperti wajah kera, kedua
matanya membelah sepanjang permukaan wajahnya, lubang hidungnya terbuka seperti cerek
tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taring-taringnya keluar seperti taring babi
hutan, dan janggutnya hanya terdapat tujuh helai rambut.
Allah Ta'ala mengusirnya dari surga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah.
Dia (iblis) tidak akan masuk ke bumi kecuali secara bersembunyi.
Allah Ta'ala melaknatinya sampai hari kiamat.

Renungkanlah, dia adalah indah cemerlang rupanya, bersayap empat, banyak ilmu, banyak
ibadah, kebanggaan para malaikat dan menjadi pemuka mereka, pemimpin malaikat-malaikat
karubiyin dan masih banya predikat lagi. Tetapi semuanya itu bukan suatu jaminan sama sekali
baginya. Sesungguhnya dalam kejadian itu terdapat peringatan.

Di dalam sebuah atsar, ketika Allah Ta'ala membalas tipu daya iblis, menangislah Jibril dan
Mikail.
Lalu Allah Ta'ala berfirman kepada mereka,"Apa yang membuatmu menangis?..."
Mereka menjawab,"Ya Tuhan kami, kami tidaklah dapat aman dari tipu daya-Mu."
Allah Swt. berfirman,"Begitulah Aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu daya-Ku."

oleh: Imam Al Ghazali


Mukasyafatul Qulub
Rasulullah saw bersabda,...

"Maukah aku beritakan kepadamu tentang seorang yang faqih yang sebenar-benarnya faqih?
.
Mereka menjawab: Ya.
Beliau saw bersabda,
Orang yang tidak putus asa dari rahmat Allah,
ia merasa tidak aman dari tipu daya Allah,
ia tidak putus asa dari kelapangan Allah.
dan tidak meninggalkan Al-Quran karena kegemarannya kepada yang lain.
(Hr. Ibnu Abdil Barr)

Cahaya Iman
"Demikian pula halnya dengan cahaya iman ketika masuk ke dalam hati. Siramannya adalah
ilmu tentang Allah. Ketika ilmu tentang Allah semakin bertambah, hati semakin hidup dan
rububiyyah-Nya semakin tersingkap. Bajanya adalah amal soleh, yaitu melakukan kebaikan dan
menjauhi larangan.

Ketika kamu berbuat baik, cahaya amalmu bergabung dengan cahaya makrifat sehingga
cahayamu bertambah kuat. Tatkala amal soleh diangkat ke hadirat Allah s.w.t., Dia melihatnya
sehingga amal itu bersinar. Amal soleh adalah cahaya. Akarnya berada di hati dan puncaknya
berada di sisi Allah s.w.t. Bila puncaknya bercahaya kerana tatapan Allah s.w.t., cahaya itu
sampai ke akar. Cahayanya bercampur dengan cahaya makrifat hingga hati menjadi bersih."

--

"Adapun yang membuatnya terkena sinaran matahari adalah melepaskan seluruh ikatan syahwat.
Jika hawa nafsu telah lenyap dari hati, hati laksana rumah dengan atap terbuka sehingga sinar
matahari langsung menerpa pohon di dalamnya. Batang pohon menjadi kuat, cabangnya banyak,
dan buahnya baik. Ia tak ubahnya seperti tanaman dalam bejana berisi tanah. Tanaman itu terus
tumbuh kerana disiram dan menerima cahaya matahari. Kerana sangat besar, ia mengisi penuh
ruangan bejana sehingga tidak ada tempat lagi untuk tumbuhan lain.

Begitulah makrifat ketika akarnya begitu kuat menancap dalam hati. Ia terus tumbuh seiring
meningkatnya pengetahuan tentang sifat-sifat dan aturan Allah s.w.t., bertambahnya amal baik,
serta pemusnahan segala hambatan dan gangguan. Akhirnya, hati penuh dengan makrifat.
Cahaya makrifat yang telah ada dalam lubuk hati ditambah dengan cahaya lain, yaitu: cahaya
makrifat dan cahaya amal. Hati menjadi penuh dengan cahaya dan tidak ada satu celah pun yang
kosong dari cahaya. Dalam keadaan demikian, bagaimana mungkin gelapnya hawa nafsu dapat
masuk ke dalamnya?...

