Anda di halaman 1dari 6

Suatu malam aku membaca suatu data yang memprihatinkan pada salah satu situs kementerian.

Terdapat
lebih kurang 781.535 ruang kelas SD di Indonesia yang mengalami kerusakan. Kondisi hampir sama terjadi
pada jenjang sekolah lainnya seperti SMP, SMA, atau SMK. Dengan kondisi demikian, bisa dibayangkan
bagaimana anak-anak, calon generasi penerus bangsa ini mengikuti pelajaran di sekolahnya. Pastinya kurang
nyaman dan tidak aman. Keprihatinan dalam batin semakin terasa ketika membaca berita tentang siswa SD
yang meninggal atau terluka karena tertimpa bangunan sekolah. Diriku jauh lebih beruntung dibandingkan
mereka. Tanpa terasa air mata mengalir di pipiku. Setelah itu ku menyimpan data tersebut, lalu mematikan
komputer. Sambil berbaring ku terus memikirkan hal ini sampai akhirnya teringat bahwa besok ada mata kuliah
Masalah dan Kebijakan Pembangunan. Mungkin Pak Gani, demikian nama dosenku pada mata kuliah tersebut,
punya pendapat tentang masalah ini. Setelah itu ku mulai merasa tenang dan tertidur.
Keesokan harinya, setelah mandi dan melaksanakan sholat Subuh, ku menyalakan komputer, membuka
data yang telah kusimpan, lalu mencetaknya. Kemudian aku pun bersiap untuk pergi ke kampus. Setelah
sarapan aku berpamitan pada ayah dan ibuku. Ayah, ibu, Bintang pamit dulu. Semoga kuliah Bintang hari ini
lancar ya?
Iya Bintang, hati-hati di jalan.
Ya Bu, jawabku, lalu aku pun berangkat ke kampus.
Sesampainya di kampus, ku harus mengikuti satu mata kuliah lain. setelah selesai mata kuliah tersebut
aku pun mengikuti mata kuliah Masalah dan Kebijakan Pembangunan. Saat perkuliahan berlangsung, aku pun
bertanya pada dosenku, Pak, semalam saya membaca data bahwa ada lebih dari 781 ribu ruang kelas SD di
Indonesia yang mengalami kerusakan, apakah tidak ada upaya dari pemerintah untuk memperbaiki ruang kelas
tersebut?
Dosenku lalu menjawab, Sebenarnya tanggung jawab utama terhadap sarana prasarana seperti itu ada di
pemerintah. Namun, kita perlu menyadari bahwa pemerintah pun memiliki keterbatasan dari sisi anggaran,
sehingga ruang kelas yang rusak tidak bisa sekaligus diperbaiki.
Aku pun bertanya kembali, Tapi Pak, apakah tidak ada upaya yang bisa kita lakukan untuk membantu
mempercepat perbaikan sekolah tersebut? Kasihan anak-anak yang harus mengikuti pelajaran di ruang kelas
yang tidak nyaman dan aman.
Sebenarnya ada, jawab beliau.
Apa itu Pak? tanyaku
Penggalangan dana secara massal oleh masyarakat. Sebenarnya secara akumulatif masyarakat punya
potensi dana yang sangat besar, coba kamu hitung, misalnya ada 120 juta orang berpendapatan Rp.2 juta per
bulan, maka ada akumulasi uang masyarakat sebesar Rp.240 triliun per bulan. Coba jika dalam satu tahun ada
berapa?
Dengan cepat ku menghitung lalu menjawab, Rp.2.880 triliun Pak.
Nah, jumlah pendapatan masyarakat sebesar itu jika sebagian kecil disisihkan, misalnya satu persen per
bulan, maka bisa digunakan untuk memperbaiki secara berangsur ruang kelas yang rusak tanpa harus
bergantung pada APBN/APBD yang terbatas, kata beliau.
Tapi itu juga tergantung kesadaran masyarakat, apakah mereka memiliki rasa ikut bertanggungjawab
yang tinggi terhadap masa depan generasi penerus bangsa ini, lanjutnya.
Aku pun mengangguk pertanda mengerti. Setelah itu perkuliahan dilanjutkan dengan penyampaian materi
hingga beliau menutup perkuliahan. Setelah kuliah selesai, aku pun berinisiatif untuk membicarakan hal ini
dengan teman-temanku. Ku berkata pada mereka, Benar apa yang dikatakan Pak Gani tadi, andai semua
masyarakat Indonesia punya kesadaran yang sama, tidak sulit untuk memperbaiki ruang kelas yang rusak,
bahkan kemiskinan pun kemungkinan besar tidak ada lagi.
Salah satu temanku bertanya, Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?
Itu sedang aku pikirkan, jika sudah menemukan jawabannya akan kuberitahu kalian, jawabku.
Kemudian aku pun pulang karena kelas selanjutnya tidak ada disebabkan dosennya berhalangan hadir. Di
sepanjang perjalanan aku terus memikirkan hal ini hingga tak terasa sampai di depan rumahku. Setelah
beristirahat sejenak, ku menyalakan komputer yang ada di kamarku. Lalu ku coba mencari data jumlah
penduduk kelas menengah di Indonesia dan perkiraan total biaya yang dibutuhkan untuk rehabilitasi sekolah di
Indonesia. Hasilnya adalah pada tahun 2015 terdapat lebih kurang 170 juta orang yang termasuk dalam kelas
menengah dengan pendapatan 2 dolar AS (Rp.26.600) per hari. Sedangkan perkiraan total biaya yang
diperlukan untuk rehabilitasi semua ruang kelas SD yang rusak sekitar Rp.109,4 triliun.
Setelah membaca data dan melakukan perhitungan, aku pun berkata dalam hati, Bagaimana ya agar bisa
mengumpulkan dana sebanyak ini?
Sesaat berpikir beberapa saat, kemudian teringat dengan perkataan dosenku tadi tentang penggalangan
dana secara massal (fundraising). Kemudian aku segera membuka Microsoft Excel, lalu melakukan perhitungan
sederhana berdasarkan data yang ada, dan hasilnya membuatku takjub sambil berkata, Andai hal ini bisa
diterapkan secara massal di seluruh Indonesia, maka mengumpulkan dana yang sangat besar untuk
merehabilitasi seluruh ruang kelas yang rusak dalam waktu yang tidak terlalu lama bukan hal mustahil.
Rincian perhitungan yang kulakukan adalah sebagai berikut:

- Jumlah iuran per hari : Rp.450

- Perkiraan jumlah penduduk berpendapatan menengah di Indonesia : 170.000.000 orang

- Perkiraan jumlah iuran yang bisa terkumpul per hari : Rp.76.500.000.000

- Perkiraan jumlah iuran yang bisa terkumpul per tahun : Rp.27.922.500.000.000

- Perkiraan jumlah iuran yang bisa terkumpul dalam 4 tahun : Rp.111.690.000.000.000

- Perkiraan kebutuhan anggaran rehabilitasi (Rp.140.000.000 x 781.535 ruang kelas Sekolah


Dasar) : Rp.109.414.900.000.000

- Jumlah ruang kelas yang bisa direhabilitasi per tahun : 195.384 unit
Setelah mengetahui hal ini, aku pun mengambil handphone yang terletak di atas bantal, lalu mengirimkan
pesan melalui grup BBM, Whatsapp, dan sejumlah media sosial lain yang berisi ajakan kepada teman-temanku
untuk melakukan penggalangan dana dengan menyertakan hasil perhitunganku.

Tanggapan dari teman-temanku begitu positif. Mereka membalas, Kapan kita bisa lakukan penggalangan
dananya? kata Indri, salah satu temanku yang paling baik juga paling cerdas di kelas (suka juga sih). Ada juga
yang membalas, Wah, ide bagus, kapan bisa direalisasikan, tapi sebaiknya kita perlu membahas hal ini secara
langsung tentang mekanisme penggalangan dana, pengelolaan dan pendistribusiannya.

Melihat tanggapan positif teman-temanku tersebut membuatku semakin bersemangat. Tapi ku merasa
perlu mendapat dukungan lebih luas. Barangkali orang tuaku bisa membantu. Kebetulan ayahku bekerja di
salah satu instansi pemerintah di daerah tempatku tinggal dan kenal banyak tokoh masyarakat. Lalu aku pun
menemui ayah dan ibuku yang sedang berada di ruang keluarga. Ayah, ibu, Bintang mau bicara, aku
memulai pembicaraan.

Ya Bintang, kamu mau bicara apa? tanya ayahku.

Begini Yah, kemarin malam, Bintang membaca suatu data yang membuat Bintang merasa sedih. Lebih
kurang 781 ribu ruang kelas Sekolah Dasar mengalami kerusakan, termasuk di daerah tempat tinggal kita ini,
kataku pada ayah.

Ya, lalu? tanya ayahku.