Jika hati tidak ditumbuhkan dengan cahaya amal (shaleh), cahayanya hanya sebatas cahaya
makrifat awal yang belum memenuhi hati, sehingga masih ada, bahkan banyak, ruangan kosong
dalam hati. Dalam keadaan seperti itulah kepekatan hawa nafsu masuk lalu bercampur dengan
cahaya makrifat, sehingga cahaya makrifat yang sudah ada pun berkurang. Bahkan, bisa saja
cahaya itu habis lenyap tak tersisa. Semoga Allah s.w.t. melindungi kita dari hal itu."

[Al-Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]

Datanglah seorang diri


Allah Ta'ala berseru pada hamba-Nya,...

Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu!...


Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!...

Engkau melihat kepada amal perbuatanmu,


walau baik sekalipun, tak layak bagiKu untuk memandangnya.
Maka janganlah engkau masuk kepada-Ku besertanya!

Sesungguhnya,
Jika engkau mendatangi-Ku berbekal amal perbuatanmu,
maka akan Aku sambut dengan penagihan dan perhitungan.
Jika engkau mendatangi-Ku berbekal ilmu,
maka akan Aku sambut dengan tuntutan!...
Dan jika engkau mendatangi-Ku dengan marifat,
maka sambutan-Ku adalah hujjah, padahal hujjah-Ku pastilah tak terkalahkan.

Hendaklah engkau singkirkan pilihan (ikut mengatur dan menentukan kehendak-Nya untuk
dirimu),
pasti akan Aku singkirkan darimu tuntutan.
Hendaklah engkau tanggalkan ilmumu, amalmu, marifat-mu, sifatmu dan asma (nama) mu dan
segala yang ada (ketika mendatangi-Ku), supaya engkau bertemu dengan Aku seorang diri.

Bila engkau menemui-Ku, dan masih ada diantara Aku dan engkau salah satu dari hal-hal itu,
padahal Aku-lah yang menciptakan semua itu, dan telah Aku singkirkan semua itu darimu
karena cinta-Ku untuk mendekat kepadamu, sehingga janganlah membawa semua itu ketika
mendatangi-Ku, jika masih saja engkau demikian, maka tiada lagi kebaikanmu yang tersisa
adarimu.

Kalau saja engkau mengetahui, ketika engkau memasuki-Ku,


pastilah engkau bahkan akan memisahkan diri dari para malaikat,
sekalipun mereka semua saling bahu-membahu untuk membantumu,
karena keraguanmu itu (bahwa ada penolongmu dihadapan-Nya selain-Nya),
maka hendaklah jangan ada lagi penolong selain Aku.
Jangan pernah engkau melangkah ke luar rumah tanpa mengharap keridhaan-Ku,
sebab Aku-lah yang menunggumu (di luar rumah) untuk menjadi penuntunmu.

Temuilah Aku dalam kesendirianmu,


sekali atau dua kali setelah engkau menyelesaikah shalatmu,
niscaya akan Aku jaga engkau di siang dan malam harimu,
akan Aku jaga pula hatimu, akan Aku jaga pula urusanmu, dan juga keteguhan kehendakmu.

Tahukah engkau bagaimana caranya engkau datang menemui-Ku seorang diri?


Hendaknya engkau menyaksikan bahwa sampainya hidayah-Ku kepadamu adalah karena
kepemurahan-Ku.

Bukan amalmu yang menyebabkan engkau menerima ampunan-Ku, bukan pula ilmumu.

Kembalikan pada-Ku buku-buku ilmu pengetahuanmu,


pulangkan pada-Ku catatan-catatan amalmu,
niscaya akan Aku buka dengan kedua tangan-Ku,
Kubuat ia berbuah dengan pemberkatan-Ku,
dan akan kulebihkan semuanya itu karena kepemurahan-Ku.

(Al-Mawaqif wal Mukhathabah - Imam An-Nifari)

Jihad - Perang Suci


Wahai Saudaraku, ijinkan saya menceritakan sebuah kisah sehingga anda dapat lebih mudah
memahami makna Jihad atau Perang Suci.

Ketika Tuhan menciptakan Adam dari tanah, Dia menempatkan amanat besar berupa cahaya
yang berasal dari Nur Muhammad di dahi Adam. Tuhan menyatakan bahwa manusia akan bisa
memahami hal-hal yang tidak pernah akan bisa dipahami oleh malaikat maupun makhluk-
makhluk lainnya. Pemimpin kaum jin (iblis) saat itu memperhatikan dan mendengarkan. Setelah
ia mendengar pernyataan Tuhan itu, timbul rasa iri, sombong dan dendam. Sifat-sifat yang timbul
itu seketika merubah iblis menjadi setan, ia mulai menentang Tuhan dan menyombongkan diri
kepada Adam, "aku lebih mulia dibanding kamu, kamu terbuat dari tanah sedangkan aku dari api.
Jika kamu menundukkan diri di hadapanku maka aku akan membantumu, tetapi jika kamu
memposisikan lebih tinggi dariku, maka aku akan mencelakakanmu dan membuatmu amat
menderita."

Lalu cahaya yang ada di dahi Adam memandang ke arah setan, dan ketika setan melihat
pancarannya, timbul kekhawatiran, iri dan dendam yang lebih besar. Sekali lagi ia melecehkan
Adam, "'kamu yang hanya terbuat dari tanah, berani-beraninya memandangku seperti ini! Karena
kamu ditempatkan lebih tinggi dariku, maka aku akan membuatmu menderita sampai akhir."
Lalu setan meludahi Adam, sehingga sifat-sifat beracun dari setan memasuki Adam dan
menyebar ke sekujur tubuh. Sifat-sifat itu menjadi kegelapan pikiran dan menjadi tirai di dalam
qalb Adam.

Setelah melihat kejadian itu Allah memerintahkan Jibril untuk mencongkel bekas ludah setan di
tubuh Adam, yang merupakan bintik neraka. Bekas congkelan itulah yang menjadi pusar di perut
Adam. Walaupun ludah setan sudah dibuang namun racunnya terlanjur masuk ke dalam tubuh
Adam dan juga keturunannya. Hal ini menimbulkan penderitaan tanpa akhir bagi umat manusia.
Karena sifat setan itulah iblis dan pengikutnya diusir dari sorga.

Ini adalah masalah besar. Jihad yang paling utama adalah memerangi sifat-sifat setan seperti ini.
Seperti halnya setan diusir dari sorga karena menentang Yang Maha Kuasa, maka kita pun harus
mengusir sifat-sifat setan dalam diri kita, segala sifat yang menentang Tuhan. Sifat-sifat buruk
itu akan membawa kita ke neraka.

Kita tidak boleh saling membunuh. Ketika seorang anak memiliki sifat buruk, apa yang
dilakukan ibunya? Ia akan mendidik anaknya sehingga berkembang sifat-sifat baik anaknya.
Begitu juga Allah, Dia mengajari kita untuk dapat membuang sifat buruk kita dan membimbing
kita ke Jalan Yang Lurus.
Wahai Saudaraku, "jihad" yang dikobarkan anak-anak Adam masa kini bukanlah jihad yang
sebenarnya. Menghilangkan nyawa orang lain bukanlah jihad yang sebenarnya. Perang seperti
itu akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. "Jihad" yang saat ini dikobarkan sudah
bercampur aduk dengan kepentingan pribadi, golongan, atau duniawi.

Jihad yang sebenarnya adalah untuk memuji Tuhan dan melawan sifat setan dalam diri kita
sendiri. Terdapat empat ratus trilyun sepuluh ribu musuh spiritual dalam diri kita: yaitu sifat-sifat
setan seperti permusuhan, penipuan, iri, dengki, khianat, rasa keterpisahan antara "aku" dan
"kamu", antara "milikku" dan "milikmu", meracuni, mencuri, nafsu, pembunuhan, kepalsuan,
arogansi, karma, ilusi, mantra dan sihir, keinginan duniawi, kenikmatan seksual dan emas. Ini
semua adalah musuh yang memisahkan kita dari Allah, dari kebenaran, dari pengabdian, dari
tindakan dan pikiran yang baik, dari keimanan, keyakinan dan keteguhan. Ini semua adalah
musuh yang memecah belah anak-anak Adam dan menghalangi kita dari kedamaian.

Kita tidak akan bisa mendapatkan kedamaian dalam hati kita hingga kita memenangi jihad ini,
hingga kita menaklukkan musuh yang muncul dari dalam diri kita sendiri melalui keimanan,
keyakinan dan keteguhan yang disertai dengan sabar, syukur, tawakkal dan Alhamdulillah.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-
orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar."
(QS. Ali 'Imran[3]:142)

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam,
maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai
perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin
selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai
pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Kahfi[18]:50)

Rasulullah SAW bersabda:


"Sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri anak Adam laksana aliran darah."
(HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW bersabda pada saat pelaksanaan Haji Wada':


"... mujahid adalah ia yang melakukan jihad melawan dirinya sendiri demi mentaati Allah."
(HR Tirmidhi, Ahmad, Tabarani, Ibn Majah, al-Hakim & Quda`i)