Tadi Bintang mencoba menghitung. Andai 170 juta penduduk kelas menengah di Indonesia bergotong-
royong menyumbang Rp.450 per hari, maka selama satu tahun bisa terkumpul dana Rp.27,9 triliun, dana yang
bisa digunakan untuk merehabilitasi sekitar 195 ribu unit ruang kelas yang rusak.

Benarkah? tanya ayahku.

Lalu, kamu mau minta apa pada ayah? lanjutnya lagi.

Begini Yah, bukankah ayah banyak kenal dengan tokoh masyarakat di daerah kita ini. Bisa tidak ayah
mengatakan kepada mereka tentang pemikiran Bintang ini, nanti mereka meneruskannya kepada masyarakat
luas ?

Nanti ayah coba, tapi sebaiknya kamu yang menyampaikan hal ini secara langsung kepada mereka,
supaya apa yang kamu pikirkan bisa tersampaikan dengan lebih baik.

Kira-kira kapan ayah bisa menemui mereka ? tanyaku pada ayah.


Dalam waktu dekat ini ada kegiatan Musrenbang Tingkat Provinsi, di sana akan hadir banyak tokoh
masyarakat, termasuk bupati dan walikota serta perwakilan instansi vertikal di provinsi ini. Nanti ayah coba
sampaikan kepada panitia agar menyediakan sedikit waktu untuk kamu menyampaikan pemikiran kamu.

Benar Yah?

Iya, kata ayahku sambil tersenyum.

Terima kasih ayah.

Bintang, kamu memang anak baik, kata ibuku yang sejak tadi hanya diam.

Ah Ibu, ini kan juga karena didikan ayah dan ibu, kataku pada Ibu.

Bintang kembali ke kamar ya, Ayah, Ibu, ku berkata pada ayah dan ibuku.

Setelah masuk ke kamar, ku menyampaikan kabar baik ini kepada sejumlah temanku. Mereka
menyampaikan bahwa telah menghubungi sejumlah teman-teman lainnya dan sepakat untuk melakukan
pertemuan esok hari di kampus, kebetulan adalah hari libur. Ku pun setuju dengan hal tersebut.

Keesokan harinya, sesuai yang telah disepakati sebelumnya, aku melakukan pertemuan dengan teman-
temanku. Ku tidak menyangka jumlah yang hadir begitu banyak, bila kuhitung lebih dari 50 orang.

Teman-temanku sekalian, sebelumnya ku ucapkan terima kasih atas kehadirannya. Mungkin kalian telah
mengetahui apa yang ingin kusampaikan pada hari ini dari Indri dan teman-teman yang lain. Teman-teman,
pada saat ini, detik ini, disaat kita berada di ruangan yang nyaman ini, begitu banyak adik-adik kita yang belajar
di tempat yang berbahaya. Oleh sebab itu, ku mengajak kalian semua untuk ikut berpartisipasi dalam
penggalangan dana untuk dana rehabilitasi sekolah yang ada di Indonesia, dimulai dari sekolah-sekolah yang
ada di daerah tempat tinggal kita ini. Aku menyadari, pasti ada diantara kalian yang bertanya-tanya, kenapa
kita harus susah-susah melakukan penggalangan dana, bukankah perbaikan sekolah adalah tanggung jawab
pemerintah ? Memang benar, tapi kita juga mesti menyadari bahwa pemerintah harus membagi-bagi anggaran
yang ada untuk berbagai hal lainnya agar tercipta keadilan untuk masing-masing bidang. Sedangkan kita juga
perlu menyadari bahwa ada tanggung jawab kita sebagai bagian dari masyarakat untuk menyukseskan
pembangunan. Tidak mesti dalam jumlah besar, sebagaimana yang telah kalian baca dari pesan dariku, dengan
beberapa ratus rupiah saja begitu berarti untuk membantu meringankan beban pemerintah sekaligus
mempercepat perbaikan sekolah yang rusak. Teman-teman, ku menyadari bahwa dana yang dibutuhkan begitu
besar, maka dari itu kita perlu menyebarluaskan informasi ini ke lebih banyak orang. Sampaikanlah hal ini
kepada semua orang yang kalian kenal melalui media sosial, BBM, Whatsapp, dan sebagainya. Mari kita
wujudkan Indonesia yang Maju Pendidikannya dan Bahagia Siswanya. Demikian yang dapat kusampaikan,
barangkali ada teman-teman yang mau bertanya ?
Kemudian salah satu temanku yang hadir berdiri, lalu bertanya, Jika kegiatan ini berhasil maka dana
yang terkumpul akan sangat besar. Lalu bagaimana caranya agar dana yang terkumpul tersebut tidak
disalahgunakan?