Petunjuk tentang Jihad kepada Rasulullah SAW

Pada saat masih di Mekkah, Nabi SAW dan para sahabat terus menerus mendapat gangguan dari
kaum yang tidak menerima Allah dan rasulNya. Tetapi dg sabar dan syukur, Nabi menerima
segala penderitaan yg dialami dan tetap menasihati para sahabat utk sabar dan tawakkal. Namun
demikian untuk melepaskan diri dari penderitaan, Nabi dan para sahabat akhirnya melakukan
hijrah (sehingga disebut kaum Muhajirin) ke Madinah. Banyak penduduk Medinah (disebut
kaum Anshar) dengan mudah menerima Islam, dan kaum muhajirin dapat menemukan
kedamaian di sana. Ada beberapa orang munafik dan pembuat onar yang menghasut dan
menyebar isyu kepada Nabi dan para sahabat, "orang-orang Mekkah ingin memerangi kalian,
mereka menghancurkan rumah dan harta yang kalian tinggalkan di Mekkah. Mereka membunuh
istri dan anak-anak kalian serta melukai saudara-saudara kalian."

Mendengar isyu ini beberapa sahabat memohon kepada Nabi, wahai Rasul, orang-orang Mekkah
itu membuat kita menderita, mereka melukai keluarga kita, mengambil harta kita,
menghancurkan rumah kita dan terus mengejar-ngejar kita. Sekarang mereka menyebut kita
pengecut karena melarikan diri, padahal kita adalah pemberani, kita harus menjaga kehormatan
dan martabat kita. Kita sudah cukup lama bersabar, sekarang kita harus melawan!"

Para sahabat berkali-kali meminta Nabi untuk mulai berperang, tetapi Nabi tidak mengijinkan.
Hati Nabi menangis dan terus berdo'a agar Allah memberikan keteguhan iman dan
menganugerahkan ilmu-Nya dan berdo'a supaya Allah membalikkan hati orang-orang yang
menentang. Satu-satunya pedang yang dipegang Nabi adalah pedang Kasih sayang, pedang
keimanan, keyakinan dan Keteguhan, pedang sabar, syukur, tawakkal dan Alhamdulillah.
Kemudian setelah beberapa waktu, Hamzah menghadap Nabi dan meminta hal sama, namun
Nabi tetap tidak mengijinkan. Nabi selalu menjawab, "Engkau tidak boleh melakukan ini tanpa
ijin Allah, dan Allah belum mengijinkan. Karena itu aku juga tidak bisa memberi ijin. Perang
yang sebenarnya di dalam Islam adalah perang melawan keinginan-keinginan rendah - segala
keburukan di dalam diri kita yang merupakan musuh yang nyata di akhirat kelak."

Tetapi tetap saja para sahabat berisikeras, "Kita adalah para pemberani, bagaimana kita bisa
hidup dengan kehormatan direndahkan seperti ini?.."

Lalu ketika Nabi terdiam, Allah menjawab, "wahai Muhammad, beritahu sahabat-sahabatmu
supaya memulai perang di dalam hati mereka sendiri, untuk membuang segala keburukan dalam
hati. Sahabat-sahabatmu perlu memahami hal ini."

Kemudian Nabi menyampaikan hal ini kepada para sahabat,


"Saudara-saudaraku, Allah telah berkata bahwa jika kalian ingin melakukan perang suci, maka
tugas pertama adalah berperang melawan pasukan musuh yang mengancam dari dalam diri
sendiri. Hati kalian harus terlebih dahulu diterima oleh-Nya. Kalian harus menyucikan hati
dengan mentaati aturan Allah untuk membuang keburukan yang menyelimuti hati kalian yang
bisa menghancurkan kalian. Jadikan hati bercahaya, berilah hatimu makanan dari langit yang
merupakan kekayaan Allah. Jauhi segala larangan-Nya.

Allah Ta'ala berkata,


"Hanya mereka yang memakan makanan dari-Ku yang akan terpuaskan. Makanan yang
dihalalkan bagi hati adalah: ilmu-Ku, 99 asma-Ku, kualitas & tindakan-Ku, sabar syukur
kepada-Ku, berserah diri & percaya kepada-Ku serta memuji Aku. Hanya itu yang bisa
memuaskan rasa lapar. Melalui malaikat-Ku Aku akan menjaga mereka yang menyucikan hati,
menjaga mereka yang dari dalam dirinya memunculkan kualitas kebaikan-Ku."

"Wahai Muhammad, Aku akan melepas para malaikat untuk menjagamu dari pasukan Habib bin
Malik kiriman Abu Jahl. Setiap malaikat itu memiliki 3000 kepala dan 6000 tangan yang
dilengkapi dengan senjata. Kamu akan bisa melihat mereka. Majulah Muhammad! Kamu tidak
perlu takut bila kamu dalam kondisi Iman-Islam. Mereka yang menjadikan-Ku pelindung tidak
akan bisa dibinasakan oleh dunia ini, tetapi mereka yang mencari perlindungan kepada selain-
Ku akan bisa dibinasakan. Selama mereka masih menyimpan dunia dalam hati mereka, maka
mereka akan dibinasakan oleh dunia. Itu pasti. Katakan ini kepada pengikutmu."

"Katakan kepada pengikutmu bahwa jika sesorang hanya berniat menghilangkan nyawa orang
lain, adalah nyawa saudara sendiri yang ia hilangkan. Dan sebagai balasannya, orang lain pun
akan berbalik membinasakannya. Manusia mempunyai pilihan untuk menjadi seperti binatang
atau menjadi seperti Tuhannya! Manusia punya potensi untuk menjadi insan sejati. Bia dia
menjadi 'Adam', maka Aku akan mengampuni dosanya dan menjaganya, seperti Aku menjaga
Adam."

"Muhammad, katakan kepada pengikutmu, dahulunya mereka berada dalam kegelapan. Tetapi
dengan kalimah-Ku mereka menjadi pengikutmu. Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman dan Hamzah,
dahulunya berada dalam kegelapan. Tetapi coba lihat mereka sekarang! Karena itu, apakah
dibenarkan membinasakan orang lain yang saat ini masih dalam kegelapan?"

Pada akhirnya Allah Ta'ala memberikan ijin-Nya,


"Baiklah, katakan kepada pengikutmu untuk memulai perang suci. Tetapi, jangan demi membela
kebanggaan diri bahwa kamu adalah pemberani. Perangilah hanya orang yang memerangimu.
Kamu dilarang merampas harta orang lain, dilarang mengganggu wanita-wanita mereka atau
anak-anak mereka, dilarang merusak rumah, tanaman, ataupun ternak-ternak mereka. Jangan
membunuh musuh yang telah lari atau yang sudah terjatuh dari pertempuran. Hanya kepada
musuh yang mendatangimu dengan pedang di tangannya, kamu boleh membela diri."

Kita harus memikirkan hal ini.

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu
melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas."
(QS. Al-Baqarah[2]:190)

-----
Satu hari ketika 'Ali bin Abi Thalib sedang bertempur, pedang musuhnya patah dan orangnya
terjatuh. 'Ali lalu mengarahkan pedangnya ke dada orang itu dan berkata, "Andaikata kau masih
memegang pedang, aku akan melanjutkan perkelahian ini, tetapi karena pedangmu sudah patah,
aku tidak bisa menyerangmu lagi."

Orang itu berteriak menimpali, "Jika saja masih memegang pedang, aku akan memotong tangan
dan kakimu."

"Baiklah kalau begitu." 'Ali kemudian memberikan pedangnya kepada orang itu. "Apa yang
kamu lakukan?" Tanya orang itu keheranan. "Bukankah aku ini musuhmu?"

'Ali memandang mata orang itu sambil berkata, "Kamu sudah berjanji bahwa jika kamu
memegang pedang, kamu akan membunuhku. Sekarang kamu memegang pedangku, maka
majulah dan seranglah aku." Namun orang itu tidak kuasa untuk menyerang 'Ali. 'Ali
menjelaskan, "Tadi itu adalah kebodohan dan arogansimu yang berbicara. Dalam kerajaan
Allah, tidak ada pertempuran ataupun permusuhan antara kau dan aku, kita adalah saudara.
Peperangan yang sebenarnya adalah antara kearifan dan kebodohan, antara kebenaran dan
kepalsuan. Kau dan aku baru saja menyaksikan pertempuran itu. Kau adalah saudaraku, jika
tadi aku menyerangmu, maka aku akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak."

"Inikah cara Islam?" Tanya orang itu.


"Ya," jawab 'Ali. "Ini semua adalah aturan Allah Yang Maha Perkasa, Yang Maha Esa."

Segera orang berlutut di kaki 'Ali dan memohon, "Ajarkan aku Kalimah Syahadat."