Ku menjawab, Menurutku kuncinya adalah transparansi. Semakin banyak mudah orang melihat dan
mengetahui aliran dana yang masuk dan keluar, maka akan semakin kecil celah untuk menyalahgunakan dana
tersebut. Secara berkala, misalnya dua minggu sekali disampaikan laporan keuangannya.

Kemudian temanku menanggapi, Aku setuju, terima kasih penjelasannya.

Setelah itu pertemuan berlanjut dengan beberapa pertanyaan lagi dari beberapa temanku hingga akhirnya
pertemuan pun berakhir. Di akhir pertemuan kami melakukan penggalangan dana hingga terkumpul dana
sekitar Rp.2 juta. Terima kasih atas donasinya teman-teman, semoga bermanfaat bagi mereka yang
membutuhkan.

Kemudian ku bersiap untuk kembali ke rumah karena ada hal lain yang ingin kuselesaikan. Setelah tiba di
rumah, kulihat ayahku tengah duduk di teras sambil membaca koran. Sambil mengucapkan salam kuraih lalu
mencium tangan ayahku. Beliau membalas salam sambil berkata, Bintang, kamu sudah pulang ya, ayah ada
kabar gembira buat kamu.

Ku duduk di sebelah ayahku lalu bertanya, Kabar gembira apa Yah?

Beliau menjawab, Mengenai gagasan yang semalam kamu katakan, ayah telah menyampaikannya
kepada beberapa teman ayah. Mereka setuju. Nanti mereka akan menyediakan waktu khusus untuk kamu
menyampaikan gagasan kamu.

Benar Yah ? tanyaku.

Ya. Selain itu mereka juga mau ikut ambil bagian dalam gerakan yang kamu gagas ini, jawab ayahku.

Terima kasih Yah, tanpa dukungan ayah dan juga ibu mungkin gagasan Bintang ini agak sulit
menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Beberapa hari kemudian, aku bersama ayahku menuju gedung aula kantor gubernur. Pada hari tersebut
aku akan menyampaikan gagasanku di depan para peserta Musrenbang Tingkat Provinsi. Setelah pembukaan
kegiatan, lalu dilanjutkan sambutan-sambutan dari pejabat terkait dan panitia, maka tibalah waktunya bagi
diriku. Berikutnya, kita dengarkan pidato singkat dari anak kita, Bintang, kata pembawa acara.

Aku pun maju ke mimbar, lalu memulai pidatoku.

Yang terhormat Bapak Ibu hadirin yang terhormat, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas
kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan hal ini. Bapak Ibu yang saya hormati, beberapa
Mungkin kalian telah mengetahui apa yang ingin kusampaikan pada hari ini dari Indri dan teman-teman yang
lain. Teman-teman, pada saat ini, detik ini, disaat kita berada di ruangan yang nyaman ini, begitu banyak adik-
adik kita yang belajar di tempat yang berbahaya. Oleh sebab itu, ku mengajak kalian semua untuk ikut
berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk dana rehabilitasi sekolah yang ada di Indonesia, dimulai dari
sekolah-sekolah yang ada di daerah tempat tinggal kita ini. Aku menyadari, pasti ada diantara kalian yang
bertanya-tanya, kenapa kita harus susah-susah melakukan penggalangan dana, bukankah perbaikan sekolah
adalah tanggung jawab pemerintah ? Memang benar, tapi kita juga mesti menyadari bahwa pemerintah harus
membagi-bagi anggaran yang ada untuk berbagai hal lainnya agar tercipta keadilan untuk masing-masing
bidang. Sedangkan kita juga perlu menyadari bahwa ada tanggung jawab kita sebagai bagian dari masyarakat
untuk menyukseskan pembangunan. Tidak mesti dalam jumlah besar, sebagaimana yang telah kalian baca dari
pesan dariku, dengan beberapa ratus rupiah saja begitu berarti untuk membantu meringankan beban pemerintah
sekaligus mempercepat perbaikan sekolah yang rusak. Teman-teman, ku menyadari bahwa dana yang
dibutuhkan begitu besar, maka dari itu kita perlu menyebarluaskan informasi ini ke lebih banyak orang.
Sampaikanlah hal ini kepada semua orang yang kalian kenal melalui media sosial, BBM, Whatsapp, dan
sebagainya. Mari kita wujudkan Indonesia yang Maju Pendidikannya dan Bahagia Siswanya. Demikian yang
dapat kusampaikan, barangkali ada teman-teman yang mau bertanya ?