Hal serupa kembali terjadi saat pertempuran yang lain. 'Ali menjatuhkan lawannya, lalu
menginjakkan kakinya di atas dada lawan, dan mengarahkan pedangnya ke leher lawan. Tapi
lagi-lagi 'Ali tidak membunuhnya.
"Mengapa kau tidak bunuh aku?" Orang itu berteriak. "Aku adalah musuhmu. Mengapa kau
cuma berdiri saja?" Lalu orang itupun meludahi wajah 'Ali.

Awalnya 'Ali naik darah, namun kemudian 'Ali melepaskan kakinya dari dada orang itu serta
mengesampingkan pedangnya. "Aku bukanlah musuhmu," 'Ali menjawab. "Musuh yang
sebenarnya adalah sifat-sifat buruk dalam diri kita. Kau adalah saudaraku, tapi kau malah
meludahi mukaku. Saat kau meludahi aku, aku naik darah, dan arogansi 'ke-aku-anku' timbul.
Jika saja saat itu aku membunuhmu, maka aku akan menjadi seorang pendosa, seorang
pembunuh. Aku akan menjadi setan, yang sebenarnya aku musuhi. Kejahatan itu akan terekam
atas namaku, dan aku harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak. Itulah
mengapa aku tak bisa membunuhmu."

"Jadi, tidak ada permusuhan antara kau dan aku?" Orang itu bertanya. "Tidak ada. Ini adalah
pertempuran antara kearifan dan kebodohan, antara kebenaran dan kepalsuan," 'Ali
menjelaskan. "Walaupun kau meludahiku dan walaupun aku ingin sekali membunuhmu, aku tak
bisa melakukannya."

"Dari mana datangnya aturan seperti itu?"

"Ini adalah aturan dari Allah. Inilah Islam." Segera saja orang itu berlutut di kaki 'Ali dan lalu
diajari Kalimah Syahadat.

(Diterjemahkan oleh kang Lili Gojali dari buku Islam & World Peace: Explanations of A Sufi
karya M.R. Bawa Muhaiyaddeen, re-post oleh Mas Imam Suhadi)

Rahasia Sang Maha Kuasa


Dikisahkan ada seorang Nabi melakukan pengabdian kepada Allah Ta'ala di sebuah gunung yang
berdekatan dengan sebuah mata air. Kemudian lewatlah seorang penunggang kuda dan singgah
sebentar untuk minum dari mata air tersebut. Kemudian karena terburu-buru, kantung uangnya
yang berisi seribu dinar tertinggal disitu.
Tidak lama berselang datanglah orang lain lagi untuk minum di mata air tersebut, lalu ia
mendapati kantung uang si penunggang kuda itu dan kemudian membawanya pergi.

Berikutnya, tibalah seorang lelaki miskin yang memikul seikat kayu bakar. Ia minum di mata air
tersebut, dan setelahnya ia berbaring untuk melepaskan lelah.

Tiba-tiba datanglah si penunggang kuda untuk mengambil kantung uangnya yang tertinggal
namun ia tidak mendapati kantung uangnya disitu. Karena tidak menemukan uangnya, sementara
yang masih ada didekatnya adalah si miskin tersebut, si penunggang kuda menuduh dan
menuntutnya untuk mengembalikan uangnya, ia terus memeriksa dan menyiksanya, namun
demikian ia tetap tidak mendapatkan uangnya, akhirnya si pembawa kayu bakar itupun
dibunuhnya.

Menyaksikan peristiwa tersebut, Nabi yang sedang melakukan ibadat itu berseru kepada Allah
Taala, Wahai Rabbku, ada apa ini?... Yang mengambil kantung uang seribu dinar adalah
orang lain. Namun mengapa Engkau menjadikan si penunggang kuda itu menzalimi si miskin
tersebut hingga ia membunuhnya.

Lalu Allah Taala menurunkan wahyu kepadanya,

Bersibuk-sibuklah kamu dengan pengabdianmu!...


Mengetahui rahasia-rahasia Sang Maha Penguasa itu bukanlah urusanmu;
(Adapun) si miskin pembawa kayu bakar itu telah membunuh ayah si penunggang kuda,
karenanya Aku menempatkannya untuk mendapat qishash [balasan] daripadanya.
Sedangkan ayah si penunggang kuda itu telah mengambil seribu dinar dari dari harta milik
orangtua dari yang mengambil kantung uang itu dan Aku mengembalikannya sebagai
warisannya.